18 Oktober 2012

Balada BlackBerry di Indonesia

Saya bingung deh sama orang-orang Indonesia yang terkesan suka "mendewakan" BlackBerry (BB). Apa-apa BB, dan kalau tidak ada BB kesannya akan kiamat. Oke, dulu (sebelum era BB), orang-orang banyak yang berpikir bahwa hidup sehari tanpa handphone akan sangat membosankan—semacam kiamat kecil. Namun, sekarang trennya bergeser pada brand tertentu, yaitu BB. Bahkan saking banyaknya pengguna BB di negeri ini, BB jadi terkesan bukan lagi sebagai barang mewah. Ibaratnya, semua orang bisa punya BB, dari tukang ojek sampai pejabat. Ketika terjadi gangguan jaringan BB di Asia Pasifik beberapa minggu lalu, saya membaca—di salah satu media massa online—bahwa orang-orang Indonesialah yang paling "resah" dengan gangguan ini karena tidak bisa BBM-an. Parahnya lagi, kinerja di kantor pun bisa terganggu akibat sinyal BB yang bermasalah—meeting dan komunikasi lainnya ikut bermasalah. Di Twitter pun beredar beragam tweet dan hashtag soal kacaunya jaringan sinyal BB pada saat itu. Tidak sedikit pula yang menobatkan hari itu sebagai "Hari Pending Sedunia". Yes, it happened in Indonesia.

Sejujurnya, saya sendiri suka emosi dengan pengguna BB karena banyak yang justru membatasi kemudahan berkomunikasi itu sendiri. Padahal BB ini termasuk dalam kategori smartphone atau ponsel cerdas yang fiturnya tidak sebatas BBM (dan social media lainnya). Lantas, mengapa penggunanya tidak bisa "secerdas" ponselnya untuk menggunakannya dengan bijak? Gadget yang mereka miliki bukannya mempermudah proses komukasi, justru semakin mempersulit karena mayoritas pengguna BB sudah terlanjur nyaman dengan fasilitas BBM sampai melupakan faslitas SMS yang ibaratnya "lebih membumi" dan jelas-jelas ada di semua telepon genggam.

Padahal, tidak semua pemilik telepon genggam di negeri ini menggunakan BB kan? Bahkan di negara tempat BB ini sempat booming karena presidennya menggunakan BB, kini muncul anggapan bahwa memiliki BB adalah sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Sementara itu, hal serupa tampaknya tidak berlaku di Indonesia.  Di sinilah pasar BB masih cukup bertahan walaupun saya cukup yakin BB di Indonesia pasti sudah merasa "tidak tenang" dengan ketatnya persaingan smartphones di negara penggila gadget ini.

Research in Motion (RIM) may still be successful selling BlackBerrys in countries like India and Indonesia, but in the United States the company is clinging to less than 5 percent of the smartphone market—down from a dominating 50 percent just three years ago.—The New York Post
Soal fenomena di Indonesia ini, saya melihatnya sebagai "penyakit latah" orang Indonesia yang memang sering terjadi. Akibat dari kegemaran BBM-an yang berujung pada pembatasan komunikasi hanya pada sesama pengguna BB, tidak jarang proses komunikasi pun terhambat. Tidak sedikit pengguna BB yang hanya membeli paket BBM sehingga tidak bisa membalas SMS (apalagi menelepon). Bahkan, tidak sedikit pula pengguna BB yang tidak memiliki nomor telepon orang-orang yang ada di kontaknya. Rata-rata mereka hanya memiliki pin BB-nya saja. Saya sering mengalami hal ketika saya menanyakan nomor telepon seseorang kepada orang-orang yang kebetulan menggunakan BB, sering kali jawaban yang saya dapat adalah orang-orang yang saya tanyakan ini hanya memiliki pin BB orang yang bersangkutan tanpa memiliki nomor telepon selularnya.

Di sini saya jadi bingung, sebenarnya manakah data yang sifatnya lebih privat? Apakah pin BB atau nomor telepon? Dulu, pada awal mulanya BB masih dianggap sebagai barang mewah sehingga pin BB pun kerap dianggap sebagai suatu hal yang privat atau personal. Artinya, tidak semua orang bisa dan boleh tahu pin BB seseorang. Namun, kini, trennya adalah banyak orang yang justru memublikasikan pin BB-nya di status Facebook atau tweet di Twitter dengan harapan pengguna BB lain bisa meng-add dirinya. Sementara itu, nomor telepon kini tampaknya menjadi lebih privat atau personal. Lucunya, pengguna BB yang justru harus mengeluarkan kocek lebih besar untuk bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitasnya malah kerap tidak punya pulsa reguler untuk fasilitas telepon standar: telepon dan kirim SMS. Kadang, saya suka gregetan juga dengan tingkah orang yang sedang dalam keadaan sangat mendesak untuk menghubungi sesorang yang keduanya adalah pengguna BB, tapi salah satu pihak sulit dihubungi. Nah, biasanya komunikasi yang terjadi seperti ini:

A: Duh mana sih si B? Ngga bisa dihubungin dari tadi, di-BBM cuma di-read doang!
C: Ya udah ditelepon aja gimana?
A: Gue ngga punya nomornya nih! Duh! (dan stress sendiri)

Atau kemungkinan percakapan lain yang terjadi:

A: Duh mana sih si B? Ngga bisa dihubungin dari tadi, pending terus!
C: Ya udah di-SMS atau ditelepon aja gimana?
A: Gue ngga punya pulsa nih, cuma langganan paket buat BBM aja! (dan stress sendiri)

See, jadi pusing sendiri kan? Kenapa orang-orang bisa jadi segitu bergantungnya dengan BB sampai banyak yang tidak lagi butuh nomor telepon? Padahal, biar bagaimanapun BB itu adalah telepon yang fungsi utamanya ya... untuk menelepon. Fitur lain, seperti BBM adalah bagian dari inovasi teknologi yang tidak seharusnya membatasi kemonukasi itu sendiri. But, it happend in Indonesia. Selain itu, fenomena BB membuat banyak pengguna BB kerap berganti nomor (biasanya ke kartu Merah) sehingga—kalau dari sisi penyedia jasa layanan komunikasi—masyarakat tidak lagi loyal pada satu brand tertentu. Sementara dari sisi pengguna, masyarakat jadi sering bergonta-ganti nomor dan hal ini tentu menyulitkan proses komunikasi itu sendiri. Sering kali saya harus meng-update nomor teman-teman saya di kontak handphone saya. Kita tentunya tidak menghubungi seluruh nama di kontak ponsel kita secara rutin kan? Mungkin ada yang seminggu sekali, sebulan sekali, atau mungkin ada juga yang setahun sekali (saat mengucapkan selamat Lebaran misalnya). Untuk nomor-nomor yang hampir hanya setahun sekali kita hubungi, tingkat kepercayaan saya pada orang-orang ini cukup rendah karena ada kemungkinan nomor mereka sudah berganti—kecuali orang-orang yang lebih tua atau nomor-nomornya adalah "nomor tua" (10—11 digit).

Oke, sekarang saya mau bahas sedikit dari sisi akademisnya. Arnold Pacey dalam tulisannya di The Culture of Technology mengatakan bahwa teknologi itu netral; teknologi itu independen. Artinya, teknologi mampu berdiri sendiri dan dapat menyesuaikan dengan budaya yang berkembang baik dalam diri individu maupun suatu masyarakat. Namun, itu semua tetap tidak berarti bahwa kehadiran suatu teknologi tertentu dapat langsung diterima begitu saja dalam kehidupan masyarakat.

Berbicara mengenai teknologi, tentu tidak terlepas dari makna atau definisi teknologi itu sendiri. Pacey menjelaskan teknologi dalam suatu diagram definisi dan praktik teknologi, yaitu terdapat tiga aspek utama yang membentuknya: aspek budaya, aspek organisasional, dan aspek teknis. Yang menarik dari ketiga aspek tersebut adalah bahwa aspek-aspek tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Orang-orang yang berpikir organis atau politis akan berpendapat bahwa aspek organisasional yang paling penting karena hal itu menyangkut kepentingan umum, kepentingan publik, dan hal-hal yang admistratif. Sementara itu ada juga yang mengidentifikasikan dan mengaitkan teknologi dengan aspek teknis. Mereka berpendapat bahwa teknologi muncul karena adanya pemikiran manusia mengenai mesin, teknik, dan ketrampilan lainnya. Ketika teknologi dipandang hanya dari sisi teknis saja maka nilai-nilai budaya dan faktor organisasi dianggap sebagai bagian eksternal saja. Aspek lainnya, yaitu aspek budaya yang fokus pada keyakinan bahwa teknologi ada dan diciptakan bukan untuk menghilangkan suatu budaya melainkan untuk mengembangkan budaya tersebut.

Teknologi hadir sebagai perpanjangan tangan manusia. Ini yang perlu digarisbawahi. Seorang tokoh, Thomas Lewis, mengemukakan suatu konsep yang disebut halfway technology, yaitu teknologi yang hadir sebagai suatu pemecahan atau solusi terhadap permasalahan, tapi belum sepenuhnya dikuasai oleh manusia sehingga sangat dibutuhkan riset lebih lanjut. Thomas pernah memimpin suatu riset medis mengenai penggunaan antibiotik dan imunisasi dalam melawan virus. Teknik yang digunakan sangat efektif dan biayanya relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Teknologi antibiotik dan imunisasi inilah yang dapat dikatakan sebagai teknologi tinggi. Di sisi lain, proses transpalantasi dan pengobatan kanker sangat mahal dan masih menggunakan teknologi sederhana. Inilah yang disebut sebagai halfway technology. Transplantasi adalah suatu solusi yang dapat ditawarkan dalam dunia medis, tapi pada praktiknya masih diperlukan banyak riset agar terhindar dari kemungkinan efek negatif dari dilakukannya suatu proses transplantasi.

Teknologi dari masa lalu hingga kini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin menuju era peradaban digital. Kita hidup berdampingan dengan teknologi. Kita berkomunikasi dengan teknologi. Teknologi secara nyata telah mengekstensikan kemampuan manusia sedemikian rupa sekaligus mengubah gaya serta pola sikap dan perilaku manusia hingga seperti saat ini, dan sama halnya seperti manusia, teknologi terus hidup dan berkembang, tentunya hingga akhir dari peradaban manusia itu sendiri. Namun, satu hal yang penting adalah bahwa manusia tidak boleh dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Manusialah yang harusnya mengendalikan teknologi. Apa yang terjadi di Indonesia ini tampaknya telah membuktikan bahwa manusia telah menjadi "budak" teknologi itu sendiri. Parahnya, tidak sedikit yang bangga dengan tren "perbudakan" ini. Ah, tapi ya sudahlah, setidaknya saya tetap berkomitmen untuk tidak  pakai BB sampai saat ini. Anyway, tentunya soal BB ini pilihan tiap orang sih. Cuma saya jadi heran kalau BB ini yang harusnya bisa mempermudah proses komunikasi malah jusru mempersulit dan orang menjadi terlalu bergantung dengan alat ini. Well, tampaknya kata-kata: mendekatkan yang jauh; menjauhkan yang dekat itu ada benarnya untuk BB.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.