Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

21 Desember 2014

Obrolan Seru Kamis Malam Bersama Munira Agile: Segala Hal Tentang (Artis) Ask.fm Hingga "Anak Masa Kini"

Setelah minggu lalu saya bertemu Hila Zachira dan ngobrol banyak dari A sampai Z soal media sosial, khususnya Ask.fm, dan dirinya pribadi, Kamis (18/12) lalu, saya berkesempatan bertemu salah satu orang yang juga tidak kalah tenar di jagat Ask.fm dalam negeri, Munira Agile. Munira atau yang akrab disapa Mira ternyata juga masih memiliki hubungan kerabat dengan Hila. Bagi kamu yang penggemar berat Ask.fm, mungkin nama Mira (atau "Kak Mira") tidak lagi asing buat kamu, atau bahkan jawaban-jawaban Mira juga sering muncul di feed Ask.fm kamu.

Perbicangan saya bersama Mira ternyata berlangsung lebih lama daripada saat sesi wawancara saya bersama Hila, yaitu lebih dari dua setengah jam. Semua hal yang berkaitan dengan media sosial, kehidupan Mira, dan pandangannya mengenai remaja saat ini kami bahas denganmenurut sayasangat seru dan sangat (menurut saya) insightful. Oleh karena itu, saya anggap ini juga sebagai "buka-bukaan" karena pastinya ada banyak hal yang saya dapatkandan kamu juga bisa dapatkandari wawancara yang pastinya hampir tidak mungkin kamu dapat sedetil ini bahkan jika bertanya di Ask.fm sekalipun. Jadi, hampir semua tentang Mira ada di sini.

Jadi, bagi kamu yang mungkin merupakan penggemarnya Mira, saya pikir, seluruh wawancara ini mengulas dan menjawab banyak hal mengenai pribadi Mira.

Foto kiriman Munira Agile (@miraagile) pada

Karena wawancara saya bersama Mira sangat panjang, saya membagi wawancara ini ke dalam beberapa topik utama. Kamu tinggal klik topik dari gambar-gambar di bawah ini untuk membaca lebih lanjut mengenai wawancara saya bersama Mira . Kamu bisa mulai dari topik mengenai awal mula Mira "terjun" ke dunia media sosial atau kamu juga bisa bebas memilih topik mana yang ingin kamu baca terlebih dahulu.

Pilih Topik





Dalam sebulan ke depan, saya akan melakukan banyak wawancara bersama orang-orang yang sudah saya "kepoin" sebelumnya mengenai pandangan mereka terkait media sosial, Ask.fm, remaja, gaya hidup, hingga hal-hal yang pastinya seru untuk diketahui secara langsung dari mereka. Jadi, silakan menunggu, siapa tahu "artis favorit" kamu di Ask.fm saya ulas di sini. Anyway, kalau kamu punya ide tentang siapa yang harus saya wawancara, silakan tuliskan di boks komentar di bawah.


Terima kasih banyak saya ucapkan pada Mira untuk sesi ngobrol-ngobrol yang sangat menyenangkan! Semoga bisa bertemu kembali di lain kesempatan.

13 Desember 2014

Dua Jam Seru Bersama Hila Zachira: Dari Media Sosial Hingga Gaya Hidup Remaja

Bulan Oktober lalu saya untuk pertama kalinya menulis mengenai fenomena Ask.fm yang sedang booming di kalangan remaja Indonesia saat ini. Ternyata, dengan situs media sosial ini, seseorang dapat menjadi terkenal, atau menjadi seperti selebritas, tanpa harus terlebih dulu masuk layar kaca.

Memang, kini kita mengenal selebritas dunia maya. Selebritas dunia maya ini mulai eksis saat "gerakan" unjuk kreativitas di Twitter dan YouTube menjadi sangat popular. Ketika akhirnya Instagram muncul dan juga bisa "dikonsumsi" oleh pengguna Android sejak awal tahun 2012 lalu, kita pun mengenal banyak "selebritas Instagram". Ini adalah orang-orang yang, let's say, memublikasikan foto-foto "badai" di akunnya. Mulai dari foto-foto diri nan bombastis hingga foto-foto traveling nan elok yang (pastinya) membuat para orang-orang ini mempunya basis fans tersendiri.

Kini, tren penggunaan dan exposure media sosial sedang berkembang sangat masif di Ask.fm, khususnya di kalangan remaja lokal. Saya melihat bahwa melalui media sosial ini, seseorang juga bisa mendapatkan "status" artis atau selebritas dengan modal yang jauh lebih sederhana dibandingkan media-media sosial sebelumnya, yakni dengan menjawab pertanyaan. Walaupun memang, jawaban yang dimaksud tentu bukan sembarang jawaban. Jawaban ini harus memenuhi unsur entertain atau menghibur.

Saya memang termasuk "pendatang" baru di dunia per-Ask.fm-an, tapi dalam usia yang termasuk muda di media sosial yang satu ini, saya memperhatikan banyak fenomena menarik dari para pengguna Ask.fm. Berbagai pengamatan saya ini mengundang rasa kepo yang sangat besar hingga saya memutuskan untuk bertemu dan bertanya langsung dengan para "aktivis" Ask.fm mengenai peran mereka sebagai "artis Ask.fm". Saya senang ternyata rasa keingintahuan saya ini pun disambut positif oleh beberapa orang "artis Ask.fm" yang berhasil saya hubungi.

Dalam sebulan ke depan, saya akan melakukan banyak wawancara bersama orang-orang yang sudah saya "kepoin" sebelumnya mengenai pandangan mereka terkait media sosial, Ask.fm, remaja, gaya hidup, hingga hal-hal yang pastinya seru untuk diketahui secara langsung dari mereka. Jadi, silakan menunggu, siapa tahu "artis favorit" kamu di Ask.fm saya ulas di sini. Anyway, kalau kamu punya ide tentang siapa yang harus saya wawancara, silakan tuliskan di boks komentar di bawah.

Dua Jam "Buka-bukaan" Bersama Hila Zachira

Kamis (11/12) kemarin, saya berkesempatan bertemu sekaligus ngobrol panjang lebar dengan seorang perempuan yang bisa saya katakan cukup terkenal di Ask.fm. Namanya adalah Hila Zachira. Bagi kamu yang penggemar berat Ask.fm, mungkin nama Hila tidak lagi asing buat kamu, atau bahkan jawaban-jawaban Hila juga sering muncul di feed Ask.fm. Memang, bagi Hila sendiri, dia tidak menganggap dirinya "seterkenal" itu di media sosial yang tampaknya cukup wajib dimiliki oleh remaja Indonesia saat ini. Namun, saya sempat melakukan "riset" kecil-kecilan dan saya pun memutuskan untuk memasukkan Hila ke dalam daftar nama orang-orang popular di Ask.fm.

Perbicangan saya bersama Hila berlangsung selama hampir dua jam. Semua hal yang berkaitan dengan media sosial, kehidupan Hila, dan pandangannya mengenai remaja saat ini kami bahas denganmenurut sayasangat seru. Oleh karena itu, saya anggap ini sebagai "buka-bukaan" karena pastinya ada banyak hal yang saya dapatkandan kamu juga bisa dapatkandari wawancara yang pastinya hampir tidak mungkin kamu dapat sedetil ini bahkan jika bertanya di Ask.fm sekalipun.

Foto kiriman @hilazach_ pada


Bagi kamu yang mungkin merupakan penggemarnya Hila, saya pikir, seluruh wawancara ini mengulas dan menjawab banyak hal mengenai pribadi Hila.

Wawancara saya bersama Hila cukup panjang. Oleh karena itu saya membagi wawancara ini ke dalam beberapa topik utama. Kamu tinggal klik topik dari gambar-gambar di bawah ini untuk membaca lebih lanjut mengenai wawancara saya bersama Hila . Kamu bisa mulai dari topik mengenai media sosial atau kamu juga bisa bebas memilih topik mana yang ingin kamu baca terlebih dahulu.

Pilih Topik





Anyway, terima kasih banyak saya ucapkan pada Hila untuk sesi ngobrol-ngobrol yang sangat menyenangkan. Semoga bisa bertemu kembali di lain kesempatan. 




07 Desember 2014

Ahok dan Provokasi di Media Sosial

Kemarin malam, saya dikejutkan dengan satu berita yang di-share seorang teman di linimasa Facebook dengan judul yang sangat provokatif. Seperti yang Anda lihat di atas, berita itu berjudul, "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at". Judul ini langsung mengundang perhatian saya karena saya pikir apa urusannya gubernur sampai harus atur materi khutbah Jumat? Saya perhatikan, berita itu dipublikasikan oleh Republika. Tanpa bermaksud memandang sebelah mata, tapi saya pikir kita sama-sama tahu "ideologi" yang dianut Republika dalam memublikasikan berita.

Namun demikian, tetap saya harus membaca konten berita tersebut sebelum terlanjur men-share-nya (seperti kebanyakan orang) di Facebook. Setelah saya buka tautan berita tersebut, saya terkejut karena ternyata judul di artikel yang terbuka bukanlah "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at", melainkan "Ahok Akan Sebar 'Intel' Awasi Pembangunan Masjid. Ada Apa?".

Loh, ada apa ini? Karena saya juga terlanjur terbawa emosi sesaat ketika membaca judul beritawalau sisi baiknya, saya tetap cek dulu dan membaca, sedangkan biasanya orang-orang kita terlalu malas membaca dan terlalu semangat berkomentarsaya pun beranggapan bahwa judul berita ini telah diedit oleh Republika, tapi sayangnya saat berita itu dipublikasikan, orang-orang sudah terlanjur menyebarkannya lebih dulu, sehingga judul yang otomatis muncul di Facebook adalah judul  "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at", bukan "Ahok Akan Sebar 'Intel' Awasi Pembangunan Masjid. Ada Apa?".

Menurut saya, judul-judul semacam ini jelas sangat berbahaya. Belum lagi, karakter orang Indonesia yang malas baca, tapi lantang bersuara (baca: cuma terpaku pada judul berita, share, lalu komentar, caci maki), membuat hal-hal semacam ini bisa semakin menebar kebencian. Sudahlah, memangnya tidak bosan ya? Begitu pikir saya.

Ini semua membuat saya semakin yakin bahwa media semakin lama semakin "tidak ada otaknya". Media kerap membuat judul berita yang "seenak jidatnya". Masalahnya, kalau berita dengan judul aslinya sudah dipublikasikan, dan kemudian di-share di Facebook, dan kemudian orang lain men-share dari orang pertama yang men-share, judulnya tidak akan berubah kecuali orang itu meng-copy ulang URL berita (yang mungkin sudah diedit ulang). Dalam hal ini, teman saya tadi memang men-share berita tersebut dari orang lain. Jadi, dia bukan pihak pertama yang men-share berita tersebut.

Judul Rekayasa

Namun, saya menyesal karena saya terlalu gegabah dalam membuat kesimpulan. Saya menyesal karena seharusnya saya bisa lebih jeli dalam membaca judul tersebut dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Saya membuat pengamatan singkat, tapi saya pikir pengamatan ini cukup membuat saya yakin bahwa sebenarnya berita yang disebarkan di Facebook tadi memang telah diubah judulnya oleh pihak yang pertama kali men-share berita tersebut.

Tahukah Anda bahwa kita bisa mengubah judul tautan yang akan kita sebar di Facebook? Selain judul, kita juga bisa mengubah subtitle sesuai keinginan kita. Perhatikan gambar di bawah ini.

Coba Anda copy dan paste sebuah URL di boks status Facebook Anda. Coba arahkan kursor ke judul berita yang muncul maka Facebook akan meng-highlight judul tersebut dengan warna kuning yang artinya, jika Anda klik judul tersebut, Anda bisa mengubah atau mengeditnya sesuai keinginan Anda. Hal ini juga berlaku pada subtitle atau teks yang ada di bawah judul. Silakan coba arahkan kursor ke subtitle maka subtitle juga akan di-highlight kuning oleh Facebook yang artinya Anda bisa mengubah isi teks tersebut.

Saya tahu hal ini sudah lama, dan mungkin sebagian dari Anda juga sudah tahu. Namun, karena memang terbawa emosi sesaat, saya tidak memperhatikan hal-hal semacam ini. Padahal, ini sangatlah penting. Dari sini, saya berasumsi bahwa berita tersebut diedit oleh pihak yang pertama kali menyebarkan berita tersebut.

Sekarang, kita kembali pada judul berita yang di-share, yaitu "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at". Dari judul tersebut, saya minta Anda untuk memperhatikan empat poin berikut:
  1. Ahok :
  2. Untuk
  3. Dan
  4. Jum'at
Sekarang, apa yang salah dari keempat kata tersebut? Pertama, saya menyoroti penulisan kata “Untuk” dan “Dan” dalam judul. Dalam sebuah judul kedua kata tersebut harusnya tidak ditulis dengan huruf kapital karena “untuk” adalah kata depan dan “dan” adalah konjungsi. Wartawan (walaupun pasti ada yang salah), sebagian besar pasti tahu hal ini. Kalaupun mereka salah, saya pikir untuk apa ada pekerjaan editor? Kalau hal semacam ini sampai luput dari "mata" editor, saya rasa editornya pasti terlalu banyak tidur siang.

Hal berikutnya adalah kata "Jum'at". Kata Jumat di dalam artikel tersebut ditulis Jum’at. Sangat lazim bagi orang kita menulis Jum’at dengan menyisipkan tanda petik di antara “m” dan “a”, tapi wartawan pasti tahu yang betul adalah “Jumat”. Kalaupun ini luput dari si wartawan, si editor pasti akan mengoreksinya. Artinya, tidak mungkin penulis salah menulis judul. Sementara itu, kata Jumat beberapa kali ditulis di artikel tanpa tanda petik. Tidak mungkin ada perbedaan penulisan dalam satu artikel.

Kesalahan ketiga adalah terkait dengan tanda baca. Tanda titik dua (:) setelah nama seharusnya tidak diikuti spasi. Saya coba cari berita-berita lainnya di situs Republika, dan begitulah yang ditulis di judul-judul Republika lainnya, tanda titik dua tidak diikuti spasi setelah nama. Ini artinya berita yang di-share janggal karena "beda" sendiri. Orang awam kebanyakan kurang mengatahui cara penulisan tanda baca dalam bahasa Indonesia. Saya juga kerap menemukan orang-orang biasanya menyisipkan spasi antara suatu kata dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!), dan sebagainya. Padahal, seharusnya tidak ada jarak (spasi) antara kata dan tanda baca yang mengikutinya.

Namun, kembali pada topik, di judul di atas, ditulis: "Ahok: Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah". Jadi, di dalam judul ini, terlalu banyak kesalahan untuk media sebesar Republika.

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa artikel yang pertama kali disebar sudah terlebih dulu diubah. Namun, karena yang mengubahnya juga tidak begitu paham soal EYD (dan orang-orang juga tidak paham soal EYD) maka dia melewatkan empat poin ini. Seandainya si pihak pertama ini bisa membuat judul sesuai EYD, saya pikir pastinya saya akan percaya bahwa judul ini memang pernah dipublikasikan oleh Republika.

Oleh karena itu, saya mengimbau (ya, "mengimbau", bukan "menghimbau") kepada seluruh pembaca agar tidak mudah terprovokasi oleh (judul) berita yang tersebar di media-media sosial. Sebenarnya, judul berita saat ini memang kerap bersifat provokatif, tapi ada pihak-pihak yang berusaha meningkatkan tingkat atau level keprovokatifannya (saya tidak yakin kata ini tepat, tapi maksud saya begitu) sehingga membuat orang-orang semakin "gerah". Cermatlah dalam memilah-milih berita. Pastikan Anda selalu membaca dari awala (lead) hingga akhir artikel. Jangan terburu-buru men-share apalagi berkomentar "tidak pintar" hanya karena Anda menilai dari judul beritanya saja.

Media kini memang dibuat untuk berbisnis, bukan lagi untuk melayani kepentingan publik. Jadi, berhati-hatilah dalam membaca berita. Bagi saya pribadi, di Indonesia saat ini, tidak ada lagi media yang benar-benar bisa dipercaya karena kepentingan perusahaan kini lebih besar daripada kepentingan publik. Waspadalah!

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

28 November 2014

Humor Pagi: Catatan Hasil Eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2015

Media sosial, selalu bisa membuat perasaan campur aduk di pagi hari. Sebetulnya, ini tergantung kita berteman dengan siapa atau mem-follow siapa di media sosial. Namun, pagi ini rasanya ada satu topik yang sangat disayangkan kalau dilewatkan untuk ditulis.

Pagi ini di Facebook, saya melihat satu status yang dibagikan oleh beberapa kawan "seperjuangan" di BEM FISIP dulu. Status ini berisi tentang hasil eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2015, Andi Aulia Rahman (FH/Ilmu Hukum 2011) dan Taufik Hidayat (FMIPA/Kimia 2011), di FISIP UI (26/11). Pertanyaan anak-anak FISIP memang suka "kejam". Beberapa pertanyaan memang kurang penting ditanya, tapi ada beberapa banyak pertanyaan yang ditanyakan dan dijawab dengan konyol.

Sebetulnya, saya sudah tidak terlalu tertarik dengan topik-topik organisasi kampus, apalagi soal BEM UI, tapi yang satu ini benar-benar layak dibaca. Berikut ini adalah hasil catatan Dian-Diku Aditya Ning Lestari yang dipublikasikan di Facebook.
  1. T: Ideologi politik?
  2. J: Pancasila (keduanya)
    Tanggapan saya: Oke.

  3. T: Politisi favorit?
  4. J: Jusuf Kalla (Andi), Habibie (Taufik)
    Tanggapan saya: Sebetulnya, keduanya harus menjawab lebih dari satu orang karena yang ditanya adalah politisi, bukan politikus. Bedanya? Baca selengkapnya di sini.

  5. T: Preferensi partai politik?
  6. J: Golkar dan PKS (Andi), PKS (Taufik)
    Tanggapan saya: Oke.

  7. T: KIH atau KMP?
  8. J: Prabowo atau KMP (keduanya)
    Tanggapan saya: Sejujurnya jawabannya: (1) tidak jelas, dan (2) tidak menjawab pertanyaan. Saya paling bete kalau ditanya pilihan dijawab dengan pilihan yang bahkan tidak ada dalam opsi pertanyaan.

  9. T: Mengapa KMP?
  10. J: Indonesia butuh ketegasan.
    Tanggapan saya: Serius, ini jawabannya? "Sedangkal" itu? Kalau ditanyakan soal Prabowo, mungkin masih bisa diterima jawabannya, tapi yang ditanya adalah KMP alias koalisinya.

  11. T: Ketegasan vs demokrasi?
  12. J: Tak harus berlawanan. Pendapat konstituen bisa diminta terlebih dahulu, lalu diakhiri dengan pengambilan keputusan yang tegas.
    Tanggapan saya: Menurut saya, ini yang bertanya juga aneh karena ketegasan itu adalah sifat atau karakter seseorang, sedangkan demokrasi adalah sistem pemerintahan. Jadi, kalau yang ditanya juga aware soal ini, mereka bisa saja membalikkan pertanyaan bahwa pertanyaan yang diajukan itu aneh.

  13. T: Peran perempuan dalam politik?
  14. J: Dibutuhkan karena pengalaman mereka yang berbeda dari pria, satunya karena mereka lebih mengedepankan perasaan.
    Tanggapan saya: Guys, come on! Ada jawaban yang lebih masuk akal daripada soal "mengedepankan perasaan".

  15. T: Pernikahan beda agama?
  16. J: Tidak setuju, tidak sesuai dengan Undang-undang. Selain itu, semua agama ingin pernikahan ummah sesuai agama masing-masing.
    Tanggapan saya: Netral.

  17. T: Pencabutan subsidi, setuju atau tidak setuju?
  18. J: Tidak setuju. Sebaiknya di masa depan saja, jangan sekarang, karena sekarang kejelasan belum diberikan perihal alokasinya.
    Catatan Dian-Diku: Faktanya sudah ada kejelasan.
    Tanggapan saya: Minimal untuk masalah ini, coba banyak bergaul dan berdiskusi dengan rekan-rekan dari FE. Sekalipun tidak setuju (misalnya), tapi setidaknya jadi punya dasar yang lebih kuat.

  19. T: Pembangunan Selat Sunda dan tol laut, setuju atau tidak?
  20. J: Setuju, karena 2/3 wilayah Indonesia adalah laut.
    Tanggapan saya: Pembangunan Selat Sunda? Maksudnya si penanya adalah jembatan Selat Sunda. See, kalau mereka aware dengan pertanyaan, sebetulnya bisa saja dijawab, seperti, "Maaf, Selat Sunda sudah terbentuk sejak ribuan tahun lalu," misalnya. Dan soal jawaban, jawaban kedua calon juga sangat tidak menjawab pertanyaan. Oke, 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan, lantas?

  21. T: Setuju atau tidak setuju, keputusan KMP untuk meng-impeach Jokowi?
  22. J: Tidak setuju jika tidak konstitusional.
    Catatan Dian-Diku: Faktanya impeachment itu sendirinya konstitusional.
    Tanggapan saya: Istilah impeachment berasal dari kata “to impeach”, yang berarti meminta pertanggungjawaban. Jika tuntutannya terbukti, maka hukumannya adalah “removal from office”, atau pemberhentian dari jabatan. Dengan kata lain, impeachment bukanlah pemberhentian, tetapi baru bersifat penuntutan atas dasar pelanggaran hukum yang dilakukan.

    Namun, seringkali kata ini kurang dipahami, sehingga seolah-olah impeachment identik dengan pemberhentian. Padahal proses permintaan pertanggungjawaban yang disebut impeachment itu tidak selalu berakhir dengan tindakan pemberhentian terhadap pejabat yang dimintai pertanggungjawaban. Contoh kasus adalah peristiwa yang dialami oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, yang di-impeach oleh House of Representatives, tetapi dalam persidangan Senat tidak dicapai jumlah suara yang diperlukan sehingga kasus Bill Clinton tidak berakhir dengan pemberhentian. Pesan moral: banyak baca.

  23. T: Setuju atau tidak setuju, ganja dilegalkan?
  24. J: Tidak setuju.
    Tanggapan saya: Oke.

  25. T: Setuju atau tidak setuju, hukum waris dalam Islam, bahwa perempuan mendapat 1/4 warisan, lelaki dua kalinya.
  26. J: Setuju, laki-laki itu tulang punggung keluarga, memiliki kewajiban yang lebih dari wanita untuk mengurus keluarga. Warisan laki-laki lebih agar lebih mampu menghidupi keluarganya.
    Tanggapan saya: Ini pertanyaan tidak penting yang dijawab dengan kurang baik. Tidak perlu ambil pusing soal ini, cukup jawab, "Itu perintah dalam agama, tidak perlu diperdebatkan, silakan pertanyaan selanjutnya."

  27. T: Setuju atau tidak setuju pernyataan Felix Siauw bahwa wanita yang pintar, mandiri, dan kuat itu "mengerikan?"
  28. J: Tidak setuju, perempuan yang seperti itu justru baik.
    Tanggapan saya: Saya tidak yakin mereka benar-benar paham dengan arti "mengerikan" di sini.

  29. T: Setuju atau tidak setuju, tes keperawanan bagi Korps Polisi Wanita?
  30. J: Kami tidak tahu tujuannya, jadi belum ada posisi, tapi setahu kami dalam rekrutmen TNI tes keperjakaan juga ada, walau saya tidak tahu caranya bagaimana.
    Tanggapan saya: Sebetulnya ini bukan pertanyaan benar-salah. Ini sekedar setuju atau tidak setuju. Kalau setuju kenapa dan kalau tidak setuju kenapa. Sesederhana ini. Dan pertanyaan seperti ini bisa dijawab dengan nalar.

  31. T: Tahu kepanjangan MP3EI?
  32. J: Tidak.
    Tanggapan saya: MP3EI adalah singkatan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jelas, tidak semua orang tahu, bahkan mahasiswa. Mungkin mahasiswa-mahasiswa di jurusan tertentu tahu, tapi kita tidak bisa mengharapkan semua orang tahu.

  33. T: Setuju dengan MP3EI?
  34. J: Belum mendalami, jadi belum ada posisi.
    Tanggapan saya: Ini yang bertanya juga rasanya mau saya "garuk" mukanya. Mereka jelas tidak tahu apa itu MP3EI dan masih ditanya pendapatnya mengenai itu. SIapa yang bodoh?

  35. T: Mengapa harus memilih Anda?
  36. J: Kami lurus dan kami tulus.
    Tanggapan saya: Jawaban standar dan tidak menjawab pertanyaan.

  37. T: Kenapa LGBT penyakit? (dipertanyakan oleh seorang gay terbuka)
  38. J: Maksud anda? Saya tidak update, saya tidak tahu DSM telah memperbaharui status LGBT menjadi lifestyle.
    Tanggapan saya: DSM adalah Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental. Dan saya bingung dengan jawaban mereka.

  39. T: Jika ayah Anda gay, bagaimana sikap Anda?
  40. J: Saya tetap menghormati.
    Tanggapan saya: Oke.

  41. T: Anda gay atau hetero?
  42. J: Hetero.
    Tanggapan saya: Oke.

  43. T: Teori siapa LGBT adalah lifestyle?
  44. J: Tidak tahu.
    Tanggapan saya: Satu hal, jujur itu penting, tapi dalam hal ini sebisa mungkin hindari jawaban "tidak tahu" karena ada banyak cara untuk menjawab secara implisit bahwa kita tidak tahu, tapi tidak secara terbuka mengatakan "saya tidak tahu".

  45. T: Mengapa Anda hetero?
  46. J: Karena demikianlah kodrat manusia menurut agama.
    Tanggapan saya: Ini sama dengan pertanyaan: kenapa Anda Islam? Dan dijawab: karena begitulah seharusnya. Jawaban mereka seharusnya bisa lebih baik dari sekedar soal "kodrat menurut agama".

  47. T: Menurut Anda keperawanan dan keperjakaan itu apa? (ditanyakan oleh seorang biseksual terbuka) 
  48. J: Sudah atau belumnya seseorang melakukan hubungan intim.
    Tanggapan saya: Oke.

  49. T: Kalo saya sudah oral, fingering, dan anal, itu artinya saya masih perawan atau perjaka tidak?
  50. J: Kami belum mendalami ilmu kedokteran, jadi kami belum bisa menjawab soal itu.
    Tanggapan saya: Sebetulnya tidak perlu mendalami ilmu kedokteran, mereka cuma perlu konsisten dengan pernyataan mereka pada pertanyaan sebelumnya. Jika mereka setuju bahwa keperawanan dan keperjakaan adalah soal sudah atau belumnya seseorang melakukan hubungan intim maka mereka cukup menjawab pertanyaan yang diajukan ini bahwa jika seseorang melakukan oral, fingering, dan anal, masih dianggap perawan atau perjaka jika mengacu pada konsep keperawanan dan keperjakaan menurut mereka tadi

  51. T: Pendapat tentang tes narkoba acak di dalam kampus:
  52. J: Sepakat, narkoba memang buruk.
    Tanggapan saya: Oke.

  53. T: Tes narkoba hanya untuk mahasiswa atau seharusnya seluruh civitas akademika, termasuk rektor dan dosen?
  54. J: Seluruh civitas akademika, termasuk rektor dan dosen
    Tanggapan saya: Arti idiomatis civitas akademika sebetulnya adalah kelompok/komunitas/warga akademik, dan itu termasuk dosen dan rektor.

  55. T: Bisa menjamin dosen juga dites?
  56. J: Akan kami sampaikan.
    Tanggapan saya: Oke.

  57. T: Cara meminimalisir penganut LBGT sesuai statement anda?
  58. J: Saya tidak ingat menyebutkan meminimalisir, saya hanya ingat menyebutkan penganut. Sikap kami utamanya terkait kepengurusan BEM: kami tidak mempermasalahkan latar belakang LGBT, selama kompeten.
    Tanggapan saya: Oke.

  59. T: Terkait mahasiswa difabel, posisi anda bagaimana?
  60. J: Fasilitas khusus akan diperjuangkan.
    Tanggapan saya: Oke.

  61. T: Anda setuju "pemerataan pendidikan"?
  62. J: Setuju.
    Tanggapan saya: Oke.

  63. T: Ekstensi dan Vokasi biayanya lebih tinggi dari Reguler. Bisa diperjuangkan agar turun?
  64. J: Akan kami advokasikan agar tidak naik, tapi memperjuangkan turun agak sulit. Karena kelas Anda memang kelas nonreguler. Menurut aturan, biaya Anda memang harus lebih mahal. Tapi kami juga belum mengerti aturannya. Harus kami dalami dulu.
    Tanggapan saya: Netral.

  65. T: Pernah baca buku sastra?
  66. J: Tidak
    Tanggapan saya: Oke.

  67. T: Mampu baca satu hari satu buku sastra?
  68. J: Tidak. Mungkin sebulan sebuku mampu.
    Tanggapan saya: Don't be  a "maybe". Bisa atau tidak, cukup itu saja.

  69. T: Buku yang pertama kali anda baca?
  70. J: Autobiografi SBY. Saya suka baca biografi orang sukses (Andi).
    Tanggapan saya: Sebetulnya, pertanyaan ini rancu dan tidak jelas. Buku jenis apa? Kalau saya di posisi si penjawab, saya tidak yakin bisa ingat buku apa yang pertama kali saya baca, mungkin buku belajar membaca. Namun, saya yakin bukan itu yang dimaksud si penanya. Sebaiknya ketika membuat pertanyaan, si penanya juga harus jelas dalam menyampaikan pertanyaan. Walaupun kita sama-sama berasumsi "sama-sama paham" (terlihat dari jawaban Andi). Jelas Andi tidak baca autobiografi SBY saat masih kecil dulu.

  71. T: Buku favorit?
  72. J: Buku tentang samurai jepang yang berjuang tanpa pedang (Taufik).
    Tanggapan saya: Oke. Mungkin maskudnya "The Swordless Samurai".

  73. T: FPI (Front Pembela Islam), JIL (Jaringan Islam Liberal), dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia, inisiator gerakan khilafah), jika Anda adalah negara dan harus membubarkan salah satu, yang mana?
  74. J: FPI, karena banyak melakukan pelanggaran peraturan, misalnya penggerebekan liar.
    Tanggapan saya: Oke.

  75. T: Tidak pernah baca sastra, tapi mengutip W.S. Rendra?
  76. J: Ya, kami memang mengutip walau tidak pernah membaca, kami hanya mencari pos-pos yang menginspirasi.
    Tanggapan saya: Ya, lagi-lagi, ini sama seperti, "tidak pernah nonton (Metro) TV, tapi mengutip Mario Teguh? Ini sah-sah saja. Tidak perlu dipersoalkan (dan dipertanyakan).

  77. T: Sang burung merak. Siapa itu?  (Jawaban: Julukan untuk W.S. Rendra)
  78. J: Tidak tahu
    Tanggapan saya: Adakah pertanyaan ini harus ditanyakan? Mungkin ini termasuk pengetahuan umum (pada masa lalu), tapi pendidikan kita bahkan kurang mengindahkan sejarah kesusastraan Indonesia. Lagipula jelas bahwa mereka hanya sekedar suka dengan W.S. Rendra, membaca karyanya saja belum pernah. Orang-orang yang suka sejarah pun belum tentu tahu julukan Jalak Harupat (misalnya) adalah julukan bagi siapa?

  79. T: Tahukah, apa itu liberalisme dan komunisme?
  80. J: Liberalisme, paham yang percaya individu memiliki "kesempatan akselerasi." Manfaat: individu dituntut untuk mengakselerasi diri (benar tapi tidak relevan). Sosialisme itu... eh, Komunisme... kami belum terlalu mendalami, jadi tidak tahu.
    Tanggapan saya: Dek, di kampus (selama jadi aktivis) ngapain aja?

  81. T: Sikap personal terhadap keberadaan UILDSC (UI Liberalism and Democracy Study Club) dan SEMAR UI (Serikat Mahasiswa Progresif UI)?
  82. J: Kami ajak sebagai partner dalam bergerak.
    Tanggapan saya: Oke.

  83. T: BEM UI punya Departemen Lingkungan Hidup, tapi dokumen tidak dicetak bolak-balik?
  84. J: Akan kami pastikan bolak-balik.
    Tanggapan saya: Oke.

  85. T: Seorang perempuan di Aceh diperkosa, namun tetap menerima hukuman cambuk. Menurut Anda?
  86. J: Kurang sepakat Indonesia bukan negara Islam, tapi negara Pancasila. Harus ikut hukum negara.
    Tanggapan saya: Indonesia memang bukan negara Islam, tapi Aceh punya status "daerah khusus" dan punya otonomi khusus. Artinya, Aceh memiliki kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Ini juga termasuk dalam penegakan syariat Islam dengan asas personalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpa membedakan kewarganegaraan, kedudukan, dan status dalam wilayah sesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh. Itu (penjelasan tadi) dasarnya. Sekarang, soal setuju-tidak setuju barulah bisa dibahas setelah diberikan pemahaman ini. Kalau saya pribadi jelas tidak setuju.

  87. T: Latar belakang Anda, apakah Tarbiyah?
  88. J: Jika maksudnya kami ikut mentoring dan liqo, ya, kami Tarbiyah.
    Tanggapan saya: Soal Tarbiyah  memang sudah menjadi topik umum yang dibahas setiap kali pagelaran politik kemahasiswaan di kampus (UI). Ada anggapan bahwa "kuasa tak terlihat" atau hegemoni politik kampus seringkali dipandang berada dalam genggaman sebuah golongan yang disebut Tarbiyah. Bagi yang awam, Tarbiyah adalah sebuah golongan yang berpegang teguh pada ajaran agama Islam, menempatkan politik atau perebutan kekuasaan (pengaruh/jabatan) sebagai salah satu jalur syiarnya, dan berdasarkan banyak bukti (tulisan, observasi, maupun wawancara), Tarbiyah dekat dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gerakan Tarbiyah baru bergerak secara terbuka (bila mau dikatakan benar-benar terbuka) pasca-Orde Baru dengan mengandalkan jalur kaderisasi hingga ke kampus-kampus di seluruh Indonesia. Di UI sendiri, Tarbiyah sudah eksis dalam politik dan gerakan mahasiswa kita paling tidak selama sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan karakter inilah, politik dan gerakan mahasiswa yang didominasi golongan Tarbiyah akan bertendensi pada arah politik dan gerakan yang sejalan dengan kepentingan syiar—dan dalam banyak kasus bertendensi pada kepentingan partai.

  89. T: Ideologi pribadi Anda?
  90. J: Pancasila.
    Tanggapan saya: Oke.

  91. T: Secara pribadi, sepakat demokrasi sistem kufur?
  92. J: Tidak. Demokrasi akan menjadi azas kami dalam pergerakan.
    Tanggapan saya: Yang dimaksud penanya dengan demokrasi sistem kufur adalah bentuk demokrasi yang telah dijajakan negara Barat (yang bagi sebagian golongan dengan lantang disebut sebagai kafir) ke negeri-negeri Islam. Dari sini sebetulnya kita bisa menebak dari golongan manakah si penanya.

  93. T: Secara pribadi, setuju kepemimpinan khilafah di Indonesia?
  94. J: Tidak, karena Indonesia plural.
    Tanggapan saya: Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah khilafah dan khalifah itu sama? Sederhananya, khilafah adalah pemerintahan, kepemimpinan. Khalifah adalah orangnya, yaitu pemimpin atau pemerintah.

  95. T: Berapa tahun sudah Tarbiyah memimpin UI?
  96. J: Sembilan tahun.
    Tanggapan saya: Ada yang bilang sembilan, ada yang bilang sepuluh. Karena saya bukan pemerhati Tarbiyah, saya kurang tahu tepatnya berapa lama. Ada artikel menarik soal Tarbiyah di sini.

  97. T: Sembilan tahun Tarbiyah memimpin BEM UI, apakah sudah memimpin dengan baik?
  98. J: Selalu ada evaluasi.
    Tanggapan saya: Netral.

  99. T: Anda sedang berjalan, pakaian Anda mendadak menghilang, dan Anda bugil. Anda akan lari ke mana?
  100. J: Toilet (Taufik), Toilet Mushola (Andi).
    Tanggapan saya: Ini bukan pertanyaan yang sifatnya benar atau salah, cuma sekedar ingin mengetahui nalar yang ditanya. Ini semacam pertanyaan filsofis ya, hehehe.

  101. T: Dengan 300 juta per tahun dana rektorat untuk BEM UI. Kenapa BEM UI tidak bubar, dana untuk mahasiswa yang tidak mampu?
  102. J: BEM masih berguna.
    Tanggapan saya: Saya sepakat BEM masih berguna, tapi bergunanya seperti apa, mereka tidak jelaskan.

  103. T: Demokrasi itu apa?
  104. J: Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
    Tanggapan saya: Tepatnya: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Pertama kali diucapkan oleh Presiden AS Abraham Lincoln.

  105. T: Indikator demokrasi?
  106. J: Perlindungan HAM, kebebasan pers, pergantian kepemimpinan secara berkala, partisipasi publik yang terbuka.
    Tanggapan saya: Oke.

  107. T: Sumber dana kampanye?
  108. J: Beberapa di antaranya dari beasiswa aktivis Taufik dan lawyer kenalan Andi.
    Tanggapan saya: Lawyer, seriously?

  109. T: Departemen agama, penting atau tidak?
  110. J: Penting, masih sesuai dengan Pancasila.
    Tanggapan saya: Mungkin si penanya lupa kalau sekarang namanya sudah jadi Kementerian Agama.

  111. T: Paham Pancasila?
  112. J: Tidak
    Tanggapan saya: WHAT-THE-HELL?

  113. T: Tapi itu ideologi politik dan pribadi Anda?
  114. J: Ya.
    Tanggapan saya: DUH!

  115. T: Sebagai Pancasilais, menurut Anda kenapa Indonesia harus NKRI, bukan welfare state atau negara federal?
  116. J: Kami tidak paham Pancasila dan tidak tahu.
    Tanggapan saya: WHAT-THE -F*CK!

  117. T: Sebagai Pancasilais, menurut Anda kenapa Indonesia yang plural harus disatukan dengan nilai-nilai nasionalisme dan apa fungsi nasionalisme itu sendiri bagi warga sipil?
  118. J: Kami tidak mendalami Pancasila sehingga tidak bisa menjawab.
    Tanggapan saya: Fixed, ini  super bodoh.

  119. T: Sebagai Pancasilais, menurut Anda benar jika negara hanya mengakui 6 agama? 
  120. J: Ya.
    Tanggapan saya: Tapi mereka tidak paham apa itu Pancasila, bagaimana bisa mengatakan benar atau salah?

  121. T: Tindakan Gus Dur mengakui konfusianisme sudah benar?
  122. J: Ya, sesuai konstitusi.
    Tanggapan saya: Maksudnya, Gus Dur membolehkan kembali pertunjukan budaya Tionghoa di hadapan publik. Gus Dur juga menjadikan Imlek sebagai hari libur resmi nasional sekaligus mengakui Khong Hu Cu (Konfusianisme) sebagai agama resmi negara.

  123. T: Anda akan mengakui agama minoritas, misalkan Anda jadi presiden?
  124. J: Ya, asal mereka tidak mengganggu orang lain dengan kekerasan.
    Tanggapan saya: Oke.

  125. T: Bagaimana dengan Ahmadiyah?
  126. J: Tidak ada kekerasan, tapi mereka mengganggu agama Islam dengan menyama-nyamakan diri. Selama tidak menyebut diri Islam, kami akan mengakui.
    Tanggapan saya: Netral.

  127. T: Setuju Soeharto jadi pahlawan?
  128. J: Belum.
    Tanggapan saya: Karena?

  129. T: Tahu apa itu Gestapu?
  130. J: Tidak.
    Tanggapan saya: Coba lebih banyak baca sejarah ya, Dek. Orang kita memang gemar gonta-ganti singkatan, termasuk Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau yang lebih dikenal sebagai G-30S/PKI.

  131. T: Pendapat Anda tentang pembantaian PKI di mana ormas Muslim terlibat?
  132. J: Tidak tahu dan kami belum yakin ormas mana yang terlibat.
    Tanggapan saya: Netral.

  133. T: Tarbiyah itu apa?
  134. J: Pendidikan Islam. Di kampus bentuknya mentoring dan liqo.
    Tanggapan saya: Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan. Tapi di kampus, Tarbiyah punya makna yang lebih dari sekedar "pendidikan".

  135. T: Ada agenda peningkatan kualitas dosen?
  136. J: Belum kepikiran. Tugas rektorat.
    Tanggapan saya: Jelas, ini bukan tugas BEM.

  137. T: Hubungan Tarbiyah, PKS dan Ihwanul Muslimin (IM)?
  138. J: Kami tidak tahu. Tapi jika tidak salah, PKS dan IM ada keterikatan.
    Tanggapan saya: Saya tidak yakin dengan jawaban mereka ini, tapi kalau mereka mengaku sebagai Tarbiyah, pastinya tahu betul soal ini.

  139. T: Bisa main kesenian Indonesia?
  140. J: Kecapi (Andi), angklung (Taufik)
    Tanggapan saya: Oke.

  141. T: Bisa bahasa inggris?
  142. J: Tidak sebagus itu.
    Tanggapan saya: Calon ketua (dan wakil ketua) BEM UI, seharusnya tidak begitu, tapi ini pendapat saya pribadi.

  143. T: Wildest sex fantasy?
  144. J: ML with Pevita Pearce (nama penjawab disensor), ML with Ayu Azhari (nama penjawab sensor)
    Tanggapan saya: Guys, seriously! Ini sesi eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI atau mau main "Truth or Dare"? Lagipula menurut saya harusnya mereka tidak perlu menjawab. Jadi, ini baik si penanya maupun yang menjawab sama-sama konyol.

  145. T: Anda buta sejarah, buta budaya, buta politik, buta abstraksi, apa yang sebenarnya Anda dalami?
  146. J: Organisasi (keduanya).
    Tanggapan saya: Berorganisasi, tapi tidak berilmu itu sama dengan mengendarai mobil, tapi tidak tahu arah atau jalan sama sekali. Bisa mengendarai, tapi enggak tahu mau kemana.

  147. T: Menurut Anda hakikat manusia dalam organisasi bagaimana, berdasarkan pengalaman kalian?
  148. J: Manusia butuh kerjasama.
    Tanggapan saya: You guys could have answered better than that.

  149. T: Berdasarkan pengalaman, bentuk organisasi apa yang menurut Anda cocok dengan kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia?
  150. J: Tidak tahu. Kami cuma tahu satu bentuk organisasi. Ya, yang kami ikuti. Organisasi kampus dan SMA.
    Tanggapan saya: Ya, tapi kan kalian belajar Dek. Serius, di kampus ngapain aja? (tangan semakin gatal ingin menggaruk).

  151. T: Anda paling mendalami berorganisasi. Dari pengalaman Anda, apa yang bisa direvisi dari teori-teori manajemen organisasi Barat dan Timur (Tiongkok)?
  152. J: Kami tidak bisa menjawab karena kami tidak tahu soal teori-teori manajemen organisasi tersebut.
    Tanggapan saya: Hopeless.

  153. T: Bagaimana kultur mempengaruhi Anda?
  154. J: Sipakainge (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling menghormati), sipakatau (saling menghargai). Sebagai orang Bugis, 3S ini mempengaruhi saya (Andi). Budaya Sunda mengajarkan saya kelembutan (Taufik).
    Tanggapan saya: Oke.

  155. T: Ada berapa gender yang diakui sistem sosial Bugis Kuno?
  156. J: Tiga, laki-laki, perempuan, waria.
    Catatan Dian-Diku: Salah. Jawaban yang benar lima: laki-laki, perempuan, laki-laki yang mirip perempuan, perempuan yang mirip laki-laki dan Bissu (tanpa gender).
    Tanggapan saya: Anak FISIP (jelas) belajar antropologi dan sosiologi.

  157. T: Di salah satu organisasi Islam kampus, Ketua Keputrian dihapuskan, bagaimana pendapat Anda akan hal ini dari sisi kesetaraan gender dan profesionalitas?
  158. J: Kami tidak melihat dari sisi-sisi tersebut, tapi mungkin saja tidak ada hubungannya. Mereka hanya tidak ingin ada dualisme kepemimpinan.
    Catatan Dian-Diku: Jika, memang tidak ada hubungannya dengan gender, kenapa harus yang putri yang dihapus?
    Tanggapan saya: Ya, setuju dengan  Dian-Diku.

  159. T: Buktikan pernyataan Anda tentang “perempuan lebih banyak pakai perasaan!”
  160. J: Kami tidak bermaksud mengatakan wanita tidak bisa berpikir, emosi itu poin plus wanita. Wanita memimpin dengan kelembutan, kata-kata mereka menyentuh nurani.
    Catatan Dian-Diku: Jadi, laki-laki tidak bisa lembut dan kata-katanya tidak menyentuh nurani?
    Tanggapan saya: Lain kali, coba pikirkan kata-kata yang hendak diucapkan dengan lebih hati-hati karena mungkin kata-kata itu bisa berbalik menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Tambahan keterangan dari yang merangkum semua jawaban kandidat:

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata rekan saya di BEM FISIP dulu, Intias Maresta:
Kalau yang ditulis sama Dian-Diku Aditya Ning Lestari ini benar adanya, saya cuma mau bilang: jadi Ketua dan Wakil Ketua BEM UI bukan artinya jadi seperti Tuhan yang sempurna dan tahu semua hal. Tapi please, menjadi mereka artinya Anda harus LEBIH DARI MAHASISWA UI RATA-RATA. Jangan "bunuh diri", Dek.

Akhir Cerita

Kicauan dari akun Twitter DPM UI pada 6 Desember 2014 terkait hasil Pemira:

Saya ucapkan selamat kepada Andi dan Taufik. Sejujurnya, terlepas dari isu yang beredar, saya senang ternyata kalian bisa mendapatkan 66,74% suara. Ini artinya, mahasiswa UI masih percaya dengan kalian (dan BEM UI), dan semoga kalian bisa mengemban tanggung jawab ini dengan sebaik mungkin. Pesan saya: banyak-banyaklah membaca.

27 November 2014

Gemar Mencibir, Akankah Menjadi Karakter Masyarakat Indonesia?

Pagi ini, lagi-lagi, linimasa media sosial saya dipenuhi dengan status dan gambar yang sejak beberapa bulan terakhir tak pernah absen "menghias" dinding media sosial di tanah air. Ya, apalagi kalau bukan mengenai hal-hal yang menjelek-jelekan Jokowi (dan pemerintahnya) dan Prabowo (juga masih ada).

Kalau harus "buka-bukaan", saya dulu mendukung Prabowo dalam pemilihan presiden lalu. Tentunya saya punya alasan tersendiri mengapa saya mendukung beliau. Namun, ini bukan berarti saya "menikmati" hinaan demi hinaan (atau sebut saja, hal-hal nyinyir) yang dilontarkan terhadap Jokowi hingga saat ini.

Saya pikir, sudah cukuplah semua hal terkait persaingan masa pilpres lalu. Tahun ini benar-benar tahun yang sangat emosional dan melelahkan. Saya kerap bertanya-tanya, apakah orang-orang ini tidak bosan mencari-cari kesalahan orang lain? Mereka seakan sangat gencar mencari-cari celah kesalahan dan memublikasikannya di media-media sosial. Tidak hanya itu, beberapa media juga semakin tidak "waras". Ada media-media yang secara konsisten memberitakan hal-hal positif mengenai kinerja pemerintah, tapi ada juga yang secara konsisten memberitakan kesalahan-kesalahan pemerintah.

Terlalu Melelahkan

Demi Tuhan, semua ini sangat melelahkan. Sejujurnya, saya paling tidak suka dengan orang yang mengeluh, tapi seperti yang baru Anda baca: saya mengeluh. Ya, sebagian orang akan berkata bahwa semua ini adalah bagian dari "pengawasan" terhadap pemerintah yang baru, ini adalah bagian dari kebebasan berekspresi, dan sebagainya.

Ingin rasanya sesekali saya "menggaruk" muka orang yang menjadikan alasan-alasan tersebut sebagai pembenaran untuk menjelek-jelekan pemimpinnya sendiri. Kalau orang-orang ini mengatakan bahwa ini adalah sebagai kritik bagi pemerintah, saya pikir mereka harus bisa membedakan mana yang disebut kritik dan mana yang disebut menjelek-jelekan sebagai akibat (yang katanya) tidak bisa move on.

Bagi sebagian besar pendukung Prabowo, kekalahan Prabowo mungkin dirasa tidak adil. Namun, semua itu sudah melewati proses hukum yang panjang dan Mahkamah Konstitusi sudah "ketok palu" bahwa kemenangan Jokowi-JK sah. Bagi saya pribadi, saya memang merasa Prabowo lebih pantas dalam memimpin negara ini, tapi sudah cukup sampai situ. Setidaknya saya tidak sampai menulis di media-media sosial, seperti, "Bagi saya, Prabowo tetaplah presiden RI." Ya, ada banyak banget orang yang menulis hal-hal semacam ini. Hal-hal seperti ini hanya semakin menyulut api perpecahan.

Faktanya, masyarakat kita memang sudah semakin terpecah belah. Terpecah belah karena sifat ketidakdewasaan antara kedua kubu pendukung. Dalam hal ini, kedua kubu pendukung salah. Di atas, saya sudah memaparkan aksi ketidakdewasaan para pendukung Prabowo. Bagaimana dengan pendukung Jokowi? Sejujurnya menurut saya mereka juga tidak lebih baik. Pendukung Jokowi kerap "mendewakan" pemimpin idolanya ini. Saya juga sering melihat di media-media sosial bahwa apa yang dilakukan Jokowi dianggap sebagai suatu hal yang sangat tepat.

Contoh sederhana adalah terkait kenaikan BBM. Sebagian orang merasa ini sebagai "pengkhianatan" terhadap rakyat, tapi sebagian lainnya menganggap ini kebijakan tepat. Mungkinini hanya asumsi sayasebagian besar yang pro kebijakan kenaikan BBM adalah orang-orang yang mendukung program Jokowi. Padahal, tentunya di antara kalangan pendukung beliau pasti ada saja yang sebenarnya merasa berat dengan kenaikan ini, tapi apa boleh buat? Karena sudah mati-matian mendukung, jadi diikhlaskan saja, daripada nanti dianggap tidak konsisten atau menjilat ludah sendiri.

Masyarakat Harus Lebih Dewasa

Saya pikir, di sini, masyarakat kita harus lebih dewasa. Kalau kita bilang bahwa para anggota dewan di Senayan sana sering berperilaku kekanak-kanakan, tolong instrospeksi diri dulu. Mereka yang bekerja di Senayan itu mewakili kita semua, rakyat Indonesia, yang sifatnya jangan-jangan juga mewakili sifat rakyat Indonesia: kekanak-kanakan.

Sampai kapan kita harus terpecah hanya karena "jagoan" kita tidak menang? Sampai kapan kita harus terpecah hanya karena "jagoan" yang kita anggap luar biasa dan nyaris tiada cacat itu tidak boleh dikritik?

Setiap hari kita membaca dan mendengar di media-media berbagai kritikan yang dilontarkan kepada pemerintah. Baik dari para pakar maupun orang-orang biasa, ya... kita-kita inilah. Sekarang, coba kita pikirkan, apakah mengurus negara semudah membalikkan tangan? Apakah mengurus negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk yang luar biasa besar ini semudah hal-hal yang disarankan para pakar? Kenapa para pakar tidak ada yang jadi presiden? Kalau toh para pakar, atau mungkin kita, merasa punya solusi yang dianggap lebih tepat dalam menyelesaikan masalah demi masalah di Indonesia, kenapa tidak maju mencalonkan diri menjadi presiden? Sebagian mungkin akan bilang: bukan kapasitas saya untuk menjadi presiden. Lantas, hal apakah yang membuat kita memiliki kapasitas untuk terus-terusan mengkritik? Seratus hari saja belum berlalu setelah pelantikan, tapi rasanya semua kritikan ini dilontarkan seolah-olah pemerintah yang baru telah memimpin selama lebih dari tiga tahun.

Saya tentunya bukan orang antikritik apalagi antikebebasan berpendapat. Sama sekali tidak. Namun, saya harap masyarakat bisa lebih dewasa dalam berpendapat dan mengutarakan kritik atau ketidaksukaannya terhadap pemerintah. Dalam pemilu ada yang menang dan kalah. Kita lihat betul di media bagaimana Prabowo dan Jokowi sudah berdamai. Mengapa kita tidak bisa berdamai? Kalau kita memang benar-benar peduli dengan bangsa ini, coba tanyakan, hal bermanfaat apa (selain mengkritik pemerintahjika Anda pikir itu sebagian dari kontribusi untuk membangun bangsa) yang telah Anda lakukan untuk negeri ini?

Negeri ini sangat kritis, janganlah membuatnya lebih parah dengan komentar-komentar tidak cerdas yang hanya menambah perpecahan. Jokowi-JK sudah terpilih secara sah sebagai pemimpin negara ini. Yang memilih mereka juga rakyat Indonesia. Mereka ini mungkin teman kita, saudara kita, keluarga kita, atau orang-orang terdekat di sekitar kita. Kenapa kita harus bertengkar hanya karena beda preferensi soal siapa yang lebih pantas memimpin negeri ini?

Tidak Mudah

Menjadi pemimpin tentunya tidak mudah. Memang, terkadang saya berpikir bahwa enak jadi rakyat, rakyat bisa protes, sementara rakyat tidak pernah tahu bagaimana susahnya membuat suatu kebijakan yang sifatnya win-win solution. Rakyat memang mau yang enak-enak, tanpa peduli bagaimana supaya hidup enak ini terjadi sebenarnya ada orang-orang di pemerintahan sana yang mungkin bekerja tidak kenal waktu demi meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat negara ini.

Rekan-rekan sekalian, memang betul bahwa tingkat kepercayaan kita terhadap pemerintah sangat rendah. Rendahnya tingkat kepercayaan ini tentunya tidak lepas dari apa yang pemerintah-pemerintah terdahulu lakukan terhadap rakyat: memainkan kepercayaan rakyat. Namun, ini juga bukan berarti kita bisa selalu seenaknya mengkritik, seolah-olah tidak ada kepercayaan lagi bagi orang-orang tersebut untuk mengurus negara.

Saya pikir ini semua harus diakhiri. Saya khawatir aktivitas jelek-menjelekkan dan sekaligus "mendewakan" orang ini lama-kelamaan berubah menjadi karakter masyarakat kita. Jadi, jika Anda pendukung setia Prabowo, saya percaya beliau sangat menghargai Anda, tapi tentunya tidak akan suka jika pendukungnya terus-terusnya mencibir Jokowi. Begitu juga dengan para pendukung Jokowi. Percayalah Jokowi itu pasti akan berbuat salah. Pasti. Karena Jokowi itu juga manusia dan sebagai pemimpin, wajar saja ia mendapat kritikan ini-itu karenaseperti yang saya katakan tadimemang sudah menjadi semacam "tugas" harian rakyat untuk protes ini-itu pada pemerintah. Jika Anda berpikir Jokowi berbohong, mungkin Anda harus belajar atau (minimal) baca-baca buku politik.

Jadi, bagi kedua kubu pendukung, silakan berbagi pendapat, tapi tolong berikan "ruang gerak" bagi pemerintah untuk menjalankan program-programnya dengan baik. Silakan diawasi, silakan mengkritik, tapi akan lebih baik jika kritikan itu diiringi dengan aksi nyata yang memang pernah Anda lakukan untuk negeri ini. Atau minimal, berikanlah pula solusi konkret jika toh Anda merasa punya solusi yang lebih baik. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan"?

Marilah kita nyalakan lebih banyak lilin untuk Indonesia.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

24 November 2014

Haruskah BBM Naik?

Sebelum menulis artikel ini, saya sudah mecurahkan unek-unek saya terkait kenaikan BBM. Apa boleh dikata, BBM pun sudah naik. Memang, bagi sebagian (besar) orang, kenaikan ini sangat memberatkan. Bagi saya pribadi, kenaikan BBM memang belum memberatkan, tapi lumayan terasa. Namun demikian, kalau kita bicara soal dampak yang ditimbulkan dari kenaikan BBM, saya pikir semua orang pasti merasakan, mau yang bicara pro kebijakan ini maupun yang jelas-jelas kontra.

Kali ini, saya ingin berbagi wawasan mengenai kenapa BBM harus naik. Saya tidak punya latar belakang ekonomi sama sekali, jadi saya berdiskusi dengan seorang teman yang saya percaya dia sangat paham soal ekonomi. Saya juga senang berdiskusi dengan teman saya ini karena dia bisa bicara dengan "bahasa manusia" dan itu penting. Artinya, dia bisa menjelaskan suatu hal yang kompleks dalam ranah bahasa yang bisa dimengerti orang banyak. Sekarang saya akan mencoba menceritakan kembali wawasan yang saya dapat ini pada Anda sekalian.

Dimulai dari APBN dan APBNP

Kenapa BBM harus naik? Ini dimulai dari kisah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) negara kita. Jadi, anggaplah negara kita ini sebagai sebuah rumah tangga yang memiliki pendapatan dan pengeluaran. Pemerintah kita merumuskan rancangan pendapatan dan pengeluaran ini dalam APBN dan APBNP (jika di pertengahan tahun terjadi perubahan atas anggaran penerimaan dan pengeluaran yang telah dibuat di APBN).

Berapakah APBN Indonesia 2014?

Penerimaan

Penerimaan Pajak
1.110,2 triliun
Kepabeanan dan Cukai
170,2 triliun
Penerimaan Bukan Pajak
385,4 triliun
Hibah
1,4 triliun
Total
1.667,1 triliun
Sumber: Kementerian Keuangan RI

Pengeluaran

Belanja Kementerian Negara/Lembaga
637,8 triliun
Subsidi
333,7 triliun
Pembayaran Bunga Utang
121,3 triliun
Belanja Lainnya
157,1 triliun
Dana Perimbangan
487,9 triliun
Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
104,6 triliun
Total
1842,5 triliun
Sumber: Kementerian Keuangan RI

Dari data di atas ternyata pada APBN 2014, anggaran kita defisit sebesar 175,4 triliun rupiah. Kemudian pada pertengahan tahun, APBN ini direvisi menjadi APBNP 2014 dengan komposisi sebagai berikut:

Penerimaan

Penerimaan Pajak
1.246,1 triliun
Penerimaan Bukan Pajak
386,9 triliun
Hibah
2,3 triliun
Total
1.635,4 triliun
Sumber: Kementerian Keuangan RI

Pengeluaran

Belanja Pemerintah Pusat
1.280,4 triliun
Transfer ke Daerah
596,5 triliun
Total
1.876,9 triliun
Sumber: Kementerian Keuangan RI

Ternyata, setelah direvisi di APBNP, anggaran kita masih tetap defisit, yaitu sebesar 241,5 triliun rupiah. Jumlah ini bahkan lebih besar daripada jumlah defisit pada APBN 2014.

Sekarang pertanyaannya, kenapa harus ada revisi APBN? Pemerintah merevisi APBN karena ada kecenderungan tidak tercapainya penerimaan negara dari pajak. Jadi, ini karena tidak semua wajib pajak membayar pajak. Saya pikir, ini adalah salah satu kesalahan masyarakat kita. Kita menuntut suatu perbaikan, tapi tidak mau ikut berkontribusi atau bahkan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, salah satunya adalah membayar pajak.

Minggu lalu, saya membaca di CNN Indonesia bahwa Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat jumlah wajib pajak di Indonesia saat ini sebanyak 60 juta individu dan lima juta badan usaha. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 23 juta wajib pajak orang pribadi (WPOP) dan 550 ribu badan usaha yang taat membayar pajak. Artinya, ada 38 juta orang yang belum bayar pajak.

Kembali ke soal alasan pemerintah merevisi APBN. Hal berikutnya adalah karena harga minyak dunia yang saat itu naik dan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar.

Sekarang kita bisa melihat bahwa dengan defisit sebesar 241,5 triliun rupiah, bagaimanakan pemerintah menutupi kekurangan tersebut? Ya, dengan berutang. APBN 2014 ini memang merupakan "warisan" pemerintahan SBY. Kita tidak perlu lagi menyalah-nyalahkan Pak A atau Pak B, ini sudah terjadi. Memang, kalau dilihat, pemerintahan SBY sangat boros dalam hal pembelanjaan pemerintah. Belum lagi ditambah rasio utang Indonesia yang cukup tinggi ke negara lain.

Kini estafet pemerintahan telah berganti ke Joko Widodo. Terkait dengan masalah APBN ini, pemerintah Jokowi terlihat mengevaluasi pos-pos apa saja yang membuat kita boros. Ini artinya harus ada yang dikurangi dari pos belanja terbesar di APBN. Ada tiga pos yang menjadi pengeluaran terbesar, yaitu: subsidi (350 triliun), pembayaran utang (230 triliun), dan belanja pegawai (275 triliun).

Didukung Mahasiswa Ekonomi

Kenaikan BBM ini ternyata didukung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM FEUI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universita Padjadjaran (BEM FEB Unpad). Bagi saya, jika mahasiswa jurusan ekonomi sudah bicara soal ini, saya percaya mereka pasti punya argumentasi tersendiri. Berdasarkan kajian yang dilakukan BEM FE UI, pada kenyataannnya selama ini subsidi digunakan oleh lebih dari 70% masyarakat mampu. Artinya, subsidi yang dianggarkan sebesar 350 triliun rupiah dalam APBN tidak tepat sasaran.

Tentunya, hal ini memang sangat disayangkan. Padahal, pemerintah menganggarkan dana yang sangat besar yang sebetulnya ditujukan untuk rakyat kecil. Namun, seperti yang juga saya ceritakan pada artikel sebelumnya bahwa yang "minum" premium memang bukan rakyat kecil, melainkan orang-orang yang memiliki kendaraan bermotor (meskipun sebetulnya rakyat kecil ikut menggunakan jasa angkutan umum, dan angkutan umum menggunakan premium, dan akibat BBM naik, tarif angkutan umum pun ikut naik).

Akhirnya, dengan argumentasi tersebut, timbul ide untuk memangkas besaran subsidi dan mengalihkannya ke pendidikan, infrastruktur, irigasi, bantuan sosial; sesuatu yang memang bisa lebih dirasakan oleh rakyat (kecil). Saat ini, anggaran pendidikan kita hanyalah 100 triliun rupiah, sedangkan untuk bantuan sosial hanya delapan triliun rupiah. Sementara itu, anggaran kesehatan hanya 13 triliun rupiah dan untuk infrastruktur hanya 30 triliun rupiah. Sekarang, jika keempat hal ini digabungkan, jumlahnya hanya 150 triliun rupiah. Ini artinya kira-kira hanya setengah dari anggaran subsidi BBM. Mungkin, bagi mereka yang mengerti soal ini (bukan termasuk saya, karena saya hanya menceritakan ulang apa yang saya dapat), kasarnya, dengan anggaran 350 triliun rupiah untuk subsidi BBM, pemerintah ngasih makan rakyat dengan bensin, sementara pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan sebagainya adalah nomor sekian.

Kenapa Harga Minyak (Kita) Mahal?

Saya termasuk yang bertanya-tanya kenapa harga minyak kita mahal? Mudah saja, ini karena kita sudah bukan lagi negara penghasil minyak. Dulu, iya. Indonesia termasuk negara penghasil dan pengekspor minyak. Namun, sekarang cadangan minyak kita sangat kritis.

Cadangan minyak Indonesia hanya tinggal 3,7 miliar barel, tetapi Indonesia berada di urutan ke-16 negara dengan harga BBM termurah di dunia, bahkan lebih murah daripada negara-negara kaya minyak, seperti Irak dan Kazakhstan.

Saya jadi ingat saat ikut hadir dalam pertemuan antara Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Irman Gusman dan Menteri Perdagangan dan Industri Rusia Denis Manturov dalam pertemuan pascapelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin (20/10), Irman Gusman menyatakan saat ini jumlah impor minyak Indonesia mencapai tidak kurang dari 100 juta dolar AS per hari. Seratus juta dolar per hari itu bukanlah jumlah yang sedikit dan sejujurnya kondisi ini sangat memprihatinkan, tapi itulah kenyataannya.

Hal lain yang juga menyebabkan mahalnya harga minyak kita adalah karena Undang-Undang no 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagai perubahan atas Undang-Undang nomor 8 tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara.

Apa yang salah dalam UU ini? Jadi, dalam pasal 28 ayat 2, disebutkan: “Harga bahan bakar minyak dan gas bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar”. Artinya, rakyat harus membayar minyak yang miliknya sendiri dengan harga yang ditentukan oleh NYMEX di New York. Harga minyak kita mengikuti harga minyak dunia. Padahal, pasal 33 UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa cabang produksi vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Menurut Kwik Kian Gie yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi (1999 - 2000), seharusnya harga BBM tidak boleh ditentukan oleh siapapun juga kecuali oleh hikmah kebijaksanaan yang sesuai dengan kepatutan, daya beli masyarakat dan nilai strategisnya bagi sektor-sektor kehidupan ekonomi lainnya karena BBM termasuk dalam “Barang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak”.

Sebagai contoh, negara-negara seperti Arab Saudi, Venezuela, Iran, dan Qatar menentukan sendiri harga minyaknyatidak mengacu pada harga minyak dunia, selain tentunya cadangan minyak mereka memang masih banyak, atau sebut saja: berlimpah.

Jadi, sebetulnya UU ini harus direvisi, dan inilah salah satu tugas pemerintah. Karena jika UU ini direvisi maka kita bisa menetapkan sendiri harga minyak kita dan bisa membuat harga minyak untuk negara ini lebih murah. Namun, karena belum ada revisi maka langkah pemerintah adalah dengan mengurangi subsidi BBM dan mengalihkannya ke pos-pos lain, seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dsb.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.