10 Mei 2013

Tren Alih Profesi di Musim Pemilu

Tidak terasa, Indonesia akan segera memasuki tahun pemilu. Bagi saya pribadi, tahun pemilu tidak lebih dari sekedar tahun di mana hampir di seluruh sudut akan ditutupi berbagai macam baliho, poster, spanduk (termasuk spanduk-spanduk "super kreatif" para caleg), atau flyers baik dari para calon anggota legislatif atau dari para calon presiden (dan itu berarti sampah). Secara kualitas, saya rasa tidak banyak yang bisa kita harapkan, ayolah, kita semua tahu itu. Selain itu, pada tahun pemilu, kita akan melihat banyak orang berbondong-bondong mengadu nasib menjadi calon legislatif. Sangat aneh rasanya melihat kelakuan orang-orang ini karena jelas motivasi mereka untuk menjadi anggota legislatif lebih dikarenakan motif ekonomi, bukan demi kepentingan rakyat yang seutuh-utuhnya. Ah, tapi itulah Indonesia, lagi-lagi, kita semua tahu itu.

Kali ini, saya tertarik untuk membahas mengenai para calon legislatif dari kalangan artis, atau ya... sebut saja selebritas. Saya kurang setuju jika orang-orang itu dikatakan artis karena toh saya pribadi merasa diri saya sebagai seorang seniman yang dalam bahasa Inggris disebut artist. Hanya saja, saya tidak (atau belum) terekspos oleh media, sehingga saya bukanlah seorang selebritas. Anyway, kita semua tahu, bahwa para selebritas di tanah air kita ini laksana orang yang serba bisa, semacam orang-orang dengan multitalenta. Mereka yang awalnya terjun di bidang film, bisa terjun ke dunia tarik suara. Mereka yang awalnya terjun di dunia tarik suara, bisa terjun ke dunia film. Namun, yang pasti, mereka semua, apa pun latar belakangnya, bisa terjun ke dunia politik dan tidak tanggung-tanggung pula, menjadi wakil rakyat (dan ini adalah suatu niat yang sangat mulia). Seharusnya, orang-orang multitalenta semacam ini selayaknya dijadikan panutan bagi kita semua karena berbagai prestasi yang telah mereka capai. Namun, ternyata kenyataannya tidak demikian. Para selebritas yang mendaftar (atau didaftarkan) sebagai calon legislatif, bagi saya, tidak lebih dari sekumpulan orang-orang tidak tahu diri dan... tidak cerdas, bahkan sangat jauh dari kata "cerdas" itu sendiri. Oh, tapi jelas, bagaimanapun juga, yang memilih mereka jauh lebih tidak cerdas. Namun, apa yang bisa kita harapkan? Entahlah... saya memang hampir tidak punya harapan di negeri ini.

Beberapa minggu yang lalu, saya menemukan gambar yang sangat menarik, sekaligus sangat "menantang", yang saya temukan di halaman depan Facebook saya. Gambar itu adalah seperti yang bisa kita lihat di bawah ini:

Setelah melihat gambar itu, mungkin, lebih kurang reaksi kita akan sama. Pasti ada yang tertawa, ada yang kesal, ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang hanya bisa menghela nafas, atau ada juga yang senyam-senyum. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa gambar di atas, yang entah siapa pelopornya, jelas sangat provokatif dan sebenarnya memiliki pesan yang kira-kira, "Eh! Lihat nih, orang-orang kayak begini yang mau 'memperjuangkan' nasib lo? Nasib jutaan rakyat Indonesia?"

Jika nama-nama dalam gambar di atas kurang terbaca dengan jelas, di bawah ini adalah daftar nama selebritas yang akan bersaing memperebutkan kursi anggota dewan pada Pemilu 2014. Ada banyak wajah-wajah baru, tapi tidak sedikit pula wajah lama.

Nasdem
Doni Damara
Jane Shalimar
Ricky Subagja
Niel Maizar (Mantan Pelatih PSSI)
PAN
Primus Yustisio
Eko (Patrio) Hendro Purnomo
Ikang Fauzi
Dwiki Dharmawan
Desy Ratnasari
Anang Hermansyah
Jeremy Thomas
Ayu Azhari
Gisel Idol
Yayuk Basuki
PDI-P
Rieke Dyah Pitaloka
Yessy Gusman
Edo Kondologit
Sony Tulung
Nico Siahaan
Dedi Gumelar (Miing)
PKB
Ridho Rhoma
Arzatti Bilbina
Said (Bajaj Bajuri)
Mandala Shoki
Iyeth Bustami
Akri Patrio
PPP
Angel Lelga
Okky Asokawati
Mat Solar
Demokrat
Vena Melinda
Inggrid Kansil
Nurul Qomar
Gerindra
Irwansyah
Jamal Mirdad
Rachel Maryam
Bella Saphira
Iis Sugianto
Golkar
Nurul Arifin
Charles Bonar Sirait
Tantowi Yahya
Hanura
Krisdayanti
Gusti Randa
David Chalik
Teti Kadi

Sekarang, mungkin kita menjadi bertanya-tanya, memangnya semudah itu ya untuk menjadi calon anggota legislatif? Oke, sebelum saya berbicara lebih jauh, mari kita lihat dulu, apa saja syarat untuk menjadi calon anggota legislatif di republik ini. Dalam UU Nomor 8 Tahun 2012, BAB VII, Bagian Kesatu tentang Persyaratan Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota Pasal 51 telah ditulis apa saja syarat bakal calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, yaitu sebagai berikut:
  1. Telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.
  2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  4. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia.
  5. Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau pendidikan lain yang sederajat.
  6. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
  7. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
  8. Sehat jasmani dan rohani.
  9. Terdaftar sebagai pemilih.
  10. Bersedia bekerja penuh waktu.
  11. Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah atau badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali.
  12. Bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris, pejabat pembuat akta tanah (PPAT), atau tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  13. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara.
  14. Menjadi anggota Partai Politik Peserta Pemilu.
  15. Dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; dan
  16. Dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan.
Ada lumayan banyak syaratnya, tapi sama sekali tidak ada yang (benar-benar) memberatkan. Mungkin, jika seandainya ada syarat, seperti minimal harus S2, atau ada persyaratan nilai TOEFL, atau mungkin pengalaman minimal lima tahun di dunia politik, wah... saya jamin calon legislatif kita akan jauh lebih bermutu. Bahkan saya pribadi kurang paham batasan dari "setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945" itu apa? Cobalah tanyakan pada Bapak dan Ibu di DPR sana, saya rasa tidak semua dari orang-orang itu bahkan paham dengan apa yang dimaksud dengan "cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945".

Oke, kembali ke soal caleg dari kalangan selebritas. Melihat persyaratan yang cukup sangat mudah ini, tentu tidak heran bahwa kalangan ini bisa dengan mudah masuk ke dunia politik. Mereka setidaknya sudah punya modal "nama beken" dan nama sangat berpengaruh besar dalam menentukan kesuksesan memperebutkan kursi anggota dewan. Saya cukup yakin bahwa yang terjadi dengan mayoritas masyarakat Indonesia di luar Jakarta adalah, mereka cenderung memilih nama-nama yang mereka kenal atau nama-nama yang memang telah "memberikan kontribusi" pada daerah atau kampung mereka (ini berdasarkan cerita seorang sopir taksi yang kampungnya pernah dibagikan uang demi memenangkan seorang calon kepala daerah). Jadi, kalau bukan soal nama, pasti soal uang. Memang, pemilih kita sangat tidak cerdas. Ya... yang dipilih pun juga tidak cerdas. Jadilah kita bangsa yang tidak cerdas, tidak heran kan? Artinya, hampir tidak ada pertimbangan kualitas atau kompetensi si calon yang dipertimbangkan oleh si pemilih, dan itulah yang terjadi.

Beberapa hari lalu, saya membaca bahwa pedangdut Ridho Rhoma mengaku belum punya rencana konkret jika terpilih sebagai legislator di DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam pemilihan umum mendatang. Ini luar biasa loh! Kok bisa-bisanya gitu? Pertama, jika partai ini memang benar-benar berazaskan Islam yang berisi para ulama yang jelas paham betul soal agama, mencalonkan atau menerima calon pemimpin yang seperti ini kan luar biasa bodoh. Iya, segitu bodohnya. Saya Muslim, dan jelas saya malu dengan hal ini.

Dalam wawancaranya dengan Tempo, Ridho memang mengakui bahwa dirinya belum punya rencana konkret karena dia merasa sebagai "anak baru" di dunia politik. Namun dia mengatakan bahwa dia akan berusaha sebaik mungkin mewujudkan aspirasi masyarakat. Hello?! Dunia politik itu keras. Saya yang pernah berada di tepian di dunia politik kampus (belum sampai terjun atau bahkan tenggelam) saja merasa bahwa politik itu super jahat, apalagi politik "beneran" di negara ini. Dibutuhkan lebih dari sekedar, "berusaha sebaik mungkin mewujudkan aspirasi masyarakat," untuk menjalani tugas berat ini, yaitu kompetensi. Semua orang bisa berusaha sebaik-baiknya, dan tingkat usaha tiap orang itu berbeda-beda. Namun, kompetensi itu jauh lebih penting, terutama untuk negara kita yang sudah terlanjur amburadul ini.

Yang lucunya lagi, Ridho memang tidak menyanggah bahwa saat ini ia masih belum terlalu mengenal kondisi masyarakat di daerah pemilihan yang akan diwakilinya, yakni Bogor. Ia beralasan, proses pencalonannya belum lama, sehingga ia belum punya waktu untuk mempelajari persoalan Bogor. Duh, kok rasanya saya ingin sekali orang-orang seperti ini dihukum gantung saja. Kita bisa bayangkan, apakah nanti jika dia terpilih, dia bisa punya waktu untuk masyarakat Bogor? Ditambah lagi, Ridho juga menjelaskan tujuan utama dirinya menjadi caleg adalah menjadi vote getter (pendulang suara) bagi PKB yang menjadikan ayahnya sebagai calon presiden. Nah, berarti kan tujuan utamanya bukan murni demi rakyat. 

Ketua DPP PKB Marwan Ja'far mengatakan bahwa partainya akan memberikan pelatihan bagi para selebritas pendidikan singkat mengenai wawasan politik. Tujuannya untuk mempersiapkan kemampuan para selebritas, jika benar-benar terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019. Di negeri ini memang serba instan, bahkan nasib bangsa ini pun ditentukan secara instan. Jadi, saya tidak salah dong kalau merasa bahwa saya sangat hopeless tinggal di republik ini. Selain itu, Marwan juga menambahkan, "Selama ini latar belakang mereka dunia hiburan, minimal wawasan politiknya tahu lah." Lah? Minimal? Minimal banget? Enggak bisa minimal... inilah potret calon pemimpin bangsa ini. Saya pribadi stress loh dengan sistem yang seperti ini.

Coba kita lihat kembali tabel yang berisi nama-nama di atas, tanpa bermaksud mengintimidasi dan memandang sebelah mata, tapi... apa yang bisa kita harapkan dari (sebut saja) Doni Damara, Jane Shalimar, Irwansyah, Anang Hermansyah, Krisdayanti, atau bahkan Gisel Idol? Indonesia memang butuh peran pemuda, tapi kan enggak si Gisel atau Irwansyah juga... Cukuplah Gisel bernyanyi dan menghiasi panggung OVJ, dan Irwansyah membina rumah tangganya bersama Zaskia, tidak perlu ikut-ikut berpolitik. Bagaimana dengan artis-artis yang sudah kalah pamor, seperti Sony Tulung, Nico Siahaan, Bella Saphira, Jeremy Thomas, atau Primus Yustisio? Kalau ini jelas namanya mau cari duit lagi. Atau para pelawak, seperti Said (Bajaj Bajuri) atau Akri Patrio. Bahkan Mat Solar? Hanya karena si Oneng cukup "berhasil" di dunia politik, bukan berarti "suaminya" berkompeten kan? Atau bahkan Iyeth Bustami, Angel Lelga, dan Gusti Randa? Negeri ini sudah sakit. Sakit parah; kronis! Namun, tetap tidak ada yang peduli kan? Tampaknya tidak sedikit pula orang-orang yang senang dengan kehadiran para bintang dalam panggung politik Indonesia.

Berikut ini bukan soal caleg, tapi masih melibatkan selebritas. Vokalis Setia Band, Charly Van Houten mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Daerah Garut, Jawa Barat, sebagai bakal calon wakil bupati. Menurutnya, meski dirinya bukan putra daerah, tapi ia memiliki keterikatan dengan kota tersebut. Istri dan kakeknya merupakan warga asli Garut yang tinggal di daerah Kecamatan Balubur Limbangan. Karena itu, dirinya menawarkan diri untuk turut berbakti membangun Garut. Sama sekali bukan alasan yang bagus. Oke lah, saya hargai Charly punya keterikatan emosional dengan kota ini, tapi itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar alasan yang logis. Dia juga mengatakan bahwa ia akan mencoba menggabungkan seni dengan politik. Kreatif, tapi (jelas) konyol.

Ya, inilah negeri kita tercinta yang dipimpin oleh orang-orang yang hanya mencintai dirinya dan segolongan kelompoknya. Orang-orang yang berlomba menyabet gelar "wakil rakyat" demi materi. Iya kan? Apalagi kalau bukan demi materi? Saya percaya masih ada orang baik di negeri ini yang juga menjabat sebagai wakil rakyat, tapi kondisi di Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak orang baik dan berjiwa tulus yang memang benar-benar ingin membangun negara, bukan sekedar untuk mendulang harta. Entah kapan ada sosok orang-orang yang seperti itu di negera ini. Mungkin sebenarnya ada banyak, hanya saja orang-orang seperti itu sudah bosan dan terlalu putus asa dengan nasib bangsa ini sehingga tidak lagi peduli dengan apa pun kondisi yang terjadi. Bisa jadi memang begitu... bisa jadi.

   Add Friend

2 komentar :

what a words! sepakat sama ojan. Parpol di Indonesia memang membutuhkan sistem kaderisasi yang jelas dan terukur. jadi gfa sembarangan main comot publik figur yg ga punya kompetensi dan sekedar mjd vote getter. menyedihkan memang. proses demokrasi yg kita pahami ini kadang terlalu sempit. benar bahwa tiap warga negara memiliki hak untuk mencalonkan diri. tapi seharusnya ada proses penyaringan agar yg benar-benar terpilih itu adalah bibit unggul dan paham dgn problematika yg dihadapi masyarakat. Saya juga merasa aneh kalo ada orang (baca: Selebritis)main daftar jd caleg/kepala daerah di suatu daerah yg seumur hidup mereka ga pernah tinggal apalg lahir disitu. Apa yg mereka mau perjuangkan? wong apa yang dibuthkan orang2 disana jg mereka ga tahu. Para selebritis itu juga mbok ya sadar diri klo mau ikut nyaleg/nyalon jd kepala daerah. Mulai belajar lg secara teori dan praktek. kuliah lagi. ikut byk kegiatan lokakarya. mulai menulis opini (bukan ditulisin aspri/staf ahli) di koran. ntar klo pemahaman teorema dangkal, lalu ada pembahasan UU/kontrak kerja dgn perusahaan asingmereka bs apa? duh, bakal gondok bgt deh bahas selebritis dangkal yg nekat maju jd wakil rakyat.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.