22 Februari 2014

Perjalanan Menemukan Passion yang (Mendekati) Sempurna

Ah! Akhirnya saya kembali! Setelah sekian lama menelantarkan blog ini, ya... saya bisa katakan bahwa beberapa bulan ini saya hampir tidak punya waktu untuk menulis. Sangat disayangkan, tapi ya... tuntutan pekerjaan membuat saya hampir tidak punya waktu luang untuk menulis. Bagi saya, weekends sangatlah beharga, untuk beristirahat tentunya. Biasanya saya sebisa mungkin menjauhkan laptop karena kini saya paham betul bahwa hari libur adalah suatu hal yang mahal bagi "orang kantoran".

Anyway, hari ini saya tergerak untuk bercerita soal pekerjaan, ya... pekerjaan saya. Baru-baru ini, saya baru sadar dan tahu betul apa passion saya. Ini agak mencengangkan karena ibaratnya, "selama ini ngapain aja, kok baru sadar sekarang?!" Well, faktanya, memang enggak semudah itu untuk mengetahui passion kita yang sebenarnya. Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin ada dari pembaca sekalian yang juga enggak tahu apa itu passion? Passion itu jelas beda dengan hobi. Kadang saya menemukan orang-orang yang menyamakan kedua hal ini; passion dan hobi. Ini jelas dua hal yang berbeda.

Menurut saya, passion, hmm... sederhananya adalah, passion itu sesuatu yang kalau kita kerjakan, kita merasa hidup, merasa senang, merasa berarti, enggak merasa lelah seberat apa pun itu, dan enggak akan menyerah sesulit apa pun tantangan yang dihadapi. Masih agak abstrak? Well, saya punya satu indikator yang bisa jadi patokan apakah suatu hal merupakan passion kita atau bukan. Kalau sampai di rumahhingga di kasur mau tidurkita masih memikirkan suatu hal, tapi yang kita pikirkan adalah suatu rencana atau strategi, bukan memikirkan karena "duh, besok gimana ya?" atau hal-hal yang mengkhawatirkan kita sehingga enggak bisa tidur; itulah passion. Kalau kita bisa memikirkan suatu rencana jangka panjang atas apa yang akan kita kerjakan tanpa mengenal waktu, itulah passion. Kalau kita selalu merasa excited di setiap pagi untuk mengerjakan pekerjaan kita, itulah passion. Sebenarnya cukup sederhana. Nah, yang sulit adalah menemukan passion yang paling pas.

Sekarang saya akan cerita soal pekerjaan saya dan mana yang passion dan mana yang bukan. Saat ini, saya punya empat pekerjaan. Saya saat ini masih bekerja sebagai account executive di salah satu agensi digital di Jakarta. Ya, ini adalah pekerjaan utama saya. Well, kalau ada yang belum tahu apa itu account executive (AE), hmm... pada dasarnya menjadi AE adalah menjadi penguhubung/jembatan antara perusahaan dan klien, dan jangan salah, ini bukan suatu hal yang mudah (setidaknya yang saya pelajari begitu). Apakah pekerjaan ini passion saya? Sama sekali bukan. Saya hanya merasa "tertantang" untuk mencoba bekerja di industri ini, dan ternyata tidak setiap tantangan untuk diri sendiri itu baik. Ada kalanya kita bisa kewalahan dan justru akhirnya "kalah".

Pekerjaan lainnya, sudah empat tahun ini saya mengajar biola di sebuah sekolah musik di Bekasi. Murid saya tidak pernah mencapai lebih dari empat orang. Kadang kalau lagi "sepi", murid saya hanya ada satu sampai dua orang selama hampir enam bulan. Namun, saya tetap suka mengajar. Apakah ini passion? Bermain biola adalah hobi saya, tapi mengajar adalah passion saya. Jadi, kenapa saya tetap bertahan selama empat tahun ini meskipun murid-muridnya tidak pernah banyak (yang artinya honornya juga ya... sangat kecil)? Ya, karena ini perpaduan antara hobi dan passion, jadi saya enggak pernah mikir soal uang (gaji).

Pekerjaan yang ketiga adalah sebagai pelatih salah satu kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di SMA saya dulu. Lagi-lagi ini soal mengajar, ini adalah passion. Sejak pertengahan 2013 lalu, saya memutuskan untuk "mengambil alih" ekskul Pusat Informasi Data Siswa (PIDAS) di SMAN 81. Saya selalu senang bisa berhubungan dengan anak-anak SMA karena sejak kuliah dulu saya cukup aktif membuat program-program kerja di BEM yang berhubungan dengan dunia SMA. Jadi, ini bisa saya bilang passion-nya double. Enggak peduli gimana tantangan dan ya... kadang super capek dan dibikin pusing sama tingkah anak-anak SMA ini, tapi saya tetap senang "membina" mereka. Melatih PIDAS ini adalah salah satu contoh bahwa ini merupakan salah satu pekerjaan saya yang dilandasi passion. Hampir setiap hari pasti saya memikirkan anak-anak ini, ya... mulai dari strategi untuk membuat mereka lebih kompak hingga program-program kerja yang akan dibuat, dan banyak hal lainnya. Sama seperti mengajar biola, saya juga enggak pernah berharap balasan secara materi di sini karena apa yang saya lakukan memang murni atas dasar passion (ya, pada dasarnya memang saya pun paham tidak bisa berharap banyak dari sekolah, LOL).

Sejauh ini, saya punya saya pekerjaan utama yang saya pilih karena merasa 'tertantang' (dan ternyata itu cukup merepotkan), dua pekerjaan yang berdasarkan passion, tapi tidak bisa mendukung "perekonomian" pribadi.

Akhirnya, saya menemukan suatu pekerjaan yang (saya anggap) super pas. Sejak November 2013, saya resmi bergabung di Russia Beyond the Headlines (RBTH) Indonesia. Apa itu RBTH? Sederhananya, RBTH adalah portal berita online seperti BBC atau VOA, tapi dari Rusia. Media ini memang baru di Indonesia, dan saya sangat senang bisa menjadi bagian dari "lahirnya" media ini, atau bisa dikatakan dari "janinnya". Well, enggak janin banget sih, kalau ibarat bayi dalam kandungan, usia kandungan sudah masuk delapan bulan, di situlah saya bergabung dengan RBTH Indonesia. FYI, saya mengambil program studi jurnalisme sewaktu saya kuliah dulu, tapi saya tidak pernah bercita-cita menjadi wartawan. Namun, saya suka jurnalisme. Tentu ini suatu hal yang membingungkan. Suka jurnalisme, tapi tidak mau bekerja di lapangan. Well, jurnalisme itu luas. Editor adalah bagian dari jurnalisme. Jadi, di RBTH Indonesia, saya dipercaya sebagai web editor dan saya bisa katakan bahwa; that is AWESOME! Kenapa? Karena saya bisa bilang bahwa pekerjaan ini "gue banget". Dan saya sangat ingin menjadi bagian dalam membesarkan media ini di Indonesia. Media ini memang media Rusia, tapi ketika media ini masuk di Indonesia, tentu menjadi sangat logis jika harus ada orang Indonesia yang terlibat dalam proyek ini. Hal apa lagi yang membuat saya yakin bahwa pekerjaan yang satu ini adalah passion saya? Pekerjaan ini memenuhi satu indikator yang saya jelaskan di atas, bahwa hingga sampai di kasur san mau tidur pun saya masih memikirkan mengenai pekerjaan ini; memikirkan strategi/langkah apa saja yang harus saya lakukan agar media ini semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia. This is definitely a passion.

Perjalanan Menemukan Si Passion

Pada dasarnya, tidak ada yang sempurna, kita semua tahu itu. Namun, setidaknya, ada suatu titik di mana kita merasa, "God, this is perfect!" Ada suatu titik di mana kita akan merasa hidup kita (akhirnya) sangat sempurna karena apa yang kita lakukan atau kita kerjakan benar-benar dari hati kita. Namun, memang untuk mencapai titik ini tidak pernah mudah. Tiap orang pasti punya jalannya masing-masing untuk mencapai titik ini. Oh ya, titik ini belum tentu sebagai titik kesuksesan, bisa jadi titik dimulainya jalan menuju kesuksesan. Bagi seorang fresh graduate (bahkan lulusan universitas ternama sekalipun) tidak pernah mudah untuk mencapai titik ini. Namun, satu hal yang saya pelajari, setidaknya (paling cepat), dibutuhkan waktu dua tahun mulai dari kelulusan dan masuk dunia kerja (dunia nyata yang kejam) hingga bisa mencapa titik di mana sesorang bisa berkata, "I love my job, I really do," tanpa beban apa pun.

Sebelum di agensi digital tempat saya resmi bekerja, saya bekerja di salah satu perusahaan penyedia layanan televisi berbayar selama setahun delapan bulan. Saya bekerja di sana sejak seminggu setelah wisuda dan akhirnya memutuskan untuk "move on" sejak Oktober 2013. Februari ini, tepat dua tahun pascakelulusan saya dari universitas, dan ya... saya belajar banyak selama dua tahun ini. Saya belajar bahwa dunia kerja itu memang "kejam". Namun, yang terpenting adalah sangat penting untuk bekerja sesuai dengan passion kita. Masalahnya, bagi seorang fresh graduate pilihan itu nyaris tidak ada, ya... bisa saya katakan sangat tipis. Pilihannya (biasanya) hanya ada dua, kerja sesuai passion, tapi gaji kecil (khususnya untuk beberapa jurusan), atau bukan passion, tapi gaji lumayan. Biasanya, pekerjaan yang sesuai dengan passion kita banget lumayan susah dicari, atau kalau pun ada biasanya banyak saingan. Namun, saya rasa tiap orang punya preferensinya masing-masing soal pilihan ini. Tentunya apa yang saya katakan di sini bukan suatu hal yang mutlak, semuanya tergantung pada (khususnya) skill dan (tentunya) nasib orang yang bersangkutan (yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa). Namun, satu hal, jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan apa yang menjadi passion kita karena di situlah kita akan merasa hidup kita sangat menyenangkan dan berarti. Passion kita adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan karena itu adalah bagian dari mimpi kita.

Jadi, sudah tahu apa passion-mu?

2 komentar :

Saat ini Saya sedang mengisi essai sebagai salah satu prasyarat untuk melakukan proses recruitment menjadi Pengajar Muda XII dari Gerakan Indonesia Mengajar. Sembilan dari sepuluh pertanyaan utama telah selesai dijawab (mostly tentang pengalaman saat menyelesaikan masalah), tapi satu yang belum terjawab justru pertanyaan nomor 1, yaitu tentang motivasi mengapa Saya ingin menjadi Pengajar Muda.

Saya memiliki banyak sekali alasan mengapa ingin menjadi Pengajar Muda, saking banyaknya sampai jadi bingung yang mana yang ingin tulis, ditambah lagi karakter dalam application form-nya sangat terbatas (hanya 250 kata). Sampai akhirnya 10 menit lalu Saya menemukan blog ini, dan kata-kata

"...sederhananya adalah, passion itu sesuatu yang kalau kita kerjakan, kita merasa hidup, merasa senang, merasa berarti, enggak merasa lelah seberat apa pun itu, dan enggak akan menyerah sesulit apa pun tantangan yang dihadapi"

Setelah membaca tulisan ini, Saya tambah ingin mengajar dan membantu para siswa menemukan passionnya sedini mungkin, seperti 17 tahun lalu, ketika seorang guru SD yang sangat Saya hormati mengenalkan profesi-profesi hukum kepada Saya. Selama ini, Saya merasakan sendiri bagaimana bahagianya ketika menyelesaikan perkara-perkara hukum sekalipun harus lembur bahkan menyelesaikan perkara-perkara probono (bebas biaya).

Thank you for writing this article, Mas Fauzan! Semoga tulisan-tulisannya semakin bermanfaat! :D

Halo Medina! Terima kasih untuk komentarnya! Sebetulnya, emang "mendefinisikan" passion itu ngga gampang, kadang kita sendiri bingung apa passion kita. Tapi ya, mungkin secara sederhana begitu... Passion itu sesuatu yang kalau kita kerjakan, kita merasa hidup, merasa senang, merasa berarti, enggak merasa lelah seberat apa pun itu, dan enggak akan menyerah sesulit apa pun tantangan yang dihadapi.

Terus semangat ya! ;)

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.