13 Maret 2013

Teori Dialektika Hubungan

Teori Dialektika Hubungan merupakan teori yang menggambarkan hubungan yang terjadi di dalam kehidupan sebagai sebuah proses yang konstan dan bergerak[1]. Pada dasarnya, manusia berharap untuk memiliki keduanya ketika berbicara tentang mencapai sebuah tujuan. Manusia di dalam hubungannya ingin saling terkoneksi satu sama lain tapi tetap memiliki daerah privasi, terbuka namun memproteksi diri, serta memiliki prediksi walau kerap membutuhkan spontanitas di dalam interaksi yang terjadi.  Kebutuhan yang saling bertentangan ini seringkali berusaha untuk diselesaikan namun manusia tidak akan pernah menghilangkan kebutuhan dari kedua hal yang bertolak belakang tersebut[2].

Asumsi dari Teori Hubungan Dialektik ini adalah[3]:
  1. Hubungan tidak bersifat linear.
  2. Hubungan dalam Kehidupan dikarakteristikkan dengan perubahan.
  3. Kontradiksi adalah kenyataan fundamental dari kehidupan hubungan.
  4. Komunikasi merupakan sentral untuk mengorganisasi dan menegosiasikan kontradiksi hubungan yang terjadi.
Dalam melihat perspektif Dialektikal menurut Rawlins (1992) terdapat empat elemen[4]: totality, contradiction, motion, dan praxisTotality menjelaskan bahwa setiap manusia di dalam sebuah hubungan memiliki saling keterkaitan dan ketergantungan. Jadi ketika sesuatu hal terjadi pada salah satunya, maka akan mempengaruhi kondisi pasangannya. Selain itu, totality juga berarti bahwa konteks sosial dan budaya juga ikut mempengaruhi proses yang ada; komunikasi dalam hubungan melibatkan interkoneksi yang konstan, dan pengaruh timbal balik dari beberapa individu, interpersonal, dan faktor sosial (Rawlins, 1992, p.7).

Contradiction atau kontardiksi mengarah pada oposisi, dua elemen yang saling bertolak belakang. Kontradiksi ini merupakan ciri utama dari pendekatan dialektik. Dialektik merupakan hasil dari oposisi. Elemen yang lain yaitu motion, merupakan proses alami dari hubungan dan perubahan yang terjadi di dalamnya setiap waktu. Sedangkan praxis, menjelaskan bahwa manusia adalah yang berkapasitas untuk menentukan pilihan. Walaupun pada kenyataannya manusia tidak memiliki kebebasan memilih yang penuh di setiap kondisi--karena pilihan yang kita buat saat ini dipengaruhi oleh pilihan sebelumnya, pilihan orang lain, keadaan sosial dan budaya- kita tetap sadar dan aktif sebagai si pemilih.

Dasar-Dasar Dialektika Relasional
Tiga hal yang paling berkaitan dengan hubungan (relationships) adalah dialektika otonomi dan koneksi, keterbukaan dan proteksi, serta kebaruan dan prediktabilitas (Baxter, 1990). Otonomi dan kontradiksi serta keterbukaan dan sikap tertutup  dipahami sebagai kontradiksi yang paling penting. Sementara itu, prediktabilitas dan kebaruan dipikir penting untuk tipe-tipe konflik tertentu[5].

Otonomi dan Hubungan (Autonomy and Connection)
Dialektika antara otonomi dan koneksi (disebut juga Intergration and Separation)[6]mengacu pada hasrat untuk menjadi mandiri dari orang-orang terdekat kita (significant others). Namun, di lain sisi kita juga ingin akrab dengan mereka. Dengan kata lain, otonomi dan koneksi ini adalah ketegangan (tension) hubungan penting yang menunjukkan dualisme hasrat untuk menjadi akrab juga terpisah secara bersamaan[7]. Untuk mengilustrasikan kehadiran koneksi dan otonomi dalam hubungan (relationships), Bexter dan Montgomery (1996) menjelaskan bagaimana para pasangan mengkodekan komunikasi pribadi mereka.
Keterbukaan dan Proteksi (Openness and Protection)
Dialektika keterbukaan dan proteksi (disebut juga Expression and Nonexpression)[8] berfokus pada hasrat yang berkonflik, pertama, untuk bersikap terbuka dan rentan, mebuka informasi personal kepada rekan hubungan kita dan kedua, bersikap strategis dan protektif dalam komunikasi. Posisi dialektik ini menonjolkan baik dai rasa hormat hingga ketulusan maupun penyembunyian[9]. Adanya pengungkapan informasi yang sangat pribadi, Katherine Dindia (1994) menjelaskan apa yang ia sebut sebagai pengungkapan “dialektika interpersonal”. Singkatnya, keterbukaan dan proteksi ini adalah tekanan relasional yang menunjukkan hasrat berkonflik untuk mengatakan rahasia juga, di lain sisi, menjaganya. Angela Hoppe-Nagao dan Stella Ting-Toomey (2002) menjelaskan cara pasangan yang menikah mengatur keterbukaan dan sikap tertutup ini:
  1. topic selection (pemilihan topik), yakni menjadikan topik tabu untuk didiskusikan, sementara keterbukaan ditekankan pada topik lainnya;
  2. time alternation (giliran) dimaksudkan untuk menghalangi waktu spesifik yang hendak digunakan untuk membicarakan topik-topik sensitif;
  3. withdrawal (pengambilan kembali) dan probing (menyelidik) meninggalkan pembicaraan atau menanyakan informasi lebih jauh kepada si rekan;
  4. antisocial strategies (strategi antisosial), contohnya adalah berteriak, menangis, atau cemberut, dan
  5. deception (pendayaan) melibatkan penyimpangan kebenaran untuk menjaga beberapa hal secara rahasia dan untuk mencegah konflik dalam hubungan.

Kebaruan dan Prediktabilitas (Novelty and Predictability)
Dialektika antara kebaruan dan prediktabilitas (disebut juga Stability and Change)[10] mengacu pada konflik kenyamanan stabilitas dan kesenangan akan perubahan. Posisi dialektika melihat keyakinan dan ketidakyakinan yang saling berpengaruh dalam hubungan. Perencanaan menegaskan pasangan dalam hubungan karena perencanaan merupakan elemen dari suatu hubungan. Perencanaan juga menetapkan rutinitas sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan dalam short-term future. Namun, terkadang mereka juga harus meninggalkan rutinitas dan beralih pada spontanitas itu untuk kreativitas dan kebaruan.[11]

Dialektika Kontekstual (Contextual Dialectics)
Dialektika interaksional merupakan bagian dari interaksi para mitra satu sama lainnya (Rawlins, 1992). Ada dialektika lainnya yang memengaruhi kehidupan relasional seperti yang disebut Rawlins sebagai dialektika kontekstual yang artinya, ketegangan yang diakibatkan penempatan hubungan dalam budaya. Dialektika kontekstual dibentuk dari ketegangan antara definisi publik tentang hubungan yang disepakati dan interaksi pribadi dalam pertemanan yang spesifik.[12]

Menurut Rawlins, dua dialektika yang memengaruhi komunikasi interpersonal dalam hubungan: antara publik dan pribadi (private) serta antara yang nyata dan yang ideal. Dialektika publik dan pribadi mengacu pada ketegangan antara dua wilayah: hubungan pribadi dan kehidupan publik. Lilian Rubin (1998) menekankan, publik berekspektasi agar hubungan dengan sanak famili lebih diprioritaskan ketimbang pertemanan, bahkan ketika individu mungkin saja menghargai lebih  teman-temannya. Rubin berpendapat, orang-orang cenderung memprioritaskan anggota keluarganya ketimbang teman-temannya. Ia juga menekankan, pertemanan menjadi ‘menderita’ ketika dibandingkan dengan hubungan lainnya karena tidak ada lembaga yang meberikan sanksi.

Rawlins (1992) juga mengemukakakan double agency yang berarti adanya hubungan-hubungan yang yang memenuhi baik fungsi publik maupun pribadi. Rawlins mengamati, kadang-kadang fungsi publik mendesak fungsi pribadi. Misal, orang-orang yang menjalin pertemanan di tempat bekerja mungkin menemukan umpan balik negatif dari significant others-nya.

Dialektika publik dan pribadi ini berkaitan dengan dialektika tentang hal-hal yang ideal dan yang nyata. Dialektika ini muncul ketika ada penggambaran tentang hal-hal yang ideal, sementara penggambaran itu tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang ada[13]. Orang-orang yang disayangi dipercaya dapat menyediakan kasih sayang dan dukungan tanpa syarat. Namun, sebenarnya kita tahu, hubungan interpersonal tak selalu menyenangkan dan dapat memiliki sisi gelap yang kontras dengan dengan idealnya. Teori dialektika berusaha untuk menjelaskan bagaimana orang-orang hidup dengan dan mengatur kontradiksi ini.  Bagaimanapun, kedua dialektika ini bergantung pada faktor-faktor budaya dan kontekstual yang memungkinkan adanya perbedaan penggambaran dari para pakar di atas.[14]

Generasi Kedua Dialektika Relasional: Penekanan Pada Dialog
Baxter menekankan lima hubungan dialogis pada pemikiran Bakhtin. Sekedar informasi, beberapa tahun terkahir, Baxter menjadi lebih berfokus pada implikasi relasional dari konsep Mikhail Bakhtin tentang dialog.[15]

Dialog sebagai Proses yang Membangun (Dialogue as a Constitutive Process)
Baxter menyatakan, pendekatan yang membangun pada komunikasi bertanya tentang bagaimana komunikasi menjelaskan dan mengkonstruksikan dunia sosial, termasuk diri dan hubungan personal kita[16]. Pendekatan ini mengusulkan, komunikasi menciptakan dan menyokong suatu hubungan. Jika praktik komunikasi suatu pasangan berubah, maka hubungan mereka pun berubah pula. Pandangan dialogis mempertimbangkan, perbedaan dan kesamaan pada orang-orang menjadi sama pentingnya. Keduanya tercipta dan dievaluasi melalui dialog yang dibangun pasangan. Perbedaan memusatkan pada apa arti dari perbedaan ini bagi pasangan dan bagaiman mereka bertindak atas arti-arti tersebut. Di lain sisi, persamaan akan sikap-sikap, latar belakang, dam minat dapat merekatkan bersama orang-orang secara positif.[17]

Dialog sebagai Aliran Dialektis (Dialogue as Dialectical Flux)
Sebagaimana yang dipercaya Bakhtin dan Baxter, seluruh kehidupan sosial merupaka produk dari “penyatuan yang dikuasai kontradiksi dan penuh ketegangan dari dua hasrat yang berperang.” Eksistensi ini mengkontraskan serangan-serangan berarti bahwa mengembangkan dan mempertahankan hubungan menjadi proses yang sulit ditebak, tidak bisa terselesaikan, dan tidak bisa dipastikan. Karena hubungan diciptakan melalui dialog yang selalu berada dalam aliran, Baxter berpikir, seharusnya kita tak perlu terkejut bahwa proyek konstruksi ini berjalan semerawut.[18]

Dialog sebagai Momen Estetis (Dialogue as an Aesthetic Moment)
Baxter menggambarkan dialog sebagai pencapaian estetis, “suatu sensasi sejenak dari kesatuan melalui penghargaan mendalam bagi suara-suara yang berbeda pada dialog.” Sensasi timbal balik tersebut dari penyempurnaan, pelengkapan, atau keseluruhan di tengah pengalaman yang terfragmentasi tersebut tidak berlangsung lama. Namun, kenangan saat-saat yang indah dapat mendukung pasangan melalui turbulensi yang terjadi pada hubungan yang akrab.[19]

Dialog sebagai Ungkapan (Dialogue as Utterance)
Di sini, ungkapan digambarkan sebagai penghubung ekspresif  yang mana hanya satu dari banyak komunikasi yang membentuk rantai dialog. Oleh karena itu, ungkapan yang disetujui dipengaruhi kata-kata yang keluar sebelumnya dan kata-kata yang akan digunakan[20]. Bexter menenkankan pada apakah ungkapan memberi kepercayaan pada suara-suara kedua belah pihak dalam suatu hubungan atau tidak.

Dialog sebagai Sensibilitas Kritis (Dialogue as a Critical Sensibility)
Sensasi kelima ini adalah suatu kewajiban untuk mengkritik suara yang dominan, khususnya mereka yang menekan pandangan-pandangan yang berlawanan[21].



[1] West, Richard dan Lynn Turner. Introducing Communication Theory (3rd Edition). McGraw-Hill, hal. 223.
[2] Ibid.
[3] Ibid, hal 224
[4] Ibid, hal 225
[5] West, Richard dan Lynn Turner. Introducing Communication Theory (3rd Edition). McGraw-Hill , Hal. 226
[6] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 164
[7] West, Richard dan Lynn Turner. Introducing Communication Theory (3rd Edition). McGraw-Hill , Hal. 226
[8] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 166
[9] Ibid., Hal. 228
[10] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 165
[11] Ibid., Hal. 228 dan 229
[12] Ibid., Hal. 229
[13] Ibid., Hal. 230
[14] Ibid
[15] Griffin, Em. A First Look At Communication Theory (6th Edition). Singapore: McGraw-Hill, Hal. 167
[16] Ibid
[17] Ibid., Hal. 167-168
[18] Ibid., Hal. 168
[19] Ibid., Hal 169
[20] Ibid., Hal. 170
[21] Ibid.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.