23 Februari 2013

Sedikit Catatan 2012

"Kamu kan fresh graduate, cari kerja itu susah. Sorry to say, fresh graduate S1 mau jadi apa? Sayang kamu melewatkan kesempatan ini."
Selamat datang di dunia nyata (yang kejam). Kata-kata itu mungkin tidak akan pernah saya lupakan selama hidup saya. Seseorang pernah berkata seperti pada saya ketika saya memutuskan untuk resign dari sebuah kegiatan management trainee (MT) salah satu perusahaan karena saya rasa saya tidak punya passion di bidang itu (tapi saya--saya rasa--tidak sengaja diterima di perusahaan itu). Ketika saya mau resign di hari ke-2, sang bos pun berkata demikian. FYI, kejadian itu terjadi bahkan jauh sebelum saya wisuda pada bulan Februari 2012. Well, saya memang hanya terdiam saat itu karena saya memang murni seorang fresh graduate yang bahkan belum diwisuda. Saya bisa menjanjikan apa? Tidak ada yang bilang bahwa mencari kerja itu mudah, sekalipun bagi seorang lulus UI yang katanya universitas terbaik di negeri ini. Semua bersaing untuk "hidup" di kota ini; kota Jakarta. Dan memang, saya tidak bisa berkata apa-apa untuk membantah kata-kata bos saya itu, tapi setidaknya saya masih punya sedikit gengsi di hati bahwa "gue anak UI, gue salah satu lulusan terbaik UI, gue harus PeDe". Iya, cuma itu. Cuma sedikit gengsi itu yang tetap membuat saya yakin bahwa saya harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan dunia media--sekalipun sebenarnya perusahaan tempat saya resign ini adalah perusahaan internasional.

Kejadian itu terjadi di awal tahun 2012--setahun yang lalu. Saya hanya seorang mahasiswa semester akhir yang baru saja selesai sidang Tugas Akhir (TA), bahkan belum menyandang gelar akademis di belakang nama saya. Namun, itulah salah satu kejadian ketika seseorang benar-benar meragukan saya (dan berusaha membuat saya down) tepat di depan muka saya. Saya kira orang ini cukup berhasil (pada mulanya), tapi untunglah saya punya harga diri, dan itu penting. Jangan pernah biarkan seseorang meragukan diri kita. Hidup ini kita yang menjalani. Orang mungkin bisa menilai dan berkata sesuatu (yang kurang enak) dan bahkan meragukan kita, tapi jangan pernah itu mempengaruhi kita. Kitalah yang paling mengenal diri kita sendiri dan oleh karena itu jangan biarkan orang lain mengatakan (pada kita) bahwa kita tidak bisa. Saya rasa itu adalah pelajaran yang amat beharga yang saya dapatkan di awal tahun lalu.

Lantas bagaimana? Well, saya buktikan, tepat seminggu setelah wisuda di bulan Februari, saya resmi menjadi orang "kantoran" di sebuah perusahaan media. Mungkin bukan "media banget" (saya bilang begitu) karena tempat saya bekerja ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang pay tv, tapi saya tetap senang dan saya belajar banyak di sini selama setahun ini. See, sedikit gengsi dalam hati, seperti "gue anak UI, gue salah satu lulusan terbaik UI, gue harus PeDe" ternyata memang menghasilkan sesuatu. Percaya atau tidak, pikiran positif akan menghasilkan hal-hal positif. Terkadang sesekali saya ingin berkata pada atasan saya dulu bahwa apa yang dia bilang itu salah (total). Namun, toh saya belum jadi orang sukses juga, jadi saya rasa perasaan itu harus saya simpan dalam-dalam dulu. Mungkin suatu hari nanti, kalau diperlukan, mungkin saya harus mengatakan hal itu. Well, setidaknya sampai tahap ini, saya telah membuktikan bahwa dia salah dan saya tetap survive sampai saat ini; itu yang penting.
"Don't ever let somebody tell you... You can't do something. Not even me. You got a dream... You gotta protect it. People can't do somethin' themselves, they wanna tell you that you can't do it. If you want somethin', go get it. Period. " (The Pursuit of Happyness, 2006)
Anyway, selain soal pekerjaan tadi, ada banyak hal luar biasa yang terjadi selama 2012 yang lalu. Memang, suasananya jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana saya masih menyandang status sebagai seorang pelajar. Tiap tahun adalah tahun penuh belajar. Namun, mulai 2012, saya benar-benar merasakan (untuk pertama kalinya) yang namanya "enggak belajar sama sekali setiap hati". Tapi sejujurnya, sekarang saya sangat merindukan masa-masa belajar. Percaya deh, jauh lebih enak belajar daripada kerja cari uang di kantor. Oke lah, di kantor kita akan digaji, artinya punya penghasilan, tapi ternyata tidak ada yang bisa menggantikan "nikmat" menjadi pelajar (dan juga belajar itu sendiri). Apakah saya seorang nerd? Oh, rasanya bukan. Saya juga pernah bolos kuliah, sesekali malas masuk kuliah (selama memang masih ada batas absensi), tapi sekarang saya baru sadar bahwa ternyata menjadi pelajar itu sebenarnya sangat menyenangkan. Terlepas dari segala macam tugas yang harus kita kerjakan, tapi ya... itulah "seninya". Ya, selama 2012, saya rindu "sekolah". Saya rasa ini menjadi motivasi saya untuk bisa melanjutkan studi lagi dan itu menjadi sebuah keharusan. Oh ya, sekarang saya jadi paham maksud dari dosen saya. Salah seorang dosen saya dulu pernah berkata bahwa "belajar itu candu". Meh, dulu saya (jujur) tertawa. Mana mungkin? Eh, tapi ternyata ada benarnya. Setelah saya lulus dan sudah merasakan "getirnya" menyambung hidup di kota ini, saya tentu akan lebih memilih untuk belajar (tapi kalau bisa tetap dapat pemasukan) daripada bekerja.

Oh ya, selama 2012 yang lalu, setidaknya saya belajar bahwa uang itu sangat beharga dan sangat sulit untuk mendapatkannya, setidaknya yang saya maksud adalah yang halal tentunya. Saya belajar bahwa bekerja itu sangat melelahkan walaupun pekerjaan itu hanya duduk di depan layar komputer selama hampir sembilan jam di ruangan ber-AC dan sangat nyaman. Parahnya lagi, seminggu pertama saya masuk kantor, saya sangat merasa lelah yang luar biasa. Padahal, kalau dipikir-pikir, di kantor itu jauh lebih enak daripada di kampus. Coba kalau di kampus, saya pergi dari rumah pukul 05.45 pagi hampir setiap hari. Selesai kuliah itu paling lama pukul 16.30, paling cepat pukul 13.30. Tapi toh saya tidak pernah jadi mahasiswa yang "kupu-kupu" (kuliah-pulang). Setelah jam kuliah selesai pasti masih ada pekerjaan organisasi yang saya kerjakan, bahkan tidak jarang baru sampai rumah pukul 22.00 atau bahkan lebih. Dan hebatnya lagi, besoknya saya harus kembali pergi pagi sebelum matahari terbit (dan kemungkinan pulang setelah matahari terbenam). Selama di kerja? Oh, sangat santai. Saya pergi tiap hari pukul 07.00 karena jam masuk kantor adalah pukul 09.00 dan (pasti) pulang pukul 18.00 dan tidak pernah ada jam lembur. Namun, ternyata saya jauh merasa lebih lelah berada di kantor daripada mengerjakan rutinitas harian di kampus. Jadi, lagi-lagi ini soal "doing something that you really love". Ketika kita sangat menyukai apa yang kita kerjakan maka kita tidak akan pernah merasa lelah. Ini bukan berarti saya tidak menyukai pekerjaan saya sekarang, hanya saja pasti feel-nya berbeda (jauh).

Di 2012 saya belajar bahwa sakit itu memang mahal maka bersyukurlah jika kita sedang sehat. Untuk pertama kalinya saya merasa panik ketika sakit sampai harus ke rumah sakit. Untungnya saya sudah bekerja, setidaknya tidak terlalu panik soal biaya rumah sakit. Apa jadinya kalau saya harus lulus empat tahun? Pastinya saya belum bekerja. Dapat uang dari mana? Awalnya saya sempat berpikir untuk lulus "normal" empat tahun, tapi ternyata jalan saya harus (segera) lulus 3,5 tahun dan langsung bekerja tanpa santai-santai dulu jadi pengangguran (job seeker) selama beberapa waktu. Saya tidak membayangkan apa yang harus saya lakukan saat sakit waktu itu jika belum bekerja karena saya bahkan harus berobat selama enam bulan penuh. Tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi, lain kali, jangan sakit karena sakit itu mahal. Sesekali bolehlah, tapi sakit yang biasa-biasa saja.

Namun, terlepas dari itu semua, saya tetap sangat bersyukur dengan segala hal yang terjadi selama 2012 (termasuk dengan terbantahkannya ramalan suku Maya). Meskipun sudah lulus dan tidak lagi "bermain" di kampus, tapi pekerjaan-pekerjaan sampingan, seperti menjadi pembicara, tetap berjalan dan bahkan selama 2012 lalu, ada lima kali saya diundang sebagai pembicara dan jumlah ini sama dengan di tahun 2011 ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa. Saya rasa ini sangat perlu saya syukuri mengingat saya bukan lagi mahasiswa, tapi masih tetap ada orang-orang yang "ingat" dan percaya pada saya untuk hal-hal seperti ini. Awalnya saya sempat ragu apakah dengan berakhirnya masa kuliah saya maka berbagai kerjaan-kerjaan sampingan yang biasa saya lakukan saat masih kuliah akan ikut usai? Namun, terjawab sudah bahwa ternyata tidak. Jadi, alhamdulillah.

Ya, begitulah, mulai dari Januari hingga Desember. Hari demi hari dilalui. Sidang TA, wisuda, "berpisah" dengan teman-teman di kampus, jadi job seeker, lamar sana-sini, ditegur atasan, mengecewakan orang, ada keberhasilan, ada kegagalan, dan semua hal yang terjadi selama tahun 2012 tidak pernah saya sesali. Tentunya ada suka dan duka. Namun, apa pun itu, kita pasti selalu bisa mengambil hikmahnya dan itulah yang terpenting. Tidak semua hal buruk itu buruk dan tidak semua hal baik itu (pasti) baik. Semua soal sudut pandang dan kembali pada diri kita untuk menyikapinya. Semua hal yang kita lalui pasti akan menjadi bagian dari pembelajaran bagi diri kita. Tahun 2012 sudah berlalu. Apa yang terjadi di tahun lalu telah otomatis menjadi catatan dalam sejarah hidup kita. Catatan itu ada yang baik dan ada juga yang kurang baik. Namun, biarlah. Memang kenapa kalau ada yang kurang baik? Selama kita bisa mengambil hikmah dari setiap catatan yang kita goreskan, tidak akan jadi soal. Kini saatnya menatap 2013 dengan mantap. Jadikan segala pengalaman di tahun 2012 sebagai modal untuk menghadapi tahun ini. Tentunya ini adalah sebagai pengingat bagi diri saya sendiri juga.
"Around here, however, we don't look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we're curious... and curiosity keeps leading us down new paths." (Walt Disney)
Jadi, mari kita lihat hal luar biasa apa yang bisa saya lakukan di tahun ini. Satu hal yang penting: keep moving forward. Anyway, saya selalu suka kutipan Disney yang satu itu. Dan sewaktu saya kuliah dulu, seorang dosen tamu dari Microsoft pernah mengatakan bahwa kita harus menjadi orang yang "be what's next". Artinya, jadilah orang yang tidak pernah puas dengan pencapaian kita saat ini. Terus dan terus haus akan pencapaian yang lebih baik. Karena "good is never good enough", begitu kata seorang teman saya di kampus. Jadi, mari kita menjalani tahun 2013 ini dengan penuh percaya diri dan jangan pernah biarkan seorang pun menghalangi impian kita akan sesuatu sehingga membuat kita ragu apakah kita benar-benar bisa mewujudkannya. Who cares? Ini bukan soal terwujud atau tidak terwujud. Memang, kita semua tentu mau impian kita terwujud, tapi itu tentu harus sejalan dengan seberapa besar usaha kita untuk mewujudkannya. Impian itu membuat manusia tetap hidup dan terus berusaha. Orang-orang yang tidak punya mimpi (hopeless) adalah salah satu orang yang paling tidak bahagia di dunia ini. Nikmatilah setiap proses yang harus kita lewati demi menggapai impian itu. Oleh karena itu, jagalah mimpi kita, tidak peduli orang mau bilang apa tentang mimpi kita itu, tapi yang jelas kita wajib mempertahankannya.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.