Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

13 September 2012

Semua Soal Waktu

Apa sih sebenarnya yang paling kita butuhkan di dunia ini? Mungkin setiap orang punya jawabannya masing-masing. Ada yang menjawab butuh cinta, uang, kesehatan, kesejahteraan, pengakuan, jabatan, iman, kepercayaan, Tuhan, akses tanpa batas, persahabatan, keabadian, kesetiaan, dan masih banyak lagi. Namun, mungkin lebih dari itu, atau kalau saya bisa ambil garis tengahnya, kita semua butuh waktu. Kita selalu membutuhkan lebih banyak waktu. Kita berandai-andai supaya punya lebih banyak waktu. Ya... lebih banyak waktu untuk mencintai, menghasilkan/menyimpan uang, waktu untuk masa-masa ketika kita sehat, ketika kita muda dan kuat, masa-masa saat kita sejahtera dan punya jabatan yang bagus. Kita butuh lebih banyak waktu untuk berdoa dan lebih dekat dengan Tuhan, lebih banyak waktu untuk keluarga, teman, kekasih. Kita berandai untuk mendapat pengakuan yang tidak lekang oleh masa. Kita berandai untuk bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konyol yang kita lakukan. Kita berandai untuk mengetahui masa depan dan melihat seperti apa rupa kita puluhan tahun mendatang.

Semua soal waktu. Ya, manusia sangat membutuhkan waktu. Namun demikian, manusia tampaknya adalah makhluk yang paling menyia-nyiakan waktu. Berjam-jam waktu kadang kita sia-siakan begitu saja tanpa manfaat. Lucunya, setelah itu kita sadar, menyesal, dan berharap bahwa seandainya saja kita menyadari akan kebodohan yang kita lakukan karena menyia-nyiakan waktu.
"Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman & mengerjakan kebaikan serta saling berpesan (menasihati) untuk kebenaran & saling menasihati dengan kesabaran." [Q.S. Al-Asr (103): 1-3]
Waktu itu bukan sekedar seperti apa yang kita ingat dalam sebuah peribahasa―waktu adalah uang, sesungguhnya waktu lebih dari sekedar itu. Oke, saya paham maksud peribahasa itu tidak bisa kita artikan sebagaimana "mentah" apa adanya atau secara bahasa―karena itulah disebut peribahasa. Namun, poinnya adalah bahwa waktu itu adalah (menurut saya) kebutuhan manusia yang paling utama. Oke, kita bisa bilang bahwa tanpa makanan, kita akan mati; tanpa rumah/tempat tinggal dan pakaian, kita tidak akan beradab, tapi lebih dari itu semua, kita perlu waktu―lebih banyak waktu, untuk membuat kita benar-benar hidup; hidup sebagai manusia yang seutuhnya. Kita perlu lebih banyak waktu untuk bisa benar-benar menjadi manusia yang manusiawi; beradab. Sayangnya, sering kali kita tidak sadar bahwa kita, manusia, membuang banyak waktu dan kesempatan yang bertebaran begitu banyaknya di depan kita dengan percuma. Ya, kita sering menyia-nyiakan banyak waktu dalam hidup kita. Padahal, waktu yang telah lalu tidak bisa diulang kembali. Bagaimana kita bisa yakin bahwa kita telah memanfaatkan waktu dengan baik padahal kita telah membuang banyak waktu beharga?

Mengapa kita kerap berpikir bahwa hari esok selalu masih ada? Memang betul, hari esok pasti masih ada, tapi belum tentu menjadi milik kita. Sikap menunda-nunda pekerjaan adalah salah satu sikap yang menunjukkan bahwa kita sangat yakin bahwa masih ada hari esok untuk kita dan hari esok itu masih milik kita. How come? Padahal tidak ada seorang pun dari kita yang bisa menjamin bahwa masing-masing dari kita masih punya waktu. Waktu terus berjalan dan tidak pernah menoleh ke belakang. Waktu tidak pernah berhenti; kitalah yang pada akhirnya, pada masanya, "kontrak" kita habis dengan waktu. Ketika "kontrak" kita habis dengan waktu maka berakhir sudah. Apa yang bisa dilakukan ketika "kontrak" itu habis? Tidak ada perpanjangan kontrak tentunya. Semua akan menyesal.

Yang memanfaatkan waktu dengan baik menyesal, apalagi yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik akan jauh lebih menyesal. Yang memanfaatkan waktu menyesal karena masih belum memanfaatkan waktu yang pernah disediakan dengan baik. Mereka berhasil mengatur waktu dengan baik, tapi tetap saja merasa kurang, dan pasti akan terasa begitu. Mereka yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik akan sangat depresi; penyesalan sepanjang masa. See, waktu adalah kebutuhan. Semua butuh waktu. Semua butuh lebih banyak waktu. Namun, setidaknya, menjadi orang yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya adalah sebaik-baiknya manusia. "Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian," yes indeed. Semua manusia. Oleh karena itu, mulailah menjadi pribadi yang memanfaatkan waktu dengan baik atau kita akan benar-benar merugi; sangat merugi.

11 September 2012

Presiden yang Terlupakan

Jika masyarakat negara ini ditanya mengenai berapakah jumlah presiden yang telah memerintah republik ini sejak diproklamasikannya kemerdekaan hingga presiden yang sedang menjabat saat ini maka hampir semua akan menjawab: enam orang. Siapa saja? Tentu saja: Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan kini Susilo Bambang Yudhoyono. See, ada enam orang. Namun, ternyata hal ini keliru. Jumlah presiden Indonesia hingga hari ini (2012) berjumlah enam orang; itulah yang diketahui mayoritas masyarakat republik ini. Padahal, sesungguhnya sepanjang sejarah republik ini berdiri, RI telah dipimpin oleh tujuh orang presiden dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini adalah presiden RI yang ke-8, bukan yang ke-6 seperti yang banyak orang ketahui hingga kini.

Ternyata, ada dua orang tokoh penting dalam sejarah republik ini yang terlupakan. Entahlah, mungkin benar-benar terlupakan atau memang sengaja dilupakan atau tidak dianggap, tentunya untuk alasan yang bersifat politis. Dua tokoh yang terlewat itu adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.[1] Mr. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Pada 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, Sjahrir, KSAU Surjadarma, dan beberapa menteri lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.

Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan (vacum of power), Sjafrudin mengusulkan agar dibentuk pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI, atau lebih dikenal dengan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia).

Padahal, sebelum penangkapan tersebut, kabinet sempat mengadakan rapat dan mengirimkan telegram yang berbunyi:
Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra.
Sayangnya, diketahui kemudian bahwa telegram itu tidak pernah diterima.  Namun, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif untuk membentuk PDRI. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, Sjafruddin mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usulan tersebut karena demi menyelamatkan Indonesia agar tidak terjadi kekosongan pemerintahan dan diakui oleh dunia internasoinal sebagai negara.

Pada tanggal 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan". Sjafruddin menjabat sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinet ini pun dibantu oleh Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang. 

Sementara itu, peran untuk mengendalikan stabilitas ibukota Yogyakarta dipegang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan perang gerilya rakyat semesta secara fisik dipimpin oleh Panglima Besar Soedirman. Namun, disinilah kemudian yang menjadi arti penting PDRI yakni, sebagai eksistensi RI untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional karena syarat mutlak sebuah negara adalah:
  1. adanya pemerintahan yang berdaulat; 
  2. adanya wilayah; 
  3. adanya rakyat; 
  4. adanya pengakuan (kedaulatan) dari negara lain (internasional). 
Posisi Mr. Sjafruddin sebagai kepala pemerintahan merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dihilangkan, dan bangsa ini seharusnya memberikan pengakuan bahwa Mr. Sjafruddin Prawiranegara adalah presiden ke-2 RI, meski beliau hanya menjabat beberapa bulan saja. Memang, selain belum diakui sebagai presiden ke-2 RI, nama Mr. Sjafruddin Prawiranegara juga agak sulit ditemukan di dalam buku sejarah, padahal peranananya cukup penting dalam masa perjuangan. Sederet jabatan penting pernah diembannya selain Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, beliau juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Wakil Perdana Menteri.

Setelah menjabat sebagai presiden selama delapan buulan, Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah masa PDRI yang berjalan selama lebih kurang delapan bulan.

Republik Indonesia dalam Republik Indonesia Serikat

Mr. Assaat
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Den Haag, Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). Perlu diingat bahwa RIS bukanlah RI. RIS adalah negara yang berbentuk federal yang terdiri atas 16 negara bagian, seperti Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta, Negara Jawa Timur, dll., belum lagi ada juga wilayah yang berdiri sendiri (otonom) dan tidak tergabung dalam federasi, seperti Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar dll.

Dari hasil KMB tersebut, Soekarno dan Moh. Hatta akhirnya ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS. Dengan demikian berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Pada saat itu Mr. Assaat dijadikan Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Perannya ini sangat penting karena kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini.

Pada perkembangan selanjutnya banyak dari negara-negara bagian dalam RIS yang menginginkan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kemudian menggabungkan diri ke dalam RI yang dipimpin oleh Mr. Assaat sehingga kemudian terjadilah kerja sama antara RI dan RIS yang menghasilkan kesepakatan kembali kepada NKRI dengan jalan membentuk panitia bersama yang diketuai Dr. Soepomo untuk menyusun UUD yang kemudian dikenal dengan nama UUDS 1950. Dengan begitu, RIS pun melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1950. Mr. Assaat kemudian menyerahkan jabatan Presiden RI untuk kembali dipegang oleh Ir. Soekarno. Itu berarti, Mr. Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI selama sekitar sembilan bulan.

Satu hal yang menarik mengenai Mr. Assaat adalah bahwa pada masa jabatannya, Mr. Assaat lah yang menandatangani status pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai universitas pertama yang didirikan oleh RI. "Menghilangkan Assaat dalam sejarah kepresidenan Republik Indonesia sama saja dengan tidak mengakui UGM sebagai universitas pertama yang di dirikan RI," ujar Bambang Purwanto dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar UGM pada bulan September 2004.

Jadi, dari fakta tersebut bisa disimpulkan bahwa Indonesia memiliki delapan presiden, bukannya enam seperti yang kita tahu selama ini. Urutan Presiden RI yang benar adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

[1] Gelar “Mr.” merupakan singkatan dari “Meester in de Rechten”. Dalam bahasa Belanda, gelar ini berarti magister dalam ilmu hukum atau setara dengan gelar S2 Ilmu Hukum.

10 September 2012

Privasi, Kebebasan, dan Waktu

Ketika kamu berpacaran atau dalam sebuah hubungan―apa pun itu namanya, setidaknya ada tiga hal yang tidak boleh kamu serahkan sepenuhnya kepada pasangan kamu. Pertama, kamu tidak boleh menyerahkan privasi kamu. Kedua, kebebasanmu, dan ketiga adalah waktumu sepenuhnya. Ini adalah hal-hal yang sangat penting untuk tetap kamu pertahankan. Jika kamu menyerahkan ketiga hal ini pada pasanganmu maka kamu akan merasa... I don't know, saya tidak bisa menjamin suatu kondisi yang pasti akan terjadi, hanya saja, saya bisa katakan bahwa ketika tiga hal itu terenggut oleh suatu 'komitmen' dalam berpacaran maka kamu akan merasa sangat tidak nyaman. Ya, setidaknya begitu. Well, saya akan mencoba menjelaskan alasannya.

Pertama, saya akan menjelaskan mengapa kamu tidak boleh menyerahkan privasi kamu bahkan kepada pacar kamu. Simple, bukan privasi namanya kalau kita men-share segala hal (yang dianggap privasi itu) kepada orang lain―sekalipun itu pacar. Ketika kamu berbagi segala hal, termasuk privasi, dengan pacar kamu maka kamu akan merasa sangat... I don't know, semacam "polos"; kertas polos. Menjadi kertas putih polos ini bukan berarti selalu baik. Semua orang pasti butuh "coretan" di hidupnya. Semua orang pasti punya rahasia dan butuh merahasiakan sesuatu. Kamu bisa menganggap saya aneh, tapi saya percaya bahwa manusia punya kebutuhan akan menyimpan rahasia atau privasi pribadi. Lagipula, sharing privasi juga akan menumbuhkan sifat curigaan atau prasangka. Trust me, you won't like it. Selain itu, bayangkan apa yang akan terjadi ketika pasangan kamu mengetahui setiap detil dari diri kamu? Tentu kamu menjadi orang yang tidak menarik lagi, dalam arti, si pasangan kamu ini tidak akan terkejut lagi dengan segala hal tentang kamu. Percayalah, hidup ini perlu kejutan. Privasi kita, di waktu yang tepat, bisa menjadi kejutan yang menyenangkan buat pasangan kita.

Contoh umum dari sharing privasi yang lazim terjadi pada sepasang pria dan wanita (yang berpacaran) adalah saling mengecek inbox handphone pasangannya. Si wanita mengecek inbox si pria (atau mungkin BBM) untuk memastikan bahwa si pria tidak berhubungan dengan wanita lain (atau mantannya). Si pria pun melakukan hal yang serupa. Ada yang melakukan secara terang-terangan, tapi ada pula yang sembunyi-sembunyi. See, semua ini dimulai dari rasa curiga atau prasangka, atau sebut saja, rasa ketidakpercayaan dalam suatu hubungan. Yang harus dibenahi sebenarnya adalah rasa ketidakpercayaan ini. Bukankah rasa kepercayaan adalah kunci utama dalam membina suatu hubungan? Saya percaya bahwa hal kecil, seperti mengecek inbox pasangan, adalah hal yang melanggar privasi individu. Seseorang, apa pun itu statusnya, seharusnya tidak berhak mengecek inbox orang lain. Bahkan ibu saya tidak pernah mengecek inbox handphone saya. Bukan karena ibu saya tidak peduli dengan saya, tapi lebih karena ibu saya percaya kepada saya.

Perlu diingat bahwa bagaimana pun, baik SMS, email atau pun surat biasa adalah pesan yang ditujukan secara personal dari satu individu/badan ke individu/badan lain. Oleh karena itu, orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan isi pesan itu, tentu tidak berhak mengetahui isi pesan itu, apalagi melihat/membacanya tanpa seizin si pemilik. Bahkan meminta dengan paksa untuk melihat pun, itu sudah merupakan pelanggaran atas hak privasi seseorang. Sayangnya, banyak orang yang sering menganggap membaca inbox ini sebagai suatu hal yang lazim (dan sepele) dilakukan dalam suatu hubungan. Percaya deh, baca-membaca inbox (dan pelanggaran privasi lainnya) memperpendek usia suatu hubungan.

Kedua, perkara kebebasan. Kebebasan ini adalah termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan memilih hobi, kebebasan berkreatifitas, kebebasan menjadi diri sendiri, dan segala kebebasan yang terkadang membuat banyak orang yang (terlanjur) "terkekang" dalam status pacaran berpikir bahwa "single is a way better". This! Kebebasan itu penting. Entahlah, semoga tidak terasa terlalu liberal, tapi saya percaya bahwa setiap orang berhak menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tentunya dengan catatan: penuh tanggung jawab. Sering kali hubungan-hubungan yang gagal dikarenakan karena salah satu individu merasa terkekang. Atau bisa jadi keduanya merasa terkekang, tapi tidak mau jujur satu sama lain. Seseorang tidak boleh mengekang kebebasan orang lain. Memangnya kenapa kalau pacar kamu adalah orang yang suka berpikir radikal? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu sifatnya. Kenapa pemikirannya harus dikekang? Memangnya kenapa kalau pacar kamu adalah "anak band"? Atau "anak basket"? Atau "anak futsal"? Atau seorang cheerleaders? Atau seorang dancer? Kamu takut banyak yang suka dia? Kamu takut dia punya banyak fans? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu itu. Memangnya kenapa kalau pacar kamu punya banyak teman pria atau wanita? Itu kan temannya? Kenapa kamu tidak percaya dengan dia? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu itu.

Biarkan dia menjadi dirinya sendiri tanpa harus menyembunyikan identitas sebenarnya di depan kamu hanya karena ia takut kamu marah atau cemburu. Percaya deh, kamu tidak mau dia begitu. Kamu pasti mau pacar kamu menjadi orang yang apa adanya di depan kamu kan? Jika kamu sudah tahu bahwa pacar kamu itu punya kelemahan atau hal-hal yang tidak kamu suka, yang pastinya―atau setidaknya―kamu sudah tahu sejak sebelum berpacaran dengannya, lantas kenapa memilih dirinya? Cinta terlalu kompleks untuk sekedar "memaklumi". Saya percaya bahwa cinta tidak selalu soal "memaklumi". Lebih dari itu, cinta itu menerima. Cinta itu menerima kebebasan. Cinta itu tidak suka dikekang. Biarkan ia bebas. Biarkan ia berpikir.

Ketiga, jangan serahkan waktumu sepenuhnya kepada pasanganmu. For God's sake, you have your own life and you deserve it! Saya percaya bahwa selama kamu belum menikah, kamu berhak menentukan dan  membagi-bagi waktu dalam kehidupanmu. Tentunya, memilih untuk berpasangan adalah pilihan kamu dan bertanggung jawablah atas pilihanmu itu. Namun, itu tidak berarti bahwa kamu harus menyerahkan segala waktu (dan pikiran) untuk pasanganmu ini. Hidup ini terlalu indah jika hanya disia-siakan untuk memikirkan kebahagiaan pacar kita. Bagaimana dengan kebahagiaanmu? Kamu sendiri berhak mengurus dirimu sendiri.

Kamu tentu sudah dewasa. Kamu tahu mana yang menjadi kebutuhan kamu dan mana yang tidak perlu kamu penuhi. Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri. Dan ketika pacarmu butuh waktu untuk dirinya sendiri, jangan pernah kamu menahannya. Berikan ia kebebasan sama seperti kamu menginginkan kebebasan itu sendiri. Dan ketika pacarmu mengambil waktu kamu, jangan pernah biarkan ia mengambil sepenuhnya. Katakan dengan tegas bahwa bagaimana pun juga hubungan kalian bukanlah (atau belum) terikat dalam hubungan pernikahan. Dia berhak memiliki waktu untuk dirinya, dan kamu pun berhak memiliki waktu atas dirimu sendiri. Tidak ada seorang pun―selama mereka berpacaran―yang berhak mengklaim bahwa seseorang harus menyerahkan seluruh waktunya (yang berarti segala aspek kehidupannya) kepada dirinya ketika orang itu menyatakan bahwa ia mencintainya. Tentu tidak seperti itu. Percayalah bahwa sekali kamu menyerahkan waktumu kepada orang lain, kamu akan sulit untuk mendapatkannya kembali.

Jadi, selalu ingat, apa pun yang terjadi, ketika kamu berpacaran atau dalam sebuah hubungan―apa pun itu namanya, ingatlah tiga hal dasar yang tidak boleh kamu serahkan sepenuhnya kepada pasangan kamu: privasi kamu, kebebasanmu, dan waktumu sepenuhnya. See, ini adalah hal-hal yang sangat penting untuk tetap kamu pertahankan. Hilangnya tiga hal ini akan menyebabkan hilangnya berbagai hal lain, termasuk hubungan yang sedang kamu jalankan. Kita semua memang pada dasarnya adalah makhluk sosial. Namun, itu tidak membuat hidup kita harus "go social" untuk pasangan kita hingga mengorbankan privasi, kebebasan, dan waktu yang kita miliki. Berpikirlah rasional ketika kamu berpacaran. Pastikan kamu tetap pada jalur yang benar, jalur yang tidak menyembunyikan kepribadian kamu yang sesungguhnya. Jadi, jika kamu tidak mau pacar kamu menjadi seperti apa yang kamu rasa bahwa tidak seharusnya ia seperti itu, maka tanyakan lagi pada dirimu, mengapa kamu memilihnya dulu? Atau mengapa kamu menerima permintaannya dulu untuk menjadi kekasihmu?

09 September 2012

Some People Love to Criticize

Some people love to criticize. They just love it. They just do it. Some people love to complain many things, even a very simple thing. Some people love to be a center of attention and somehow they show themselves in public by criticizing many things.

These people thought that other people might see them as the people who think out of the box. But the more they criticize things (or people), the more they feel that they're the only who can see different than the others. They'll probably think that others cannot see what is actually happen in this world. They'll probably think that others cannot see what people actually need. But the good news is that these people think (and feel) that they know what is really happen. They think (and feel) that they know exactly what is wrong and even some of these people do have the solution.

Yes, some of these people have the solutions for the problem they criticize. But the only problem is that these people do not like to take any action. They just speak! They just tell what they think as the real problem and some give the solutions for the problems. But they never start to be the first to make changes. They think, by speaking, by telling their opinion or their point of view to the public have made a little step to change the world. Well, it's not. It won't change anything.

They think that they have to speak when they see there's something wrong. That's true. But what make them wrong is when they just speak but they don't do anything to change it. They just speak and give some suggestions to others. They think that the job to change the world is not their destiny; it's the others' destiny. Not theirs. Of course we can imagine what will happen if everyone in this world think like this. We know that there's something wrong. We speak and we share our opinion about what we should do. but none of us takes action to start the change. No one. So, the change is just a dream. A dream that is live in our mind. But we don't do anything.

So, stop thinking that it is the others' destiny to make a change. No, it is our destiny. We all have a responsibility to make a change if we think and we know that something has to be changed. So, instead of keep talking and criticizing it, change it! But then again, some people do  love to criticize. Yes, they just love it. You know, they just do it.

02 September 2012

Kisah Panjang Gelar 'Haji' di Indonesia

Di negeri kita ini, adalah hal yang lazim bagi seorang muslim yang sepulangnya dari melaksanakan ibadah haji kemudian namanya bertambah gelar “H” (Haji) bagi pria atau “Hj” (Hajjah) bagi wanita. Gelar Haji ini tidak seperti kebanyakan gelar yang harus disematkan dengan suatu prosesi tersendiri, seperti upacara atau semacamnya. Gelar dapat disematkan secara inisiatif oleh orang bersangkutan setelah ia pulang dari Tanah Suci Mekah, dan lucunya, orang-orang pun akan secara inisiatif memanggil orang itu dengan sebutan “Pak Haji” atau "Bu Haji/Bu Hajjah" (ini juga tidak konsisten). Pertanyaan pun muncul. Dan mungkin pertanyaan yang satu ini sering terlintas dalam pikiran kita. Kenapa harus ditambah gelar Haji segala? Kenapa untuk ibadah lainnya tidak diberikan gelar? Seperti gelar Zakat bagi orang yang telah menunaikan ibadah zakat atau gelar Kurban bagi yang menunaikan ibadah kurban. Kenapa hanya ibadah haji?

Pagi ini saya membaca tulisan teman saya di Tumblr yang mempertanyakan hal itu. Saya pun ingat tentang jawaban dari pertanyaan akan tradisi yang sebenarnya agak aneh dan  terlebih lagi hanya terjadi di Indonesia saja ini. Sangatlah penting bagi kita, umat Islam di Indonesia untuk mengetahui asal-usul penyematan gelar Haji ini. Saya tahu betul bahwa ada banyak orang yang merasa bangga dengan gelar Haji setelah mereka pulang dari ibadah haji. Bahkan sebagian orang merasa tersinggung ketika gelarnya tidak tercantumkan dalam surat undangan atau namanya tidak disebutkan secara lengkap berikut gelar Hajinya saat dipanggil di depan umum. Nah, ada baiknya kita mengetahui apakah pantas sebetulnya kita memakai gelar itu? Saya membagi pembahasan sejarah ini ke dalam tiga bagian, yaitu (1) pada masa kerajaan Islam di Nusantara; (2) pada masa pemerintahan Hindia Belanda; dan (3) pada masa setelah kemerdekaan.

Masa Kerajaan Islam di Nusantara

Sejak kapan umat Islam di Indonesia mulai menunaikan ibadah haji? Bisa dikatakan bahwa kesadaran untuk menunaikan ibadah haji telah tertanam dalam diri setiap muslim Indonesia generasi pertama sejak para juru dakwah penyebar agama yang datang ke nusantara memperkenalkan agama Islam. Dari berbagai sumber yang saya baca beberapa tahun lalu, saya menemukan, Prof. Dadan Wildan Anas menyebutkan dalam naskah Carita Parahiyangan dikisahkan bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371)[1]. Ia menjadi raja menggantikan abangnya, Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur dalam perang Bubat yaitu peperangan antara Pajajaran dengan Majapahit.

Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang saudagar, ia sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja, 1981:47).

Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk Islam. Namun, upayanya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam. Namun, kakaknya pun menolak.

Naskah kuno selain Carita Parahyangan yang mengisahkan orang-orang jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji adalah Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, Wawacan Walangsungsang, dan Babad Cirebon. Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lain yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan pernah berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.

Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, atas saran Syekh Datuk Kahpi, Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah (diduga antara tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa) untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam. Dalam perjalanan ibadah haji itu, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah, dan memiliki dua orang anak, yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai seorang haji, Walangsungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman, sementara Rarasantang berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.

Sementara dari kesultanan Banten, jemaah haji yang dikirim pertama kali adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain (Tjandrasasmita, 1995:117).

Pada tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji.

Menurut naskah Sajarah Banten, suatu ketika Sultan Banten berniat mengirimkan utusannya kepada Sultan Mekah. Utusan itu dipimpin oleh Lebe Panji, Tisnajaya, dan Wangsaraja. Perjalanan haji saat itu harus dilakukan dengan perahu layar, yang sangat bergantung pada musim. Biasanya para musafir menumpang pada kapal dagang sehingga terpaksa sering pindah kapal. Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di nusantara. Dari tanah Jawa terlebih dahulu harus menuju Aceh atau serambi Mekah, pelabuhan terakhir di nusantara yang menuju Mekah. di sana mereka menunggu kapal ke India untuk ke Hadramaut, Yaman, atau langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa makan waktu enam bulan atau lebih.

Dari kisah-kisah tersebut tampaknya ibadah haji merupakan ibadah yang hanya terjangkau kaum elit, yaitu kalangan istana atau keluarga kerajaan. Hal ini menunjukkan —pada zaman itu—perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji memerlukan biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji, tapi tidak tercatat dalam sejarah.

Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Satu abad yang lalu, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, gelar Haji digunakan pemerintah sebagai tanda agar mudah dikontrol. Alasannya, banyak di antara orang Indonesia yang berhaji, tinggal berbulan-bulan—paling sedikit 3 bulan—di Mekah. Hal ini dikarenakan mereka tidak sekedar melaksanakan ibadah haji, tetapi juga belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka di sana untuk menuntut ilmu. Belanda yang saat itu berkuasa memiliki kekhawatiran terhadap orang yang menunaikan ibadah haji tersebut yaitu mereka akan menyebarkan paham Islamisme yang didapatnya sekembalinya di Indonesia. Kekhawatiran Belanda itu berbuah kenyataan karena hampir semua pimpinan perlawanan terhadap Belanda adalah mereka yang telah menunaikan ibadah haji.

Untuk mengawasi orang-orang yang melakukan ibadah haji, Belanda melakukan karantina haji dengan alasan menjaga kesehatan. Sejak tahun 1911-1933 Pulau Onrust dan Pulau Cipir (dulu namanya Pulau Khayangan) menjadi tempat penginapan sementara calon jemaah haji sebelum mereka bertolak ke Mekah dengan menggunakan kapal uap. Di pulau yang lengkap dengan fasilitas asrama dan rumah sakit ini mereka dikarantina selama tiga bulan, perjalanan pergi-pulang selama dua bulan, di Mekah selama tiga bulan, dan akan dikarantina lagi tiga bulan di Pulau Onrust sekembalinya dari Mekah. Tentunya di pulau ini ada yang memang dirawat dan diobati karena sakit akibat jauhnya perjalanan naik kapal, tapi ada juga yang disuntik mati kalau dipandang mencurigakan.

Selain dikarantina para jamaah yang telah menjalankan ibadah Haji diberi gelar (kehormatan) Haji setelah selesai masa karantina. Padahal ini merupakan salah satu strategi politik dari Belanda. Pada masa itu sedang berkembang paham Pan-Islamisme di Timur Tengah[2]. Selain itu, rata-rata orang yang kembali dari Mekah (jazirah Arab), memiliki pemikiran tidak mau tunduk kepada penguasa Eropa.[3] Karena semakin banyak terjadi gerakan-gerakan pemberontakan di Indonesia yang pada umumnya dipimpin oleh para ulama.

Selama masa karantina inilah para jemaah haji akan dicuci otaknya agar tidak menyebarkan paham-paham Islamisme di tengah-tengah masyarakat. Jika ada yang membangkang maka akan disuntik mati di pulau ini dengan alasan sakit.

Sementara itu, mereka yang telah diberikan gelar haji di depan nama mereka ini  dibuat bangga dengan gelar tersebut. Padahal gelar Haji yang diberikan oleh pemerintah Belanda merupakan salah satu cara untuk mempermudah Belanda dalam melakukan proses pelacakan bagi jamaah yang memiliki kemungkinan untuk terlibat dalam gerakan pemberontakan terhadap pemerintah. Gelar ini menjadi semacam cap yang memudahkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka yang dipulangkan ke kampung halaman. Misalnya di daerah A ada 3 haji, di daerah B ada 5 haji, dst. Jika terjadi pemberontakan Belanda mudah untuk menangkap orang-orang tersebut.

Ibadah Haji Setelah Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan, perjalanan menuju Mekah dari daerah-daerah di Indonesia pun masih membutuhkan waktu dua hingga enam bulan lamanya. Ini tentu dikarenakan perjalanan hanya dapat ditempuh dengan kapal layar. Bayangkan berapa banyak perbekalan berupa makanan dan pakaian yang harus dipersiapkan para jemaah haji! Itu pun belum tentu aman. Para jemaah haji harus selalu waspada akan kemungkinan para bajak laut dan perompak di sepanjang perjalanan, belum lagi ancaman topan, badai dan penyakit. Tidak jarang ada jemaah haji yang urung sampai di tanah suci karena kehabisan bekal atau terkena sakit. Kebanyakan dari mereka tinggal di negara-negara tempat persinggahan kapal.

Orang yang melaksanakan ibadah haji ke tanah suci jelas menghadapi risiko yang tidak kecil, mulai dari kesengsaraan di perjalanan (khusus jemaah haji Indonesia kesengsaraan itu sudah terasa jauh hari sebelum keberangkatan), hingga ancaman kematian akibat berdesak-desakan dan terinjak-injak oleh sesama jemaah haji saat melakukan ritual haji.

Karena beratnya menunaikan ibadah haji, mungkin (saya katakana “mungkin” loh ya) bisa dimengerti bila kaum muslim yang telah berhasil menjalankan rukun Islam kelima ini kemudian mendapatkan kedudukan tersendiri dan begitu terhormat dalam masyarakat sekembalinya ke negeri asalnya. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa alasan lain pemakaian gelar haji bagi mereka yang kembali pulang adalah, karena susahnya menempuh perjalanan pulang pergi Indonesia-Makkah, sehingga agar kesan itu tidak hilang, maka dipakailah gelar haji sebagai tanda perjuangan ibadah.

Namun, tentu sekarang berbeda dengan zaman dulu. Sekarang perjalanan haji seharusnya tidak sesulit zaman dulu. Perjalanan ke Mekah tidak lagi memerlukan waktu berbulan-bulan. Risiko akan bahaya dalam perjalanan pun sangat kecil walaupun tidak menutup kemungkinan ada risiko terlantar di Tanah Suci (itulah Indonesia). Namun, effort yang dikeluarkan tidak sebesar dulu. Bahkan ada banyak orang Indonesia yang tiap tahun yang pergi umroh ke Mekah. Ada yang tahun ini haji dan tahun berikutnya haji lagi dengan alasan haji yang sebelumnya dirasa belum sempurna. Sangat mudah. Lantas, masih pentingkah gelar Haji itu?

Memang, ibadah haji sebagai ibadah yang berulang, sebagaimana terlihat dari kata Idul Adha, yang berarti kembali berkorban secara akumulatif menjadi suatu tradisi. Karena di samping kata Id yang berarti berulang, ia juga bisa menjadi adat, kebiasaan (bahasa Arab: ‘Aadah). Begitu juga dengan gelar haji, ia berkembang secara evolutif, tanpa disadari, sehingga menjadi semacam tradisi. Ya.... tapi anehnya cuma di Indonesia ya?


[1] Santang, Kian. Menengok Sejarah Perjalanan Haji Tempo Dahulu. (http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/006/14.html)
[2] Pan Islamisme awalnya adalah paham politik yang lahir pada saat Perang Dunia II mengingkuti paham yang tertulis dalam al-a'mal al-Kamilah dari Jamal-al-Din Afghani. Paha mini kemudian berkembang menjadi gerakan memperjuangkan untuk mempersatukan umat Islam di bawah satu negara Islam yang umumnya disebut kekhalifahan. Pan Arabisme adalah ideologi yang sering bersaing dengan Pan Islamisme, Bila dalam Pan Arabisme bertujuan dengan kemerdekaan bangsa Arab tanpa memedulikan agama akan tetapi berdasarkan pada budaya etnis, sedangkan dalam Pan Islamisme, tujuan kemerdekaan bangsa Arab dianggap sebagai budaya Arab sebagai umat Islam tanpa memandang etnis.