20 Mei 2013

Bangkit Itu: Jujur

Selamat pagi dan selamat Hari Kebangkitan Nasional! Kali ini saya mau berbagi pandangan mengenai makna Hari Kebangkitan Nasional bagi saya. Mungkin saya sudah cukup sering menulis banyak hal soal Indonesia, bahkan beberapa kali saya juga telah menulis soal Hari Kebangkitan Nasional. Namun, kali ini saya mencoba untuk menulis dari perspektif yang berbeda.

Hari Kebangkitan Nasional, sebagaimana yang (mungkin) telah kita ketahui bersama, adalah sebuah hari yang setiap tahun kita peringati sebagai hari di mana dimulainya pergerakan perlawanan bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda dengan penuh rasa dan semangat persatuan, kesatuan, serta nasionalisme demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang pada masa-masa sebelumnya sangat sulit dimunculkan. Terlepas dari pro dan kontra akan peringatan hari ini karena ada sebagian pihak yang masih mempertanyakan keabsahan mengenai lahirnya hari tersebutyang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo, tapi hari ini tetap layak mendapatkan perhatian khusus bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bicara soal kebangkitan bangsa (atau kebangkitan Indonesia), pada hakikatnya tidak berhenti setelah negeri ini merdeka. Kebangkitan bangsa ini tidak seharusnya berhenti ketika kita sudah merasa cukup mandiri sebagai bangsa (yang kenyataanya belum demikian). Perjuangan dan semangat kebangkitan bangsa seharusnya tetap dipupuk dalam setiap lubuk hati rakyat Indonesia dan terutama dalam hal ini adalah para pemuda. Namun, entah ini hanya perasaan saya saja, atau memang rasa-rasanya dewasa ini makna "kebangkitan bangsa/kebangkitan nasional", "nasionalisme", atau "cinta tanah air" itu telah mengalami pergeseran makna yang sangat jauh dari makna yang dimaksud pada saat pertama kali istilah-istilah tersebut diperkenalkan di negeri ini.

Sebagai contoh, saya melihat bahwa orang-orang Indonesia semakin hari semakin bangga dan senang mengenakan busana batik. Saya tidak hanya melihat orang-orang berbaju batik, tapi juga bercelana batik, memakai tas (bermotif) batik, topi batik, bahkan banyak "barang-barang lucu" bermotif batik, dan tentunya itu adalah suatu hal yang (sangat) bagus. Namun, jika kita telaah lagi, mugkinkah nasionalisme kita hanya sebatas pada mengenakan sesuatu yang bermotif batik? Saya sangat yakin bahwa seluruh orang Indonesia akan ikut "pasang badan" jika negara tetangga kita tiba-tiba dengan seenak jidatnya mengklaim bahwa batik adalah hasil budayanya (dan hal ini jelas pernah kerap terjadi). Lantas, bagaimana dengan menjaga kelestarian lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, misalnya? Bagaimana dengan menaati rambu-rambu lalu lintas dan menghormati seluruh pengguna jalan di jalan raya? Bagi para pelajar, bagaimana dengan mengerjakan ujian atau tes dengan jujur tanpa harus ikut serta dalam transaksi jual-beli kunci jawaban? Sebenarnya masih banyak bentuk sikap-sikap sederhana yang bisa menunjukkan rasa nasionalisme atau cinta kepada tanah air ini. Sayangnya, banyak orang di negeri ini yang kerap merasa dirinya jauh lebih nasionalis daripada orang lain hanya karena ia punya lebih banyak baju batik (misalnya), atau dia adalah pendukung sejati Tim Nasional Indonesia, atau dia lebih suka musik Indonesia daripada musik Barat, dan sebagainya. Saya pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, dan mungkin Anda juga pernah.

Di negeri ini terlalu banyak hal yang membuat saya merasa miris. Entahlah, mungkin lagi-lagi ini hanya perasaan saya, tapi pada Hari Kebangkitan Nasional kali ini saya ingin mengatakan bahwa Indonesia tidak akan bangkit selama rakyatnya tidak mau jujur. Jujur dalam hal apa pun. Korupsi adalah suatu bentuk pelanggaran kejujuran yang paling ekstrem. Namun, sebaiknya kita jangan terlalu terpaku bahwa hanya karena kita (merasa) tidak korupsi berarti kita orang jujur. Tentunya itu penting dan (mungkin) benar, tapi bentuk kejujuran itu sangat luas, termasuk jujur dalam berbisnis, berdagang, mengerjakan ujian, bekerja, bahkan jujur pada diri sendiri. Kejujuran juga tidak hanya berlaku selama di sekolah atau lingkungan institusi pendidikan (bagai para pelajar). Saya akui bahwa selama saya menjadi pelajar dulu, saya juga kerap tidak jujur, tapi yang terpenting adalah bahwa saya sadar betul (sekarang) bahwa itu bukanlah sifat yang baiksekalipun dengan dalih bahwa saya hanya sesekali berbuat tidak jujur.

Salah satu contoh ketidakjujuran di masa-masa sekolah/kuliah adalah sifat ingin cepat selesai dan ingin serba praktis yang mendorong saya (dan sebagian besar orang) melakukan tindakan "pembajakan" atas karya orang lain atau yang saat ini populer dikenal sebagai "copas" atau copy-paste. Dulu, saya sering merasa bahwa copy-paste bukanlah hal yang besar, toh, lagipula saya bukan tipe orang yang suka "copas" secara ekstrem, tapi tetap saja itu namanya menjiplak, membajak, atau sebutan yang lebih tidak mengenakkan: plagiat.

Tentunya, kita semua tidak mau dicap sebagi plagiator sekalipun kita sadar betul apa yang kita lakukan adalah bentuk plagiarisme (dan itu dilarang, dan kita tahu itu). Namun, sebagian orang tetap melakukannya (tanpa rasa bersalah). Namun, percayalah bahwa ketika kita sedang meng-copy-paste karya seseorang (sekalipun dengan alasan untuk kepentingan akademis), kita telah berlaku tidak jujur dan percayalah bahwa rasanya ketika seseorang tahu bahwa karya diplagiat itu sangat tidak mengenakkan. Saya bisa mengatakan begitu karena saya tahu betul bahwa beberapa artikel di blog saya pernah muncul di blog orang lain (dan betul-betul sama persis). Saya berusah mengerti bahwa si peng-copy mungkin kurang paham soal plagiarisme dan berniat untuk berbagi ilmu pengetahuan, tapi kan sebenarnya, orang itu cukup menyebarkan tautan/link yang mengarah ke blog saya. Namun, toh, ternyata orang-orang di luar sana tetap meng-copy dan tidak jarang "mengklaim" bahwa tulisan saya di blog berubah bentuk menjadi bagian dari karya atau tugas-tugas mereka di sekolah/kampus.

Akibat kejadian-kejadian ini, saya akhirnya berusaha "melindungi" karya-karya saya di blog ini dengan membuat blog ini sebagai blog "anti-copas". Tanpa bermaksud jahat, tapi saya lakukan ini demi "melatih" sifat kejujuran orang-orang Indonesia, termasuk saya pribadi, dan juga sebagi "peringatan" bagi orang-orang di luar sana agar lebih menghargai karya orang lain. Tentunya, orang-orang tetap boleh menjadikan blog saya sebagai suatu referensijika mereka mau (sekalipun referensi dari blog sangat tidak disarankan), tapi mereka tidak bisa meng-copy-paste kontennya. Namun, tampkanya, niat saya ini kerap dianggap buruk bagi banyak orang. Well, saya tidak marah pada mereka, hanya saja, saya merasa kasihan denga nasib bangsa ini. Bagaimana tidak, para pemuda di negeri ini bahkan sudah terbiasa dengan sifat tidak jujur dan merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang lazim dan itu sah-sah saja. Di bawah ini saya akan menampilkan beberap komentar yang masuk di beberapa artikel yang cukup populer di blog saya.


Bagi saya, komentar-komentar di atas adalah suatu bentuk pemandangan yang sangat menyedihkan. Saya tidak pernah merasa gusar dengan komentar-komentar seperti itu, hanya saja, komentar-komentar di atas mencerminkan kepribadian orang-orang Indonesia, terutama dalam hal ini adalah para pemudanya. Hanya karena saya membuat blog saya menjadi tidak bisa sembarangan di-copy, bukan berarti saya orang yang pelit ilmu loh. Kalau saya pelit ilmu maka logikanya saya tidak mungkin harus bersusah payah memasukkan tulisan-tulisan ke dalam blog ini. Yang saya lakukan murni untuk berbagi pengetahuan kepada seluruh orang yang memang membutuhkannya. Namun, perlu diingat bahwa biar bagaimanapun kita tetap harus menghargai karya orang lain. Saya minta maaf jika saya tidak bisa percaya bahwa orang-orang tidak akan meng-copy-paste tulisan-tulisan saya walau saya yakin masih banyak orang di luar sana yang antiplagiarisme.

Inilah negeri kita, Indonesia tercinta. Bagi saya, Hari Kebangkitan Nasional tidak perlu dirayakan dengan aksi atau pun demonstrasi. Well, tentu semua orang punya preferensi masing-masing, tapi menurut saya, atau menurut "bangkit Indonesia versi gue," hari ini seharusnya jadi hari "introspeksi nasional", di mana kita semua, orang Indonesia, saling introspeksi diri. Kita tanyakan pada diri kita masing-masing seberapa besarkah rasa nasionalisme kita kepada negara ini? Apa yang harus (atau sudah) kita lakukan demi terus mengobarkan semangat kebangkitan nasional? Kita sering dengar bahwa jangan tanyakan apa yang telah negara lakukan untuk saya, tapi tanyakanlah apa yang telah saya lakukan untuk negara. Di hari ini, saya akan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih jujur karena menurut saya negera ini tidak akan pernah beres selama rakyatnya belum jujur. Bagaimana dengan versi ideal Anda? Tentu kita akan punya pendapat yang beragam, tapi apa pun itu, semoga hal itu akan selalu menghasilkan kebaikan untuk negara ini. Selama Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2013. Dari Fauzan untuk Indonesia.

1 komentar :

gw rasa plagiarisme itu emang udh jadi semacam 'identitas' deh dari bangsa ini. Plagiatnya menurut gw udh akut. Nggak pake perubahan/parafrase lg, tp jiplak mampus ampe spasi dan bentuk hurufnyah! gw ga tahu apa ini ada hubungannya dgn self confidence yg lemah atau nihilnya respek thdp kemampuan diri sendiri. Tp scr psiko-sosiologis, bangsa kita ini emang miskin visi, misi, dan premis. Pemalas pula baca buku. Makanya disuruh nulis paling males. Karena pembendaharaan vocabulary-nya rendah. Gak heran, tiap ada tugas paper cuma modal Copas.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.