Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

29 Maret 2014

Stop Membodoh-bodohi Rakyat dengan Survei

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mencium bendera Merah Putih seusai diumumkan sebagai Capres PDI Perjuangan, di Rumah Pitung, Marunda, Jakarta Utara (14/3/2014). Sumber: ANTARA
Seperti biasa, jelang perhelatan demokrasi, survei seakan menjadi instrumen baru. Sebagai instrumen, ia dipaksa hadir melengkapi drama politik. Alasannya tentu saja masuk akal, untuk memetakan kecondongan pilihan para pemilih yang meramaikan momen demokrasi. Atau, ia menjadi alat baca konteks untuk menyiapkan dan memperbaiki strategi. Bahkan, survei bisa menggerus kekuatan kompetitor. Ibarat pisau, manfaat sesungguhnya survei berada di tangan user. Loh, kok?! Memang, metodologi survei adalah metodologi ilmiah, harusnya dia berada dalam koridor ilmiah, bukan by order atau by design. Apa buktinya?

Dalam hal ini, kita tidak harus menjadi terlalu pintar untuk menilai adanya unsur “X” dalam sebuah survei. Kita pun tidak perlu sampai meraih gelar profesor untuk secara nyata mengidentifikasi survei pesanan. Caranya mudah, kita cukup diminta merasakan apakah survei itu membodoh-bodohkan kita?! Membodoh-bodohkan itu artinya kita dianggap tidak tahu. Tidak hanya itu, di tengah anggapan ketidaktahuan kita, survei justru memberitahu kita fakta yang pasti salah secara akal. Konkretnya apa?

Well, beberapa hari belakangan, sebuah lembaga skala nasional melakukan survei terhadap 330 profesor di seluruh kampus di Indonesia. Lembaga bernama Pol-Tracking Institute besutan Hantha Yuda merilis hasil yang mencengangkan. Menurut survei itu Jokowi berada di posisi kedua setelah Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dinilai memiliki visi, kapasitas, dan kapabilitas sebagai Presiden RI. Lalu apa salahnya?

Biar Anda sendiri yang tentukan di mana salahnya. Yang jelas survei ini pasti membuat sebagian dari Anda tertawa. Loh, kok?! Iya, bagaimana mungkin seorang Jokowi bisa berada di posisi kedua dan dianggap memiliki visi dan kapabilitas kebangsaan dan kenegarawanan. Pasalnya, dalam survei itu Jokowi mengungguli tokoh-tokoh nasional yang selama ini telah menjelaskan visinya kepada publik.

Jelasnya begini, apakah Anda percaya Jokowi yang tidak pernah punya latar belakang pertahanan negara dianggap lebih menguasai isu ini ketimbang Wiranto yang merupakan mantan Panglima ABRI dan Menkopolsoskam? Ataukah Anda percaya jika visi dan kapabilitas Mahfud M.D. dalam penegakan hukum dikalahkan oleh Jokowi yang menjawab tidak tahu soal penegakan kasus hukum Century saat ditanya wartawan?

Ataukah Anda percaya kalau Jokowi yang tiap kali ditanya “Copras-Capres” menjawab “ndak mikir” itu punya visi misi konkret seperti Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto yang sudah sejak lama menyampaikan gagasannya kepada publik? Atau kalau ingin disederhanakan, visi dan misi apa yang sudah disampaikan Jokowi terkait ambisinya menjadi Presiden RI? Atau kapabilitas dan intregitas personal apa yang telah ditunjukkan Jokowi sehingga ia dianggap mengalahan skor Mahfud M.D. dan Dahlan Iskan? Mari kita coba ulas.

Soal visi dan misi, nyaris tak pernah sekalipun Jokowi menyampaikan gagasan besarnya saat ia nanti terpilih sebagai presiden. Dulu saat ditanya soal visi misi sebagai capres, ia hanya menjawab “ndak mikir” dan “ndak mikir”. Paling jauh, Jokowi hanya bilang, “jangan saling menjelekkan, lebih baik adu program,” tapi tidak pernah sekalipun ia sebut program apa yang ingin ia adu. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, kok bisa ia disebut memiliki visi misi sebagai capres? Silahkan Anda tepuk jidat!

Soal kapabilitas dan integitas, Jokowi dinilai lebih tinggi dari para tokoh bangsa yang lain. Padahal, fakta nyata di depan mata untuk dua hal ini dia punya kelemahan besar. Bagaimana mungkin Anda mengatakan orang yang belum tuntas melaksanakan tanggung jawab kerja sesuai UU dianggap sukses, sehingga layak berebut jabatan yang lebih tinggi. Anda tak perlu mengernyitkan dahi, ini logika sederhana. Mari simak ilustrasi saya.

Ketika Anda atau kawan Anda menikah, Anda atau siapa pun pasti meyakinkan pasangannya dapat hidup "sakinah mawaddah wa rahmah" (samara) bersama Anda. Cara untuk bisa sampai ke situ, Anda pasti berpikir cara untuk memperoleh kehidupan yang layak, menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga yang mengganjal, punya rumah dan mobil, dan sebagainya. Lalu apa jadinya, kalau baru saja akad nikah, baru saja bulan madu, baru saja orat-oret rencana yang dilakukan, Anda langsung menceraikan istri Anda dan membiarkan dia terbuai dalam mimpi dan janji-janji. Apakah Anda akan dianggap sebagai pria yang memiliki kapabilitas dan integritas sebagai kepala rumah tangga?

Begitu pula dengan Jokowi. Apakah Anda yakin bahwa ia punya kapabilitas dan integritas di atas Mahfud M.D. yang menyelesaikan tugas konstitusionalnya di Mahkamah Konstitusi? Apakah Anda percaya orang yang tidak amanah itu punya kapabilitas dan integritas yang layak sebagai pemimpin nasional? Saya memilih menjawab tidak.

Kembali ke soal survei, mengapa 330 profesor alias guru besar itu memilih Jokowi sebagai capres dengan skor kedua tertinggi di antara tokoh nasional lain? Ada dua kemungkinan. Pertama, para guru besar ini lupa mengenai makna obyektif dan subyektif. Sebagai seorang ilmuwan, harusnya mereka menilai seseorang berdasarkan kerangka keilmuan yang bisa ia pertanggungjawabkan. Kalau seorang guru besar memilih berdasarkan subyektifitas, atau karena "suka" atau "tidak suka", like and dislike, lalu apa bedanya para profesor dengan sopir angkot? Jika ini yang terjadi, tampaknya tugas pemerintahan ke depan lebih berat, yaitu melahirkan para guru besar yang obyektif terhadap keilmuannya.

Atau kemungkinan kedua, survei itu sengaja untuk membodoh-bodohi masyarakat dan menggiring opini publik untuk memilih capres semata berdasar popularitas. Atau bahasa lugasnya, survei ini adalah survei pesanan untuk mempoles Jokowi yang sekedar mengandalkan popularitas itu. Kalau ini yang terjadi, lembaga survei bekerja untuk pihak ketiga kita cuma bisa berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan survei yang menyesatkan.” Amin.

   Add Friend

03 Maret 2014

Frozen: The Power of Family


SPOILER ALERT: This article discusses Disney’s Frozen in detail, including the film’s ending. Stop reading if you haven’t seen the movie yet!

Bagi kamu para pecinta film Disney, tentu sudah tidak asing lagi dengan dua sosok di atas. Ya, mereka adalah dua bersaudara putri negeri Arendell, Putri Elsa dan Putri Anna, yang menjadi tokoh utama dalam film animasi Disney, yang pada ajang Piala Oscar beberapa minggu lalu berhasil mendapatkan dua penghargaan. Frozen, film animasi Disney karya sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck, memenangkan kategori film animasi terbaik (Best Animated Feature) dan soundtrack film terbaik (Best Original Song) dalam ajang penghargaan Academy Awards ke-86 tahun 2014. Film ini mengalahkan beberapa film terkenal lainnya di tahun 2013, seperti film ini telah mengalahkan The Croods, Despicable Me 2, Ernest & Celestine, dan The Wind Rises. Tidak hanya itu, Frozen berhasil mencetak rekor sejak debutnya di box office dengan mendapatkan Golden Globe Awards, BAFTA Awards, Critics' Choice Award, dan Annie Awards. Tidak heran, Frozen berhasil mencatat rekor sebagai film Disney paling laris sepanjang masa setelah The Lion King.

Film yang diangkat dari salah satu dongeng terpopuler Hans Christian Andersen, "The Snow Queen", menceritakan mengenai Anna dan Elsa, dua orang kakak beradik dari negeri Arendelle. Ketika Elsa secara tidak sengaja mengeluarkan kekuatannya setelah berdebat dengan adiknya yang tiba-tiba ingin menikah dengan seseorang yang baru saja ia kenal. Elsa tidak bisa mengendalikan emosinya dan Arendelle pun seketika dilanda musim dingin abadi. Karena perasaan yang bercampur aduk, Elsa melarikan diri pada malam penobatannya sebagai ratu. Anna yang merasa bersalah memutuskan untuk mencari kakaknya untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka serta menyelamatkan Arendelle.


Gebrakan dalam dunia film animasi Disney

Apa yang sebenarnya membuat Frozen mendapatkan perhatian yang luar biasa dari para penikmat film di dunia? Bagi saya pribadi, Frozen adalah sebuah gebrakan baru dalam dunia film animasi Disney. Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan tipikal film Disney yang menceritakan kisah happy ending dalam setiap filmya. Biasanya, kisah happy ending itu merupakan kisah romantis antara si tokoh utama yang akhinrya menemukan cinta sejatinya. Dalam film-film Disney, akhirnya kita mengenal kumpulan tokoh-tokoh yang dikenal sebagai Disneys's princesses. Mulai dari Cinderella, Aurora, Ariel, Jasmine, hingga yang terbaru adalah Merida dalam film Brave. Film-film animasi Disney yang berhubungan dengan para "princess" kerap memiliki kisah yang serupa, yaitu kebahagiaan terletak pada cinta sejati (true love), dan cinta sejati itu kerap ditampilkan (dan didefiniskan) sebagai cinta pada pandangan pertama.
Dari kiri ke kanan: Jasmine, Rapunzel, Snow White, Mulan, Aurora, Cinderella, Pocahontas, Tiana, Belle, Ariel, dan Merida.

Sebagaimana di film-film yang menampilkan Disney's princesses lainnya, pada awalnya Frozen juga menyajikan jalan cerita yang serupa. Pada hari penobatan kakaknya, Elsa, sebagai ratu, Anna tidak sengaja bertemu seorang pangeran dari negeri lain. Pangeran yang diketahui sebagai Pangeran Hans dari Southern Isles secara tidak sengaja menabrak Anna hingga jatuh ke dalam perahu dan hampir tercebur ke laut. Si pangeran yang terkejut kemudian membantu Anna dan keduanya terdiam dan saling bertatapan selama beberapa saat. Ini adalah adegan yang lazim dalam berbagai film, ketika dua orang (laki-laki dan perempuan) tiba-tiba "terjebak" dalam ketertarikan satu sama lain secara tiba-tiba. Singkat cerita, Anna dan Hans merasa bahwa mereka adalah pasangan yang serasi dan menganggap bahwa mereka telah bertemu cinta sejatinya.

Namun, ada yang berbeda di sini. Biasanya Disney menampilkan adegan bertemunya si tokoh utama dengan cinta sejatinya sebagai penutup film. Sementara itu, Frozen membuat "cinta sejati" ini sebagai awal dari konflik dalam film. Anna dan Hans menemui Elsa yang baru dinobatkan sebagai seorang ratu untuk meminta restu agar mereka dapat menikah. Elsa menolak.
Elsa: You can't marry a man you just met.

Anna: You can if it's true love.

Elsa: Anna, what do you know about true love?
Itu hal pertama. Kemudian, ketika Elsa melarikan diri dari Arendelle, Anna segera pergi mencarinya. Dalam perjalanannya mencari Elsa, Anna bertemu Kristoff dan rusanya. Singkat cerita, Anna meminta bantuan Kristoff untuk mengantarnya ke North Mountain. Di dalam perjalanannya bersama Kristoff, Anna bercerita mengenai apa yang terjadi dengan dirinya dan kakaknya. Anna bercerita bahwa semuanya bermula ketika dia dan Hans ingin meminta restu kakaknya untuk menikah. Bagaimana respon Kristoff? Sama dengan Elsa.
Hang on, you mean to tell me you got engaged to someone you just met that day? —Kristoff
Frozen menegaskan bahwa kita tidak bisa begitu saja jatuh cinta pada pandangan pertama dan kemudian memutuskan untuk menikah. Film ini berani mengkritik film-film terdahulu Disney bahwa adalah sebuah kesalahan besar (dan tidak logis) untuk menyerahkan kehidupan seseorang dengan orang lain dalam ikatan pernikahan, sementara keduanya baru bertemu dan merasa saling jatuh cinta dan keduanya belum mengenal satu sama lain.

Frozen benar-benar mengubah kisah cinta pada pandangan pertama menjadi sebuah kesalahan yang disesalkan. Ketika Anna yang merasa langsung jatuh cinta dengan Hans, menerima lamarannya tanpa pertanyaan dan kemudian menemukan bahwa sang pangeran mempunyai motif tersembunyi.

Cinta sejati tidak selalu soal hubungan laki-laki dan perempuan

Only true love can thaw a frozen heart. —Pabbie
Seriously, ketika Pabbie mengatakan bahwa hanya cinta sejati yang dapat mencairkan hati yang membeku, ditambah dengan para troll yang kemudian menginterpretasikannya sebagai ciuman cinta sejati, saya langsung menebak bahwa pada akhirnya Anna akan membeku (menjadi korban, seperti Snow White atau Aurora), dan si pangeran akan memberikan ciuman "cinta sejati" untuk menyembuhkannya. Namun, ternyata saya salah. Apa yang terjadi justru di luar dugaan dan itulah yang mebuat film ini begitu luar biasa.

Anna diantar kembali ke kastil oleh Kristoff untuk menemui Hans agar ia dapat diselamatkan (tidak membeku). Dengan harapan Hans adalah cinta sejati yang diyakini oleh Anna, ternyata Hans justru mengkhianatinya dan menjelaskan bahwa ia memiliki motif di balik semua hal yang ia lakukan. Anna begitu sedih dan kecewa. Di saat itu Olaf, si orang-orangan salju, datang. Dialog bersama Olaf "membuka" mata Anna bahwa ia salah mengenai makna cinta sejati.
Anna: I was wrong about it. It wasn’t true love after all. I don’t even know what true love is.

Olaf: I do. That’s when you put someone else’s needs before your own. You know, like when Kristoff brought you back here and left you forever.
Kata-kata Olaf menyadarkan Anna bahwa Kristofflah cinta sejatinya. Apa yang dilakukan Kristoff terhadapnya menunjukkan bahwa Kristoff mencintainya dengan tulus. Dari sini, kemudian saya berpikir bahwa, oke, Anna akan mencari Kristoff, dan sebaliknya. Kemungkinan besar pada akhirnya Kristoff akan menyelamatkan Anna dengan menciumnya dan dia kemudian tidak jadi membeku dan mereka bisa mencari Elsa.

Well, lagi-lagi film ini memberikan kejutan lain. Di tengah danau yang membeku dan badai salju, Anna yang hampir putus asa meneriakkan nama Kristoff dengan harapan bisa segera bertemu dengannya. Di lain sisi, Kristoff juga mencari-cari Anna. Dalam adegan ini, emosi penonton dibawa ketika waktu terus berjalan dan Anna semakin tidak tertolong, sementara itu, kakaknya, Elsa, merasa sangat terpukul karena Hans mengatakan bahwa adiknya telah mati karena sihir Elsa. Di puncak konflik, kabut salju menghilang dan Anna yang semakin sekarat nyaris membeku akhirnya dapat melihat Kristoff dari kejauhan. Namun, kemudian ia pun melihat Hans menghunuskan pedangnya untuk membunuh kakaknya dari belakang. Di tengah kebimbangan, Anna ternyata pergi menjauh dari Kristoff untuk melindungi kakaknya. Anna pun datang di saat yang tepat, tetapi ia berubah menjadi es.



Sesungguhnya, ini merupakan suatu klimaks yang sangat tidak terduga. Anna akhirnya berubah menjadi es demi melindungi kakaknya yang hampir dibunuh. Elsa yang terkejut melihat adiknya (yang dia pikir sebelumnya telah meninggal) berubah menjadi es langsung memeluk erat adiknya. Namun, tidak berapa lama kemudian, keajaiban muncul dan Anna hidup kembali. Disney menekankan dua hal penting di sini. Pertama, cinta itu tulus dan tidak egois. Kedua, cinta kepada saudara kandung juga merupakan bentuk cinta sejati.
Elsa: You sacrificed yourself for me?

Anna: I love you
Melalui film ini, Disney ingin menekankan bahwa sebuah tindakan cinta sejati bisa mencairkan hati yang membeku. Kita dapat mengatakan bahwa "hati yang membeku" merupakan sebuah metafora yang dipilih Disney untuk menggambarkan hati seseorang yang begitu keras, tanpa cinta dan kasih sayang. Namun, Disney percaya, dan melalui film ini, menyampaikan pesan yang begitu dalam bahwa hanya dengan cinta yang tulus ikhlaslah kita dapat melunakkan hati seseorang. Sebagai catatan, cinta yang tulus ini haruslah dibuktikan dengan tindakan dan pengorbanan yang ikhlas pula, bukan sekedar "ciuman sejati".

Putri juga manusia


Tidak seperti kebanyakan tokoh Disney's princesses, Putri Anna digambarkan dengan cukup "manusiawi". Anna adalah sosok putri yang canggung, lucu, terkadang tidak yakin, naif, tapi pada saat yang sama juga merupakan sosok yang dicintai, pengertian, dan setia. Dia tidak memiliki postur tubuh yang sempurna maupun sikap yang terbaik, tapi menurut saya hal itulah yang membuatnya begitu "nyata". Anak-anak seharusnya tidak hanya "dijejali" dengan sosok wanita yang sempurna bak Barbie, tapi mereka harus belajar bahwa ada sesuatu yang unik karena dari ketidaksempurnaan, dan itu adalah sesuatu yang sangat manusiawi

Let it go



Selain tampilan visual, karakter yang kuat dan alur cerita yang menarik, kesuksesan film ini tidak lepas dari unsur musiknya yang begitu kuat, bahkan, menurut saya aspek musik dari film ini memberikan kontribusi untuk sebagian besar dari keberhasilan Frozen. Ya, film ini semakin lengkap dengan lagu-lagu yang sangat mendukung dan sangat "ear catchy".

Salah satu soundtrack film ini, Let It Go, yang dinyanyikan oleh pengisi suara Elsa, Idina Menzel (yang juga tampil membawakan lagu ini pada malam penghargaan Oscar), memenangkan kategori Best Orginal Song dalam ajang penghargaan Academy Awards. Lagu ini begitu populer hingga di YouTube ada begitu banyak versi lagu yang dinyanyikan kembali oleh para YouTubers. Mulai dari nyanyian hingga unjuk kebolehan dalam memainkan berbagai instrumen musik, seperti biola (oleh Jun Sung Ahn), gitar (oleh Sungha-Jung), piano, cello, dan bahkan lagu ini aransemen ulang dalam berbagai macam genre, seperti musik metal misalnya yang dibuat oleh Eric Caldrone atau dicampur dengan musik klasik seperti yang dilakukan The Piano Guys. Namun, yang paling mendapatkan banyak atensi adalah hasil kolaborasi Alex Boyé dengan One Voice Children's Choir, yang menggabungkan nuansa musik etnis Afrika dengan paduan suara anak-anak yang sangat indah. Secara umum, lagu-lagu di Frozen cukup bagus, bahkan album Frozen menempati peringkat pertama di tangga lagu Billboard.

Frozen tidak mengisahkan cerita romantis sebagaimana film-film animasi Disney pada umumnya. Dari awal, hubungan Elsa dan Anna sebagai saudara kandung menjadi jantung dari kisah ini, sebagaimana yang bisa kita lihat ketika Elsa menunjukkan kemampuan supranaturalnya saat masih kecil dan secara tidak sengaja menyakiti adiknya. Kedua kakak beradik yang sebelumnya sangat dekat harus terpisah karena sang kakak tidak ingin menyakiti adiknya lagi, sementara sang adik tidak mengetahui (karena ingatannya mengenai kekuatan Elsa telah dihapus) mengapa kakaknya tidak pernah mau bertemu dengan dirinya lagi.

Film ini memang sangat pantas untuk ditonton seluruh keluarga. Ada begitu banyak pesan positif yang terkandung dalam film ini. Kita pun bahkan bisa belajar banyak dari sosok Olaf si manusia salju. Dalam adegan ketika Olaf begitu ingin merasakan musim panas (kita tahu bahwa salju hanya ada di musim dingin), Disney memberikan pesan kepada pada penonton agar kita tidak hanya membatasi dunia kita ke mana kita anggap bisa ikuti. Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru—tentunya selama hal itu positif.
Winter's a good time to stay in and cuddle but put me in summer and I'll be a... happy snowman! —Olaf
Secara keseluruhan, ya, saya kira film animasi arahan sutradara Chris Buck dan Jennifer Lee ini sangat pantas dinobatkan sebagai film Disney paling laris sepanjang masa setelah The Lion King. Kisah romantis benar-benar hanya menjadi satu dari sekian banyak aksesoris yang bisa digunakan untuk mengangkat arti cinta sejati yang tulus dari film ini. Apresiasi yang luar biasa untuk Frozen.

   Add Friend