10 September 2012

Privasi, Kebebasan, dan Waktu

Ketika kamu berpacaran atau dalam sebuah hubungan―apa pun itu namanya, setidaknya ada tiga hal yang tidak boleh kamu serahkan sepenuhnya kepada pasangan kamu. Pertama, kamu tidak boleh menyerahkan privasi kamu. Kedua, kebebasanmu, dan ketiga adalah waktumu sepenuhnya. Ini adalah hal-hal yang sangat penting untuk tetap kamu pertahankan. Jika kamu menyerahkan ketiga hal ini pada pasanganmu maka kamu akan merasa... I don't know, saya tidak bisa menjamin suatu kondisi yang pasti akan terjadi, hanya saja, saya bisa katakan bahwa ketika tiga hal itu terenggut oleh suatu 'komitmen' dalam berpacaran maka kamu akan merasa sangat tidak nyaman. Ya, setidaknya begitu. Well, saya akan mencoba menjelaskan alasannya.

Pertama, saya akan menjelaskan mengapa kamu tidak boleh menyerahkan privasi kamu bahkan kepada pacar kamu. Simple, bukan privasi namanya kalau kita men-share segala hal (yang dianggap privasi itu) kepada orang lain―sekalipun itu pacar. Ketika kamu berbagi segala hal, termasuk privasi, dengan pacar kamu maka kamu akan merasa sangat... I don't know, semacam "polos"; kertas polos. Menjadi kertas putih polos ini bukan berarti selalu baik. Semua orang pasti butuh "coretan" di hidupnya. Semua orang pasti punya rahasia dan butuh merahasiakan sesuatu. Kamu bisa menganggap saya aneh, tapi saya percaya bahwa manusia punya kebutuhan akan menyimpan rahasia atau privasi pribadi. Lagipula, sharing privasi juga akan menumbuhkan sifat curigaan atau prasangka. Trust me, you won't like it. Selain itu, bayangkan apa yang akan terjadi ketika pasangan kamu mengetahui setiap detil dari diri kamu? Tentu kamu menjadi orang yang tidak menarik lagi, dalam arti, si pasangan kamu ini tidak akan terkejut lagi dengan segala hal tentang kamu. Percayalah, hidup ini perlu kejutan. Privasi kita, di waktu yang tepat, bisa menjadi kejutan yang menyenangkan buat pasangan kita.

Contoh umum dari sharing privasi yang lazim terjadi pada sepasang pria dan wanita (yang berpacaran) adalah saling mengecek inbox handphone pasangannya. Si wanita mengecek inbox si pria (atau mungkin BBM) untuk memastikan bahwa si pria tidak berhubungan dengan wanita lain (atau mantannya). Si pria pun melakukan hal yang serupa. Ada yang melakukan secara terang-terangan, tapi ada pula yang sembunyi-sembunyi. See, semua ini dimulai dari rasa curiga atau prasangka, atau sebut saja, rasa ketidakpercayaan dalam suatu hubungan. Yang harus dibenahi sebenarnya adalah rasa ketidakpercayaan ini. Bukankah rasa kepercayaan adalah kunci utama dalam membina suatu hubungan? Saya percaya bahwa hal kecil, seperti mengecek inbox pasangan, adalah hal yang melanggar privasi individu. Seseorang, apa pun itu statusnya, seharusnya tidak berhak mengecek inbox orang lain. Bahkan ibu saya tidak pernah mengecek inbox handphone saya. Bukan karena ibu saya tidak peduli dengan saya, tapi lebih karena ibu saya percaya kepada saya.

Perlu diingat bahwa bagaimana pun, baik SMS, email atau pun surat biasa adalah pesan yang ditujukan secara personal dari satu individu/badan ke individu/badan lain. Oleh karena itu, orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan isi pesan itu, tentu tidak berhak mengetahui isi pesan itu, apalagi melihat/membacanya tanpa seizin si pemilik. Bahkan meminta dengan paksa untuk melihat pun, itu sudah merupakan pelanggaran atas hak privasi seseorang. Sayangnya, banyak orang yang sering menganggap membaca inbox ini sebagai suatu hal yang lazim (dan sepele) dilakukan dalam suatu hubungan. Percaya deh, baca-membaca inbox (dan pelanggaran privasi lainnya) memperpendek usia suatu hubungan.

Kedua, perkara kebebasan. Kebebasan ini adalah termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan memilih hobi, kebebasan berkreatifitas, kebebasan menjadi diri sendiri, dan segala kebebasan yang terkadang membuat banyak orang yang (terlanjur) "terkekang" dalam status pacaran berpikir bahwa "single is a way better". This! Kebebasan itu penting. Entahlah, semoga tidak terasa terlalu liberal, tapi saya percaya bahwa setiap orang berhak menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tentunya dengan catatan: penuh tanggung jawab. Sering kali hubungan-hubungan yang gagal dikarenakan karena salah satu individu merasa terkekang. Atau bisa jadi keduanya merasa terkekang, tapi tidak mau jujur satu sama lain. Seseorang tidak boleh mengekang kebebasan orang lain. Memangnya kenapa kalau pacar kamu adalah orang yang suka berpikir radikal? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu sifatnya. Kenapa pemikirannya harus dikekang? Memangnya kenapa kalau pacar kamu adalah "anak band"? Atau "anak basket"? Atau "anak futsal"? Atau seorang cheerleaders? Atau seorang dancer? Kamu takut banyak yang suka dia? Kamu takut dia punya banyak fans? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu itu. Memangnya kenapa kalau pacar kamu punya banyak teman pria atau wanita? Itu kan temannya? Kenapa kamu tidak percaya dengan dia? You chose him/her, by the way. Sudah seharusnya kamu tahu itu.

Biarkan dia menjadi dirinya sendiri tanpa harus menyembunyikan identitas sebenarnya di depan kamu hanya karena ia takut kamu marah atau cemburu. Percaya deh, kamu tidak mau dia begitu. Kamu pasti mau pacar kamu menjadi orang yang apa adanya di depan kamu kan? Jika kamu sudah tahu bahwa pacar kamu itu punya kelemahan atau hal-hal yang tidak kamu suka, yang pastinya―atau setidaknya―kamu sudah tahu sejak sebelum berpacaran dengannya, lantas kenapa memilih dirinya? Cinta terlalu kompleks untuk sekedar "memaklumi". Saya percaya bahwa cinta tidak selalu soal "memaklumi". Lebih dari itu, cinta itu menerima. Cinta itu menerima kebebasan. Cinta itu tidak suka dikekang. Biarkan ia bebas. Biarkan ia berpikir.

Ketiga, jangan serahkan waktumu sepenuhnya kepada pasanganmu. For God's sake, you have your own life and you deserve it! Saya percaya bahwa selama kamu belum menikah, kamu berhak menentukan dan  membagi-bagi waktu dalam kehidupanmu. Tentunya, memilih untuk berpasangan adalah pilihan kamu dan bertanggung jawablah atas pilihanmu itu. Namun, itu tidak berarti bahwa kamu harus menyerahkan segala waktu (dan pikiran) untuk pasanganmu ini. Hidup ini terlalu indah jika hanya disia-siakan untuk memikirkan kebahagiaan pacar kita. Bagaimana dengan kebahagiaanmu? Kamu sendiri berhak mengurus dirimu sendiri.

Kamu tentu sudah dewasa. Kamu tahu mana yang menjadi kebutuhan kamu dan mana yang tidak perlu kamu penuhi. Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri. Dan ketika pacarmu butuh waktu untuk dirinya sendiri, jangan pernah kamu menahannya. Berikan ia kebebasan sama seperti kamu menginginkan kebebasan itu sendiri. Dan ketika pacarmu mengambil waktu kamu, jangan pernah biarkan ia mengambil sepenuhnya. Katakan dengan tegas bahwa bagaimana pun juga hubungan kalian bukanlah (atau belum) terikat dalam hubungan pernikahan. Dia berhak memiliki waktu untuk dirinya, dan kamu pun berhak memiliki waktu atas dirimu sendiri. Tidak ada seorang pun―selama mereka berpacaran―yang berhak mengklaim bahwa seseorang harus menyerahkan seluruh waktunya (yang berarti segala aspek kehidupannya) kepada dirinya ketika orang itu menyatakan bahwa ia mencintainya. Tentu tidak seperti itu. Percayalah bahwa sekali kamu menyerahkan waktumu kepada orang lain, kamu akan sulit untuk mendapatkannya kembali.

Jadi, selalu ingat, apa pun yang terjadi, ketika kamu berpacaran atau dalam sebuah hubungan―apa pun itu namanya, ingatlah tiga hal dasar yang tidak boleh kamu serahkan sepenuhnya kepada pasangan kamu: privasi kamu, kebebasanmu, dan waktumu sepenuhnya. See, ini adalah hal-hal yang sangat penting untuk tetap kamu pertahankan. Hilangnya tiga hal ini akan menyebabkan hilangnya berbagai hal lain, termasuk hubungan yang sedang kamu jalankan. Kita semua memang pada dasarnya adalah makhluk sosial. Namun, itu tidak membuat hidup kita harus "go social" untuk pasangan kita hingga mengorbankan privasi, kebebasan, dan waktu yang kita miliki. Berpikirlah rasional ketika kamu berpacaran. Pastikan kamu tetap pada jalur yang benar, jalur yang tidak menyembunyikan kepribadian kamu yang sesungguhnya. Jadi, jika kamu tidak mau pacar kamu menjadi seperti apa yang kamu rasa bahwa tidak seharusnya ia seperti itu, maka tanyakan lagi pada dirimu, mengapa kamu memilihnya dulu? Atau mengapa kamu menerima permintaannya dulu untuk menjadi kekasihmu?

3 komentar :

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

ANDA ORANG YANG TIDAK PERLU TERLALU DIPERHATIKAN (DIPERHATIKAN BIKIN RIBET)

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.