29 Mei 2013

Haruskah Mengindonesiakan Singkatan Asing?

Tulisan kali ini berawal dari status saya di Facebook yang mempertanyakan soal mana yang tepat pengucapannya: "Indonesian Movie Awards 'dua ribu tiga belas'" atau "Indonesian Movie Awards 'two thousand (and) thirteen'"? Saya menulis demikian karena sebelumnya saya mendengar salah satu pembawa acara Indonesian Movie Awards 2013, Choky Sitohang, melafalkan tahun 2013 dalam bahasa Indonesia alih-alih dengan bahasa Inggris sebagai mana tiga kata bahasa Inggris di depannya. Dalam hal-hal semacam ini, sering kali seseorang tidak konsisten. Jika suatu nama acara dibuat dalam bahasa Inggris, seharusnya tidak perlu mencampurkan bahasa Indonesia (apalagi untuk niatan agar terasa "sedikit" nasionalis) ke dalam penyebutan tahunnya. Nama acara tersebut justru menjadi aneh. Jika mau berbahasa Inggris, gunakan bahasa Inggris sepenuhnya, jangan dicampur-campur. Namun, kalau mau benar-benar terasa "Indonesia", seharusnya dibuat saja menjadi "Penghargaan Film Indonesia 'dua ribu tiga belas'". Dengan demikian rasa "nasionalisnya" tidak setengah-setengah.

Dari status saya itu, ada satu komentar menarik dari Dodi. Menurut Dodi, tren penamaan acara-acara dalam negeri yang menggunakan bahasa Inggris sebenarnya tidak masalah selagi konsisten. Lebih kurang artinya dia sependapat dengan saya soal kekonsistensian dalam berbahasa. Kemudia dia juga menambahkan bahwa ketidakkonsistensian juga terjadi saat menyebutkan singkatan yang dibentuk dari kata-kata bahasa asing. Dalam hal ini, Dodi mengatakan bahwa pada saat Indonesian Movie Awards 2013 kemarin, mereka (saya kurang tahu 'mereka' ini siapa), melafalkan I.M.A. jusru dengan ejaan bahasa Indonesia, bukannya dengan pelafalan bahasa Inggris.

Untuk masalah pelafalan singkatan ini memang ada dua 'mazhab'. Ada yang bilang dilafalkan sesuai dengan bahasa Indonesia, ada juga yang bilang (dan merasa) tetap harus dilafalkan dalam bahasa Inggris. Suatu ketika saya pernah baca artikel di rubrik bahasanya Kompas. Pada dasarnya, kita memang sudah terbiasa mencampur-campur dan tidak konsisten dalam melafalkan singkatan-singkatan yang dibentuk dari bahasa Inggris. Sebagai contoh, kita pasti bilang /ef-bi-ai/ untuk FBI bukannya /ef-be-i/, sedangkan untuk WHO, kita pasti menyebutnya /we-ha-o/, bukannya /double u-eich-o/. Untuk FAO, kebanyakan orang akan bilang /ef-ei-o/, daripada /ef-a-o/. Atau BBM (BlackBerry Messenger) misalnya, orang-orang mengejanya /be-be-em/, bukannya /bi-bi-em/. BMW, ada yang bilang /be-em-we/, ada juga yang /bi-em-double u/. Anehnya lagi, kita sering mengeja singkatan berbahasa Indonesia dengan ejaan bahasa Inggris, misalnya MNC (Media Nusantara Citra), dieja /em-en-si/, bukannya /em-en-ce/ (bukan 'se' ya, tapi 'ce') yang sebenarnya seharusnya begitu, padahal salah satu produknya, RCTI, dieja /er-ce-te-i/.

Lantas, mana yang benar? Apakah singkatan-singkatan yang diambil dari bahasa asing harus dilafalkan sesuai dengan bahasa aslinya atau dilafalkan sesuai dengan lafal abjad bahasa Indonesia? Mari kita membaca  satu artikel yang menarik (yang saya sebut di atas) karya André Möller.

AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

André Möller

Tidak diragukan lagi bahwa singkatan-singkatan seperti AC, VCD, DVD, dan TV sudah menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa nusantara lain. Setiap hari, singkatan tersebut kita temui di berbagai konteks atau malah kita gunakan sendiri. Tentu ini sah-sah saja. Orang yang kreatif sekaligus menolak pengaruh bahasa Inggris yang terlalu dahsyat dalam bahasa Indonesia, pasti dapat mengajukan alternatif lain yang lebih menusantara. Misalnya saja, alat penyegar udara sebagai pengganti AC. Namun, masalah ini bukan topik kita di sini.

Saya lebih tertarik pada pelafalan singkatan-singkatan ini di Indonesia. Dari empat contoh yang saya ajukan di atas, tiga biasa dilafalkan dengan logat Inggris atau setidak-tidaknya keinggris-inggrisan: VCD, DVD, dan TV. Cobalah sendiri! Kita tidak mengatakan /ve-ce-de/, /de-ve-de/, atau /te-ve/, tapi lebih cenderung melafalkannya sebagai /vi-si-di/, /di-vi-di/, dan /ti-vi/.

Singkatan AC merupakan campuran kalau dilihat dari cara pelafalannya: A-nya dilafalkan dalam bahasa Indonesia, sedangkan C-nya dilafalkan dengan logat Belanda. Mengapa demikian? Tentu saja pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab dengan langsung dan singkat. Akan tetapi, saya kira kita semuaatau hampir semuadapat sepakat bahwa /ve-ce-de/ dan seterusnya terdengar agak kuno, kampungan, dan tidak modern. Sedangkan yang sering-sering diburu rakyat Indonesia dewasa ini adalah kemodernan, kecanggihan, kekerenan di lingkungan urban.

Nah, meskipun argumen ini dapat kita anggap masuk akal, ada juga beberapa singkatan yang sangat erat hubungannya dengan kemodernan dan kehidupan urban yang tidak cocok dengan argumen itu. Singkatan yang paling mencolok adalah HP yang jelas-jelas berasal dari bahasa Inggris "hand phone" tapi dilafalkan dengan logat Indonesia /ha-pe/. Tidak pernah kita dengar ada yang menyebutnya sebagai /eich-pi/. Mengapa? Karena bunyi H-nya Inggris agak susah bagi lidah Indonesia dan lidah non-Inggris lainnya? Atau ada alasan lain lagi?

Di Indonesia sendiri, pernah saya dengar ada yang menyebutnya alat komunikasi baru itu sebagai telepon genggam. Di telinga saya, sebutan ini terdengar cukup segar dan kreatif, tapi saya meragukan kemungkinannya dipakai meluas di Indonesia.

Pelafalan singkatan paling aneh yang pernah saya dengar di Indonesia berhubungan dengan salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta. Yang saya maksudkan adalah UII. Singkatan ini tentu saja berasal dari Universitas Islam Indonesia, yaitu bahasa Indonesia. Meski begitu, mahasiswa-mahasiswinya sering kali menyebut kampusnya dengan /yu-i-i/. Dengan kata lain, U-nya dilafalkan dengan logat Inggris sedangkan kedua I-nya dilafalkan dengan logat Indonesia. Ketika melafalkan semua huruf itu dengan logat Indonesia /u-i-i/, saya ditertawakan dan dianggap cukup kampungan. Kalau saya melafalkannya sepenuhnya dengan logat Inggris /yu-ai-ai/ tidak ada yang mengerti apa yang saya maksudkan.

Kasus UII tentu sangat berbeda dengan kampus lain di kota pelajar itu. UGM, UNY, dan IAIN, misalnya, semua dilafalkan sepenuhnya dengan logat Indonesia. Untung bagi mahasiswa IAIN sebab mereka pasti kesulitan kalau singkatan kampusnya harus diucapkan secara Inggris.

Kita dapat mengatakan bahwa singkatan-singkatan di Indonesia diucapkan dalam berbagai bentuk. Ada yang dilafalkan sepenuhnya dengan logat Inggris, ada yang pakai logat Indonesia saja, dan malah ada yang campur-campur. Saya tidak menganggap satu cara benar dan satunya salah, seperti dapat dikira sebagian orang. Saya hanya menarik perhatian para pembaca pada sebuah masalah kebahasaan yang saya anggap cukup menarik. Sebagai bahan perbandingan dapat saya kemukakan bahwa di negeri saya, Swedia, semua (?) singkatan yang berasal dari luar negeri sudah "menswedia". Maka, dengan penuh percaya diri kami mengatakan /de-ve-de/, ve-se-de/, dan /te-ve/. Mungkin saja orang lain menganggap kami semua kampungan.
--
Disalin dari tulisan André Möller dalam artikel "AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP", Kolom Bahasa, Kompas, 10 April 2004.

Pada artikel di itu, si penulis mengatakan bahwa di negara asalnya, Swedia, singkatan yang berasal dari luar negeri telah  "menswedia", dan saya rasa itu suatu hal yang bagus dan sekaligus bentuk kekonsistensian dalam berbahasa. Dalam hal pelafalan ini, saya rasa memang perlu ada penyeragaman dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (ataukah sebenarnya sudah ada?) Setelah itu hal ini harus terus-menerus disosialisasikan kepada publik baik melalui institusi-institusi pendidikan maupun media. Pastinya butuh waktu yang sangat lama untuk mengubah sebuah kebiasaan. Katakanlah pada akhirnya kita harus melafalkan segala singkatan dari bahasa asing dalam bahasa Indonesia sebagai bentuk standardisasi pelafalan, maka dalam konteks I.M.A. kemarin kita harus mengejanya /i-em-a/, daripada /ai-em-ei/. Saya pribadi setuju dengan André Möller.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.