Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

14 Maret 2013

Balada Perokok dalam Angkutan Umum

Entah kenapa hari ini saya lagi semangat menulis, khususnya tentang segala keresahan yang saya rasakan. Kali ini saya mau cerita tentang merokok di angkutan umum. Mungkin melihat orang yang merokok di angkutan umum bukanlah pemandangan yang asing bagi kita yang sehari-hari naik kendaraan umum. Bagi saya pribadi, saat-saat berada di kendaraan umum itu rasanya seperti saat-saat yang paling tidak menyenangkan, apalagi kalau ada orang yang dengan santainya merokok di dalam. Kenapa ya para perokok ini tidak mau memikirkan sedikit saja perasaan orang lain yang berada di dalam angkutan itu? Para perokok ini memang biasanya melakukan berbagai cara demi "menjauhkan" asap rokoknya, mulai dari mengeluarkan tangannya ke jedela, ada yang menyembunyikan rokoknya di bawah kursi, ada pula yang menyembunyikannya di antara kedua pahanya, bahkan ada juga yang merokok secara terang-terangan seolah-olah tidak terjadi apa-apa atau dia sedang berada sendirian di hutan.

Sejujurnya saya bingung harus menyalahkan siapa (tentang hal ini) karena sebagai pengguna angkutan umum, saya jelas merasa sangat dirugikan. Tidak bisakah kita bebas dari asap bahkan ketika di dalam angkutan umum? Jakarta ini sudah terlalu banyak asap, dan orang-orang pasti berharap tidak perlu menghirup asap di dalam kendaraan bukan? Lantas salah siapa? Saya kira, agar adil, ini semua menjadi salah semua pihak (termasuk penumpang yang tidak merokok). Loh kok gitu? Iya, pertama, jelas ini salah perokok itu sendiri. Merokok itu ternyata membuat hati seseorang tidak sensitif dan tidak peduli dengan orang lain. Ini terbukti dengan banyaknya perokok yang tetap merokok di dalam angkutan umum sekalipun saya sering melihat banyak orang yang berusaha "menegur" dengan bahasa-bahasa nonverbal, seperti menutup hidungya atau terbatuk (entah benar-benar batuk atau sengaja batuk karena terganggu), tapi nyatanya orang-orang ini tidak berhenti merokok sampai ada orang yang benar-benar menegurnya.

Kenapa sih harus merokok di dalam angkutan umum? Segitunya enggak bisa menunggu/menahan diri untuk membuat polusi selagi di dalam angkutan umum ya? Hanya karena angkuta umum itu terlihat jelek bahkan hampir seperti barang rongsokan dan tidak ber-AC, kan bukan berarti diperbolehkan merokok. Itu tidak menjadi sebuah pembenaran akan tindakan tersebut. Tidak jarang saya menegur orang yang merokok di dalam angkutan umum dan saya menemukan banyak reaksi. Mulai dari yang langsung nurut, minta maaf, pura-pura tidak dengar sampai harus "dicolek" dulu, hingga yang memberikan tatapan sinis. Jujur, saya frustasi tinggal di kota ini. Memang, si perokok berhak untuk merokok, tapi kan tidak di dalam angkutan umum juga. Suatu ketika saya pernah sebangku dengan seorang kakek yang memangku cucunya yang masih kecil, dan dia merokok tepat di samping saya dan juga cucunya. Mungkin Anda ada yang akan berpendapat bahwa kakek itu tidak berpendidikan makanya tidak tahu dan tetap merokok begitu saja. Namun, saya rasa itu tetap bukan alasan. Saya rasa tidak ada seorang pun di negara ini yang tidak tahu bahwa rokok itu berbahaya, termasuk kakek-kakek yang mungkin berusia lebih tua dari republik ini. Semua pasti tahu itu, tapi kenapa masih tetap merokok? Saya pun akhirnya menegur kakek itu untuk mematikan asapnya. Saya paham betul pandangan beliau saat itu agak kurang enak. Saya kira dia pada akhirnya mematikan rokoknya, ternyata saya salah, dia hanya mengeluarkan tangannya ke jendela (kebetulan kakek ini berada di dalam). Bahkan kakek ini tidak mau berhenti merokok demi menghormati penumpang lain dan lebih parahnya lagi, dia membahayakan anak kecil yang dia pangku. Anak itu jelas sudah menjadi perokok pasif.

Saya juga ingin mengatakan bahwa soal merokok dalam angkutan umum ini juga salah kita semua, salah masyarakat nonperokok. Kenapa? Ya, karena kita juga tidak pernah benar-benar tegas melarang orang untuk merokok di dalam angkutan umum. Kebanyakan dari kita hanya diam atau bahkan hanya setangah hati menegur dengan bahasa-bahasa nonverbal/isyarat yang mana biasanya tidak mempan oleh para perokok. Akhirnya para perokok pun merasa bahwa merokok di dalam angkutan umum adalah suatu hal yang biasa dari dulu dan itu sah-sah saja, toh tidak ada yang menegur juga. Para perokok merasa bahwa nonperokoklah yang harus mencoba mengerti para perokok. Sementara itu, sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah ada perlawanan yang tegas dari penumpang yang tidak merokok untuk menegur secara keras para perokok. Beberapa orang bahkan hanya ngedumel saja dengan orang sebangkunya atau bahkan tidak jarang yang hanya protes di media-media sosial. Sementara itu, si perokok ya... tetap merokok terus. Merokok di dalam angkutan umum akhirnya menjadi suatu hal yang permisif, atau ya... boleh-boleh saja. Mungkin beberapa perokok berusaha membuang asap rokoknya ke luar jendela, tapi sepertinya mereka lupa bahwa di luar jendela itu ada angin. Akhirnya angin pun tetap membawa asap rokok itu kembali ke dalam angkutan, jadi sama saja. Haruskah pada akhirnya nanti semua orang Indonesia jadi perokok pasif? Saya rasa hampir seluruh pribadi kita telah menjadi perokok, bedanya hanya ada yang aktif dan ada yang pasif.

Kemudian, masalah ini juga tidak lepas dari peran pemerintah yang sangat lemah dalam menegakkan peraturan tentang larang merokok di dalam kendaraan umum. Pemerintah membuat peraturan, tapi peraturan itu tampaknya hanya dijadikan "hiasan" belaka. Padahal, dalam peraturan tersebut dijelaskan betul apa hukuman bagi orang-orang yang melanggar peraturan tersebut. Namun, pada kenyataannya kan tidak pernah ada dalam sejarah republik ini, seseorang didenda atau dipenjara karena merokok di angkutan umum kan? Kenapa bisa begitu? Karena negara kita ini sangat lemah; lemah hukum. Lantas, apa gunanya kita berbangga diri dan menyebut diri kita sebagai negara hukum kalau ternyata ada hukum-hukum yang kurang prioritas dibandingkan dengan hukum yang lain? Kemana masyarakat harus mengadu atas pelanggaran merokok di dalam angkutan umum? Sebenarnya, pelanggaran ini bukanlah pelanggaran yang sepele karena ada hak-hak manusia yang diciderai di sini, yaitu hak menghirup udara bersih.

Beginilah negara kita, hampir tidak ada lagi yang peduli. Yang perokok tidak peduli dengan yang bukan perokok, yang bukan perokok membuat si perokok merasa diperbolehkan merokok dengan aksi "diamnya", dan pemerintah juga tidak benar-benar bertindak tegas atas peraturan yang telah dibuat. Jadi, ya... serba susah. Memang, baru beberapa minggu ini saya melihat ada stiker larangannya merokok yang ditempel di berbagai angkutan umum di ibukota, setidaknya dengan adanya stiker itu, nonperokok diharapkan bisa menegur siapa pun yang merokok di dalam angkutan umum sebagai orang yang tidak berotak atau buta. Namun, berapa lama stiker itu bisa bertahan? Saya lihat kemarin beberapa stiker sudah mulai terkelupas dan saya rasa tidak lama lagi akan terobek.

Pada akhirnya, butuh kesadaran seluruh masyarakat bahwa merokok di dalam angkutan umum adalah perbuatan yang sangat mengganggu kenyamanan orang lain. Meskipun angkutan umum itu kondisinya sudah sangat tragis, tapi orang-orang tetap berhak mendapatkan kenyamanan beruapa udara yang bersih. Saya sangat sedih sekaligus kesal luar biasa ketika seorang perokok ditegur dan dia balas mengatakan, "Kalau mau nyaman ya naik taksi!" Astaga! Saya sudah tidak habis pikir di mana otak orang-orang yang mengatakan seperti itu, mungkin otaknya sudah pindah ke bokong atau bahkan duburnya. Angkutan yang murah, yang ditujukan untuk rakyat, bukan berarti harus (dan boleh) menjadi angkutan yang penuh asap kan? Di mana lagi perlindungan atas hak-hak rakyat (nonperokok)? Ini semua memang membuat kita pusing, tapi semuanya kembali lagi pada keseriusan kita untuk benar-benar menciptakan angkutan umum yang bersih dari asap. Jangan pernah takut untuk menegur orang yang merokok dalam angkutan umum karena dia memang salah dan kita berhak menghirup udara yang bersih tanpa racun.

   Add Friend

Folbek Dong...

Ini satu lagi kisah yang sebenarnya cuma uneg-uneg saya saja dan sejujurnya bukan suatu hal yang sangat penting, tapi saya tetap merasa perlu untuk mencurahkannya. Saya mau sedikit mengeluh (kalau boleh) dengan orang-orang Indonesia yang suka minta folbek alias "follow back" (ikuti balik) yang sangat populer di kalangan pengguna Twitter, khususnya di Indonesia. Anyway, mungkin sedikit intro dulu bahwa aktivitas follow mem-follow orang ini populer di Twitter (tentunya sudah pada tahu, tapi saya tetap harus menjelaskannya). Nah, semakin ke sini, Twitter semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya remaja. Jangankan manusia, benda-benda tidak bernyawa, seperti hantu pun (minimal) punya satu akun Twitter.

Namun, tampaknya, orang Indonesia belum paham betul fungsi Twitter ini secara menyeluruh. Maksudnya, sebut saja mengenai fitur mem-follow orang. Apa sih maksudnya? Jadi begini, ide awalnya dari Twitter ini adalah semacam microblog, yaitu semacam jurnal mini di mana orang-orang bisa mencurahkan pendapat atau opininya secara singkat (tidak lebih dari 140 karakter) di ranah publik. Awalnya, kita mengenal blog sebagai mini diary, tapi kemudian akan sangat lucu rasanya jika kita ingin menceritakan pengalaman kita mengenai (misalnya) kopi di sebuah kafe yang baru kita datangi ternyata sangat lezat dan kita ingin berbagi pendapat kita tersebut agar banyak orang yang tahu dengan mem-post-nya di blog. Katakanlah kita ingin mengatakan, "Wah, kopi di kafe **** enak banget!" that's it, cuma itu, kita enggak mau cerita soal bagaimana perjalanan kita tadi menuju kafe itu atau kita ketemu siapa saja di dalam kafe atau hal lainnya, kita cuma ingin mengekspresikan bahwa kopi yang kita minum sangat enak dan kita mau orang lain tahu agar bisa mencicipinya nanti. Tentu akan sangat konyol jika kita mengekspresikan hal semacam itu dalam blog. Oleh karena itu, muncullah Twitter sebagai microblog. Orang-orang bisa mengekspresikan segala pikiran dan pendapat mereka akan sesuatu secara singkat dan bisa diketahui orang banyak.

Kemudian, kita mengenal fitur follow. Fitur follow ini TIDAK seperti fitur "add friend" di Facebook atau banyak media sosial lainnya. Di Facebook, misalnya, ketika kita menambahkan seseorang sebagai teman dalam jaringan kita maka otomatis kita pun akan menjadi teman dalam jaringan dia. Kita bisa melihat segala updates teman-teman kita dan teman-teman kita pun bisa melihat segala aktivitas atau updates kita (selama pengaturan privasi kita tidak melarang itu). Namun, hal ini berbeda dengan Twitter. Kita mem-follow seseorang karena itu artinya kita tertarik dengan aktivitas orang tersebut, dan itu sah-sah saja. Namun, itu bukan berarti orang yang kita follow harus mem-follow balik orang yang telah mem-follow dia. Jika orang yang di-follow merasa tidak tertarik untuk mem-follow kita maka dia pasti tidak akan mem-follow, tapi sebaliknya, jika dia tertarik maka tanpa kita minta pun orang itu pasti akan mem-follow akun kita demi mendapatkan segala updates dari kita.

Jadi, tahu kan di mana anehnya orang-orang kita? Iya, sangat banyak orang yang minta "folbek". Oh, ya ampun, saya rasa itu konyol. Serius deh. Sejujurnya, saya suka emosi dengan berbagai mentions yang meminta saya untuk mem-follow balik orang-orang yang telah mem-follow saya. No offense, tapi selama saya merasa saya tidak perlu tahu banyak tentang orang itu, tentu saya tidak akan mem-follow. Jangankan yang tidak dikenal, orang-orang yang saya kenal pun tidak saya follow semua Twitter-nya (sekalipun saya tahu betul username-nya), hanya orang-orang yang benar-benar membuat saya tertarik yang saya follow. Artinya, saya mem-follow suatu akun karena saya memang ingin tahu lebih banyak tentang orang itu--tidak melihat orang itu saya kenal atau tidak--orang itu men-tweet hal-hal yang menarik, atau minimal saya ada perlu dengan orang itu. Jadi, kalau memang motivasi Anda ingin mendapat followers yang banyak, saya kira Anda salah paham dengan fungsi Twitter yang sebenarnya. Followers akan bertambah jika memang Anda men-tweet hal-hal yang dianggap menarik oleh banyak orang (dan juga dibutuhkan). Mungkin rasanya sangat kerena jika followers kita mencapai ribuan, tapi kan bukan itu esensi dari Twitter. Jadi, jika kita mem-follow seseorang, tidak perlu kita berharap apalagi sampai meminta untuk di-follow balik oleh orang yang bersangkutan. Ingat, ini Twitter, bukan Facebook. Dan orang yang tidak mem-follow balik kita bukan berarti sombong, tidak begitu. Itu artinya orang tersebut memang merasa tidak perlu mengetahui "apa yang baru" dari Anda, dan itu tidak salah (dan merupakan hak orang itu pula). Saya heran deh, sering kali saya melihat akun Twitter orang yang mem-follow hingga 500 lebih bahkan sampai ribuan. Saya bertanya-tanya apakah orang ini segitu "keponya" dengan 500-an lebih orang yang dia follow ini atau apa motivasinya? Entahlah, tapi saya kira, masyarakat kita ini masih masyarakat yang ya... tipikal followers atau ikut-ikutan suatu tren tanpa benar-benar paham manfaatnya.

Jadi, marilah kita menjadi masyarakat yang tidak hanya menjadi followers (dan kecewa jika tidak di-follow balik). Orang-orang dengan sendirinya akan mem-follow ketika mereka merasa bahwa bisa mengambil suatu manfaat dari kicauan-kicauan kita di Twitter. Tidak perlu bersedih hati atau frustasi jika followers Anda tidak mencapai ribuan bak artis terkenal atau public figure. Para artis atau public fugure memiliki banyak followers tentunya karena mereka punya "nama" dan menjadi wajar jika banyak orang yang mem-follow bisa jadi merupakan fans mereka juga. Sementara itu, bagi kita yang "biasa-biasa" saja, kita tidak perlu terlalu bersemangat mencari followers (bahkan tidak jarang membuat "sampah" di timeline dan akhirnya akunnya ter-suspend), yang biasa-biasa saja. Followers (baik yang nyata maupun yang bukan) akan datang dengan sendirinya jika mereka memang merasa bahwa mereka perlu tahu lebih banyak tentang Anda. So, please, jangan pernah minta "folbek" kepada orang-orang yang Anda follow. Bijaksanalah dalam menggunakan media sosial.

   Add Friend

Ketika Muslim Indonesia Berkomentar

Ada apa sih dengan orang-orang di negeri ini? Kok rasa-rasanya semakin ke sini semakin tidak cerdas. Pusing deh setiap kali baca berita-berita online, hampir tidak pernah saya temukan komentar-komentar yang sedap dibaca. Hampir rata-rata komentar yang dipublikasikan adalah komentar-komentar sinis dan apa ya... duh, bikin pusing deh bacanya. Memang benar bahwa setiap orang berhak berbicara dan mengungkapkan pendapatnya dengan sebebas-bebasnya, tapi kan bukan berarti tanpa otak juga (menulisnya).

Mungkin orang-orang akan menyarankan pada saya, jika saya tidak suka membaca berita online, ya... jangan dibaca. Semudah itu memang, tapi kan pada kenyataannya saya juga punya hak mengetahui apa yang terjadi di luar sana melalui berbagai media (dengan cepat). Dan kini omongan-omongan di berbagai media online dalam menanggapi berbagai hal semakin tidak karuan. Sering kali saya berusaha menahan diri untuk sekedar membaca berita online tanpa membaca komentar-komentar yang di-post oleh banyak orang. Namun, kadang tidak sengaja saya membaca komentar-komentar itu dan akhirnya hanya membuat saya pusing sendiri, dan ya... semakin hopeless dengan masyarakat di negara ini. Saya jadi benar-benar berharap agar negara ini tidak punya akses internet untuk membuat online news atau tidak punya teknologi yang mumpuni untuk membuat berita di media online. Saya jadi merasa berita di media cetak jadi lebih baik, biarlah orang-orang beropini dengan dirinya sendiri, tidak perlu orang banyak tahu apa pendapat dia tentang sesuatu jika toh akhirnya itu justru bisa memicu perpecahan.

Sebagai contoh, pagi ini saya membaca berita mengenai terpilihnya Paus baru di salah satu berita online. Dan benar saja, ketika saya tidak sengaja membaca komentar-komentarnya (dan saya menyesal), sungguh sangat dan sangat memalukan. Rasanya tidak ada lagi rasa toleransi dan perdamaian di otak masyarakat kita. Masing-masing merasa paling benar, apalagi dalam konteks ini adalah orang-orang Islam yang berkomentar. Komentar orang-orang ini banyak sekali yang menjelek-jelekkan Paus, menulis bahwa agamanya yang paling benar, dan bahkan tidak sedikit menulis kata-kata sinis dan mengejek. Ada apa ini? Kenapa orang Islam seperti ini? Saya rasa, saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Saya malu sebagai orang Indonesia dan saya juga malu sebagai pemeluk agama Islam. Tidakkah mereka ini berpikir bagaiman perasaan orang-orang non-Muslim (khususnya Katolik) yang melihat komentar-komentar itu? Tentu ada yang sedih, marah, dan saya rasa hal serupa pun pasti dirasakan umat Muslim ketika Nabi Muhammad dilecehkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kenapa sih orang-orang ini tidak bisa menahan diri untuk (minimal) diam saja. Jika memang orang-orang ini tidak suka, ya diam saja. Bukankah itu lebih baik? Sekarang begini, kerap kali berbagai kejadian di dunia ini disebabkan karena pertikaian antaragama, dan tidak jarang hal itu dipicu oleh kelompok yang saling "menyerang" agama lain. Islam, salah satunya, dianggap sebagai agama yang cukup sering diserang. Benarkah begitu? Saya kira saya sepakat, tapi bukan berarti umat Muslim tidak perlu berintrospeksi diri bukan?

Saya heran, apa sih yang salah dengan terpilihnya Paus yang baru? Saya pikir orang-orang Islam justru bisa mengambil pelajaran yang sangat baik dari mundurnya Paus dari jabatannya karena merasa tidak lagi mampu memikul tanggung jawab yang diberikan. Bukankah ini mengajarkan pada kita bahwa Paus yang sebelumnya adalah orang yang sangat berjiwa besar, tidak seperti pejabat-pejabat di negeri kita yang bahkan sudah tua masih saja korupsi (dan sedihnya beragama Islam) dan masih gila jabatan. Kenapa fenomena ini harus membuat orang Islam mencibir Paus yang baru terpilih? Memangnya Paus yang baru itu melecehkan umat Muslim? Enggak kan? Lantas kenapa? Hal-hal tolol seperti itu kan hanya semakin menjatuhkan harga diri umat Muslim sendiri. Mereka yang diejek tidak pernah menjadi benar-benar menjadi buruk. Yang mengejeklah yang terlihat semakin buruk. Kalau begini, akhirnya, yang menghancurkan Islam ya... orang Islam sendiri, bukan orang-orang nonmuslim di luar sana yang orang Islam klaim sebagai orang kafir.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kebencian, bahkan kepada mereka yang tidak seagama. Nabi Muhammad mengajarkan untuk bertindak tegas JIKA ada kelompok atau golongan yang mencela agama Allah. Namun, itu tidak berarti kita harus membalas mencela kan? Nabi Muhammad SAW bahkan mengajarkan pada umatnya untuk saling hidup rukun dengan siapa pun kita bermasyarakat. Inilah anehnya negeri kita ini. Negeri tempat berkumpulnya pemeluk agama Islam terbesar di dunia ini--bahka ada kemungkinan besar bahwa Anda yang sedang membaca beragama Islam--ternyata tidak benar-benar Islam seutuhnya. Semakin pusing rasanya melihat orang-orang yang merasa paling Islam dibandingkan yang lainnya di berbagai media. Merasa apa yang ia katakan paling benar. Well, kalau pun memang begitu, toh kita tidak perlu mengklaim bahwa kita yang paling benar kan? Tidak cukupkah Tuhan yang tahu bahwa kita itu benar? Dan biarkan Allah yang menuntun kita pada jalan yang lurus dan benar tanpa harus bersikap sinis pada orang-orang yang kita anggap salah.

Jikalah memang orang-orang di negeri ini paham betul dengan makna, "bagimu agamamu, bagiku agamaku," tentu komentar-komentar bodoh seperti itu tidak akan pernah ter-publish. Saya benar-benar mendambakan Indonesia yang katanya negeri dengan orang-orang yang ramah. Kapan sih itu? Mungkin tahun 60-an sampai 80-an dulu, saya enggak tahu kapan dan kayaknya enggak akan pernah mengalaminya juga, tapi yang jelas sepertinya keadaan seperti itu tinggal mimpi belaka. Negara ini kini dipenuhi orang-orang yang sinis, gemar mencibir, atau kalau anak zaman sekarang bilangnya: nyinyir. Itulah kita, orang Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam, agama yang mengajarkan perdamaian, mencintai sesama, dan hormat-menghormati satu sama lain. Ketika hal itu tidak lagi tecermin dalam pribadi masyarakat, mungkin kita perlu bertanya, masih memeluk Islamkah kita? Atau seberapa besar/total kita menjalankan agama kita? Well, memang betul bahwa yang membedakan orang Islam dengan pemeluk agama lain adalah sholat. Namun, saya rasa tidak sesempit itu pula definisinya karena di dalam sholat terkandung banyak hal (pelajaran) yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan nyatanya, saya kerap bertemu dengan orang yang rajin beribah, tapi sifatnya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang benar-benar mulia. Mari kita semua berintrospeksi. Dan... yah, begitulah...

   Add Friend

13 Maret 2013

Teori Dialektika Hubungan

Teori Dialektika Hubungan merupakan teori yang menggambarkan hubungan yang terjadi di dalam kehidupan sebagai sebuah proses yang konstan dan bergerak[1]. Pada dasarnya, manusia berharap untuk memiliki keduanya ketika berbicara tentang mencapai sebuah tujuan. Manusia di dalam hubungannya ingin saling terkoneksi satu sama lain tapi tetap memiliki daerah privasi, terbuka namun memproteksi diri, serta memiliki prediksi walau kerap membutuhkan spontanitas di dalam interaksi yang terjadi.  Kebutuhan yang saling bertentangan ini seringkali berusaha untuk diselesaikan namun manusia tidak akan pernah menghilangkan kebutuhan dari kedua hal yang bertolak belakang tersebut[2].

Asumsi dari Teori Hubungan Dialektik ini adalah[3]:
  1. Hubungan tidak bersifat linear.
  2. Hubungan dalam Kehidupan dikarakteristikkan dengan perubahan.
  3. Kontradiksi adalah kenyataan fundamental dari kehidupan hubungan.
  4. Komunikasi merupakan sentral untuk mengorganisasi dan menegosiasikan kontradiksi hubungan yang terjadi.
Dalam melihat perspektif Dialektikal menurut Rawlins (1992) terdapat empat elemen[4]: totality, contradiction, motion, dan praxisTotality menjelaskan bahwa setiap manusia di dalam sebuah hubungan memiliki saling keterkaitan dan ketergantungan. Jadi ketika sesuatu hal terjadi pada salah satunya, maka akan mempengaruhi kondisi pasangannya. Selain itu, totality juga berarti bahwa konteks sosial dan budaya juga ikut mempengaruhi proses yang ada; komunikasi dalam hubungan melibatkan interkoneksi yang konstan, dan pengaruh timbal balik dari beberapa individu, interpersonal, dan faktor sosial (Rawlins, 1992, p.7).

Contradiction atau kontardiksi mengarah pada oposisi, dua elemen yang saling bertolak belakang. Kontradiksi ini merupakan ciri utama dari pendekatan dialektik. Dialektik merupakan hasil dari oposisi. Elemen yang lain yaitu motion, merupakan proses alami dari hubungan dan perubahan yang terjadi di dalamnya setiap waktu. Sedangkan praxis, menjelaskan bahwa manusia adalah yang berkapasitas untuk menentukan pilihan. Walaupun pada kenyataannya manusia tidak memiliki kebebasan memilih yang penuh di setiap kondisi--karena pilihan yang kita buat saat ini dipengaruhi oleh pilihan sebelumnya, pilihan orang lain, keadaan sosial dan budaya- kita tetap sadar dan aktif sebagai si pemilih.

Dasar-Dasar Dialektika Relasional
Tiga hal yang paling berkaitan dengan hubungan (relationships) adalah dialektika otonomi dan koneksi, keterbukaan dan proteksi, serta kebaruan dan prediktabilitas (Baxter, 1990). Otonomi dan kontradiksi serta keterbukaan dan sikap tertutup  dipahami sebagai kontradiksi yang paling penting. Sementara itu, prediktabilitas dan kebaruan dipikir penting untuk tipe-tipe konflik tertentu[5].

Otonomi dan Hubungan (Autonomy and Connection)
Dialektika antara otonomi dan koneksi (disebut juga Intergration and Separation)[6]mengacu pada hasrat untuk menjadi mandiri dari orang-orang terdekat kita (significant others). Namun, di lain sisi kita juga ingin akrab dengan mereka. Dengan kata lain, otonomi dan koneksi ini adalah ketegangan (tension) hubungan penting yang menunjukkan dualisme hasrat untuk menjadi akrab juga terpisah secara bersamaan[7]. Untuk mengilustrasikan kehadiran koneksi dan otonomi dalam hubungan (relationships), Bexter dan Montgomery (1996) menjelaskan bagaimana para pasangan mengkodekan komunikasi pribadi mereka.
Keterbukaan dan Proteksi (Openness and Protection)
Dialektika keterbukaan dan proteksi (disebut juga Expression and Nonexpression)[8] berfokus pada hasrat yang berkonflik, pertama, untuk bersikap terbuka dan rentan, mebuka informasi personal kepada rekan hubungan kita dan kedua, bersikap strategis dan protektif dalam komunikasi. Posisi dialektik ini menonjolkan baik dai rasa hormat hingga ketulusan maupun penyembunyian[9]. Adanya pengungkapan informasi yang sangat pribadi, Katherine Dindia (1994) menjelaskan apa yang ia sebut sebagai pengungkapan “dialektika interpersonal”. Singkatnya, keterbukaan dan proteksi ini adalah tekanan relasional yang menunjukkan hasrat berkonflik untuk mengatakan rahasia juga, di lain sisi, menjaganya. Angela Hoppe-Nagao dan Stella Ting-Toomey (2002) menjelaskan cara pasangan yang menikah mengatur keterbukaan dan sikap tertutup ini:
  1. topic selection (pemilihan topik), yakni menjadikan topik tabu untuk didiskusikan, sementara keterbukaan ditekankan pada topik lainnya;
  2. time alternation (giliran) dimaksudkan untuk menghalangi waktu spesifik yang hendak digunakan untuk membicarakan topik-topik sensitif;
  3. withdrawal (pengambilan kembali) dan probing (menyelidik) meninggalkan pembicaraan atau menanyakan informasi lebih jauh kepada si rekan;
  4. antisocial strategies (strategi antisosial), contohnya adalah berteriak, menangis, atau cemberut, dan
  5. deception (pendayaan) melibatkan penyimpangan kebenaran untuk menjaga beberapa hal secara rahasia dan untuk mencegah konflik dalam hubungan.

Kebaruan dan Prediktabilitas (Novelty and Predictability)
Dialektika antara kebaruan dan prediktabilitas (disebut juga Stability and Change)[10] mengacu pada konflik kenyamanan stabilitas dan kesenangan akan perubahan. Posisi dialektika melihat keyakinan dan ketidakyakinan yang saling berpengaruh dalam hubungan. Perencanaan menegaskan pasangan dalam hubungan karena perencanaan merupakan elemen dari suatu hubungan. Perencanaan juga menetapkan rutinitas sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan dalam short-term future. Namun, terkadang mereka juga harus meninggalkan rutinitas dan beralih pada spontanitas itu untuk kreativitas dan kebaruan.[11]

Dialektika Kontekstual (Contextual Dialectics)
Dialektika interaksional merupakan bagian dari interaksi para mitra satu sama lainnya (Rawlins, 1992). Ada dialektika lainnya yang memengaruhi kehidupan relasional seperti yang disebut Rawlins sebagai dialektika kontekstual yang artinya, ketegangan yang diakibatkan penempatan hubungan dalam budaya. Dialektika kontekstual dibentuk dari ketegangan antara definisi publik tentang hubungan yang disepakati dan interaksi pribadi dalam pertemanan yang spesifik.[12]

Menurut Rawlins, dua dialektika yang memengaruhi komunikasi interpersonal dalam hubungan: antara publik dan pribadi (private) serta antara yang nyata dan yang ideal. Dialektika publik dan pribadi mengacu pada ketegangan antara dua wilayah: hubungan pribadi dan kehidupan publik. Lilian Rubin (1998) menekankan, publik berekspektasi agar hubungan dengan sanak famili lebih diprioritaskan ketimbang pertemanan, bahkan ketika individu mungkin saja menghargai lebih  teman-temannya. Rubin berpendapat, orang-orang cenderung memprioritaskan anggota keluarganya ketimbang teman-temannya. Ia juga menekankan, pertemanan menjadi ‘menderita’ ketika dibandingkan dengan hubungan lainnya karena tidak ada lembaga yang meberikan sanksi.

Rawlins (1992) juga mengemukakakan double agency yang berarti adanya hubungan-hubungan yang yang memenuhi baik fungsi publik maupun pribadi. Rawlins mengamati, kadang-kadang fungsi publik mendesak fungsi pribadi. Misal, orang-orang yang menjalin pertemanan di tempat bekerja mungkin menemukan umpan balik negatif dari significant others-nya.

Dialektika publik dan pribadi ini berkaitan dengan dialektika tentang hal-hal yang ideal dan yang nyata. Dialektika ini muncul ketika ada penggambaran tentang hal-hal yang ideal, sementara penggambaran itu tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang ada[13]. Orang-orang yang disayangi dipercaya dapat menyediakan kasih sayang dan dukungan tanpa syarat. Namun, sebenarnya kita tahu, hubungan interpersonal tak selalu menyenangkan dan dapat memiliki sisi gelap yang kontras dengan dengan idealnya. Teori dialektika berusaha untuk menjelaskan bagaimana orang-orang hidup dengan dan mengatur kontradiksi ini.  Bagaimanapun, kedua dialektika ini bergantung pada faktor-faktor budaya dan kontekstual yang memungkinkan adanya perbedaan penggambaran dari para pakar di atas.[14]

Generasi Kedua Dialektika Relasional: Penekanan Pada Dialog
Baxter menekankan lima hubungan dialogis pada pemikiran Bakhtin. Sekedar informasi, beberapa tahun terkahir, Baxter menjadi lebih berfokus pada implikasi relasional dari konsep Mikhail Bakhtin tentang dialog.[15]

Dialog sebagai Proses yang Membangun (Dialogue as a Constitutive Process)
Baxter menyatakan, pendekatan yang membangun pada komunikasi bertanya tentang bagaimana komunikasi menjelaskan dan mengkonstruksikan dunia sosial, termasuk diri dan hubungan personal kita[16]. Pendekatan ini mengusulkan, komunikasi menciptakan dan menyokong suatu hubungan. Jika praktik komunikasi suatu pasangan berubah, maka hubungan mereka pun berubah pula. Pandangan dialogis mempertimbangkan, perbedaan dan kesamaan pada orang-orang menjadi sama pentingnya. Keduanya tercipta dan dievaluasi melalui dialog yang dibangun pasangan. Perbedaan memusatkan pada apa arti dari perbedaan ini bagi pasangan dan bagaiman mereka bertindak atas arti-arti tersebut. Di lain sisi, persamaan akan sikap-sikap, latar belakang, dam minat dapat merekatkan bersama orang-orang secara positif.[17]

Dialog sebagai Aliran Dialektis (Dialogue as Dialectical Flux)
Sebagaimana yang dipercaya Bakhtin dan Baxter, seluruh kehidupan sosial merupaka produk dari “penyatuan yang dikuasai kontradiksi dan penuh ketegangan dari dua hasrat yang berperang.” Eksistensi ini mengkontraskan serangan-serangan berarti bahwa mengembangkan dan mempertahankan hubungan menjadi proses yang sulit ditebak, tidak bisa terselesaikan, dan tidak bisa dipastikan. Karena hubungan diciptakan melalui dialog yang selalu berada dalam aliran, Baxter berpikir, seharusnya kita tak perlu terkejut bahwa proyek konstruksi ini berjalan semerawut.[18]

Dialog sebagai Momen Estetis (Dialogue as an Aesthetic Moment)
Baxter menggambarkan dialog sebagai pencapaian estetis, “suatu sensasi sejenak dari kesatuan melalui penghargaan mendalam bagi suara-suara yang berbeda pada dialog.” Sensasi timbal balik tersebut dari penyempurnaan, pelengkapan, atau keseluruhan di tengah pengalaman yang terfragmentasi tersebut tidak berlangsung lama. Namun, kenangan saat-saat yang indah dapat mendukung pasangan melalui turbulensi yang terjadi pada hubungan yang akrab.[19]

Dialog sebagai Ungkapan (Dialogue as Utterance)
Di sini, ungkapan digambarkan sebagai penghubung ekspresif  yang mana hanya satu dari banyak komunikasi yang membentuk rantai dialog. Oleh karena itu, ungkapan yang disetujui dipengaruhi kata-kata yang keluar sebelumnya dan kata-kata yang akan digunakan[20]. Bexter menenkankan pada apakah ungkapan memberi kepercayaan pada suara-suara kedua belah pihak dalam suatu hubungan atau tidak.

Dialog sebagai Sensibilitas Kritis (Dialogue as a Critical Sensibility)
Sensasi kelima ini adalah suatu kewajiban untuk mengkritik suara yang dominan, khususnya mereka yang menekan pandangan-pandangan yang berlawanan[21].



[1] West, Richard dan Lynn Turner. Introducing Communication Theory (3rd Edition). McGraw-Hill, hal. 223.
[2] Ibid.
[3] Ibid, hal 224
[4] Ibid, hal 225
[5] West, Richard dan Lynn Turner. Introducing Communication Theory (3rd Edition). McGraw-Hill , Hal. 226
[6] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 164
[7] West, Richard dan Lynn Turner. Introducing Communication Theory (3rd Edition). McGraw-Hill , Hal. 226
[8] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 166
[9] Ibid., Hal. 228
[10] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 165
[11] Ibid., Hal. 228 dan 229
[12] Ibid., Hal. 229
[13] Ibid., Hal. 230
[14] Ibid
[15] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 167
[16] Ibid
[17] Ibid., Hal. 167-168
[18] Ibid., Hal. 168
[19] Ibid., Hal 169
[20] Ibid., Hal. 170
[21] Ibid.