Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

29 Mei 2013

Haruskah Mengindonesiakan Singkatan Asing?

Tulisan kali ini berawal dari status saya di Facebook yang mempertanyakan soal mana yang tepat pengucapannya: "Indonesian Movie Awards 'dua ribu tiga belas'" atau "Indonesian Movie Awards 'two thousand (and) thirteen'"? Saya menulis demikian karena sebelumnya saya mendengar salah satu pembawa acara Indonesian Movie Awards 2013, Choky Sitohang, melafalkan tahun 2013 dalam bahasa Indonesia alih-alih dengan bahasa Inggris sebagai mana tiga kata bahasa Inggris di depannya. Dalam hal-hal semacam ini, sering kali seseorang tidak konsisten. Jika suatu nama acara dibuat dalam bahasa Inggris, seharusnya tidak perlu mencampurkan bahasa Indonesia (apalagi untuk niatan agar terasa "sedikit" nasionalis) ke dalam penyebutan tahunnya. Nama acara tersebut justru menjadi aneh. Jika mau berbahasa Inggris, gunakan bahasa Inggris sepenuhnya, jangan dicampur-campur. Namun, kalau mau benar-benar terasa "Indonesia", seharusnya dibuat saja menjadi "Penghargaan Film Indonesia 'dua ribu tiga belas'". Dengan demikian rasa "nasionalisnya" tidak setengah-setengah.

Dari status saya itu, ada satu komentar menarik dari Dodi. Menurut Dodi, tren penamaan acara-acara dalam negeri yang menggunakan bahasa Inggris sebenarnya tidak masalah selagi konsisten. Lebih kurang artinya dia sependapat dengan saya soal kekonsistensian dalam berbahasa. Kemudia dia juga menambahkan bahwa ketidakkonsistensian juga terjadi saat menyebutkan singkatan yang dibentuk dari kata-kata bahasa asing. Dalam hal ini, Dodi mengatakan bahwa pada saat Indonesian Movie Awards 2013 kemarin, mereka (saya kurang tahu 'mereka' ini siapa), melafalkan I.M.A. jusru dengan ejaan bahasa Indonesia, bukannya dengan pelafalan bahasa Inggris.

Untuk masalah pelafalan singkatan ini memang ada dua 'mazhab'. Ada yang bilang dilafalkan sesuai dengan bahasa Indonesia, ada juga yang bilang (dan merasa) tetap harus dilafalkan dalam bahasa Inggris. Suatu ketika saya pernah baca artikel di rubrik bahasanya Kompas. Pada dasarnya, kita memang sudah terbiasa mencampur-campur dan tidak konsisten dalam melafalkan singkatan-singkatan yang dibentuk dari bahasa Inggris. Sebagai contoh, kita pasti bilang /ef-bi-ai/ untuk FBI bukannya /ef-be-i/, sedangkan untuk WHO, kita pasti menyebutnya /we-ha-o/, bukannya /double u-eich-o/. Untuk FAO, kebanyakan orang akan bilang /ef-ei-o/, daripada /ef-a-o/. Atau BBM (BlackBerry Messenger) misalnya, orang-orang mengejanya /be-be-em/, bukannya /bi-bi-em/. BMW, ada yang bilang /be-em-we/, ada juga yang /bi-em-double u/. Anehnya lagi, kita sering mengeja singkatan berbahasa Indonesia dengan ejaan bahasa Inggris, misalnya MNC (Media Nusantara Citra), dieja /em-en-si/, bukannya /em-en-ce/ (bukan 'se' ya, tapi 'ce') yang sebenarnya seharusnya begitu, padahal salah satu produknya, RCTI, dieja /er-ce-te-i/.

Lantas, mana yang benar? Apakah singkatan-singkatan yang diambil dari bahasa asing harus dilafalkan sesuai dengan bahasa aslinya atau dilafalkan sesuai dengan lafal abjad bahasa Indonesia? Mari kita membaca  satu artikel yang menarik (yang saya sebut di atas) karya André Möller.

AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

André Möller

Tidak diragukan lagi bahwa singkatan-singkatan seperti AC, VCD, DVD, dan TV sudah menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa nusantara lain. Setiap hari, singkatan tersebut kita temui di berbagai konteks atau malah kita gunakan sendiri. Tentu ini sah-sah saja. Orang yang kreatif sekaligus menolak pengaruh bahasa Inggris yang terlalu dahsyat dalam bahasa Indonesia, pasti dapat mengajukan alternatif lain yang lebih menusantara. Misalnya saja, alat penyegar udara sebagai pengganti AC. Namun, masalah ini bukan topik kita di sini.

Saya lebih tertarik pada pelafalan singkatan-singkatan ini di Indonesia. Dari empat contoh yang saya ajukan di atas, tiga biasa dilafalkan dengan logat Inggris atau setidak-tidaknya keinggris-inggrisan: VCD, DVD, dan TV. Cobalah sendiri! Kita tidak mengatakan /ve-ce-de/, /de-ve-de/, atau /te-ve/, tapi lebih cenderung melafalkannya sebagai /vi-si-di/, /di-vi-di/, dan /ti-vi/.

Singkatan AC merupakan campuran kalau dilihat dari cara pelafalannya: A-nya dilafalkan dalam bahasa Indonesia, sedangkan C-nya dilafalkan dengan logat Belanda. Mengapa demikian? Tentu saja pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab dengan langsung dan singkat. Akan tetapi, saya kira kita semuaatau hampir semuadapat sepakat bahwa /ve-ce-de/ dan seterusnya terdengar agak kuno, kampungan, dan tidak modern. Sedangkan yang sering-sering diburu rakyat Indonesia dewasa ini adalah kemodernan, kecanggihan, kekerenan di lingkungan urban.

Nah, meskipun argumen ini dapat kita anggap masuk akal, ada juga beberapa singkatan yang sangat erat hubungannya dengan kemodernan dan kehidupan urban yang tidak cocok dengan argumen itu. Singkatan yang paling mencolok adalah HP yang jelas-jelas berasal dari bahasa Inggris "hand phone" tapi dilafalkan dengan logat Indonesia /ha-pe/. Tidak pernah kita dengar ada yang menyebutnya sebagai /eich-pi/. Mengapa? Karena bunyi H-nya Inggris agak susah bagi lidah Indonesia dan lidah non-Inggris lainnya? Atau ada alasan lain lagi?

Di Indonesia sendiri, pernah saya dengar ada yang menyebutnya alat komunikasi baru itu sebagai telepon genggam. Di telinga saya, sebutan ini terdengar cukup segar dan kreatif, tapi saya meragukan kemungkinannya dipakai meluas di Indonesia.

Pelafalan singkatan paling aneh yang pernah saya dengar di Indonesia berhubungan dengan salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta. Yang saya maksudkan adalah UII. Singkatan ini tentu saja berasal dari Universitas Islam Indonesia, yaitu bahasa Indonesia. Meski begitu, mahasiswa-mahasiswinya sering kali menyebut kampusnya dengan /yu-i-i/. Dengan kata lain, U-nya dilafalkan dengan logat Inggris sedangkan kedua I-nya dilafalkan dengan logat Indonesia. Ketika melafalkan semua huruf itu dengan logat Indonesia /u-i-i/, saya ditertawakan dan dianggap cukup kampungan. Kalau saya melafalkannya sepenuhnya dengan logat Inggris /yu-ai-ai/ tidak ada yang mengerti apa yang saya maksudkan.

Kasus UII tentu sangat berbeda dengan kampus lain di kota pelajar itu. UGM, UNY, dan IAIN, misalnya, semua dilafalkan sepenuhnya dengan logat Indonesia. Untung bagi mahasiswa IAIN sebab mereka pasti kesulitan kalau singkatan kampusnya harus diucapkan secara Inggris.

Kita dapat mengatakan bahwa singkatan-singkatan di Indonesia diucapkan dalam berbagai bentuk. Ada yang dilafalkan sepenuhnya dengan logat Inggris, ada yang pakai logat Indonesia saja, dan malah ada yang campur-campur. Saya tidak menganggap satu cara benar dan satunya salah, seperti dapat dikira sebagian orang. Saya hanya menarik perhatian para pembaca pada sebuah masalah kebahasaan yang saya anggap cukup menarik. Sebagai bahan perbandingan dapat saya kemukakan bahwa di negeri saya, Swedia, semua (?) singkatan yang berasal dari luar negeri sudah "menswedia". Maka, dengan penuh percaya diri kami mengatakan /de-ve-de/, ve-se-de/, dan /te-ve/. Mungkin saja orang lain menganggap kami semua kampungan.
--
Disalin dari tulisan André Möller dalam artikel "AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP", Kolom Bahasa, Kompas, 10 April 2004.

Pada artikel di itu, si penulis mengatakan bahwa di negara asalnya, Swedia, singkatan yang berasal dari luar negeri telah  "menswedia", dan saya rasa itu suatu hal yang bagus dan sekaligus bentuk kekonsistensian dalam berbahasa. Dalam hal pelafalan ini, saya rasa memang perlu ada penyeragaman dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (ataukah sebenarnya sudah ada?) Setelah itu hal ini harus terus-menerus disosialisasikan kepada publik baik melalui institusi-institusi pendidikan maupun media. Pastinya butuh waktu yang sangat lama untuk mengubah sebuah kebiasaan. Katakanlah pada akhirnya kita harus melafalkan segala singkatan dari bahasa asing dalam bahasa Indonesia sebagai bentuk standardisasi pelafalan, maka dalam konteks I.M.A. kemarin kita harus mengejanya /i-em-a/, daripada /ai-em-ei/. Saya pribadi setuju dengan André Möller.

25 Mei 2013

Fatin and the "Ghost Haters"

Saat ini hampir pukul 2.30 dini hari, tapi entah kenapa, rasa-rasanya jari-jari saya berasa "gatel" mau menulis sesuatu soal komentar-komentar banyak orang di linimasa (timeline) Twitter terkait hasil X-Factor Indonesia yang mengantarkan Fatin Shidqia Lubis sebagai juara di musim pertama ajang pencarian bakat ini. Di sini, saya mengakui bahwa saya memang menjagokan Fatin sebagai juara, tapi bukan berarti saya ikut mem-vote Fatin, baik melalui SMS maupun telepon. Menurut saya, orang-orang semacam saya ini jumlahnya sangat banyak di negeri kita, bahkan mungkin ketika kamu membaca tulisan ini, bisa jadi kita adalah orang yang setipe. Jadi, ya... saya ini adalah tipikal orang yang mendukung secara moril saja, tapi tidak secara materil. Ibarat kata, bantu doa saja.

Anyway, yang ingin saya ceritakan di sini adalah, saya merasakan keprihatinan yang sangat mendalam (diucapkan layaknya seorang presiden) terhadap kebanyakan sikap para pendukung Novita yang ternyata rata-rata tidak menyukai si Fatin. Apa alasannya? Well, banyak yang bilang Fatin itu kekanak-kanakan, gayanya agak centil, pecicilan, dianggap dibuat-buat, pura-pura polos, cengeng, dan yang paling penting, suaranya dianggap tidak sebagus Novita. Dalam hal ini, kebanyakan alasan-alasan di atas adalah pendapat wanita (kebetulan saya tidak menemukan banyak pria yang "berkicau" seperti itu). Saya (mungkin) bisa paham, tapi jika saya boleh sedikit berkomentar, menurut saya tidak ada yang salah dari sikap Fatin. Saya pribadi bisa melihat bahwa sikap Fatin memang jujur apa adanya, tidak dibuat-buat, dan karena itulah ia dianggap polos. Gayanya memang seperti, karena dia memang masih kecil, dia bahkan belum punya KTP, masih 16 tahun. Lagipula, seingat saya yang punya banyak teman wanita (jangan diartikan sebagai 'girlfriend') semasa SMA, memang begitulah tingkah anak SMA (zaman ini), bahkan hingga saat ini saya masih sering berhubungan dengan dunia anak SMA, dan begitulah mereka, banyak kok yang tingkahnya seperti Fatin (jika memang itu yang dipermasalahkan).

Ada pula yang membuat lelucon soal PKS, Fathonah, dengan Fatin. Maksudnya, terkait dengan cara berpakaian Fatin (berbusana Muslim) dan PKS identik dengan partai Islam dan kemiripan nama antara Fatin dan Fathonah. Sekalipun jelas itu hanya sekedar lelucon, tapi saya harus katakan bahwa lelucon itu sangat tidak cerdas (dan tidak bijak). Anyway, saya bukan pendukung parpol mana pun.

Sebenarnya, kemenangan Fatin ini sangat bisa diprediksi dari awal dan hal itu sangat ilmiah. Namun, saya tidak bisa menceritakannya di sini karena saya kira akan cukup sensitif untuk dibicarakan bahkan di dunia maya. Kamu bisa tanya pada saya secara personal jika memang mau tahu pendapat saya soal ini.

Lantas, bagaimana dengan kualitas vokal? Saya kira dalam hal ini kita tidak bisa mengatakan bahwa suara Fatin lebih bagus daripada Novita atau sebaliknya karena keduanya memiliki karakter yang berbeda. Saya pribadi tidak menganggap bahwa suara Fatin lebih baik daripada suara Novita. Saya pribadi juga selalu menyukai setiap penampilan Novita dari minggu ke minggu. Baik Fatin maupun Novita, kedua-duanya sama bagusnya dan karena itulah mereka masuk babak final, dan itu bukan karena "telinga" rakyat Indonesia tidak bagus atau tidak punya selera musik. Kadang saya suka gerah dengan pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa selera atau pendengaran orang Indonesia kurang bagus. Loh, kan saya juga orang Indonesia, yang berbicara begitu pun orang Indonesia, lagipula, saya tidak yakin apakah yang bersangkutan paham betul dengan yang ia maksud, jangan-jangan selera musik dialah yang tidak bagus. Namun, itu kan hanya opini dan kita semua bebas beropini. Hanya saja, mbok yo lebih diayak (dan dipikirkan) gitu loh omongannya.

Saya melihat bahwa Novita memiliki kekuatan vokal yang sangat luar biasa, suaranya sangat bagus, dan powerful. Jelas, kalau dibandingkan dari segi pengalaman dan kualitas vokal, saya akui bahwa Fatin memang tidak ada apa-apanya. Namun, itu bukan berarti Fatin jelek juga kan? Saya rasa biar bagaimanapun Fatin memiliki karakter vokal yang sangat khas, dan itu menjadi satu hal penting. Ditambah lagi dengan penjelasan Ahmad Dhani soal "apa sih X-Factor itu sebenarnya." Bisa jadi, di kompetisi menyanyi, seperti di Indonesia Idol, Novita bisa jadi juara, atau Shena, atau bahkan Agus. Namun, lagi-lagi di sini ada X-Factor atau "faktor X" yang diperhitungkan. Jadi, (menurut pengertian saya) kompetisi ini tidak bicara soal kualitas vokal (saja), tapi ada faktor lain yang membuat seseorang suka dengan si orang itu. Mungkin ini salah satu hal penting yang juga perlu kita garis bawahi.

Jika kita ingat, pada saat Indonesia Idol musim pertama, tiga besar kontestan kompetisi itu adalah Joy Tobing, Delon, dan Nania. Bagi saya pribadi, karakter vokal Nania jelas di atas Delon dan saya masih ingat betul itu. Delon, di lain hal, kerap menerima kritikan dari para juri. Namun, ternyata hasil voting pemirsa membawa Delon ke babak final bersama Joy Tobing. Di sini artinya, tidak peduli bahwa Nania memiliki kualitas suara di atas Delon, tapi Delon punya faktor lain yang membuatnya disukai oleh banyak orang, entah itu secara fisik atau hal-hal yang tidak bisa dijelaskan di mana itulah yang disebut sebagai "faktor X" tadi. Namun, itu tetap tidak berarti bahwa Delon tidak bisa bernyanyi kan? Dia jelas bisa bernyanyi walaupun secara karakter vokal kalah dengan Nania, tapi ternyata orang-orang lebih banyak menyukai Delon dibandingkan dengan Nania dan terkadang itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan, dan itu sah-sah saja.

Selain penjelasan-penjelasan di atas, di sini saya juga sangat menyesalkan mengapa orang kita, orang Indonesia, sangat kurang dalam mengapresiasi prestasi orang lain. Bukankah menang atau kalah dalam suatu kompetisi itu hal yang biasa? Lagipula, jika dilihat-lihat, hadiah yang diterima oleh ketiga pemenang bahkan tidak begitu jauh berbeda. Namun, kenapa orang-orang harus "mem-bully" orang yang bahkan tidak mereka kenal betul dengan terus mencemooh dan bersikap sinis. Oh, ayolah, kita semua bisa lebih baik dari itu.

Ditambah lagi, sebenarnya kita tidak berhak mengatakan satu hal buruk pun jika kita sendiri tidak pernah benar-benar memberikan dukungan nyata, selain tweet-tweet di Twitter. Jika kamu memang adalah seorang pendukung setia dari idola kamu dan kamu terus-menerus secara aktif mengirimkan dukungan kamu, entah melalui SMS ataupun telepon, atau bahkan minimal "pernah" mendukung melalui salah satu dari dua media tersebut maka kamu boleh kecewa dengan hasil yang terjadi malam ini. Namun, jika kamu bahkan tidak pernah satu kali saja memberikan dukungan yang berarti bagi idola kamu, kamu sama sekali tidak berhak untuk berbuat sinis pada si pemenang yang bukan merupakan jagoan kamu, bahkan tidak di Twitter.

Ayolah teman-teman, kita harus berubah menjadi bangsa, dan terutama, menjadi generasi yang mengapresiasi, bukan menjadi generasi pencemooh, pem-bully, skeptis, dan sinis terhadapa prestasi orang lain. Kita boleh suka dan tidak suka dengan seseorang, tapi rasa-rasanya tidak perlulah kita mengumbar-umbarkan ketidaksukaan kita itu dengan menjelek-jelekkannya. Tidakkah itu justru hanya memperburuk citra kita?

Kini saya sadar, dan sebenarnya sebagai pengingat diri saya pribadi, bahwa maju atau tidaknya bangsa ini ditentukan dari kita para generasi muda (kecuali kamu merasa tidak semuda itu). Jika kita terus menerus skeptis dan sinis terhadap sedikit saja prestasi yang bisa anak bangsa ini peroleh, niscaya kebangkitan negeri ini hanya suatu hal yang utopis, hanya dalam khayalan anak-anak atau orang-orang tua yang sudah tidak mampu lagi berbuat banyak.

Yang terakhir, sesungguhnya seni itu tidak untuk dinilai, tetapi untuk diapresiasi. Jika kita masih menilai bahwa si seniman A tidak lebih baik daripada si seniman B, itu artinya kita belum paham betul dengan seni itu sendiri. Saya bukan orang yang paling paham soal seni, tapi kira-kira begitulah yang saya tahu dan saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat.

   Add Friend

20 Mei 2013

Bangkit Itu: Jujur

Selamat pagi dan selamat Hari Kebangkitan Nasional! Kali ini saya mau berbagi pandangan mengenai makna Hari Kebangkitan Nasional bagi saya. Mungkin saya sudah cukup sering menulis banyak hal soal Indonesia, bahkan beberapa kali saya juga telah menulis soal Hari Kebangkitan Nasional. Namun, kali ini saya mencoba untuk menulis dari perspektif yang berbeda.

Hari Kebangkitan Nasional, sebagaimana yang (mungkin) telah kita ketahui bersama, adalah sebuah hari yang setiap tahun kita peringati sebagai hari di mana dimulainya pergerakan perlawanan bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda dengan penuh rasa dan semangat persatuan, kesatuan, serta nasionalisme demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang pada masa-masa sebelumnya sangat sulit dimunculkan. Terlepas dari pro dan kontra akan peringatan hari ini karena ada sebagian pihak yang masih mempertanyakan keabsahan mengenai lahirnya hari tersebutyang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo, tapi hari ini tetap layak mendapatkan perhatian khusus bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bicara soal kebangkitan bangsa (atau kebangkitan Indonesia), pada hakikatnya tidak berhenti setelah negeri ini merdeka. Kebangkitan bangsa ini tidak seharusnya berhenti ketika kita sudah merasa cukup mandiri sebagai bangsa (yang kenyataanya belum demikian). Perjuangan dan semangat kebangkitan bangsa seharusnya tetap dipupuk dalam setiap lubuk hati rakyat Indonesia dan terutama dalam hal ini adalah para pemuda. Namun, entah ini hanya perasaan saya saja, atau memang rasa-rasanya dewasa ini makna "kebangkitan bangsa/kebangkitan nasional", "nasionalisme", atau "cinta tanah air" itu telah mengalami pergeseran makna yang sangat jauh dari makna yang dimaksud pada saat pertama kali istilah-istilah tersebut diperkenalkan di negeri ini.

Sebagai contoh, saya melihat bahwa orang-orang Indonesia semakin hari semakin bangga dan senang mengenakan busana batik. Saya tidak hanya melihat orang-orang berbaju batik, tapi juga bercelana batik, memakai tas (bermotif) batik, topi batik, bahkan banyak "barang-barang lucu" bermotif batik, dan tentunya itu adalah suatu hal yang (sangat) bagus. Namun, jika kita telaah lagi, mugkinkah nasionalisme kita hanya sebatas pada mengenakan sesuatu yang bermotif batik? Saya sangat yakin bahwa seluruh orang Indonesia akan ikut "pasang badan" jika negara tetangga kita tiba-tiba dengan seenak jidatnya mengklaim bahwa batik adalah hasil budayanya (dan hal ini jelas pernah kerap terjadi). Lantas, bagaimana dengan menjaga kelestarian lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, misalnya? Bagaimana dengan menaati rambu-rambu lalu lintas dan menghormati seluruh pengguna jalan di jalan raya? Bagi para pelajar, bagaimana dengan mengerjakan ujian atau tes dengan jujur tanpa harus ikut serta dalam transaksi jual-beli kunci jawaban? Sebenarnya masih banyak bentuk sikap-sikap sederhana yang bisa menunjukkan rasa nasionalisme atau cinta kepada tanah air ini. Sayangnya, banyak orang di negeri ini yang kerap merasa dirinya jauh lebih nasionalis daripada orang lain hanya karena ia punya lebih banyak baju batik (misalnya), atau dia adalah pendukung sejati Tim Nasional Indonesia, atau dia lebih suka musik Indonesia daripada musik Barat, dan sebagainya. Saya pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, dan mungkin Anda juga pernah.

Di negeri ini terlalu banyak hal yang membuat saya merasa miris. Entahlah, mungkin lagi-lagi ini hanya perasaan saya, tapi pada Hari Kebangkitan Nasional kali ini saya ingin mengatakan bahwa Indonesia tidak akan bangkit selama rakyatnya tidak mau jujur. Jujur dalam hal apa pun. Korupsi adalah suatu bentuk pelanggaran kejujuran yang paling ekstrem. Namun, sebaiknya kita jangan terlalu terpaku bahwa hanya karena kita (merasa) tidak korupsi berarti kita orang jujur. Tentunya itu penting dan (mungkin) benar, tapi bentuk kejujuran itu sangat luas, termasuk jujur dalam berbisnis, berdagang, mengerjakan ujian, bekerja, bahkan jujur pada diri sendiri. Kejujuran juga tidak hanya berlaku selama di sekolah atau lingkungan institusi pendidikan (bagai para pelajar). Saya akui bahwa selama saya menjadi pelajar dulu, saya juga kerap tidak jujur, tapi yang terpenting adalah bahwa saya sadar betul (sekarang) bahwa itu bukanlah sifat yang baiksekalipun dengan dalih bahwa saya hanya sesekali berbuat tidak jujur.

Salah satu contoh ketidakjujuran di masa-masa sekolah/kuliah adalah sifat ingin cepat selesai dan ingin serba praktis yang mendorong saya (dan sebagian besar orang) melakukan tindakan "pembajakan" atas karya orang lain atau yang saat ini populer dikenal sebagai "copas" atau copy-paste. Dulu, saya sering merasa bahwa copy-paste bukanlah hal yang besar, toh, lagipula saya bukan tipe orang yang suka "copas" secara ekstrem, tapi tetap saja itu namanya menjiplak, membajak, atau sebutan yang lebih tidak mengenakkan: plagiat.

Tentunya, kita semua tidak mau dicap sebagi plagiator sekalipun kita sadar betul apa yang kita lakukan adalah bentuk plagiarisme (dan itu dilarang, dan kita tahu itu). Namun, sebagian orang tetap melakukannya (tanpa rasa bersalah). Namun, percayalah bahwa ketika kita sedang meng-copy-paste karya seseorang (sekalipun dengan alasan untuk kepentingan akademis), kita telah berlaku tidak jujur dan percayalah bahwa rasanya ketika seseorang tahu bahwa karya diplagiat itu sangat tidak mengenakkan. Saya bisa mengatakan begitu karena saya tahu betul bahwa beberapa artikel di blog saya pernah muncul di blog orang lain (dan betul-betul sama persis). Saya berusah mengerti bahwa si peng-copy mungkin kurang paham soal plagiarisme dan berniat untuk berbagi ilmu pengetahuan, tapi kan sebenarnya, orang itu cukup menyebarkan tautan/link yang mengarah ke blog saya. Namun, toh, ternyata orang-orang di luar sana tetap meng-copy dan tidak jarang "mengklaim" bahwa tulisan saya di blog berubah bentuk menjadi bagian dari karya atau tugas-tugas mereka di sekolah/kampus.

Akibat kejadian-kejadian ini, saya akhirnya berusaha "melindungi" karya-karya saya di blog ini dengan membuat blog ini sebagai blog "anti-copas". Tanpa bermaksud jahat, tapi saya lakukan ini demi "melatih" sifat kejujuran orang-orang Indonesia, termasuk saya pribadi, dan juga sebagi "peringatan" bagi orang-orang di luar sana agar lebih menghargai karya orang lain. Tentunya, orang-orang tetap boleh menjadikan blog saya sebagai suatu referensijika mereka mau (sekalipun referensi dari blog sangat tidak disarankan), tapi mereka tidak bisa meng-copy-paste kontennya. Namun, tampkanya, niat saya ini kerap dianggap buruk bagi banyak orang. Well, saya tidak marah pada mereka, hanya saja, saya merasa kasihan denga nasib bangsa ini. Bagaimana tidak, para pemuda di negeri ini bahkan sudah terbiasa dengan sifat tidak jujur dan merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang lazim dan itu sah-sah saja. Di bawah ini saya akan menampilkan beberap komentar yang masuk di beberapa artikel yang cukup populer di blog saya.

Bagi saya, komentar-komentar di atas adalah suatu bentuk pemandangan yang sangat menyedihkan. Saya tidak pernah merasa gusar dengan komentar-komentar seperti itu, hanya saja, komentar-komentar di atas mencerminkan kepribadian orang-orang Indonesia, terutama dalam hal ini adalah para pemudanya. Hanya karena saya membuat blog saya menjadi tidak bisa sembarangan di-copy, bukan berarti saya orang yang pelit ilmu loh. Kalau saya pelit ilmu maka logikanya saya tidak mungkin harus bersusah payah memasukkan tulisan-tulisan ke dalam blog ini. Yang saya lakukan murni untuk berbagi pengetahuan kepada seluruh orang yang memang membutuhkannya. Namun, perlu diingat bahwa biar bagaimanapun kita tetap harus menghargai karya orang lain. Saya minta maaf jika saya tidak bisa percaya bahwa orang-orang tidak akan meng-copy-paste tulisan-tulisan saya walau saya yakin masih banyak orang di luar sana yang antiplagiarisme.

Inilah negeri kita, Indonesia tercinta. Bagi saya, Hari Kebangkitan Nasional tidak perlu dirayakan dengan aksi atau pun demonstrasi. Well, tentu semua orang punya preferensi masing-masing, tapi menurut saya, atau menurut "bangkit Indonesia versi gue," hari ini seharusnya jadi hari "introspeksi nasional", di mana kita semua, orang Indonesia, saling introspeksi diri. Kita tanyakan pada diri kita masing-masing seberapa besarkah rasa nasionalisme kita kepada negara ini? Apa yang harus (atau sudah) kita lakukan demi terus mengobarkan semangat kebangkitan nasional? Kita sering dengar bahwa jangan tanyakan apa yang telah negara lakukan untuk saya, tapi tanyakanlah apa yang telah saya lakukan untuk negara. Di hari ini, saya akan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih jujur karena menurut saya negera ini tidak akan pernah beres selama rakyatnya belum jujur. Bagaimana dengan versi ideal Anda? Tentu kita akan punya pendapat yang beragam, tapi apa pun itu, semoga hal itu akan selalu menghasilkan kebaikan untuk negara ini. Selama Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2013. Dari Fauzan untuk Indonesia.

10 Mei 2013

Tren Alih Profesi di Musim Pemilu

Tidak terasa, Indonesia akan segera memasuki tahun pemilu. Bagi saya pribadi, tahun pemilu tidak lebih dari sekedar tahun di mana hampir di seluruh sudut akan ditutupi berbagai macam baliho, poster, spanduk (termasuk spanduk-spanduk "super kreatif" para caleg), atau flyers baik dari para calon anggota legislatif atau dari para calon presiden (dan itu berarti sampah). Secara kualitas, saya rasa tidak banyak yang bisa kita harapkan, ayolah, kita semua tahu itu. Selain itu, pada tahun pemilu, kita akan melihat banyak orang berbondong-bondong mengadu nasib menjadi calon legislatif. Sangat aneh rasanya melihat kelakuan orang-orang ini karena jelas motivasi mereka untuk menjadi anggota legislatif lebih dikarenakan motif ekonomi, bukan demi kepentingan rakyat yang seutuh-utuhnya. Ah, tapi itulah Indonesia, lagi-lagi, kita semua tahu itu.

Kali ini, saya tertarik untuk membahas mengenai para calon legislatif dari kalangan artis, atau ya... sebut saja selebritas. Saya kurang setuju jika orang-orang itu dikatakan artis karena toh saya pribadi merasa diri saya sebagai seorang seniman yang dalam bahasa Inggris disebut artist. Hanya saja, saya tidak (atau belum) terekspos oleh media, sehingga saya bukanlah seorang selebritas. Anyway, kita semua tahu, bahwa para selebritas di tanah air kita ini laksana orang yang serba bisa, semacam orang-orang dengan multitalenta. Mereka yang awalnya terjun di bidang film, bisa terjun ke dunia tarik suara. Mereka yang awalnya terjun di dunia tarik suara, bisa terjun ke dunia film. Namun, yang pasti, mereka semua, apa pun latar belakangnya, bisa terjun ke dunia politik dan tidak tanggung-tanggung pula, menjadi wakil rakyat (dan ini adalah suatu niat yang sangat mulia). Seharusnya, orang-orang multitalenta semacam ini selayaknya dijadikan panutan bagi kita semua karena berbagai prestasi yang telah mereka capai. Namun, ternyata kenyataannya tidak demikian. Para selebritas yang mendaftar (atau didaftarkan) sebagai calon legislatif, bagi saya, tidak lebih dari sekumpulan orang-orang tidak tahu diri dan... tidak cerdas, bahkan sangat jauh dari kata "cerdas" itu sendiri. Oh, tapi jelas, bagaimanapun juga, yang memilih mereka jauh lebih tidak cerdas. Namun, apa yang bisa kita harapkan? Entahlah... saya memang hampir tidak punya harapan di negeri ini.

Beberapa minggu yang lalu, saya menemukan gambar yang sangat menarik, sekaligus sangat "menantang", yang saya temukan di halaman depan Facebook saya. Gambar itu adalah seperti yang bisa kita lihat di bawah ini:
Setelah melihat gambar itu, mungkin, lebih kurang reaksi kita akan sama. Pasti ada yang tertawa, ada yang kesal, ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang hanya bisa menghela nafas, atau ada juga yang senyam-senyum. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa gambar di atas, yang entah siapa pelopornya, jelas sangat provokatif dan sebenarnya memiliki pesan yang kira-kira, "Eh! Lihat nih, orang-orang kayak begini yang mau 'memperjuangkan' nasib lo? Nasib jutaan rakyat Indonesia?"

Jika nama-nama dalam gambar di atas kurang terbaca dengan jelas, di bawah ini adalah daftar nama selebritas yang akan bersaing memperebutkan kursi anggota dewan pada Pemilu 2014. Ada banyak wajah-wajah baru, tapi tidak sedikit pula wajah lama.

Nasdem
Doni Damara
Jane Shalimar
Ricky Subagja
Niel Maizar (Mantan Pelatih PSSI)
PAN
Primus Yustisio
Eko (Patrio) Hendro Purnomo
Ikang Fauzi
Dwiki Dharmawan
Desy Ratnasari
Anang Hermansyah
Jeremy Thomas
Ayu Azhari
Gisel Idol
Yayuk Basuki
PDI-P
Rieke Dyah Pitaloka
Yessy Gusman
Edo Kondologit
Sony Tulung
Nico Siahaan
Dedi Gumelar (Miing)
PKB
Ridho Rhoma
Arzatti Bilbina
Said (Bajaj Bajuri)
Mandala Shoki
Iyeth Bustami
Akri Patrio
PPP
Angel Lelga
Okky Asokawati
Mat Solar
Demokrat
Vena Melinda
Inggrid Kansil
Nurul Qomar
Gerindra
Irwansyah
Jamal Mirdad
Rachel Maryam
Bella Saphira
Iis Sugianto
Golkar
Nurul Arifin
Charles Bonar Sirait
Tantowi Yahya
Hanura
Krisdayanti
Gusti Randa
David Chalik
Teti Kadi

Sekarang, mungkin kita menjadi bertanya-tanya, memangnya semudah itu ya untuk menjadi calon anggota legislatif? Oke, sebelum saya berbicara lebih jauh, mari kita lihat dulu, apa saja syarat untuk menjadi calon anggota legislatif di republik ini. Dalam UU Nomor 8 Tahun 2012, BAB VII, Bagian Kesatu tentang Persyaratan Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota Pasal 51 telah ditulis apa saja syarat bakal calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, yaitu sebagai berikut:
  1. Telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.
  2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  4. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia.
  5. Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau pendidikan lain yang sederajat.
  6. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
  7. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
  8. Sehat jasmani dan rohani.
  9. Terdaftar sebagai pemilih.
  10. Bersedia bekerja penuh waktu.
  11. Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah atau badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali.
  12. Bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris, pejabat pembuat akta tanah (PPAT), atau tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  13. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara.
  14. Menjadi anggota Partai Politik Peserta Pemilu.
  15. Dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; dan
  16. Dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan.
Ada lumayan banyak syaratnya, tapi sama sekali tidak ada yang (benar-benar) memberatkan. Mungkin, jika seandainya ada syarat, seperti minimal harus S2, atau ada persyaratan nilai TOEFL, atau mungkin pengalaman minimal lima tahun di dunia politik, wah... saya jamin calon legislatif kita akan jauh lebih bermutu. Bahkan saya pribadi kurang paham batasan dari "setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945" itu apa? Cobalah tanyakan pada Bapak dan Ibu di DPR sana, saya rasa tidak semua dari orang-orang itu bahkan paham dengan apa yang dimaksud dengan "cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945".

Oke, kembali ke soal caleg dari kalangan selebritas. Melihat persyaratan yang cukup sangat mudah ini, tentu tidak heran bahwa kalangan ini bisa dengan mudah masuk ke dunia politik. Mereka setidaknya sudah punya modal "nama beken" dan nama sangat berpengaruh besar dalam menentukan kesuksesan memperebutkan kursi anggota dewan. Saya cukup yakin bahwa yang terjadi dengan mayoritas masyarakat Indonesia di luar Jakarta adalah, mereka cenderung memilih nama-nama yang mereka kenal atau nama-nama yang memang telah "memberikan kontribusi" pada daerah atau kampung mereka (ini berdasarkan cerita seorang sopir taksi yang kampungnya pernah dibagikan uang demi memenangkan seorang calon kepala daerah). Jadi, kalau bukan soal nama, pasti soal uang. Memang, pemilih kita sangat tidak cerdas. Ya... yang dipilih pun juga tidak cerdas. Jadilah kita bangsa yang tidak cerdas, tidak heran kan? Artinya, hampir tidak ada pertimbangan kualitas atau kompetensi si calon yang dipertimbangkan oleh si pemilih, dan itulah yang terjadi.

Beberapa hari lalu, saya membaca bahwa pedangdut Ridho Rhoma mengaku belum punya rencana konkret jika terpilih sebagai legislator di DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam pemilihan umum mendatang. Ini luar biasa loh! Kok bisa-bisanya gitu? Pertama, jika partai ini memang benar-benar berazaskan Islam yang berisi para ulama yang jelas paham betul soal agama, mencalonkan atau menerima calon pemimpin yang seperti ini kan luar biasa bodoh. Iya, segitu bodohnya. Saya Muslim, dan jelas saya malu dengan hal ini.

Dalam wawancaranya dengan Tempo, Ridho memang mengakui bahwa dirinya belum punya rencana konkret karena dia merasa sebagai "anak baru" di dunia politik. Namun dia mengatakan bahwa dia akan berusaha sebaik mungkin mewujudkan aspirasi masyarakat. Hello?! Dunia politik itu keras. Saya yang pernah berada di tepian di dunia politik kampus (belum sampai terjun atau bahkan tenggelam) saja merasa bahwa politik itu super jahat, apalagi politik "beneran" di negara ini. Dibutuhkan lebih dari sekedar, "berusaha sebaik mungkin mewujudkan aspirasi masyarakat," untuk menjalani tugas berat ini, yaitu kompetensi. Semua orang bisa berusaha sebaik-baiknya, dan tingkat usaha tiap orang itu berbeda-beda. Namun, kompetensi itu jauh lebih penting, terutama untuk negara kita yang sudah terlanjur amburadul ini.

Yang lucunya lagi, Ridho memang tidak menyanggah bahwa saat ini ia masih belum terlalu mengenal kondisi masyarakat di daerah pemilihan yang akan diwakilinya, yakni Bogor. Ia beralasan, proses pencalonannya belum lama, sehingga ia belum punya waktu untuk mempelajari persoalan Bogor. Duh, kok rasanya saya ingin sekali orang-orang seperti ini dihukum gantung saja. Kita bisa bayangkan, apakah nanti jika dia terpilih, dia bisa punya waktu untuk masyarakat Bogor? Ditambah lagi, Ridho juga menjelaskan tujuan utama dirinya menjadi caleg adalah menjadi vote getter (pendulang suara) bagi PKB yang menjadikan ayahnya sebagai calon presiden. Nah, berarti kan tujuan utamanya bukan murni demi rakyat. 

Ketua DPP PKB Marwan Ja'far mengatakan bahwa partainya akan memberikan pelatihan bagi para selebritas pendidikan singkat mengenai wawasan politik. Tujuannya untuk mempersiapkan kemampuan para selebritas, jika benar-benar terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019. Di negeri ini memang serba instan, bahkan nasib bangsa ini pun ditentukan secara instan. Jadi, saya tidak salah dong kalau merasa bahwa saya sangat hopeless tinggal di republik ini. Selain itu, Marwan juga menambahkan, "Selama ini latar belakang mereka dunia hiburan, minimal wawasan politiknya tahu lah." Lah? Minimal? Minimal banget? Enggak bisa minimal... inilah potret calon pemimpin bangsa ini. Saya pribadi stress loh dengan sistem yang seperti ini.

Coba kita lihat kembali tabel yang berisi nama-nama di atas, tanpa bermaksud mengintimidasi dan memandang sebelah mata, tapi... apa yang bisa kita harapkan dari (sebut saja) Doni Damara, Jane Shalimar, Irwansyah, Anang Hermansyah, Krisdayanti, atau bahkan Gisel Idol? Indonesia memang butuh peran pemuda, tapi kan enggak si Gisel atau Irwansyah juga... Cukuplah Gisel bernyanyi dan menghiasi panggung OVJ, dan Irwansyah membina rumah tangganya bersama Zaskia, tidak perlu ikut-ikut berpolitik. Bagaimana dengan artis-artis yang sudah kalah pamor, seperti Sony Tulung, Nico Siahaan, Bella Saphira, Jeremy Thomas, atau Primus Yustisio? Kalau ini jelas namanya mau cari duit lagi. Atau para pelawak, seperti Said (Bajaj Bajuri) atau Akri Patrio. Bahkan Mat Solar? Hanya karena si Oneng cukup "berhasil" di dunia politik, bukan berarti "suaminya" berkompeten kan? Atau bahkan Iyeth Bustami, Angel Lelga, dan Gusti Randa? Negeri ini sudah sakit. Sakit parah; kronis! Namun, tetap tidak ada yang peduli kan? Tampaknya tidak sedikit pula orang-orang yang senang dengan kehadiran para bintang dalam panggung politik Indonesia.

Berikut ini bukan soal caleg, tapi masih melibatkan selebritas. Vokalis Setia Band, Charly Van Houten mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Daerah Garut, Jawa Barat, sebagai bakal calon wakil bupati. Menurutnya, meski dirinya bukan putra daerah, tapi ia memiliki keterikatan dengan kota tersebut. Istri dan kakeknya merupakan warga asli Garut yang tinggal di daerah Kecamatan Balubur Limbangan. Karena itu, dirinya menawarkan diri untuk turut berbakti membangun Garut. Sama sekali bukan alasan yang bagus. Oke lah, saya hargai Charly punya keterikatan emosional dengan kota ini, tapi itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar alasan yang logis. Dia juga mengatakan bahwa ia akan mencoba menggabungkan seni dengan politik. Kreatif, tapi (jelas) konyol.

Ya, inilah negeri kita tercinta yang dipimpin oleh orang-orang yang hanya mencintai dirinya dan segolongan kelompoknya. Orang-orang yang berlomba menyabet gelar "wakil rakyat" demi materi. Iya kan? Apalagi kalau bukan demi materi? Saya percaya masih ada orang baik di negeri ini yang juga menjabat sebagai wakil rakyat, tapi kondisi di Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak orang baik dan berjiwa tulus yang memang benar-benar ingin membangun negara, bukan sekedar untuk mendulang harta. Entah kapan ada sosok orang-orang yang seperti itu di negera ini. Mungkin sebenarnya ada banyak, hanya saja orang-orang seperti itu sudah bosan dan terlalu putus asa dengan nasib bangsa ini sehingga tidak lagi peduli dengan apa pun kondisi yang terjadi. Bisa jadi memang begitu... bisa jadi.

   Add Friend