Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

12 April 2014

Surat Terbuka untuk Luthfi, Juan, Aziz, Sasa, dan May

Malam ini, saya merasa perlu menulis sesuatu untuk beberapa anak berseragam putih abu-abu di SMA 81 Jakarta sana yang akan menempuh Ujian Nasional hari Senin besok. Jadi, tulisan saya kali ini saya dedikasikan khusus untuk teman-teman saya, yang biasa saya panggil "anak-anak PPB". Apa itu PPB dan siapa saja anak-anak ini?

Program Pemuda Berprestasi

Ini adalah program rintisan dari seorang alumnus SMAN 81 Jakarta angkatan (lulus) 2006, Tubagus Farih Mufti, atau ya... sebut saja Tebe. Pada dasarnya program ini adalah semacam social youth responsibility. Program ini didesain untuk mencetak penerus-penerus bangsa yang berwawasan luas (kecerdasan intelektual) yang diiringi dengan iman dan takwa. Kira-kira konsep besarnya begitu. Bagaimana caranya? Program ini karena dicetuskan oleh alumnus SMAN 81 maka diterapkan pertama kali di sekolah ini dengan memberikan beasiswa kepada beberapa orang siswa yang: (1) secara akademis berpotensi, (2) membutuhkan bantuan finansial, dan/atau (3) bisa gabungan keduanya. Beasiswa untuk para peserta sepenuhnya berasal dari bantuan para alumni. Memang selama perjalanan tidak pernah mudah, tapi saya selalu salut dengan niat luhur dan semangat para pengurus, khususnya Tebe, yang sangat luar biasa untuk terus menjalankan program ini, setidaknya sampai kami anggap selesai (pada akhirnya).

Program ini pertama kali berjalan mulai tahun 2011. Di angkatan pertama terpilih sembilan orang peserta. Mereka adalah Luthfi, Juan, Aziz, Hari, Durra, Sasa, Zizi, May, dan Sella. Seiring berjalannya waktu, kami (pengurus) harus mengevalusi performance setiap peserta karena biar bagaimanapun mereka diberi beasiswa di sini. Dari sembilan orang hingga akhirnya kini tersisa lima orang saja yang hari Senin nanti akan melaksanakan "ibadah" Ujian Nasional demi menutup dan melengkapi masa-masa SMA-nya.

Bergabung dengan Pengurus

Sejujurnya, saya ikut dari awal kepengurusan. Program ini dirintis oleh (kalau tidak salah) Tebe, Risma, dan Irvanu. Pada awalnya saya hanya diminta menjadi pengajar Bahasa Inggris dalam kegiatan bimbingan belajar (bimbel) rutin mereka. Tentunya, karena saya termasuk hobi mengajar, saya terima. Apalagi mengajar di almamater sendiri, rasanya akan sangat menyenangkan, plus saya selalu suka berhubungan dengan anak-anak SMA (karena selama di kampus dulu berbagai program kerja yang saya urus selalu berhubungan dengan anak SMA).

Setelah mengajar selama lebih kurang tiga bulan, saya diminta Tebe untuk menggantikan posisi Irvanu yang saat itu berperan sebagai manajer program. Saat itu saya juga masih kuliah, masih "nge-BEM", masih pacaran (jadi ceritanya ada banyak yang diurus). Awalnya agak ragu untuk menerima permintaan dari Tebe, tapi akhirnya toh saya terima juga.

Setelah itu, saya jadi bagian dari pengurus, dan sepertinya anak-anak ini mulai mendapatkan mimpi buruk dengan hadirnya saya sebagai bagian dari pengurus, bukan cuma pengajar. Ya, saya akui kadang saya "agak" kejam dengan memberi berbagai macam tugas kepada mereka. Saya terapkan sistem deadline karena memang di kampus saya berkutat dengan deadline, hahaha! Saya berikan berbagai macam tugas menulis karena pada dasarnya saya suka menulis, hahaha! Tapi, tentunya ada hal lain di balik itu semua. Saya mau mereka pintar menulis karena menurut saya semua orang hebat di dunia ini bisa menulis. Bukan menulis secara harfiah, tapi menuliskan ide atau gagasan. Untuk apa orang hebat kalau tidak bisa menyampaikan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis? Ide merdekanya negeri ini juga dimulai dari berbagai tulisan-tulisan para pemuda di masa lampau. Jadi, menulis itu penting.

Deadline, ya, itu juga penting. Karena orang Indonesia kerap tidak tepat waktu, saya tidak mau mereka jadi orang Indonesia yang seperti itu. Saya mau mereka belajar menghargai waktu. Dan dalam memberikan tugas, saya selalu berikan target minimal kata yang harus mereka tulis, yaitu 800 kata. Namun, lebih dari itu, bagi saya yang paling penting adalah niat mereka untuk mengerjakan dan tepat waktu. Masalah isi, itu masalah belakangan. Namun, ketika mereka bisa mengerjakan dengan tepat waktu, artinya mereka belajar bertanggung jawab. Saya tidak pernah minta mereka untuk mengerjakan tugas untuk menghargai saya, tapi dengan mereka mengerjakan segalanya tepat waktu, artinya mereka menghargai diri mereka sendiri dan mereka telah belajar bersikap dewasa. Ya, menjadi dewasa itu kan pilihan.

Tantangan dan Hambatan

Anak-anak PPB ini jelas anak-anak pilihan, tapi "mengurus" mereka tetap menjadi tantangan. Pada dasarnya, berhadapan dengan anak SMA memang tidak pernah mudah. Berhadapan dengan orang yang 5-6 tahun lebih muda mungkin bisa lebih mudah jika mereka sama-sama dewasa. Namun, jika berhadapan dengan mereka yang 5-6 tahun lebih muda dan masih berseragam sekolah, itu beda kasus.

Apa yang saya lakukan? Saya berusaha menerapkan segala "ilmu" dan pengalaman saya selama mengurus staf-staf saya di BEM. Saya orang yang tidak percaya senioritas, tapi saya percaya pada menghargai dan menghormati orang lain. Semua staf saya di BEM sangat boleh ngecengin saya separah apa pun, karena itu artinya kita bisa jadi teman yang baik. Namun, ketika saatnya "bekerja" kita saling profesional, kita tahu posisi masing-masing. Begitulah yang saya terapkan di PPB. Saya tidak pernah memosisikan diri saya sebagai "kakak" mereka atau orang yang lebih tua (walau kenyataannya begitu), dan saya tidak pernah menganggap mereka "junior-junior" saya; mereka teman-teman saya semua. Saya bisa ngecengin mereka dan mereka sangat boleh ngecengin balik tanpa perlu takut saya akan marah. Kenapa? Karena itulah cara saya berinteraksi dengan mereka agar tidak ada "dinding" pembatas. Namun, ketika saatnya serius, tentu harus serius. Yang jelas, saya percaya bahwa kita bisa belajar dari siapa pun, bahkan dari yang muda sekalipun. Saya sendiri banyak belajar dari mereka, dan di situlah mengapa saya tidak perlu menjadi orang yang merasa lebih senior dan lebih banyak tahu dari mereka. Beda zaman, beda pengalaman. Saya hanya (kebetulan) lebih dulu lahir beberapa tahun dari mereka.

Namun demikian, yang namanya tantangan tetap ada. Tantangan komunikasi menjadi salah satu tantangan utama. Ya, ini sebenarnya tantangan hampir di setiap organisasi, bahkan ketika saya di BEM, ini juga terjadi. Bukan karena saya dulu mahasiswa Komunikasi lantas menganggap komunikasi sangat krusial, tapi memang pada kenyataannya komunikasi itu memang segitu pentingnya. Rencana yang sudah matang bisa berantakan di hari-H hanya karena salah komunikasi, dan itu bisa jadi sangat fatal. Begitu juga di PPB, kadang kala komunikasi menjadi satu masalah yang bikin gregetan. Masalah ini tidak hanya dari pengurus ke peserta, tapi juga dari pengurus ke pihak sekolah. Ya... sama-sama bikin greretan.

Bagaimana tantangan dengan sekolah? Ya, ini juga tidak pernah mudah. Saya tidak katakan bahwa sekolah mempersulit, tapi mungkin "lupa", ya... lupanya setiap minggu. Karena Risma sedang S2, Irvanu sedang S2, Tebe sedang S2, semua S2 (hanya saya yang tidak ber-S2), jadi sayalah yang harus mengurus program bimbel mereka setiap minggu yang itu artinya harus berurusan dengan perizinan dengan pihak sekolah, dan kadang memang cukup menarik urat. Tapi ya... saya anggap itulah "seninya".

Pengalaman Baru

Dengan bergabungnya saya di pengurus, saya punya "kuasa" lebih untuk melibatkan anak-anak ini dalam berbagai macam kegiatan. Saya mau mereka punya masa-masa SMA yang tidak biasa. Saya merasa masa-masa SMA saya tidak biasa (artinya luar biasa) dan itu sangat berkesan. Saya juga mau setidaknya anak-anak ini punya kesempatan untuk merasakan atau punya pengalaman yang tidak terlupakan selama SMA.

Pekerjaan saya setiap minggu adalah memutar otak untuk tema-tema tulisan apa yang bisa jadi bahan mereka untuk tugas menulis. Saya selalu berpikir materi apa yang bisa saya berikan saat mengajar, atau mungkin ada proyek menarik apa yang bisa saya berikan? Tercetuslah proyek Kompas Muda dan Wikipedia. Kalau Kompas Muda, itu karena dulu saya juga pernah ikut Kompas Muda dan sampai saat ini masih berkesan bisa menulis di koran terbesar di negeri ini. Kalau Wikipedia, itu sebenarnya tugas saya saat semester III atau IV di kuliah dulu, hahaha, tapi ini sangat penting. Lalu mereka juga ada proyek School of Volunteer (SOV), dan saya sangat bangga mereka bisa ikut serta dalam program ini. Kita tidak perlu bicara soal hasil akhirnya, tapi dengan mereka mau mencoba hal baru yang positif, itu sudah sangat patut diapresiasi.

Selama di PPB, saya beberapa kali membawa teman bule saya ke sekolah supaya mereka berani bicara dengan bahasa Inggris. Saya mungkin sudah jadi orang yang paling cerewet di PPB. Rasa-rasanya tiada minggu tanpa SMS "sayang" (berisi ocehan, reminder, tugas baru, dsb.) yang masuk ke kotak masuk pesan ponsel mereka.

Di Kelas XI

Ketika mereka naik kelas XI, saya sangat senang bahwa empat peserta laki-laki PPB (Luthfi, Juan, Aziz, dan Hari) ikut serta dalam pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS (Pemilos) di sekolah, dan hasilnya sangat luar biasa! Ya, bahkan mereka berhasil mengalahkan rekor keketatan perolehan suara antara saya dan rival saya dulu pada Pemilos 2006. Ini sangat bagus! Jadi, setelah enam tahun rekor itu tidak tergoyahkan, ternyata anka-anak ini yang akhirnya mengalahkannya, dan saya sangat senang karena setidaknya saya tidak bisa sombong lagi, hahaha! Dan Sasa, masuk di badan legislatif, MPK. Sementara Durra dan May masuk di Paskibra. Dan saya sangat senang mereka berani mengambil kesempatan untuk berorganisasi di kelas XI (mengingat saya sama sekali tidak pernah berorganisasi selama masa SMA), hehehe.

Di kelas XI, saya rasa saya semakin gemar memberikan tugas kepada mereka, tapi kabar baiknya, mereka semakin baik. Tulisan-tulisan mereka bahkan semakin bagus, mereka jadi lebih aware dengan tugas dan deadline-nya, dan saya tahu mereka berusaha keras untuk bisa menulis hingga 800 kata atau bahkan lebih. Dan saya selalu bangga sama segala usaha keras mereka.

Akhirnya...

Tahun lalu, Durra yang berada di kelas Aksel telah lebih dulu "meninggalkan" teman-temannya. Durra diterima di Fakultas Teknik di UI. Tentu ini bukan karena kami, tapi itu karena Durra memang hebat, karena dia memang pintar, dan kami selalu percaya dia pasti bisa. Tahun ini, giliran Luthfi, Juan, Aziz, Sasa, dan May yang akan mengikuti jejak Durra.

Untuk Luthfi, Juan, Aziz, Sasa, dan May, inilah akhirnya kalian sudah berada di penghujung tahun kalian berseragam. Saya tidak akan bicara banyak soal UN karena saya percaya itu sudah jadi "makanan" kalian, dan pasti bisa kalian "habiskan" dengan baik. Saya percaya kalian adalah orang-orang yang akan membawa negeri ini pada perubahan nantinya. Saya akan selalu ingat cita-cita kalian (ada yang mau jadi presiden, ya... saya juga ingat), dan saya doakan semoga cita-cita kalian tercapai semua. Di luar sana, di dunia kuliah, semuanya berbeda dengan dunia sekolah. Kalian akan temukan lebih banyak hal-hal menarik yang bisa kalian pelajari di sana. Dan ingat, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja, karena orang biasa sudah terlalu banyak, apalagi di Indonesia. Kalian terlahir untuk jadi luar biasa, dan di PPB kalian luar biasa. Saya selalu bangga dengan kalian. Di mana pun kalian nanti, jangan pernah hilang kontak satu sama lain. Maaf saya dan yang lain tidak sempat memberikan "adik" buat kalian di PPB. Mungkin suatu hari nanti kalian punya ide yang lebih baik untuk program ini dan mungkin kalian akan melanjutkan program ini lebih hebat nantinya.

Luthfi, tidak semua orang baik di luar sana. Tidak semua apa yang terlihat baik itu baik. Harus lebih jeli dan lihatlah dari berbagai sisi. Juan, ada kalanya kita harus tegas, ada kalanya kita harus fleksibel. Tapi menjadi fleksibel itu bukan berarti kita tidak punya pendirian. Perjuangkan apa yang menurut kamu benar, tapi jangan menutup diri untuk menerima pendapat orang lain. Aziz, tidak semua hal bisa dibuat mudah (khususnya di Indonesia) dan tidak semua orang di luar sana bisa mempermudah dan "memudahkan". Belajar lebih sistematis, lebih rapi, dan fokus dengan prioritas. May, lebih terbuka, lebih membuka diri, harus bisa lebih aktif nanti di kuliah. Sasa, kayakanya semua sudah dibahas di LINE, intinya, tetap berpikir kreatif, think out of the box, kalau kita mau sesuatu, perjuangkan itu dengan sungguh-sungguh, pasti bisa.

Ya, that's all guys. Terima kasih untuk tiga tahun ini. Mohon maaf atas segala kesalahan dan berbagai "SMS bombing" selama ini (pulsa saya memang lumayan ada banyak). Terima kasih sudah jadi teman-teman yang baik. Jangan sungkan untuk menyapa, kapan pun. PPB bangga dengan kalian, saya pribadi lebih bangga sama kalian. Mudah-mudahan kalian semua diterima di PTN dan jurusan yang kalian cita-citakan. Selamat menempuh Ujian Nasional, semoga berhasil! Saya percaya kalian semua pasti bisa.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid

03 April 2014

Seputar Isu Jokowi: Dari "Pencitraan" Hingga Calon Presiden

Bicara soal Jokowi, sepertinya memang tidak ada habisnya. Ya... apalagi ketika masa pemilu hanya tinggal beberapa hari lagi. Kini, Jokowi semakin menjadi pusat perhatian publik. Pro-kontra keputusan Jokowi yang menerima mandat dari Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum Partai Demokrasi Indonsia Perjuangan (PDI-P) untuk menjadi calon presiden dari partai berlogo banteng tersebut menuai banyak opini. Banyak orang yang sangat menyambut keputusan yang diambil Jokowi ini, tapi tentu tidak sedikit pula yang sangat tidak suka, dan ya... memprotes.

Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk berbagi pemikiran dengan Anda, para pembaca, mengenai isu pencapresan Jokowi ini. Setelah membaca, mungkin Anda setuju, mungkin juga tidak, dan itu tidak masalah. Namun, yang terpenting adalah kita (semoga) bisa lebih bijak dalam menanggapi isu ini.

Awal Mula

Oke, pertama, kenapa Jokowi begitu diidolakan? Jokowi menjadi idola "semua umat". Masyarakat suka dengan Jokowi, media suka dengan Jokowi, partainya (apalagi) suka dengan Jokowi, everybody loves this man. Kenapa? Saya berusaha melihat dari kacamata bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang memang pada kenyataannya dekat dengan rakyat, sederhana, dan tidak eksklusif. Kehadiran Jokowi menjadi suatu "gebrakan" di panggung politik Indonesia karena selama ini kebanyakan politisi atau pejabat di republik ini hanya bicara soal dekat dengan rakyat, bicara (atau mengimbau) untuk tetap sederhana (nyatanya korupsi), dan sangat eksklusif. Namun, ketika Jokowi mulai ter-expose media, orang-orang jadi kenal Jokowi dan segala hal mengenai beliau. Media, dalam hal ini, berhasil membuat citra yang positif bagi Jokowi. Apakah Jokowi orang baik? Ya, tentu saja. Dari mana kita tahu? Apakah kita pernah mengenal Jokowi secara personal? Tidak. Lalu dari mana? Dari media. Jadi, Jokowi adalah "orang baik" itu semua karena media bilang begitu dan kita percaya dengan media.

Apakah semua orang teterpa media? Tentunya tidak semua karena buktinya ada juga yang tidak suka dengan Jokowi. Siapa? Ya... politisi yang "takut" tersaingi oleh kepopularitasan beliau (yang sebenarnya dibentuk oleh media). Para politisi ini saya rasa (jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam) sadar betul bahwa apa yang dilakukan Jokowi adalah hal yang baik, tapi sudah jadi sifat mereka untuk menegasikan segala hal yang dilakukan lawan-lawan politik mereka. Di satu sisi, media merasa punya kewajiban untuk melaksanakan prinsi "cover both sides" dalam setiap pemberitaan mereka. Orang-orang ini tentunya menjadi "makanan" media untuk melengkapi prinsip cover both sides tadi. Orang-orang ini kemudian mengatakan ke media bahwa Jokowi popular karena pencitraan. Media mengabarkan ini ke publik, dan tentunya karena seseorang tidak bisa dicintai sepenuhnya oleh semua orang, beberapa orang yang sudah punya mindset bahwa Jokowi bukan "orang suci" menyambut ucapan para politisi tadi dan mereka percaya bahwa Jokowi lahir dari proses pencitraan.

Apakah Jokowi Benar-benar Melakukan Pencitraan?

Untuk menjawab ini, kita setidaknya harus paham apa itu makna pencitraan? Pencitraan adalah suatu upaya pembentukan opini publik sesuai dengan harapan pihak yang melakukan pencitraan tersebut. Pencitraan bisa dilakukan secara eksplisit maupun implisit. Biasanya yang melakukan pencitraan adalah orang bersangkutan yang ingin punya citra tertentu di mata publik. Namun, ini tentu bisa dibantu dengan dukungan orang lain dan juga media tentunya.

Kemudian, siapa yang butuh pencitraan? Kita semua butuh pencitraan. Pencitraan (menurut saya) diperlukan oleh semua orang dan (pasti) dilakukan oleh semua orang. Yang berbeda-beda dari tiap orang mengenai konsep “pencitraan” ini adalah tujuan atau motivasi di balik pencitraan itu sendiri. Ada yang memang tidak sadar kalau seseorang sedang melakukan pencitraan, tapi ada pula yang memang secara sadar melakukan pencitraan karena ada tujuan tertentu (dan tidak harus selalu politis).

Kenapa masalah pencitraan ini penting? Sederhananya, kalau kita mengacu pada teori Looking Glass Self (agak akademis sedikit ya), ternyata bagaimana kita bersikap itu merupakan hasil dari interaksi dan persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita tumbuh menurut apa yang orang lain—khususnya orang-orang terdekat, orang-orang kepercayaan kita—persepsikan mengenai diri kita. Kita mencitrakan diri kita kepada orang lain (akibat interaksi kita dengan orang lain) karena kita berasumsi bahwa orang lain akan menyukai kita yang seperti itu. Lebih jelasnya kira-kira seperti ini:
  1. seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain;
  2. seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan tersebut;
  3. seseorang membangun konsepsi tentang dirinya berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya itu.
Nah, kaitannya antara “pencitraan” dengan teori ini adalah bahwa pada poin-poin di atas, kita memang (pasti) akan mencitrakan diri kita sebagaimana yang kita pikir orang lain ingin melihat kita seperti itu, atau sebagaimana yang kita pikir bahwa orang lain melihat kita seperti itu. Misalnya, seorang mahasiswa perlu melakukan pencitraan kepada dosen-dosennya atau karyawan kepada atasanya. Dan perlu kita ingat juga bahwa pencitraan itu bukan “menjilat”—dua hal yang berbeda walaupun kadang agak beda-beda. Jadi, ini hal yang penting dan pasti kita lakukan, hanya saja kadang kita tidak sadar.

Kembali ke pertanyaan, apakah Jokowi melakukan pencitraan? Ya, jelas. Biar bagaimanapun Jokowi pasti punya misi untuk mencitrakan dirinya agar telihat menjadi sosok yang ideal di mata publik. Apakah ini salah? Sebagaimana yang saya jelaskan di atas, ini sah-sah saja selama memang niat dari pencitraan itu sejalan dengan aksi yang dilakukan.

Pertanyaan berikutnya, apakah Jokowi lahir dari proses pencitraan? Ya, jelas. Sebenarnya, semua orang yang ingin terekspos media butuh strategi pencitraan agar bisa "dilirik" media. Sialnya, bagi politisi yang lain, mereka mungkin kurang beruntung sehingga mereka kurang terekspos oleh media sehingga pencitraannya kurang berhasil. Apa yang dilakukan Jokowi hingga dilirik media tentulah suatu hal yang unik, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pejabat atau politis lain sebelumnya sehingga Jokowi berhasil merebut hati para awak media untuk terus menerus mengekspos dirinya. Akhirnya, Jokowi memang tidak perlu berupaya keras mencitrakan dirinya karena media sudah melakukan itu semua untuk dia. Jadi, salah siapa?

Pro-Kontra Pencapresan Jokowi

Bicara soal ada banyak masyarakat Jakarta yang "sakit hati" karena Jokowi menerima mandat dari sang "Ibu" untuk jadi capres, tentu sebagian orang di luar Jakarta mungkin akan berpikir bahwa masyarakat Jakarta ini lucu. Kita semua tahu Jokowi "direbut" dari Solo oleh orang Jakarta. Semua orang Jakarta tahu betul bahwa saat itu Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo. Orang Jakarta menganggap Jokowi adalah sosok yang ideal untuk memimpin ibukota karena gubernur sebelumnya dinilai tidak berkontribusi banyak terhadap Jakarta. Selain itu, karena Jakarta dianggap sebagai miniatur Indonesia maka membenahi Jakarta sedikit-banyak berarti membenahi Indonesia. Lalu, apa bedanya dengan Jokowi yang sekarang diminta jadi presiden? Mungkin ada banyak orang di luar Jakarta, dari Sabang sampai Merauke, yang merasa bahwa yang butuh orang (pemimpin) baik bukan hanya Jakarta, tapi Indonesia. Jadi, orang Jakarta harus ingat bahwa dulu Jokowi diambil dari Solo untuk kepentingan Jakarta, dan sebenarnya seluruh bangsa ini berhak mendapatkan sosok pemimpin yang baik (yang mungkin itu ada pada sosok Jokowi) dan inilah saatnya. Ya, hal ini tentu diaminkan oleh PDI-P.

Lalu, apakah "perginya" Jokowi dari Solo menuju Jakarta sama dengan "akan perginya" (kalau terpilih) dari Jakarta menuju Istana Presiden?  Ada perbedaannya, tapi silakan Anda yang menilai. Jadi, saat di Solo, Jokowi memang belum menyelesaikan masa jabatanya sebagai walikota, tapi saat itu adalah periode kedua Jokowi menjabat sebagai walikota yang sisa masa jabatannya hanya tinggal 1,5 tahun lagi. Namun, kini saat Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, satu periode kepemimpinan belum berlalu, belum genap 1.000 hari, dan beliau mejadi calon presiden yang akan meninggalkan jabatanya sebagai Gubernur DKI begitu saja. Ini memang bukan keputusan yang bijak karena dengan begitu Jokowi seolah menganggap jenjang kepemimpinan nasional seperti ‘mainan’ yang bisa diraih dan ditinggal kapan saja.

Pencapresan Jokowi menjadi semakin pro-kontra karena seperti biasa, semua orang yang berkampanye bicara soal janji. Meskipun tidak dipungkiri bahwa ada banyak hal yang berubah di Jakarta sejak kepemimpinan beliau, tapi tidak sedikit pula utang janjinya pada masyarakat Jakarta. Saat menjadi calon gubernur dulu, Jokowi berjanji akan menuntaskan banjir, Jokowi akan membangun monorail, soal kemacetan, dan sebagainya. Bagaimana mungkin janji itu bisa dia laksanakan kalau Jokowi hanya sekedar "numpang" lewat jadi gubernur. Keputusan Jokowi ini membuat banyak orang khawatir bahwa proyek-proyek besar seperti monorail akan sama saja dengan periode Foke yang membangun sampai tiangnya saja.

Selain itu, Jokowi juga dianggap telah menyakiti hati masyarakat Betawi. Dulu Jokowi pernah berjanji kepada Ridwan Saidi (tokoh masyarakat Betawi Jakarta) bahwa jika terpilih menjadi gubernur, dia akan membangun pusat kebudayaan Betawi. Nyatanya, sampai sekarang belum terwujud.

Sebenarnya bukan hanya di Jakarta Jokowi dianggap tidak sanggup menuntaskan janji-janjinya. Masih ingat kisah mobil ESEMKA? Dulu Jokowi menjanjikan akan memproduksi massal mobil tersebut, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun mobil ESEMKA yang beredar. Dan seketika saja mobil ESEMKA tersebut hilang dari peredaran pemberitaan seiring dengan Jokowi menjadi Gubernur DKI. Bayangkan betapa kecewanya para pelajar SMK dan Pak Sukiat (guru bengkel sekolah SMK) yang telah merancang mobil tersebut, dan melambungkan nama Jokowi yang dengan prototipe mobil rakitan anak SMK tersebut.

Hal berikutnya adalah terkait "terciumnya" aroma korupsi di beberapa proyek Pemprov DKI Jakarta, seperti bus Transjakarta yang berkarat dan stadion BMW, seolah menunjukan kualitas kepemimpinan Jokowi di DKI Jakarta yang tidak gantleman. Mestinya Jokowi mengklarifikasi terlebih dahulu kasus-kasus yang melibatkan anak buahnya tersebut, bukan meninggalkanya begitu saja, dan berlalu dengan menjadi capres.

Kemudian, apa yang dilakukan Jokowi ini sedikit-banyak akan membuat masyarakat terutama para pemuda menjadi apatis terhadap politik. Karena untuk kesekian kalinya mereka dibuat kecewa oleh pemimpin yang sebelumnya sempat ‘digadang-gadang’ akan memberikan perubahan, pemimpin yang akan menjalankan amanah, tapi nyatanya Jokowi sama saja dengan "produk" yang lain. Namun, tentunya ini harus dikaji kembali karena mungkin yang "sakit hati" cuma masrakat di Jakarta, sedangkan Jakarta hanyalah satu dari puluhan provinsi lainnya yang ada di negeri ini. Bisa jadi, mereka yang di daerah mendukung. Apakah ada yang memberitakannya? Saya kurang mendengar karena memang media kita sangat Jakarta-sentris.

Peran PDI-P dalam Pencalonan Jokowi

PDI-P seharusnya memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, dengan ‘tidak mengganggu’ amanah Jokowi menuntaskan kepemimpinanya sebagai gubernur. Karena jika PDI-P terus memaksakan Jokowi untuk menjadi capresnya maka terlihat jelas bahwa sesungguhnya PDI-P bukanlah partai "wong cilik", melainkan partai yang ambisius dengan ‘mengumpan’ Jokowi sebagai capres sekaligus berharap efek kepopularitasan Jokowi akan meningkatkan perolehan suara PDI-P di pemilu 9 April nanti. Jelas, ini yang salah. PDI-P seharusnya membiarkan Jokowi bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh menuntaskan janji-janjinya di DKI. Jokowi tentunya akan tetap hebat  meski tidak jadi presiden, asalkan dia mampu menuntaskan tugas dan janjinya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Saya pribadi (meskipun bukan warga ber-KTP Jakarta) lebih suka Jokowi menuntaskan pekerjaannya terlebih dahulu di Jakarta. Saya rasa momennya tidak tepat bagi Jokowi untuk menjadi presiden di tahun 2014. Terlebih lagi, saya merasa bahwa peran partai di belakang Jokowi sangat besar dan ini sangat dikhawatirkan Jokowi (kalau) menjadi presiden dengan mudah bisa disetir, karena semuanya "apa kata Ibu".

Pada dasarnya, Jokowi memang banyak penggemarnya, tapi tidak salah kalau warga Jakarta "posesif" karena emang sebenarnya Jokowi ini punya orang Jakarta. Wajar kalau orang-orang (Jakarta) banyak yang tidak mau "kehilangan" beliau. Bukan cuma karena beliau punya status sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi beliau itu... Jokowi.

Jokowi dan Elektabilitas

Pada September 2013, kata peneliti Pusat Data Bersatu (PDB) Agus Herta Sumarto, elektabilitas Jokowi sebesar 36 persen. Sebulan kemudian naik menjadi 37,6 persen. Namun, pada bulan November, elektabilitas Jokowi turun menjadi 33,5 persen. Pada Januari 2014, elektabilitas Jokowi turun cukup jauh ke angka 28 persen. Sementara pada Februari 2014, elektabilitas Jokowi kembali naik menjadi 31,4 persen. Namun, pada bulan Maret kembali turun ke angka 29,8 persen.

Jadi, elektabilitas juga bisa berfluktuasi, naik turun, macam harga beras atau cabai di pasar. Namun, perlahan tapi pasti, masyarakat Indonesia harus cerdas dalam berpolitik, menentukan pilihan. Walau ini memang bukan soal mudah.

Sebagai penutup, saya percaya Pak Jokowi itu orang baik dan tidak mungkin lupa dengan janji-janjinya karena toh selama ini kita melihat betul kinerjanya. Tapi... manusia punya sifat lupa dan "melupakan". Dan yang "melupakan" itu menjadi sifatnya politisi. Ya, semoga saya salah.

   Add Friend