05 April 2013

Autisme Bukan Lelucon

Tanggal 2 April kemarin (ternyata) diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day). Aneh rasanya karena saya (merasa) baru tahu bahwa ada peringatan hari semacam ini. Namun, saya rasa peringatan hari tersebut pasti sudah diselenggarakan setiap tahunnya entah dari kapan, dan ketidaktahuan (dan kekurangpekaan untuk ingin tahu) ini sepertinya telah memabuat saya berada dalam kelompok orang-orang yang (juga) kurang peka dengan isu autisme. Anyway, sebagai info, ternyata hari peringatan tersebut telah diselenggarakan sejak tahun 1989, tapi baru ditetapkan pada tahun 2007 oleh resolusi Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly).

Oke, itu tadi sekedar prolog. Sekarang, saya ingin membahas mengapa (pada akhirnya) saya setuju bahwa isu autisme ini sangat penting dan orang-orang perlu sadar betul bahwa membuat lelucon autisme adalah sebuah penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang beradab—ini serius. Di Indonesia, khususnya, kerap kali kita menggunakan kata-kata yang mengacu pada orang-orang yang berkebutuhan khusus, baik fisik maupun mental, sebagai lelucon atau sebagai bahan ejekan/cemoohan. Konteksnya memang bisa serius atau bisa juga sekedar bercanda. Sebut saja, seperti kata-kata: autis, cacat, atau camen (cacat mental), dan sebagainya yang mungkin cukup familiar di telinga kita. Parahnya lagi, media pun ikut bertanggung jawab terhadap “sosialisasi masif” kata-kata tidak bermoral ini ke masyarakat. Banyak istilah yang pada awalnya hanya populer di suatu komunitas tertentu, kemudian menjadi menyebar secara masif ke berbagai pelosok akibat peran media, khususnya media elektronik. Ditambah lagi, banyak public figure (komedian, presenter, dan selebritas) yang turut menjadi agen sosialisasi kata-kata ini di berbagai media. Dalam hal ini, kata “autis” kerap diasosiasikan dengan tingkah laku seseorang yang sama sekali tidak seperti anak yang menderita autisme sebenarnya. Dalam berbagai lelucon, kata “autis” kerap mengacu pada tingkah laku seseorang (yang dianggap) konyol, agak berlebihan (pecicilan, atau semacamnya), atau agak bodoh.

Ini adalah fenomena yang sangat menyedihkan. Kita mungkin sering mendengar ungkapan “tertawa di atas penderitaan orang lain.” Believe it or not, secara tidak sadar, kita telah menjadi orang-orang yang “tertawa di atas penderitaan orang lain” dengan menjadikan kata autis sebagai bahan lelucon. Semakin sering seseorang menggunakannya maka ia akan semakin tidak peka dan merasa bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang ia katakan. Dia akan terus menyangkal bahwa apa yang dia katakan itu hanya sekedar candaan biasa. Padahal tidak ada yang lucu dengan menertawai kekurangan orang lain. Saya pribadi—sekalipun bukan termasuk orang yang paling aware dengan isu ini—seringkali merasa bahwa selera humor masyarakat kita terbilang sangat (sorry to say) norak. Kita seringkali mengangkat kekurangan orang lain sebagai sesuatu yang pantas untuk ditertawakan.

Saya (dan saya yakin kita semua) sering menonton di televisi ketika para artis dan komedian kita hampir tidak pernah bisa menahan diri mereka (dalam satu episode) untuk tidak mengeluarkan kata-kata ejekan yang menghina kondisi fisik lawan mainnya atau menghina kondisi fisik/mental orang lain. Sekalipun si lawan mainnya itu merasa baik-baik saja dengan hal itu (dengan alasan “sekedar candaan” atau tuntutan pekerjaan), tapi mereka jelas telah mendidik para penonton bahwa apa yang mereka katakan di televisi adalah hal yang biasa. Mereka secara tidak langsung telah mendidik masyarakat bahwa candaan-candaan yang mengejek kondisi fisik (atau mental) seseorang adalah hal yang biasa dan seseorang tidak perlu tersinggung karenanya. Kita tidak bisa mengharapkan bahwa masyarakat seharusnya bisa memilah-milih mana saja hal-hal yang bisa mereka serap (dianggap baik) dan mana yang tidak. For God’s sake, we can’t expect that. Harus ada kesadaran dari semua orang bahwa menggunakan kata-kata, seperti autis dan teman-temannya adalah suatu perbuatan yang tidak bermoral (dan sangat jauh dari berperasaan). Hal menyedihkan lainnya adalah, ketika ada orang-orang yang protes akan hal ini, atau mungkin ada regulasi yang mengatur hal-hal semacam ini, tidak sedikit pula orang-orang yang “mengecam” tindakan pelarangan itu sebagai bentuk pembatasan kreatifitas. Tiba-tiba akan muncul banyak orang yang mengatasnamakan seniman (artis) dan orang-orang ini kemudian akan menyangkutpautkan hal-hal semacam ini dengan kebebasan berekspresi dan bahkan demokrasi.

Ini sangat buruk. Tidak pernahkah kita sedikit saja merasa simpati, hanya sedikit simpati, kepada orang-orang yang berkebutuhan khusus? Hanya karena kita (merasa) lebih baik dari orang lain, bukan berarti kita bisa berbuat semuanya terhadap orang yang lebih inferior kan? Apakah kita yang beruntung harus berteriak kepada orang-orang yang tidak beruntung bahwa kita lebih baik dari mereka? Jika begitu, lantas apa bedanya kita dengan orang-orang di era kolonial dulu yang kerap kiat anggap sebagai orang-orang tidak berperasaan? Ini adalah kondisi nyata di masyarakat kita, dan anak-anak adalah salah satu “target” pasar dari berbagai media di masa kini. Dan di era digital saat ini, apa yang populer di anak-anak bisa menyebar dengan cepat bak virus atau wabah penyakit. Itu juga yang terjadi penyebaran kata-kata autis sebagai suatu ejekan sekaligus lelucon. Entah siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, tapi yang pasti ada peran: (1) anak-anak; (2) media; dan (3) public figure sebagi agen sosialisasinya.

Arus informasi yang begitu besar hampir tidak bisa lagi terbendung. Kita hampir tidak bisa menyaring untuk memilah-milih mana informasi yang penting dan mana yang tidak. Di zaman dulu, orang-orang hanya mencari informasi yang penting. Namun, kini orang-orang juga “mengonsumsi” dan bahkan turut mencari informasi-informasi yang tidak penting (dan kegiatan ini tampaknya semakin digemari). Pada akhirnya, dibutuhkan suatu kesadaran yang benar-benar berasal dari hati nurani masing-masing individu agar autisme tidak lagi dijadikan sebagai bahan lelucon. Walaupun ada suatu regulasi yang mengatur tata cara peyiaran, dalam hal ini adalah Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Pers (P3SPS) yang diterbitkan oleh lembaga negara independen Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), hal-hal semacam ini—pelecehan terhadap penderita autisme dan orang dengan kondisi fisik/mental tertentu—tetap akan terulang lagi dan lagi. Toh, memang sebenarnya bukan hal yang baru bahwa berbagai peraturan yang ada di negeri ini pada akhirnya hanya sekedar ada. Semuanya harus kembali pada kesadaran masing-masing. Mungkin terkesan normatif, tapi semuanya memang kembali pada kesadaran masing-masing dan ditambah dengan masyarakat yang harus ikut membiasakan diri untuk tidak lagi menggunakan kata-kata yang merujuk pada kondisi fisik/mental seseorang sebagai bahan lelucon atau ejekan.

Anyway, saya sempat membaca satu tweet di timeline saya beberapa hari lalu—saya lupa siap yang men-tweet—yang berisi (kira-kira), “anak anak dengan kebutuhan khusus, di waktu yang sama, adalah anak anak dengan kemampuan khusus.” Saya kira saya setuju dengan pernyataan itu. Jadi, mulai sekarang, jangan lagi kita gunakan kata autis atau kata-kata yang berhubungan dengan kondisi fisik/mental seseorang sebagai bahan lelucon atau tertawaan karena itu sama sekali tidak lucu. Jika kita bukan tipe orang yang benar-benar peduli atau aware dengan isu autisme (atau semacamnya), setidaknya dengan tidak menjadikan kata "autis" sebagai lelucon sudah merupakan bentuk kepedulian yang mungkin tidak banyak orang sadari.

   Add Friend

1 komentar :

Totally ini bener-bener miris. Mudah-mudahan orang Indonesia cepat sadar. Btw, saya juga lagi pengin nge-bahas soal ini di YouTube saya. Lalu jalan-jalan di Google, yang nge-bahas soal ini kayaknya dikit banget. Mudah-mudahan yang kayak gini bisa di share ke semua orang. Mantep! ;)

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.