09 Januari 2013

Being a Public Speaker

Oleh: Dian Ayu Hapsari
Dept. Ilmu Komunikasi FISIP UI | Public Relations
Take home-test Teknik Presentasi Humas, 2012

Fauzan Al-Rasyid adalah salah satu senior di jurusan saya, jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Ia berkonsentrasi di program studi jurnal siar, angkatan 2008. Kak Fauzan sudah lulus Februari 2012 kemarin, dan saat ini ia bekerja di sebuah stasiun televisi satelit, menjabat sebagai content officer. Namun saya lebih mengenalnya sebagai ‘pimpinan’ saya ketika dia menjabat sebagai Kepala Bidang Komunikasi BEM FISIP UI 2011, ketika saya menjabat sebagai staf Humas.

Saat saya ditugaskan untuk mencari narasumber yang berpengalaman di bidang presentasi kehumasan, saya langsung terpikir Kak Fauzan. Ya, karir Kak Fauzan di bidang public speaking boleh dibilang tidak diragukan lagi. Ia sudah mempunyai jam terbang yang tinggi dalam menyampaikan materi serta berbicara di berbagai dan kegiatan.  Dalam setiap kesempatan, Kak Fauzan dipercaya untuk menjadi pembicara, baik acara internal kampus, di SMA-nya dulu, maupun di acara eksternal. Kehandalannya adalah di bidang public speaking, media publication, dan sponsorship, sehingga dalam banyak kesempatan, Kak Fauzan menyampaikan materi yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut atau bahkan diminta untuk menjadi trainer.

Wawancara saya lakukan pada hari Senin, 29 Oktober 2012 bertempat di Kantin Takor, FISIP UI. Kami berbincang-bincang dengan seru dan Kak Fauzan menceritakan saya banyak hal. Ia mulai merintis pengalaman di bidang public speaking ketika pertama kali dia aktif di organisasi BEM FISIP UI 2009. Saat itu meski jabatannya masih menjadi staf Biro Dana Usaha, Kak Fauzan berusaha untuk menggali banyak hal dan belajar dari setiap pengalaman yang ada. Selain belajar di BEM, ia juga banyak menggali ilmu di seminar-seminar dan kelas perkuliahan, seperti kelas public speaking Prof. Bachtiar Ali.

Dari staf Danus, kemudian Kak Fauzan terpilih menjadi Kabiro Danus BEM FISIP UI periode berikutnya. Dari situ, keahliannya di bidang sponsorship semakin unggul. Selain mendalami bidang tersebut, Kak Fauzan juga memiliki hobi membuat blog dan mendesign blognya sendiri, dia mempunyai bakat dalam membuat design visual yang kreatif. Sehingga ia sangat mahir dalam membuat presentasi yang menarik. Kemahirannya dalam membuat presentasi visual yang menarik disertai dengan kepiawannya berbicara, menjadikan Kak Fauzan presentator yang mahir dan unggul di bidangnya. Dan ketika ia menjabat sebagai Kepala Bidang Komunikasi di BEM periode 2011, dia semakin dipercaya untuk melakukan presentasi seputar BEM, FISIP UI, menjadi trainer internal BEM, dan lain sebagainya. Selain internal kampus dia juga diundang untuk menjadi pembicara eksternal seperti di acara Bekasi Blog Fest dalam menyampaikan materi seputar pembuatan blog dan design kreatif visual.

Ketika di tanya tiga hal penting apa saja yang perlu diperhatikan ketika presentasi, dia menjawab tiga hal: appearance, intonasi, dan kontak dengan audiens. Appearance atau penampilan menjadi begitu penting karena hal itu merupakan kesan pertama yang dilihat oleh audiens dari seorang pembicara. Penampilan juga menjadi sebuah kunci bagaimana seorang pembicara ingin mencitrakan dirinya. Dalam berbicara, Kak Fauzan memilih untuk tampil semi-formal, tampil rapi, namun tetap santai agar tidak terlihat kaku. Ia biasa menggunakan kemeja yang digulung, jeans, namun tetap rapih menggunakan sepatu pantofel. Satu hal yang penting, jangan sampai salah kostum. Untuk itu, pembicara yang baik harus selalu aware dengan tema acara.

Kedua, intonasi. Dalam melakukan presentasi, intonasi harus dijaga, enak didengar, membedakan secara signifikan kapan serius dan bercanda, semua itu harus dijaga agar audiens nyaman untuk mendengar. Yang terakhir adalah kontak dengan audiens. Kontak ini meliputi kontak secara verbal maupun nonverbal. Kontak verbal dilakukan dengan berinteraksi dengan penonton, kontak nonverbal dilakukan dengan banyak cara, seperti memperhatikan gestur, mimik, blocking, kontak mata, tidak grogi, dan lain-lain. Ya, interaksi langsung dengan para penonton itu penting agar penonton merasa dilibatkan dan pembicara tidak asyik sendiri, tidak menyadari bagaimana suasana hati para audiens (bosan, mengantuk, dan lain-lain).

Dalam melakukan presentasi, Kak Fauzan bercerita mengenai beberapa hambatan atau kendala yang ditemuinya. Contohnya adalah ketika ia menemukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di luar kemampuannya. Dan itu selalu ada. Dalam mengatasi hal ini, Kak Fauzan memiliki trik cerdik. Ketika ia ditanya suatu hal yang sebenarnya ia tidak yakin dengan jawabannya, biasanya Kak Fauzan akan melempar  kembali ke audiens dengan bertanya seperti: ‘ayo siapa kira-kira yang bisa menjawab?’ sembari ia menggunakan waktu tersebut untuk berpikir dan mencari jawaban. Lantas ketika ada audiens yang bisa menjawab atau berpendapat bagus, Kak Fauzan membenarkan dan menggunakan jawaban tersebut, tentunya mengembangkannya juga secara piawai. Hal ini tentu membutuhkan keahlian, karena sembari ia berpikir cepat dalam mencari jawaban, ia juga tidak boleh terlihat bingung atau gugup, karena tentu saja kredibilitasnya akan jatuh seketika. Yang terpenting sebagai pembicara adalah jangan mengakui kita tidak tahu dan jangan pernah meminta maaf karena tidak menguasai pertanyaan yang diajukan. Karena hal itu akan membuat kita dianggap tidak mahir. Namun jangan juga menjawab sekenanya, kita tetap harus terlihat yakin bahwa jawaban yang kita berikan itu benar. Sehingga kita bisa membangkitkan rasa percaya audiens terhadap diri kita sebagai pembicara yang kredibel.

Cara lain adalah dengan menyiapkan ‘jawaban cadangan’. Dalam menyiapkan ini, tentunya Kak Fauzan sudah memprediksi terlebih dahulu kira-kira apa pertanyaan yang akan diajukan seputar materi. Ketika prediksi Kak Fauzan benar, ia sudah menyiapkan jawaban cadangannya. Meski begitu, tidak ada manusia yang sempurna, Kak Fauzan pun mengakui tidak ada pembicara yang sempurna. Menyikapi hal itu, Kak Fauzan mengatakan hal yang paling penting adalah menjadi 100% dari diri kita. Jangan mendorong untuk menjadi yang terbaik, karena yang terbaik itu berbeda-beda dalam penilaian setiap orang, dan hal itu malah akan menjadikan tekanan bagi diri kita sendiri. Menjadi 100% artinya selalu mengerahkan seluruhnya dari diri kita, profesional dengan selalu meninggalkan masalah pribadi ketika sudah tampil di depan umum, dan tentu saja menguasai materi.

Penguasaan materi tentu juga menjadi hal yang sangat penting secara keseluruhan, penguasaan materi tentunya akan menghindarkan kita dari pertanyaan yang tidak bisa kita jawab. Dengan melakukan semua hal tersebut dengan baik dan menjadi 100%, menampilkan presentasi dengan bagus, kesalahan dan kekurangan yang dianggap oleh audiens akan dimaafkan dengan performa yang maksimal secara keseluruhan. Jika dari awal audiens sudah antusias mendengarkan kita berbicara, melihat materi visual kita yang menarik, dan penampilan keseluruhan yang bagus, kekukurangan-kekurangan yang ada pada pembicara seperti contohnya saat menjawab pertanyaan diluar kemampuan itu akan dimaafkan. Sehingga penting bagi pembicara untuk menampilkan yang terbaik dari dirinya, atau be 100% seperti kata Kak Fauzan.

Pertanyaan terakhir dalam wawancara saya dengan Kak Fauzan, siapa role model Kakak dalam melakukan presentasi? Sempat berpikir sejenak, kemudian ia menjawab secara spesifik tidak ada. Dia belajar dengan dirinya sendiri dan selalu menjadi dirinya. Karena semua pembicara tentu memiliki ciri khasnya masing-masing, Kak Fauzan pun juga menjaga orisinalitas dirinya. Namun seorang pembicara yang sempat Kak Fauzan amati adalah presenter Charles Bonar Sirait, ketika menyampaikan materi di suatu acara di UI. Kak Fauzan menilai presenter kondang tersebut sangat menarik membawa dirinya seperti melakukan interaksi dengan penonton, kepiawan dalam menyampaikan materi, dan sebagainya. Kak Fauzan pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil ilmu, seperti pentingnya dan bagaimana cara untuk menarik perhatian audiens.

Kiprah Kak Fauzan dalam dunia public speaking memang tidak diragukan lagi. Dimulai dari staf BEM sampai kepala bidang, dari semua kesempatan Kak Fauzan mengambil ilmu dan terus melatih bakat yang dimiliki untuk menjadikannya sebagai kehandalannya. Dari cerita Kak Fauzan, saya dapat belajar bahwa semua kesempatan bisa dijadikan tempat memperoleh ilmu, dan semua hal yang unggul tidak melewati proses yang instan, namun memerlukan usaha dan kerja keras.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.