Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

05 April 2013

Autisme Bukan Lelucon

Tanggal 2 April kemarin (ternyata) diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day). Aneh rasanya karena saya (merasa) baru tahu bahwa ada peringatan hari semacam ini. Namun, saya rasa peringatan hari tersebut pasti sudah diselenggarakan setiap tahunnya entah dari kapan, dan ketidaktahuan (dan kekurangpekaan untuk ingin tahu) ini sepertinya telah memabuat saya berada dalam kelompok orang-orang yang (juga) kurang peka dengan isu autisme. Anyway, sebagai info, ternyata hari peringatan tersebut telah diselenggarakan sejak tahun 1989, tapi baru ditetapkan pada tahun 2007 oleh resolusi Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly).

Oke, itu tadi sekedar prolog. Sekarang, saya ingin membahas mengapa (pada akhirnya) saya setuju bahwa isu autisme ini sangat penting dan orang-orang perlu sadar betul bahwa membuat lelucon autisme adalah sebuah penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang beradab—ini serius. Di Indonesia, khususnya, kerap kali kita menggunakan kata-kata yang mengacu pada orang-orang yang berkebutuhan khusus, baik fisik maupun mental, sebagai lelucon atau sebagai bahan ejekan/cemoohan. Konteksnya memang bisa serius atau bisa juga sekedar bercanda. Sebut saja, seperti kata-kata: autis, cacat, atau camen (cacat mental), dan sebagainya yang mungkin cukup familiar di telinga kita. Parahnya lagi, media pun ikut bertanggung jawab terhadap “sosialisasi masif” kata-kata tidak bermoral ini ke masyarakat. Banyak istilah yang pada awalnya hanya populer di suatu komunitas tertentu, kemudian menjadi menyebar secara masif ke berbagai pelosok akibat peran media, khususnya media elektronik. Ditambah lagi, banyak public figure (komedian, presenter, dan selebritas) yang turut menjadi agen sosialisasi kata-kata ini di berbagai media. Dalam hal ini, kata “autis” kerap diasosiasikan dengan tingkah laku seseorang yang sama sekali tidak seperti anak yang menderita autisme sebenarnya. Dalam berbagai lelucon, kata “autis” kerap mengacu pada tingkah laku seseorang (yang dianggap) konyol, agak berlebihan (pecicilan, atau semacamnya), atau agak bodoh.

Ini adalah fenomena yang sangat menyedihkan. Kita mungkin sering mendengar ungkapan “tertawa di atas penderitaan orang lain.” Believe it or not, secara tidak sadar, kita telah menjadi orang-orang yang “tertawa di atas penderitaan orang lain” dengan menjadikan kata autis sebagai bahan lelucon. Semakin sering seseorang menggunakannya maka ia akan semakin tidak peka dan merasa bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang ia katakan. Dia akan terus menyangkal bahwa apa yang dia katakan itu hanya sekedar candaan biasa. Padahal tidak ada yang lucu dengan menertawai kekurangan orang lain. Saya pribadi—sekalipun bukan termasuk orang yang paling aware dengan isu ini—seringkali merasa bahwa selera humor masyarakat kita terbilang sangat (sorry to say) norak. Kita seringkali mengangkat kekurangan orang lain sebagai sesuatu yang pantas untuk ditertawakan.

Saya (dan saya yakin kita semua) sering menonton di televisi ketika para artis dan komedian kita hampir tidak pernah bisa menahan diri mereka (dalam satu episode) untuk tidak mengeluarkan kata-kata ejekan yang menghina kondisi fisik lawan mainnya atau menghina kondisi fisik/mental orang lain. Sekalipun si lawan mainnya itu merasa baik-baik saja dengan hal itu (dengan alasan “sekedar candaan” atau tuntutan pekerjaan), tapi mereka jelas telah mendidik para penonton bahwa apa yang mereka katakan di televisi adalah hal yang biasa. Mereka secara tidak langsung telah mendidik masyarakat bahwa candaan-candaan yang mengejek kondisi fisik (atau mental) seseorang adalah hal yang biasa dan seseorang tidak perlu tersinggung karenanya. Kita tidak bisa mengharapkan bahwa masyarakat seharusnya bisa memilah-milih mana saja hal-hal yang bisa mereka serap (dianggap baik) dan mana yang tidak. For God’s sake, we can’t expect that. Harus ada kesadaran dari semua orang bahwa menggunakan kata-kata, seperti autis dan teman-temannya adalah suatu perbuatan yang tidak bermoral (dan sangat jauh dari berperasaan). Hal menyedihkan lainnya adalah, ketika ada orang-orang yang protes akan hal ini, atau mungkin ada regulasi yang mengatur hal-hal semacam ini, tidak sedikit pula orang-orang yang “mengecam” tindakan pelarangan itu sebagai bentuk pembatasan kreatifitas. Tiba-tiba akan muncul banyak orang yang mengatasnamakan seniman (artis) dan orang-orang ini kemudian akan menyangkutpautkan hal-hal semacam ini dengan kebebasan berekspresi dan bahkan demokrasi.

Ini sangat buruk. Tidak pernahkah kita sedikit saja merasa simpati, hanya sedikit simpati, kepada orang-orang yang berkebutuhan khusus? Hanya karena kita (merasa) lebih baik dari orang lain, bukan berarti kita bisa berbuat semuanya terhadap orang yang lebih inferior kan? Apakah kita yang beruntung harus berteriak kepada orang-orang yang tidak beruntung bahwa kita lebih baik dari mereka? Jika begitu, lantas apa bedanya kita dengan orang-orang di era kolonial dulu yang kerap kiat anggap sebagai orang-orang tidak berperasaan? Ini adalah kondisi nyata di masyarakat kita, dan anak-anak adalah salah satu “target” pasar dari berbagai media di masa kini. Dan di era digital saat ini, apa yang populer di anak-anak bisa menyebar dengan cepat bak virus atau wabah penyakit. Itu juga yang terjadi penyebaran kata-kata autis sebagai suatu ejekan sekaligus lelucon. Entah siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, tapi yang pasti ada peran: (1) anak-anak; (2) media; dan (3) public figure sebagi agen sosialisasinya.

Arus informasi yang begitu besar hampir tidak bisa lagi terbendung. Kita hampir tidak bisa menyaring untuk memilah-milih mana informasi yang penting dan mana yang tidak. Di zaman dulu, orang-orang hanya mencari informasi yang penting. Namun, kini orang-orang juga “mengonsumsi” dan bahkan turut mencari informasi-informasi yang tidak penting (dan kegiatan ini tampaknya semakin digemari). Pada akhirnya, dibutuhkan suatu kesadaran yang benar-benar berasal dari hati nurani masing-masing individu agar autisme tidak lagi dijadikan sebagai bahan lelucon. Walaupun ada suatu regulasi yang mengatur tata cara peyiaran, dalam hal ini adalah Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Pers (P3SPS) yang diterbitkan oleh lembaga negara independen Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), hal-hal semacam ini—pelecehan terhadap penderita autisme dan orang dengan kondisi fisik/mental tertentu—tetap akan terulang lagi dan lagi. Toh, memang sebenarnya bukan hal yang baru bahwa berbagai peraturan yang ada di negeri ini pada akhirnya hanya sekedar ada. Semuanya harus kembali pada kesadaran masing-masing. Mungkin terkesan normatif, tapi semuanya memang kembali pada kesadaran masing-masing dan ditambah dengan masyarakat yang harus ikut membiasakan diri untuk tidak lagi menggunakan kata-kata yang merujuk pada kondisi fisik/mental seseorang sebagai bahan lelucon atau ejekan.

Anyway, saya sempat membaca satu tweet di timeline saya beberapa hari lalu—saya lupa siap yang men-tweet—yang berisi (kira-kira), “anak anak dengan kebutuhan khusus, di waktu yang sama, adalah anak anak dengan kemampuan khusus.” Saya kira saya setuju dengan pernyataan itu. Jadi, mulai sekarang, jangan lagi kita gunakan kata autis atau kata-kata yang berhubungan dengan kondisi fisik/mental seseorang sebagai bahan lelucon atau tertawaan karena itu sama sekali tidak lucu. Jika kita bukan tipe orang yang benar-benar peduli atau aware dengan isu autisme (atau semacamnya), setidaknya dengan tidak menjadikan kata "autis" sebagai lelucon sudah merupakan bentuk kepedulian yang mungkin tidak banyak orang sadari.

   Add Friend

01 April 2013

Ada yang Salah dengan Negeri Ini

Spanduk acara Maulid Nabi Muhammad SAW di depan Stasiun Gondangdia (01/04/2013)
Jelas ada yang salah dengan negeri ini. Contohnya spanduk yang cukup membuat saya terpukau pagi hari ini ketika saya baru keluar dari Stasiun Gondangdia, Jakarta. Entah apa yang dipikiran si pembuat acara (keagamaan) ini, atau si desainer spanduk, atau bahkan si narasumber yang akan menjadi "bintang tamu" pada acara tersebut. Namun, saya kira--saya punya pemikiran--bahwa siapa pun orang-orang yang bertanggung jawab atas terpampangnya spanduk tersebut, mulai dari ide menghadirkan si narasumber sampai dengan keputusan akan desain spanduk yang dipublikasikan, orang-orang itu (jelas) tidak waras. Iya, tidak waras, enggak "sehat" deh pokoknya.

Pada awalnya, saya kira spanduk tersebut adalah semacam spanduk acara-acara horor atau semacam media publikasi acara rumah hantu di suatu tempat atau mungkin diskusi film horor kacangan ala Indonesia. Namun, ternyata saya sangat terkejut dan sekaligus merasa hopeless ketika mengetahui kenyataan bahwa acara tersebut adalah acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Sungguh miris melihatnya, dan... hopeless (yang mana artinya--dalam konteks ini--juga termasuk: speechless). Beginikah citra orang Indonesia? Khususnya (alim ulama) umat Muslim di Indonesia?

Duh, emosi enggak sih? Kok saya emosi ya? Saya jadi merasa bahwa orang-orang ini justru jadi semacam membuat "lelucon" terhadap acara yang saya kira selama ini dianggap penuh dengan nilai-nilai religius. Jujur saja, saya memang bukan tipikal orang yang sangat religius, tapi apa yang terpampang di spanduk itu (dan si narasumbernya) justru seakan "melecehkan" Islam. Entahlah, apa hanya perasaan saya yang terlalu sensitif, tapi saya rasa acara ini sangat tidak pantas, apalagi karena menyangkut perayaan maulid Nabi. Acara maulid Nabi bukan semacam acara perayaan ulang tahun biasa yang (mungkin) bisa mengundang bintang tamu stand up comedian kan? Ini sangat fatal. Coba kita lihat juga temanya, "Satu Langkah Lebih Dekat dengan Rasul," dan... apa yang kita lihat di gambarnya? Saya rasa mungkin di satu sisi, panitia acara ini mau menarik perhatian publik agar banyak orang yang menghadiri acara tersebut. Mungkin begitu, tapi jelas gagal. Di mana lagi kredibilitas si narasumber (dan si pembuat acara)? Saya bingung deh, orang-orang ini enggak malu ya dengan pendapat publik atau bahkan pemeluk agama lain yang melihat spanduk tersebut? Saya pribadi sebagai pemeluk agama Islam, jujur, sangat malu.

Saya pun jadi berpikir, jangan-jangan hal seperti ini bukan hanya terjadi baru-baru ini, dan bukan hanya di Jakarta. Si ustad dalam spanduk itu sudah punya nama julukan, artinya pasti setidaknya sudah banyak orang yang kenal dia. Entah saya yang kurang update menonton televisi, tapi rasa-rasanya saya memang belum pernah mendengar nama beken ustad ini sebelumnya. Namun, tetap saja, menurut saya ustad ini pasti sudah memiliki jemaahnya sendiri. Tidakkah sangat aneh jika kita mendengarkan ceramah yang berisi berbagai nasehat dari seorang yang sangat konyol, yang julukannya adalah nama salah satu makhluk halus paling populer di tanah air, yang bahkan keberadaannya sangat sering dikait-kaitkan dengan hal-hal mistik yang bisa menjauhkan diri seorang Muslim dari tauhid (yang saya dengar di khutbah-khutbah begitu). Akhirnya, saya berpikir (dan merasa) bahwa memang yang menjatuhkan citra Islam ini adalah para pemeluknya sendiri, bukan pemeluk agama lain. Ya, semoga umat Islam bisa kembali pada jalan yang lurus dan benar. Kalau pun tidak bisa keseluruhan umat, minimal diri kita masing-masing berada pada jalan yang sebenar-benarnya jalan.

Penceramah: Ust. Rosid (Pocong) | Orang macam apa yang mau diceramahi oleh Pocong?