12 April 2014

Surat Terbuka untuk Luthfi, Juan, Aziz, Sasa, dan May

Malam ini, saya merasa perlu menulis sesuatu untuk beberapa anak berseragam putih abu-abu di SMA 81 Jakarta sana yang akan menempuh Ujian Nasional hari Senin besok. Jadi, tulisan saya kali ini saya dedikasikan khusus untuk teman-teman saya, yang biasa saya panggil "anak-anak PPB". Apa itu PPB dan siapa saja anak-anak ini?

Program Pemuda Berprestasi

Ini adalah program rintisan dari seorang alumnus SMAN 81 Jakarta angkatan (lulus) 2006, Tubagus Farih Mufti, atau ya... sebut saja Tebe. Pada dasarnya program ini adalah semacam social youth responsibility. Program ini didesain untuk mencetak penerus-penerus bangsa yang berwawasan luas (kecerdasan intelektual) yang diiringi dengan iman dan takwa. Kira-kira konsep besarnya begitu. Bagaimana caranya? Program ini karena dicetuskan oleh alumnus SMAN 81 maka diterapkan pertama kali di sekolah ini dengan memberikan beasiswa kepada beberapa orang siswa yang: (1) secara akademis berpotensi, (2) membutuhkan bantuan finansial, dan/atau (3) bisa gabungan keduanya. Beasiswa untuk para peserta sepenuhnya berasal dari bantuan para alumni. Memang selama perjalanan tidak pernah mudah, tapi saya selalu salut dengan niat luhur dan semangat para pengurus, khususnya Tebe, yang sangat luar biasa untuk terus menjalankan program ini, setidaknya sampai kami anggap selesai (pada akhirnya).

Program ini pertama kali berjalan mulai tahun 2011. Di angkatan pertama terpilih sembilan orang peserta. Mereka adalah Luthfi, Juan, Aziz, Hari, Durra, Sasa, Zizi, May, dan Sella. Seiring berjalannya waktu, kami (pengurus) harus mengevalusi performance setiap peserta karena biar bagaimanapun mereka diberi beasiswa di sini. Dari sembilan orang hingga akhirnya kini tersisa lima orang saja yang hari Senin nanti akan melaksanakan "ibadah" Ujian Nasional demi menutup dan melengkapi masa-masa SMA-nya.

Bergabung dengan Pengurus

Sejujurnya, saya ikut dari awal kepengurusan. Program ini dirintis oleh (kalau tidak salah) Tebe, Risma, dan Irvanu. Pada awalnya saya hanya diminta menjadi pengajar Bahasa Inggris dalam kegiatan bimbingan belajar (bimbel) rutin mereka. Tentunya, karena saya termasuk hobi mengajar, saya terima. Apalagi mengajar di almamater sendiri, rasanya akan sangat menyenangkan, plus saya selalu suka berhubungan dengan anak-anak SMA (karena selama di kampus dulu berbagai program kerja yang saya urus selalu berhubungan dengan anak SMA).

Setelah mengajar selama lebih kurang tiga bulan, saya diminta Tebe untuk menggantikan posisi Irvanu yang saat itu berperan sebagai manajer program. Saat itu saya juga masih kuliah, masih "nge-BEM", masih pacaran (jadi ceritanya ada banyak yang diurus). Awalnya agak ragu untuk menerima permintaan dari Tebe, tapi akhirnya toh saya terima juga.

Setelah itu, saya jadi bagian dari pengurus, dan sepertinya anak-anak ini mulai mendapatkan mimpi buruk dengan hadirnya saya sebagai bagian dari pengurus, bukan cuma pengajar. Ya, saya akui kadang saya "agak" kejam dengan memberi berbagai macam tugas kepada mereka. Saya terapkan sistem deadline karena memang di kampus saya berkutat dengan deadline, hahaha! Saya berikan berbagai macam tugas menulis karena pada dasarnya saya suka menulis, hahaha! Tapi, tentunya ada hal lain di balik itu semua. Saya mau mereka pintar menulis karena menurut saya semua orang hebat di dunia ini bisa menulis. Bukan menulis secara harfiah, tapi menuliskan ide atau gagasan. Untuk apa orang hebat kalau tidak bisa menyampaikan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis? Ide merdekanya negeri ini juga dimulai dari berbagai tulisan-tulisan para pemuda di masa lampau. Jadi, menulis itu penting.

Deadline, ya, itu juga penting. Karena orang Indonesia kerap tidak tepat waktu, saya tidak mau mereka jadi orang Indonesia yang seperti itu. Saya mau mereka belajar menghargai waktu. Dan dalam memberikan tugas, saya selalu berikan target minimal kata yang harus mereka tulis, yaitu 800 kata. Namun, lebih dari itu, bagi saya yang paling penting adalah niat mereka untuk mengerjakan dan tepat waktu. Masalah isi, itu masalah belakangan. Namun, ketika mereka bisa mengerjakan dengan tepat waktu, artinya mereka belajar bertanggung jawab. Saya tidak pernah minta mereka untuk mengerjakan tugas untuk menghargai saya, tapi dengan mereka mengerjakan segalanya tepat waktu, artinya mereka menghargai diri mereka sendiri dan mereka telah belajar bersikap dewasa. Ya, menjadi dewasa itu kan pilihan.

Tantangan dan Hambatan

Anak-anak PPB ini jelas anak-anak pilihan, tapi "mengurus" mereka tetap menjadi tantangan. Pada dasarnya, berhadapan dengan anak SMA memang tidak pernah mudah. Berhadapan dengan orang yang 5-6 tahun lebih muda mungkin bisa lebih mudah jika mereka sama-sama dewasa. Namun, jika berhadapan dengan mereka yang 5-6 tahun lebih muda dan masih berseragam sekolah, itu beda kasus.

Apa yang saya lakukan? Saya berusaha menerapkan segala "ilmu" dan pengalaman saya selama mengurus staf-staf saya di BEM. Saya orang yang tidak percaya senioritas, tapi saya percaya pada menghargai dan menghormati orang lain. Semua staf saya di BEM sangat boleh ngecengin saya separah apa pun, karena itu artinya kita bisa jadi teman yang baik. Namun, ketika saatnya "bekerja" kita saling profesional, kita tahu posisi masing-masing. Begitulah yang saya terapkan di PPB. Saya tidak pernah memosisikan diri saya sebagai "kakak" mereka atau orang yang lebih tua (walau kenyataannya begitu), dan saya tidak pernah menganggap mereka "junior-junior" saya; mereka teman-teman saya semua. Saya bisa ngecengin mereka dan mereka sangat boleh ngecengin balik tanpa perlu takut saya akan marah. Kenapa? Karena itulah cara saya berinteraksi dengan mereka agar tidak ada "dinding" pembatas. Namun, ketika saatnya serius, tentu harus serius. Yang jelas, saya percaya bahwa kita bisa belajar dari siapa pun, bahkan dari yang muda sekalipun. Saya sendiri banyak belajar dari mereka, dan di situlah mengapa saya tidak perlu menjadi orang yang merasa lebih senior dan lebih banyak tahu dari mereka. Beda zaman, beda pengalaman. Saya hanya (kebetulan) lebih dulu lahir beberapa tahun dari mereka.

Namun demikian, yang namanya tantangan tetap ada. Tantangan komunikasi menjadi salah satu tantangan utama. Ya, ini sebenarnya tantangan hampir di setiap organisasi, bahkan ketika saya di BEM, ini juga terjadi. Bukan karena saya dulu mahasiswa Komunikasi lantas menganggap komunikasi sangat krusial, tapi memang pada kenyataannya komunikasi itu memang segitu pentingnya. Rencana yang sudah matang bisa berantakan di hari-H hanya karena salah komunikasi, dan itu bisa jadi sangat fatal. Begitu juga di PPB, kadang kala komunikasi menjadi satu masalah yang bikin gregetan. Masalah ini tidak hanya dari pengurus ke peserta, tapi juga dari pengurus ke pihak sekolah. Ya... sama-sama bikin greretan.

Bagaimana tantangan dengan sekolah? Ya, ini juga tidak pernah mudah. Saya tidak katakan bahwa sekolah mempersulit, tapi mungkin "lupa", ya... lupanya setiap minggu. Karena Risma sedang S2, Irvanu sedang S2, Tebe sedang S2, semua S2 (hanya saya yang tidak ber-S2), jadi sayalah yang harus mengurus program bimbel mereka setiap minggu yang itu artinya harus berurusan dengan perizinan dengan pihak sekolah, dan kadang memang cukup menarik urat. Tapi ya... saya anggap itulah "seninya".

Pengalaman Baru

Dengan bergabungnya saya di pengurus, saya punya "kuasa" lebih untuk melibatkan anak-anak ini dalam berbagai macam kegiatan. Saya mau mereka punya masa-masa SMA yang tidak biasa. Saya merasa masa-masa SMA saya tidak biasa (artinya luar biasa) dan itu sangat berkesan. Saya juga mau setidaknya anak-anak ini punya kesempatan untuk merasakan atau punya pengalaman yang tidak terlupakan selama SMA.

Pekerjaan saya setiap minggu adalah memutar otak untuk tema-tema tulisan apa yang bisa jadi bahan mereka untuk tugas menulis. Saya selalu berpikir materi apa yang bisa saya berikan saat mengajar, atau mungkin ada proyek menarik apa yang bisa saya berikan? Tercetuslah proyek Kompas Muda dan Wikipedia. Kalau Kompas Muda, itu karena dulu saya juga pernah ikut Kompas Muda dan sampai saat ini masih berkesan bisa menulis di koran terbesar di negeri ini. Kalau Wikipedia, itu sebenarnya tugas saya saat semester III atau IV di kuliah dulu, hahaha, tapi ini sangat penting. Lalu mereka juga ada proyek School of Volunteer (SOV), dan saya sangat bangga mereka bisa ikut serta dalam program ini. Kita tidak perlu bicara soal hasil akhirnya, tapi dengan mereka mau mencoba hal baru yang positif, itu sudah sangat patut diapresiasi.

Selama di PPB, saya beberapa kali membawa teman bule saya ke sekolah supaya mereka berani bicara dengan bahasa Inggris. Saya mungkin sudah jadi orang yang paling cerewet di PPB. Rasa-rasanya tiada minggu tanpa SMS "sayang" (berisi ocehan, reminder, tugas baru, dsb.) yang masuk ke kotak masuk pesan ponsel mereka.

Di Kelas XI

Ketika mereka naik kelas XI, saya sangat senang bahwa empat peserta laki-laki PPB (Luthfi, Juan, Aziz, dan Hari) ikut serta dalam pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS (Pemilos) di sekolah, dan hasilnya sangat luar biasa! Ya, bahkan mereka berhasil mengalahkan rekor keketatan perolehan suara antara saya dan rival saya dulu pada Pemilos 2006. Ini sangat bagus! Jadi, setelah enam tahun rekor itu tidak tergoyahkan, ternyata anka-anak ini yang akhirnya mengalahkannya, dan saya sangat senang karena setidaknya saya tidak bisa sombong lagi, hahaha! Dan Sasa, masuk di badan legislatif, MPK. Sementara Durra dan May masuk di Paskibra. Dan saya sangat senang mereka berani mengambil kesempatan untuk berorganisasi di kelas XI (mengingat saya sama sekali tidak pernah berorganisasi selama masa SMA), hehehe.

Di kelas XI, saya rasa saya semakin gemar memberikan tugas kepada mereka, tapi kabar baiknya, mereka semakin baik. Tulisan-tulisan mereka bahkan semakin bagus, mereka jadi lebih aware dengan tugas dan deadline-nya, dan saya tahu mereka berusaha keras untuk bisa menulis hingga 800 kata atau bahkan lebih. Dan saya selalu bangga sama segala usaha keras mereka.

Akhirnya...

Tahun lalu, Durra yang berada di kelas Aksel telah lebih dulu "meninggalkan" teman-temannya. Durra diterima di Fakultas Teknik di UI. Tentu ini bukan karena kami, tapi itu karena Durra memang hebat, karena dia memang pintar, dan kami selalu percaya dia pasti bisa. Tahun ini, giliran Luthfi, Juan, Aziz, Sasa, dan May yang akan mengikuti jejak Durra.

Untuk Luthfi, Juan, Aziz, Sasa, dan May, inilah akhirnya kalian sudah berada di penghujung tahun kalian berseragam. Saya tidak akan bicara banyak soal UN karena saya percaya itu sudah jadi "makanan" kalian, dan pasti bisa kalian "habiskan" dengan baik. Saya percaya kalian adalah orang-orang yang akan membawa negeri ini pada perubahan nantinya. Saya akan selalu ingat cita-cita kalian (ada yang mau jadi presiden, ya... saya juga ingat), dan saya doakan semoga cita-cita kalian tercapai semua. Di luar sana, di dunia kuliah, semuanya berbeda dengan dunia sekolah. Kalian akan temukan lebih banyak hal-hal menarik yang bisa kalian pelajari di sana. Dan ingat, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja, karena orang biasa sudah terlalu banyak, apalagi di Indonesia. Kalian terlahir untuk jadi luar biasa, dan di PPB kalian luar biasa. Saya selalu bangga dengan kalian. Di mana pun kalian nanti, jangan pernah hilang kontak satu sama lain. Maaf saya dan yang lain tidak sempat memberikan "adik" buat kalian di PPB. Mungkin suatu hari nanti kalian punya ide yang lebih baik untuk program ini dan mungkin kalian akan melanjutkan program ini lebih hebat nantinya.

Luthfi, tidak semua orang baik di luar sana. Tidak semua apa yang terlihat baik itu baik. Harus lebih jeli dan lihatlah dari berbagai sisi. Juan, ada kalanya kita harus tegas, ada kalanya kita harus fleksibel. Tapi menjadi fleksibel itu bukan berarti kita tidak punya pendirian. Perjuangkan apa yang menurut kamu benar, tapi jangan menutup diri untuk menerima pendapat orang lain. Aziz, tidak semua hal bisa dibuat mudah (khususnya di Indonesia) dan tidak semua orang di luar sana bisa mempermudah dan "memudahkan". Belajar lebih sistematis, lebih rapi, dan fokus dengan prioritas. May, lebih terbuka, lebih membuka diri, harus bisa lebih aktif nanti di kuliah. Sasa, kayakanya semua sudah dibahas di LINE, intinya, tetap berpikir kreatif, think out of the box, kalau kita mau sesuatu, perjuangkan itu dengan sungguh-sungguh, pasti bisa.

Ya, that's all guys. Terima kasih untuk tiga tahun ini. Mohon maaf atas segala kesalahan dan berbagai "SMS bombing" selama ini (pulsa saya memang lumayan ada banyak). Terima kasih sudah jadi teman-teman yang baik. Jangan sungkan untuk menyapa, kapan pun. PPB bangga dengan kalian, saya pribadi lebih bangga sama kalian. Mudah-mudahan kalian semua diterima di PTN dan jurusan yang kalian cita-citakan. Selamat menempuh Ujian Nasional, semoga berhasil! Saya percaya kalian semua pasti bisa.

Salam,

Fauzan Al-Rasyid

1 komentar :

H-beberapa jam UN gw habis kan bukan buat belajar tapi malah buat baca artikel ini. But Yeaah Worth it ! Makasih kak bimbingannya, doanya, bantuannya, artikelnya....

oya soal berprinsip dan fleksibel itu adalah salah satu hal yang bener2 ada di otak gw beberapa semeseter trakhir ini... are you wizard?

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.