29 Maret 2014

Stop Membodoh-bodohi Rakyat dengan Survei

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mencium bendera Merah Putih seusai diumumkan sebagai Capres PDI Perjuangan, di Rumah Pitung, Marunda, Jakarta Utara (14/3/2014). Sumber: ANTARA
Seperti biasa, jelang perhelatan demokrasi, survei seakan menjadi instrumen baru. Sebagai instrumen, ia dipaksa hadir melengkapi drama politik. Alasannya tentu saja masuk akal, untuk memetakan kecondongan pilihan para pemilih yang meramaikan momen demokrasi. Atau, ia menjadi alat baca konteks untuk menyiapkan dan memperbaiki strategi. Bahkan, survei bisa menggerus kekuatan kompetitor. Ibarat pisau, manfaat sesungguhnya survei berada di tangan user. Loh, kok?! Memang, metodologi survei adalah metodologi ilmiah, harusnya dia berada dalam koridor ilmiah, bukan by order atau by design. Apa buktinya?

Dalam hal ini, kita tidak harus menjadi terlalu pintar untuk menilai adanya unsur “X” dalam sebuah survei. Kita pun tidak perlu sampai meraih gelar profesor untuk secara nyata mengidentifikasi survei pesanan. Caranya mudah, kita cukup diminta merasakan apakah survei itu membodoh-bodohkan kita?! Membodoh-bodohkan itu artinya kita dianggap tidak tahu. Tidak hanya itu, di tengah anggapan ketidaktahuan kita, survei justru memberitahu kita fakta yang pasti salah secara akal. Konkretnya apa?

Well, beberapa hari belakangan, sebuah lembaga skala nasional melakukan survei terhadap 330 profesor di seluruh kampus di Indonesia. Lembaga bernama Pol-Tracking Institute besutan Hantha Yuda merilis hasil yang mencengangkan. Menurut survei itu Jokowi berada di posisi kedua setelah Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dinilai memiliki visi, kapasitas, dan kapabilitas sebagai Presiden RI. Lalu apa salahnya?

Biar Anda sendiri yang tentukan di mana salahnya. Yang jelas survei ini pasti membuat sebagian dari Anda tertawa. Loh, kok?! Iya, bagaimana mungkin seorang Jokowi bisa berada di posisi kedua dan dianggap memiliki visi dan kapabilitas kebangsaan dan kenegarawanan. Pasalnya, dalam survei itu Jokowi mengungguli tokoh-tokoh nasional yang selama ini telah menjelaskan visinya kepada publik.

Jelasnya begini, apakah Anda percaya Jokowi yang tidak pernah punya latar belakang pertahanan negara dianggap lebih menguasai isu ini ketimbang Wiranto yang merupakan mantan Panglima ABRI dan Menkopolsoskam? Ataukah Anda percaya jika visi dan kapabilitas Mahfud M.D. dalam penegakan hukum dikalahkan oleh Jokowi yang menjawab tidak tahu soal penegakan kasus hukum Century saat ditanya wartawan?

Ataukah Anda percaya kalau Jokowi yang tiap kali ditanya “Copras-Capres” menjawab “ndak mikir” itu punya visi misi konkret seperti Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto yang sudah sejak lama menyampaikan gagasannya kepada publik? Atau kalau ingin disederhanakan, visi dan misi apa yang sudah disampaikan Jokowi terkait ambisinya menjadi Presiden RI? Atau kapabilitas dan intregitas personal apa yang telah ditunjukkan Jokowi sehingga ia dianggap mengalahan skor Mahfud M.D. dan Dahlan Iskan? Mari kita coba ulas.

Soal visi dan misi, nyaris tak pernah sekalipun Jokowi menyampaikan gagasan besarnya saat ia nanti terpilih sebagai presiden. Dulu saat ditanya soal visi misi sebagai capres, ia hanya menjawab “ndak mikir” dan “ndak mikir”. Paling jauh, Jokowi hanya bilang, “jangan saling menjelekkan, lebih baik adu program,” tapi tidak pernah sekalipun ia sebut program apa yang ingin ia adu. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, kok bisa ia disebut memiliki visi misi sebagai capres? Silahkan Anda tepuk jidat!

Soal kapabilitas dan integitas, Jokowi dinilai lebih tinggi dari para tokoh bangsa yang lain. Padahal, fakta nyata di depan mata untuk dua hal ini dia punya kelemahan besar. Bagaimana mungkin Anda mengatakan orang yang belum tuntas melaksanakan tanggung jawab kerja sesuai UU dianggap sukses, sehingga layak berebut jabatan yang lebih tinggi. Anda tak perlu mengernyitkan dahi, ini logika sederhana. Mari simak ilustrasi saya.

Ketika Anda atau kawan Anda menikah, Anda atau siapa pun pasti meyakinkan pasangannya dapat hidup "sakinah mawaddah wa rahmah" (samara) bersama Anda. Cara untuk bisa sampai ke situ, Anda pasti berpikir cara untuk memperoleh kehidupan yang layak, menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga yang mengganjal, punya rumah dan mobil, dan sebagainya. Lalu apa jadinya, kalau baru saja akad nikah, baru saja bulan madu, baru saja orat-oret rencana yang dilakukan, Anda langsung menceraikan istri Anda dan membiarkan dia terbuai dalam mimpi dan janji-janji. Apakah Anda akan dianggap sebagai pria yang memiliki kapabilitas dan integritas sebagai kepala rumah tangga?

Begitu pula dengan Jokowi. Apakah Anda yakin bahwa ia punya kapabilitas dan integritas di atas Mahfud M.D. yang menyelesaikan tugas konstitusionalnya di Mahkamah Konstitusi? Apakah Anda percaya orang yang tidak amanah itu punya kapabilitas dan integritas yang layak sebagai pemimpin nasional? Saya memilih menjawab tidak.

Kembali ke soal survei, mengapa 330 profesor alias guru besar itu memilih Jokowi sebagai capres dengan skor kedua tertinggi di antara tokoh nasional lain? Ada dua kemungkinan. Pertama, para guru besar ini lupa mengenai makna obyektif dan subyektif. Sebagai seorang ilmuwan, harusnya mereka menilai seseorang berdasarkan kerangka keilmuan yang bisa ia pertanggungjawabkan. Kalau seorang guru besar memilih berdasarkan subyektifitas, atau karena "suka" atau "tidak suka", like and dislike, lalu apa bedanya para profesor dengan sopir angkot? Jika ini yang terjadi, tampaknya tugas pemerintahan ke depan lebih berat, yaitu melahirkan para guru besar yang obyektif terhadap keilmuannya.

Atau kemungkinan kedua, survei itu sengaja untuk membodoh-bodohi masyarakat dan menggiring opini publik untuk memilih capres semata berdasar popularitas. Atau bahasa lugasnya, survei ini adalah survei pesanan untuk mempoles Jokowi yang sekedar mengandalkan popularitas itu. Kalau ini yang terjadi, lembaga survei bekerja untuk pihak ketiga kita cuma bisa berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan survei yang menyesatkan.” Amin.

   Add Friend

3 komentar :

Secara garis besar gw setuju Zan ma lo..survey yg lg marak skrg ga jelas apa indikator dan point2nya..like a magic, tiba2 keluar hasilny dan diumumkanlah ke publik hasilny..si A prtama lah, si B kedua lah dst dst
Disini gw melihat survey yg ada skrg cenderung berupa penggiringan opini publik thd calon trtentu..walaupun gw ga memungkiri fakta bhwa sblm survey keluar bnyk masyarakat yg simpati & dukung Jokowi
Terlepas dr obrolan kt di FB, yg lo blg bhwa Jokowi ga punya karisma..dia sejujurny memiliki satu sifat yg membuatny menjadi media + public daring, yakni merakyat.
Sifat inilah yg diinginkan masyarakat skrg, krn udh lama ga ada pemimpin yg punya sifat itu..tp ya jelas memang sperti dlm tulisan lo msh dipertanyakan sejauh apa kualitas Jokowi dlm memimpin sebuah negara yg bsr ini.
Dlm hal kinerja, dia bgs ko pas mimpin Solo. Sbg org yg sering mudik ke Solo krn nyokap asli sana gw lihat tuh perubahan Solo di tgn dia..tp sayangny pas di JKT gw blm lht bnyk memang perubahan yg dia buat, krn memang br 1 tahun lbh lah dia mnjabat
Sbg warga DKI jujur gw jg agak kecewa krn dia mw mundur dan maju sbg capres..akn lbh baik klo dia maju thn 2019 aja..buktikan dlu kinerjany membenahi DKI smpe 2019
Klo itu brhasil dia lakukan dan sukses, niscaya Jokowi ga akan ada lawanny di Pemilu 2019

Artikel senada banyak Saya temukan di jagad maya, ada kesamaan pola dalam tulisannya, termasuk dengan tulisan ini. Sebagai seorang blogger, rasanya bermain-main kata untuk membuat tulisan "serupa tapi tak sama" bukanlah hal sulit.

Ada kecurigaan dalam diri Saya bahwa semua ini adalah settingan. Satu pertanyaan, kenapa semuanya menyerang Jokowi? Semuanya kompak, seolah-olah ada yang menyetir.

Semoga saya salah, sepertinya artikel ini dan juga artikel serupa lainnya adalah hal yang sudah disetting, jangan2 yang menyebarkannya dapat bayaran. Entahlah.....

nada artikel ini mirip dengan kisahnya spidol bekas....:p http://spidolbekas.wordpress.com/2014/04/01/spidolbekas-ogah-ikut-black-campaign/#comments

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.