Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

16 November 2012

Kemana Mahasiswa UI Harus Berharap?

Kemana mahasiswa UI harus berharap? Kepada dosen? Kepada dekan atau rektornya? Kepada teman CeEs-annya? Pacarnya? Parter-in-crime? Well, tergantung konteksnya. Namun, dalam konteks kemahasiswaan, setidakpedulinya (atau banyak yang bilang: se-apatis-nya) seorang mahasiswa UI soal pergerakan kemahasiswaan atau politik kampus, mahasiswa UI masih tetap menaruh harapan besar kepada orang-orang yang kerap diberi gelar "lebih cinta pekerjaannya" daripada teman atau keluarganya, orang-orang yang rela pergi tak melihat matahari terbit dan pulang tak melihat matahari terbenamsaking sibuknya, para pemimpin mahasiswa di kampus, para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Terlepas dari banyaknya mahasiswa yang merasa biasa-biasa saja dengan BEM, tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa kehadiran BEM tetap diperlukan dan dirasa penting untuk tetap eksis di dunia mahasiswadan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang berpikir begitu.

Tulisan saya kali ini muncul akibat munculnya isu-isu seputar kemahasiswaan di kampus saya. Duh, padahal saya sudah lulus loh, teman-teman dekat saya di kampus pasti akan bilang, "Masih aje lo mikirin yang begituan," hahaha. Ya, mau bagaimana lagi? Isu-isu seperti ini, yang rada-rada nyerempet politik kampus memang selalu menyenangkan bagi saya. Anyway, selama saya berprofesi sebagai mahasiswa, saya memang dekat dengan dunia BEM. Namun, saya hanya aktif di BEM fakultas, yaitu BEM FISIP UI. Saya sendiri tidak begitu mengikuti perpolitikan BEM UI walaupun sempat beberapa kali pemilihan raya (Pemira) BEM UI menjadi sangat seru di kampus.

Oke, sebelum melangakah lebih jauh, tulisan ini adalah murni pandangan saya sebagai "orang luar" atau sebut saja outsider yang hanya "melihat" BEM UI dari kejauhansaya sudah bukan lagi mahasiswa. Orang-orang bisa setuju, bisa tidak, dan itu sah-sah saja. Yang mau mengkritik pun diperbolehkan, saya pun sudah terbiasa dengan itu dan akan menerima dengan tangan terbuka.

Kita kembali ke topik. Jadi, niatan saya menulis ini dimulai dari isu yang... katanya, denger-denger nih, calon ketua dan wakil ketua BEM UI tahun ini hanya ada satu pasang. Ah masa iya? Kok bisa? Awalnya saya juga tidak percaya karena paling tidak minimal pasti ada dua pasang calon yang mengajukan diri untuk menjadi the next presiden mahasiswa UI. Bahkan pernah pada suatu masa, belum lama ini, sempat ada lebih dari tiga pasangan calon yang mendaftarkan diri sebagai peserta Pemira UI walau yang lulus verifikasi hanya tiga pasang saja, tapi saya kira hal itu tetap membuktikan bahwa "pertarungan" politik di dunia mahasiswa masih menjadi hal penting. Namun, ternyata isu calon pasangan tunggal tersebut memang bukan "katanya", isu tersebut ternyata benar adanya. Padahal, saya sangat yakin jabatan Ketua BEM UI adalah sebuah kebanggaan tersendiri dan dari ribuan kepala mahasiswa UI pasti tidak sedikit yang bermimpi mau menjadi seorang Ketua BEM UI. Oke, itu adalah amanah, saya tahu betul soal itu, tapi saya bukan membahas soal amanah di sini. Saya sangat terkejut bahwa ternyatadan kayaknyamenjadi Ketua BEM UI tidak lagi menjadi mimpi yang cukup populer di kalangan mahasiswa. Ah, itu kan memang anggapan saya, tapi jika kita mau melihat sedikit lebih dalam, kita tentu bisa mempertanyakan: lantas ini salah siapa?

Loh, memang salah kalau seseorang tidak mau menjadi Ketua BEM UI? Memang salah kalau seseorang (atau banyak orang) lebih memilih jadi mahasiswa biasa saja, mahasiswa yang punya kehidupan teratur, bisa hang out dengan teman-temannya kapan pun, tidak perlu pusing memikirkan tingkah para pejabat di DPR sana, tidak perlu terlalu menjaga sikap, dsb.? Oh, tentu tidak. Semua orang punya preferensi masing-masing mengenai "mau jadi apa" dia selama di dunia kampus. Namun, kembali pada soal "nasib bangsa" ini yang tampaknya memang dibebankan kepada para pemuda, maka menjadi hal yang sangat penting ketika universitas (yang diklaim) sebagai universitas terbaik di Indonesia, dan bla bla bla ini semakin kehilangan sosok pemuda yang peduli dengan regenerasi kepemimpinan dan kepemudaan itu sendiri. Dan BEM UI, sebagai suatu wadah yang berisi kumpulan pemuda-pemuda terbaik dari seantero fakultas di UI tentu berkewajiban dan bertanggung jawab untuk meneruskan semangat kepemimpinan pemuda di UI.

Nah, kembali ke soal si calon tunggal. Tentunya, ini adalah fenomena yang sangat mengejutkan. Ya... bagi saya, dan bagi banyak teman-teman mahasiswa UI yang masih peduli dengan dunia perjuangan mahasiswa. Ada apa ini? Kenapa bisa hanya satu pasang calon yang "maju"? Memang sih, akan ada sistem yang mengatur soal pemilihan ini, dalam arti, si calon ini tidak lantas bisa menang mutlak hanya karena tidak ada pesaingnya. Namun, saya kira dari kejadian ini, ada dua hal yang (mungkin) bisa kita tarik sebagai kesimpulan, yaitu (1) tidak ada regenerasi di BEM UIdan itu parah, dan (2) tidak ada usaha meregenerasi kepemimpinan dari BEM UIkalau pun ada, sebut saja usaha itu (selama ini) ternyata: gagal.

Sejujurnya, saya tidak mau terlalu menuduh BEM UI tidak mampu mencetak kader-kader pemimpin baru di kalangan mahasiswawalau rasanya saya tidak bisa menutup mata bahwa bagaimanapun kualitas BEM semakin menurunapalagi karena saya tidak lagi berkecimpung di dunia kampus. Namun, izinkan saya untuk sedikit menyampaikan pendapat.

Sebelum lebih jauh, saya mau sedikit berbagi cerita tentang bagaimana saya melihat BEM UI 2012. BEM UI tahun ini mengusung suatu tema besar mengenai kekuatan bekarya; the power of innovation. BEM UI percaya bahwa untuk berkontribusi kepada negeri yang kita cintai ini diperlukan lebih dari sekedar kata-kata atau orasi di tengah massa, tapi lebih dari: tindakan nyata. Tindakan seperti apa? Apa pun, dan oleh karena itulah kita harus bekarya. Bekarya dan terus bekarya hingga menginspirasi orang lain. Ketika kita menginspirasi orang lain maka diharapkan orang lain pun akan melakukan sesuatu yang menginspirasi orang lain, dan terus begitu. Saya sendiri melihat bahwa BEM UI tahun ini memang membuat suatu gebrakan yang sangat besar. Organisasi ini berisi orang-orang yang sangat kreatif dalam membuat program dan terutama saya sangat menyukai bagaimana mereka mengemas program-program BEM dengan sangat menarik untuk para mahasiswa. Bahkan, saya rasa BEM tahun ini sangat ahli dalam hal penguasaan media dan teknologi, terutama ketika saya melihat beberapa post di halaman Tumblr saya yang berisi screen capture aplikasi Android dalam rangka menyambut salah satu acara mahasiswa UI yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya: Olimpiade UI. Ini sangat luar biasa dan sebagai si outsider tadi, saya acungkan dua jempol untuk kreativitas BEM UI tahun ini.

Namun, terlepas dari inovasi-inovasi baru itu, tampaknya ada satu lubang besar yang terlihat menjelang Pemira tahun ini, yaitu regenerasi (dan kaderisasi). Saya pun baru tahu bahwa ternyata pasangan calon yang akan berjuang mendapatkan kursi kepemimpinan mahasiswa di UI bukanlah berasal dari BEM UI. Sang calon ketua berasal dari FH, sedangkan sang calon wakil ketua berasal dari FKM. Loh, memang ada yang salah dengan itu? Tentunya tidak ada. Tidak ada yang salah, minimal jika ada lebih dari sepasang calon yang maju dalam perebutan "hati" mahasiswa UI ini. Nah, hanya saja, saya kira pasti akan muncul tanda tanya besar di banyak pikiran mahasiswa UI, kok bisa? Kok bisa cuma satu pasang yang maju? Dan bahkan, tidak ada kandidat dari internal BEM UI sendiri yang mencalonkan diri untuk menjadi ketua dan wakil ketua BEM UI 2013. Biasanya, pihak BEMbaik di tingkat UI maupun fakultasselalu mempunyai semacam ego, bahwa siapa pun penerus kepengurusan BEM selanjutnya, paling tidak orang tersebut harus berasal dari internal BEM, bukan dari luar. Atau paling minimal, ada orang-orang dari internal BEM UI yang ikut "bertarung" dalam Pemira UI. Ini tampaknya sudah menjadi rahasia umum bahwa tiap golongan yang berkuasa menginginkan keeksistensian golongannya terjaga, ah rasa-rasanya di mana-mana juga begitu. Namun, dengan hanya adanya satu pasang calon yang maju di Pemira UI tahun ini tentu menjadi pertanyaan besar: emang (ketua) BEM-nya ngapain sih? Masa dari BEM sendiri sampai enggak ada yang maju?

Bagi saya pribadi, tidak adanya kandidat yang maju dari internal BEM UI sendiri menandakan bahwa tidak adanya proses regenerasi dan kaderisasi di tubuh organisasi ini. Padahal, tiap tahunnya BEM UI selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa UI (khususnya mahasiswa baru). Lantas, akan menjadi sangat lucu jika organisasi yang berusaha bekarya demi menginspirasi banyak orang, tapi ternyata tidak mampu menginspirasi pengurus di internal organisasi untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di BEM. Terlepas dari si calon ketua yang maju kali ini pernah mengenyam "pendidikan" di BEM UI pada kepengurusan sebelumnya, tapi hal ini seharusnya menjadi momok bagi pengurus BEM UI 2012. Dan ditambah lagi, pasangan calon tunggal ini diketahui berasal dari satu golongan (sebut saja: tarbiyah) yang tampaknya punya banyak kesan tersendiri di mata mahasiswa UI (dan mahasiswa Indonesia pada umumnya), ah itu kan satu lagi rahasia umum di kalangan mahasiswa.

Jadi, kemana mahasiswa UI harus berharap jika tidak ada lagi yang mahasiswa yang mau maju mencalonkan diri sebagai calon ketua dan wakil ketua BEM UI? Sederhananya, yah, enggak ada pilihan lain dong ya? Tentunya partisipasi politik mahasiswa UI akan semakin rendah. Kok saya bisa bilang begitu? Itu prediksi saya saja. Kemungkinan mayoritas pemilih pasti hanya akan berasal dari golongan tertentu dan jika sampai akhirnya si pasangan tunggal itu memang terpilih, ya... mari kita berbaik sangka, berpikir positif tentang nasib BEM UI ke depannyaanyway, toh ini bukan pertama kali suatu golongan tertentu memimpin kursi BEM UI. Namun, tentu yang sangat disayangkan adalah mengapa tidak ada calon lain? Saya kira, para mahasiswa tetap membutuhkan alternatif, tentu tidak seperti calon pilpres alternatif a.k.a. Rhoma Irama. Periode satu tahun kepengurusan sebenarnya cukup untuk menyiapkan kader-kader yang siap memimpin UI. Sayangnya, kader-kader ini pun bahkan tidak muncul dari internal BEM UI. Mungkin ini seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi internal BEM UI untuk memperbaiki sistem kaderisasi internalnya sehingga sebelum menginspirasi banyak orang berbuat lebih, mungkin ada baiknya untuk menginspirasi di internal pengurus bahwa "our job has not finished yet; it is your time to continue what we have built so far." Ah, ya sudahlah, ini sedikit pendapat sok tahu saya saja di tengah waktu kerja yang kebetulan sedang lengang. Semoga apa pun hasilnya, terkait Pemira UI ini, tetap membawa kebaikan bagi mahasiswa UI, UI, dan Indonesia; tentunya itu adalah harapan hampir semua orang. Satu hal lagi, semoga beberapa pendapat saya soal BEM UI itu salah.

   Add Friend

09 November 2012

President Obama's Reelection Speech

This is the full text of President Barack Obama’s speech in Chicago after his reelection on Tuesday night:

President Barack Obama told cheering supporters at his campaign headquarters in Chicago today that "the best is yet to come" for the United States as he stormed to a second term by defeating the Republican Mitt Romney.
“Thank you so much.

Tonight, more than 200 years after a former colony won the right to determine its own destiny, the task of perfecting our union moves forward.

It moves forward because of you. It moves forward because you reaffirmed the spirit that has triumphed over war and depression, the spirit that has lifted this country from the depths of despair to the great heights of hope, the belief that while each of us will pursue our own individual dreams, we are an American family and we rise or fall together as one nation and as one people.

Tonight, in this election, you, the American people, reminded us that while our road has been hard, while our journey has been long, we have picked ourselves up, we have fought our way back, and we know in our hearts that for the United States of America the best is yet to come.

I want to thank every American who participated in this election, whether you voted for the very first time or waited in line for a very long time. By the way, we have to fix that. Whether you pounded the pavement or picked up the phone, whether you held an Obama sign or a Romney sign, you made your voice heard and you made a difference.

I just spoke with Gov. Romney and I congratulated him and Paul Ryan on a hard-fought campaign. We may have battled fiercely, but it’s only because we love this country deeply and we care so strongly about its future. From George to Lenore to their son Mitt, the Romney family has chosen to give back to America through public service and that is the legacy that we honor and applaud tonight. In the weeks ahead, I also look forward to sitting down with Gov. Romney to talk about where we can work together to move this country forward.

I want to thank my friend and partner of the last four years, America’s happy warrior, the best vice president anybody could ever hope for, Joe Biden.

And I wouldn’t be the man I am today without the woman who agreed to marry me 20 years ago. Let me say this publicly: Michelle, I have never loved you more. I have never been prouder to watch the rest of America fall in love with you, too, as our nation’s first lady. Sasha and Malia, before our very eyes you’re growing up to become two strong, smart beautiful young women, just like your mom. And I’m so proud of you guys. But I will say that for now one dog’s probably enough.

To the best campaign team and volunteers in the history of politics. The best. The best ever. Some of you were new this time around, and some of you have been at my side since the very beginning. But all of you are family. No matter what you do or where you go from here, you will carry the memory of the history we made together and you will have the lifelong appreciation of a grateful president. Thank you for believing all the way, through every hill, through every valley. You lifted me up the whole way and I will always be grateful for everything that you’ve done and all the incredible work that you put in.

I know that political campaigns can sometimes seem small, even silly. And that provides plenty of fodder for the cynics that tell us that politics is nothing more than a contest of egos or the domain of special interests. But if you ever get the chance to talk to folks who turned out at our rallies and crowded along a rope line in a high school gym, or saw folks working late in a campaign office in some tiny county far away from home, you’ll discover something else.

You’ll hear the determination in the voice of a young field organizer who’s working his way through college and wants to make sure every child has that same opportunity. You’ll hear the pride in the voice of a volunteer who’s going door to door because her brother was finally hired when the local auto plant added another shift. You’ll hear the deep patriotism in the voice of a military spouse who’s working the phones late at night to make sure that no one who fights for this country ever has to fight for a job or a roof over their head when they come home.

That’s why we do this. That’s what politics can be. That’s why elections matter. It’s not small, it’s big. It’s important. Democracy in a nation of 300 million can be noisy and messy and complicated. We have our own opinions. Each of us has deeply held beliefs. And when we go through tough times, when we make big decisions as a country, it necessarily stirs passions, stirs up controversy.

That won’t change after tonight, and it shouldn’t. These arguments we have are a mark of our liberty. We can never forget that as we speak people in distant nations are risking their lives right now just for a chance to argue about the issues that matter, the chance to cast their ballots like we did today.

But despite all our differences, most of us share certain hopes for America’s future. We want our kids to grow up in a country where they have access to the best schools and the best teachers. A country that lives up to its legacy as the global leader in technology and discovery and innovation, with all the good jobs and new businesses that follow.

We want our children to live in an America that isn’t burdened by debt, that isn’t weakened by inequality, that isn’t threatened by the destructive power of a warming planet. We want to pass on a country that’s safe and respected and admired around the world, a nation that is defended by the strongest military on earth and the best troops this — this world has ever known. But also a country that moves with confidence beyond this time of war, to shape a peace that is built on the promise of freedom and dignity for every human being.

We believe in a generous America, in a compassionate America, in a tolerant America, open to the dreams of an immigrant’s daughter who studies in our schools and pledges to our flag. To the young boy on the south side of Chicago who sees a life beyond the nearest street corner. To the furniture worker’s child in North Carolina who wants to become a doctor or a scientist, an engineer or an entrepreneur, a diplomat or even a president — that’s the future we hope for. That’s the vision we share. That’s where we need to go — forward. That’s where we need to go.

Now, we will disagree, sometimes fiercely, about how to get there. As it has for more than two centuries, progress will come in fits and starts. It’s not always a straight line. It’s not always a smooth path. By itself, the recognition that we have common hopes and dreams won’t end all the gridlock or solve all our problems or substitute for the painstaking work of building consensus and making the difficult compromises needed to move this country forward. But that common bond is where we must begin.

Our economy is recovering. A decade of war is ending. A long campaign is now over. And whether I earned your vote or not, I have listened to you, I have learned from you, and you’ve made me a better president. And with your stories and your struggles, I return to the White House more determined and more inspired than ever about the work there is to do and the future that lies ahead.

Tonight you voted for action, not politics as usual. You elected us to focus on your jobs, not ours. And in the coming weeks and months, I am looking forward to reaching out and working with leaders of both parties to meet the challenges we can only solve together. Reducing our deficit. Reforming our tax code. Fixing our immigration system. Freeing ourselves from foreign oil. We’ve got more work to do.

But that doesn’t mean your work is done. The role of citizen in our democracy does not end with your vote. America’s never been about what can be done for us. It’s about what can be done by us together through the hard and frustrating, but necessary work of self-government. That’s the principle we were founded on.

This country has more wealth than any nation, but that’s not what makes us rich.We have the most powerful military in history, but that’s not what makes us strong. Our university, our culture are all the envy of the world, but that’s not what keeps the world coming to our shores.

What makes America exceptional are the bonds that hold together the most diverse nation on earth. The belief that our destiny is shared; that this country only works when we accept certain obligations to one another and to future generations. The freedom which so many Americans have fought for and died for come with responsibilities as well as rights. And among those are love and charity and duty and patriotism. That’s what makes America great.

I am hopeful tonight because I’ve seen the spirit at work in America. I’ve seen it in the family business whose owners would rather cut their own pay than lay off their neighbors, and in the workers who would rather cut back their hours than see a friend lose a job. I’ve seen it in the soldiers who reenlist after losing a limb and in those SEALs who charged up the stairs into darkness and danger because they knew there was a buddy behind them watching their back.

I’ve seen it on the shores of New Jersey and New York, where leaders from every party and level of government have swept aside their differences to help a community rebuild from the wreckage of a terrible storm. And I saw just the other day, in Mentor, Ohio, where a father told the story of his 8-year-old daughter, whose long battle with leukemia nearly cost their family everything had it not been for health care reform passing just a few months before the insurance company was about to stop paying for her care.

I had an opportunity to not just talk to the father, but meet this incredible daughter of his. And when he spoke to the crowd listening to that father’s story, every parent in that room had tears in their eyes, because we knew that little girl could be our own. And I know that every American wants her future to be just as bright. That’s who we are. That’s the country I’m so proud to lead as your president.

And tonight, despite all the hardship we’ve been through, despite all the frustrations of Washington, I’ve never been more hopeful about our future. I have never been more hopeful about America. And I ask you to sustain that hope. I’m not talking about blind optimism, the kind of hope that just ignores the enormity of the tasks ahead or the roadblocks that stand in our path. I’m not talking about the wishful idealism that allows us to just sit on the sidelines or shirk from a fight.

I have always believed that hope is that stubborn thing inside us that insists, despite all the evidence to the contrary, that something better awaits us so long as we have the courage to keep reaching, to keep working, to keep fighting.

America, I believe we can build on the progress we’ve made and continue to fight for new jobs and new opportunity and new security for the middle class. I believe we can keep the promise of our founders, the idea that if you’re willing to work hard, it doesn’t matter who you are or where you come from or what you look like or where you love. It doesn’t matter whether you’re black or white or Hispanic or Asian or Native American or young or old or rich or poor, able, disabled, gay or straight, you can make it here in America if you’re willing to try.

I believe we can seize this future together because we are not as divided as our politics suggests. We’re not as cynical as the pundits believe. We are greater than the sum of our individual ambitions, and we remain more than a collection of red states and blue states. We are and forever will be the United States of America.

And together with your help and God’s grace we will continue our journey forward and remind the world just why it is that we live in the greatest nation on Earth.

Thank you, America. God bless you. God bless these United States.”

   Add Friend

08 November 2012

Obama: Four More Years

Presiden Barack Obama untuk kedua kalinya terpilih menjabat sebagai presiden Amerika Serikat setelah berhasil mengantongi 303 electoral votes. Obama sebenarnya hanya perlu mendapatkan 270 electoral votes untuk mengamankan kursi kepresidenannya dari sang penantang, Mitt Romney. Walaupun tampaknya pemilihan presiden AS kali ini kurang greget atau banyak yang mengatakan tidak sepanas dan menarik seperti pada tahun 2008 yang mempertemukan antara Obama dan McCain, tapi tidak disangka justru persaingan ketat dalam perebutan suara sangat terasa ketika perhitungan hasil pemilihan. Bahkan Obama dan Romney sempat mengumpulkan suara berimbang, yaitu masing-masing 162 suara pada electoral votes. Dunia pun tampaknya cukup antusias menyambut hasil pemilihan tersebut. Dikabarkan pula ada banyak spekulasi mengenai keadaan pasar AS yang akan membaik pascapemilihan ini. Tampaknya memang segala hal yang terjadi di AS akan selalu menjadi pusat perhatian dunia. Hal ini membuat saya berpikir bahwa AS kelihatannya memang telah dianggap menjadi "ibukota" dunia, sementara negara-negara besar lain adalah layaknya provinsi-provinsi besar lain, dan sementara Indonesia mungkin hanya seperti layaknya desa pinggiran di salah satu pelosok dunia.

Ah, biarlah. Lagipula saya sedang tidak begitu ingin membahas soal eksistensi Indonesia di mata AS. Saya kali ini sangat tertarik dengan strategi kampanye yang Obama lakukan untuk kembali memenangkan hati rakyat AS atau bahkan soal Obama yang sangat popular di Indonesia karena sempat menjadi "anak Menteng". Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa starategi kampanye Obama yang menggunakan metode baru, khususnya dengan bantuan social media, berhasil menarik tidak hanya perhatian masyarakat AS, tetapi juga masyarakat dunia. Popularitas Obama pun meroket ketika pada tahun 2008 ia mengintegrasikan kampanyenya dengan media-media sosial yang dekat dengan anak anak muda, seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Dia berhasil "menanamkan" visi perubahan (change) dan motto Yes We Can-nya dengan baik ke masyarakat AS. Lagi-lagi ada peran pemuda di sini. Ah, saya jadi ingat dengan bagaimana dukungan anak-anak muda pada pasangan Jokowi-Ahok sangat berpengaruh besar di Pilkada DKI kemarin. Anyway, kita kembali ke topik. Saya melihat, Obama ditambah media anak muda, yaitu social media, ditambah visi perubahan (baik dari sisi personal si Obama dan sisi lainnya) ditambah motto atau tagline yang ciamik, akhirnya mampu membawa Obama pada kursi kepresidenan. Saya rasa komposisi formula ini pula yang tetap membuat Obama terpilih untuk kedua kalinya pada pemilihan presiden November 2012 ini.

Nah, ada satu foto menarik yang saya dapat dari akun resmi Twitter Obama sesaat setelah ia telah dipastikan memenangkan pemilihan. Memang, tidak semua tweet yang keluar dari akun tersebut adalah berasal dari Obama langsung. Di deskripsi/bio akun tersebut tertulis bahwa akun tersebut (@BarackObama) dijalankan oleh staf kampanye #Obama2012, sedangkan tweet yang ditulis langsung oleh Obama akan diberi tanda "-bo" di setiap akhir tweet-nya. Sebagai contoh, setelah dipastikan memenangkan suara kemarin, Obama menge-tweet, "We're all in this together. That's how we campaigned, and that's who we are. Thank you. -bo." Itu berarti tweet tersebut ditulis oleh Obama langsung, sedangkan tweet setelahnya yang hanya berisi: "Thank you" ditulis oleh staf kampanyenya.

Oke, kembali ke masalah foto menarik yang saya singgung sebelumnya. Berselang beberapa tweets setelah yang di-tweet oleh Obama sendiri, akun @BarackObama mengeluarkan tweet: "Four more years." dengan lampiran foto Obama yang sedang memeluk istrinya, Michelle. Spontan, saya langsung berpikir bahwa: THIS! Ini foto yang luar biasa. Foto tersebut benar-benar berbicara dan menyampaikan suatu pesan yang luar biasa. Saya rasa, foto semacam itu bukanlah foto yang lazim dikeluarkan untuk menyatakan kegembiraan atau rasa bersyukur ketika seorang presiden memenangkan kembali kursi kepresidenannya untuk yang kedua kali. Mungkin biasanya foto yang dirilis adalah foto sang presiden yang memakai setelan jas hitam dan sedang berpidato, atau foto-foto semacam itu. Namun, foto ini terlihat jauh lebih personal, penuh kasih sayang dan jelas ada kebahagiaan keluarga di situ. Saya kira ini menjadi sebuah foto yang sangat kuat dan staf kampanye pemegang akun @BarackObama ini jelas berhasil melakukan dua hal: (1) memilih kata yang tepat, dan (2) memilih foto yang tepat. Inilah kekuatan yang mungkin tidak dimiliki kandidat penantang. Obama tidak hanya memiliki karisma di dunia nyata, tapi juga karismanya di dunia maya pun tak kalah hebat. Mungkin ada beberapa orang yang tampak berkarisma di dunia maya, tapi ternyata tidak di dunia nyata, dan sebaliknya. Namun, tidak demikian dengan Obama. Ditambah, Obama memiliki tim kampanye yang juga luar biasa hebat. Tentunya sangat diperlukan orang-orang hebat yang berpikiran out of the box untuk bisa meng-handle akun Twitter seseorang yang sedang bertarung memperebutkan kursi presiden.

Di era media sosial yang kerap kali dianggap menjadi media sumber berbagai berita, citra seseorang bisa meroket dan sekaligus jatuh hanya karena kata-kata yang tidak lebih dari 140 karakter. Banyak praktisi-praktis humas yang sedang meng-handle klien-klien yang berasal dari kalangan politisi menerapkan strategi social media campaign demi menarik perhatian serta menambah popularitas kliennya. Namun, tentunya ada strategi tertentu yang harus diterapkan untuk membentuk citra positif bagi si klien. Orang ini tidak bisa menge-tweet sembarang tweet di Twitter atau men-share berbagai konten yang mungkin bisa menjatuhkan citra dan popularitasnya. Terkait tweet dari akun @BarackObama dengan foto yang di atas, tweet itu ternyata mendapat tanggapan yang luar biasa dari para pengguna Twitter di seluruh dunia. Terakhir kali saya melihat, tweet tersebut telah di-retweet sebanyak lebih dari 700.000 kali. Inilah bagaimana seorang tim kampanye bekerja. Mungkin terlihat sederhana, tapi sesungguhnya pekerjaan ini jauh dari mudah. Satu hal yang harus selalu dicamkan adalah bahwa publik sangat dinamis, dan ibarat peribahasa yang mengatakan mulutmu adalah harimaumu, hal serupa pun berlaku untuk Twitter. Twitter dan segala media sosial lainnya menjadi perpanjangan mulut seseorang. Segala hal yang di-tweet oleh seseorang akan menjadi cerminan pribadi orang tersebut. Layaknya pisau, bisa bermanfaat dan sangat powerful bila digunakan dengan bijak, tapi bisa juga membahayakan bila tidak hati-hati digunakan.

Four More Years

Empat tahun lagi untuk menjabat. Kira-kira begitulah maksudnya. Tweet yang dilengkapi dengan foto Obama yang memeluk Michelle tersebut terkesan mengungkapkan kegembiraan dan rasa bersyukur. Seperti yang telah saya tulis di atas, foto tersebut sangat kuat dan penuh makna. Nah, sekarang saya akan membahas mengenai makna foto itu. Biar bagaimanapun, foto itu berbicara, foto itu berkomunikasi. Saya sempat memikirkan beberapa kemungkinan skenario komunikasi dari foto tersebut. Apakah maksud akun @BarackObama memublikasikan tweet "Four more years." dengan foto tersebut? Mungkinkah kita bisa berspekulasi bahwa foto Obama yang berpelukan denga Michelle tersebut merupakan bentuk kesenangan untuk memimpin dunia selama empat tahun lagi? Mungkinkah ada agenda-agenda yang memang telah dirancang oleh AS untuk periode empat tahun mendatang dan akan dieksekusi oleh Obama? Saya rasa, makna "empat tahun lagi" itu bisa bermakna banyak hal. Jika kita mau berpikir cukup posistif, sebut saja kita berpikir bahwa lanjutan dari kata-kata itu adalah: "four more years that we can fix the country," atau "four more years that we can fix the world," atau "four more years that we can change the world," atau mungkin "four more years that we can make this world a better place for the people," dan sebagainya. Akan ada banyak versi tentunya. Oleh karena itu, akan menjadi sangat relevan jika yang dimaksud kata-kata itu adalah (lebih kurang) demikian digabungkan dengan foto yang juga menggambarkan suka cita, kegembiraan bagi sang presiden untuk terus bekerja dan melayani negaranya demi membuat perubahan yang lebih baik.

Namun, tentu kita pun boleh sedikit berspekulasi dan pemikiran-pemikiran yang kurang menyenangkan. Saya rasa ini diperbolehkan mengingat apa yang selama ini pemerintah AS telah perbuat kepada dunia ini. Apakah pemerintah AS telah benar-benar menjadi "pemerintah dunia" sekaligus penjaga keamanan dunia selama ini? Saya rasa tidak begitu. Bukankah banyak perang terjadi di dunia juga tak lepas dari "kontribusi" AS yang selalu ingin ikut campur? Mungkin kalau bahasa anak muda Indonesia masa kini, AS itu suka kepo dengan urusan negara lain. Sebut saja soal nuklir Iran. Bukankah AS sendiri mengembangkan teknologi senjata nuklir? Mengapa mereka merasa paling berhak menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menguasai teknologi tersebut?

Kembali ke soal foto. Mari kita sedikti berprasangka tentang makna foto Obama tersebut. Four more years. Apa maksudnya? Bagaimana jika foto itu menandakan suasana suka cita karena "there are still four more years for us (Obama and the US government) to rule the world and take control of every aspects of the human life in the world." Nah, bagaimana jika ternyata ada pesan seperti itu di balik foto dan tweet itu? Pemikiran seperti itu sah-sah saja. Lagipula, itu bukanlah hal yang tidak mungkin dan tentunya hal itu akan sangat menyeramkan. Itu bisa terjadi dan itulah komunikasi. Media memang selalu bisa menipu kita semua. Segala niat tidak baik terkadang bisa dipoles dan disajikan menjadi sangat menarik oleh media, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kerap kali otak kita sudah dikontrol oleh media. Kita sering kali menganggap apa yang media katakan sebagai suatu kebenaran. Apa yang kita lihat di media sebagai kebenaran. Ini tentu sangat berbahaya, dan percayalah kita semua sudah menjadi bagian dari "santapan" media. Kita tidak lagi "menyantap" media. Media bukanlah lagi saran hiburan bagi manusia. Sebaliknya, manusialah yang telah menjadi santapan media (perusahaan), dan kita cenderung tidak sadar dan tidak mau tahu.

Namun, terlepas dari berbagai prasangka, baik yang positif maupun yang negatif, saya rasa kita tidak seharusnya menaruh harapan yang begitu besar pada AS. Mengapa? Loh, memangnya AS itu pemerintah dunia? Sudah cukup jutaan orang di dunia ini menganggap AS sebagai pemimpin dunia hingga segala hal yang terjadi di AS dianggap sebagai event dunia dan penting. Padahal tidak demikian. AS adalah AS itu sendiri dan negara-negara lain memiliki urusannya masing-masing. Entah si Presiden AS itu pernah tinggal di Indonesia atau tidak (misalnya), tidak perlulah kita terlalu mengelu-elukan dirinya, toh kita bukan pula warga AS, jadi buat apa? Saya pribadi cukup mengidolakan Obama, bukan karena dia pernah jadi anak Menteng tentunya, atau karena Obama pernah berkunjung dan berpidato di kampus sayayang bahkan saya tidak bisa menyaksikannya secara langsung, tapi lebih karena apa dan bagaimana ia berhasil merebut perhatian masyarakat dunia dengan sangat brilliant. Sementara itu, tentang berbagai kebijakannya? Ada pula kebijakannya yang tidak saya sukai, sebut saja soal kebijakan-kebijakan luar negeri AS kepada negara-negara Timur Tengah dan kebijakan Obama yang melegalkan pernikahan sesama jenis di AS. Memang, hukum tersebut tidak berlaku di sini, tapi tetap saja bagi saya kebijakannya itu "menodai" kepemimpinannya. Jadi, ya... saya rasa, kita tidak perlu terlalu menganggap tinggi AS. AS memang negara yang sangat maju hampir di berbagai aspek, tapi bukan berarti kita harus selalu "melihat ke atas" kepada negara ini. Cukuplah kita mengikuti perkembangan apa yang terjadi di dunia ini tanpa perlu terlalu menggantungkan nasib (dan harga diri) bangsa kepada negara lain. Anyway, congratulations Mr. President!