30 November 2013

Three Things I've Learned About Being in a Relationship

Saya selalu suka menulis, apa pun itu. Dan, biasanya dengan menulis, saya merasa lebih baik, setidaknya biasanya begitu. Jadi, di sini, saya akan berbagi tiga hal apa saja yang saya pelajari selama menjalin hubungan selama hampir tiga tahun (hampir ya...).

Sejujurnya beberapa bulan terakhir ini saya merasa sedang berada masa-masa yang cukup sulit, agak susah "move on" kalau orang-orang bilang. Saya pastinya akan mengelak bahwa saya sudah move on, tapi kenyataannya enggak. Masa-masa sulit di sini adalah masa di mana kamu dulu pernah pacaran dalam waktu yang cukup lama, semuanya kelihatan baik-baik, tapi akhirnya harus kandas juga, dan... beberapa waktu kemudian mantan kamu jadian, atau tepatnya balikan dengan mantannya. Ketika kamu flashback semua hal ini dan mengetahui kenyataan yang terjadi sekarang, well, that's pretty tough.

Kamu mungkin punya hubungan paling sweet di kampus, tapi itu tidak menjamin hubungan kamu akan berakhir bahagia

Ini hal pertama yang saya pelajari, dan ini sangat penting. Enggak peduli kamu dan si dia se-sweet apa, enggak peduli kamu dan dia dulu selucu apa, dan paling bikin iri orang-orang sedunia kampus, semua itu tidak selalau menjamin bahwa kau akan punya akhir yang bahagia.

Kamu mungkin berpikir bahwa segalanya baik. Ya, kamu orang baik, dia juga orang baik. Kamu dan dia bisa menyelesaikan masalah dengan baik, dan semuanya semakin baik seiring dengan berjalannya waktu.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu itu pula, kamu juga belajar tentang dia dan dia juga belajar tentang kamu. Terkadang ada hal-hal yang pada akhirnya kalian sadari enggak bisa match satu sama lain. Sebetulnya, ini hal yang wajar, I mean, we are humans, dan kita memang diciptakan berbeda. Semirip-miripnya pasangan kita dengan diri kita, pasti ada hal-hal yang enggak "match", apapun itu.

Pada akhirnya, hubungan kamu dan dia harus berakhir karena ego, karena kamu berdua merasa ada hal-hal yang tidak bisa "dipertemukan". Sebetulnya, ini agak konyol, karena ya... itu tadi, kita manusia, dan kita diciptakan berbeda-beda. Hal yang terbaik sebetulnya adalah mencoba untuk saling mengerti. Akhirnya, semua hal-hal manis selama ini harus berakhir karena ego.

Sepengamatan saya, justru mereka yang selama masa pacaran dulu biasa-biasa saja, akhirnya bisa mencapai ke jenjang pernikahan. Sementara yang dulunya dikenal sebagai pasangan serasi, paling sweet, pokoknya yang paling bikin iri orang, ternyata banyak yang akhirnya harus pisah di tengah jalan. Jadi, pada akhirnya saya pikir, kamu mungkin punya hubungan paling sweet di kampus, tapi itu tidak menjamin hubungan kamu akan berakhir bahagia.

Mantannya pacar adalah mantan dan itu adalah makhluk berbahaya; jauhi!

Salah saya, mungkin, terlalu baik. Ini bukan "kepedean", tapi saya pikir saya memang sangat baik hingga saya masih memperbolehkan dia saat itu untuk berteman dengan mantannya, yang notabene adalah sahabatnya juga dulu. Jadi, singkat cerita, dia dulu bersahabat dengan orang ini, dan kemudian mereka jadian, dan sekitar enam bulan kemudian putus. Tapi mereka tetap berteman sejak saat itu.

Kenapa saya memperbolehkan dia masih berteman dengan mantannya? Banyak orang bilang saya aneh karena yang namanya mantan ya... mantan. They can't be friends. Tapi saya ingin dia tahu bahwa saya percaya dengan dia dan saya tahu dia tidak akan menyalahgunakan kepercayaan itu dengan "bermain" sama mantannya ini. Saya percaya bahwa dia bisa menjaga hatinya, tapi saya tahu bahwa biar bagaimanapun si mantannya ini ya... mantan, dan dia laki-laki, dan... sebetulnya itu berbahaya untuk masih "berhubungan" dengan mantan. Tapi saya terlalu sayang sama dia, dan saya percaya bahwa dia tidak akan "pindah" ke lain hati, dan saya tidak mau mengekang dia dengan melarang bergaul dengan ini-itu. Oh ya, mantannya ini punya prestasi, dan saya menghargai orang-orang berprestasi. Ini mungkin terdengar bodoh, tapi saya pikir tidak ada salahnya "berteman" dengan orang-orang berprestasi bahkan jika itu mantannya pacar kita.

Saya belajar bahwa biar bagaimanapun mantannya pacar adalah mantan dan itu adalah makhluk berbahaya; jauhi! Mungkin pacar kamu setia, tapi kamu enggak pernah tahu apakah si mantannya punya modus atau niat tertentu. Saya pikir kadang perempuan terlalu lugu dengan mengatakan bahwa "itu cuma mantan". I mean, itu bukan sekedar "cuma". Mantan itu adalah bagian dari masa lalu yang walau (mungkin) pernah membuat kita merasa sakit hati, tapi orang itu pernah menjadi bagian dari masa lalu kita. Dan di sini, saya terlalu lugu untuk memperbolehkan dia untuk tetap berteman dengan mantannya walau tentunya saya tetap memberikan sedikit batasan, tapi saya tidak pernah melarang 100%.

Dan sekarang, dia sudah kembali dengan mantannya, dan sejujurnya saya merasa itu semua salah saya dan betapa saya merasa sangat bodoh dengan apa yang saya lakukan dulu.

Ketika kamu merasa bosan dengan sebuah hubungan, just don't let it go

Yang namanya manusia pasti ada rasa bosan, dan itu wajar. Kamu dan dia mungkin sedang berada di fase yang kritis, di mana baik kamu maupun dia sangat merasa bosan. Bosan dengan segala rutinitas pacaran ini, bukan bosan dengan kamu. Kadang kamu dan dia perlu me-refresh hubungan kalian dengan hal-hal yang baru dan unik. Namun, satu hal yang penting, ketika kalian sama-sama merasa bosan, just don't let her/him go. Seseorang akan ada yang menyesal, entah kamu atau dia.

Saya percaya bahwa saat akhirnya saya dan dia setuju untuk mengakhiri ini semua, kami berdua sedang dalam masa-masa bosan tingkat tinggi. Dan itu juga didukung oleh beberapa masalah yang semakin memicu ketegangan antara saya dan dia. Kami berargumen tentang ketidaksamaan "visi" (yang setelah saya pikir-pikir sekarang agar err...) untuk masa depan, tapi (kini) saya pikir itu bukan alasa utama. Pemicu utamanya adalah rasa bosan, masalah-masalah lain kemudian berdatangan seakan menjadi semacam pertanda bahwa ini semua memang harus segera diakhiri. Salahnya, kami menyerah. Saya menyerah. Saya melepaskan dia dan dia melepaskan saya, dan tidak ada yang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Seakan semua yang telah berjalan hampir selama tiga tahun selesai begitu saja tanpa ada bekasnya. Saya tahu saya sayang dia, dan saya tahu dia sayang saya. Tapi kami menyerah terlalu cepat.

Jadi, jika suatu hari kamu mengalami hal-hal serupa, tetap ingat bahwa ini hanya perasaan bosan sementara. Kamu hanya perlu me-refresh hubungan kamu, dan jangan biarkan salah satu dari kalian menyerah dan akhirnya mengakhiri hubungan yang selama ini telah dijalin. Pada akhirnya, seseorang di antaranya akan menyesal. Pastinya, penyesalan tidak ada gunanya ketika semuanya sudah terlambat.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.