25 Mei 2013

Fatin and the "Ghost Haters"

Saat ini hampir pukul 2.30 dini hari, tapi entah kenapa, rasa-rasanya jari-jari saya berasa "gatel" mau menulis sesuatu soal komentar-komentar banyak orang di linimasa (timeline) Twitter terkait hasil X-Factor Indonesia yang mengantarkan Fatin Shidqia Lubis sebagai juara di musim pertama ajang pencarian bakat ini. Di sini, saya mengakui bahwa saya memang menjagokan Fatin sebagai juara, tapi bukan berarti saya ikut mem-vote Fatin, baik melalui SMS maupun telepon. Menurut saya, orang-orang semacam saya ini jumlahnya sangat banyak di negeri kita, bahkan mungkin ketika kamu membaca tulisan ini, bisa jadi kita adalah orang yang setipe. Jadi, ya... saya ini adalah tipikal orang yang mendukung secara moril saja, tapi tidak secara materil. Ibarat kata, bantu doa saja.

Anyway, yang ingin saya ceritakan di sini adalah, saya merasakan keprihatinan yang sangat mendalam (diucapkan layaknya seorang presiden) terhadap kebanyakan sikap para pendukung Novita yang ternyata rata-rata tidak menyukai si Fatin. Apa alasannya? Well, banyak yang bilang Fatin itu kekanak-kanakan, gayanya agak centil, pecicilan, dianggap dibuat-buat, pura-pura polos, cengeng, dan yang paling penting, suaranya dianggap tidak sebagus Novita. Dalam hal ini, kebanyakan alasan-alasan di atas adalah pendapat wanita (kebetulan saya tidak menemukan banyak pria yang "berkicau" seperti itu). Saya (mungkin) bisa paham, tapi jika saya boleh sedikit berkomentar, menurut saya tidak ada yang salah dari sikap Fatin. Saya pribadi bisa melihat bahwa sikap Fatin memang jujur apa adanya, tidak dibuat-buat, dan karena itulah ia dianggap polos. Gayanya memang seperti, karena dia memang masih kecil, dia bahkan belum punya KTP, masih 16 tahun. Lagipula, seingat saya yang punya banyak teman wanita (jangan diartikan sebagai 'girlfriend') semasa SMA, memang begitulah tingkah anak SMA (zaman ini), bahkan hingga saat ini saya masih sering berhubungan dengan dunia anak SMA, dan begitulah mereka, banyak kok yang tingkahnya seperti Fatin (jika memang itu yang dipermasalahkan).

Ada pula yang membuat lelucon soal PKS, Fathonah, dengan Fatin. Maksudnya, terkait dengan cara berpakaian Fatin (berbusana Muslim) dan PKS identik dengan partai Islam dan kemiripan nama antara Fatin dan Fathonah. Sekalipun jelas itu hanya sekedar lelucon, tapi saya harus katakan bahwa lelucon itu sangat tidak cerdas (dan tidak bijak). Anyway, saya bukan pendukung parpol mana pun.

Sebenarnya, kemenangan Fatin ini sangat bisa diprediksi dari awal dan hal itu sangat ilmiah. Namun, saya tidak bisa menceritakannya di sini karena saya kira akan cukup sensitif untuk dibicarakan bahkan di dunia maya. Kamu bisa tanya pada saya secara personal jika memang mau tahu pendapat saya soal ini.

Lantas, bagaimana dengan kualitas vokal? Saya kira dalam hal ini kita tidak bisa mengatakan bahwa suara Fatin lebih bagus daripada Novita atau sebaliknya karena keduanya memiliki karakter yang berbeda. Saya pribadi tidak menganggap bahwa suara Fatin lebih baik daripada suara Novita. Saya pribadi juga selalu menyukai setiap penampilan Novita dari minggu ke minggu. Baik Fatin maupun Novita, kedua-duanya sama bagusnya dan karena itulah mereka masuk babak final, dan itu bukan karena "telinga" rakyat Indonesia tidak bagus atau tidak punya selera musik. Kadang saya suka gerah dengan pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa selera atau pendengaran orang Indonesia kurang bagus. Loh, kan saya juga orang Indonesia, yang berbicara begitu pun orang Indonesia, lagipula, saya tidak yakin apakah yang bersangkutan paham betul dengan yang ia maksud, jangan-jangan selera musik dialah yang tidak bagus. Namun, itu kan hanya opini dan kita semua bebas beropini. Hanya saja, mbok yo lebih diayak (dan dipikirkan) gitu loh omongannya.

Saya melihat bahwa Novita memiliki kekuatan vokal yang sangat luar biasa, suaranya sangat bagus, dan powerful. Jelas, kalau dibandingkan dari segi pengalaman dan kualitas vokal, saya akui bahwa Fatin memang tidak ada apa-apanya. Namun, itu bukan berarti Fatin jelek juga kan? Saya rasa biar bagaimanapun Fatin memiliki karakter vokal yang sangat khas, dan itu menjadi satu hal penting. Ditambah lagi dengan penjelasan Ahmad Dhani soal "apa sih X-Factor itu sebenarnya." Bisa jadi, di kompetisi menyanyi, seperti di Indonesia Idol, Novita bisa jadi juara, atau Shena, atau bahkan Agus. Namun, lagi-lagi di sini ada X-Factor atau "faktor X" yang diperhitungkan. Jadi, (menurut pengertian saya) kompetisi ini tidak bicara soal kualitas vokal (saja), tapi ada faktor lain yang membuat seseorang suka dengan si orang itu. Mungkin ini salah satu hal penting yang juga perlu kita garis bawahi.

Jika kita ingat, pada saat Indonesia Idol musim pertama, tiga besar kontestan kompetisi itu adalah Joy Tobing, Delon, dan Nania. Bagi saya pribadi, karakter vokal Nania jelas di atas Delon dan saya masih ingat betul itu. Delon, di lain hal, kerap menerima kritikan dari para juri. Namun, ternyata hasil voting pemirsa membawa Delon ke babak final bersama Joy Tobing. Di sini artinya, tidak peduli bahwa Nania memiliki kualitas suara di atas Delon, tapi Delon punya faktor lain yang membuatnya disukai oleh banyak orang, entah itu secara fisik atau hal-hal yang tidak bisa dijelaskan di mana itulah yang disebut sebagai "faktor X" tadi. Namun, itu tetap tidak berarti bahwa Delon tidak bisa bernyanyi kan? Dia jelas bisa bernyanyi walaupun secara karakter vokal kalah dengan Nania, tapi ternyata orang-orang lebih banyak menyukai Delon dibandingkan dengan Nania dan terkadang itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan, dan itu sah-sah saja.

Selain penjelasan-penjelasan di atas, di sini saya juga sangat menyesalkan mengapa orang kita, orang Indonesia, sangat kurang dalam mengapresiasi prestasi orang lain. Bukankah menang atau kalah dalam suatu kompetisi itu hal yang biasa? Lagipula, jika dilihat-lihat, hadiah yang diterima oleh ketiga pemenang bahkan tidak begitu jauh berbeda. Namun, kenapa orang-orang harus "mem-bully" orang yang bahkan tidak mereka kenal betul dengan terus mencemooh dan bersikap sinis. Oh, ayolah, kita semua bisa lebih baik dari itu.

Ditambah lagi, sebenarnya kita tidak berhak mengatakan satu hal buruk pun jika kita sendiri tidak pernah benar-benar memberikan dukungan nyata, selain tweet-tweet di Twitter. Jika kamu memang adalah seorang pendukung setia dari idola kamu dan kamu terus-menerus secara aktif mengirimkan dukungan kamu, entah melalui SMS ataupun telepon, atau bahkan minimal "pernah" mendukung melalui salah satu dari dua media tersebut maka kamu boleh kecewa dengan hasil yang terjadi malam ini. Namun, jika kamu bahkan tidak pernah satu kali saja memberikan dukungan yang berarti bagi idola kamu, kamu sama sekali tidak berhak untuk berbuat sinis pada si pemenang yang bukan merupakan jagoan kamu, bahkan tidak di Twitter.

Ayolah teman-teman, kita harus berubah menjadi bangsa, dan terutama, menjadi generasi yang mengapresiasi, bukan menjadi generasi pencemooh, pem-bully, skeptis, dan sinis terhadapa prestasi orang lain. Kita boleh suka dan tidak suka dengan seseorang, tapi rasa-rasanya tidak perlulah kita mengumbar-umbarkan ketidaksukaan kita itu dengan menjelek-jelekkannya. Tidakkah itu justru hanya memperburuk citra kita?

Kini saya sadar, dan sebenarnya sebagai pengingat diri saya pribadi, bahwa maju atau tidaknya bangsa ini ditentukan dari kita para generasi muda (kecuali kamu merasa tidak semuda itu). Jika kita terus menerus skeptis dan sinis terhadap sedikit saja prestasi yang bisa anak bangsa ini peroleh, niscaya kebangkitan negeri ini hanya suatu hal yang utopis, hanya dalam khayalan anak-anak atau orang-orang tua yang sudah tidak mampu lagi berbuat banyak.

Yang terakhir, sesungguhnya seni itu tidak untuk dinilai, tetapi untuk diapresiasi. Jika kita masih menilai bahwa si seniman A tidak lebih baik daripada si seniman B, itu artinya kita belum paham betul dengan seni itu sendiri. Saya bukan orang yang paling paham soal seni, tapi kira-kira begitulah yang saya tahu dan saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat.

3 komentar :

mas mau bertanya kalau "lelucon yang bijak" gimana bentuknya? kalau ada tweet orang yang buat jokes tentang si fatin itu menurut saya hanya bermaksud celoteh menghibur aja, don't take it seriously lah belom tentu orang itu ga suka dan berniat buruk menjatuhkan fatinnya jadi jangan di judge tidak cerdas juga lah gabisa semua orang di "judge" lewat tweetnya aja , -justsaying :)

mari kita lihat sama2 bagaimana karir fatin ke depannya. saya membayangkan jika ada ajang kompetisi world x factor, kemudian fatin yang maju mewakili indonesia, mampukah dia bersaing? harap diingat, jargonnya x factor indonesia adalah "The Ultimate Singing Competition", logikanya kualitas suara yang menjadi tolok ukurnya khan?

kemajuan bangsa ini terletak pada kejujuran, jangan munafik, jangan pasang muka senyum tapi tusuk dari belakang, jangan cuma rukun2/adem ayem tapi di belakang ngedumel.

btw menurut anda, kontestan lupa lirik apakah pantas menjadi juara? kontestan fals mengapa masuk 7 besar atau bahkan 5 besar?

Kepada Mas/Om/Mbak/Tante Anonim di atas, pertama pastinya enggak ada lelucon yang bijak, tapi apakah itu pantas atau tidak. Saya kira Mas/Om/Mbak/Tante Anonim tidak paham dengan maksud saya. Maksud saya menulis seperti itu karena serentak ketika Fatin disebutkan sebagai juara, hampir seluruh orang di timeline Twitter saya membuat lelucon dan terkesan 'tidak terima'. Kalau satu atau dua orang, mungkin wajar, tapi karena ini begitu banyak, saya kira ini sebuah fenomena; sebuah fenomena yang menunjukkan watak orang Indonesia pada umumnya.

Iya, memang betul kualitas suara tetap dinomorsatukan, tapi toh kita juga secara fair harus mengakui bahwa Fatin juga punya suara yang bagus dan unik pula kan? Dan toh saya juga katakan di atas (pada artikel) bahwa kita tidak bisa membandingkan secara "apple to apple" antara kualitas vokal Fatin dan Novita karena keduanya berbeda.

Soal lupa lirik, saya kira kita tidak bisa mengatakan bahwa ia pantas atau tidak menyandang gelar juara karena itu semua pilihan pemirsa. Kalau itu pilihan juri, Anda bisa salahkan juri. Namun, saya rasa, sekalipun itu fatal, tapi kita (sebagai manusia) seharusnya bisa sedikit memaklumi bahwa ada faktor-faktor lain yang bisa terjadi dan mempengaruhi kualitas seseorang di panggung. Dan, FYI, kalau Anda tahu, lagu Lenka yang "Everything at Once" itu memang sulit untuk dihafal (mungkin bisa dicoba untuk menghafal).

Saya pribadi tahu betul rasanya gimana berada di atas panggung dan lupa not/partitur (kebetulan saya bukan penyanyi, tapi pemusik) and it happens sometimes.

Poskan Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.