16 November 2012

Kemana Mahasiswa UI Harus Berharap?

Kemana mahasiswa UI harus berharap? Kepada dosen? Kepada dekan atau rektornya? Kepada teman CeEs-annya? Pacarnya? Parter-in-crime? Well, tergantung konteksnya. Namun, dalam konteks kemahasiswaan, setidakpedulinya (atau banyak yang bilang: se-apatis-nya) seorang mahasiswa UI soal pergerakan kemahasiswaan atau politik kampus, mahasiswa UI masih tetap menaruh harapan besar kepada orang-orang yang kerap diberi gelar "lebih cinta pekerjaannya" daripada teman atau keluarganya, orang-orang yang rela pergi tak melihat matahari terbit dan pulang tak melihat matahari terbenamsaking sibuknya, para pemimpin mahasiswa di kampus, para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Terlepas dari banyaknya mahasiswa yang merasa biasa-biasa saja dengan BEM, tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa kehadiran BEM tetap diperlukan dan dirasa penting untuk tetap eksis di dunia mahasiswadan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang berpikir begitu.

Tulisan saya kali ini muncul akibat munculnya isu-isu seputar kemahasiswaan di kampus saya. Duh, padahal saya sudah lulus loh, teman-teman dekat saya di kampus pasti akan bilang, "Masih aje lo mikirin yang begituan," hahaha. Ya, mau bagaimana lagi? Isu-isu seperti ini, yang rada-rada nyerempet politik kampus memang selalu menyenangkan bagi saya. Anyway, selama saya berprofesi sebagai mahasiswa, saya memang dekat dengan dunia BEM. Namun, saya hanya aktif di BEM fakultas, yaitu BEM FISIP UI. Saya sendiri tidak begitu mengikuti perpolitikan BEM UI walaupun sempat beberapa kali pemilihan raya (Pemira) BEM UI menjadi sangat seru di kampus.

Oke, sebelum melangakah lebih jauh, tulisan ini adalah murni pandangan saya sebagai "orang luar" atau sebut saja outsider yang hanya "melihat" BEM UI dari kejauhansaya sudah bukan lagi mahasiswa. Orang-orang bisa setuju, bisa tidak, dan itu sah-sah saja. Yang mau mengkritik pun diperbolehkan, saya pun sudah terbiasa dengan itu dan akan menerima dengan tangan terbuka.

Kita kembali ke topik. Jadi, niatan saya menulis ini dimulai dari isu yang... katanya, denger-denger nih, calon ketua dan wakil ketua BEM UI tahun ini hanya ada satu pasang. Ah masa iya? Kok bisa? Awalnya saya juga tidak percaya karena paling tidak minimal pasti ada dua pasang calon yang mengajukan diri untuk menjadi the next presiden mahasiswa UI. Bahkan pernah pada suatu masa, belum lama ini, sempat ada lebih dari tiga pasangan calon yang mendaftarkan diri sebagai peserta Pemira UI walau yang lulus verifikasi hanya tiga pasang saja, tapi saya kira hal itu tetap membuktikan bahwa "pertarungan" politik di dunia mahasiswa masih menjadi hal penting. Namun, ternyata isu calon pasangan tunggal tersebut memang bukan "katanya", isu tersebut ternyata benar adanya. Padahal, saya sangat yakin jabatan Ketua BEM UI adalah sebuah kebanggaan tersendiri dan dari ribuan kepala mahasiswa UI pasti tidak sedikit yang bermimpi mau menjadi seorang Ketua BEM UI. Oke, itu adalah amanah, saya tahu betul soal itu, tapi saya bukan membahas soal amanah di sini. Saya sangat terkejut bahwa ternyatadan kayaknyamenjadi Ketua BEM UI tidak lagi menjadi mimpi yang cukup populer di kalangan mahasiswa. Ah, itu kan memang anggapan saya, tapi jika kita mau melihat sedikit lebih dalam, kita tentu bisa mempertanyakan: lantas ini salah siapa?

Loh, memang salah kalau seseorang tidak mau menjadi Ketua BEM UI? Memang salah kalau seseorang (atau banyak orang) lebih memilih jadi mahasiswa biasa saja, mahasiswa yang punya kehidupan teratur, bisa hang out dengan teman-temannya kapan pun, tidak perlu pusing memikirkan tingkah para pejabat di DPR sana, tidak perlu terlalu menjaga sikap, dsb.? Oh, tentu tidak. Semua orang punya preferensi masing-masing mengenai "mau jadi apa" dia selama di dunia kampus. Namun, kembali pada soal "nasib bangsa" ini yang tampaknya memang dibebankan kepada para pemuda, maka menjadi hal yang sangat penting ketika universitas (yang diklaim) sebagai universitas terbaik di Indonesia, dan bla bla bla ini semakin kehilangan sosok pemuda yang peduli dengan regenerasi kepemimpinan dan kepemudaan itu sendiri. Dan BEM UI, sebagai suatu wadah yang berisi kumpulan pemuda-pemuda terbaik dari seantero fakultas di UI tentu berkewajiban dan bertanggung jawab untuk meneruskan semangat kepemimpinan pemuda di UI.

Nah, kembali ke soal si calon tunggal. Tentunya, ini adalah fenomena yang sangat mengejutkan. Ya... bagi saya, dan bagi banyak teman-teman mahasiswa UI yang masih peduli dengan dunia perjuangan mahasiswa. Ada apa ini? Kenapa bisa hanya satu pasang calon yang "maju"? Memang sih, akan ada sistem yang mengatur soal pemilihan ini, dalam arti, si calon ini tidak lantas bisa menang mutlak hanya karena tidak ada pesaingnya. Namun, saya kira dari kejadian ini, ada dua hal yang (mungkin) bisa kita tarik sebagai kesimpulan, yaitu (1) tidak ada regenerasi di BEM UIdan itu parah, dan (2) tidak ada usaha meregenerasi kepemimpinan dari BEM UIkalau pun ada, sebut saja usaha itu (selama ini) ternyata: gagal.

Sejujurnya, saya tidak mau terlalu menuduh BEM UI tidak mampu mencetak kader-kader pemimpin baru di kalangan mahasiswawalau rasanya saya tidak bisa menutup mata bahwa bagaimanapun kualitas BEM semakin menurunapalagi karena saya tidak lagi berkecimpung di dunia kampus. Namun, izinkan saya untuk sedikit menyampaikan pendapat.

Sebelum lebih jauh, saya mau sedikit berbagi cerita tentang bagaimana saya melihat BEM UI 2012. BEM UI tahun ini mengusung suatu tema besar mengenai kekuatan bekarya; the power of innovation. BEM UI percaya bahwa untuk berkontribusi kepada negeri yang kita cintai ini diperlukan lebih dari sekedar kata-kata atau orasi di tengah massa, tapi lebih dari: tindakan nyata. Tindakan seperti apa? Apa pun, dan oleh karena itulah kita harus bekarya. Bekarya dan terus bekarya hingga menginspirasi orang lain. Ketika kita menginspirasi orang lain maka diharapkan orang lain pun akan melakukan sesuatu yang menginspirasi orang lain, dan terus begitu. Saya sendiri melihat bahwa BEM UI tahun ini memang membuat suatu gebrakan yang sangat besar. Organisasi ini berisi orang-orang yang sangat kreatif dalam membuat program dan terutama saya sangat menyukai bagaimana mereka mengemas program-program BEM dengan sangat menarik untuk para mahasiswa. Bahkan, saya rasa BEM tahun ini sangat ahli dalam hal penguasaan media dan teknologi, terutama ketika saya melihat beberapa post di halaman Tumblr saya yang berisi screen capture aplikasi Android dalam rangka menyambut salah satu acara mahasiswa UI yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya: Olimpiade UI. Ini sangat luar biasa dan sebagai si outsider tadi, saya acungkan dua jempol untuk kreativitas BEM UI tahun ini.

Namun, terlepas dari inovasi-inovasi baru itu, tampaknya ada satu lubang besar yang terlihat menjelang Pemira tahun ini, yaitu regenerasi (dan kaderisasi). Saya pun baru tahu bahwa ternyata pasangan calon yang akan berjuang mendapatkan kursi kepemimpinan mahasiswa di UI bukanlah berasal dari BEM UI. Sang calon ketua berasal dari FH, sedangkan sang calon wakil ketua berasal dari FKM. Loh, memang ada yang salah dengan itu? Tentunya tidak ada. Tidak ada yang salah, minimal jika ada lebih dari sepasang calon yang maju dalam perebutan "hati" mahasiswa UI ini. Nah, hanya saja, saya kira pasti akan muncul tanda tanya besar di banyak pikiran mahasiswa UI, kok bisa? Kok bisa cuma satu pasang yang maju? Dan bahkan, tidak ada kandidat dari internal BEM UI sendiri yang mencalonkan diri untuk menjadi ketua dan wakil ketua BEM UI 2013. Biasanya, pihak BEMbaik di tingkat UI maupun fakultasselalu mempunyai semacam ego, bahwa siapa pun penerus kepengurusan BEM selanjutnya, paling tidak orang tersebut harus berasal dari internal BEM, bukan dari luar. Atau paling minimal, ada orang-orang dari internal BEM UI yang ikut "bertarung" dalam Pemira UI. Ini tampaknya sudah menjadi rahasia umum bahwa tiap golongan yang berkuasa menginginkan keeksistensian golongannya terjaga, ah rasa-rasanya di mana-mana juga begitu. Namun, dengan hanya adanya satu pasang calon yang maju di Pemira UI tahun ini tentu menjadi pertanyaan besar: emang (ketua) BEM-nya ngapain sih? Masa dari BEM sendiri sampai enggak ada yang maju?

Bagi saya pribadi, tidak adanya kandidat yang maju dari internal BEM UI sendiri menandakan bahwa tidak adanya proses regenerasi dan kaderisasi di tubuh organisasi ini. Padahal, tiap tahunnya BEM UI selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa UI (khususnya mahasiswa baru). Lantas, akan menjadi sangat lucu jika organisasi yang berusaha bekarya demi menginspirasi banyak orang, tapi ternyata tidak mampu menginspirasi pengurus di internal organisasi untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di BEM. Terlepas dari si calon ketua yang maju kali ini pernah mengenyam "pendidikan" di BEM UI pada kepengurusan sebelumnya, tapi hal ini seharusnya menjadi momok bagi pengurus BEM UI 2012. Dan ditambah lagi, pasangan calon tunggal ini diketahui berasal dari satu golongan (sebut saja: tarbiyah) yang tampaknya punya banyak kesan tersendiri di mata mahasiswa UI (dan mahasiswa Indonesia pada umumnya), ah itu kan satu lagi rahasia umum di kalangan mahasiswa.

Jadi, kemana mahasiswa UI harus berharap jika tidak ada lagi yang mahasiswa yang mau maju mencalonkan diri sebagai calon ketua dan wakil ketua BEM UI? Sederhananya, yah, enggak ada pilihan lain dong ya? Tentunya partisipasi politik mahasiswa UI akan semakin rendah. Kok saya bisa bilang begitu? Itu prediksi saya saja. Kemungkinan mayoritas pemilih pasti hanya akan berasal dari golongan tertentu dan jika sampai akhirnya si pasangan tunggal itu memang terpilih, ya... mari kita berbaik sangka, berpikir positif tentang nasib BEM UI ke depannyaanyway, toh ini bukan pertama kali suatu golongan tertentu memimpin kursi BEM UI. Namun, tentu yang sangat disayangkan adalah mengapa tidak ada calon lain? Saya kira, para mahasiswa tetap membutuhkan alternatif, tentu tidak seperti calon pilpres alternatif a.k.a. Rhoma Irama. Periode satu tahun kepengurusan sebenarnya cukup untuk menyiapkan kader-kader yang siap memimpin UI. Sayangnya, kader-kader ini pun bahkan tidak muncul dari internal BEM UI. Mungkin ini seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi internal BEM UI untuk memperbaiki sistem kaderisasi internalnya sehingga sebelum menginspirasi banyak orang berbuat lebih, mungkin ada baiknya untuk menginspirasi di internal pengurus bahwa "our job has not finished yet; it is your time to continue what we have built so far." Ah, ya sudahlah, ini sedikit pendapat sok tahu saya saja di tengah waktu kerja yang kebetulan sedang lengang. Semoga apa pun hasilnya, terkait Pemira UI ini, tetap membawa kebaikan bagi mahasiswa UI, UI, dan Indonesia; tentunya itu adalah harapan hampir semua orang. Satu hal lagi, semoga beberapa pendapat saya soal BEM UI itu salah.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.