03 April 2014

Seputar Isu Jokowi: Dari "Pencitraan" Hingga Calon Presiden

Bicara soal Jokowi, sepertinya memang tidak ada habisnya. Ya... apalagi ketika masa pemilu hanya tinggal beberapa hari lagi. Kini, Jokowi semakin menjadi pusat perhatian publik. Pro-kontra keputusan Jokowi yang menerima mandat dari Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum Partai Demokrasi Indonsia Perjuangan (PDI-P) untuk menjadi calon presiden dari partai berlogo banteng tersebut menuai banyak opini. Banyak orang yang sangat menyambut keputusan yang diambil Jokowi ini, tapi tentu tidak sedikit pula yang sangat tidak suka, dan ya... memprotes.

Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk berbagi pemikiran dengan Anda, para pembaca, mengenai isu pencapresan Jokowi ini. Setelah membaca, mungkin Anda setuju, mungkin juga tidak, dan itu tidak masalah. Namun, yang terpenting adalah kita (semoga) bisa lebih bijak dalam menanggapi isu ini.

Awal Mula

Oke, pertama, kenapa Jokowi begitu diidolakan? Jokowi menjadi idola "semua umat". Masyarakat suka dengan Jokowi, media suka dengan Jokowi, partainya (apalagi) suka dengan Jokowi, everybody loves this man. Kenapa? Saya berusaha melihat dari kacamata bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang memang pada kenyataannya dekat dengan rakyat, sederhana, dan tidak eksklusif. Kehadiran Jokowi menjadi suatu "gebrakan" di panggung politik Indonesia karena selama ini kebanyakan politisi atau pejabat di republik ini hanya bicara soal dekat dengan rakyat, bicara (atau mengimbau) untuk tetap sederhana (nyatanya korupsi), dan sangat eksklusif. Namun, ketika Jokowi mulai ter-expose media, orang-orang jadi kenal Jokowi dan segala hal mengenai beliau. Media, dalam hal ini, berhasil membuat citra yang positif bagi Jokowi. Apakah Jokowi orang baik? Ya, tentu saja. Dari mana kita tahu? Apakah kita pernah mengenal Jokowi secara personal? Tidak. Lalu dari mana? Dari media. Jadi, Jokowi adalah "orang baik" itu semua karena media bilang begitu dan kita percaya dengan media.

Apakah semua orang teterpa media? Tentunya tidak semua karena buktinya ada juga yang tidak suka dengan Jokowi. Siapa? Ya... politisi yang "takut" tersaingi oleh kepopularitasan beliau (yang sebenarnya dibentuk oleh media). Para politisi ini saya rasa (jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam) sadar betul bahwa apa yang dilakukan Jokowi adalah hal yang baik, tapi sudah jadi sifat mereka untuk menegasikan segala hal yang dilakukan lawan-lawan politik mereka. Di satu sisi, media merasa punya kewajiban untuk melaksanakan prinsi "cover both sides" dalam setiap pemberitaan mereka. Orang-orang ini tentunya menjadi "makanan" media untuk melengkapi prinsip cover both sides tadi. Orang-orang ini kemudian mengatakan ke media bahwa Jokowi popular karena pencitraan. Media mengabarkan ini ke publik, dan tentunya karena seseorang tidak bisa dicintai sepenuhnya oleh semua orang, beberapa orang yang sudah punya mindset bahwa Jokowi bukan "orang suci" menyambut ucapan para politisi tadi dan mereka percaya bahwa Jokowi lahir dari proses pencitraan.

Apakah Jokowi Benar-benar Melakukan Pencitraan?

Untuk menjawab ini, kita setidaknya harus paham apa itu makna pencitraan? Pencitraan adalah suatu upaya pembentukan opini publik sesuai dengan harapan pihak yang melakukan pencitraan tersebut. Pencitraan bisa dilakukan secara eksplisit maupun implisit. Biasanya yang melakukan pencitraan adalah orang bersangkutan yang ingin punya citra tertentu di mata publik. Namun, ini tentu bisa dibantu dengan dukungan orang lain dan juga media tentunya.

Kemudian, siapa yang butuh pencitraan? Kita semua butuh pencitraan. Pencitraan (menurut saya) diperlukan oleh semua orang dan (pasti) dilakukan oleh semua orang. Yang berbeda-beda dari tiap orang mengenai konsep “pencitraan” ini adalah tujuan atau motivasi di balik pencitraan itu sendiri. Ada yang memang tidak sadar kalau seseorang sedang melakukan pencitraan, tapi ada pula yang memang secara sadar melakukan pencitraan karena ada tujuan tertentu (dan tidak harus selalu politis).

Kenapa masalah pencitraan ini penting? Sederhananya, kalau kita mengacu pada teori Looking Glass Self (agak akademis sedikit ya), ternyata bagaimana kita bersikap itu merupakan hasil dari interaksi dan persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita tumbuh menurut apa yang orang lain—khususnya orang-orang terdekat, orang-orang kepercayaan kita—persepsikan mengenai diri kita. Kita mencitrakan diri kita kepada orang lain (akibat interaksi kita dengan orang lain) karena kita berasumsi bahwa orang lain akan menyukai kita yang seperti itu. Lebih jelasnya kira-kira seperti ini:
  1. seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain;
  2. seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan tersebut;
  3. seseorang membangun konsepsi tentang dirinya berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya itu.
Nah, kaitannya antara “pencitraan” dengan teori ini adalah bahwa pada poin-poin di atas, kita memang (pasti) akan mencitrakan diri kita sebagaimana yang kita pikir orang lain ingin melihat kita seperti itu, atau sebagaimana yang kita pikir bahwa orang lain melihat kita seperti itu. Misalnya, seorang mahasiswa perlu melakukan pencitraan kepada dosen-dosennya atau karyawan kepada atasanya. Dan perlu kita ingat juga bahwa pencitraan itu bukan “menjilat”—dua hal yang berbeda walaupun kadang agak beda-beda. Jadi, ini hal yang penting dan pasti kita lakukan, hanya saja kadang kita tidak sadar.

Kembali ke pertanyaan, apakah Jokowi melakukan pencitraan? Ya, jelas. Biar bagaimanapun Jokowi pasti punya misi untuk mencitrakan dirinya agar telihat menjadi sosok yang ideal di mata publik. Apakah ini salah? Sebagaimana yang saya jelaskan di atas, ini sah-sah saja selama memang niat dari pencitraan itu sejalan dengan aksi yang dilakukan.

Pertanyaan berikutnya, apakah Jokowi lahir dari proses pencitraan? Ya, jelas. Sebenarnya, semua orang yang ingin terekspos media butuh strategi pencitraan agar bisa "dilirik" media. Sialnya, bagi politisi yang lain, mereka mungkin kurang beruntung sehingga mereka kurang terekspos oleh media sehingga pencitraannya kurang berhasil. Apa yang dilakukan Jokowi hingga dilirik media tentulah suatu hal yang unik, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pejabat atau politis lain sebelumnya sehingga Jokowi berhasil merebut hati para awak media untuk terus menerus mengekspos dirinya. Akhirnya, Jokowi memang tidak perlu berupaya keras mencitrakan dirinya karena media sudah melakukan itu semua untuk dia. Jadi, salah siapa?

Pro-Kontra Pencapresan Jokowi

Bicara soal ada banyak masyarakat Jakarta yang "sakit hati" karena Jokowi menerima mandat dari sang "Ibu" untuk jadi capres, tentu sebagian orang di luar Jakarta mungkin akan berpikir bahwa masyarakat Jakarta ini lucu. Kita semua tahu Jokowi "direbut" dari Solo oleh orang Jakarta. Semua orang Jakarta tahu betul bahwa saat itu Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo. Orang Jakarta menganggap Jokowi adalah sosok yang ideal untuk memimpin ibukota karena gubernur sebelumnya dinilai tidak berkontribusi banyak terhadap Jakarta. Selain itu, karena Jakarta dianggap sebagai miniatur Indonesia maka membenahi Jakarta sedikit-banyak berarti membenahi Indonesia. Lalu, apa bedanya dengan Jokowi yang sekarang diminta jadi presiden? Mungkin ada banyak orang di luar Jakarta, dari Sabang sampai Merauke, yang merasa bahwa yang butuh orang (pemimpin) baik bukan hanya Jakarta, tapi Indonesia. Jadi, orang Jakarta harus ingat bahwa dulu Jokowi diambil dari Solo untuk kepentingan Jakarta, dan sebenarnya seluruh bangsa ini berhak mendapatkan sosok pemimpin yang baik (yang mungkin itu ada pada sosok Jokowi) dan inilah saatnya. Ya, hal ini tentu diaminkan oleh PDI-P.

Lalu, apakah "perginya" Jokowi dari Solo menuju Jakarta sama dengan "akan perginya" (kalau terpilih) dari Jakarta menuju Istana Presiden?  Ada perbedaannya, tapi silakan Anda yang menilai. Jadi, saat di Solo, Jokowi memang belum menyelesaikan masa jabatanya sebagai walikota, tapi saat itu adalah periode kedua Jokowi menjabat sebagai walikota yang sisa masa jabatannya hanya tinggal 1,5 tahun lagi. Namun, kini saat Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, satu periode kepemimpinan belum berlalu, belum genap 1.000 hari, dan beliau mejadi calon presiden yang akan meninggalkan jabatanya sebagai Gubernur DKI begitu saja. Ini memang bukan keputusan yang bijak karena dengan begitu Jokowi seolah menganggap jenjang kepemimpinan nasional seperti ‘mainan’ yang bisa diraih dan ditinggal kapan saja.

Pencapresan Jokowi menjadi semakin pro-kontra karena seperti biasa, semua orang yang berkampanye bicara soal janji. Meskipun tidak dipungkiri bahwa ada banyak hal yang berubah di Jakarta sejak kepemimpinan beliau, tapi tidak sedikit pula utang janjinya pada masyarakat Jakarta. Saat menjadi calon gubernur dulu, Jokowi berjanji akan menuntaskan banjir, Jokowi akan membangun monorail, soal kemacetan, dan sebagainya. Bagaimana mungkin janji itu bisa dia laksanakan kalau Jokowi hanya sekedar "numpang" lewat jadi gubernur. Keputusan Jokowi ini membuat banyak orang khawatir bahwa proyek-proyek besar seperti monorail akan sama saja dengan periode Foke yang membangun sampai tiangnya saja.

Selain itu, Jokowi juga dianggap telah menyakiti hati masyarakat Betawi. Dulu Jokowi pernah berjanji kepada Ridwan Saidi (tokoh masyarakat Betawi Jakarta) bahwa jika terpilih menjadi gubernur, dia akan membangun pusat kebudayaan Betawi. Nyatanya, sampai sekarang belum terwujud.

Sebenarnya bukan hanya di Jakarta Jokowi dianggap tidak sanggup menuntaskan janji-janjinya. Masih ingat kisah mobil ESEMKA? Dulu Jokowi menjanjikan akan memproduksi massal mobil tersebut, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun mobil ESEMKA yang beredar. Dan seketika saja mobil ESEMKA tersebut hilang dari peredaran pemberitaan seiring dengan Jokowi menjadi Gubernur DKI. Bayangkan betapa kecewanya para pelajar SMK dan Pak Sukiat (guru bengkel sekolah SMK) yang telah merancang mobil tersebut, dan melambungkan nama Jokowi yang dengan prototipe mobil rakitan anak SMK tersebut.

Hal berikutnya adalah terkait "terciumnya" aroma korupsi di beberapa proyek Pemprov DKI Jakarta, seperti bus Transjakarta yang berkarat dan stadion BMW, seolah menunjukan kualitas kepemimpinan Jokowi di DKI Jakarta yang tidak gantleman. Mestinya Jokowi mengklarifikasi terlebih dahulu kasus-kasus yang melibatkan anak buahnya tersebut, bukan meninggalkanya begitu saja, dan berlalu dengan menjadi capres.

Kemudian, apa yang dilakukan Jokowi ini sedikit-banyak akan membuat masyarakat terutama para pemuda menjadi apatis terhadap politik. Karena untuk kesekian kalinya mereka dibuat kecewa oleh pemimpin yang sebelumnya sempat ‘digadang-gadang’ akan memberikan perubahan, pemimpin yang akan menjalankan amanah, tapi nyatanya Jokowi sama saja dengan "produk" yang lain. Namun, tentunya ini harus dikaji kembali karena mungkin yang "sakit hati" cuma masrakat di Jakarta, sedangkan Jakarta hanyalah satu dari puluhan provinsi lainnya yang ada di negeri ini. Bisa jadi, mereka yang di daerah mendukung. Apakah ada yang memberitakannya? Saya kurang mendengar karena memang media kita sangat Jakarta-sentris.

Peran PDI-P dalam Pencalonan Jokowi

PDI-P seharusnya memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, dengan ‘tidak mengganggu’ amanah Jokowi menuntaskan kepemimpinanya sebagai gubernur. Karena jika PDI-P terus memaksakan Jokowi untuk menjadi capresnya maka terlihat jelas bahwa sesungguhnya PDI-P bukanlah partai "wong cilik", melainkan partai yang ambisius dengan ‘mengumpan’ Jokowi sebagai capres sekaligus berharap efek kepopularitasan Jokowi akan meningkatkan perolehan suara PDI-P di pemilu 9 April nanti. Jelas, ini yang salah. PDI-P seharusnya membiarkan Jokowi bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh menuntaskan janji-janjinya di DKI. Jokowi tentunya akan tetap hebat  meski tidak jadi presiden, asalkan dia mampu menuntaskan tugas dan janjinya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Saya pribadi (meskipun bukan warga ber-KTP Jakarta) lebih suka Jokowi menuntaskan pekerjaannya terlebih dahulu di Jakarta. Saya rasa momennya tidak tepat bagi Jokowi untuk menjadi presiden di tahun 2014. Terlebih lagi, saya merasa bahwa peran partai di belakang Jokowi sangat besar dan ini sangat dikhawatirkan Jokowi (kalau) menjadi presiden dengan mudah bisa disetir, karena semuanya "apa kata Ibu".

Pada dasarnya, Jokowi memang banyak penggemarnya, tapi tidak salah kalau warga Jakarta "posesif" karena emang sebenarnya Jokowi ini punya orang Jakarta. Wajar kalau orang-orang (Jakarta) banyak yang tidak mau "kehilangan" beliau. Bukan cuma karena beliau punya status sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi beliau itu... Jokowi.

Jokowi dan Elektabilitas

Pada September 2013, kata peneliti Pusat Data Bersatu (PDB) Agus Herta Sumarto, elektabilitas Jokowi sebesar 36 persen. Sebulan kemudian naik menjadi 37,6 persen. Namun, pada bulan November, elektabilitas Jokowi turun menjadi 33,5 persen. Pada Januari 2014, elektabilitas Jokowi turun cukup jauh ke angka 28 persen. Sementara pada Februari 2014, elektabilitas Jokowi kembali naik menjadi 31,4 persen. Namun, pada bulan Maret kembali turun ke angka 29,8 persen.

Jadi, elektabilitas juga bisa berfluktuasi, naik turun, macam harga beras atau cabai di pasar. Namun, perlahan tapi pasti, masyarakat Indonesia harus cerdas dalam berpolitik, menentukan pilihan. Walau ini memang bukan soal mudah.

Sebagai penutup, saya percaya Pak Jokowi itu orang baik dan tidak mungkin lupa dengan janji-janjinya karena toh selama ini kita melihat betul kinerjanya. Tapi... manusia punya sifat lupa dan "melupakan". Dan yang "melupakan" itu menjadi sifatnya politisi. Ya, semoga saya salah.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.