09 Mei 2014

Perkara Jalan-jalan

Malam ini saya mau cerita soal jalan-jalan, bukan jalan-jalan biasa tentunya. Sebenarnya ini semacam "curhat" ya, jadi mungkin isinya agak emosional. Oke, saya mulai dari mana ya... Well, sekitar tiga tahun terakhir ini, jalan-jalan agaknya menjadi hobi baru remaja di negeri ini. Bukan sekedar jalan-jalan, tapi "jalan-jalan". Oke, maksud saya lebih ke traveling.

Hampir setiap minggu saya mendapatkan update terbaru dari teman-teman saya di berbagai media sosial entah si X lagi di negara A, si Y post foto jalan-jalannya (dengan hashtag #throwback) yang mungkin itu terjadi sekitar setahun lalumemang agak sulit move on dari pengalaman yang tidak terlupakan, atau  si Z yang hari ini di mana dan besok ada di mana, dan minggu depan sudah di mana lagi.

Ini hobi yang bagus, jelas, sangat bagus. Ini kegiatan yang positif; ya... bertamasya, jalan-jalan, "melihat" dunia, banyak hal positif yang bisa kita ambil dari berjalan-jalan. Ternyata, hobi baru anak muda zaman sekarang ini juga didukung dengan banyak faktor. Salah satunya adalah tiket pesawat yang serba murah. Selain itu, berbagai artikel di dunia maya yang secara masif memublikasikan berbagai hal yang harus dilakukan saat berumur 20-an (misalnya), dan itu termasuk jalan-jalan (traveling ya...), tampaknya semakin membakar semangat para kawula muda di negeri ini untuk bisa berjalan-jalan. Azaz dan prinsip backpacker-an kerap menjadi pedoman utama para traveller muda. Intinya, berjalan-jalanlah (puaskan diri kita) sebelum 1) tua; 2) menikah—punya tanggungan; 3) sibuk bekerja. Jadi mumpung masih muda, masih kuat, yuk mari kita berjalan-jalan.

Sebetulnya, prinsip berjalan-jalan sebagai suatu upaya untuk memperluas wawasan, pola pikir, melihat keragaman budaya di luar negeri, termasuk untuk refreshing jelas itu suati hal yang sah-sah saja, dan itu juga bagus. Bahkan saya pernah baca tulisan Rhenald Kasali yang saya repost di blog ini karena memang gagasan beliau sangat menarik. Intinya, beliau sangat mendorong mahasiswanya untuk bisa pergi ke luar negeri (selagi kuliah) supaya bisa melihat dunia.

Oke, lalu apa masalahnya dengan saya? Ya, saya belum pernah jalan-jalan jauh. Pernah, tapi itu mungkin belasan tahun lalu yang artinya ketika saya mungkin masih berusia di bawah enam tahun. Jalan-jalan (lumayan jauh) yang baru-baru ini ke Surabaya (beberapa bulan lalu), sendirian, tapi itu pun karena ada tugas kantor jadi... gratis, jadi... ya... lumayan.

Jadi, masalahnya adalah... saya iri dengan mereka yang bisa jalan-jalan (terus-terusan)? Ini pasti iya, dan saya kira semua orang bisa merasakan hal yang sama. Apalagi ketika setiap hari ada saja foto baru di Instagram dengan teman yang sedang "jalan-jalan" di sana-sini.

Lalu, kenapa tidak jalan-jalan? Ya... kalau selagi mahasiswa dulu, jujur saja saya memang tidak punya cadangan uang yang memadai. Sebenarnya saya enggak sibuk belajar juga. Saya "sibuk" berorganisasi, di mana berorganisasi itu jelas tidak menghasilkan tambahan uang (walau apa yang saya kerjakan dulu jelas menghasilkan uang yang sangat banyak untuk organisasi tempat saya bernaung). Keluarga sayasaya anak pertama, ada adik perempuan yang juga kuliah dan ibu. Ibu (saya panggilan mama) adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan ayah saya sudah meninggal sejak saya kelas XI SMA. Dalam hal ini, jelas, saya menjadi "tumpuan" dan harapan keluarga supaya saya bisa segera lulus dan semoga bisa segara bekerja dan membantu ekonomi keluarga.

Doa orangtua memang manjur, alhamdulillah, seminggu setelah wisuda, saya langsung bekerja, jadi orang kantoran. Saya punya uangsetidaknya begitu. Saya sempat jalan-jalan? Enggak juga. Padahal saya bisa ambil cuti (dan saya jelas mengambil jatah cuti saya), tapi saya mungkin terlalu banyak berpikir ini-itu. Sebetulnya, kalau dibilang gaji saya pas-pasan (saat itu) enggak juga. Ya, standar fresh graduate, tapi kalau (niat) menabung 3-4 bulan, sangat bisa pergi jalan-jalan. Tapi saya enggak lakukan itu.

Mungkinmungkin ya... saya terlalu berpikir tentang masa depan (saya) nantinya. Well, kalau kita berpikir bahwa Indonesia ini akan "baik-baik" saja ke depannya, saya pikir itu agak naif. Saya bukannya pesimis (atau menakut-nakuti), tapi memang, saya rasa, Indonesia tidak akan "baik-baik" saja di masa mendatang. Dan karena itu, saya harus mempersiapkan segalanya. Ya, se-ga-la-nya. Khusunya dalam hal materi.

Saya tidak menerapkan azaz merkantilisme dalam hidup saya, hanya saja, saya berusaha untuk menabung dan menabung. Apalagi ekonomi keluarga tergantung 100% dari saya, apa jadinya kalau saya harus habiskan beberapa persen saja (yang mungkin itu bisa beli beras dan keperluan kami sekeluarga) untuk liburan (baca: jalan-jalan)? Rasanya saya enggak bisa. Sebenarnya bisa saja, tapi saya "merasa" enggak bisa. Pasti bingung.

Bahkan sekarang pun, saya sangat bersyukur dengan kehidupan saya saat ini. Saya punya pekerjaan yang sangat saya suka. Saya pikir ini sangat sempurna. Saya punya waktu yang sangat fleksibel saat ini, saya punya... apa ya... saya pikir saya sedang berada dalam masa-masa yang sangat menyenangkan. Menyenangkan dalam segala hal, baik energi, pikiran, materi, semuanya menyenangkan. Apakah kemudian saya jalan-jalan? Enggak juga...

Kenapa? Katanya iri dengan yang selalu nge-post di Instagram atau di Twitter atau di Tumblr, atau di mana pun itu... Well, iya (banget) sih, tapi mungkin karena saya sudah terbiasa "seperti ini", rasanya agak sayang untuk mengeluarkan uang. Bukan pelit, ini beda. Mungkin saya terlalu takut menghadapi masa depan sehingga saya sebisa mungkin menyiapkan segalanya dengan baik; dengan matang. Well, sejujurnya saya salut dengan beberapa orang teman saya yang bahkan sudah (berani) membina rumah tangga. Beberapa dari mereka bahkan baru merintis karir, ya... sama, saya juga baru masuk kategori "merintis" karir. Tapi mereka berani ambil risiko itu dan... menikah. Dalam beberapa sisi, itu sangat bagus.

Tapi, sekarang, selagi saya menulis tulisan ini, saya juga berpikir bahwa kalau uang terus yang dicari, ada kemungkinan besar kita tidak akan menikmati hidup kita. Kadang ya... kita perlu bersenang-senang (baca: jalan-jalan), kita perlu bersantai, perlu melihat dunia; saya setuju dengan Pak Rhenald. Tapi buat saya ini cukup rumit.

Di satu sisi saya suka iri dengan mereka yang bisa jalan-jalan kesana kemari, ke negara ini, negara itu. Tentu saya enggak mau tahu soal "itu pakai duit siapa", tapi yang jelas itu menyenangkan. Dan kalau mau dihitung-hitung, saya pikir, sekarang saya bisa lebih leluasa untuk pergi jalan-jalan kemana pun, tapi... ya... saya terlalu banyak pertimbangan. Tapi ya... saya pastikan setidaknya sebelum umur 30, saya sudah pergi kemana-mana, dan Instagram saya enggak akan kalah penuh dengan foto-foto traveling. Hanya saja, mungkin sekarang (bagi) saya momennya belum pas.

Saya masih punya misi yang ingin saya capai. Bukan, bukan S2. Oh, bukan, bukan menikah juga, belum ada calonnya (sampai saya menulis ini). Ya, ada beberapa misi dan mudah-mudahan setelah misi itu tercapai, saya bisa lebih leluasa jalan-jalan. Kalau sekarang ini, saya memilih untuk pergi jalan-jalan gratis (kalau ada) dan ternyata ada! Ya, lumayan. Atau minimal biayanya cukup bisa ditekan semaksimal mungkin, biasa, prinsip ekonomilah.

Yah, begitulah. Kalau Anda pusing atau mungkin geleng-geleng baca tulisan saya ini, jangan paksakan diri Anda untuk mengerti karena ada kemungkinan saya pun tidak mengerti (tentang) problematika dan pergolakan dalam diri yang sedang saya hadapi ini. Sekian.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.