Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

30 November 2013

Three Things I've Learned About Being in a Relationship

Saya selalu suka menulis, apa pun itu. Dan, biasanya dengan menulis, saya merasa lebih baik, setidaknya biasanya begitu. Jadi, di sini, saya akan berbagi tiga hal apa saja yang saya pelajari selama menjalin hubungan selama hampir tiga tahun (hampir ya...).

Sejujurnya beberapa bulan terakhir ini saya merasa sedang berada masa-masa yang cukup sulit, agak susah "move on" kalau orang-orang bilang. Saya pastinya akan mengelak bahwa saya sudah move on, tapi kenyataannya enggak. Masa-masa sulit di sini adalah masa di mana kamu dulu pernah pacaran dalam waktu yang cukup lama, semuanya kelihatan baik-baik, tapi akhirnya harus kandas juga, dan... beberapa waktu kemudian mantan kamu jadian, atau tepatnya balikan dengan mantannya. Ketika kamu flashback semua hal ini dan mengetahui kenyataan yang terjadi sekarang, well, that's pretty tough.

Kamu mungkin punya hubungan paling sweet di kampus, tapi itu tidak menjamin hubungan kamu akan berakhir bahagia

Ini hal pertama yang saya pelajari, dan ini sangat penting. Enggak peduli kamu dan si dia se-sweet apa, enggak peduli kamu dan dia dulu selucu apa, dan paling bikin iri orang-orang sedunia kampus, semua itu tidak selalau menjamin bahwa kau akan punya akhir yang bahagia.

Kamu mungkin berpikir bahwa segalanya baik. Ya, kamu orang baik, dia juga orang baik. Kamu dan dia bisa menyelesaikan masalah dengan baik, dan semuanya semakin baik seiring dengan berjalannya waktu.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu itu pula, kamu juga belajar tentang dia dan dia juga belajar tentang kamu. Terkadang ada hal-hal yang pada akhirnya kalian sadari enggak bisa match satu sama lain. Sebetulnya, ini hal yang wajar, I mean, we are humans, dan kita memang diciptakan berbeda. Semirip-miripnya pasangan kita dengan diri kita, pasti ada hal-hal yang enggak "match", apapun itu.

Pada akhirnya, hubungan kamu dan dia harus berakhir karena ego, karena kamu berdua merasa ada hal-hal yang tidak bisa "dipertemukan". Sebetulnya, ini agak konyol, karena ya... itu tadi, kita manusia, dan kita diciptakan berbeda-beda. Hal yang terbaik sebetulnya adalah mencoba untuk saling mengerti. Akhirnya, semua hal-hal manis selama ini harus berakhir karena ego.

Sepengamatan saya, justru mereka yang selama masa pacaran dulu biasa-biasa saja, akhirnya bisa mencapai ke jenjang pernikahan. Sementara yang dulunya dikenal sebagai pasangan serasi, paling sweet, pokoknya yang paling bikin iri orang, ternyata banyak yang akhirnya harus pisah di tengah jalan. Jadi, pada akhirnya saya pikir, kamu mungkin punya hubungan paling sweet di kampus, tapi itu tidak menjamin hubungan kamu akan berakhir bahagia.

Mantannya pacar adalah mantan dan itu adalah makhluk berbahaya; jauhi!

Salah saya, mungkin, terlalu baik. Ini bukan "kepedean", tapi saya pikir saya memang sangat baik hingga saya masih memperbolehkan dia saat itu untuk berteman dengan mantannya, yang notabene adalah sahabatnya juga dulu. Jadi, singkat cerita, dia dulu bersahabat dengan orang ini, dan kemudian mereka jadian, dan sekitar enam bulan kemudian putus. Tapi mereka tetap berteman sejak saat itu.

Kenapa saya memperbolehkan dia masih berteman dengan mantannya? Banyak orang bilang saya aneh karena yang namanya mantan ya... mantan. They can't be friends. Tapi saya ingin dia tahu bahwa saya percaya dengan dia dan saya tahu dia tidak akan menyalahgunakan kepercayaan itu dengan "bermain" sama mantannya ini. Saya percaya bahwa dia bisa menjaga hatinya, tapi saya tahu bahwa biar bagaimanapun si mantannya ini ya... mantan, dan dia laki-laki, dan... sebetulnya itu berbahaya untuk masih "berhubungan" dengan mantan. Tapi saya terlalu sayang sama dia, dan saya percaya bahwa dia tidak akan "pindah" ke lain hati, dan saya tidak mau mengekang dia dengan melarang bergaul dengan ini-itu. Oh ya, mantannya ini punya prestasi, dan saya menghargai orang-orang berprestasi. Ini mungkin terdengar bodoh, tapi saya pikir tidak ada salahnya "berteman" dengan orang-orang berprestasi bahkan jika itu mantannya pacar kita.

Saya belajar bahwa biar bagaimanapun mantannya pacar adalah mantan dan itu adalah makhluk berbahaya; jauhi! Mungkin pacar kamu setia, tapi kamu enggak pernah tahu apakah si mantannya punya modus atau niat tertentu. Saya pikir kadang perempuan terlalu lugu dengan mengatakan bahwa "itu cuma mantan". I mean, itu bukan sekedar "cuma". Mantan itu adalah bagian dari masa lalu yang walau (mungkin) pernah membuat kita merasa sakit hati, tapi orang itu pernah menjadi bagian dari masa lalu kita. Dan di sini, saya terlalu lugu untuk memperbolehkan dia untuk tetap berteman dengan mantannya walau tentunya saya tetap memberikan sedikit batasan, tapi saya tidak pernah melarang 100%.

Dan sekarang, dia sudah kembali dengan mantannya, dan sejujurnya saya merasa itu semua salah saya dan betapa saya merasa sangat bodoh dengan apa yang saya lakukan dulu.

Ketika kamu merasa bosan dengan sebuah hubungan, just don't let it go

Yang namanya manusia pasti ada rasa bosan, dan itu wajar. Kamu dan dia mungkin sedang berada di fase yang kritis, di mana baik kamu maupun dia sangat merasa bosan. Bosan dengan segala rutinitas pacaran ini, bukan bosan dengan kamu. Kadang kamu dan dia perlu me-refresh hubungan kalian dengan hal-hal yang baru dan unik. Namun, satu hal yang penting, ketika kalian sama-sama merasa bosan, just don't let her/him go. Seseorang akan ada yang menyesal, entah kamu atau dia.

Saya percaya bahwa saat akhirnya saya dan dia setuju untuk mengakhiri ini semua, kami berdua sedang dalam masa-masa bosan tingkat tinggi. Dan itu juga didukung oleh beberapa masalah yang semakin memicu ketegangan antara saya dan dia. Kami berargumen tentang ketidaksamaan "visi" (yang setelah saya pikir-pikir sekarang agar err...) untuk masa depan, tapi (kini) saya pikir itu bukan alasa utama. Pemicu utamanya adalah rasa bosan, masalah-masalah lain kemudian berdatangan seakan menjadi semacam pertanda bahwa ini semua memang harus segera diakhiri. Salahnya, kami menyerah. Saya menyerah. Saya melepaskan dia dan dia melepaskan saya, dan tidak ada yang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Seakan semua yang telah berjalan hampir selama tiga tahun selesai begitu saja tanpa ada bekasnya. Saya tahu saya sayang dia, dan saya tahu dia sayang saya. Tapi kami menyerah terlalu cepat.

Jadi, jika suatu hari kamu mengalami hal-hal serupa, tetap ingat bahwa ini hanya perasaan bosan sementara. Kamu hanya perlu me-refresh hubungan kamu, dan jangan biarkan salah satu dari kalian menyerah dan akhirnya mengakhiri hubungan yang selama ini telah dijalin. Pada akhirnya, seseorang di antaranya akan menyesal. Pastinya, penyesalan tidak ada gunanya ketika semuanya sudah terlambat.

19 Agustus 2013

Last Night! #EgyptianInterview Part 2

Ini adalah materi tweet saya semalam yang memaparkan hasil diskusi saya bersama 11 orang Mesir yang saya temui secara acak untuk mengetahui bagaimana pandangan mereka terhadap konflik di Mesir yang masih terjadi hingga hari ini. Semoga bermanfaat!

------------------

Malam tweeps, saya akan menyambung wawancara saya ke orang-orang Mesir terkait konflik yang terjadi di negara mereka. Pagi ini saya berdiskusi dengan 11 orang Mesir usia 20 - 40 tahun. Saya tidak kenal mereka sebelumnya dan saya pilih secara acak dari situs Interpals.

Saya (kembali) menanyakan berbagai hal terkait konflik yang terjadi di Mesir saat ini untuk melihat perspektif lain, khususnya dari orang Mesir langsung. Ini saya lakukan karena ada banyak permintaan dan tanggapan dari hasil wawancara saya dengan salah satu teman Mesir saya kemarin yang saya publikasikan di media-media sosial.

Banyak orang menganggap satu orang tidaklah representatif, apalagi jika orang itu adalah seorang teman. Itu memang benar, teman (Mesir) saya itu tidak bisa mewakili "kebenaran" yang sebenarnya terjadi. Dan lagipula saya memang tidak berniat untuk "menyerukan" kebenaran, niatnya murni untuk memberikan alternatif perspektif dan mudah-mudahan bermanfaat dan menambah wawasan.

Kenapa begitu? Karena saya sedih kalau orang Indonesia kerap terlalu cepat mengambil kesimpulan yang jatuhnya L-A-T-A-H, tanpa tahu betul isunya apa. Saya tidak mengaku sebagai orang yang tahu/paham betul soal ini, sama sekali tidak, hanya saja, saya mencoba untuk memberikan pandangan lain dengan berusaha tanya dengan mereka yang tinggal di daerah konflik dan (mudah-mudahan) lebih tahu kejadian sebenarnya.

Oke, cukup "prolognya", sekarang saya mulai hasil wawancara saya dengan 11 orang Mesir. #EgyptianInterview

Q: ------------------

Fauzan: I'm sorry about the chaos in Cairo, yet I'm very curious about what is actually going on in the country. Do you mind telling me, as in Indonesia, lots of people give their support to the Egyptians; Morsi's side. #EgyptianInterview

A: ------------------

Nour: Morsi & IM, worked for their benefit, so the people made a revolution which was occurred in 30/6, people dropped Morsi, and when that happen, people is threatened by his group and his supporters with sabotage and terrorism. IM were given more than a month to leave & not terrorize people & they refused they used their weapons to strike military and police, vandalism and burning Cairo. #EgyptianInterview

Omnia: Media out of Egypt doesn't show the truth at all. We protested peacefully against Mursi as his policy was stupid and made Egypt so down. And the army supported people. And then IM protested and want Mursi back, but it was not a peaceful protests as media showed. IM, they have various weapons. They tortured people who doesn't support them. When the police tried to stop them, they go everywhere, killing people, destroy shops, putting bombs in many places, burn churches, attacking governmental buildings and police offices, and kill policemen and slaughter them. They are terrorists, I can't even call them Muslims. #EgyptianInterview

Ahmed: The situation is bad, but people outside Egypt are too overreacted. For me, I'm against Mursi, but I didn't want the army or police do something to the Ikhwann Muslimin protesters. But I've seen that some of these protesters have weapons and abuse it, they are terroring and fire buildings. And so the police should act towards that, and that is allowed in the national law. #EgyptianInterview

Yehya:  I don't support Morsi as he wasn`t a good president and he was trying to establish a dictatorial regime in Egypt and he wasn't democratic and he ignored all the political parties and he ignored their opinions. So, he was only seeing himself and his party. #EgyptianInterview

Mahmoud: Everyone now against Ikhwannul. Media make them as a terrorist and police and army f*ck them and shoot them. And now you can't go out to the streets and say what you want because you will be arrested. I hate the military rules and I against the coup (coup d'etat). #EgyptianInterview

Maged: Things are very complicated here. Morsy and IM has lost all the people who support them because they are just liars and terrorist. He asked his supporters to go out and use violence and now they have guns, kill people, burn buildings and cars, kill soldiers, have lots of money for the support from other countries, etc. So there is a curfew now in Egypt and all the people are united with the police and army against them. By the way, most people here are Muslims, and no one is against Islam, but they are all against IM. #EgyptianInterview

Mohamed: The situation here is so hard. There are many people killed every day. That's because they want Morsy. He is the greatest president for Egypt. I'm sad about what happen here.

Mahmoud (2): Now in Egypt, the police and armed forces kills thousands of people because they plan for Islam to the world. Saudi king and UAE king also afraid from the success of Muslim Brothers in Egypt. They're afraid about their position at the head of the country. So they planned with their friends in Israel and US to the military, to make coup d'etat, and then they started killing all people who want Morsy. I have many friend killed. Now we fight all the world in Egypt. Now only Sisy who drives the crises; only him who give orders to kill. #EgyptianInterview

Aasem: All media against Sisi because they show him as a killer. But you have to know that the supporters of Sisi also against any coup d'etat. But I wanna my country to be better without any terror. Lots of people have a fear of Muslims Brotherhood. They had the power to run the country and they took every single position in the country. And when you ask them why?  They say that they're doing this for country to be better. We believed them, but after one year nothing good happened. So, we said enough and we asked Morsi to resign and he refused. So people asked El Sisi to come and protect them from the Muslims Brotherhood. So he came as lots of people, around 30 million, asked him for that. So, El Sisi has the power from a lot of people to do what you see in media. But I wanna tell you that there is no channel that going neutral. #EgyptianInterview

Ahmed (2): All I know is that IM started to make a chaos to make Mursi back and we can't live normally. We are a Muslim country, so you can't came here and told us to learn Islam. IM did that. The IM uses Islam as a tool to reach the government. Some people said that US supports them, but who knows? #EgyptianInterview

Q: ------------------

Fauzan: Did Mursi made lots of progress for Egypt during his periode as the president? I heard that in Egypt, during his time, people had no jobs, no homes, no money no food, everything was chaos. Is that true? #EgyptianInterview

A: ------------------

Samar: Morsi! No, Morsi for the first time in Egypt, we make a tablet made in Egypt and helicopter. He cares about the poor people, he opened new projects in Egypt to make people find jobs. #EgyptianInterview

Mahmoud (2): No, not true. Only media says that. And all the crises during his period was made by the armed forces. They planned for his fail during his period, but when they failed and found him did many progress in Egypt, they decided the coup d'etat. #EgyptianInterview

Q: ------------------

Fauzan: So, why actually people don't want Mursi? I mean, what make people don't like him and want him to step out? Did he make something wrong to the country? #EgyptianInterview

A: ------------------

Omnia: He made everything wrong and stupid! They made the constitution that only serves their own interest he didn't care of what people want. He just care to his people the Muslim Brotherhood. We protested against them many times so he can make changes of what people want, but he never listened. He destroyed our good relation with many countries. So people decided they will protest at last to relegate or move him out. #EgyptianInterview

Ahmed: He didn't do anything right actually. He couldn't manage the problems of electricity and gasoline. We had the very bad constitution. His constitutional declaration that force his decisions that can't be objected all the government and the prosecutor he got was occupation from his political party. The approval of the building of dam in Ethiopia that will have bad effects on water in Egypt & many other things. #EgyptianInterview

Ahmed (2): Did he make anything wrong? Well, do you like a puppet president? Do you like a president who gave your resources to another country? #EgyptianInterview

Yehya: Well, he wasn't a democratic president. He was only seeing himself, his party & ignore the other political parties. #EgyptianInterview

Mahmoud: Yes, he was bad too, but he never kill a huge number of people. The military and police kill more than 700 since the coup start! Though he didnt do something right either. He promised people that he can change Egypt in 1 year, but nothing happened, so people didn't like him. #EgyptianInterview

Mahmoud (2): Actually, Mursi wanted Egypt to be strong. He wanted to produce our food and the manufacure of all our needs. But US doesn't like that. US controls our armed forces. I said many times, most of people with Morsy. And the demonstration against him was from Christian and police and Mubarak's men. #EgyptianInterview

Aasem: Actually Mosri couldn't do anything, we got much more problems and he and the Muslims Brotherhood are very very arrogant and they did the most dangerous thing happens in one country. They divided people into two sides. If you are not with us, you are against us and you are from the past regime. No one can say now who is  the good side, but if you can see another chanels, you will see the Muslims Brotherhood firing building and kill people too! They are not an angels. Believe me, you just know the situation from the media. People here hate Morsi, except the the Muslims Brotherhood. #EgyptianInterview

Maged: It's because he belongs to a group called MB (IM) and they are speaking in the name of Islam and religion to convince people to be with them, yet they are just liars and all they want are their benefits. He ruled for more than 1 year and everything even got worse. No electricity, no water, no car fuels, no money, no work, no tourism, etc. So, he has ruined Egypt, so people are protesting to get him out because people had discovered his bad face and they only want the benefits (with IM), so now people, police and army are all against them. #EgyptianInterview

Q: ------------------

Fauzan: So, actually, it was a coup d'etat right? So does it mean that, the military is the good side and they actually try to "save" the situation in Egypt? But you know, even though Mursi is elected on the election, do you think that to force him down is the right to do? I mean, let's say, in the name of democracy, etc.? #EgyptianInterview

A: ------------------

Ahmed: No! It's not a coup at all! The military approved millions of people request of the early elections and gave Mursi time to do this but he refuesed and on the contrary, Mursi's last speech contained sedition for blood to save his rule, so military saved the situation. Look, the democracy is the opinion of people, and has many ways to show it elections is only one way, but people in all cities of the country got out in the streets on 30/6 to say that they don't want his rule and that's fair enough. #EgyptianInterview

Ahmed (2): Democracy it's a game, and they laughed at us by democracy. We didn't want both Mursi or Shafik (the one against Mursi on the election). We want someone who can make Egypt higher and will dream about that till last breath. #EgyptianInterview

Yehya: It was the right way when we see him pose a danger to the national security of Egypt. He forced the military to not coup with the Islamist militants in Cena because they were voting for him and he didn't care about what they do. #EgyptianInterview

Mahmoud: Look, some people want Mursi and others don't. But, that is not how democracy works. So, army take a side with people who don't want Morsi, so army did a coup. So, when people who want Morsi went to street and refuse what army did, the army killed them, and till now more than 1000 people killed, and some TVs which refuse of what the army did, the army closed them. #EgyptianInterview

Maged: No, that wasn't a coup. He was given 2 days and he could have made elections to ask people if they wanted or not, but he didn't and he gave a stupid speech urging for violence and saying that he will not quit. Democracy was, that most people were against him so that's democracy and there was no other choice. There were 33 million people protesting all over Egypt and that was the biggest number of political gathering of all man kind. Before he ruled, he said that if anyone protested against me when his rule he will step away at once, and there were 33 million people protesting against him and he didn't. #EgyptianInterview

Q: ------------------

Fauzan: Who is actually killing and killed these days? I heard that it was IM who actually killed the people but then the media told that it was the military who was responsible to the crime. #EgyptianInterview

A: ------------------

Ahmed: Well, if someone told you not to pass this limit because your life will be in danger, and you passed it, who you will blame? #EgyptianInterview

Yehya: The situation here is very complicated. It is hard to say who kill who in the demonstrations. #EgyptianInterview

Mahmoud: The media now tell people that army and police are face the terrorism and it gives them like a permission to kill anyone against that, to close any TV, to f*ck anyone, and for sorry a lot of people believe what the local media said. #EgyptianInterview

Aasem: The killed people are all Egyptians and we are very sad about them. But there is a lot of confusing thing you will not understand now, but it will be clear soon. Finally, don't take your information from one media. See more than one, and see the picture and videos and you will see, I will send a video to you, one from the Muslims Brotherhood, he was acting he was injured from the army, and when the doctor wanna fix him, he didn't found anything and this patient kicked him because he only want to take a picture and show to people like you that they are killed, watch this: http://youtu.be/WeMXe6MB0gE

Maged: As I told you, the ones who are killing the people are MB (IM) and their people. #EgyptianInterview

Q: ------------------

Fauzan: Do you have any message to the people in Indonesia, who are mostly pay lots of attention to the current situation in your country--and in fact, most people support Mursi--regarding this condition? #EgyptianInterview

A: ------------------

Ahmed (2): I just want to say, we have some problems here and that our businesses. If you really need help, just ask Allah for peace for Egypt. But don't support any side against another side , cause you will lose part of them. Just be neutral. #EgyptianInterview

Yehya: I hope the media could be neutral and don't mention one side. I hope they mention the both sides because the backers of Mursi also killed police officers by using the automatic rifles. Ssome of the backers of Mursi are militants & they don't believe in democracy. #EgyptianInterview

Mahmoud (2): I really don't know. But you have a brain; your brain should be working. We work for Allah only. We don't want support from any others. #EgyptianInterview

Aasem: I told them that we are all Muslims, so we have to be one unit and it's not about Islam and Muslim Brotherhood makes this situation against Islam. We want a president who can run a huge country like Egypt, and he can make all the Egyptians one unit again; Muslim and Christian, Liberal  and Muslims Brotherhood. We need all of this people to make our country better. Finally, I wanna say we don't know yet who in the right side but just see the other side, what he says and his opinion that's it. Anyway, you will not understand Arabic, but ofcourse you will understand the actions of this guy in black; he is a cop and this mother is one of the protestors: http://on.fb.me/14UOps1

Maged: The message is that people here know what they do and no one of here has ever interfered or told you that we support or not support your president they don't live here and they don't know what's happening here so they should respect what people here want. #EgyptianInterview

------------------

That's all! Dari 11 orang yang saya pilih secara random, ternyata 2 orang Pro dengan Mursi, 1 orang cukup netral, sisanya kontra. Sayangnya, dua orang yang pro Mursi ini, kurang mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dan cenderung "out of context", sedangkan dari mereka yang kontra, masih ada pembagiannya lagi. Di tim kontra, tidak semuanya juga mendukung aksi kudeta.

Namun, sebagian lagi juga menganggap aksi tersebut bukanlah kudeta, itu sah-sah saja karena memang Mursi sudah diberi tenggat waktu 2x24 jam. Untuk memberikan solusi atas permasalahan di Mesir yang sedang kacau.

Menurut Maged, sebelum terpilih, Mursi mengatakan bahwa jika dalam masa kepemimpinannya ada aksi protes, ia akan mundur.

"There were 33 million people protesting against him and he didn't step away," kata Maged.

Terkait pesan untuk orang Indonesia yang ingin mereka sampaikan, cukup mengejutkan (menurut saya), atau setidaknya tadinya saya pikir mereka akan mengucapkan semacam terima kasih atas dukungan yang telah diberikan negara ini. Namun, ternyata tidak. Mahmoud (2)--ada dua Mahmoud kebetulan, salah satu yang pro Mursi justru mengatakan bahwa ini urusan negara mereka pribadi.

"You have a brain; your brain should be working. We work for Allah only. We don't want support from any others," kata Mahmoud (2)

"We have some problems here and that our businesses," kata Ahmed (2)--juga ada dua Ahmed.

"They don't live here and they don't know what's happening here so they should respect what people here want," kata Maged.

Mungkin, tetap akan ada yang mengatakan bahwa apa yang saya dapat ini tetap belum representatif, tidak mewakili rakyat Mesir keseluruhan. Saya toh tetap tidak pernah mengklaim bahwa apa yang saya dapatkan 100% mencerminkan keadaan sebenarnya, tidak sama sekali. Saya, cuma mau bilang, yok orang Indonesia, saudara-saudara sebangsa setanah air, kita harus lebih cerdas. Dalam hal seperti ini, sebenarnya bukan "ranah" kita untuk menghakimi siapa yang (paling) benar dan (paling) salah. Paling mentok, kita hanya bisa menilai. But please, do not judge. Kita bahkan tidak hidup dan tinggal di sana.

Saya sepakat bahwa yang namanya pembantaian adalah suatu kejahatan yang kejam! Namun, tetap bukan kapasitas kita untuk men-judge. So, please, don't judge. Jangan men-judge yang di sana (Mesir) dan jangan men-judge yang di negeri sendiri, karena itu rasanya sedih banget.

Yah, saya kira cukup sekian untuk malam ini. Kita doakan semoga saudara-saudara kita di Mesir diberi kekuatan untuk mengungkap kebenaran.

Untuk saudara-saudara kita yang di dalam negeri, semoga diberikan kemudahan dalam membuka pikirannya agar tidak hanya terpaku di satu hal. Selamat malam tweeps, semoga bermanfaat. Kita doakan yang terbaik untuk Mesir. Tunggu posting-an saya berikutnya karena saya mendapatkan kabar lain dari.
Anyway, terima kasih banyak atas support yang diberikan. Sebenarnya masih ada banyak mention yang saya terima selama menge-tweet, tapi saya tidak bisa memasukkan semuanya. Saya harap kita semua bisa lebih bijak dalam melihat berbagai isu, apalagi  untuk isu-isu yang sangat sensitif seperi ini. Kita memang sudah sepatutnya bersimpati, bahkan berempati kepada saudara-saudara kita di sana, tapi tetap harus berpikir dengan kepala dingin dan jangan pernah puas dari satu sumber saja. Sekali lagi terima kasih.


























   Add Friend


Looking Through the Egyptian's Perspective

Posting berikut ini merupakan hasil repost dari apa yang saya tweet pada tanggal 16 Agustus 2013. Yok, coba baca hasil percakapan saya dengan seorang teman dari Mesir tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana, dilihat dari perspektif dia sebagai orang Mesir asli. Ini sangat penting, jadi kita bisa melihat dari sisi lain, tidak hanya dari sisi yang selama ini kita yakin (paling) benar.

------------

Barusan saya ngobrol dengan seorang teman, orang #Mesir asli, terkait apa sebenarnya yang terjadi di sana. #EgyptianInterview

Saya penasaran bagaimana orang #Mesir melihat kasus ini. Bukan dari kacamata media/orang Indonesia (yang tahu dari media).#EgyptianInterview

Ternyata, hasilnya sangat berbeda dengan apa yang belakangan ini kita dengar. #EgyptianInterview
Penasaran? Yok disimak! #EgyptianInterview

Fauzan: Nesma, I'm really curious about what is actually going on in your country. Could you tell me? #EgyptianInterview

Nesma: I really would like to discuss about it because I believe to the social media is not showing everything. #EgyptianInterview

Fauzan: I argued with some of my friends about how the people here, especially the Muslims in Indonesia. #EgyptianInterview

Fauzan: That's why, I really want to know from you, your opinion as an Egyptian, as the youth. #EgyptianInterview

Nesma: We demonstrated because we don't want Morsy and his Moslem Brothers party. #EgyptianInterview

Fauzan: You mean that Ikhwanul Muslimin? #EgyptianInterview

Nesma: Yes, Ikhwan. We did voted for him, Morsy, but it was because we didn't have any other choice. #EgyptianInterview

Fauzan: When Mubarak was ousted from his government, who did that? The whole country, or the Ikhwan? #EgyptianInterview

Nesma: All the country. Which means, all the people, including Moslems, Coptics, poor, rich, including Ikhwan as well. #EgyptianInterview

Fauzan: After that, the only choice you got was Morsy...? #EgyptianInterview

Nesma: We had Shafik (old regime) & Morsy. We did revolution against old regime, so logically we won't vote for Shafik. #EgyptianInterview

Nesma: So then we voted for Morsy though we dont want the Moslem Brothers (IM), but he promised many things. #EgyptianInterview

Nesma: What did he (Morsy) do in one year? Nothing... the country became even worse from Mubarak's time. #EgyptianInterview

Nesma: The economics went down. People are suffering. They don't have jobs or place to live in, or money, etc. #EgyptianInterview 

Nesma: And above all of that, Morsy is not proffestional at all. In his speaches, he can't even talk in a diplomatic way #EgyptianInterview 

Nesma: So we went to the streets with more than 20 million peopel all around Egypt. #EgyptianInterview 

Nesma: It was more than the people on the street in the 2011 revulution, against Mubarak.  #EgyptianInterview 

Nesma: Everyone asked Morsy to step down because he didn't fulfil his promisses to us. #EgyptianInterview 

Nesma: And he said once in his speech that he doesn't even care abot Egypt. #EgyptianInterview 

Nesma: All what he cares for is to wide the Ikhwan group around the arabs nations. #EgyptianInterview 

Nesma: The military had meetings with Morsy and told him that he should find a solution and please his people. #EgyptianInterview 

Nesma: But, all what Morsy did was against people and made them even more agressive and made us to hate him more. #EgyptianInterview 

Nesma: For a time, we didn't have water, no electrecity, not even gas for cars. #EgyptianInterview 

Nesma: People used to stand for hours in a long rows because of the gas. #EgyptianInterview 

Nesma: So, when the military realized that Morsy is not cleaver enough to find the solution and that he was (cont'd) #EgyptianInterview 

Nesma: ... only making the people more agressive, the military gave a speech and said that he will give Morsy (cont'd) #EgyptianInterview 

Nesma: ... 48 hours to find a good solution for everyone. So the military gave him 48 hours to solve the problem. #EgyptianInterview 

Nesma: And if Morsy did nothing, it's the military job to give a better solution to the country. #EgyptianInterview 

Nesma: At that point, the majority of the people in Egypt was against Morsy. #EgyptianInterview 

Nesma: After that, Morsy gave a speech where he was only talking about the shareea and about the demonstration (cont'd) #EgyptianInterview 

Nesma: ... but about giving any solutions... There was nothing. #EgyptianInterview 

Nesma: You have to keep in mind that there are also Coptic people who are living in Egypt, not only Moslems. #EgyptianInterview 

Nesma: So, Morsy was not even paying attention to that. #EgyptianInterview 

Nesma: After Morsy steped down, the military made a new goverment, just for about a year (cont'd) #EgyptianInterview 

Nesma: ... in order to plan for the next elections and to put rules that all the people can follow. #EgyptianInterview

Nesma: On the other side, of course, Ikhwan is angry. And actually, they're not that much. #EgyptianInterview

Nesma: So, what do they do? They go to the poor people. They give them money and food, and tell them (cont'd) #EgyptianInterview

Nesma: ... if u didn't join on our side, you will go to hell. The poor people of course are not educated. #EgyptianInterview

Nesma: And they don't even care. All they care is to have house, money, & food. And that's (cont'd) #EgyptianInterview

Nesma: ... what Ikhwan did give to them... and that was wrong. Anyway, they do that in every elections. #EgyptianInterview

Nesma: And they said, they won't leave "el 2ete7adeya", it's the place where they demonstrated. #EgyptianInterview

Nesma: They said, they won't leave this place until Morsy comes again. #EgyptianInterview

Nesma: And they (Ikhwan) started killing normal people on the street and throw the people from balconies. #EgyptianInterview

Nesma: You can see all of that on YouTube, by the way. #EgyptianInterview

Nesma: And they tell the media that it was the military who did that, in order to make people (cont'd) #EgyptianInterview 

Nesma: ... believe it was the military who kills Ikhwan. But it's the way around. #EgyptianInterview

Nesma: It has been always known that Ikhwan have all kinds of guns and they walk normally like that on the steet. #EgyptianInterview 

Nesma: But from all of that, I learned that you shouldn't believe or trust anyone 100%. #EgyptianInterview 

Nesma: Because whether Morsy or old regime, or even military, all of them look for what he will "win out of this game". #EgyptianInterview 

Fauzan: "When you play the game of thrones, you win or you die", right? #EgyptianInterview 

Nesma: Yea, exactly! #EgyptianInterview 

Nesma: But I really hope for the rest and people won't die... #EgyptianInterview

Apa saya lakukan ini semata-mata untuk mencari perspektif baru soal kisruh di Mesir. Terkadang tidak semua yang kita dengar atau lihat itu benar adanya. Dengan ini, kita bisa mendapat pengetahuan baru. Saya tidak memilah-milih siapa yang saya wawancara. Jika ada yang bilang bahwa wawancara ini kurang cover both sides karena hanya menyajikan pendukung pemerintah militer, faktanya, saya tidak tahu sebelumnya "posisi" dia dalam hal ini sebelumnya. Namun, Nesma adalah teman saya, dia juga seorang muslim.

13 Juni 2013

Wanita, Akhlak, dan Jilbab

"Jika engkau berjilbab dan ada orang yang mempermasalahkan akhlakmu, katakan kepada mereka bahwa antara jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Berjilbab adalah murni perintah Allah; wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaknya baik atau buruk. Di lain hal, akhlak adalah budi pekerti yang bergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa/pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, melainkan karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi yang berakhlak mulia pasti berjilbab."

Begitulah yang saya baca pagi ini di halaman depan Instagram saya. Seorang teman saya mem-post sebuah gambar wanita berjilbab dengan tulisan itu di sebelahnya. Saya rasa ini adalah satu hal yang sangat menarik untuk dibahas. Mungkin banyak dari kita (termasuk saya) yang kerap menganggap bahwa ketika seorang wanita sudah (memutuskan untuk) berjilbab maka artinya dia harus menjaga sikapnya (seumur hidupnya), dan terutama harus mencerminkan pribadi muslimah yang salihah. Saya pribadi kerap merasa kesal tiap bertemu wanita berjilbab yang judes atau tidak ramah. Bagi saya itu ibaratnya "enggak ada muslimah-muslimahnya" deh. Atau ketika saya bertemu dengan senior-senior di SMA atau di kampus dulu yang berjilbab, tapi mereka juga suka mem-bully juniornya. Dalam hati, saya sering ingin berteriak, "Woy, itu lo pakai jilbab enggak ada ngaruhnya." Agak kasar memang, tapi toh saya memendamnya di dalam hati (dan dalam pikiran).

Well, memang benar, tahu apa kita soal mana yang lebih muslimah antara si A dan si B? Semua itu subyektif, dan memang begitulah kita. Kita kerap memproyeksikan bentuk ideal seorang wanita yang berjilbab itu seperti apa tingkah lakunya. Minimal, wanita berjilbab itu harus sopan, bertutur kata yang lemah lembut, ramah, murah senyum, santun, dan segala hal yang baik ada pada diri wanita ini. Namun, tentu perlu kita ingat bahwa wanita berjilbab tetaplah manusia. Artinya, mereka juga pasti berbuat salah.

Namun, pada praktiknya, khususnya di Indonesia, saya rasa pernyataan bahwa wanita berjilbab tetaplah manusia dan mereka bisa berbuat salah ("salah" di sini adalah sesuatu yang tidak mencerminkan kepribadian seorang muslimah; I know, it's totally subjective) tidak serta merta dapat diterima dengan baik di sini. Kenapa begitu? Berbeda dengan pria muslim, jilbab yang dikenakan oleh seorang wanita menandakan satu identitas, yaitu muslim. Pria, di lain hal, tidak memiliki ciri khusus (yang mutlak) yang menandakan bahwa ia seorang muslim. Katakanlah seorang pria berjanggut. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa mana yang muslim antara pria berjanggut panjang atau pendek jika kita bertemu salah satu dari mereka di tengah jalan. Atau, apakah pria yang celana panjangnya di atas mata kaki sudah pasti muslim, sedangkan yang di bawah mata kaki adalah nonmuslim? Atau pria yang memakai peci setiap hari lebih muslim dari yang tidak memakai peci? Tidak bisa dipastikan. Namun, ketika kita bertemu wanita yang berjilbab maka sudah pasti dia adalah seorang muslim dan itu berarti banyak hal. Ada suatu tuntutan dalam lingkungan bahwa mereka yang sudah berjilbab harus berperilaku sebagaimana seharusnya. Pada akhirnya, ini membuat wanita berjilbab yang berbuat salah dianggap jauh lebih "berdosa" daripada yang tidak berjilbab sekalipun melakukan kesalahan yang sama. Ingat, sekali lagi, ini adalah anggapan pada umumnya dan ini terjadi.

Sekarang, sebagai contoh kasus sederhana, menurut Anda, siapa yang akan lebih banyak dicibir masyarakat ketika ada seorang perempuan biasa (muslim, tapi tidak berjilbab) pulang tengah malam atau seorang perempuan berjilbab? Pasti perempuan berjilbablah yang lebih banyak mendapat cibiran dari masyarakat karena seharusnya perempuan tidak pulang tengah malam, apalagi jika dia berjilbab. Alasan keamanan dan nilai-nilai lokal. People do judge. Kemudian, siapa yang akan lebih dicibir masyarakat ketika ada seorang perempuan biasa (muslim, tapi tidak berjilbab) tertangkap karena mencuri laptop di sebuah kosan mahasiswa atau seorang perempuan berjilbab (entah itu kedok atau bukan) yang juga tertangkap karena mencuri laptop di sebuah kosan? Pasti si perempuan yang berjilbab akan mendapat cibiran lebih besar dari masyarakat. Kenapa? Karena dia membawa identitas agamanya di sana, yaitu jilbab sama dengan Islam. Hal lain yang lebih ekstrem, mungkin beberapa dari kita pernah mendengar (atau mungkin menonton) video-video porno amatir yang membawa-bawa judul (dan pemeran) "wanita berjilbab" beradegan syur. Jika video atau berita tentang video ini terekspos ke publik (dalam arti media publik, bukan di situs pornografi), wanita berjilbab ini pasti akan mendapat kecaman dan "kutukan" tiada tara dari publik karena perilakunya. Kecaman dan "kutukan" yang wanita ini terima tentu akan jauh berbeda dengan kecaman dan "kutukan" yang diterima jika si pelaku itu tidak berjilbab. Masyarakat tetap akan bereaksi keras, tapi tidak akan sekeras reaksi yang ditujukan jika si pelaku berjilbab.

Hal-hal semacam ini pada akhirnya menyulitkan dan membuat bimbang banyak wanita untuk berjilbab. Kita tahu masih banyak wanita muslim di luar sana yang tidak berjilbab. Alasannya pun telah kita dengar beraneka ragam. Mulai dari yang "belum siap" hingga yang merasa belum cukup baik untuk mengenakan jilbab. Tidak heran jika memakai jilbab di negara ini (yang notabene adalah negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia) lebih dianggap sebagai "pilihan" daripada sebagai "kewajiban". Memakai jilbab dianggap sebagai pilihan karena ketika seorang wanita muslim memutuskan untuk memakai jilbab artinya ia sudah "siap" untuk bersikap selayaknya muslimah. Padahal, menurut saya sih, memakai atau tidak memakai jilbab, seorang wanita muslim tetap harus berperilaku sebagai seorang wanita yang "benar". Namun, lagi-lagi ini semua dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan membentuk persepi kita pada penampilan seseorang, dan sebenarnya ini bukanlah persepi yang baik.

Kalau kita mengacu pada teori Looking Glass Self (agak akademis sedikit ya), ternyata bagaimana kita bersikap itu memang merupakan hasil dari interaksi dan persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita tumbuh menurut apa yang orang lain—khususnya orang-orang terdekat, orang-orang kepercayaan kita—persepsikan mengenai diri kita. Kita mencitrakan diri kita kepada orang lain (akibat interaksi kita dengan orang lain) karena kita berasumsi bahwa orang lain akan menyukai kita yang seperti itu. Lebih jelasnya kira-kira seperti ini:
  1. seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain;
  2. seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan tersebut;
  3. seseorang membangun konsepsi tentang dirinya berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya itu.
Artinya di sini, mayoritas wanita muslim akan mempersepsikan dirinya sebagai wanita yang belum cukup baik untuk berjilbab karena persepsi mengenai wanita berjilbab haruslah seperti apa yang sering kita lihat sehari-hari, baik di media maupun di lingkungan. Jika seorang wanita muslim merasa bahwa dirinya belum mendekati sikap seperti apa yang dipersepsikan maka ia akan merasa bahwa belum waktunya untuk berjilbab. Sementara itu, bagi mereka yang mulai belajar untuk berjilbab akan berusaha untuk dipersepsikan sebagai sosok wanita  muslim yang (mendekati) ideal, sedangkan yang berjilbab akan berusaha untuk bersikap sebagai mana layaknya muslimah yang salihah, bahkan beberapa wanita yang berjilbab akan membatasi kegiatan-kegiatannya yang dianggap kurang "muslimah" yang mungkin sering dilakukannya dulu (sebelum berjilbab). Tentunya hal ini ada sisi positif dan negatifnya. Namun, kebanyakan dari persepsi ini bersifat subyektif. Ya, saya rasa begitu.

Namun, saya sangat sepakat dengan ide yang diutarakan oleh entah-siapa-yang-menulis-kutipan-di-atas. Bahwa antara jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia. Namun demikian saya lebih setuju jika dikatakan bahwa "yang berakhlak mulia pun belum tentu berjilbab", daripada "yang berakhlak mulia pasti berjilbab". Di sini rasa-rasanya kita harus mendefinisikan kembali makna akhlak karena saya rasa akhlak itu bukan milik satu golongan/agama tertentu. Anyway, dari sini kita seharusnya bisa belajar dan lebih berpikiran terbuka bahwa biar bagaimanapun, wanita berjilbab adalah manusia biasa. Mereka bisa salah dan itu memang sudah menjadi sifat bawaan manusia. Yang membedakan mereka dari wanita muslim yang tidak berjilbab adalah bahwa mereka telah memilih untuk menyegerakan melaksanakan perintah agama. Namun, perlu kita ingat pula bahwa itu tidak menjadi dasar atau patokan bahwa yang berjilbab jauh lebih baik daripada yang tidak. Saya kira bukanlah kapasitas kita untuk menilai bahwa wanita A (berjilbab) jauh lebih baik daripada wanita B (tidak berjilbab). Wallahualam bishawab.

   Add Friend

06 Juni 2013

Selamat Datang di fauzanalrasyid.com!

Akhirnya, kesampaian juga punya domain pribadi. Kemarin sore, secara random saya memutuskan untuk membeli domain. Sebenarnya, sudah lama terpikirkan untuk beli domain, selain biar lebih kece, supaya lebih personal gitu. Nah, tapi sayangnya enggak pernah terwujud. Namun, entah kenapa kemarin itu saya iseng-iseng cari info soal harga beli domain dan ternyata enggak terlalu mahal. Setelah dilihat-lihat (sekilas) rasanya saya langsung 'sreg' dan saat itu pula langsung memesan satu domain untuk membuat blog saya terlihat lebih ciamik. Ya, dan inilah posting-an pertama saya di bulan Juni sekaligus posting-an pertama saya di fauzanalrasyid.com. Buat kalian yang juga suka menulis blog, mungkin bisa mempertimbangkan juga untuk beli domain, enggak mahal kok, dan pastinya jadi lebih puas sama blog kita dan apa ya... jadi makin semangat menulis.

Well, malam ini saya enggak akan menulis banyak. Anggaplah ini sebagai wacana sambutan pascaberubahnya alamat blog saya. Jadi, sekian, dan... nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Bisa tentang apa saja, tapi mungkin (biasanya) enggak jauh dari tulisan-tulisan yang isinya berupa curahan keresahan yang saya rasakan terkait dengan situasi dan kondisi sehari-hari yang kita alami dan temui di negeri kita tercinta. Jadi, sampai ketemu di topik-topik menarik lainnya. Sekian dan selamat malam!

   Add Friend

29 Mei 2013

Haruskah Mengindonesiakan Singkatan Asing?

Tulisan kali ini berawal dari status saya di Facebook yang mempertanyakan soal mana yang tepat pengucapannya: "Indonesian Movie Awards 'dua ribu tiga belas'" atau "Indonesian Movie Awards 'two thousand (and) thirteen'"? Saya menulis demikian karena sebelumnya saya mendengar salah satu pembawa acara Indonesian Movie Awards 2013, Choky Sitohang, melafalkan tahun 2013 dalam bahasa Indonesia alih-alih dengan bahasa Inggris sebagai mana tiga kata bahasa Inggris di depannya. Dalam hal-hal semacam ini, sering kali seseorang tidak konsisten. Jika suatu nama acara dibuat dalam bahasa Inggris, seharusnya tidak perlu mencampurkan bahasa Indonesia (apalagi untuk niatan agar terasa "sedikit" nasionalis) ke dalam penyebutan tahunnya. Nama acara tersebut justru menjadi aneh. Jika mau berbahasa Inggris, gunakan bahasa Inggris sepenuhnya, jangan dicampur-campur. Namun, kalau mau benar-benar terasa "Indonesia", seharusnya dibuat saja menjadi "Penghargaan Film Indonesia 'dua ribu tiga belas'". Dengan demikian rasa "nasionalisnya" tidak setengah-setengah.

Dari status saya itu, ada satu komentar menarik dari Dodi. Menurut Dodi, tren penamaan acara-acara dalam negeri yang menggunakan bahasa Inggris sebenarnya tidak masalah selagi konsisten. Lebih kurang artinya dia sependapat dengan saya soal kekonsistensian dalam berbahasa. Kemudia dia juga menambahkan bahwa ketidakkonsistensian juga terjadi saat menyebutkan singkatan yang dibentuk dari kata-kata bahasa asing. Dalam hal ini, Dodi mengatakan bahwa pada saat Indonesian Movie Awards 2013 kemarin, mereka (saya kurang tahu 'mereka' ini siapa), melafalkan I.M.A. jusru dengan ejaan bahasa Indonesia, bukannya dengan pelafalan bahasa Inggris.

Untuk masalah pelafalan singkatan ini memang ada dua 'mazhab'. Ada yang bilang dilafalkan sesuai dengan bahasa Indonesia, ada juga yang bilang (dan merasa) tetap harus dilafalkan dalam bahasa Inggris. Suatu ketika saya pernah baca artikel di rubrik bahasanya Kompas. Pada dasarnya, kita memang sudah terbiasa mencampur-campur dan tidak konsisten dalam melafalkan singkatan-singkatan yang dibentuk dari bahasa Inggris. Sebagai contoh, kita pasti bilang /ef-bi-ai/ untuk FBI bukannya /ef-be-i/, sedangkan untuk WHO, kita pasti menyebutnya /we-ha-o/, bukannya /double u-eich-o/. Untuk FAO, kebanyakan orang akan bilang /ef-ei-o/, daripada /ef-a-o/. Atau BBM (BlackBerry Messenger) misalnya, orang-orang mengejanya /be-be-em/, bukannya /bi-bi-em/. BMW, ada yang bilang /be-em-we/, ada juga yang /bi-em-double u/. Anehnya lagi, kita sering mengeja singkatan berbahasa Indonesia dengan ejaan bahasa Inggris, misalnya MNC (Media Nusantara Citra), dieja /em-en-si/, bukannya /em-en-ce/ (bukan 'se' ya, tapi 'ce') yang sebenarnya seharusnya begitu, padahal salah satu produknya, RCTI, dieja /er-ce-te-i/.

Lantas, mana yang benar? Apakah singkatan-singkatan yang diambil dari bahasa asing harus dilafalkan sesuai dengan bahasa aslinya atau dilafalkan sesuai dengan lafal abjad bahasa Indonesia? Mari kita membaca  satu artikel yang menarik (yang saya sebut di atas) karya André Möller.

AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

André Möller

Tidak diragukan lagi bahwa singkatan-singkatan seperti AC, VCD, DVD, dan TV sudah menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa nusantara lain. Setiap hari, singkatan tersebut kita temui di berbagai konteks atau malah kita gunakan sendiri. Tentu ini sah-sah saja. Orang yang kreatif sekaligus menolak pengaruh bahasa Inggris yang terlalu dahsyat dalam bahasa Indonesia, pasti dapat mengajukan alternatif lain yang lebih menusantara. Misalnya saja, alat penyegar udara sebagai pengganti AC. Namun, masalah ini bukan topik kita di sini.

Saya lebih tertarik pada pelafalan singkatan-singkatan ini di Indonesia. Dari empat contoh yang saya ajukan di atas, tiga biasa dilafalkan dengan logat Inggris atau setidak-tidaknya keinggris-inggrisan: VCD, DVD, dan TV. Cobalah sendiri! Kita tidak mengatakan /ve-ce-de/, /de-ve-de/, atau /te-ve/, tapi lebih cenderung melafalkannya sebagai /vi-si-di/, /di-vi-di/, dan /ti-vi/.

Singkatan AC merupakan campuran kalau dilihat dari cara pelafalannya: A-nya dilafalkan dalam bahasa Indonesia, sedangkan C-nya dilafalkan dengan logat Belanda. Mengapa demikian? Tentu saja pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab dengan langsung dan singkat. Akan tetapi, saya kira kita semuaatau hampir semuadapat sepakat bahwa /ve-ce-de/ dan seterusnya terdengar agak kuno, kampungan, dan tidak modern. Sedangkan yang sering-sering diburu rakyat Indonesia dewasa ini adalah kemodernan, kecanggihan, kekerenan di lingkungan urban.

Nah, meskipun argumen ini dapat kita anggap masuk akal, ada juga beberapa singkatan yang sangat erat hubungannya dengan kemodernan dan kehidupan urban yang tidak cocok dengan argumen itu. Singkatan yang paling mencolok adalah HP yang jelas-jelas berasal dari bahasa Inggris "hand phone" tapi dilafalkan dengan logat Indonesia /ha-pe/. Tidak pernah kita dengar ada yang menyebutnya sebagai /eich-pi/. Mengapa? Karena bunyi H-nya Inggris agak susah bagi lidah Indonesia dan lidah non-Inggris lainnya? Atau ada alasan lain lagi?

Di Indonesia sendiri, pernah saya dengar ada yang menyebutnya alat komunikasi baru itu sebagai telepon genggam. Di telinga saya, sebutan ini terdengar cukup segar dan kreatif, tapi saya meragukan kemungkinannya dipakai meluas di Indonesia.

Pelafalan singkatan paling aneh yang pernah saya dengar di Indonesia berhubungan dengan salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta. Yang saya maksudkan adalah UII. Singkatan ini tentu saja berasal dari Universitas Islam Indonesia, yaitu bahasa Indonesia. Meski begitu, mahasiswa-mahasiswinya sering kali menyebut kampusnya dengan /yu-i-i/. Dengan kata lain, U-nya dilafalkan dengan logat Inggris sedangkan kedua I-nya dilafalkan dengan logat Indonesia. Ketika melafalkan semua huruf itu dengan logat Indonesia /u-i-i/, saya ditertawakan dan dianggap cukup kampungan. Kalau saya melafalkannya sepenuhnya dengan logat Inggris /yu-ai-ai/ tidak ada yang mengerti apa yang saya maksudkan.

Kasus UII tentu sangat berbeda dengan kampus lain di kota pelajar itu. UGM, UNY, dan IAIN, misalnya, semua dilafalkan sepenuhnya dengan logat Indonesia. Untung bagi mahasiswa IAIN sebab mereka pasti kesulitan kalau singkatan kampusnya harus diucapkan secara Inggris.

Kita dapat mengatakan bahwa singkatan-singkatan di Indonesia diucapkan dalam berbagai bentuk. Ada yang dilafalkan sepenuhnya dengan logat Inggris, ada yang pakai logat Indonesia saja, dan malah ada yang campur-campur. Saya tidak menganggap satu cara benar dan satunya salah, seperti dapat dikira sebagian orang. Saya hanya menarik perhatian para pembaca pada sebuah masalah kebahasaan yang saya anggap cukup menarik. Sebagai bahan perbandingan dapat saya kemukakan bahwa di negeri saya, Swedia, semua (?) singkatan yang berasal dari luar negeri sudah "menswedia". Maka, dengan penuh percaya diri kami mengatakan /de-ve-de/, ve-se-de/, dan /te-ve/. Mungkin saja orang lain menganggap kami semua kampungan.
--
Disalin dari tulisan André Möller dalam artikel "AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP", Kolom Bahasa, Kompas, 10 April 2004.

Pada artikel di itu, si penulis mengatakan bahwa di negara asalnya, Swedia, singkatan yang berasal dari luar negeri telah  "menswedia", dan saya rasa itu suatu hal yang bagus dan sekaligus bentuk kekonsistensian dalam berbahasa. Dalam hal pelafalan ini, saya rasa memang perlu ada penyeragaman dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (ataukah sebenarnya sudah ada?) Setelah itu hal ini harus terus-menerus disosialisasikan kepada publik baik melalui institusi-institusi pendidikan maupun media. Pastinya butuh waktu yang sangat lama untuk mengubah sebuah kebiasaan. Katakanlah pada akhirnya kita harus melafalkan segala singkatan dari bahasa asing dalam bahasa Indonesia sebagai bentuk standardisasi pelafalan, maka dalam konteks I.M.A. kemarin kita harus mengejanya /i-em-a/, daripada /ai-em-ei/. Saya pribadi setuju dengan André Möller.

25 Mei 2013

Fatin and the "Ghost Haters"

Saat ini hampir pukul 2.30 dini hari, tapi entah kenapa, rasa-rasanya jari-jari saya berasa "gatel" mau menulis sesuatu soal komentar-komentar banyak orang di linimasa (timeline) Twitter terkait hasil X-Factor Indonesia yang mengantarkan Fatin Shidqia Lubis sebagai juara di musim pertama ajang pencarian bakat ini. Di sini, saya mengakui bahwa saya memang menjagokan Fatin sebagai juara, tapi bukan berarti saya ikut mem-vote Fatin, baik melalui SMS maupun telepon. Menurut saya, orang-orang semacam saya ini jumlahnya sangat banyak di negeri kita, bahkan mungkin ketika kamu membaca tulisan ini, bisa jadi kita adalah orang yang setipe. Jadi, ya... saya ini adalah tipikal orang yang mendukung secara moril saja, tapi tidak secara materil. Ibarat kata, bantu doa saja.

Anyway, yang ingin saya ceritakan di sini adalah, saya merasakan keprihatinan yang sangat mendalam (diucapkan layaknya seorang presiden) terhadap kebanyakan sikap para pendukung Novita yang ternyata rata-rata tidak menyukai si Fatin. Apa alasannya? Well, banyak yang bilang Fatin itu kekanak-kanakan, gayanya agak centil, pecicilan, dianggap dibuat-buat, pura-pura polos, cengeng, dan yang paling penting, suaranya dianggap tidak sebagus Novita. Dalam hal ini, kebanyakan alasan-alasan di atas adalah pendapat wanita (kebetulan saya tidak menemukan banyak pria yang "berkicau" seperti itu). Saya (mungkin) bisa paham, tapi jika saya boleh sedikit berkomentar, menurut saya tidak ada yang salah dari sikap Fatin. Saya pribadi bisa melihat bahwa sikap Fatin memang jujur apa adanya, tidak dibuat-buat, dan karena itulah ia dianggap polos. Gayanya memang seperti, karena dia memang masih kecil, dia bahkan belum punya KTP, masih 16 tahun. Lagipula, seingat saya yang punya banyak teman wanita (jangan diartikan sebagai 'girlfriend') semasa SMA, memang begitulah tingkah anak SMA (zaman ini), bahkan hingga saat ini saya masih sering berhubungan dengan dunia anak SMA, dan begitulah mereka, banyak kok yang tingkahnya seperti Fatin (jika memang itu yang dipermasalahkan).

Ada pula yang membuat lelucon soal PKS, Fathonah, dengan Fatin. Maksudnya, terkait dengan cara berpakaian Fatin (berbusana Muslim) dan PKS identik dengan partai Islam dan kemiripan nama antara Fatin dan Fathonah. Sekalipun jelas itu hanya sekedar lelucon, tapi saya harus katakan bahwa lelucon itu sangat tidak cerdas (dan tidak bijak). Anyway, saya bukan pendukung parpol mana pun.

Sebenarnya, kemenangan Fatin ini sangat bisa diprediksi dari awal dan hal itu sangat ilmiah. Namun, saya tidak bisa menceritakannya di sini karena saya kira akan cukup sensitif untuk dibicarakan bahkan di dunia maya. Kamu bisa tanya pada saya secara personal jika memang mau tahu pendapat saya soal ini.

Lantas, bagaimana dengan kualitas vokal? Saya kira dalam hal ini kita tidak bisa mengatakan bahwa suara Fatin lebih bagus daripada Novita atau sebaliknya karena keduanya memiliki karakter yang berbeda. Saya pribadi tidak menganggap bahwa suara Fatin lebih baik daripada suara Novita. Saya pribadi juga selalu menyukai setiap penampilan Novita dari minggu ke minggu. Baik Fatin maupun Novita, kedua-duanya sama bagusnya dan karena itulah mereka masuk babak final, dan itu bukan karena "telinga" rakyat Indonesia tidak bagus atau tidak punya selera musik. Kadang saya suka gerah dengan pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa selera atau pendengaran orang Indonesia kurang bagus. Loh, kan saya juga orang Indonesia, yang berbicara begitu pun orang Indonesia, lagipula, saya tidak yakin apakah yang bersangkutan paham betul dengan yang ia maksud, jangan-jangan selera musik dialah yang tidak bagus. Namun, itu kan hanya opini dan kita semua bebas beropini. Hanya saja, mbok yo lebih diayak (dan dipikirkan) gitu loh omongannya.

Saya melihat bahwa Novita memiliki kekuatan vokal yang sangat luar biasa, suaranya sangat bagus, dan powerful. Jelas, kalau dibandingkan dari segi pengalaman dan kualitas vokal, saya akui bahwa Fatin memang tidak ada apa-apanya. Namun, itu bukan berarti Fatin jelek juga kan? Saya rasa biar bagaimanapun Fatin memiliki karakter vokal yang sangat khas, dan itu menjadi satu hal penting. Ditambah lagi dengan penjelasan Ahmad Dhani soal "apa sih X-Factor itu sebenarnya." Bisa jadi, di kompetisi menyanyi, seperti di Indonesia Idol, Novita bisa jadi juara, atau Shena, atau bahkan Agus. Namun, lagi-lagi di sini ada X-Factor atau "faktor X" yang diperhitungkan. Jadi, (menurut pengertian saya) kompetisi ini tidak bicara soal kualitas vokal (saja), tapi ada faktor lain yang membuat seseorang suka dengan si orang itu. Mungkin ini salah satu hal penting yang juga perlu kita garis bawahi.

Jika kita ingat, pada saat Indonesia Idol musim pertama, tiga besar kontestan kompetisi itu adalah Joy Tobing, Delon, dan Nania. Bagi saya pribadi, karakter vokal Nania jelas di atas Delon dan saya masih ingat betul itu. Delon, di lain hal, kerap menerima kritikan dari para juri. Namun, ternyata hasil voting pemirsa membawa Delon ke babak final bersama Joy Tobing. Di sini artinya, tidak peduli bahwa Nania memiliki kualitas suara di atas Delon, tapi Delon punya faktor lain yang membuatnya disukai oleh banyak orang, entah itu secara fisik atau hal-hal yang tidak bisa dijelaskan di mana itulah yang disebut sebagai "faktor X" tadi. Namun, itu tetap tidak berarti bahwa Delon tidak bisa bernyanyi kan? Dia jelas bisa bernyanyi walaupun secara karakter vokal kalah dengan Nania, tapi ternyata orang-orang lebih banyak menyukai Delon dibandingkan dengan Nania dan terkadang itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan, dan itu sah-sah saja.

Selain penjelasan-penjelasan di atas, di sini saya juga sangat menyesalkan mengapa orang kita, orang Indonesia, sangat kurang dalam mengapresiasi prestasi orang lain. Bukankah menang atau kalah dalam suatu kompetisi itu hal yang biasa? Lagipula, jika dilihat-lihat, hadiah yang diterima oleh ketiga pemenang bahkan tidak begitu jauh berbeda. Namun, kenapa orang-orang harus "mem-bully" orang yang bahkan tidak mereka kenal betul dengan terus mencemooh dan bersikap sinis. Oh, ayolah, kita semua bisa lebih baik dari itu.

Ditambah lagi, sebenarnya kita tidak berhak mengatakan satu hal buruk pun jika kita sendiri tidak pernah benar-benar memberikan dukungan nyata, selain tweet-tweet di Twitter. Jika kamu memang adalah seorang pendukung setia dari idola kamu dan kamu terus-menerus secara aktif mengirimkan dukungan kamu, entah melalui SMS ataupun telepon, atau bahkan minimal "pernah" mendukung melalui salah satu dari dua media tersebut maka kamu boleh kecewa dengan hasil yang terjadi malam ini. Namun, jika kamu bahkan tidak pernah satu kali saja memberikan dukungan yang berarti bagi idola kamu, kamu sama sekali tidak berhak untuk berbuat sinis pada si pemenang yang bukan merupakan jagoan kamu, bahkan tidak di Twitter.

Ayolah teman-teman, kita harus berubah menjadi bangsa, dan terutama, menjadi generasi yang mengapresiasi, bukan menjadi generasi pencemooh, pem-bully, skeptis, dan sinis terhadapa prestasi orang lain. Kita boleh suka dan tidak suka dengan seseorang, tapi rasa-rasanya tidak perlulah kita mengumbar-umbarkan ketidaksukaan kita itu dengan menjelek-jelekkannya. Tidakkah itu justru hanya memperburuk citra kita?

Kini saya sadar, dan sebenarnya sebagai pengingat diri saya pribadi, bahwa maju atau tidaknya bangsa ini ditentukan dari kita para generasi muda (kecuali kamu merasa tidak semuda itu). Jika kita terus menerus skeptis dan sinis terhadap sedikit saja prestasi yang bisa anak bangsa ini peroleh, niscaya kebangkitan negeri ini hanya suatu hal yang utopis, hanya dalam khayalan anak-anak atau orang-orang tua yang sudah tidak mampu lagi berbuat banyak.

Yang terakhir, sesungguhnya seni itu tidak untuk dinilai, tetapi untuk diapresiasi. Jika kita masih menilai bahwa si seniman A tidak lebih baik daripada si seniman B, itu artinya kita belum paham betul dengan seni itu sendiri. Saya bukan orang yang paling paham soal seni, tapi kira-kira begitulah yang saya tahu dan saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat.

   Add Friend

20 Mei 2013

Bangkit Itu: Jujur

Selamat pagi dan selamat Hari Kebangkitan Nasional! Kali ini saya mau berbagi pandangan mengenai makna Hari Kebangkitan Nasional bagi saya. Mungkin saya sudah cukup sering menulis banyak hal soal Indonesia, bahkan beberapa kali saya juga telah menulis soal Hari Kebangkitan Nasional. Namun, kali ini saya mencoba untuk menulis dari perspektif yang berbeda.

Hari Kebangkitan Nasional, sebagaimana yang (mungkin) telah kita ketahui bersama, adalah sebuah hari yang setiap tahun kita peringati sebagai hari di mana dimulainya pergerakan perlawanan bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda dengan penuh rasa dan semangat persatuan, kesatuan, serta nasionalisme demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang pada masa-masa sebelumnya sangat sulit dimunculkan. Terlepas dari pro dan kontra akan peringatan hari ini karena ada sebagian pihak yang masih mempertanyakan keabsahan mengenai lahirnya hari tersebutyang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo, tapi hari ini tetap layak mendapatkan perhatian khusus bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bicara soal kebangkitan bangsa (atau kebangkitan Indonesia), pada hakikatnya tidak berhenti setelah negeri ini merdeka. Kebangkitan bangsa ini tidak seharusnya berhenti ketika kita sudah merasa cukup mandiri sebagai bangsa (yang kenyataanya belum demikian). Perjuangan dan semangat kebangkitan bangsa seharusnya tetap dipupuk dalam setiap lubuk hati rakyat Indonesia dan terutama dalam hal ini adalah para pemuda. Namun, entah ini hanya perasaan saya saja, atau memang rasa-rasanya dewasa ini makna "kebangkitan bangsa/kebangkitan nasional", "nasionalisme", atau "cinta tanah air" itu telah mengalami pergeseran makna yang sangat jauh dari makna yang dimaksud pada saat pertama kali istilah-istilah tersebut diperkenalkan di negeri ini.

Sebagai contoh, saya melihat bahwa orang-orang Indonesia semakin hari semakin bangga dan senang mengenakan busana batik. Saya tidak hanya melihat orang-orang berbaju batik, tapi juga bercelana batik, memakai tas (bermotif) batik, topi batik, bahkan banyak "barang-barang lucu" bermotif batik, dan tentunya itu adalah suatu hal yang (sangat) bagus. Namun, jika kita telaah lagi, mugkinkah nasionalisme kita hanya sebatas pada mengenakan sesuatu yang bermotif batik? Saya sangat yakin bahwa seluruh orang Indonesia akan ikut "pasang badan" jika negara tetangga kita tiba-tiba dengan seenak jidatnya mengklaim bahwa batik adalah hasil budayanya (dan hal ini jelas pernah kerap terjadi). Lantas, bagaimana dengan menjaga kelestarian lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, misalnya? Bagaimana dengan menaati rambu-rambu lalu lintas dan menghormati seluruh pengguna jalan di jalan raya? Bagi para pelajar, bagaimana dengan mengerjakan ujian atau tes dengan jujur tanpa harus ikut serta dalam transaksi jual-beli kunci jawaban? Sebenarnya masih banyak bentuk sikap-sikap sederhana yang bisa menunjukkan rasa nasionalisme atau cinta kepada tanah air ini. Sayangnya, banyak orang di negeri ini yang kerap merasa dirinya jauh lebih nasionalis daripada orang lain hanya karena ia punya lebih banyak baju batik (misalnya), atau dia adalah pendukung sejati Tim Nasional Indonesia, atau dia lebih suka musik Indonesia daripada musik Barat, dan sebagainya. Saya pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, dan mungkin Anda juga pernah.

Di negeri ini terlalu banyak hal yang membuat saya merasa miris. Entahlah, mungkin lagi-lagi ini hanya perasaan saya, tapi pada Hari Kebangkitan Nasional kali ini saya ingin mengatakan bahwa Indonesia tidak akan bangkit selama rakyatnya tidak mau jujur. Jujur dalam hal apa pun. Korupsi adalah suatu bentuk pelanggaran kejujuran yang paling ekstrem. Namun, sebaiknya kita jangan terlalu terpaku bahwa hanya karena kita (merasa) tidak korupsi berarti kita orang jujur. Tentunya itu penting dan (mungkin) benar, tapi bentuk kejujuran itu sangat luas, termasuk jujur dalam berbisnis, berdagang, mengerjakan ujian, bekerja, bahkan jujur pada diri sendiri. Kejujuran juga tidak hanya berlaku selama di sekolah atau lingkungan institusi pendidikan (bagai para pelajar). Saya akui bahwa selama saya menjadi pelajar dulu, saya juga kerap tidak jujur, tapi yang terpenting adalah bahwa saya sadar betul (sekarang) bahwa itu bukanlah sifat yang baiksekalipun dengan dalih bahwa saya hanya sesekali berbuat tidak jujur.

Salah satu contoh ketidakjujuran di masa-masa sekolah/kuliah adalah sifat ingin cepat selesai dan ingin serba praktis yang mendorong saya (dan sebagian besar orang) melakukan tindakan "pembajakan" atas karya orang lain atau yang saat ini populer dikenal sebagai "copas" atau copy-paste. Dulu, saya sering merasa bahwa copy-paste bukanlah hal yang besar, toh, lagipula saya bukan tipe orang yang suka "copas" secara ekstrem, tapi tetap saja itu namanya menjiplak, membajak, atau sebutan yang lebih tidak mengenakkan: plagiat.

Tentunya, kita semua tidak mau dicap sebagi plagiator sekalipun kita sadar betul apa yang kita lakukan adalah bentuk plagiarisme (dan itu dilarang, dan kita tahu itu). Namun, sebagian orang tetap melakukannya (tanpa rasa bersalah). Namun, percayalah bahwa ketika kita sedang meng-copy-paste karya seseorang (sekalipun dengan alasan untuk kepentingan akademis), kita telah berlaku tidak jujur dan percayalah bahwa rasanya ketika seseorang tahu bahwa karya diplagiat itu sangat tidak mengenakkan. Saya bisa mengatakan begitu karena saya tahu betul bahwa beberapa artikel di blog saya pernah muncul di blog orang lain (dan betul-betul sama persis). Saya berusah mengerti bahwa si peng-copy mungkin kurang paham soal plagiarisme dan berniat untuk berbagi ilmu pengetahuan, tapi kan sebenarnya, orang itu cukup menyebarkan tautan/link yang mengarah ke blog saya. Namun, toh, ternyata orang-orang di luar sana tetap meng-copy dan tidak jarang "mengklaim" bahwa tulisan saya di blog berubah bentuk menjadi bagian dari karya atau tugas-tugas mereka di sekolah/kampus.

Akibat kejadian-kejadian ini, saya akhirnya berusaha "melindungi" karya-karya saya di blog ini dengan membuat blog ini sebagai blog "anti-copas". Tanpa bermaksud jahat, tapi saya lakukan ini demi "melatih" sifat kejujuran orang-orang Indonesia, termasuk saya pribadi, dan juga sebagi "peringatan" bagi orang-orang di luar sana agar lebih menghargai karya orang lain. Tentunya, orang-orang tetap boleh menjadikan blog saya sebagai suatu referensijika mereka mau (sekalipun referensi dari blog sangat tidak disarankan), tapi mereka tidak bisa meng-copy-paste kontennya. Namun, tampkanya, niat saya ini kerap dianggap buruk bagi banyak orang. Well, saya tidak marah pada mereka, hanya saja, saya merasa kasihan denga nasib bangsa ini. Bagaimana tidak, para pemuda di negeri ini bahkan sudah terbiasa dengan sifat tidak jujur dan merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang lazim dan itu sah-sah saja. Di bawah ini saya akan menampilkan beberap komentar yang masuk di beberapa artikel yang cukup populer di blog saya.

Bagi saya, komentar-komentar di atas adalah suatu bentuk pemandangan yang sangat menyedihkan. Saya tidak pernah merasa gusar dengan komentar-komentar seperti itu, hanya saja, komentar-komentar di atas mencerminkan kepribadian orang-orang Indonesia, terutama dalam hal ini adalah para pemudanya. Hanya karena saya membuat blog saya menjadi tidak bisa sembarangan di-copy, bukan berarti saya orang yang pelit ilmu loh. Kalau saya pelit ilmu maka logikanya saya tidak mungkin harus bersusah payah memasukkan tulisan-tulisan ke dalam blog ini. Yang saya lakukan murni untuk berbagi pengetahuan kepada seluruh orang yang memang membutuhkannya. Namun, perlu diingat bahwa biar bagaimanapun kita tetap harus menghargai karya orang lain. Saya minta maaf jika saya tidak bisa percaya bahwa orang-orang tidak akan meng-copy-paste tulisan-tulisan saya walau saya yakin masih banyak orang di luar sana yang antiplagiarisme.

Inilah negeri kita, Indonesia tercinta. Bagi saya, Hari Kebangkitan Nasional tidak perlu dirayakan dengan aksi atau pun demonstrasi. Well, tentu semua orang punya preferensi masing-masing, tapi menurut saya, atau menurut "bangkit Indonesia versi gue," hari ini seharusnya jadi hari "introspeksi nasional", di mana kita semua, orang Indonesia, saling introspeksi diri. Kita tanyakan pada diri kita masing-masing seberapa besarkah rasa nasionalisme kita kepada negara ini? Apa yang harus (atau sudah) kita lakukan demi terus mengobarkan semangat kebangkitan nasional? Kita sering dengar bahwa jangan tanyakan apa yang telah negara lakukan untuk saya, tapi tanyakanlah apa yang telah saya lakukan untuk negara. Di hari ini, saya akan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih jujur karena menurut saya negera ini tidak akan pernah beres selama rakyatnya belum jujur. Bagaimana dengan versi ideal Anda? Tentu kita akan punya pendapat yang beragam, tapi apa pun itu, semoga hal itu akan selalu menghasilkan kebaikan untuk negara ini. Selama Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2013. Dari Fauzan untuk Indonesia.