Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

25 Januari 2013

Analisis dan Penulisan Laporan Penelitian Kualitatif

Dalam penelitian kualitatif, proses pengolahan data yang dilakukan sangat berbeda dari penelitian kuantitatif. Kuantitatif identik dengan angka di mana dalam kualitatif peneliti lebih dituntut untuk mampu menerjemahkan data ke dalam bentuk deskripsi, narasi, cerita, dokumen tertulis dan tidak tertulis (gambar dan foto), maupun bentuk-bentuk non angka lainnya. Maka menjadi sebuah tantangan besar bagi peneliti untuk mampu menggali serta menginterpretasikan data-data yang sedemikian banyak tersebut agar tidak hanya menjadi tumpukan kertas yang sia-sia.

Permasalahannya kemudian adalah, dalam penelitian kualitatif teknik yang digunakan untuk mengukur validitas, reliabilitas, maupun siginifikansi perbedaan tidak memiliki prosedur yang jelas seperti halnya kuantitatif. Tidak ada aturan absolut, seperti yang dikatakan oleh Patton (1990), “In short, there are no absolute rules except to do the very best with your full intellect to fairly represent the data and communicate what the data reveal given the purpose of the study”.

Menurut Paton lagi, meski tidak ada pedoman yang jelas, tetap saja peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur analisisnya sejujur serta selengkap mungkin. Hal terpenting di dalam penelitian kualitatif adalah bagaimana mengembangkan keluwesan berpikir dan kepekaan teoritis dalam diri peneliti.

Kepekaan Teoritis untuk Meminimalkan Bias

Kepekaan teoritis sangat dibutuhkan oleh peneliti dalam menganalisis data dalam mengupayakan pengembangan teori. Uraian mengenai kepekaan teoritis berulang kali dikatakan oleh Strauss dan Corbin (1990), dan dianggap sangat penting dalam pengembangan teori dari dasar.

Kepekaan teoritis itu sendiri merupakan kualitas personal yang dimiliki peneliti, yang mengindikasikan kesadaran tentang detail, lipatan-lipatan, dan kompleksitas makna dari data. Intinya kepekaan teoritis mengacu pada kemampuan untuk memperoleh ‘insight’, memberi makna pada data, memahami dan memilah mana yang esensial dan mana yang tidak tentang data. Dengan sensitivitas ini maka memungkinkan peneliti untuk mengembangkan teori yang berdasarkan pada data, padat secara konseptual, dan terinspirasi secara baik. Satu hal terpenting lainnya adalah peneliti dituntut untuk mampu bersikap terbuka.

Berikut ini adalah manfaat dari adanya kepekaan teoritis (Strauss & Corbin, 1990):
  • Memungkinkan peneliti keluar dari keterbatasan pemikiran entah karena keterbatasan kepustakaan teknis atau karena keterbatasan pengalaman personal yang dimilikinya.
  • Membantu peneliti untuk berpikir lebih dalam dan luas terhadap gejala terntentu.
  • Merangsang proses induktif.
  • Menghindarkan kemungkinan data diperlakukan for granted (terabaikan, tidak diolah lebih lanjut karena dianggap tidak mengandung informasi khusus atau penting).
  • Memungkinkan terjadinya klarifikasi dan upaya mengungkap fakta di balik asumsi-asumsi.
  • Membantu peneliti menangkap apa yang disampaikan oleh objek peneliti serta kemungkinan makna-makna yang terkandung dalam pesan (tersurat maupun tersirat).
  • Menghindarkan peneliti dari kecenderungan mengambil keputusan terlalu cepat.
  • Memaksa terus berkembangnya pertanyaan-pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan jawaban, yang membantu dalam pendalaman pemahaman dari data.
  • Memungkinakan peneliti mengungkapkan dugaan-dugaan dan kesimpulan-kesimpulan sementara yang masih tetap harus dibuktikan ketepatannya.
  • Memungkinkan dilakukannya eskplorasi dan klarifikasi terhadap dugaan-dugaan dan kesimpulan yang dikembangkan.

Mengembangkan Kepekaan Teoritis

Dari manfaat yang telah dijelaskan di atas, maka Strauss dan Corbin (1990) mengusulkan teknik-teknik untuk meningkatkan kepekaan teoritis:
  • Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan
    Membuka pemahaman terhadap data dengan memikirkan berbagai kategori potensial, kualitas yang dimiliki serta dimensi-dimensinya. Pertanyaan dasar yang perlu diajukan sederhana: What? Who? When? Where? How? How much? Why?
  • Menganalisis kata, frase, kalimat
    Analisis kata, frase, dan kalimat ini penting sifatnya untuk membantu peneliti mengidentifikasi makna-makna yang muncul dari data, baik yang diasumsikan, ataupun yang sengaja dibentuk. Analisis kata, frase, dan kalimat memungkinkan peneliti mengeluarkan asumsi mengenai apa yang terkandung dalam data, sekaligus memaksanya untuk mengevaluasi dan mempertanyakan asusmsinya tersebut (Staruss & Corbin, 1990).

Analisis Tahap Lanjut Melalui Pembandingan

Menerapkan perbandingan merupakan bagian esensial dari identifikasi dan kategorisasi konsep. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah teknik flip-flop (Strauss & Corbin , 1990). Teknik ini merupakan teknik di mana sebagai peneliti dalam melihat dan memahami sebuah konsep tertentu juga membandingkannya dengan konsep yang menjadi oposisi. Seperti ketika sedang memikirkan konsep dominasi, maka peneliti juga harus membandingkannya dengan konsep kepatuhan.

Strauss dan Corbin juga menyarankan dilakukannya pembandingan sistematis terhadap dua atau lebih fenomena yang tertampilkan dalam data, baik terhadap gejala-gejala yang dekat atau memiliki kesamaan karakteristik tertentu, ataupun terhadap gejala-gejala yang dianggap berjauhan atau tidak memiliki kesamaan karakteristik apapun.

Organisasi Data

Mengorganisasikan data sebagai tahap awal dalam mengolah dan menganalisis data harus dilakukan secara rapi, sistematis dan selengkap mungkin. Menurut Highlen dan Finley (1996) organisasi data yang sistematis sangat membantu peneliti untuk (a) memperoleh kualitas data yang baik, (b) mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta (c) menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. Berikut ini hal-hal yang perlu disimpan dan diorganisasikan:
  1. Data mentah (catatan lapangan, kaset hasil rekaman)
  2. Data yang sudah diproses sebagiannya (transkripsi wawancara, catatan refleksi peneliti)
  3. Data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode spesifik (data terdiri dari beberapa tahapan pengolahan)
  4. Penjabaran kode-kode dan kategori-kategori secara luas melalui skema
  5. Memo dan draft insight untuk analisis data (refleksi konseptual peneliti mengenai arti konspetual data)
  6. Catatan pencarian dan penemuan (search and retrieval records), yang disusun untuk memudahkan pencarian berbagai kategori data
  7. Display data melalui skema atau jaringan informasi dalam bentuk padat/esensial
  8. Episode analisis (dokumentasi dari langkah-langkah dan proses penelitian)
  9. Dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis
  10. Daftar indeks dari semua material
  11. Teks laporan (draft yang terus menerus ditambah dan diperbaiki)

Koding dan Analisis

Penelitian sosial secara sederhana sebenarnya terdiri dari 3 tahapan utama. Pertama, tahap persiapan. Kedua, tahap pengumpulan data. Terkahir adalah tahap analisis dan penyusuan laporan (penyelesaian). Pada tahap persiapan, peneliti sosial perlu merumuskan secara rinci permasalahn atau realitas sosial yang akan diteliti beserta penjelasan secara gamblang mengapa penelitian yang dilakukan menjadi sangat penting. Di tahap berikutnya, peneliti harus menentukan metodologi melalui mana jawaban atas rumusan masalah yang dikemukakan di muka akan ‘dicari’ dan ditemukan. Manakala metodologi sudah dipilih, maka penelitian lapangan dapat diselenggarakan.

Tentu saja, setelah turun lapangan, setiap peneliti akan mendapat data-data mentah dari informan. Tugas mereka selanjutnya adalah menganalisis dan ‘mentransformasi’ data mentah tersebut menjadi temuan lapangan yang bermakna. Setelah mensistematisasi data, berikutnya peneliti perlu menganalisis hingga mendapat hasil akhir. Hasil akhir inilah yang kemudian dilaporkan kepada masyarakat. Analisis merupakan bagian yang cukup penting.

Menurut Poerwandari (2009), dalam tahap analisis pada penelitian kualitatif terdapat beberapa langkah yang dilakukan. Awalnya, peneliti perlu memproduksi transkrip dari wawancara atau FGD yang dilakukannya. Kemudian, dari transkrip tersebut peneliti melakukan koding. Proses pengkodean bagian-bagian tranksip untuk mendapat padatan faktual, tema, kategori, untuk kemudian ditelaah lebih lanjut. Data mentah dari koding lalu kembali ditransformasi dan disistemasi secara logis hingga mencapai hasil akhir, yakni model atau teori tertentu.

Di tahap pembuatan transkrip dan koding, Poerwandari (2009) memberikan sejumlah tips bagi peneliti, antara lain:
  • Bubuhkan nomor secara berurutan pada baris atau paragraf yang ada dalam transkrip untuk mempermudah pencarian;
  • Simpan file transkrip dengan format nama yang mudah dikenali;
  • Siapkan kolom yang cukup lebar di bagian kanan dan kiri transkrip untuk memuat catatan soal padatan faktual dan analisis awal.
Usai semua transkrip dibuat, maka berikutnya adalah proses menelaah (analisis). Poerwandari (2009) mengajukan analisis tematik sebagai dasar analisis kualitatif. Analisis tematik dapat diartikan sebagai sebuah cara menangkap pola dari kumpulan informasi awal yang diperoleh. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan realitas sosial tertentu. Menurut Boyatzis yang dikutip Poerwandari (2005), agar analisis data kualitatif dapat dilakukan dengan baik, maka seorang peneliti kualitatif perlu: (1) memiliki kemampuan mengenali pola dalam informasi yang terkesan acak; (2) kemampuan melakukan perencanaan dan penyusunan sistem terhadap data; (3) memiliki pengetahuan lain yang mendukung proses analisis (tacit knowledge); (4) mempersepsi kompleksitas kognitif mencakup kemampuan mempersepsi sebab-sebab ganda atau variabel yang berbeda; (5) empati dan obyektivitas sosial.

Pada analisis awal dengan analisis tematik, peneliti harus bisa menemukan tema-tema dan kategori dari transkrip wawancara yang sudah dikoding. Saran Poerwandari, peneliti perlu terus berulang membaca transkrip berulang-ulang dan tidak terlalu memerhatikan informasi yang terlalu detil yang sebenarnya tidak terlalu relevan. Selain dengan analisis tematik, peneliti kualitatif dapat menerapkan analisis data menurut teori dasar (Strauss dan Corbin dalam Poerwandari, 2009). Metode analisis ini membagi langkah koding menjadi 3, yakni koding terbuka, koding aksial, dan koding selektif.

Koding terbuka secara singkat ialah proses identifikasi kategori, properti, dan dimensi dari informasi mentah yang didapat. Di sisi lain koding aksial ialah tahap mengembangkan koneksi (hubungan) antarkategori, atau antara kategori dengan subkategori. Setelah terbangun koneksi antara kategori dengan kategori atau kategori dengan subkategori, pada koding selektif dilakukan pemilihan kategori yang paling mendasar dan secara sistematis menghubungkannya dengan kategori-kategori yang lain dan memvalidasi hubungan tersebut (Strauss dan Corbin dalam Poerwandari, 1999).

Pengujian Terhadap Dugaan

Dugaan adalah kesimpulan sementara. Dugaan yang berkembang tersebut harus terus dipertajam, diuji ketepatannya. Untuk meyakini temuannya, peneliti juga perlu mencari data yang memberikan gambaran berbeda dari pola-pola dan tema-tema yang muncul. Gambaran berbeda ini disebut juga sebagai kasus-kasus negatif.

Agar pengujian terhadap dugaan sementara lebih mudah, peneliti dapat melakukan:
  1. menuliskan pokok-pokok pertanyaan penelitian di berbagai tempat yang biasa dilihat untuk memungkinkan peneliti selalu fokus pada analisis yang sesuai tujuan penelitiannya,
  2. membandingkan tema dan sub-sub tema yang dikembangkan dengan kembali mempelajari sumber data yang ada, serta
  3. menggunakan skema sederhana untuk mendeskripsikan kesimpulannya (Highlen dan Finley, 1996).
Pengujian dugaan berkaitan erat dan bertumpu pada upaya mencari penjelasan berbeda mengenai data yang sama. Berbagai perspektif harus disetarakan dalam koding sehingga analisis lebih luas serta memungkinkan pengecekan bias yang tak disadari peneliti. Minimalisasi bias dapat dilakukan dengan cara:
  1. melakukan koding data dengan perspektif teoritis berbeda-beda,
  2. koding data dilakukan secara terpisah oleh beberapa peneliti dengan latar belakang berbeda, dan
  3. meminta partisipan memberikan umpan balik terhadap dugaan-dugaan sementara yang dikembangkan peneliti.
Bila peneliti melihat perbedaan-perbedaan pandangan, mereka perlu kembali ke data, mencari fakta-fakta yang dapat menjelaskan perbedaan tersebut sekaligus mempertajam fokus analisis mereka (Highlen dan Finley, 1996). Perhatian pada data berbeda dan kasus negatif menjadi sangat penting karena akan menghindari interpretasi tergesa-gesa terhadap data kualitatif yang kompleks.

Hal-hal Penting Sebagai Strategi Analisis

Analisis terhadap data sangat dipengaruhi kejelasan tentang apa yang ingin diungkap peneliti melalui pengamatan. Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk mempresentasikan data observasi seefektif mungkin sesuai tujuan penelitian:
  1. Mempresentasikan secara kronologis peristiwa yang diamati, dari awal hingga akhir.
  2. Mempresentasikan insiden-insiden kritis (key events), berdasarkan urutan kepentingannya.
  3. Mendeskripsikan setiap setting yang berbeda sebelum mempresentasikan gambaran dan pola umumnya.
  4. Memfokuskan analisis dan presentasi pada individu atau kelompok, bila memang menjadi unit analisis primer.
  5. Mengorganisasi data dengan menjelaskan proses-proses yang terjadi (seleksi, pengambilan keputusan, proses komunikasi, dan lain-lain).
  6. Memfokuskan pengamatan pada isu-isu kunci yang diperkirakan sejalan dengan upaya menjawab pertanyaan penelitian
Patton (1990) menjelaskan, proses analisis dapat melibatkan konsep yang muncul dari kata-kata responden sendiri (indigenous concepts) maupun konsep yang dipilih peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis (sensitizing concepts). Kata-kata kunci dapat diambil dari istilah yang diapakai responden sendiri, yang oleh peneliti dianggap benar-benar tepat dan dapat mewakili fenomena yang dijelaskan. Sementara itu, konsep yang diambil peneliti umumnya adalah konsep-konsep yang telah dikenal dan digunakan dalam literatur atau disiplin ilmu terkait. Misal, penggunaan istilah viktimisasi yang sebelumnya digunakan untuk melabel fenomena di mana penduduk yang tidak berdosa menjadi korban kebrutalan polisi. Conroy (1987) menemukan, istilah viktimisasi ternyata dapat sangat membantu untuk menjelaskan bahwa polisi sesungguhnya juga menjadi korban sistem yang melingkupi mereka.

Peneliti perlu pula mempertimbangkan apakah akan melakukan analisis kasus satu demi satu secara mendalam atau melewati tahapan itu dan langsung melakukan analisis antarkasus (cross-cases analysis). Analisis antarkasus akan lebih cepat dan mudah dilakukan bila pengambilan data melalui wawancara terstruktur. Dalam situasi demikian, peneliti dapat mengelompokkan jawaban-jawaban dari individu berbeda terhadap pertanyaan yang sama. Sementara itu, untuk analisis satu demi satu kasus, peneliti perlu terlebih dulu membuat laporan studi kasus secara tertulis untuk tiap orang yang diwawancara. Setelah itu, bila diperlukan, peneliti dapat melakukan analisis antarkasus (Patton, 1990).

Peneliti disarankan untuk melakukan studi kasus terhadap masing-masing individu terlebih dulu bila fokus penelitiannya variasi individu-individu. Misal, bila hal yang diteliti adalah hal-hal yang melatarbelakangi perilaku, peneliti perlu melakukan studi terhadap masing-masing kasus dulu sebelum melakukan analisis antarkasus. Namun, bila fokus penelitian terletak pada program, bukan individu, seperti untuk mengevaluasi program, tampaknya lebih tepat bila peneliti langsung mengelompokkan jawaban terhadap pertanyaan yang sama dan melakukan analisis antarkasus.

Pendekatan studi kasus dan analisis antarkasus sering kali saling berdampingan dalam suatu penelitian. Dalam menentukan mana yang akan dipilih, Patton (1990) menyarankan untuk mempertimbangkan terlebih dulu mana yang dianggap akan memberikan hasil yang lebih baik sesuai dengan tujuan penelitian. Bila fokusnya kedalaman dan komprehensivitas isu yang diteliti, analisis lebih baik dilakukan terhadap satu demi satu kasus terlebih dulu. Setelah itu, peneliti baru beranjak untu melakukan analisis antarkasus. 

Tahapan Interpretasi

Meskipun dalam penelitian kualitatif istilah ‘analisis’ dan ‘interpretasi’ sering digunakan bergantian, Kvale (1996) mencoba membedakan keduanya. Menurutnya, interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif  mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Proses interpretasi memerlukan distansi (upaya mengambil jarak) dari data, dicapai melalui langkah-langkah metodis dan teoritis yang jelas, serta melalui dimasukkannya data ke dalam konteks konseptual yang khusus.

Kvale (1996) menguraikan konteks-konteks situasi  dan komunitas validasi dalam mana muncul interpretasi yang berbeda.

Tabel 1
Konteks interpretasi dan komunitas validasi (Kvale, 1996)
Konteks Interpretasi
Komunitas Validasi
Pemahaman diri (self-understanding)
Subyek yang diwawancara
Pemahaman biasa yang kritis (critical common-sense understanding)
Publik umum
Pemahaman teoritis
 Komunitas peneliti

Konteks interpretasi pemahaman diri terjadi bila peneliti berusaha memformulasikan dalam bentuk lebih padat (condensed) apa yang oleh subyek penelitian sendiri dipahami sebagai makna dari penyataan-pernyataannya. Interpretasi tidak dilihat dari sudut pandang peneliti, melainkan dikembalikan pada pemahaman diri subyek penelitian, dilihat dari sudut pandang dan pengertian subyek penelitian tersebut.

Konteks interpretasi pemahaman biasa yang kritis terjadi bila peneliti beranjak lebih jauh dari pemahaman diri subyek penelitiannya. Peneliti mungkin akan menggunakan kerangka pemahaman yang lebih luas daripada kerangka pemahaman subyek, bersifat kritis terhadap apa yang dikatakan subyek, baik dengan memfokuskan pada ‘isi’ pernyataan maupun pada ‘subyek’ yang membuat pernyataan.

Konteks interpretasi pemahaman teoritis adalah konteks paling konseptual. Pada tingkat ketiga ini, kerangka teoritis tertentu digunakan untuk memahami pernyataan-pernyataan yang ada sehingga dapat mengatasi konteks pemahaman diri subyek atau pun penalaran umum.

Ketiga tingkatan interpretasi di atas menjelaskan bahwa upaya melihat validasi interpretasi juga harus dilakukan dalam tiga komunitas yang berbeda. Interpretasi mengacu pada ‘pemahaman diri’ subyek penelitian tersebut. Interpretasi ‘pemahaman umum’ harus divalidasi dalam rangka pemahaman umum masyarakat atau kelompok, misalnya melalui konsensus atau pemahaman bersama. Sementara itu, interpretasi di tingkat pemahaman teoritis harus dilihat misalnya melalui apakah teori tersebut cocok untuk bidang yang dipelajari, apakah interpretasi yang dilakukan telah mengikuti logika teori yang dipakai dan sebagainya (Kvale, 1996).

Penulisan Laporan Penelitian

Berbeda dengan penelitian kuantitatif-positivistik yang memiliki patokan relatif baku sejak awal penyusunan proposal, pengambilan data, pengolahan dan analisis, hingga ke penyusunan laporan, penelitian kualitatif memang sangat sulit dipatok dalam aturan baku. Ada beragam bentuk laporan penelitian kualitatif. Ada laporan yang murni deskriptif, hanya menyimpulkan fakta-fakta tanpa konseptualisasi. Yang juga sering ditemui adalah laporan yang menggunakan pendekatan analisis deduktif-positivistik. Dalam bidang psikologi, model ini sering kali ditemukan. Yang dilakukan peneliti adalah menetapkan kotak-kotak kategori secara kaku sebelum data terkumpul atau dianalisis.

Selain itu, ada pula model penelitian kualitatif yang bersibuk diri dengan konsep-konsep atau jargon-jargon, sedemikian rupanya sehingga sepertinya juga menjadi jauh dari realitas yang ditunjukkannya. Meski model ini menjadi kecenderungan sebagai peneliti kualitatif masa kini, cirri khas penelitian akademik yang baik adalah pada kemampuannya menjembatani data (empiris, atau hal yang berada pada tingkatan lebih konkret) dengan konseptualisasinya, untuk suatu tujuan yang dirumuskan secara jelas.

Yang kadang, tetapi jarang dilakukan adalah melakukan penelitian dan membuat pelaporan dengan menggunakan kerangka teori kuat. Model ini dapat menjadi model yang sangat baik, bila peneliti memiliki (1) kepekaan dan keterampilan tinggi dalam pengambilan data; (2) pemahaman teoritis yang kuat; dan sekaligus (3) keterbukaan dan kemampuan untuk tidak terjebak dalam teori-teori yang dipelajarinya itu. Kualitas peneliti yang demikian akan memungkinkan pengambilan data kualitatif yang mendalam dan kompleks, sekaligus analisis, yang meski deduktif tidak berhenti pada pembuktian dan verifikasi.

Meski penelitian kualitatif banyak sekali mengambil insight dari pendekatan teori-teori dasar yang dikembangkan Glaser dan Strauss, model pelaporan yang murni grounded jarang ditemui. Ini karena pendekatan ini sangat sulit dan memerlukan waktu refleksi dan analisis yang panjang. Kekhasan pendekatan ini adalah induksi yang sifatnya sekaligus sangat konseptual untuk membangun teori.

Yang cukup sering dilakukan adalah menggabungkan induksi dan deduksi untuk membangun pemahaman konseptual. Lewat cara ini, peneliti mengembangkan kategori-kategori analisis berdasarkan gabungan dari pertanyaan penelitian, teori dan penelitian-penelitian terdahulu, serta tentu saja, dan yang utama, dari data. Dengan demikian, kekayaan fenomena dapat dipotret dan ditampilkan seutuh mungkin.

Dalam penelitian yang memfokuskan pada telaah untuk mengembangkan teori formal, yang dilakukan adalah menggabungkan empiris dan refleksi konseptual. Model ini dapat menjadi penelitian yang sanagt baik bila peneliti memiliki kompetensi menggabung telaah pada lapisan-lapisan berbeda. Model ini belum banyak dilakukan, tetapi merupakan pendekatan yang perlu terus-menurus dikembangkan khususnya untuk tingkatan akademik yang tinggi.

Tabel 2
Ringkasan Model Laporan Penelitian Kualitatif
Murni deskriptif – penyimpulan faktual saja, tidak berteori
·      Sering ditemui
·      Sering dianggap sebagai ciri atau bentuk satu-satunya dari penelitian kualitatif
·      Sebenarnya merupakan model paling sederhana dari pendekatan kualitatif
Analisis deduktif-positivistik: memasukkan dalam kotak-kotak kategori kaku yang ditentukan dari awal
·      Cukup sering dilakukan, khususnya oleh peneliti berlatar belakang kuantitatif-positivistik
·      Tidak dianjurkan. Menghilangkan kekayaan data, gagal menampilkan kekuatan pendekatan kualitatif
“Olah wacana”, banyak jargon dan konsep yang sulit dikembalikan ke realitas konkret lapangan
·      Kadang dilakukan peneliti yang sangat lekat dengan teori-teori post-modern
·      Dikhawatirkan kurang bermanfaat karena sesungguhnya memiliki karakteristik sama dengan pendekatan positivistik yang berjarak, reduktif, jauh dari realitas
Kerangka teori kuat, dengan analisis deduktif yang melampaui uji hipotesis
·      Cukup sering dilakukan kelompok dengan tradisi kuantitatif atau positivistik
·      Dapat menjadi penelitian kualitatif yang baik bila teori memang komprehensif, pengambilan data mendalam, dan peneliti tetap bersikap terbuka
Menggabungkan induksi-deduksi untuk membangun pemahaman, fokus pada pengungkapan kekayaan data
·      Sering dilakukan, menjadi ciri umum penelitian kualitatif yang dianggap baik oleh peneliti kualitatif pada umumnya
·      Menjadi model yang diperkirakan banyak memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu
Grounded theory – induksi yang sifatnya sangat konseptual untuk membangun teori
·      Jarang dilakukan karena sulit dan memerlukan refleksi sangat dalam
·      Merupakan tantangan untuk peneliti kualitatif, merupakan model penting untuk penelitian akademik berbobot
Telaah untuk mengembangkan teori formal – menggabungkan empiris dan refleksi konseptual
·      Belum banyak dilakukan, tetapi menjadi pendekatan yang penting khususnya untuk penelitian akademik yang berbobot
·      Mensyaratkan kompetensi peneliti dalam menelaah lapisan-lapisan berbeda

Pada akhirnya, tampaknya isunya bukanlah pada apakah ada perbedaan model laporan penelitian yang baik di bidang ilmu atau kajian berbeda-beda. Isunya adalah pada sejauh mana kita sungguh-sungguh menyadari karakteristik dan kekuatan-kekuatan khas dari penelitian kualitatif, dan sejauh mana kita sungguh-sungguh mencoba memanfaatkan kekuatan itu dalam upaya memahami realitas sosial sekaligus mengembangkan ilmu.

Teori Computer Mediated Communication (CMC)

Computer-Mediated Communication (CMC) adalah jenis-jenis program aplikasi yang digunakan untuk melakukan komunikasi antara dua orang atau lebih untuk berinteraksi melalui komputer yang berbeda dan berada di tempat yang berbeda pula. Intinya adalah bagaimana dua orang atau lebih dapat berkomunikasi satu dengan lainnya dengan menggunakan alat pendukung komputer melalui program aplikasi yang ada pada komputer tersebut[1].

Penelitian telah berasumsi bahwa CMC tidaklah netral; CMC dapat menyebabkan bermacam perubahan dalam bagaimana manusia dapat berkomunikasi satu sama lain, dan juga mempengaruhi pola komunikasi serta jaringan sosial mereka (misalnya, Fulk & Collins-Jarvis, 2001). Dengan kata lain, teori CMC ini mengarahkan pada efek sosial. Rice & Gattiker (2001) menyatakan bahwa CMC berbeda dari komunikasi tatap muka langsung. CMC membatasi pada level sinkronisasi dari interaksi, yang memungkinkan terjadinya reduksi di dalam interaksi. Lebih jauh lagi, CMC dapat mengatasi penjajahan atas jarak dan waktu[2].

Konsep penting  yang ada dalam teori ini adalah presence, menggambarkan bagaimana kondisi psikologis di mana obyek virtual yang dibentuk oleh komputer diperlakukan seperti obyek nyata. Selain itu juga ada konsep social presence, yaitu kondisi di mana aktor sosial mendapatkan pengalaman sesuai dengan isyarat atau lambang-lambang sosial yang terdapat dalam berbagai media komunikasi[3].

Sherry Turkle, seorang ahli psikologi menjelaskan, kekuatan komputer untuk memberikan efek ini tidak datang dari faktor eksternal saja, melainkan juga dari apa yang dipelajari dan didapat oleh pengguna saat berinteraksi dengan komputer. Kecanduan akan muncul ketika pengguna merasa mampu menjelajah dunia melalui komputer, mampu mencapai ilusi kedekatan dan ketertarikan dengan komputer secara intim, mampu mengekspresikan diri dengan caranya sendiri serta mampu mendapatkan pembenaran atau justifikasi terhadap dirinya[4].

Media Exposure Theory

Media exposure atau terpaan media menurut Rosengren (1974), adalah penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan (Rakhmat, 2004, p.66).  Selain itu, terpaan media dapat diukur melalui frekuensi, durasi, dan atensi dari individu.

Setiap media memiliki efek atau dampak yang berbeda-beda. Menurut Amri Jhi dalam bukunya Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga, ada tiga jenis dimensi efek komunikasi massa, yaitu kognitif, afektif, dan konatif.  Kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar, dan tambahan pengetahuan. Efek afektif berhubungan dengan emosi, perasaan, dan sikap, sedangkan konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu.

Terpaan media tidak hanya dapat diteliti dari apakah seseorang dekat dengan kehadiran media tersebut, tetapi juga soal keterbukaan orang tersebut terhadap pesan-pesan media tersebut. Terpaan media merupakan kegiatan mendengarkan, melihat, dan membaca pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok.

Bahasa dan Budaya

Seperti halnya banyak kata-kata lainnya yang kita pikir kita paham, istilah language (bahasa) ternyata jauh lebih rumit dan kompleks dari yang mungkin kita bayangkan. Bahasa, yang pasti kita temukan di berbagai budaya di seluruh dunia, adalah sebuah sistem simbolik dari bunyi-bunyi yang – ketika diletakkan bersamaan mengacu pada satu set pertauran tertentu – menyampaikan makna pada pengguna bahasa itu sendiri.
  •  Bahasa – dan kapasitas untuk menggunakan simbol-simbol – merupakan suatu tanda resmi tersendiri dan unik dari umat manusia.
  • Saat ini ada sekitar 6.000 bahasa di dunia yang berlainan, ada banyak bahasa dari masyarakat lingkup kecil yang saat ini hampir mati atau bahkan punah dalam status yang sangat mengkhawatirkan.
  • Walaupun nonmanusia (hewan) juga menggunakan komunikasi, sistem komunikasi manusia sangat unik dalam beberapa hal tertentu, yaitu
    1. Sistem komunikasi manusia terbuka; dalam arti, mereka mampu mengirim banyak pesan dalam jumlah yang tak terhingga.
    2. Manusia adalah "hewan" yang tidak terbatas hanya pada masa kini, mereka bisa berbicara mengenai apa yang terjadi di masa lalu atau apa yang mungkin terjadi di masa depan.
    3. Komunikasi manusia lebih diteruskan atau ditransmisikan secara besar melalui tradisi daripada pengalaman manusia sendiri.
  • Walaupun meniru perkataan orang dewasa cukup berpengaruh terhadap kemahiran berbahasa anak-anak, banyak linguist yang setuju bahwa setiap manusia terlahir dengan garis besar atau cetak biru tata bahasa yang membuat setiap anak-anak menguasai sistem tata bahasa tertentu mereka sendiri.
  • Seperti aspek budaya lainnya, bahasa berubah dari waktu ke waktu, baik dari sumber internal maupun sumber eksternal. Para linguist historis ingin mengetahui tidak hanya bagaimana bahasa berubah, tetapi juga mengapa mereka berubah.
  • Meskipun disadari bahwa ada variasi-variasi struktural pada berbagai bahasa di dunia, tapi tidak ada cukup bukti yang mendukung atas tuntutan bahwa beberapa bahasa kurang efisien dalam mengekspresikan ide-ide abstrak daripada bahasa lainnya.
  • Budaya dapat mempengaruhi secara luas bahwa kosakata dalam bahasa apa pun cenderung menekankan kata-kata penting yang adaptif dalam budaya tersebut. Jadi, sebagai contoh, suatu kosakata khusus dalam bahasa Inggris-Amerika menghubungkan kata “automobile” yang langsung terhubung dengan sukukata budaya yang orang-orang Amerika Utara interpretasikan kepada suatu bagian teknologi tertentu.
  • Menurut hipotesis Sapir-Whorf, bahasa diajarkan untuk mempengaruhi persepsi. Bahasa, menurut Sapir dan Whorf, tidak hanya merupakan suatu sitem komunikasi, tetapi juga membangun kategori-kategori mental yang mempengaruhi cara bagaimana orang mengkonseptualkan dunia nyata.
  • Bahasa memvariasikan secara luas berbagai istilah kosakata, sistem tata bahasa, dan syntax, mereka juga bervariasi dalam dalam hal keistimewaan atau ciri-ciri gaya linguistik, seperti directness dan tolerance for silence.
  • Para sosiolinguistik tertarik dalam mempelajari bagaimana orang-orang menggunakan bahasa tergantung pada  situasi sosial atau konteks di mana mereka berada.
  • Komunikasi manusia sama pentingnya dengan bahasa. Sebagian besar pesan-pesan yang dikirim oleh manusia dikirim dan diterima tanpa menggunakan kata-kata. Bahasa nonverbal manusia – sama halnya seperti bahasa, dipelajari dan secara budaya berubah-ubah – bisa berupa ekspresi wajah atau raut muka, gesture tangan, kontak mata, sentuhan, dan postur.
  • Bahasa nonverbal sangat penting karena membantu kita dalam meng-interpretasikan pesan-pesan linguistik. Faktanya, hampir lebih dari 70 persen dari seluruh pesan yang dikirim dan diterima oleh manusia adalah bahasa nonverbal.
  • Seluruh bahasa manusia dibentuk dalam dua cara:
    1. Setiap bahasa memiliki struktur phonologis (phonological structure) yang terdiri dari peraturan-peraturan yang memerintah bagaimana bunyi-bunyi dikombinasikan untuk membawa makna.
    2. Setiap bahasa memiliki struktur tata bahasa mereka sendiri yang terdiri atas prinsip-prinsip yang memerintah bagaimanan morfem dibentuk menjadi kata-kata (morfologi) dan bagaimana kata-kata diatur menjadi frase-frase dan kalimat-kalimat (syntax).
  • Struktur bahasa:
1.    Phonology
Setiap bahasa menggunakan sejumlah bunyi/suara dengan jumlah tertentu, disebut fonem, yang merupakan unit bunyi/suara terkecil yang menyimbolkan perbedaan dalam makna.
2.    Morphemes
Morfem adalah dua atau lebih fonem yang dikombinasikan menjadi suatu bentuk.
3.    Grammar
Ketika orang-orang mengirim pesan-pesan linguistik dengan cara meng-kombinasikan bunyi/suara menjadi fonem, fonem kemudian menjadi morfem, dan morfem menjadi kata-kata, sebenarnya orang-orang sedang melakukan suatu set peraturan yang kompleks/rumit. Peraturan-peraturan ini, yang antara satu bahasa dengan bahasa lainnya memiliki keunikan tersendiri, disebut tata bahasa (grammar) yang dimengerti juga diikuti oleh pengguna bahasanya.

09 Januari 2013

Being a Public Speaker

Oleh: Dian Ayu Hapsari
Dept. Ilmu Komunikasi FISIP UI | Public Relations
Take home-test Teknik Presentasi Humas, 2012

Fauzan Al-Rasyid adalah salah satu senior di jurusan saya, jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Ia berkonsentrasi di program studi jurnal siar, angkatan 2008. Kak Fauzan sudah lulus Februari 2012 kemarin, dan saat ini ia bekerja di sebuah stasiun televisi satelit, menjabat sebagai content officer. Namun saya lebih mengenalnya sebagai ‘pimpinan’ saya ketika dia menjabat sebagai Kepala Bidang Komunikasi BEM FISIP UI 2011, ketika saya menjabat sebagai staf Humas.

Saat saya ditugaskan untuk mencari narasumber yang berpengalaman di bidang presentasi kehumasan, saya langsung terpikir Kak Fauzan. Ya, karir Kak Fauzan di bidang public speaking boleh dibilang tidak diragukan lagi. Ia sudah mempunyai jam terbang yang tinggi dalam menyampaikan materi serta berbicara di berbagai dan kegiatan.  Dalam setiap kesempatan, Kak Fauzan dipercaya untuk menjadi pembicara, baik acara internal kampus, di SMA-nya dulu, maupun di acara eksternal. Kehandalannya adalah di bidang public speaking, media publication, dan sponsorship, sehingga dalam banyak kesempatan, Kak Fauzan menyampaikan materi yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut atau bahkan diminta untuk menjadi trainer.

Wawancara saya lakukan pada hari Senin, 29 Oktober 2012 bertempat di Kantin Takor, FISIP UI. Kami berbincang-bincang dengan seru dan Kak Fauzan menceritakan saya banyak hal. Ia mulai merintis pengalaman di bidang public speaking ketika pertama kali dia aktif di organisasi BEM FISIP UI 2009. Saat itu meski jabatannya masih menjadi staf Biro Dana Usaha, Kak Fauzan berusaha untuk menggali banyak hal dan belajar dari setiap pengalaman yang ada. Selain belajar di BEM, ia juga banyak menggali ilmu di seminar-seminar dan kelas perkuliahan, seperti kelas public speaking Prof. Bachtiar Ali.

Dari staf Danus, kemudian Kak Fauzan terpilih menjadi Kabiro Danus BEM FISIP UI periode berikutnya. Dari situ, keahliannya di bidang sponsorship semakin unggul. Selain mendalami bidang tersebut, Kak Fauzan juga memiliki hobi membuat blog dan mendesign blognya sendiri, dia mempunyai bakat dalam membuat design visual yang kreatif. Sehingga ia sangat mahir dalam membuat presentasi yang menarik. Kemahirannya dalam membuat presentasi visual yang menarik disertai dengan kepiawannya berbicara, menjadikan Kak Fauzan presentator yang mahir dan unggul di bidangnya. Dan ketika ia menjabat sebagai Kepala Bidang Komunikasi di BEM periode 2011, dia semakin dipercaya untuk melakukan presentasi seputar BEM, FISIP UI, menjadi trainer internal BEM, dan lain sebagainya. Selain internal kampus dia juga diundang untuk menjadi pembicara eksternal seperti di acara Bekasi Blog Fest dalam menyampaikan materi seputar pembuatan blog dan design kreatif visual.

Ketika di tanya tiga hal penting apa saja yang perlu diperhatikan ketika presentasi, dia menjawab tiga hal: appearance, intonasi, dan kontak dengan audiens. Appearance atau penampilan menjadi begitu penting karena hal itu merupakan kesan pertama yang dilihat oleh audiens dari seorang pembicara. Penampilan juga menjadi sebuah kunci bagaimana seorang pembicara ingin mencitrakan dirinya. Dalam berbicara, Kak Fauzan memilih untuk tampil semi-formal, tampil rapi, namun tetap santai agar tidak terlihat kaku. Ia biasa menggunakan kemeja yang digulung, jeans, namun tetap rapih menggunakan sepatu pantofel. Satu hal yang penting, jangan sampai salah kostum. Untuk itu, pembicara yang baik harus selalu aware dengan tema acara.

Kedua, intonasi. Dalam melakukan presentasi, intonasi harus dijaga, enak didengar, membedakan secara signifikan kapan serius dan bercanda, semua itu harus dijaga agar audiens nyaman untuk mendengar. Yang terakhir adalah kontak dengan audiens. Kontak ini meliputi kontak secara verbal maupun nonverbal. Kontak verbal dilakukan dengan berinteraksi dengan penonton, kontak nonverbal dilakukan dengan banyak cara, seperti memperhatikan gestur, mimik, blocking, kontak mata, tidak grogi, dan lain-lain. Ya, interaksi langsung dengan para penonton itu penting agar penonton merasa dilibatkan dan pembicara tidak asyik sendiri, tidak menyadari bagaimana suasana hati para audiens (bosan, mengantuk, dan lain-lain).

Dalam melakukan presentasi, Kak Fauzan bercerita mengenai beberapa hambatan atau kendala yang ditemuinya. Contohnya adalah ketika ia menemukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di luar kemampuannya. Dan itu selalu ada. Dalam mengatasi hal ini, Kak Fauzan memiliki trik cerdik. Ketika ia ditanya suatu hal yang sebenarnya ia tidak yakin dengan jawabannya, biasanya Kak Fauzan akan melempar  kembali ke audiens dengan bertanya seperti: ‘ayo siapa kira-kira yang bisa menjawab?’ sembari ia menggunakan waktu tersebut untuk berpikir dan mencari jawaban. Lantas ketika ada audiens yang bisa menjawab atau berpendapat bagus, Kak Fauzan membenarkan dan menggunakan jawaban tersebut, tentunya mengembangkannya juga secara piawai. Hal ini tentu membutuhkan keahlian, karena sembari ia berpikir cepat dalam mencari jawaban, ia juga tidak boleh terlihat bingung atau gugup, karena tentu saja kredibilitasnya akan jatuh seketika. Yang terpenting sebagai pembicara adalah jangan mengakui kita tidak tahu dan jangan pernah meminta maaf karena tidak menguasai pertanyaan yang diajukan. Karena hal itu akan membuat kita dianggap tidak mahir. Namun jangan juga menjawab sekenanya, kita tetap harus terlihat yakin bahwa jawaban yang kita berikan itu benar. Sehingga kita bisa membangkitkan rasa percaya audiens terhadap diri kita sebagai pembicara yang kredibel.

Cara lain adalah dengan menyiapkan ‘jawaban cadangan’. Dalam menyiapkan ini, tentunya Kak Fauzan sudah memprediksi terlebih dahulu kira-kira apa pertanyaan yang akan diajukan seputar materi. Ketika prediksi Kak Fauzan benar, ia sudah menyiapkan jawaban cadangannya. Meski begitu, tidak ada manusia yang sempurna, Kak Fauzan pun mengakui tidak ada pembicara yang sempurna. Menyikapi hal itu, Kak Fauzan mengatakan hal yang paling penting adalah menjadi 100% dari diri kita. Jangan mendorong untuk menjadi yang terbaik, karena yang terbaik itu berbeda-beda dalam penilaian setiap orang, dan hal itu malah akan menjadikan tekanan bagi diri kita sendiri. Menjadi 100% artinya selalu mengerahkan seluruhnya dari diri kita, profesional dengan selalu meninggalkan masalah pribadi ketika sudah tampil di depan umum, dan tentu saja menguasai materi.

Penguasaan materi tentu juga menjadi hal yang sangat penting secara keseluruhan, penguasaan materi tentunya akan menghindarkan kita dari pertanyaan yang tidak bisa kita jawab. Dengan melakukan semua hal tersebut dengan baik dan menjadi 100%, menampilkan presentasi dengan bagus, kesalahan dan kekurangan yang dianggap oleh audiens akan dimaafkan dengan performa yang maksimal secara keseluruhan. Jika dari awal audiens sudah antusias mendengarkan kita berbicara, melihat materi visual kita yang menarik, dan penampilan keseluruhan yang bagus, kekukurangan-kekurangan yang ada pada pembicara seperti contohnya saat menjawab pertanyaan diluar kemampuan itu akan dimaafkan. Sehingga penting bagi pembicara untuk menampilkan yang terbaik dari dirinya, atau be 100% seperti kata Kak Fauzan.

Pertanyaan terakhir dalam wawancara saya dengan Kak Fauzan, siapa role model Kakak dalam melakukan presentasi? Sempat berpikir sejenak, kemudian ia menjawab secara spesifik tidak ada. Dia belajar dengan dirinya sendiri dan selalu menjadi dirinya. Karena semua pembicara tentu memiliki ciri khasnya masing-masing, Kak Fauzan pun juga menjaga orisinalitas dirinya. Namun seorang pembicara yang sempat Kak Fauzan amati adalah presenter Charles Bonar Sirait, ketika menyampaikan materi di suatu acara di UI. Kak Fauzan menilai presenter kondang tersebut sangat menarik membawa dirinya seperti melakukan interaksi dengan penonton, kepiawan dalam menyampaikan materi, dan sebagainya. Kak Fauzan pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil ilmu, seperti pentingnya dan bagaimana cara untuk menarik perhatian audiens.

Kiprah Kak Fauzan dalam dunia public speaking memang tidak diragukan lagi. Dimulai dari staf BEM sampai kepala bidang, dari semua kesempatan Kak Fauzan mengambil ilmu dan terus melatih bakat yang dimiliki untuk menjadikannya sebagai kehandalannya. Dari cerita Kak Fauzan, saya dapat belajar bahwa semua kesempatan bisa dijadikan tempat memperoleh ilmu, dan semua hal yang unggul tidak melewati proses yang instan, namun memerlukan usaha dan kerja keras.