14 Maret 2013

Ketika Muslim Indonesia Berkomentar

Ada apa sih dengan orang-orang di negeri ini? Kok rasa-rasanya semakin ke sini semakin tidak cerdas. Pusing deh setiap kali baca berita-berita online, hampir tidak pernah saya temukan komentar-komentar yang sedap dibaca. Hampir rata-rata komentar yang dipublikasikan adalah komentar-komentar sinis dan apa ya... duh, bikin pusing deh bacanya. Memang benar bahwa setiap orang berhak berbicara dan mengungkapkan pendapatnya dengan sebebas-bebasnya, tapi kan bukan berarti tanpa otak juga (menulisnya).

Mungkin orang-orang akan menyarankan pada saya, jika saya tidak suka membaca berita online, ya... jangan dibaca. Semudah itu memang, tapi kan pada kenyataannya saya juga punya hak mengetahui apa yang terjadi di luar sana melalui berbagai media (dengan cepat). Dan kini omongan-omongan di berbagai media online dalam menanggapi berbagai hal semakin tidak karuan. Sering kali saya berusaha menahan diri untuk sekedar membaca berita online tanpa membaca komentar-komentar yang di-post oleh banyak orang. Namun, kadang tidak sengaja saya membaca komentar-komentar itu dan akhirnya hanya membuat saya pusing sendiri, dan ya... semakin hopeless dengan masyarakat di negara ini. Saya jadi benar-benar berharap agar negara ini tidak punya akses internet untuk membuat online news atau tidak punya teknologi yang mumpuni untuk membuat berita di media online. Saya jadi merasa berita di media cetak jadi lebih baik, biarlah orang-orang beropini dengan dirinya sendiri, tidak perlu orang banyak tahu apa pendapat dia tentang sesuatu jika toh akhirnya itu justru bisa memicu perpecahan.

Sebagai contoh, pagi ini saya membaca berita mengenai terpilihnya Paus baru di salah satu berita online. Dan benar saja, ketika saya tidak sengaja membaca komentar-komentarnya (dan saya menyesal), sungguh sangat dan sangat memalukan. Rasanya tidak ada lagi rasa toleransi dan perdamaian di otak masyarakat kita. Masing-masing merasa paling benar, apalagi dalam konteks ini adalah orang-orang Islam yang berkomentar. Komentar orang-orang ini banyak sekali yang menjelek-jelekkan Paus, menulis bahwa agamanya yang paling benar, dan bahkan tidak sedikit menulis kata-kata sinis dan mengejek. Ada apa ini? Kenapa orang Islam seperti ini? Saya rasa, saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Saya malu sebagai orang Indonesia dan saya juga malu sebagai pemeluk agama Islam. Tidakkah mereka ini berpikir bagaiman perasaan orang-orang non-Muslim (khususnya Katolik) yang melihat komentar-komentar itu? Tentu ada yang sedih, marah, dan saya rasa hal serupa pun pasti dirasakan umat Muslim ketika Nabi Muhammad dilecehkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kenapa sih orang-orang ini tidak bisa menahan diri untuk (minimal) diam saja. Jika memang orang-orang ini tidak suka, ya diam saja. Bukankah itu lebih baik? Sekarang begini, kerap kali berbagai kejadian di dunia ini disebabkan karena pertikaian antaragama, dan tidak jarang hal itu dipicu oleh kelompok yang saling "menyerang" agama lain. Islam, salah satunya, dianggap sebagai agama yang cukup sering diserang. Benarkah begitu? Saya kira saya sepakat, tapi bukan berarti umat Muslim tidak perlu berintrospeksi diri bukan?

Saya heran, apa sih yang salah dengan terpilihnya Paus yang baru? Saya pikir orang-orang Islam justru bisa mengambil pelajaran yang sangat baik dari mundurnya Paus dari jabatannya karena merasa tidak lagi mampu memikul tanggung jawab yang diberikan. Bukankah ini mengajarkan pada kita bahwa Paus yang sebelumnya adalah orang yang sangat berjiwa besar, tidak seperti pejabat-pejabat di negeri kita yang bahkan sudah tua masih saja korupsi (dan sedihnya beragama Islam) dan masih gila jabatan. Kenapa fenomena ini harus membuat orang Islam mencibir Paus yang baru terpilih? Memangnya Paus yang baru itu melecehkan umat Muslim? Enggak kan? Lantas kenapa? Hal-hal tolol seperti itu kan hanya semakin menjatuhkan harga diri umat Muslim sendiri. Mereka yang diejek tidak pernah menjadi benar-benar menjadi buruk. Yang mengejeklah yang terlihat semakin buruk. Kalau begini, akhirnya, yang menghancurkan Islam ya... orang Islam sendiri, bukan orang-orang nonmuslim di luar sana yang orang Islam klaim sebagai orang kafir.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kebencian, bahkan kepada mereka yang tidak seagama. Nabi Muhammad mengajarkan untuk bertindak tegas JIKA ada kelompok atau golongan yang mencela agama Allah. Namun, itu tidak berarti kita harus membalas mencela kan? Nabi Muhammad SAW bahkan mengajarkan pada umatnya untuk saling hidup rukun dengan siapa pun kita bermasyarakat. Inilah anehnya negeri kita ini. Negeri tempat berkumpulnya pemeluk agama Islam terbesar di dunia ini--bahka ada kemungkinan besar bahwa Anda yang sedang membaca beragama Islam--ternyata tidak benar-benar Islam seutuhnya. Semakin pusing rasanya melihat orang-orang yang merasa paling Islam dibandingkan yang lainnya di berbagai media. Merasa apa yang ia katakan paling benar. Well, kalau pun memang begitu, toh kita tidak perlu mengklaim bahwa kita yang paling benar kan? Tidak cukupkah Tuhan yang tahu bahwa kita itu benar? Dan biarkan Allah yang menuntun kita pada jalan yang lurus dan benar tanpa harus bersikap sinis pada orang-orang yang kita anggap salah.

Jikalah memang orang-orang di negeri ini paham betul dengan makna, "bagimu agamamu, bagiku agamaku," tentu komentar-komentar bodoh seperti itu tidak akan pernah ter-publish. Saya benar-benar mendambakan Indonesia yang katanya negeri dengan orang-orang yang ramah. Kapan sih itu? Mungkin tahun 60-an sampai 80-an dulu, saya enggak tahu kapan dan kayaknya enggak akan pernah mengalaminya juga, tapi yang jelas sepertinya keadaan seperti itu tinggal mimpi belaka. Negara ini kini dipenuhi orang-orang yang sinis, gemar mencibir, atau kalau anak zaman sekarang bilangnya: nyinyir. Itulah kita, orang Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam, agama yang mengajarkan perdamaian, mencintai sesama, dan hormat-menghormati satu sama lain. Ketika hal itu tidak lagi tecermin dalam pribadi masyarakat, mungkin kita perlu bertanya, masih memeluk Islamkah kita? Atau seberapa besar/total kita menjalankan agama kita? Well, memang betul bahwa yang membedakan orang Islam dengan pemeluk agama lain adalah sholat. Namun, saya rasa tidak sesempit itu pula definisinya karena di dalam sholat terkandung banyak hal (pelajaran) yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan nyatanya, saya kerap bertemu dengan orang yang rajin beribah, tapi sifatnya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang benar-benar mulia. Mari kita semua berintrospeksi. Dan... yah, begitulah...

   Add Friend

1 komentar :

Setuju! lakum diinukum waliyadiiin. bagimu agamamu, bagiku agamaku. itu kan perintah Allah :)

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.