08 November 2012

Obama: Four More Years

Presiden Barack Obama untuk kedua kalinya terpilih menjabat sebagai presiden Amerika Serikat setelah berhasil mengantongi 303 electoral votes. Obama sebenarnya hanya perlu mendapatkan 270 electoral votes untuk mengamankan kursi kepresidenannya dari sang penantang, Mitt Romney. Walaupun tampaknya pemilihan presiden AS kali ini kurang greget atau banyak yang mengatakan tidak sepanas dan menarik seperti pada tahun 2008 yang mempertemukan antara Obama dan McCain, tapi tidak disangka justru persaingan ketat dalam perebutan suara sangat terasa ketika perhitungan hasil pemilihan. Bahkan Obama dan Romney sempat mengumpulkan suara berimbang, yaitu masing-masing 162 suara pada electoral votes. Dunia pun tampaknya cukup antusias menyambut hasil pemilihan tersebut. Dikabarkan pula ada banyak spekulasi mengenai keadaan pasar AS yang akan membaik pascapemilihan ini. Tampaknya memang segala hal yang terjadi di AS akan selalu menjadi pusat perhatian dunia. Hal ini membuat saya berpikir bahwa AS kelihatannya memang telah dianggap menjadi "ibukota" dunia, sementara negara-negara besar lain adalah layaknya provinsi-provinsi besar lain, dan sementara Indonesia mungkin hanya seperti layaknya desa pinggiran di salah satu pelosok dunia.

Ah, biarlah. Lagipula saya sedang tidak begitu ingin membahas soal eksistensi Indonesia di mata AS. Saya kali ini sangat tertarik dengan strategi kampanye yang Obama lakukan untuk kembali memenangkan hati rakyat AS atau bahkan soal Obama yang sangat popular di Indonesia karena sempat menjadi "anak Menteng". Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa starategi kampanye Obama yang menggunakan metode baru, khususnya dengan bantuan social media, berhasil menarik tidak hanya perhatian masyarakat AS, tetapi juga masyarakat dunia. Popularitas Obama pun meroket ketika pada tahun 2008 ia mengintegrasikan kampanyenya dengan media-media sosial yang dekat dengan anak anak muda, seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Dia berhasil "menanamkan" visi perubahan (change) dan motto Yes We Can-nya dengan baik ke masyarakat AS. Lagi-lagi ada peran pemuda di sini. Ah, saya jadi ingat dengan bagaimana dukungan anak-anak muda pada pasangan Jokowi-Ahok sangat berpengaruh besar di Pilkada DKI kemarin. Anyway, kita kembali ke topik. Saya melihat, Obama ditambah media anak muda, yaitu social media, ditambah visi perubahan (baik dari sisi personal si Obama dan sisi lainnya) ditambah motto atau tagline yang ciamik, akhirnya mampu membawa Obama pada kursi kepresidenan. Saya rasa komposisi formula ini pula yang tetap membuat Obama terpilih untuk kedua kalinya pada pemilihan presiden November 2012 ini.

Nah, ada satu foto menarik yang saya dapat dari akun resmi Twitter Obama sesaat setelah ia telah dipastikan memenangkan pemilihan. Memang, tidak semua tweet yang keluar dari akun tersebut adalah berasal dari Obama langsung. Di deskripsi/bio akun tersebut tertulis bahwa akun tersebut (@BarackObama) dijalankan oleh staf kampanye #Obama2012, sedangkan tweet yang ditulis langsung oleh Obama akan diberi tanda "-bo" di setiap akhir tweet-nya. Sebagai contoh, setelah dipastikan memenangkan suara kemarin, Obama menge-tweet, "We're all in this together. That's how we campaigned, and that's who we are. Thank you. -bo." Itu berarti tweet tersebut ditulis oleh Obama langsung, sedangkan tweet setelahnya yang hanya berisi: "Thank you" ditulis oleh staf kampanyenya.

Oke, kembali ke masalah foto menarik yang saya singgung sebelumnya. Berselang beberapa tweets setelah yang di-tweet oleh Obama sendiri, akun @BarackObama mengeluarkan tweet: "Four more years." dengan lampiran foto Obama yang sedang memeluk istrinya, Michelle. Spontan, saya langsung berpikir bahwa: THIS! Ini foto yang luar biasa. Foto tersebut benar-benar berbicara dan menyampaikan suatu pesan yang luar biasa. Saya rasa, foto semacam itu bukanlah foto yang lazim dikeluarkan untuk menyatakan kegembiraan atau rasa bersyukur ketika seorang presiden memenangkan kembali kursi kepresidenannya untuk yang kedua kali. Mungkin biasanya foto yang dirilis adalah foto sang presiden yang memakai setelan jas hitam dan sedang berpidato, atau foto-foto semacam itu. Namun, foto ini terlihat jauh lebih personal, penuh kasih sayang dan jelas ada kebahagiaan keluarga di situ. Saya kira ini menjadi sebuah foto yang sangat kuat dan staf kampanye pemegang akun @BarackObama ini jelas berhasil melakukan dua hal: (1) memilih kata yang tepat, dan (2) memilih foto yang tepat. Inilah kekuatan yang mungkin tidak dimiliki kandidat penantang. Obama tidak hanya memiliki karisma di dunia nyata, tapi juga karismanya di dunia maya pun tak kalah hebat. Mungkin ada beberapa orang yang tampak berkarisma di dunia maya, tapi ternyata tidak di dunia nyata, dan sebaliknya. Namun, tidak demikian dengan Obama. Ditambah, Obama memiliki tim kampanye yang juga luar biasa hebat. Tentunya sangat diperlukan orang-orang hebat yang berpikiran out of the box untuk bisa meng-handle akun Twitter seseorang yang sedang bertarung memperebutkan kursi presiden.

Di era media sosial yang kerap kali dianggap menjadi media sumber berbagai berita, citra seseorang bisa meroket dan sekaligus jatuh hanya karena kata-kata yang tidak lebih dari 140 karakter. Banyak praktisi-praktis humas yang sedang meng-handle klien-klien yang berasal dari kalangan politisi menerapkan strategi social media campaign demi menarik perhatian serta menambah popularitas kliennya. Namun, tentunya ada strategi tertentu yang harus diterapkan untuk membentuk citra positif bagi si klien. Orang ini tidak bisa menge-tweet sembarang tweet di Twitter atau men-share berbagai konten yang mungkin bisa menjatuhkan citra dan popularitasnya. Terkait tweet dari akun @BarackObama dengan foto yang di atas, tweet itu ternyata mendapat tanggapan yang luar biasa dari para pengguna Twitter di seluruh dunia. Terakhir kali saya melihat, tweet tersebut telah di-retweet sebanyak lebih dari 700.000 kali. Inilah bagaimana seorang tim kampanye bekerja. Mungkin terlihat sederhana, tapi sesungguhnya pekerjaan ini jauh dari mudah. Satu hal yang harus selalu dicamkan adalah bahwa publik sangat dinamis, dan ibarat peribahasa yang mengatakan mulutmu adalah harimaumu, hal serupa pun berlaku untuk Twitter. Twitter dan segala media sosial lainnya menjadi perpanjangan mulut seseorang. Segala hal yang di-tweet oleh seseorang akan menjadi cerminan pribadi orang tersebut. Layaknya pisau, bisa bermanfaat dan sangat powerful bila digunakan dengan bijak, tapi bisa juga membahayakan bila tidak hati-hati digunakan.

Four More Years

Empat tahun lagi untuk menjabat. Kira-kira begitulah maksudnya. Tweet yang dilengkapi dengan foto Obama yang memeluk Michelle tersebut terkesan mengungkapkan kegembiraan dan rasa bersyukur. Seperti yang telah saya tulis di atas, foto tersebut sangat kuat dan penuh makna. Nah, sekarang saya akan membahas mengenai makna foto itu. Biar bagaimanapun, foto itu berbicara, foto itu berkomunikasi. Saya sempat memikirkan beberapa kemungkinan skenario komunikasi dari foto tersebut. Apakah maksud akun @BarackObama memublikasikan tweet "Four more years." dengan foto tersebut? Mungkinkah kita bisa berspekulasi bahwa foto Obama yang berpelukan denga Michelle tersebut merupakan bentuk kesenangan untuk memimpin dunia selama empat tahun lagi? Mungkinkah ada agenda-agenda yang memang telah dirancang oleh AS untuk periode empat tahun mendatang dan akan dieksekusi oleh Obama? Saya rasa, makna "empat tahun lagi" itu bisa bermakna banyak hal. Jika kita mau berpikir cukup posistif, sebut saja kita berpikir bahwa lanjutan dari kata-kata itu adalah: "four more years that we can fix the country," atau "four more years that we can fix the world," atau "four more years that we can change the world," atau mungkin "four more years that we can make this world a better place for the people," dan sebagainya. Akan ada banyak versi tentunya. Oleh karena itu, akan menjadi sangat relevan jika yang dimaksud kata-kata itu adalah (lebih kurang) demikian digabungkan dengan foto yang juga menggambarkan suka cita, kegembiraan bagi sang presiden untuk terus bekerja dan melayani negaranya demi membuat perubahan yang lebih baik.

Namun, tentu kita pun boleh sedikit berspekulasi dan pemikiran-pemikiran yang kurang menyenangkan. Saya rasa ini diperbolehkan mengingat apa yang selama ini pemerintah AS telah perbuat kepada dunia ini. Apakah pemerintah AS telah benar-benar menjadi "pemerintah dunia" sekaligus penjaga keamanan dunia selama ini? Saya rasa tidak begitu. Bukankah banyak perang terjadi di dunia juga tak lepas dari "kontribusi" AS yang selalu ingin ikut campur? Mungkin kalau bahasa anak muda Indonesia masa kini, AS itu suka kepo dengan urusan negara lain. Sebut saja soal nuklir Iran. Bukankah AS sendiri mengembangkan teknologi senjata nuklir? Mengapa mereka merasa paling berhak menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menguasai teknologi tersebut?

Kembali ke soal foto. Mari kita sedikti berprasangka tentang makna foto Obama tersebut. Four more years. Apa maksudnya? Bagaimana jika foto itu menandakan suasana suka cita karena "there are still four more years for us (Obama and the US government) to rule the world and take control of every aspects of the human life in the world." Nah, bagaimana jika ternyata ada pesan seperti itu di balik foto dan tweet itu? Pemikiran seperti itu sah-sah saja. Lagipula, itu bukanlah hal yang tidak mungkin dan tentunya hal itu akan sangat menyeramkan. Itu bisa terjadi dan itulah komunikasi. Media memang selalu bisa menipu kita semua. Segala niat tidak baik terkadang bisa dipoles dan disajikan menjadi sangat menarik oleh media, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kerap kali otak kita sudah dikontrol oleh media. Kita sering kali menganggap apa yang media katakan sebagai suatu kebenaran. Apa yang kita lihat di media sebagai kebenaran. Ini tentu sangat berbahaya, dan percayalah kita semua sudah menjadi bagian dari "santapan" media. Kita tidak lagi "menyantap" media. Media bukanlah lagi saran hiburan bagi manusia. Sebaliknya, manusialah yang telah menjadi santapan media (perusahaan), dan kita cenderung tidak sadar dan tidak mau tahu.

Namun, terlepas dari berbagai prasangka, baik yang positif maupun yang negatif, saya rasa kita tidak seharusnya menaruh harapan yang begitu besar pada AS. Mengapa? Loh, memangnya AS itu pemerintah dunia? Sudah cukup jutaan orang di dunia ini menganggap AS sebagai pemimpin dunia hingga segala hal yang terjadi di AS dianggap sebagai event dunia dan penting. Padahal tidak demikian. AS adalah AS itu sendiri dan negara-negara lain memiliki urusannya masing-masing. Entah si Presiden AS itu pernah tinggal di Indonesia atau tidak (misalnya), tidak perlulah kita terlalu mengelu-elukan dirinya, toh kita bukan pula warga AS, jadi buat apa? Saya pribadi cukup mengidolakan Obama, bukan karena dia pernah jadi anak Menteng tentunya, atau karena Obama pernah berkunjung dan berpidato di kampus sayayang bahkan saya tidak bisa menyaksikannya secara langsung, tapi lebih karena apa dan bagaimana ia berhasil merebut perhatian masyarakat dunia dengan sangat brilliant. Sementara itu, tentang berbagai kebijakannya? Ada pula kebijakannya yang tidak saya sukai, sebut saja soal kebijakan-kebijakan luar negeri AS kepada negara-negara Timur Tengah dan kebijakan Obama yang melegalkan pernikahan sesama jenis di AS. Memang, hukum tersebut tidak berlaku di sini, tapi tetap saja bagi saya kebijakannya itu "menodai" kepemimpinannya. Jadi, ya... saya rasa, kita tidak perlu terlalu menganggap tinggi AS. AS memang negara yang sangat maju hampir di berbagai aspek, tapi bukan berarti kita harus selalu "melihat ke atas" kepada negara ini. Cukuplah kita mengikuti perkembangan apa yang terjadi di dunia ini tanpa perlu terlalu menggantungkan nasib (dan harga diri) bangsa kepada negara lain. Anyway, congratulations Mr. President!


0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.