Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

22 Oktober 2012

Untukmu Anak Indonesia

Iya, artinya KAMU, diri kamu, yang sedang membaca tulisan ini. Memangnya siapa lagi? Negara ini membutuhkan kamu, bukan orang lain, tapi K-A-M-U. Tolong! Tolong! Tolong! Negeri ini sedang sakit parah! Korupsi merajalela, ah itu basi! Kemiskinan di mana-mana, ah itu berita lama! Ketidakadilan menjadi "hukum" di negeri, ah itu juga berita kuno! Apa lagi? Kemacetan? Demonstrasi yang berujung anarkis? Banjir? Pencitraan para politisi? Debat kusir pejabat di televisi? Perkelahian antarperlajar? Ah, semua itu cerita lama. Kamu mau protes? Siapa yang mau dengar? Orang-orang yang sependapat dengan kamu? Lantas, apa yang mereka lakukan? Mengapa harus menunggu orang lain mendengarkan keluh kesahmu dan melakukan sesuatu hal yang kamu anggap penting dilakukan? Mengapa tidak kamu lakukan apa yang kamu rasa tepat dan harus dilakukan?

Kenapa? Oh, kamu masih seorang pelajar? Anak SMP? SMA atau mahasiswa? Oh, kamu orang biasa saja? Terus kenapa? Memangnya ada yang peduli dengan status kamu? Oh, orang-orang di luar sana mungkin iya. Mungkin banyak yang akan memandang sebelah mata "siapa" kamu, latar belakang kamu, status sosial kamu, tapi, memang sang Ibu Pertiwi peduli? Ya, kamu harus jadi orang pintar, itu adalah kunci kesuksesan dan itu tidak bisa ditawar, tapi kalau kamu mau berkontribusi untuk negeri ini sampai kamu pintar dulu, kapan selamatnya negeri ini? Kapan kamu bisa dengan lantang dan mantap mengatakan bahwa kamu sudah siap dan sangat pintar untuk "menyelamatkan" negeri ini? Jangan-jangan, saat kamu merasa sudah siap, negeri ini sudah "mati". Kenapa? Karena kamu tidak akan pernah puas dengan apa yang kamu capai. Ketika kamu mencapai sesuatu, adalah sifat manusia untuk tidak pernah puas dan berhenti pada satu titik itu. Jika kamu menunggu dan terus menunggu "waktu yang tepat", kamu tidak akan pernah mendapatkan waktu yang tepat itu. Jadi, sekaranglah saatnya! Tidak peduli apa latar belakang kamu, memangnya Ibu Pertiwi peduli dengan latar belakang kamu? Tidak! Selama kamu punya niat tulus dan semangat untuk membangun negeri ini, jangan pernah menunggu hingga kamu siap. Karena mungkin saat kamu merasa siap, hal yang ingin kamu ubah tak lagi siap diubah. Ketika kamu sadar bahwa saatnya telah tiba bagimu untuk menjadi agen perubahan, mungkin kamu tinggal seorang diri.

Tidak percaya? Salah satu media memberitakan bahwa ada begitu banyak orang pintar di Indonesia. Dan salah satu fenomena yang menonjol itu adalah semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri. Namun, ironisnya, orang-orang ini memilih tinggal dan bekerja di luar negeri. Mereka adalah doktor-doktor terbaik lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT, dan lain-lain. Umumnya mereka bergelut di bidang ilmu eksakta dan engineering seperti teknik, fisika, matematika komputer, dan sejenisnya.

Dikatakan pula bahwa pada tahun 2007 saja ada sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri yang memilih bekerja di Malaysia, tiga orang bekerja di Brunei, dan sekitar lima orang di Singapura. Setiap tahun Depdinkas dibanjiri permintaan para doktor yang sudah selesai ikatan dinas untuk diizinkan bekerja di luar negeri. Padahal untuk “mencetak” seorang doktor di perguruan tinggi bergengsi di luar negeri, biaya yang dibutuhkan lebih dari $30 ribu per tahun!

Nah, lihat kan? Indonesia terancam kehilangan generasi cerdas dan brilian! Sebagian besar anak-anak cerdas peraih penghargaan olimpiade sains internasional bahkan memilih menerima tawaran belajar dari berbagai universitas di luar negeri, terutama Singapura. Ya, jujur saja, siapa yang tidak mau? Kamu juga pasti mau kan?

Pemerintah Indonesia kerap hanya memberikan fasilitas masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes bagi siswa-siswi peraih penghargaan. Siswa-siswi yang bersangkutan pun dijanjikan akan diberikan beasiswa. Sementara itu, Singapura lebih agresif dengan memburu siswa-siswa brilian ke sejumlah sekolah di Indonesia lewat agen yang tersebar di sejumlah kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Siswa-siswa brilian itu dijanjikan fasilitas yang menggiurkan. Selain beasiswa, siswa cerdas juga ditawari subsidi biaya kuliah (tuition grant) dari Pemerintah Singapura sebesar 15.000 dollar Singapura (sekitar Rp 112,5 juta per tahun), atau pinjaman bank tanpa agunan untuk biaya kuliah. Jika siswa mengambil pinjaman bank, cicilan pinjamannya dibayar setelah mereka bekerja.

Sekitar 250-300 siswa cerdas Indonesia setiap tahun pergi ke Singapura untuk kuliah di perguruan tinggi seperti Nanyang Technological University (NTU), National University of Singapore (NUS), dan Singapore Management University. Dari total pelajar dan mahasiswa Indonesia di Singapura sebanyak 18.341 orang, sekitar 5.448 orang di antaranya sedang mengambil S1, S2, dan S3 di berbagai program studi. Singapura menargetkan merekrut 150.000 mahasiswa asing hingga tahun 2015.

Iya, pemerintah negeri ini memang terlalu bodoh, tidak ada pintar-pintarnya sama sekali dan kita semua tahu itu. Harus ada kebijakan terobosan untuk mempertahankan siswa-siswa cerdas dan brilian tetap menjadi aset Indonesia. Mereka memang perlu mengembangkan ilmu ke berbagai universitas terkemuka di dunia, tapi harus diciptakan kondisi yang mendukung agar mereka bergairah kembali ke Tanah Air untuk mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Lalu kita harus apa? Kita mau bilang pemerintah idiot sekalipun tidak akan mengubah keadaan. Adalah tugas KAMU memperbaiki ini semua! Mungkin kamu berpikir, loh, kenapa bukan saya? Sama saja, saya adalah kamu yang sedang membaca ini. Apa bedanya? Hanya perbedaan sudut pandang. Sekarang, saya sedang berbicara kepada kamu.

Sekarang, bayangkan jika semua orang pintar "kabur" dari Indonesia, apa yang tersisa dari negeri ini? Hanya orang-orang bodoh yang memimpin orang-orang yang lebih bodoh. Tidakkah kamu ingat bahwa negeri ini diperjuangkan dengan tetes darah dan keringat orang-orang cerdas? Orang-orang cerdas, para pendiri negara ini, juga mengenyam pendidikan di luar negeri. Kita tentu tidak menutup mata bahwa pendidikan di luar negeri memang jauh lebih baik dan tidak ada yang salah dengan menuntut ilmu ke sana. Bukankah dalam menuntut ilmu tidak boleh terbatas ruang dan waktu? Dan tidak ada yang salah juga jika kita memikirkan soal "kesejahteraan" yang merupakan buah dari kerja keras kita menuntut ilmu selama ini; sah-sah saja. Namun, kita tidak boleh lupa asal-usul kita. Sedikit ilmu kita akan membawa perubahan pada negeri ini. Dan itulah tugas kamu, membagikan ilmu yang kamu punya. Itu saja? Tidak, itu saja tidak cukup. Kamu harus membangun sistem. Sistem yang kamu buat harus dijalankan dengan konsisten dan terus dikembangkan. Kumpulkan pula orang-orang yang kamu anggap potensial untuk ikut menjalankan sistem ini. Orang-orang itu biasa siapa saja, yang penting kamu dan orang-orang ini sepakat bahwa tidak ada kata nanti untuk membuat perubahan; harus sekarang juga!

Sekarang, ingatlah terus kata-kata ini: Negaramu Membutuhkan Kamu. Iya, kamu! Ingatlah terus kata-kata itu. Mungkin suatu saat nanti kamu merasa jengah dengan segala kebusukan dan kemunafikan negara ini. Mungkin kamu mau tinggal di negara lain, kamu mau jadi warga negara lain. Itu sepenuhnya hak kamu dan tidak ada yang melarangnya. Namun, semoga... Ya, semoga masih ada sedikit, bahkan jika itu hanya secuil perasaan dan kesadaran bahwa biar bagaimanapun juga, negara yang kamu lihat sudah bobrok ini butuh kamu. Jika masih ada sedikit cinta di hati kamu untuk negara ini, bangkitlah. Sesungguhnya negara ini merindukan genarasi-genarasi yang benar-benar peduli dengan negaranya. Negara ini merindukan orang-orang jujur dan tulus. Jika semua orang berpikir bahwa "itu bukan saya", lalu siapa? Jika kamu juga berpikir bahwa kamu tidak mampu, lalu siapa yang mampu? Kamu, cuma kamu yang bisa.

Tanamkan dalam diri kamu bahwa cuma kamu yang bisa. Kamulah yang akan mengubah negeri ini. Lakukan apa yang bisa kamu perbuat untuk negeri ini, jangan tunggu orang lain melakukannya. Jangan pernah menunggu hingga kamu merasa siap karena ketika nanti kamu merasa sudah siap, negara ini mungkin sudah tidak bisa lagi menerima perubahan. Jangan pernah lupa siapa kamu, kamu adalah anak bangsa. Kamu anak Indonesia. Negaramu membutuhkan kamu.

18 Oktober 2012

Balada BlackBerry di Indonesia

Saya bingung deh sama orang-orang Indonesia yang terkesan suka "mendewakan" BlackBerry (BB). Apa-apa BB, dan kalau tidak ada BB kesannya akan kiamat. Oke, dulu (sebelum era BB), orang-orang banyak yang berpikir bahwa hidup sehari tanpa handphone akan sangat membosankan—semacam kiamat kecil. Namun, sekarang trennya bergeser pada brand tertentu, yaitu BB. Bahkan saking banyaknya pengguna BB di negeri ini, BB jadi terkesan bukan lagi sebagai barang mewah. Ibaratnya, semua orang bisa punya BB, dari tukang ojek sampai pejabat. Ketika terjadi gangguan jaringan BB di Asia Pasifik beberapa minggu lalu, saya membaca—di salah satu media massa online—bahwa orang-orang Indonesialah yang paling "resah" dengan gangguan ini karena tidak bisa BBM-an. Parahnya lagi, kinerja di kantor pun bisa terganggu akibat sinyal BB yang bermasalah—meeting dan komunikasi lainnya ikut bermasalah. Di Twitter pun beredar beragam tweet dan hashtag soal kacaunya jaringan sinyal BB pada saat itu. Tidak sedikit pula yang menobatkan hari itu sebagai "Hari Pending Sedunia". Yes, it happened in Indonesia.

Sejujurnya, saya sendiri suka emosi dengan pengguna BB karena banyak yang justru membatasi kemudahan berkomunikasi itu sendiri. Padahal BB ini termasuk dalam kategori smartphone atau ponsel cerdas yang fiturnya tidak sebatas BBM (dan social media lainnya). Lantas, mengapa penggunanya tidak bisa "secerdas" ponselnya untuk menggunakannya dengan bijak? Gadget yang mereka miliki bukannya mempermudah proses komukasi, justru semakin mempersulit karena mayoritas pengguna BB sudah terlanjur nyaman dengan fasilitas BBM sampai melupakan faslitas SMS yang ibaratnya "lebih membumi" dan jelas-jelas ada di semua telepon genggam.

Padahal, tidak semua pemilik telepon genggam di negeri ini menggunakan BB kan? Bahkan di negara tempat BB ini sempat booming karena presidennya menggunakan BB, kini muncul anggapan bahwa memiliki BB adalah sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Sementara itu, hal serupa tampaknya tidak berlaku di Indonesia.  Di sinilah pasar BB masih cukup bertahan walaupun saya cukup yakin BB di Indonesia pasti sudah merasa "tidak tenang" dengan ketatnya persaingan smartphones di negara penggila gadget ini.
Research in Motion (RIM) may still be successful selling BlackBerrys in countries like India and Indonesia, but in the United States the company is clinging to less than 5 percent of the smartphone market—down from a dominating 50 percent just three years ago.—The New York Post
Soal fenomena di Indonesia ini, saya melihatnya sebagai "penyakit latah" orang Indonesia yang memang sering terjadi. Akibat dari kegemaran BBM-an yang berujung pada pembatasan komunikasi hanya pada sesama pengguna BB, tidak jarang proses komunikasi pun terhambat. Tidak sedikit pengguna BB yang hanya membeli paket BBM sehingga tidak bisa membalas SMS (apalagi menelepon). Bahkan, tidak sedikit pula pengguna BB yang tidak memiliki nomor telepon orang-orang yang ada di kontaknya. Rata-rata mereka hanya memiliki pin BB-nya saja. Saya sering mengalami hal ketika saya menanyakan nomor telepon seseorang kepada orang-orang yang kebetulan menggunakan BB, sering kali jawaban yang saya dapat adalah orang-orang yang saya tanyakan ini hanya memiliki pin BB orang yang bersangkutan tanpa memiliki nomor telepon selularnya.

Di sini saya jadi bingung, sebenarnya manakah data yang sifatnya lebih privat? Apakah pin BB atau nomor telepon? Dulu, pada awal mulanya BB masih dianggap sebagai barang mewah sehingga pin BB pun kerap dianggap sebagai suatu hal yang privat atau personal. Artinya, tidak semua orang bisa dan boleh tahu pin BB seseorang. Namun, kini, trennya adalah banyak orang yang justru memublikasikan pin BB-nya di status Facebook atau tweet di Twitter dengan harapan pengguna BB lain bisa meng-add dirinya. Sementara itu, nomor telepon kini tampaknya menjadi lebih privat atau personal. Lucunya, pengguna BB yang justru harus mengeluarkan kocek lebih besar untuk bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitasnya malah kerap tidak punya pulsa reguler untuk fasilitas telepon standar: telepon dan kirim SMS. Kadang, saya suka gregetan juga dengan tingkah orang yang sedang dalam keadaan sangat mendesak untuk menghubungi sesorang yang keduanya adalah pengguna BB, tapi salah satu pihak sulit dihubungi. Nah, biasanya komunikasi yang terjadi seperti ini:

A: Duh mana sih si B? Ngga bisa dihubungin dari tadi, di-BBM cuma di-read doang!
C: Ya udah ditelepon aja gimana?
A: Gue ngga punya nomornya nih! Duh! (dan stress sendiri)

Atau kemungkinan percakapan lain yang terjadi:

A: Duh mana sih si B? Ngga bisa dihubungin dari tadi, pending terus!
C: Ya udah di-SMS atau ditelepon aja gimana?
A: Gue ngga punya pulsa nih, cuma langganan paket buat BBM aja! (dan stress sendiri)

See, jadi pusing sendiri kan? Kenapa orang-orang bisa jadi segitu bergantungnya dengan BB sampai banyak yang tidak lagi butuh nomor telepon? Padahal, biar bagaimanapun BB itu adalah telepon yang fungsi utamanya ya... untuk menelepon. Fitur lain, seperti BBM adalah bagian dari inovasi teknologi yang tidak seharusnya membatasi kemonukasi itu sendiri. But, it happend in Indonesia. Selain itu, fenomena BB membuat banyak pengguna BB kerap berganti nomor (biasanya ke kartu Merah) sehingga—kalau dari sisi penyedia jasa layanan komunikasi—masyarakat tidak lagi loyal pada satu brand tertentu. Sementara dari sisi pengguna, masyarakat jadi sering bergonta-ganti nomor dan hal ini tentu menyulitkan proses komunikasi itu sendiri. Sering kali saya harus meng-update nomor teman-teman saya di kontak handphone saya. Kita tentunya tidak menghubungi seluruh nama di kontak ponsel kita secara rutin kan? Mungkin ada yang seminggu sekali, sebulan sekali, atau mungkin ada juga yang setahun sekali (saat mengucapkan selamat Lebaran misalnya). Untuk nomor-nomor yang hampir hanya setahun sekali kita hubungi, tingkat kepercayaan saya pada orang-orang ini cukup rendah karena ada kemungkinan nomor mereka sudah berganti—kecuali orang-orang yang lebih tua atau nomor-nomornya adalah "nomor tua" (10—11 digit).

Oke, sekarang saya mau bahas sedikit dari sisi akademisnya. Arnold Pacey dalam tulisannya di The Culture of Technology mengatakan bahwa teknologi itu netral; teknologi itu independen. Artinya, teknologi mampu berdiri sendiri dan dapat menyesuaikan dengan budaya yang berkembang baik dalam diri individu maupun suatu masyarakat. Namun, itu semua tetap tidak berarti bahwa kehadiran suatu teknologi tertentu dapat langsung diterima begitu saja dalam kehidupan masyarakat.

Berbicara mengenai teknologi, tentu tidak terlepas dari makna atau definisi teknologi itu sendiri. Pacey menjelaskan teknologi dalam suatu diagram definisi dan praktik teknologi, yaitu terdapat tiga aspek utama yang membentuknya: aspek budaya, aspek organisasional, dan aspek teknis. Yang menarik dari ketiga aspek tersebut adalah bahwa aspek-aspek tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Orang-orang yang berpikir organis atau politis akan berpendapat bahwa aspek organisasional yang paling penting karena hal itu menyangkut kepentingan umum, kepentingan publik, dan hal-hal yang admistratif. Sementara itu ada juga yang mengidentifikasikan dan mengaitkan teknologi dengan aspek teknis. Mereka berpendapat bahwa teknologi muncul karena adanya pemikiran manusia mengenai mesin, teknik, dan ketrampilan lainnya. Ketika teknologi dipandang hanya dari sisi teknis saja maka nilai-nilai budaya dan faktor organisasi dianggap sebagai bagian eksternal saja. Aspek lainnya, yaitu aspek budaya yang fokus pada keyakinan bahwa teknologi ada dan diciptakan bukan untuk menghilangkan suatu budaya melainkan untuk mengembangkan budaya tersebut.

Teknologi hadir sebagai perpanjangan tangan manusia. Ini yang perlu digarisbawahi. Seorang tokoh, Thomas Lewis, mengemukakan suatu konsep yang disebut halfway technology, yaitu teknologi yang hadir sebagai suatu pemecahan atau solusi terhadap permasalahan, tapi belum sepenuhnya dikuasai oleh manusia sehingga sangat dibutuhkan riset lebih lanjut. Thomas pernah memimpin suatu riset medis mengenai penggunaan antibiotik dan imunisasi dalam melawan virus. Teknik yang digunakan sangat efektif dan biayanya relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Teknologi antibiotik dan imunisasi inilah yang dapat dikatakan sebagai teknologi tinggi. Di sisi lain, proses transpalantasi dan pengobatan kanker sangat mahal dan masih menggunakan teknologi sederhana. Inilah yang disebut sebagai halfway technology. Transplantasi adalah suatu solusi yang dapat ditawarkan dalam dunia medis, tapi pada praktiknya masih diperlukan banyak riset agar terhindar dari kemungkinan efek negatif dari dilakukannya suatu proses transplantasi.

Teknologi dari masa lalu hingga kini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin menuju era peradaban digital. Kita hidup berdampingan dengan teknologi. Kita berkomunikasi dengan teknologi. Teknologi secara nyata telah mengekstensikan kemampuan manusia sedemikian rupa sekaligus mengubah gaya serta pola sikap dan perilaku manusia hingga seperti saat ini, dan sama halnya seperti manusia, teknologi terus hidup dan berkembang, tentunya hingga akhir dari peradaban manusia itu sendiri. Namun, satu hal yang penting adalah bahwa manusia tidak boleh dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Manusialah yang harusnya mengendalikan teknologi. Apa yang terjadi di Indonesia ini tampaknya telah membuktikan bahwa manusia telah menjadi "budak" teknologi itu sendiri. Parahnya, tidak sedikit yang bangga dengan tren "perbudakan" ini. Ah, tapi ya sudahlah, setidaknya saya tetap berkomitmen untuk tidak  pakai BB sampai saat ini. Anyway, tentunya soal BB ini pilihan tiap orang sih. Cuma saya jadi heran kalau BB ini yang harusnya bisa mempermudah proses komunikasi malah jusru mempersulit dan orang menjadi terlalu bergantung dengan alat ini. Well, tampaknya kata-kata: mendekatkan yang jauh; menjauhkan yang dekat itu ada benarnya untuk BB.