01 April 2013

Ada yang Salah dengan Negeri Ini

Spanduk acara Maulid Nabi Muhammad SAW di depan Stasiun Gondangdia (01/04/2013)
Jelas ada yang salah dengan negeri ini. Contohnya spanduk yang cukup membuat saya terpukau pagi hari ini ketika saya baru keluar dari Stasiun Gondangdia, Jakarta. Entah apa yang dipikiran si pembuat acara (keagamaan) ini, atau si desainer spanduk, atau bahkan si narasumber yang akan menjadi "bintang tamu" pada acara tersebut. Namun, saya kira--saya punya pemikiran--bahwa siapa pun orang-orang yang bertanggung jawab atas terpampangnya spanduk tersebut, mulai dari ide menghadirkan si narasumber sampai dengan keputusan akan desain spanduk yang dipublikasikan, orang-orang itu (jelas) tidak waras. Iya, tidak waras, enggak "sehat" deh pokoknya.

Pada awalnya, saya kira spanduk tersebut adalah semacam spanduk acara-acara horor atau semacam media publikasi acara rumah hantu di suatu tempat atau mungkin diskusi film horor kacangan ala Indonesia. Namun, ternyata saya sangat terkejut dan sekaligus merasa hopeless ketika mengetahui kenyataan bahwa acara tersebut adalah acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Sungguh miris melihatnya, dan... hopeless (yang mana artinya--dalam konteks ini--juga termasuk: speechless). Beginikah citra orang Indonesia? Khususnya (alim ulama) umat Muslim di Indonesia?

Duh, emosi enggak sih? Kok saya emosi ya? Saya jadi merasa bahwa orang-orang ini justru jadi semacam membuat "lelucon" terhadap acara yang saya kira selama ini dianggap penuh dengan nilai-nilai religius. Jujur saja, saya memang bukan tipikal orang yang sangat religius, tapi apa yang terpampang di spanduk itu (dan si narasumbernya) justru seakan "melecehkan" Islam. Entahlah, apa hanya perasaan saya yang terlalu sensitif, tapi saya rasa acara ini sangat tidak pantas, apalagi karena menyangkut perayaan maulid Nabi. Acara maulid Nabi bukan semacam acara perayaan ulang tahun biasa yang (mungkin) bisa mengundang bintang tamu stand up comedian kan? Ini sangat fatal. Coba kita lihat juga temanya, "Satu Langkah Lebih Dekat dengan Rasul," dan... apa yang kita lihat di gambarnya? Saya rasa mungkin di satu sisi, panitia acara ini mau menarik perhatian publik agar banyak orang yang menghadiri acara tersebut. Mungkin begitu, tapi jelas gagal. Di mana lagi kredibilitas si narasumber (dan si pembuat acara)? Saya bingung deh, orang-orang ini enggak malu ya dengan pendapat publik atau bahkan pemeluk agama lain yang melihat spanduk tersebut? Saya pribadi sebagai pemeluk agama Islam, jujur, sangat malu.

Saya pun jadi berpikir, jangan-jangan hal seperti ini bukan hanya terjadi baru-baru ini, dan bukan hanya di Jakarta. Si ustad dalam spanduk itu sudah punya nama julukan, artinya pasti setidaknya sudah banyak orang yang kenal dia. Entah saya yang kurang update menonton televisi, tapi rasa-rasanya saya memang belum pernah mendengar nama beken ustad ini sebelumnya. Namun, tetap saja, menurut saya ustad ini pasti sudah memiliki jemaahnya sendiri. Tidakkah sangat aneh jika kita mendengarkan ceramah yang berisi berbagai nasehat dari seorang yang sangat konyol, yang julukannya adalah nama salah satu makhluk halus paling populer di tanah air, yang bahkan keberadaannya sangat sering dikait-kaitkan dengan hal-hal mistik yang bisa menjauhkan diri seorang Muslim dari tauhid (yang saya dengar di khutbah-khutbah begitu). Akhirnya, saya berpikir (dan merasa) bahwa memang yang menjatuhkan citra Islam ini adalah para pemeluknya sendiri, bukan pemeluk agama lain. Ya, semoga umat Islam bisa kembali pada jalan yang lurus dan benar. Kalau pun tidak bisa keseluruhan umat, minimal diri kita masing-masing berada pada jalan yang sebenar-benarnya jalan.

Penceramah: Ust. Rosid (Pocong) | Orang macam apa yang mau diceramahi oleh Pocong? 

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.