Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

11 Mei 2014

Just Some Thoughts

I try to not take this too serious, and I'm not a trusted counselor, but... you know, I used to feel like, "Oh God, what I suppose to do with my life," I got out off the bed and suddenly I felt like I was so exhausted ever since. I felt tired of seeing the same people and doing the same thing everyday, yes, I felt that once. It was like the laziest moments I've ever had.

I used to be in the position where I felt that I was a living-dead, like a zombie, it's just that I'm glad (and pretty sure) I don't look that bad compare to the television's version of zombies. I felt like... I live but not alive. See, like, you know... every morning I wake up and then face the same routines and then time just fly away, and suddenly it's night, and sleep again, and welcome to the next day. Friday is a TGIF moment, but somehow it makes no different. Weekends, also the same. Everyone's busy with their own business, I mean my friends (especially "my friends"). So... I felt like I live, but my soul is... I don't know, it was having holiday somewhere, but it was just not inside me, I mean, the body.

The point is, I used to be in a position where every morning I tend to say "damn" instead of "good morning". It was horrible, I mean, I didn't enjoy my life at that time... for several months. I thought like... this world didn't understand me. But actually, it was me who didn't try to understand this world. This world is actually not a bad place to live if we see it from different perspectives. We see those zombie guys on TV and they areof coursenot good looking at all, but we know that it's make up, a mask, and behind that mask is an actor which is 100% got much better look than the zombie character he played. So, finally, it's the matter of perspective.

So, finally, I know and did realize that I need to and have to get up. I mean, really "get up" and do something. I need to get my "life" back, and it's only ourselves who really know what we need to do. In my case, I tried to rethink what was my dream, what was my vision, what did I really want.

Indeed, it took some time to finally get "the feeling" back (the soul). But, you are the captain of your own live. You can choose whether to keep questioning or move on to find the answer you need, to get what you truly need in this life. You've got your own decision. It's only us who know what we need. But sometimes the mind makes skepticism and the heart trusts the mind too much and finally we make our own "wall" in our mind, something that limits our will...

However, when we've been too lazy with our routines, it will be very hard to fight it, yet it's still possible to win it back. All we need is our spirit and our vision of what we really want to do and to be...

Have you ever questioned what is the meaning of this life? I mean, like, ok, I'm in my 20s, go to college and then graduate, and then find a (good) jobhopefully with good salaryand there's a big probability that we will do it till we... old (and some people even die because of working--this is horrible). I mean, even until now, I'm still questioning this. This is very complicated. Sometimes people may think, "Why do you question this? Just do it, this is the flow," or like, "You study, study hard, so you can make good money in the future." But I don't think it answered the question. If it's all about to have a wealthy life, and if the standard of having a wealthy life is measured by how much money we can get, it will be very frustrated; too exhausted, to live everyday's life like that even if we have passion on it. Totally stressful.

So, yes, the goal. There must be something that makes us want to wake up in the morning, where we will feel better, less tired, and passionate to face the day. But sometimes "the journey" to find this thing; this feel, it's very complicated.

I think all people are scared to live a life that they don't want to, but somehow they can't define the life they really want. I mean, I don't want to be this, yet I have no idea what I want to be--many people like this. So, the thing is, we have to define and reflect our own life. When we know what we want to be in the future, then we have to fight for it. This is our life, if not us who fight for it, then who will? People have been too busy and crazy with this world's problem, it's only us who can fight for our dreams...

You know, this world is a huge place where there's always possibilities to meet people who think like the way we think. And thank to the internet, it makes life much easier (somehow, lazier, LOL9GAG is just too addictive).

So, what's your passion? What is your biggest dreams? It may not easy an journey to get what we want, it may take years like Carl and Ellie on Up movie who wanted to live in South America, and probably we may struggle with that just like how Ted finally met the mother (see, I watch too much)lots of trouble, but that's the dream, and it's worth to fight for.

09 Mei 2014

Perkara Jalan-jalan

Malam ini saya mau cerita soal jalan-jalan, bukan jalan-jalan biasa tentunya. Sebenarnya ini semacam "curhat" ya, jadi mungkin isinya agak emosional. Oke, saya mulai dari mana ya... Well, sekitar tiga tahun terakhir ini, jalan-jalan agaknya menjadi hobi baru remaja di negeri ini. Bukan sekedar jalan-jalan, tapi "jalan-jalan". Oke, maksud saya lebih ke traveling.

Hampir setiap minggu saya mendapatkan update terbaru dari teman-teman saya di berbagai media sosial entah si X lagi di negara A, si Y post foto jalan-jalannya (dengan hashtag #throwback) yang mungkin itu terjadi sekitar setahun lalumemang agak sulit move on dari pengalaman yang tidak terlupakan, atau  si Z yang hari ini di mana dan besok ada di mana, dan minggu depan sudah di mana lagi.

Ini hobi yang bagus, jelas, sangat bagus. Ini kegiatan yang positif; ya... bertamasya, jalan-jalan, "melihat" dunia, banyak hal positif yang bisa kita ambil dari berjalan-jalan. Ternyata, hobi baru anak muda zaman sekarang ini juga didukung dengan banyak faktor. Salah satunya adalah tiket pesawat yang serba murah. Selain itu, berbagai artikel di dunia maya yang secara masif memublikasikan berbagai hal yang harus dilakukan saat berumur 20-an (misalnya), dan itu termasuk jalan-jalan (traveling ya...), tampaknya semakin membakar semangat para kawula muda di negeri ini untuk bisa berjalan-jalan. Azaz dan prinsip backpacker-an kerap menjadi pedoman utama para traveller muda. Intinya, berjalan-jalanlah (puaskan diri kita) sebelum 1) tua; 2) menikah—punya tanggungan; 3) sibuk bekerja. Jadi mumpung masih muda, masih kuat, yuk mari kita berjalan-jalan.

Sebetulnya, prinsip berjalan-jalan sebagai suatu upaya untuk memperluas wawasan, pola pikir, melihat keragaman budaya di luar negeri, termasuk untuk refreshing jelas itu suati hal yang sah-sah saja, dan itu juga bagus. Bahkan saya pernah baca tulisan Rhenald Kasali yang saya repost di blog ini karena memang gagasan beliau sangat menarik. Intinya, beliau sangat mendorong mahasiswanya untuk bisa pergi ke luar negeri (selagi kuliah) supaya bisa melihat dunia.

Oke, lalu apa masalahnya dengan saya? Ya, saya belum pernah jalan-jalan jauh. Pernah, tapi itu mungkin belasan tahun lalu yang artinya ketika saya mungkin masih berusia di bawah enam tahun. Jalan-jalan (lumayan jauh) yang baru-baru ini ke Surabaya (beberapa bulan lalu), sendirian, tapi itu pun karena ada tugas kantor jadi... gratis, jadi... ya... lumayan.

Jadi, masalahnya adalah... saya iri dengan mereka yang bisa jalan-jalan (terus-terusan)? Ini pasti iya, dan saya kira semua orang bisa merasakan hal yang sama. Apalagi ketika setiap hari ada saja foto baru di Instagram dengan teman yang sedang "jalan-jalan" di sana-sini.

Lalu, kenapa tidak jalan-jalan? Ya... kalau selagi mahasiswa dulu, jujur saja saya memang tidak punya cadangan uang yang memadai. Sebenarnya saya enggak sibuk belajar juga. Saya "sibuk" berorganisasi, di mana berorganisasi itu jelas tidak menghasilkan tambahan uang (walau apa yang saya kerjakan dulu jelas menghasilkan uang yang sangat banyak untuk organisasi tempat saya bernaung). Keluarga sayasaya anak pertama, ada adik perempuan yang juga kuliah dan ibu. Ibu (saya panggilan mama) adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan ayah saya sudah meninggal sejak saya kelas XI SMA. Dalam hal ini, jelas, saya menjadi "tumpuan" dan harapan keluarga supaya saya bisa segera lulus dan semoga bisa segara bekerja dan membantu ekonomi keluarga.

Doa orangtua memang manjur, alhamdulillah, seminggu setelah wisuda, saya langsung bekerja, jadi orang kantoran. Saya punya uangsetidaknya begitu. Saya sempat jalan-jalan? Enggak juga. Padahal saya bisa ambil cuti (dan saya jelas mengambil jatah cuti saya), tapi saya mungkin terlalu banyak berpikir ini-itu. Sebetulnya, kalau dibilang gaji saya pas-pasan (saat itu) enggak juga. Ya, standar fresh graduate, tapi kalau (niat) menabung 3-4 bulan, sangat bisa pergi jalan-jalan. Tapi saya enggak lakukan itu.

Mungkinmungkin ya... saya terlalu berpikir tentang masa depan (saya) nantinya. Well, kalau kita berpikir bahwa Indonesia ini akan "baik-baik" saja ke depannya, saya pikir itu agak naif. Saya bukannya pesimis (atau menakut-nakuti), tapi memang, saya rasa, Indonesia tidak akan "baik-baik" saja di masa mendatang. Dan karena itu, saya harus mempersiapkan segalanya. Ya, se-ga-la-nya. Khusunya dalam hal materi.

Saya tidak menerapkan azaz merkantilisme dalam hidup saya, hanya saja, saya berusaha untuk menabung dan menabung. Apalagi ekonomi keluarga tergantung 100% dari saya, apa jadinya kalau saya harus habiskan beberapa persen saja (yang mungkin itu bisa beli beras dan keperluan kami sekeluarga) untuk liburan (baca: jalan-jalan)? Rasanya saya enggak bisa. Sebenarnya bisa saja, tapi saya "merasa" enggak bisa. Pasti bingung.

Bahkan sekarang pun, saya sangat bersyukur dengan kehidupan saya saat ini. Saya punya pekerjaan yang sangat saya suka. Saya pikir ini sangat sempurna. Saya punya waktu yang sangat fleksibel saat ini, saya punya... apa ya... saya pikir saya sedang berada dalam masa-masa yang sangat menyenangkan. Menyenangkan dalam segala hal, baik energi, pikiran, materi, semuanya menyenangkan. Apakah kemudian saya jalan-jalan? Enggak juga...

Kenapa? Katanya iri dengan yang selalu nge-post di Instagram atau di Twitter atau di Tumblr, atau di mana pun itu... Well, iya (banget) sih, tapi mungkin karena saya sudah terbiasa "seperti ini", rasanya agak sayang untuk mengeluarkan uang. Bukan pelit, ini beda. Mungkin saya terlalu takut menghadapi masa depan sehingga saya sebisa mungkin menyiapkan segalanya dengan baik; dengan matang. Well, sejujurnya saya salut dengan beberapa orang teman saya yang bahkan sudah (berani) membina rumah tangga. Beberapa dari mereka bahkan baru merintis karir, ya... sama, saya juga baru masuk kategori "merintis" karir. Tapi mereka berani ambil risiko itu dan... menikah. Dalam beberapa sisi, itu sangat bagus.

Tapi, sekarang, selagi saya menulis tulisan ini, saya juga berpikir bahwa kalau uang terus yang dicari, ada kemungkinan besar kita tidak akan menikmati hidup kita. Kadang ya... kita perlu bersenang-senang (baca: jalan-jalan), kita perlu bersantai, perlu melihat dunia; saya setuju dengan Pak Rhenald. Tapi buat saya ini cukup rumit.

Di satu sisi saya suka iri dengan mereka yang bisa jalan-jalan kesana kemari, ke negara ini, negara itu. Tentu saya enggak mau tahu soal "itu pakai duit siapa", tapi yang jelas itu menyenangkan. Dan kalau mau dihitung-hitung, saya pikir, sekarang saya bisa lebih leluasa untuk pergi jalan-jalan kemana pun, tapi... ya... saya terlalu banyak pertimbangan. Tapi ya... saya pastikan setidaknya sebelum umur 30, saya sudah pergi kemana-mana, dan Instagram saya enggak akan kalah penuh dengan foto-foto traveling. Hanya saja, mungkin sekarang (bagi) saya momennya belum pas.

Saya masih punya misi yang ingin saya capai. Bukan, bukan S2. Oh, bukan, bukan menikah juga, belum ada calonnya (sampai saya menulis ini). Ya, ada beberapa misi dan mudah-mudahan setelah misi itu tercapai, saya bisa lebih leluasa jalan-jalan. Kalau sekarang ini, saya memilih untuk pergi jalan-jalan gratis (kalau ada) dan ternyata ada! Ya, lumayan. Atau minimal biayanya cukup bisa ditekan semaksimal mungkin, biasa, prinsip ekonomilah.

Yah, begitulah. Kalau Anda pusing atau mungkin geleng-geleng baca tulisan saya ini, jangan paksakan diri Anda untuk mengerti karena ada kemungkinan saya pun tidak mengerti (tentang) problematika dan pergolakan dalam diri yang sedang saya hadapi ini. Sekian.