Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

30 Oktober 2014

Bu Susi dan Fenomena Sekuler Inlander

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti
Pagi ini saya sangat senang menemukan satu post yang (menurut saya) sangat berkualitas di Facebook. Ya, saya setiap hari masih buka Facebook walau kata orang sekarang Facebook itu "so yesterday". Faktanya, ada banyak hal menarik yang bisa kita dapat di Facebook walau saya tidak memungkiri bahwa lebih banyak "sampah" yang di-share di media sosial itu saat ini. Namun, itu kembali pada pribadi masing-masing, tergantung dengan siapa kita berteman. Toh, kalau kita tidak suka, kita bisa dengan mudah "memutuskan" pertemanan dengan orang itu di Facebook.

Anyway, tulisan ini saya repost dari foto yang dipublikasikan oleh Meira Ernawati. Namun, pada mulanya, tulisan ini berasal dari kicauan Akmal Sjafril di Twitter yang kemudian dipublikasikan di Facebook dengan beberapa suntingan (di sini pun saya sunting lagi karena terbiasa menyunting teks setiap haritentunya tanpa mengubah ide tulisan asli ini). Saya pikir, ide yang disampaikan oleh Akmal ini terlalu bagus untuk dilewatkan.
 
Menyoal Fenomena Sekuler Inlander di Tanah Air

Saya ingin bahas soal fenomena sekuler inlander. Ini adalah fenomena yang sudah cukup lama saya perhatikan. Sekuler inlander adalah sifatnya orang-orang sekuler bermental inlander. "Kampungan" gitu deh kurang lebihnya. Walaupun saya anti sekali dengan sekularisme, tapi banyak orang sekuler yang masih bisa dihormati, tapi kalau sekuler inlander sih enggak sama sekali.

Yang namanya sekuler inlander itu ya pelakunya adalah orang-orang bermental inlander yang jadi sekuler karena ikut-ikutan. Indonesia, karena pernah dijajah, juga banyak diisi oleh kaum sekuler inlander ini.

Oke, supaya lebih jelas, kita langsung masuk ke contoh kasus. Dalam hal ini saya ingin jadikan dialektika seputar Bu Menteri Susi dan rokoknya. Dialektikanya, bukan rokoknya! Dari perspektif orang-orang beriman, kasus ini sebenarnya telah menunjukkan kegamangan sekularisme. Bagaimana sekularisme menyikapi kebiasan merokok? Dalam hal ini, biasanya akan dianggap sebagai pilihan masing-masing. Bagi orang-orang sekuler, kita tidak perlu mengurusi kebiasaan orang lain. Jangankan merokok, mabuk dan zina pun dibiarkan. Namun pada akhirnya, sekularisme akan mentok juga. Tidak segala hal bisa dianggap urusan pribadi seseorang.

Di negara-negara sekuler, sudah biasa orang mengkritik pejabat publik yang memperlihatkan kebiasaan buruk. Obama dikritik karena merokok walaupun tidak pernah terlihat merokok di depan publik. Demikian pula minum bir, misalnya. Orang Barat biasa meminum bir. Tapi ketika pejabat publik disorot kamera ya harus "jaim". Gonta-ganti pacar, itu juga biasa bagi orang Barat. Tapi kalau ini terjadi pada seorang perdana menteri, ya enggak enak dilihatnya. Artinya, sekularisme gagal mempertahankan prinsip "individualismenya" sendiri.

Pada kenyataannya, manusia itu makhluk sosial. Tidak hidup masing-masing saja. Ketika Anda merokok, bisa dipastikan yang menghisap asapnya bukan Anda sendiri, dan ketika orang merokok, bisa dipastikan pula yang menyaksikan bukan dirinya sendiri. Bagaimana jika pejabat publik yang merokok? Siapa yang menyaksikan? Berapa yang tergoda untuk mengikuti?

Pada akhirnya, masyarakat sekuler di Barat pun mengakui kenyataan bahwa mereka harus melindungi anak-anak mereka sendiri. Mereka tidak mau pejabat publik melakukan hal-hal yang tidak baik, agar anak-anak mereka tidak meniru. Walaupun di sini orang-orang sekuler mengkhianati ideologinya sendiri, tapi di sisi lain bisa kita pujimasih ada akal sehatnya.

Nah, kalau sekuler inlander ini lain daripada yang lain, bahkan lain dari yang "sekuler beneran" sekalipun. Orang-orang sekuler inlander ini biasanya "lebih sekuler" daripada yang sekuler tulen. Di satu sisi, mereka masih beribadah, masih beragama, tapi cara berpikirnya bisa jadi nyerempet-nyerempet atheis. Demi mempertahankan "hak-hak individu", apa yang tidak selayaknya dibela pun dibela juga. Mungkin supaya kelihatan "sekuler 24 karat"? Ya, bisa saja. Namanya juga sekuler inlander. Kerjanya cari muka pada "majikan".

Di Indonesia, rokok sudah jadi masalah besar. Jangankan anak sekolah, balita saja ada yang merokok. Hebat kan? Saking fanatiknya pada rokok, teman saya cerita bahwa dia pernah bertemu orang yang mau merokok di dalam pesawat. Katanya, industri rokok menghidupi banyak orang. Oke, tapi rokok membunuh berapa orang? Katanya, industri rokok mendatangkan pemasukan. Oke, lalu kerugian akibat merokok berapa? Sudah dihitung? Di Barat, aturan-aturan ketat seputar rokok sudah diterapkan. Merokok dibuat susah. Malah, ada negara yang berwacana agar negaranya dijadikan benar-benar bebas rokok. Lagi-lagi, sekularisme gagal. Diam-diam banyak juga orang sekuler yang percaya pada "kebenaran absolut". Bahwa rokok itu lebih banyak merugikan daripada menguntungkannya, itu sudah pasti benar. Tak terbantahkan.

Namun, bagi kaum sekuler inlander, hal ini akan dibela terus. Mengapa? Karena kebenaran harus relatif? Generasi muda hancur karena rokok, tetap saja rokok dibela terusatas nama kebebasan. Sudah miskin, kecanduan merokok pula. Makin susah hidupnya. Tapi atas nama kebebasan, rokok harus dibela. Kalau memang benar menggunakan logika, rasionalitas, dan fakta-fakta ilmiah, harusnya semua orang sekuler itu antirokok. Kalau mengaku menjunjung tinggi hak-hak asasi masyarakat, harusnya semua orang sekuler itu antirokok. Tapi ya, begitulah dunia sekulerambigu. Mendesak rokok, tapi tidak bisa juga melarangnya. Minuman keras juga sama. Sudah jelas merusak, tapi masih dibela. Dibenci, tapi enggak ada yang berani melarang. Zina juga sama. Jelas-jelas biadab, tapi demi hawa nafsu ya dibela juga. Generasi hancur, apa boleh buat. Setidaknya, kaum sekuler yang masih berakal, masih berusaha mencegah ekses negatif dari hal-hal tersebut. Tapi sekuler inlander enggak.

Bicara soal sekuler inlander ini, saya selalu ingat pada tulisan Sumanto Al Qurtuby. Lihatlah di paragraf ketiga dari bawah. Benar, bagi orang sekuler, pelacuran itu sah-sah saja. Namun, siapa yang membandingkan pelacur dengan dosen? Bahkan orang sekuler yang menganggap zina itu boleh pun tak sudi membuat perbandingan demikian. Di negeri-negeri sekuler, meski pelacuran itu legal, tetap saja profesi dosen jauh lebih terhormat. Inilah "kebenaran absolut" yang diam-diam diyakini di negeri-negeri sekuler Barat. Tapi sekuler inlander lebih lebay gayanya. Demi membela apa yang hendak mereka bela, digunakanlah logika-logika menyesatkan.

Kita masuk lagi ke studi kasus. Perhatikan perkembangan wacananya, bukan hanya kasusnya. Muncullah gambar seperti ini.

Jelas, siapa pun yang membuat gambar seperti ini bukan hanya melakukan pembelaan, tapi juga menunjukkan kebencian. Kebencian pada apa? Ya, pada jilbab. Karena sejak awal kasus Bu Susi ini tidak membicarakan jilbab. Tidak ada yang mengkritisi Bu Susi karena tidak berjilbab. Memang di Indonesia belum semua berjilbab, sudah pada maklum. Yang dikritisi adalah merokok di depan publik. Namun, dalam hal ini isunya dibelokkan sedemikian rupa. Kemudian, digunakanlah citra muslimah berjilbab yang kurang baik, yaitu Ratu Atut yang sedang terjerat kasus. Ini logika sesat. Membela pencuri ayam dengan mengatakan bahwa di kampung sebelah ada yang mencuri kambing. Kemudian diambil ‘sepotong image’ untuk merusak citra. Dalam hal ini, yang dirusak adalah citra muslimah berjilbab. Jilbab dihadapkan dengan rokok dan tato. Hanya dengan satu sampel. Itu kata kuncinya: SAMPEL! Sama saja dengan yang bilang “lebih baik enggak berjilbab, tapi menjaga kehormatan daripada berjilbab, tapi diam-diam bejat.”

Kombinasi 1: merokok, bertato, pekerja keras.

Kombinasi 2: berjilbab, tidak merokok, tidak bertato, tapi diduga korupsi.

Padahal masih banyak kombinasi yang lain. Apa koruptor yang merokok tidak ada? Apakah koruptor perempuan itu lebih banyak yang berjilbab atau tidak? Statistik tidak bisa cuma menggunakan satu sampel. Kalau bisa pakai 1 sampel, boleh dong saya bikin perbandingan begini? Ini contoh saja.

Isu lainnya yang hot adalah mengenai pejabat publik yang kata-katanya kasar. Muncul jargon: “lebih baik memaki, tapi tidak korupsi!” Inilah sekuler inlander. Akalnya rusak. Padahal majikan mereka di Barat enggak begitu mikirnya. Biarpun sekuler, enggak ada yang mengabaikan sopan santun. Pernah membayangkan Obama bilang “A**hole!” (maaf ini cuma contoh) enggak? Kalau ini terjadi, pasti rakyat AS akan ngamuk. Padahal warga AS banyak yang sudah biasa mengucapkan kata itu. tapi tetap saja tidak layak bagi pemimpin. Coba lihat kenyataan di lapangan. Orang Indonesia sudah tidak lagi terbiasa bicara santun. Di Twitter, ada kelompok-kelompok yang suka mencaci-maki, bahkan kalau sudah mentok debat ujung-ujungnya kirim gambar porno. Di sekolah-sekolah, generasi muda sudah menjadi korban bullying. Kekerasan fisik dan verbal di mana-mana. Oke, korupsi itu masalah besar, tapi kekerasan fisik dan verbal juga sudah menjadi masalah besar di Indonesia. Jadi, kalau ada yang bilang pejabat enggak apa-apa maki-maki asal enggak korupsi, itu artinya dia tidak peduli negeri ini rusak.

Orang-orang sekuler inlander ini berusaha begitu keras untuk jadi sekuler sehingga mereka melampaui batas sekularisme itu sendiri. Sekularisme sudah mentok, dan orang-orang sekuler menyadarinya, tapi kaum sekuler inlander tidak peduli, semuanya ditabrak! Sebelum saya tutup, saya ingin jelaskan lagi bahwa persoalan Bu Susi hanya studi kasus di kultwit ini. Memang nyatanya hukum di negeri ini belum melarang rokok. Namun, ada standar perilaku untuk pejabat publik, meski tak tertulis. Kalau kita menggunakan akal sehat, pasti menyadari aturan-aturan tak tertulis tersebut. Baik yang sekuler maupun yang tidak. Saya tidak mengatakan bahwa Bu Susi harus mundur karena alasan tersebut. Bongkar-pasang kabinet belum tentu hal yang bagus. Saya juga tidak mempertanyakan kecerdasan Bu Susi. Orang yang bisa mengelola maskapai enggak mungkin bodoh kan?

Saya hanya ingin katakan bahwa banyak orangtua yang berharap anak-anak mereka bisa memiliki panutan yang baik. Itu saja. Tapi kalau sudah sekuler inlander, ya tidak ada lagi akal sehat. Tidak bisa diajak bicara baik-baik lagi. Apa pun dilakukan meski dengan pemikiran setengah matang atau jangan-jangan tidak dipikirkan dulu?  Semoga kita terhindar dari kejahilan yang demikian.

   Add Friend

26 Oktober 2014

Gold, Silver, dan Bronze: Serba-serbi Bentuk Kerja Sama Sponsorship

Pada posting-an kali ini saya akan kembali melanjutkan mengenai serba-seri proposal sponsorhip. Mungkin kamu membaca tulisan ini karena mengklik link dari posting-an sebelumnya, tapi kalau kamu mampir ke sini karena rekomendasi Google, sebelum tulisan ini saya publikasikan, saya memublikasikan dua artikel terkait keuangan kepanitiaan kampus. Yang pertama, saya membahas mengenai kesalahan apa saja yang kerap terjadi dalam manajemen keuangan kepanitiaan di kampus, dan yang kedua saya membahas mengenai kiat membuat proposal sponsorship.

Sekarang saya akan membahas mengenai kontraprestasi. Kontraprestasi ini menjadi satu hal yang sangat penting, tetapi juga tricky. Dalam artikel yang membahas mengenai kesalahan apa saja yang kerap terjadi dalam manajemen keuangan kepanitiaan di kampus, saya mengatakan bahwa meskipun acara kita membutuhkan anggaran yang sangat besar, kita juga harus mempertimbangkan dengan bijak berapa angka yang akan kita cantumkan di dalam proposal (dalam kontraprestasi). Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu saat kita hendak mencantumkan besarnya angka yang ingin kita ajukan. Ketika kita tahu bahwa track record acara yang kita pegang kurang baik dalam hal mendapatkan sponsor, kita harus peka bahwa mungkin selama ini panitia terlalu tinggi memasang paket sponsor di dalam proposal sementara acara itu sendiri mungkin kurang menggugah si calon pemberi sponsor. Dalam hal ini, panitia harusnya menurunkan besarnya permintaan sponsor dalam tabel kontraprestasi.

Secara umum, saya selalu menyarankan untuk membuat kontraprestasi yang kira-kira sepadan dengan besarnya acara dan target khalayak kita. Acara X mungkin sangat besar, tapi target khalayaknya sangat tersegmentasi. Tentunya kita tidak bisa berharap lebih dibandingkan dengan acara yang mungkin tidak sebesar acara Y, tapi terget khalayaknya lebih luas dan variatif. Artinya, coba pikirkan apakah paket sponsor yang kita tawarkan "masuk akal".

Penjabaran Bentuk Kerja Sama dalam Proposal

Tabel kontraprestasi yang mungkin sering kamu lihat di berbagai proposal sponsorship sebetulnya masuk dalam bagian Bentuk Kerja Sama. Bentuk kerja sama ini bisa dalam berbagai bentuk dan oleh karena itu harus kita jabarkan dengan sejelas (dan semenarik) mungkin dalam proposal. Di sini saya akan memberi contoh bentuk kerja sama yang bisa kita tawarkan dalam proposal untuk acara-acara berskala besar. Ukuran "skala besar" yang saya maksud di sini akan saya ambil dengan standar di BEM FISIP UI (pada masa saya dulu) di mana acara skala besar adalah acara dengan budget di atas 26 juta rupiah. Karena besarnya dana yang dibutuhkan untuk menjalankan acara-acara skala besar maka sebaiknya kita mencantumkan empat pilihan bentuk kerja sama dalam proposal, yaitu:
  1. sponsor utama
  2. paket sponsorship
  3. sponsor in-kind
  4. sponsor alternatif
Mungkin kamu sudah cukup mengenal dengan tipe sponsor tunggal dan paket sponsorship, tapi belum begitu familiar dengan sponsor alternatif dan sponsor in-kind. Berikut penjelasan keempat macam bentuk kerja sama sponsorship ini.

1. Sponsor utama

Saya bisa bayangkan kalau ada satu kepanitiaan dengan anggaran yang sangat besar dan bisa mendapatkan sponsor utama, itu rasanya pasti kayak mau sujud syukur terus seharian. Mendapatkan pihak yang mau jadi sponsor utama memang bukan hal yang mudah, bahkan dalam satu tahun, suatu organisasi kemahasiswaan belum tentu bisa mendapatkan satu perusahaan yang mau menjadi main sponsor dalam satu acara mereka. Namun demikian, bentuk kerja sama ini tetap harus kita masukkan ke dalam proposal.

Biasanya, kalau kita mendapatkan sponsor yang membiayai hampir sebagian besar (atau bisa jadi keseluruhan) acara kita maka kita harus rela logo acara kita berdampingan dengan logo perusahaan atau produk sponsor. Ini sebetulnya bukan masalah besar karena biar bagaimanapun toh anggaran kita sudah aman dan kita bisa menjalankan acara dengan tenang tanpa perlu terbayang-bayang cara menutupi kekurangan anggaran. Jadi, kalau kamu pernah melihat suatu acara dengan model seperti: "Organisasi A dan Produk X mempersembahkan acara Z" atau semacam itu, artinya si Produk X menjadi sponsor utama dari acara tersebut.

Bagaimana cara mencantumkan bentuk kerja sama ini? Sebetulnya mudah saja. Kamu cukup memberikan deskripsi singkat mengenai apa yang dimaksud dengan sponsor utama ditambah dengan keuntungan-keuntungan apa saja yang bisa didapatkan dari pihak perusahaan jika mereka mengambil paket ini.

Dalam paket yang terbilang sangat istimewa ini, eksklusivitas menjadi sangat penting. Eksklusif di sini dalam arti, kita bisa menawarkan tidak adanya logo kompetitor yang juga masuk di dalam daftar sponsor acara kita. Kata kompetitor ini perlu digarisbawahi. Hanya karena kita mendapatkan satu sponsor utama bukan berarti kita tidak boleh mencari sponsor lain. Ini boleh-boleh saja. Hanya saja, kita harus bisa memberikan eksklusivitas pada si pihak sponsor utama. Salah satunya adalah dengan tidak mencari sponsor lain dari produk serupa yang menjadi kompetitor main sponsor. Jadi, kalau misalnya kita mendapatkan main sponsor dari produk minuman bersoda maka kita jangan lagi mencari sponsor dari produk minuman bersoda lainnya.

2. Paket Sponsorship

Paket sponsorship atau yang biasa kita kenal dengan tabel kontraprestasi ini adalah satu paket yang biasanya menjadi andalan semua kepanitiaan dan sekaligus yang biasanya langsung dilirik oleh pihak perusahaan. Namun, membuat tabel ini bisa menjadi hal yang sangat tricky jika tidak dipikirkan secara matang-matang. Seperti yang saya sampaikan di atas, meskipun kita membutuhkan dana yang sangat besar, tapi kita juga harus melihat bagaimana track record acara yang sedang kita jalankan ini selama beberapa tahun terakhir dalam hal pendapatan sponsor. Atau, jika ini adalah acara baru, bagaiman track record acara serupa di tahun-tahun sebelumnya. Artinya, kita harus riset.

Katakanlah track record acara tersebut selama ini kurang begitu bagus dalam hal pendapatan sponsor, itu artinya kita harus menelaah apa yang salah dari proposal sponsorship yang diajukan selama ini (selain tentunya harus dipikirkan juga apakah acara yang kita buat itu memang punya suatu nilai jual di mata perusahaan).

Sebagai contoh, saya ingin membuat suatu kegiatan kemahasiswaan, mungkin ini semacam inisiasi mahasiswa baru, tapi saya ingin membuat acara yang cukup besar dan oleh karena itu butuh banyak uang. Katakanlah anggaran kita sebesar 26,5 juta rupiah. Kita tahu bahwa acara ini punya peserta yang sangat tersegmentasi, yaitu para mahasiswa baru (misalnya). Oleh karena itu, kita memang tidak bisa mengharapkan bisa mendapatkan sponsor besar. Membuat kontraprestasi seperti di bawah ini adalah suatu kesalahan.

Klik untuk memperbesar gambar.

Seperti yang saya jelaskan di atas, sebaiknya untuk paket kerja sama sponsor tunggal atau sponsor utama dibuat secara terpisah. Dalam tabel di atas, kita lihat bahwa total anggaran yang dibutuhkan dimasukkan sepenuhnya sebagai bentuk paket Tunggal. Paket Gold, di satu sisi, bernilai 15 juta rupiah. Jika saya di posisi perusahaan, saya tentunya berpikir ini sangat mengada-ada. Karena jelas, peserta kegiatan sangatlah terbatas. Perusahaan butuh promosi, mereka butuh pencitraan dari publik, dan butuh penjualan. Ketika mereka berinvestasi hingga 15 juta rupiah untuk satu kegiatan yang sangat segmented maka itu akan dianggap sebagai satu hal yang sia-sia.

Contoh lain. Masih soal kegiatan kemahasiswaan. Misalnya saya ingin membuat semacam buku saku untuk para mahasiswa baru. Buku saku ini berisi informasi penting mengenai segala kegiatan kemahasiswaan selama setahun penuh, lengkap dengan kalender akademik, dsb. Berbeda dengan contoh sebelumnya, proyek inimeskipun sama-sama berhubungan dengan mahasiswa barumemiliki nilai jual, yaitu buku yang berisi informasi penting bagi mahasiswa baru. Artinya, buku ini (kemungkinan besar) akan dibaca sepanjang tahun oleh si mahasiswa. Ketika perusahaan membandingkan kedua proposal (antara kegiatan inisiasi di atas dan buku saku ini) pastinya perusahaan akan merasa lebih tertarik berinvestasi di proyek ini karena mereka bisa promosi dalam bentuk iklan di buku yang (jelas) akan dibaca dan dibawa kemana-mana oleh si mahasiswa bahkan bisa jadi dipinjam oleh orang lain yang bukan mahasiswa dari kampus tersebut. Artinya, cakupan promosinya menjadi jauh lebih luas dan ini menjadi hal yang sangat penting bagi si pemberi sponsor.

Katakanlah biaya produksi buku ini sekitar 15 juta rupiah. Panitia proyek ini kemudian membuat kontraprestasi sebagai berikut:

Klik untuk memperbesar gambar.

Panitia memberikan enam pilihan paket sponsorship dengan paket yang paling besar hanya sebesar 7,5 juta rupiah atau 50% dari total anggaran yang dibutuhkan untuk biaya produksi. Bentuk paket yang seperti ini bisa saya katakan jauh lebih visible untuk didapatkan daripada kalau harus "memaksakan" mencantumkan 80-90 persen dari total anggaran sebagai dana yang diharapkan pada paket yang paling tinggi. Jadi, kita memang harus benar-benar memikirkan apakah dengan apa yang kita minta atau harapkan dari perusahaan akan sepadan dengan apa yang akan didapatkan oleh perusahaan? Tentunya kita ingin untung, tapi begitu juga perusahaan. Jadi, karena ini namanya "kerja sama" maka kita harus berpikir win-win solution. Tidak perlu terlalu memaksakan kehendak untuk mendapatkan sponsor yang akan membiayai 90% kegiatan atau proyek kita, lebih baik kita memberi standar permintaan yang masih wajar, tapi dengan begitu ada lebih banyak peluang untuk mendapatkan sponsor lainnya karena jumlah yang diminta tidak terlampau tinggi.

3. Sponsor In-kind

Terkadang kerja sama tidak harus selalu bicara soal fresh money. Mungkin kamu membuat suatu kegiatan kompetisi fotografi. Panitia menyediakan tiket pesawat pergi-pulang ke Surabaya bagi juara I, II, dan III kompetisi tersebut. Dalam hal ini, daripada mencari dana untuk membeli tiket pesawat, panitia bisa mencari sponsor in-kind dengan suatu perusahaan maskapai penerbangan untuk menyediakan satu tiket untuk ketiga pemenang.

Sponsor in-kind dapat berupa promosi dan penyebaran sampling produk saat pelaksanaan acara atau penggantian biaya produksi materi yang sifatnya dapat dinegosiasikan oleh kedua belah pihak. Pihak sponsor juga bisa menyediakan perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan oleh kegiatan tersebut. Kerja sama in-kind biasanya sangat lazim untuk masalah penyediaan makanan dan minuman pada saat acara berlangsung dan juga hadiah untuk para peserta. Untuk selengkapnya bisa melihat daftar di bawah ini:
  • Makanan dan minuman
    Menyediakan konsumsi kepada peserta, pembicara, trainer, panelis, dan juga panitia selama acara berlangsung.
  • Transportasi
    Memberikan fasilitas transportasi untuk peserta.
  • Akomodasi
    Menyediakan fasilitas penginapan untuk peserta.
  • Seminar kit
    Menyediakan seminar kit dan goody bag untuk peserta, pembicara, dan trainer.
  • Venue
    Menyediakan tempat untuk acara, seminar, atau training.
  • Percetakan
    Menyediakan fasilitas percetakan atau memberi diskon percetakan untuk publikasi acara.
  • T-shirt
    Menyediakan t-shirt untuk panitia.
  • Hadiah
    Menyediakan hadiah pada saat acara berlangsung
Kedelapan hal di atas adalah hal-hal yang lazim diminta sebagai bentuk kerja sama in-kind. Namun demikian, perlu diingat bahwa biar bagaimanapun kerja sama ini juga tetap kerja sama sponsorship dan karena itu pihak perusahaan yang terlibat juga berhak mendapatkan space publikasi di acara kita. Maka dari itu, sangat penting untuk membuat kontraprestasi kerja sama in-kind. Sejujurnya, saya sangat jarang melihat proposal sponsorship yang secara detil memasukkan bentuk kerja sama in-kind, padahal ini juga penting.

4. Sponsor Alternatif

Bentuk kerja sama keempat adalah paket alternatif. Paket alternatif ini diperlukan untuk meng-cover keinginan pihak perusahaan yang ingin ikut serta dalam kegiatan kita, tetapi merasa paket yang kita ajukan (meskipun sudah negosiasi) terlalu mahal. Oleh karena itu, kita bisa masukkan pula paket sponsor alternatif. Biasanya, paket ini lebih murah daripada yang ada di tabel kontraprestasi.

Sebagai contoh, masih soal proyek buku saku yang ditujukan untuk para mahasiswa baru. Dalam proposal, kita sudah mencantumkan tabel kontaprestasi. Di bawah tabel tersebut, kita bisa masukkan pula tabel paket sponsor alternatif dengan contoh sebagai berikut:

Klik untuk memperbesar gambar.

Pada tabel paket sponsor alternatif di atas, jumlah dana yang diminta dalam paket alternatif sangatlah kecil. Untuk Paket Alternatif 2 bahkan hanya 10% dari nilai Paket A pada paket sponsorship. Tentunya dengan nilai yang kecil yang didapatkan oleh perusahaan juga sebanding dengan apa yang mereka keluarkan dan itu adalah suatu hal yang sangat wajar.

Contoh lain, misalnya saya membuat suatu acara seminar dan workshop fotografi yang sangat besar. Acara ini akan diadakan untuk yang kedelapan kalinya. Total anggaran yang dibutuhkan untuk menjalankan acara ini sebesar 35 juta rupiah. Kepanitiaan saya membuat paket sponsorship sebagai berikut:

Klik untuk memperbesar gambar.

Ketika kita mengajukan permohonan sponsorship pada suatu perusahaan dan mereka tahu bahwa dengan ikut serta di kegiatan ini cukup menguntungkan, mereka pasti akan tertarik. Hanya saja, terkadang, bagi perusahaan-perusahaan tertentu, mereka masih belum percaya 100% pada acara kita atau mungkin juga perusahaan ini sebetulnya adalah perusahaan yang sudah sering bekerja sama dengan kita, tapi kita datang pada saat yang kurang tepat untuk meminta bantuan dana. Oleh karena itu, di sinilah paket alternatif diperlukan.

Dalam hal ini, panitia kemudian juga memasukkan rincian paket alternatif. Agar lebih variatif, paket alternatif ini dibagi lagi ke dalam dua nama paket, yaitu Paket Hemat dan Paket Single. Berikut contohnya:

Paket Hemat

Klik untuk memperbesar gambar.

Paket Single

Klik untuk memperbesar gambar.


Dari dua tabel jenis paket alternatif di atas, Paket Hemat adalah paket yang nilainya lebih kecil daripada Paket Silver pada tabel kontraprestasi Paket Sponsorship, sedangkan di Paket Single, panitia menawarkan nilai yang lebih kecil jika si perusahaan hanya menginginkan partisipasi kecil-kecilan dan hanya sekedar memasukkan logo perusahaan atau produknya di media publikasi acara. Biar bagaimanapun, membuat paket alternatif sangat penting sehingga perusahaan yang hendak kita ajak bekerja sama lebih bisa melihat variasi kerja sama yang mungkin bisa mereka lakukan dengan pihak panitia.

Penulis pernah menjabat sebagai Staf Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2009, Project Officer GRAFITY UI 2009, Kepala Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010, Steering Committe GRAFITY UI 2010, dan Kepala Kantor Komunikasi BEM FISIP UI 2011.

Kiat "Melamar" Calon Sponsor dengan Proposal Sponsorship

Bicara soal keuangan kepanitiaan di kampus rasanya memang tidak akan pernah ada habisnya. Bagi saya pribadi, ini suatu topik yang selalu menyenangkan sekaligus menantang untuk dibahas sekalipun saya sudah tidak lagi berada di kampus.

Beberapa minggu lalu saya memublikasikan satu artikel mengenai berbagai masalah keuangan yang kerap terjadi di kepanitiaan kampus dan kenapa orang-orang enggak bisa "move" on dari masalah itu selama bertahun-tahun. Artikel itu memang lumayan panjang, tapi saya pikir sangat menarik untuk dibaca jika kamu memang lagi "bersusah payah" mengurus keuangan kepanitiaan yang sedang kamu jalani.

Anyway, hari ini saya ingin berbagi tentang satu unsur yang sangat penting dalam pencarian dana, yaitu proposal. Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa saya bukanlah orang yang paling ahli dalam hal pencarian sponsor dengan proposal. Faktanya, selama di kampus, kepanitiaan yang saya pimpin hampir tidak pernah mendapatkan sponsor dalam bentuk fresh money. Namun, selama berkecimpung di "dunia keuangan" BEM di kampus, saya belajar banyak hal mengenai manajemen keuangan, termasuk soal pembuatan proposal sponsorship. Jadi, di sini saya mau berbagi tentang apa sih yang harus dibuat di dalam sebuah proposal sponsorshipsetidaknya menurut versi saya pribadi.

Sistematika Proposal Sponsorship

Soal susunan isi proposal pastinya menjadi satu hal yang sangat penting. Susunan proposal ini kadang memang memicu berbagai perdebatan mengenai apa saja yang harusnya dimasukkan dan tidak perlu dimasukkan, tapi setidaknya ada poin-poin penting yang wajib dimasukkan ke dalam sebuah proposal sponsorship, antara lain:
  1. latar belakang
  2. tujuan
  3. tema kegiatan
  4. nama kegiatan
  5. deskripsi kegiatan
  6. waktu dan tempat
  7. sasaran kegiatan
  8. anggaran (secara general)
  9. bentuk kerja sama
  10. media publikasi
  11. benefit bagi perusahaan
  12. ketentuan pembayaran
  13. penutup
Dari tiga belas poin di atas, bagi mereka yang cukup sering membuat proposal mungkin akan sadar bahwa setidaknya ada tiga bagian yang hilang, yaitu: lampiran susunan kepanitiaan, lampiran susunan acara, dan lembar pengesahan. Ketiga lembaran ini memang tidak dibutuhkan dalam sebuah proposal sponsorship. Kalau kamu berniat mencetak proposal sponsorship dengan desain tertentu, mengurangi tiga halaman ini tentunya bisa memangkas anggaran cetak proposal.

Kenapa kita tidak butuh tiga halaman ini? Pertama, pihak perusahaan tidak perlu (dan biasanya tidak mau) tahu mengenai susunan kepanitiaan kita. Yang mereka inginkan adalah bagaimana ini semua bisa berjalan dengan baik dan mereka bisa mendapatkan benefit tertentu dengan bekerja sama dengan kepanitiaan kalian. Kedua, perusahaan tidak perlu tahu (dan biasanya tidak mau) jam berapa acara dimulai, jam berapa acara dibuka oleh sambutan-sambutan, dsb., they don't need that. Yang mereka ingin tahu hanya kapan acara dilaksanakan dan di mana acara tersebut dilaksanakan.

Ketiga, perusahaan membutuhkan lembaran pengesahan (yang berisi berbagai tanda tangan pengesahan dari lembaga yang menaungi kepanitiaan tersebut). Beberapa perusahaan mungkin membutuhkan semacam legitimasi dari pihak panitia bahwa acara ini memang legal karena pastinya untuk menginvestasikan jutaan rupiah itu bagi perusahaan butuh kepastian. Oleh karena itu, daripada memasukkan lembar pengesahan ke dalam proposal, sebaiknya ketika mengirimkan proposal sertakan pula surat pengantar proposal dari lembaga terkait, dekanat, atau rektorat. Bila perlu, sertakan pula surat rekomendasi atau surat pernyataan dukungan dari dekanat atau rektorat. Menurut saya, dengan menyertakan surat rekomendasi semacam ini sudah memberikan legitimasi yang kuat bagi kepanitiaan dan acara tersebut.

Kesalahan Turun-temurun

1. Perkara latar belakang

Ada beberapa hal yang sering saya temukan sebagai kesalahan umum atau sebut saja, kesalahan turun-temurun dalam proposal (entah itu proposal acara atau proposal sponsorship). Kesalahan pertama dimulai dari penulisan latar belakang atau pendahuluan dalam proposal. Latar belakang adalah satu hal yang penting yang pasti dibaca oleh pihak perusahaan. Saya bisa mengatakan bahwa banyak proposal kegiatan yang gagal dalam menulis latar belakang yang baik karena sewaktu masih di BEM sebagai kepala kantor komunikasi, saya "membuat" pekerjaan baru (bagi diri saya), yaitu mengecek dan merevisi semua proposal yang akan dikeluarkan. Hampir sebagian proposal tidak bisa menjelaskan alasan "kenapa" acara ini penting dan harus diadakan. Hampir tidak ada proposal yangkalau saya mencoba memposisikan diri sebagai pihak perusahaanmenggugah saya untuk ingin tahu lebih banyak atau seburuk-buruknya ingin membaca sampai tiga halaman berikutnya. Jadi, ini adalah masalah serius.

Poin latar belakang dalam sebuah proposal adalah ibarat pintu awal untuk "mengetuk" hati si perusahaan agar mau ikut serta menginvestasikan uangnya di acara kita. Jika kita tidak mampu menjelaskan secara jelas alasan di balik diadakannya acara ini maka tidak heran jika proposal kerap tidak mendapatkan respon dari perusahaan. Orang-orang di perusahaan butuh sesuatu yang jelas, sesuatu yang bisa menarik perhatian mereka, sesuatu yang membuat mereka setuju bahwa ini memang penting dan karenanya perlu dibantu. Oleh karena itu, pastikan kamu membuat latar belakang kegiatan yang jelas, tepat sasaran, jelas urgensinya, dan singkat (tidak bertele-tele apalagi berbunga-bunga).

2. Tujuan acara tidak tepat

Saya tahu ada beberapa acara yang (secara tulus) diadakan dengan tujuan untuk kegiatan sosial, dan ini bagus. Namun demikian, acara ini jelas tetap membutuhkan dana untuk beroperasi dan oleh karena itu butuh bantuan sponsor. Dari segi latar belakang, proposal acara ini mungkin sudah baik, tapi kemudian "tersangkut" di bagian tujuan. Poin tujuan dalam proposal ini juga menjadi suatu hal yang penting karena itu akan menggambarkan hasil apa yang ingin kita capai dengan dibuatnya acara ini. Saya tahu bahwa beberapa poin tujuan dalam proposal-proposal yang pernah saya baca di kampus dulu memang apa adanya, dalam arti ya... memang begitu tujuannya, jujur apa adanya. Namun terkadang, sekalipun perusahaan itu punya dana tanggung jawab sosial (yang kita kenal dengan CSR/Corporate Social Responsibility), perusahaan itu tetap sungkan untuk bekerja sama dengan kegiatan-kegiatan sosial kita. Kenapa? Bisa jadi karena tujuannya dianggap kurang "bermanfaat" bagi si perusahaan atau kurang memiliki dampak yang signifikan.

Oke, kita bicara soal perusahan. Perusahaan itu bicara soal bisnis. Bisnis itu bicara soal untung dan rugi, dan pastinya biar bagaimanapun perusahaan tidak mau merugi sekalipun mereka mengivestasikan dana yang cukup besar untuk CSR. Oleh karena itu, ada dua hal yang bisa kamu lakukan. Pertama, kamu harus membedakan poin tujuan acara yang akan dibuat di proposal kegiatan dan proposal sponsorship. Ini penting. Kamu bisa membuat tujuan kegiatan yang "apa adanya" (jujur) dalam proposal kegiatan, tapi kamu harus bisa membuat poin tujuan yang lebih mengena ke perusahaan dalam proposal sponsorship sehingga ketika mereka membaca, mereka merasa bahwa acara ini memang punya prospek yang baik dan punya dampak yang signifikan. Tentunya dengan membedakan seperti ini, bukan berarti kita "membesar-besarkan" acara kita. Itu namanya berbohong dan jelas tidak etis. Maksud saya adalah, ada kalanya kita harus bisa memutar otak, bermain kata, sehingga apa yang kita sajikan bisa lebih menarik perhatian pihak perusahaan.

Kedua, kalau kamu tidak begitu bisa "merangkai kata" untuk membuat poin tujuan di proposal sponsorship ini berbeda dengan poin tujuan di proposal kegiatan, kamu harus bisa menjelaskan kenapa dengan berinvestasi di kegiatan ini adalah pilihan bijak bagi perusahaan di bagian "Benefit bagi Perusahaan". Namun, bagi saya pribadi, yang kedua ini kurang saya sarankan karena bagian ini sudah masuk di bagian belakang proposal. Padahal, biasanya orang-orang hanya membaca satu sampai dua halaman awal, kemudian anggaran, dan kontraprestasi. Jadi, menurut saya, sebaiknya tetap usahakan untuk membuat tujuan yang lebih mengena bagi si perusahaan kemudian juga ditambahkan manfaat yang akan didapatkan perusahaan jika mereka ikut serta dalam kegiatan tersebut.

3. Bingung antara tema dan tagline

Hal yang ketiga ini adalah satu hal yang menurut saya paling gengges. Saya tidak tahu siapa yang memulai, tapi hampir semua proposal yang saya lihat di BEM, HM, BO, atau BSO, keder dengan bagian tema. Rata-rata di bagian tema akan menulis sesuatu yang lebih mirip dengan tagline, dan ini memang benar, karena biasanya di cover proposal akan ada logo acara dan di bawahnya akan ada tagline yang juga dicantumkan di bagian tema dalam proposal tersebut.

Pertama, tema adalah tema, tagline adalah tagline. Jangan mencampurkan adukkan dua hal ini. Satu hal ini pasti selalu saya berikan komentar di setiap proposal yang saya cek dulu di kampus.

Katakanlah kita membuat suatu acara pentas musik. Saya ingin membuat pentas musik yang diisi dengan penyanyi-penyanyi rock, baik yang berasal dari dalam maupun luar kampus. Namun, yang terbayang dalam otak saya, saya ingin desain panggung yang "gelap" dan misterius karena ini menyambut hari Halloween (misalnya). Saya ingin para performers nantinya mengenakan topeng saat mereka tampil. Saya mau para pengunjung nanti merasakan sensasi antara senang, bergairah, horor, "dingin", dsb. Oleh karena itu, (misalnya) saya membuat acara bernama Dark Music Fest 2014, dengan tagline "Let the Fear Fears You" (ini satu tagline yang terbaik yang terlintas dalam otak saya saat menulis ini). Tagline ini bukanlah tema acara. Tema acara ini bisa jadi, "Pesta Halloween" atau "Spooky, yet Fun", atau "Bersenang-senang dalam Kengerian", dsb.

Sekilas mungkin tema yang saya sebutkan ini juga bisa menjadi tagline, khususnya "Spooky, yet Fun" dan  "Bersenang-senang dalam Kengerian". Namun, sebetulnya, ini tetap dua hal yang berbeda. Ketika saya mengangkat tema "Spooky, yet Fun" dalam acara ini, artinya acara ini harus berada dalam dua jalur yang tidak boleh keluar dari jalurnya, yaitu acara ini harus bernuasa horor, tapi juga harus bisa menghibur. Seluruh konsep acara dan performers yang akan tampil harus berada dalam "koridor" dua konsep ini. Ketika saya mau "Spooky, yet Fun" sebagai tagline acara saya, ini artinya saya mau penonton atau pengunjung ketika melihat atau mendengar acara Dark Music Fest 2014 ini langsung berpikir bagaimana keseruan yang akan mereka dapatkan ketika menghadiri acara ini. Jadi, tagline bicara soal marketing, soal bagaimana kita memperkuat "dagangan" (acara) kita dengan kata-kata yang powerful untuk menambah daya tarik. Jadi, ini soal audience. Tema, di lain hal, adalah soal konsep besar acara ini, apa yang menjadi landasan baik penyelenggara agar acara ini berjalan sesuai dengan jalurnya. Jadi, tema bicara dari sisi si penyelenggara.

Sejujurnya, poin ketiga ini, soal tema dan tagline, tidak berpengaruh pada diterima atau tidaknya permohonan sponsorship, tapi menurut saya ini suatu hal yang sangat esensial dan perlu diperbaiki karena selama ini selalu salah kaprah.

Berikutnya saya akan membahas mengenai kontraprestasi yang harus kita buat dalam sebuah proposal sponsorship. Namun, untuk yang satu ini akan saya publikasikan di posting-an berikutnya. Semoga bermanfaat!

Penulis pernah menjabat sebagai Staf Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2009, Project Officer GRAFITY UI 2009, Kepala Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010, Steering Committe GRAFITY UI 2010, dan Kepala Kantor Komunikasi BEM FISIP UI 2011.

15 Oktober 2014

RBTH Indonesia: Sebuah Perjalanan dan Pengalaman Luar Biasa

Beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat semangat menulis. Rasanya selalu ada ide yang ingin saya tuangkan ke dalam blog. Kali ini saya ingin berbagi mengenai apa saya lakukan dengan pekerjaan saya dan bagaimana saya akhirnya bisa terjun ke pekerjaan ini.

Setidaknya beberapa bulan sejak saya bergabung di RBTH Indonesia, banyak yang bertanya tentang bagaimana pertama kali saya bisa diterima di perusahaan media yang belum genap setahun usianya di Indonesia. Sebetulnya ini bermula dari perkenalan saya dengan seorang bule Rusia yang sedang belajar di UI pada pertengahan 2010.

Pertemuan Random di Stasiun UI

Saya punya kesenangan yang menurut saya pribadi agak aneh, tapi di satu sisi, saya merasa harus melakukan "kesenangan" ini kalau ingin berkembang. Ya, salah satu kesenangan saya adalah SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan bule-bule demi memperlancar bahasa Inggris. Bagi saya ini penting karena saya tidak pernah mengenyam pendidikan bahasa Inggris di lembaga pendidikan bahasa Inggris manapun. Saya tidak pernah ikut kursus karena ayah saya yang mengajarkan saya bahasa Inggris sejak saya kecil. Namun, sejak ayah saya meninggal pada tahun 2007, praktis saya tidak pernah belajar bahasa Inggris lagi, atau setidaknya tidak ada orang yang bisa diajak berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Ayah saya sebetulnya juga tidak pernah kursus bahasa Inggris. Saya pikir beliau sangat hebat karena belajar bahasa Inggris secara otodidak. Beliau selalu cerita dulu bahwa di kampungnya ia sering SKSD dengan bule-bule turis yang berwisata ke Sumatera Barat. Itu adalah salah satu cara ayah saya berlatih bahasa Inggris tanpa ada tutor sama sekali.

Terinspirasi dari situ, sejak kepergian ayah saya, saya merasa harus melakukan hal yang serupa kalau ingin maju. Karena jujur saja, kursus bahasa Inggris itu tidak murah dan setelah ayah saya meninggal, pastinya perekonomian keluarga juga berpengaruh sehingga kami harus benar-benar mengatur keuangan dengan sebaik mungkin. Saya pikir, karena saya (merasa) sudah cukup mendapatkan banyak pelajaran bahasa Inggris, jadi mungkin tidak terlalu perlu ikut kursus lagi.

Namun, biar bagaimanapun, saya tetap perlu berlatih berkomunikasi. Karena bahasa adalah masalah kebiasaan. Semakin biasa berbicara dengan bahasa asing maka pastinya akan semakin lancar. Jadi, saya butuh... bule. Sebetulnya, di Jakarta ada banyak bule, tapi kalau di UIsetidaknya selama masa saya kuliahbelum sebanyak sekarang.

Nah, jadi, bermula dari pertemuan saya dengan seorang bule Rusia yang sedang belajar di UI. Pertemuan ini sebetulnya sebuah kebetulan walau saya pikir sekarang pertemuan itu memang seperti sudah "digariskan" (ini menurut saya ya). Liza, namanya, saat itu sedang menunggu kereta ke Jakarta dari Stasiun UI. Saya juga saat itu mau pulang dan karena melihat bule yang sedang menunggu kereta ini, saya langsung duduk di sebelahnya dan menyapa. Reaksinya? Kaget. Pastinya ini hal yang wajar karena setelah saya lebih akrab dengan Liza, dia cerita bahwa di Rusia (atau ya... di Barat pada umumnya) memang tidak biasa untuk menyapa orang asing di tempat umum.

Intinya, saya berkenalan dengan Liza di Stasiun UI. Saat itu dia sedang belajar Bahasa Indonesia. Bagi saya, ini sangat menarik karena ada orang Rusia mau belajar bahasa Indonesia. Untuk apa? Liza juga tidak tahu, tapi dia memang belajar bahasa Indonesia di Rusia dan dia ke Indonesia untuk memperlancar bahasa Indonesianya. Sejak pertemuan (yang saya anggap) random itu, saya berteman baik dengan Liza, bahkan pada Lebaran 2010, saya mengajak dia ke rumah untuk mencicipi hidangan Lebaran ala orang Indonesia, dan dia suka!

Liza tinggal di Depok selama setahun. Dia kembali ke Moskow pada pertengahan 2011. Meskipun berteman baik, bukan berarti saya sering bertemu dengan dia di kampus karena saya juga punya banyak kegiatan di kampus, begitu juga dengan dia. Namun, Facebook sangat membantu berkomunikasi bahkan hingga dia kembali di Moskow, setidaknya beberapa kali saya mengobrol dengan Liza di situs jejaring sosial ini.

Bersyukur Punya LinkedIn

Pada awalnya, saya pikir LinkedIn adalah salah satu jejaring sosial yang paling membosankan. Ini bisa dimaklumi karena jejaring sosial yang satu ini memang digunakan untuk membangun jaringan profesional. Namun, karena saya suka mencoba berbagai macam media sosial, saya pikir tidak afdol kalau tidak punya LinkedIn. Dan ya, saya pun akhirnya membuat satu akun LinkedIn.

Saat itu saya masih bekerja di aora TV Satelit dan berencana untuk pindah, mencari pengalaman baru. Suatu hari saya melihat Liza memublikasikan lowongan guest-editor untuk RBTH Asia di grup LinkedIn FISIP UI.

Saat melihat lowongan itu, saya langsung mengirimkan email ke Liza dan menanyakan apakah saya bisa mendaftar. Saat itu Liza mengatakan bahwa mereka mencari orang yang sudah lebih berpengalaman. Saya secara fair harus mengatakan bahwa saya memang tidak ada pengalaman editing di dunia kerja. Pekerjaan saya di aora TV sangat jauh dari jurnalisme.

Saat itu saya masih sempat berkirim email beberapa kali dengan Liza dan membantunya memberikan rekomendasi mengenai orang-orang yang mungkin bisa mengisi posisi guest-editor yang dicari. Pada saat itulah saya baru tahu soal Russia Beyond the Headlines (RBTH). Liza menjelaskan bahwa RBTH akan meluncurkan produk terbarunya, yaitu RBTH dalam bahasa Indonesia dalam waktu dekat. Oleh karena itu, mereka kini sedang mencari guest-editor yang harus seorang penutur asli bahasa Indonesia. Liza sendiri menjabat sebagai editor untuk RBTH Indonesia.


Dari Freelancer Hingga Karyawan Tetap

Pada bulan Oktober 2013, saya pindah ke sebuah agensi digital. Lagi-lagi, ini bukan bidang jurnalisme. Padahal saya kuliah di jurusan jurnalisme. Namun, memang, kalau boleh jujur, saya tidak begitu ingin menjadi wartawan. Menjadi wartawan itu haruslah passion, panggilan hati. Saya pikir, saya tidak punya passion yang cukup besar untuk menjadi seorang wartawan. Namun, saya suka menulis dan pekerjaan editing termasuk hal yang menurut saya menyenangkan.

Elizaveta Moskvina
Sekitar dua minggu setelah bekerja di tempat baru, Liza kembali menghubungi saya. Kali ini, dia menawarkan sesuatu yang sebetulnya di luar dugaan saya. Liza mengatakan bahwa RBTH Indonesia butuh Social Media Manager, dan dia pikir saya bisa menjadi orang yang tepat. Saat itu juga saya merasa sangat bersemangat karena saya tahu ini sebuah peluang besar. Namun demikian, saya tetap harus mengirimkan surat lamaran dan mengikuti wawancara melalui Skype. Liza, saat itu, bukanlah atasan saya. Saya berada di bawah seorang Director of Social Media yang tinggal di London. Jadi, diterima atau tidaknya saya di RBTH Indonesia adalah atas keputusan Director of Social Media, bukan Liza. Liza saat itu hanya sebagai referensi atau pemberi rekomendasi bagi si Director of Social Media ini.

Saya ingat saat itu pukul 22.00, dan 30 menit sebelumnya saya baru sampai di rumah setelah pulang kantor. Saya merasa sangat bersemangat untuk mengikuti wawancara via Skype untuk pertama kalinya. Wawancara itu berlangsung sekitar satu jam. Hasilnya? Tiga hari kemudian, Ilaria, Director of Social Media RBTH mengirim email bahwa saya diterima sebagai Social Media Manager RBTH Indonesia. Ini jauh di luar dugaan saya. Namun, status saya saat itu adalah sebagai freelancer, tapi siapa peduli? Saya sangat suka dengan "jabatan" baru ini walau tentu saja, kata "manajer" di sinilah yang membuat pekerjaan ini terlihat cukup keren. Saya pun resmi bergabung menjadi bagian tim RBTH Indonesia. Saat itu ada Liza sebagai editor, satu orang web editor (yang saya lupa namanya), dan saya sebagai Social Media Manager.

Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, bahwa bule Rusia yang saya temui secara tidak sengaja dan tiba-tiba SKSD di Stasiun UI bisa menjadi rekan kerja saya, dan ini nyata. Tidak peduli jarak Jakarta dan Moskow yang begitu jauh, tapi kami ternyata bisa bekerja bersama, dan ini luar biasa!

Sejak saat itu, otomatis saya mempunyai dua pekerjaan. Satu pekerjaan tetap di agensi digital dan satu pekerjaan freelance di RBTH Indonesia. Sebetulnya, sama seperti pekerjaan lain pada umumnya, di RBTH Indonesia ini pun saya harus mengikut masa percobaan selama tiga bulan. Namun, di bulan kedua, saya mengajukan permohonan untuk menjadi karyawan tetap (setelah saya pikir-pikir sekarang, rasanya ini agak "kurang ajar", bahkan masa percobaan pun belum selesai). Saya menanyakan hal ini kepada Liza dan ternyata hal ini memungkinkan. Akhirnya di bulan ketiga, saya resmi menjadi karyawan tetap di RBTH sebagai web editor (yang pekerjaannya juga merangkap Social Media Manager).

Pengalaman Luar Biasa Bersama Orang-orang Rusia

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya bahwa saya bisa di posisi sekarang ini dan betapa saya sangat bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagaimana tidak? Saya merasa ini adalah pekerjaan yang luar bisa. Saya adalah bagian dari tim redaksi yang seluruhnya berkantor di Moskow, sementara saya tinggal ribuan mil jauhnya dari Moskow. Namun, RBTH Indonesia bisa berjalan, sistem ini berjalan dengan baik. Selain itu, kini saya punya waktu yang sangat fleksibel di mana kebanyakan orang mungkin mendambakan waktu kerja yang tidak terikat waktu, dan saya bisa mendapatkan itu. Ibu saya tidak perlu sendirian lagi di rumah karena saya selalu ada di rumah. Ekonomi keluarga saya pun sangat terbantu, adik saya bisa tetap kuliah, ini semua suatu anugerah yang tidak bisa saya gambarkan.

Tidak hanya itu, di RBTH, saya berkesempatan untuk menapakkan kaki di negeri beruang merah pada Juni lalu. Saya bisa ke Rusia untuk menghadiri rapat tahunan di Moskow dan bertemu dengan orang-orang luar biasa yang sebelumnya hanya saya lihat nama-namanya di laman tim RBTH dan di email-email masuk.

Siapa bilang orang Rusia tidak ramah? Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari tim yang luar biasa hebat ini. Seluruh orang di RBTH sangat baik dan sangat hebat, sekalipun saya tidak bisa berbahasa Rusia (saya sedang mempelajarinya saat ini). Lebih dari itu, sebagian besar dari mereka berusia di bawah 30 tahun bahkan tadinya saya pikir saya termasuk yang paling muda di sana, ternyata tidak, ada beberapa karyawan yang seumuran dengan saya, dan ini luar biasa!

Bahkan di saat ulang tahun saya di bulan Juli lalu, teman-teman redaksi di Moskow mengucapkan selamat ulang tahun dengan cara yang, bagi saya, sangat manis.

Mungkin bagi mereka itu adalah hal biasa, tapi menjadi bagian dari tim yang tidak berada di Moskow kadang kala bisa membuat saya merasa "jauh". Tapi ternyata tidak, mereka di sana sangat peduli dan betapa saya sangat bangga dan bersyukur bisa menjadi bagian dari tim hebat ini.

Ya, kira-kira begitu cerita panjang saya dengan RBTH. Mulai dari bagaimana saya bertemu Liza (yang kini otomatis adalah atasan saya) hingga bisa bekerja dan menjadi bagian dari tim RBTH di Moskow. Semoga bisa menginspirasi!



Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

13 Oktober 2014

Masalah Keuangan Kepanitian Kampus, Masalah Turun-temurun Tiada Akhir

Mungkin, seharusnya saya tulis artikel semacam ini sejak empat atau tiga tahun yang lalu, tapi saya benar-benar baru terpikir saat ini. Bermula dari obralan random tadi pagi dengan seorang teman yang sedang menjadi bendahara suatu acara besar di kampus, saya jadi ingin menuangkan beberapa ide mengenai manajemen keuangan kepanitiaan. Jadi, tulisan ini saya dedikasikan khususnya untuk teman-teman saya yang masih bersuka cita menjalani kehidupan kampus, khususnya mereka yang kuliah di FISIP UI dan saat ini sedang berjuang mengurus keuangan kepanitian atau organisasinya.

Kalau ada yang tanya apa masalah utama dalam keuangan kepanitian kampus (dalam hal ini saya bicara soal kepanitiaan di FISIP UI), saya pasti bilangdari duluadalah soal manajemen relasi yang buruk dan manajemen keuangan yang juga buruk. Masalahnya, tidak pernah ada keseriusan untuk memperbaiki semua kesalahan ini. Sebetulnya, saya (merasa) dulu termasuk cukup "cerewet" untuk memperbaiki sistem keuangan ini, setidaknya di internal BEM FISIP UI. Masalahnya, kalau dari kepanitiaan itu sendiri tidak mau berubah dan tidak ada kontrol dari pengurus BEM atau minimal dari kepala departemen atau biro dari kepanitiaan terkait maka semuanya tidak akan pernah membaik. Masalah yang timbul di setiap kepanitiaan di FISIP UI sama: selalu kurang uang. Berikut adalah hal-hal apa saja yang menjadi masalah turun-temurun dalam hal manajemen keuangan kepanitiaan dan apa yang seharusnya dilakukan oleh tim keuangan suatu kepanitiaan atau organisasi kampus.

1. Dana Abadi

Oke, sekarang kita bahas satu per satu. Setidaknya ada delapan hal yang menyebabkan selalu kurang uang di berbagai kepanitiaan di FISIP UI. Pertama, ada banyak banget kegiatan di FISIP UI yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, selama bertahun-tahun kegiatan itu berjalan, hampir sebagian besar acara-acara ini tidak pernah punya dana abadi atau dana yang disimpan sebagai dana operasional kegiatan di tahun mendatang. Sebetulnya dana abadi ini tanggung jawab siapa? Kalau menurut saya, dana abadi ini harus jadi tanggung jawab dan kesadaran panitia yang bersangkutan. Namun, organisasi yang menjadi "payung" kepanitiaan ini juga harus bertanggung jawab untuk (minimal) mengingatkan kepanitiaan terkait agar menyisihkan sebagian pendapatan atau profit untuk dialokasikan ke dana abadi. Ternyata, jangankan profit, acara tersebut pun bahkan tidak balik modal. Ini kita bahas nanti.

Yang saya lihat selama ini, acara-acara besar yang berhasil mendapatkan profit, kerap menghabiskan profit yang didapatkan untuk acara pembubaran panitia. Tentunya, ini bukan suatu hal yang dilarang. Saya juga dulu membuat pembubaran panitia, seperti acara makan-makan, sebagai bentuk apresiasi saya kepada seluruh tim yang telah bekerja keras menyukseskan acara. Namun, saya tidak menghabiskan semua penghasilan tersebut untuk "bersenang-senang". Saya sisihkan sebagian dari penghasilan tersebut untuk masuk ke dana abadi. Sebetulnya, jelas dana abadi itu tidak akan saya nikmati di tahun depan. Yang menikmati dana abadi itu adalah panitia di kepanitiaan tahun berikutnya, tapi ketika kita ingin membuat sebuah acara yang terus tumbuh dan berkembang maka mengalokasikan sebagian dari keuntungan acara menjadi sengat penting dan relevan.

Bagi sebagian besar orang yang tahu "pekerjaan" saya selama di kampus dulu, biasanya akan bilang bahwa "pekerjaan" saya lebih mudah karena memang acara yang saya buat benar-benar profit oriented. Faktanya, semua kegiatan punya tantangan dan hambatan tersendiri, begitu juga dengan acara yang saya urus. Hal ini kemudian membawa kita pada masalah kedua.

2. Tidak Tahu Keunggulan Acara Sendiri

Ini hampir terjadi di semua kepanitiaan di FISIP UI. Ketika kita ingin menjual sebuah produk dan kita ingin konsumen membeli produk kita, tentunya kita punya alasan kenapa produk kita layak dibeli dan harus dibeli. Ketika kita tidak mengetahui keunggulan acara yang kita jalankan maka yang terjadi: gagal mendapatkan peserta dan gagal mendapatkan sponsor.

Saya bertemu banyak teman-teman mahasiswa yang bingung bagaimana cara "memasarkan" kegiatannya agar "laku" di pasaran dan "dilirik" pihak pemberi sponsor. Kemudian saya tanya, apa yang membuat acara mereka layak untuk dikunjungi? Atau, apa yang membuat suatu perusahaan merasa puas dengan menginvestasikan sekian puluh juta di acara ini? Kebanyakan saya mendapatkan jawaban-jawaban yang normatif dan standar. Ini menandakan bahwa kepanitiaan tidak benar-benar mengetahui manfaat dan tujuan dari acara yang akan mereka buat. Kepanitiaan bahkan tidak tahu apa keunggulan dari acara mereka, atau hal apa yang membuat acara mereka beda dari acara-acara serupa di fakultas lain.

Kalau begitu, tentunya kita tidak akan pernah bisa mengharapkan hasil yang maksimal dari acara yang dibuat. Sebagus atau sesolid apa pun suatu kepanitiaan, kalau tidak memiliki product knowledge maka akan sia-sia. Mereka tidak bisa "menjual" produknya baik di pasar maupun kepada pihak sponsor.

3. Tidak Pernah Memulai Membangun Relasi

Ini satu hal yang selalu saya tekankan selama saya di BEM FISIP UI kepada semua teman-teman di sana. Namun, ini juga satu hal yang selalu dikesampingkan. Kepanitiaan di FISIP UI hampir tidak pernah membangun relasi dengan pihak sponsor yang pernah bekerja sama dalam suatu acara. Tidak pernah. Jadi, misalnya kepanitiaan A di tahun 2012 mendapatkan sponsor dari perusahaan X sejumlah 15 juta rupiah. Setelah selesai acaranya, dan sukses, maka selesai sudah. Tahun depan, acara A ini dibuat lagi. Biasanya mereka tidak punya dana abadi, dan yang lebih parahnya, tidak ada koneksi atau relasi ke perusahaan pemberi sponsor di tahun sebelumnya.

Ini adalah satu kesalahan yang selalu berulang dan tidak pernah ada yang belajar untuk memperbaikinya. Saya tahu teman-teman di FISIP sering merasa "iri" dengan teman-teman di FE yang walau acara sekecil apa pun tetap bisa mendapatkan sponsor. Saya pun selalu menjawab bahwa mereka (FE) punya jaringan alumni yang kuat, tapi lebih dari itu, mereka membina relasi dengan pihak sponsor. Saya tahu dari mana? Karena saya tanya dan belajar langsung dari teman-teman di FE.

Masalahnya, "secerewet" apa pun saya membahas masalah ini di forum, di seminar-seminar, kalau tidak pernah ada yang benar-benar "bergerak" untuk memulai membangun relasi dengan pihak sponsor, akhirnya semua kegiatan di FISIP akan selamanya terjebak dalam "lingkaran setan" ini.

Bagaimana seharusnya kita membangun hubungan baik dengan sponsor? Mari kita kembali dengan ilustrasi di atas. Kepanitiaan A di tahun 2012 mendapatkan sponsor dari perusahaan X sejumlah 15 juta rupiah. Setelah selesai acara, minimal si ketua panita harus bisa menjalin hubungan baik dengan si perusahaan. Dengan apa? Hal-hal sederhana, dimulai dari menyerahkan berbagai bentuk dokumentasi kegiatan. Ucapan terima kasih dengan memberikan plakat atau sertifikat kepada pihak sponsor. Setelah itu, jalin komunikasi dengan pihak sponsor secara reguler. Sekedar ucapan selamat hari raya atau selamat tahun baru via SMS punya dampak yang besar. Saya bisa bilang begini karena tentunya saya sudah pernah coba. Apalagi jika kita bisa ingat dengan hari ulang tahunnya, tentu nama kita (minimal) akan selalu diingat oleh si pemberi sponsor ini. Bukan tidak mungkin, di tahun depan, proposal acara yang sama akan diterima atau bahkan si perusahaan ini menawarkan diri kepada si pantia.

Satu hal penting lainnya, kepanitiaan yang lama, atau minimal ketua panitia tahun sebelumnya, berkewajiban untuk mengenalkan kepanitiaan yang baru kepada pihak sponsor. Mungkin si pihak sponsor sudah merasa nyaman dengan kita, tentunya dia akan terkejut ketika tiba-tiba ada "orang lain" dari acara yang sama meminta sponsor. Ada kemungkinan si pihak sponsor ragu dengan kepanitiaan yang baru. Oleh karena itu, kepanitiaan yang lama sebetulnya punya tanggung jawab untuk mengenalkan kepanitiaan yang baru kepada pihak sponsor dan meyakinkan bahwa kerja sama ini tetap sama, tidak ada bedanya antara yang dulu dan sekarang. Hal ini penting karena dengan demikian pihak sponsor akan merasa lebih dihargai.

4. Permintaan Bantuan Sponsor yang Berlebihan

Dulu, saya pikir kita harus pasang target setinggi-tingginya untuk mendapatkan uang sponsor dengan menaruh angka yang sangat tinggi di paket-paket sponsorship dalam proposal. Saya mengurus GRAFITY dari tahun 2008 sampai 2011, selama itu juga, salah satu acara terbesar dan paling "menghasilkan" di BEM FISIP UI ini tidak pernah mendapatkan sponsor yang memberikan fresh money hingga puluhan juta. Salahnya, saya dulu tidak belajar. Sebetulnya, ketika suatu acara hampir selalu gagal setiap tahunnya dalam mendapatkan sponsor, pasti ada sesuatu yang salah. Biasanya, kesalahan itu (dalam hal pengajuan sponsor) kalau tidak di sisi yang mempresentasikan atau di proposal itu sendiri. Namun, biasanya kesalahan itu ada di proposal.

Banyak yang bilang bahwa soal desain proposal itu harus menarik agar "dilirik" oleh perusahaan. Ini betul, saya pernah survei ke beberapa kenalan di perusahaan-perusahaan yang biasa memberikan sponsor. Namun, jangan lupa, masalah sponsor itu ujung-ujungnya ya... duit. Apa sih yang dilihat dari suatu proposal? Tampilan, desain, latar belakang secara singkat, dan anggaran atau kontraprestasi. Itu yang juga menentukan mau tidaknya perusahaan memberikan bantuan sponsor.

Kita tahu bahwa acara kita membutuhkan anggaran yang sangat besar. Namun, kita juga harus mempertimbangkan dengan bijak berapa angka yang akan kita cantumkan di dalam proposal. Ketika kita tahu bahwa track record acara yang kita pegang kurang baik dalam hal mendapatkan sponsor, kita harus peka bahwa mungkin selama ini panitia terlalu tinggi memasang paket sponsor di dalam proposal sementara acara itu sendiri mungkin kurang menggugah si calon pemberi sponsor. Dalam hal ini, panitia harusnya menurunkan besarnya permintaan sponsor dalam tabel kontraprestasi.

Misalnya selama ini dalam proposal sponsorship untuk paket sponsor paling besar, sebut saja paket platinum adalah 100 juta rupiah. Acara ini sudah berlangsung selama lima tahun, tapi untuk mendapatkan sponsor 20 juta cash saja sangat sulit. Sekarang coba kita hitung, berapa banyak acara di (katakanlah) di UI yang mendapatkan fresh money 100 jutaini mungkin bisa dibilang sebagai main sponsor? Sangat, sangat, sangat sedikit. Saya pikir mungkin hanya 1-2 acara dalam satu tahun dan acara itu pasti sangat layak untuk disponsori sehingga perusahaan mau berinvestasi sampai 100 juta rupiah. Artinya apa? Artinya, kontraprestasi di proposal kita tidak masuk akal. Ya, kita butuh uang banyak, tapi ketika suatu perusahaan melihat besarnya dana yang harus diberikan pada paket paling besar, sedikit banyak pasti mempengaruhi keputusan mereka untuk berinvestasi dalam acara ini.

Jadi, buatlah kontraprestasi yang kira-kira sepadan dengan besarnya acara dan target khalayak kita. Acara A mungkin sangat besar, tapi target khalayaknya sangat tersegmentasi. Tentunya kita tidak bisa berharap lebih dibandingkan dengan acara yang mungkin tidak sebesar acara A, tapi terget khalayaknya lebih luas dan variatif. Artinya, coba pikirkan apakah paket sponsor yang kita tawarkan "masuk akal".

5. Copy-Paste Anggaran Kepanitiaan Tahun Lalu

Ini adalah masalah serius. Dulu di kampus, saya sering menemukan copy-paste anggaran baik dalam FPT (Fit and Proper Test) maupun dalam bidding tender-tender terbuka di BEM FISIP UI. Hal-hal semacam ini sangat merugikan. Kita tidak akan pernah bisa menyamakan anggaran kepanitiaan tahun lalu dengan kepanitiaan tahun ini karena pasti ada perbedaan kebutuhan dalam acara yang akan diselenggarakan. Selain itu pasti ada perubahan harga. Kita juga mungkin bisa menemukan tempat-tempat yang menjual barang-barang kebutuhan acara yang jauh lebih murah dibandingkan dengan tahun lalu. Oleh karena itu, copy-paste anggaran adalah suatu hal yang "berdosa" dan sangat merugikan.

Jangan pernah malas mensurvei dan membandingkan harga di satu tempat dengan tempat lain. Tentunya kan kita ingin memiliki anggaran yang sekecil mungkin. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan anggaran yang sesuai dengan kebutuh kita kalau kita hanya meng-copy-paste anggaran kepanitiaan tahun sebelumnya tanpa memilah-milih dulu apa saja yang kita butuhkan untuk menjalankan acara kita di tahun ini. Intinya, jangan malas mensurvei harga. Anggaran tahun sebelumnya sangat bisa dijadikan acuan, tapi bukan berarti kita copy sepenuhnya.

6. Tidak Punya Plan dan Timeline Anggaran yang Rinci

Masalah keuangan itu adalah masalah yang sangat krusial. Karena itu dibutuhkan suatu rencana atau ilustrasi anggaran yang terperinci dan jelas. Kepanitiaan harus punya rencana atau ilustrasi anggaran yang rinci yang menggambarkan kondisi ekspektasi, kondisi dengan anggaran rasional, dan kondisi dengan anggaran minimum. Ketiga kondisi ini harus bisa digambarkan secara rinci. Masalahnya, sering kali kepanitiaan hanya memiliki satu macam ilustrasi anggaran, yaitu anggaran dengan kondisi yang diharapkan. Kenyataannya, pada akhir acara biasanya kita tidak memakai anggaran ekspektasi, melainkan anggaran-yang-fleksibel-di-tengah-jalan. Ada banyak hal-hal tidak terduga yang terjadi selama jalannya kepanitiaan dan proses pencarian dana. Masalah anggaran akan lebih "aman" ketika kita memiliki beberapa ilustrasi sehingga panitia (khususnya bendahara) bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan terkait anggaran kegiatan.

Hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah soal timeline anggaran. Sejujurnya, saya paling tidak suka berhubungan dengan timeline anggaran karena setiap saya melihat jumlah angka yang menjadi target pemasukan tiap bulan demi "menghidupi" acara yang saya buat, saya sangat merasa tertekan. Namun, kita butuh target. Dengan adanya timeline, kita punya gambaran, kita punya target, berapa besar dana yang harus kita kumpulkan dalam beberapa bulan ke depan. Kepada siapa pun yang bertanya soal timeline anggaran inibagaimana kalau kita tidak bisa mematuhi timelinesaya pasti akan bilang bahwa saya pun dulu tidak pernah patuh dengan timeline ini. Tapi timeline ini tetap penting untuk dibuat. Kita tidak bicara soal hasilnya, kita tidak bicara soal apakah di setiap bulannya kita berhasil mencapai target yang ditentukan dalam timeline, tidak. Tapi dengan adanya timeline anggaran, kita punya gambaran yang jelas apa yang harus dicapai setiap bulannya, dan itu pasti membuat kita memutar otak untuk gimana caranya agar bisa memenuhi target pemasukan di setiap bulannya.

7. Idealisme Acara Gratis

Saya mungkin dianggap orang FISIP yang paling "tidak FISIP" dalam arti sangat "perhitungan", apa-apa harus dihitung untung-ruginya (ya... saya "dibentuk" begitu selama di kampus, jadi harap maklum). Saya tahu, hampir sebagian besar acara-acara di FISIP dibuat free alias gratis. Selama di FISIP, saya merasa ada semangat atau idealisme di organisasi-organisasi di FISIP bahwa acara-acara di FISIP yang asik dan gratis ini menjadi pembeda dengan acara-acara di fakultas lain (atau ya... sebut saja di FE) yang sebagian besar berbayar. Ada semacam idealisme bahwa di FISIP, pemikiran kita "anak sosial" berbeda dengan "anak ekonomi".

Ya, saya paham pemikiran ini, tapi nyatanya, masalah-masalah kegiatan di FISIP yang sering defisit atau balik modal apa adanya, membuktikan bahwa "enggak semua harus free". Kalau kita mau acara ini besar, kita harus punya dana abadi, kita harus punya sponsor. Mungkin kita masih sulit mendapatkan sponsor, tapi setidaknya acara ini masih bisa "terselamatkan" kalau ada pemasukan dari penjualan tiket. Kenapa kita harus takut mengkomersilkan acara kita kalau toh acara itu bagus, bermanfaat, dan harga yang kita patok juga masih wajar untuk ukuran kantong target khalayak acara ini. Ketika kita berani menjual produk acara kita, artinya kita punya jaminan kualitas yang kita pertanggungjawabkan kepada khalayak, dan itu tentunya menuntut kita agar membuat acara sebagus mungkin karena kita tahu orang-orang membayar dan mereka punya ekspektasi yang tinggi dengan acara yang kita buat.

Ada banyak banget acara bagus di FISIP yang kreatif, yang out of the box, yang hampir selalu ramai dikunjungi orang-orang, tapi di balik layar, acara-acara itu hampir selalu bermasalah dengan anggarannya. Jangan takut untuk menjual acara kita karena pada akhirnya yang menyelamatkan acara ini (dan kepanitiaannya) adalah ketika acara tidak hanya memuaskan khalayak, tetapi juga membuat seluruh panitia merasa aman dari rasa takut akan defisit dan pencarian dana pascakegiatan. Intinya, menurut saya, adalah sangat wajar untuk menjual tiket masuk di acara-acara yang kita anggap memang pantas untuk dijual.

8. Dana Abadi yang "Terlalu Abadi"

Poin terakhir ini adalah untuk acara-acara yang sudah punya dana abadi, tapi tidak pernah menambah dana abadinya. Ini juga suatu hal yang keliru. Kita tidak hidup di era semua harga stabil dalam kurun waktu 5-10 tahun. Harga kebutuhan acara pasti akan selalu naik setiap tahunnya. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk terus memperbesar alokasi dana abadi.

Jika tahun ini acara A memiliki dana abadi sebesar lima juta rupiah maka tahun depan, mungkin, dana abadinya bisa ditambah menjadi 10 juta. Ketika kita menginvestasikan dana abadi yang labih besar untuk suatu acara atau kegiatan, kita memang tidak akan merasakan lagi manfaatnya, tapi itu artinya kita telah meninggalkan suatu warisan yang sangat bermanfaat bagi kepanitiaan yang akan datang. Kita tidak bicara soal, "Ini acara gue, tahun depan ya urusan lo." Ketika kita mau sebuah acara berkembang maka kita tidak lagi bicara soal ini acara siapa dan tahun depan acara siapa, tapi kita akan bicara bahwa acara ini harus selalu ada dan harus berkembang. Ketika kita berpikir seperti itu maka kita tidak akan ragu untuk menginvestasikan lebih banyak dana untuk kepentingan acara ini di masa yang akan datang.

Penulis pernah menjabat sebagai Staf Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2009, Project Officer GRAFITY UI 2009, Kepala Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2010, Steering Committe GRAFITY UI 2010, dan Kepala Kantor Komunikasi BEM FISIP UI 2011.

12 Oktober 2014

Ask.fm: Semua Bisa Jadi Selebritas

Media sosial yang satu ini sepertinya udah tidak perlu diragukan lagi kepopularitasannya di kalangan remaja-remaja Indonesia masa kini. Popularnya Ask.fm di Indonesia seakan semakin membuktikan bahwa orang Indonesia memang punya rasa ingin tahu yang begitu besar (atau kita sebut saja, kepo) dan secara bersamaan sangat senang ditanya.

Menurut saya, fenomena tanya-jawab di Ask.fm ini punya dampak yang besar bagi remaja Indonesia sekaligus menarik untuk diperhatikan. Tadinya, saya merasa sudah cukup dengan banyaknya akun media sosial yang saya miliki. Namun, karena sampai saat ini hidup saya masih bersinggungan dengan anak-anak SMA, memiliki akun Ask.fm menjadi relevan dan sangat diperlukan. Dalam hal ini, yang saya maksud dengan "diperlukan" adalah bahwa dengan memiliki akun Ask.fm, saya bisa mengetahui apa saja yang sedang menjadi tren di kalangan remaja-remaja ini. Ini adalah hal yang penting karena selain saya bisa lebih memahami apa yang sedang nge-tren, saya mendapatkan gambaran mengenai pola pikir dan perilaku remaja masa kini.

Sebetulnya, bagi orang-orang Komunikasi (baik mahasiswa maupun sarjana Komunikasi, baik akademisi maupun praktisi), media sosial adalah suatu hal yang kini tidak bisa lepas dari perhatian ilmu multidisiplin ini. Dalam konteks dunia remaja, misalnya, kita sangat bisa melihat bagaimana arah perilaku dan model komunikasi remaja saat ini dari media-media sosial yang popular di kalangan mereka. Mempelajari dan "terjun" ke dalam media sosial yang dianggap hits bagi remaja seharusnya menjadi hal penting baik bagi para pemerhati pendidikan maupun bagi mereka yang sering berinteraksi dengan remaja.

Di sini, saya akan memaparkan hal-hal apa saja yang saya amati terjadi di Ask.fm. Tentunya ini merupakan pengamatan yang tidak lepas dari unsur subyektifitas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Jadi, saya sangat tidak menyarankan tulisan ini dijadikan sebagai referensi. Namun demikian, saya pikir topik mengenai Ask.fm ini sangat menarik untuk dijadikan topik penelitian dalam bidang ilmu komunikasi.

Semua orang bisa bertanya apapun tanpa harus merasa malu

Ini betul. Semua orang, siapa pun, bisa bertanya kepada orang dari belahan bumi mana pun tanpa harus merasa malu atau minder dengan pertanyaannya karena di Ask.fm kita bisa bertanya tanpa menunjukkan identitas kita (anonim).



Alhasil, segala hal pun ditanya. Mulai dari pertanyaan yang paling penting sampai yang paling tidak penting ada di Ask.fm. Mulai dari curhat yang kadang ini lebih menyerupai pernyataan (statement) daripada pertanyaan (question), sampai gambar-gambar dengan pesan motivasi di dalamnya, bisa ditemukan di Ask.fm. Jangan sedih, soal Bekasi pun sangat popular di media sosial ini dan beberapa kali membuat ricuh, seperti ini misalnya:

Jawabanmu tidak harus menjawab pertanyaan

Saya melihat begitu banyak jawaban-jawaban yang aneh-aneh, yang sangat jauh dari apa yang seharusnya menjadi jawaban pertanyaan. Di Ask.fm, kamu bisa tanya apa pun dan jawab sesuka kamu. Jawaban kamu bisa jadi berupa gambar-gambar lucu, gambar-gambar yang memotivasi, gambar-gambar meme "true story", atau gambar-gambar apa pun sekalipun itu enggak nyambung. Tapi, siapa yang peduli? Kalau si penanya tidak puas dengan jawaban dari yang ditanya, dia bisa bertanya lagi, dan itu gratis.


Biasanya, jawaban-jawaban aneh bin nyeleneh justru mendapat reaksi positif dari audience (mendapat banyak likes).

Beberapa orang sangat terkenal di Ask.fm sehingga mereka harus membuat daftar FAQ

Faktanya, kamu tidak perlu jadi artis yang tampil di layar televisi untuk bisa merasakan hidup bak artis terkenal yang kerap kehidupan pribadinya sangat ingin diketahui orang banyak sampai si artis ini merasa lelah menjawab. Terima kasih pada Ask.fm karena semua orang bisa (merasa) jadi selebritas. Well, mungkin enggak semua, karena biasanya yang terkenal di Ask.fm (dan sampai harus membuat Frequently Asked Questions/FAQ) itu adalah:
  1. cewek-cewek cantik nan lucu
  2. cewek-cewek cantik nan lucu yang sekolah atau kuliah di luar negeri
  3. cewek-cewek cantik nan lucu yang sekolah atau kuliah di luar negeri dan kebetulan punya pacar bule
  4. cewek-cewek cantik nan lucu yang punya kehidupan asmara yang bikin merasa, "Aaaaaaw..."
  5. cewek-cewek cantik nan lucu yang gaul
  6. cewek-cewek cantik nan lucu yang kuliah di Fakultas Kedokteran
  7. cewek-cewek cantik nan lucu yang jadi ibu muda (ini serius, ada lumayan banyak)
  8. cowok-cowok gaul nan cool
Ya, perbandingan antara ketenaran cewek dan cowok di Ask.fm ini menurut saya agak jauh, tapi sepengamatan saya memang lebih banyak remaja perempuan yang sampai harus membuat daftar FAQ di profilnya dibandingkan dengan remaja laki-laki.

Bagi orang-orang ini, mungkin agak jenuh kalau harus ditanya hal-hal yang "itu lagi, itu lagi" sehingga membuat daftar FAQ sangatlah penting.

Semua bisa curhat dan minta saran pada siapa pun

Ya, kamu bisa curhat atau mengeluarkan segala perasaan yang dirasa tidak enak di dalam hati pada orang-orang yang kamu suka (like atau adore) tanpa sungkan. Kamu juga bisa konsultasi atau tanya pendapat sekalipun jelas orang yang kamu tany belum tentu seorang pakar, tapi, hello, kita enggak perlu terlalu serus dalam hal ini. Bertanyalah! Selagi bertanya itu gratis dan tidak dilarang, dan itulah guna media sosial yang satu ini: bertanya. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya.

Karena bebas bertanya, beberapa orang benar-benar ingin memuaskan rasa ingin tahunya

Saya menemukan ada banyak pertanyaan-pertanyaan super kepo dari para anonim khususnya ke tipe cewek-cewek cantik nan lucu tadi, hal-hal yang sebetulnya kalau di zaman dulu ini termasuk pertanyaan yang pasti efeknya bisa mendapatkan cap lima jari di pipi (baca: tamparan), tapi kalau sekarang mungkin ini termasuk hal "lucu-lucuan", karena buktinya tetap dijawab juga. Jadi, saya pikir ini agak "errr..." tapi tetap dijawab. Mungkin karena ini di dunia maya, jadi ada anggapan semacam, "Ya udah lah ya." Pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya cukup vulgar, tapi karena situs ini dibuat untuk bertanya, ya... tentunya banyak orang yang memanfaatkan hal ini dengan baik untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Dan beberapa orang perempuan (saya pikir) ada semacam tantangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan "nakal" dari para anonimus di Ask.fm. Satu lagi hal menarik untuk menjadi topik skripsi/penelitian/karya tulis. You're welcome.



Sekarang, kita mungkin bisa sedikit menarik kesimpulan kenapa Ask.fm sangat popular di kalangan remaja saat ini. Dengan adanya media sosial ini, pembatas keingin tahuan para remaja-remaja ini tentang seseorang yang selama ini terbatas menjadi terbuka lebar.

Kabar baiknya, mereka sama sekali tidak perlu malu untuk bertanya, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri ketika bertanya, dan mereka bisa menanyakan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka tanyakan dalam kehidupan nyata pada seseorang.

Bagi si pemberi jawaban, hal tanya-jawab ini tentunya sangat menyenangkan karena mereka bisa merasakan betapa orang-orang sangat ingin tahu tentang diri mereka. Sebetulnya, adalah suatu hal yang wajar ketika orang merasa senang karena banyak yang ingin mengetahui mengenai dirinya, orang-orang suka berbagi mengenai keadaan dirinya. Inilah alasan dibuatnya media-media sosial. Orang-orang suka bersosialisasi, orang-orang suka berbagi.

Lantas, apakah selesai sampai situ? Tentunya tidak. Apa yang saya lihat (dan perhatikan) di Ask.fm membuat saya berpikir bahwa pola pikir dan tren perilaku di kalangan remaja Indonesia saat ini bergeser ke arah kalau boleh jujur, agak mengkhawatirkan. Ini bukan sekedar hal-hal galau atau romantis yang di-post di media sosial ini, tapi bagaimana beberapa orang yang sangat populer di Ask.fm bisa mempengaruhi pola pikir dan tren perilaku followers mereka. Beberapa hal memang ada yang positif, seperti motivasi hidup, supaya move on bagi yang galau, tapi tidak sedikit yang memberikan "asupan-asupan" gaya hidup yang menurut saya kurang pantas.


Ini masalah. Mungkin orang-orang akan berpikir, "Come on... don't be too serius." Well, I am. Karena ini memang serius. Keterbukaan informasi atas hal-hal yang dulu dianggap aib atau tabu atau kurang sopan, sekarang dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Orang-orang bersikap permisif akan hal-hal semacam ini dan justru memberikan penghargaan pada mereka yang menceritakan hal-hal "tabu" ini di ranah publik dunia maya karena dianggap bahwa orang ini punya harga diri yang tinggi (high self-esteem). Dari keterbukaan arus informasi yang seperti ini, tentunya berakibat pada bergesernya pandangan remaja dalam berbagai hal dalam kehidupan.

Indonesia adalah negara yang punya penetrasi media sosial sangat besar di dunia dan ini adalah hal serius ketika sudah bicara soal perubahan tren perilaku remaja akibat media sosial. Hal-hal seperti ini harusnya menjadi perhatian para ahli di luar sana, orang-orang yang memang berkecimpung di dunia pendidikan. Saya sangat menyarankan guru-guru harus punya akun media sosial seperti Ask.fm agar mereka tahu, agar mereka "terbuka" matanya apa yang sebenarnya terjadi di luar sana dan mereka tahu harus berbuat apa.

"No judge" dan 1.500 likes. Silakan diartikan sendiri.
Semua orang sekarang bisa memakai topeng, dan mereka memakainya dengan baik. Ini terjadi di sekolah-sekolah. Terkadang, perilaku seorang anak terlihat baik di sekolah, tapi dia juga punya "kehidupan lain" di dunia maya dan itu bisa jadi bertolak belakang dengan sikap kesehariannya di sekolah, di dunia nyata.

Namun, sekali lagi, ini semua adalah pengamatan saya yang tidak terlepas dari subyektifitas. Silakan ditanggapi, silakan dikritisi. Gunakanlah media sosial dengan bijak.

Catatan: PAP adalah singkatan dari post a picture. Jika ada seseorang bertanya "pap" sesuatu di Ask.fm, maksudnya si penanya mau dijawab dengan sebuah gambar, apapun, tergantung apa yang diminta.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend