30 Oktober 2014

Bu Susi dan Fenomena Sekuler Inlander

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti
Pagi ini saya sangat senang menemukan satu post yang (menurut saya) sangat berkualitas di Facebook. Ya, saya setiap hari masih buka Facebook walau kata orang sekarang Facebook itu "so yesterday". Faktanya, ada banyak hal menarik yang bisa kita dapat di Facebook walau saya tidak memungkiri bahwa lebih banyak "sampah" yang di-share di media sosial itu saat ini. Namun, itu kembali pada pribadi masing-masing, tergantung dengan siapa kita berteman. Toh, kalau kita tidak suka, kita bisa dengan mudah "memutuskan" pertemanan dengan orang itu di Facebook.

Anyway, tulisan ini saya repost dari foto yang dipublikasikan oleh Meira Ernawati. Namun, pada mulanya, tulisan ini berasal dari kicauan Akmal Sjafril di Twitter yang kemudian dipublikasikan di Facebook dengan beberapa suntingan (di sini pun saya sunting lagi karena terbiasa menyunting teks setiap haritentunya tanpa mengubah ide tulisan asli ini). Saya pikir, ide yang disampaikan oleh Akmal ini terlalu bagus untuk dilewatkan.
 
Menyoal Fenomena Sekuler Inlander di Tanah Air

Saya ingin bahas soal fenomena sekuler inlander. Ini adalah fenomena yang sudah cukup lama saya perhatikan. Sekuler inlander adalah sifatnya orang-orang sekuler bermental inlander. "Kampungan" gitu deh kurang lebihnya. Walaupun saya anti sekali dengan sekularisme, tapi banyak orang sekuler yang masih bisa dihormati, tapi kalau sekuler inlander sih enggak sama sekali.

Yang namanya sekuler inlander itu ya pelakunya adalah orang-orang bermental inlander yang jadi sekuler karena ikut-ikutan. Indonesia, karena pernah dijajah, juga banyak diisi oleh kaum sekuler inlander ini.

Oke, supaya lebih jelas, kita langsung masuk ke contoh kasus. Dalam hal ini saya ingin jadikan dialektika seputar Bu Menteri Susi dan rokoknya. Dialektikanya, bukan rokoknya! Dari perspektif orang-orang beriman, kasus ini sebenarnya telah menunjukkan kegamangan sekularisme. Bagaimana sekularisme menyikapi kebiasan merokok? Dalam hal ini, biasanya akan dianggap sebagai pilihan masing-masing. Bagi orang-orang sekuler, kita tidak perlu mengurusi kebiasaan orang lain. Jangankan merokok, mabuk dan zina pun dibiarkan. Namun pada akhirnya, sekularisme akan mentok juga. Tidak segala hal bisa dianggap urusan pribadi seseorang.

Di negara-negara sekuler, sudah biasa orang mengkritik pejabat publik yang memperlihatkan kebiasaan buruk. Obama dikritik karena merokok walaupun tidak pernah terlihat merokok di depan publik. Demikian pula minum bir, misalnya. Orang Barat biasa meminum bir. Tapi ketika pejabat publik disorot kamera ya harus "jaim". Gonta-ganti pacar, itu juga biasa bagi orang Barat. Tapi kalau ini terjadi pada seorang perdana menteri, ya enggak enak dilihatnya. Artinya, sekularisme gagal mempertahankan prinsip "individualismenya" sendiri.

Pada kenyataannya, manusia itu makhluk sosial. Tidak hidup masing-masing saja. Ketika Anda merokok, bisa dipastikan yang menghisap asapnya bukan Anda sendiri, dan ketika orang merokok, bisa dipastikan pula yang menyaksikan bukan dirinya sendiri. Bagaimana jika pejabat publik yang merokok? Siapa yang menyaksikan? Berapa yang tergoda untuk mengikuti?

Pada akhirnya, masyarakat sekuler di Barat pun mengakui kenyataan bahwa mereka harus melindungi anak-anak mereka sendiri. Mereka tidak mau pejabat publik melakukan hal-hal yang tidak baik, agar anak-anak mereka tidak meniru. Walaupun di sini orang-orang sekuler mengkhianati ideologinya sendiri, tapi di sisi lain bisa kita pujimasih ada akal sehatnya.

Nah, kalau sekuler inlander ini lain daripada yang lain, bahkan lain dari yang "sekuler beneran" sekalipun. Orang-orang sekuler inlander ini biasanya "lebih sekuler" daripada yang sekuler tulen. Di satu sisi, mereka masih beribadah, masih beragama, tapi cara berpikirnya bisa jadi nyerempet-nyerempet atheis. Demi mempertahankan "hak-hak individu", apa yang tidak selayaknya dibela pun dibela juga. Mungkin supaya kelihatan "sekuler 24 karat"? Ya, bisa saja. Namanya juga sekuler inlander. Kerjanya cari muka pada "majikan".

Di Indonesia, rokok sudah jadi masalah besar. Jangankan anak sekolah, balita saja ada yang merokok. Hebat kan? Saking fanatiknya pada rokok, teman saya cerita bahwa dia pernah bertemu orang yang mau merokok di dalam pesawat. Katanya, industri rokok menghidupi banyak orang. Oke, tapi rokok membunuh berapa orang? Katanya, industri rokok mendatangkan pemasukan. Oke, lalu kerugian akibat merokok berapa? Sudah dihitung? Di Barat, aturan-aturan ketat seputar rokok sudah diterapkan. Merokok dibuat susah. Malah, ada negara yang berwacana agar negaranya dijadikan benar-benar bebas rokok. Lagi-lagi, sekularisme gagal. Diam-diam banyak juga orang sekuler yang percaya pada "kebenaran absolut". Bahwa rokok itu lebih banyak merugikan daripada menguntungkannya, itu sudah pasti benar. Tak terbantahkan.

Namun, bagi kaum sekuler inlander, hal ini akan dibela terus. Mengapa? Karena kebenaran harus relatif? Generasi muda hancur karena rokok, tetap saja rokok dibela terusatas nama kebebasan. Sudah miskin, kecanduan merokok pula. Makin susah hidupnya. Tapi atas nama kebebasan, rokok harus dibela. Kalau memang benar menggunakan logika, rasionalitas, dan fakta-fakta ilmiah, harusnya semua orang sekuler itu antirokok. Kalau mengaku menjunjung tinggi hak-hak asasi masyarakat, harusnya semua orang sekuler itu antirokok. Tapi ya, begitulah dunia sekulerambigu. Mendesak rokok, tapi tidak bisa juga melarangnya. Minuman keras juga sama. Sudah jelas merusak, tapi masih dibela. Dibenci, tapi enggak ada yang berani melarang. Zina juga sama. Jelas-jelas biadab, tapi demi hawa nafsu ya dibela juga. Generasi hancur, apa boleh buat. Setidaknya, kaum sekuler yang masih berakal, masih berusaha mencegah ekses negatif dari hal-hal tersebut. Tapi sekuler inlander enggak.

Bicara soal sekuler inlander ini, saya selalu ingat pada tulisan Sumanto Al Qurtuby. Lihatlah di paragraf ketiga dari bawah. Benar, bagi orang sekuler, pelacuran itu sah-sah saja. Namun, siapa yang membandingkan pelacur dengan dosen? Bahkan orang sekuler yang menganggap zina itu boleh pun tak sudi membuat perbandingan demikian. Di negeri-negeri sekuler, meski pelacuran itu legal, tetap saja profesi dosen jauh lebih terhormat. Inilah "kebenaran absolut" yang diam-diam diyakini di negeri-negeri sekuler Barat. Tapi sekuler inlander lebih lebay gayanya. Demi membela apa yang hendak mereka bela, digunakanlah logika-logika menyesatkan.

Kita masuk lagi ke studi kasus. Perhatikan perkembangan wacananya, bukan hanya kasusnya. Muncullah gambar seperti ini.

Jelas, siapa pun yang membuat gambar seperti ini bukan hanya melakukan pembelaan, tapi juga menunjukkan kebencian. Kebencian pada apa? Ya, pada jilbab. Karena sejak awal kasus Bu Susi ini tidak membicarakan jilbab. Tidak ada yang mengkritisi Bu Susi karena tidak berjilbab. Memang di Indonesia belum semua berjilbab, sudah pada maklum. Yang dikritisi adalah merokok di depan publik. Namun, dalam hal ini isunya dibelokkan sedemikian rupa. Kemudian, digunakanlah citra muslimah berjilbab yang kurang baik, yaitu Ratu Atut yang sedang terjerat kasus. Ini logika sesat. Membela pencuri ayam dengan mengatakan bahwa di kampung sebelah ada yang mencuri kambing. Kemudian diambil ‘sepotong image’ untuk merusak citra. Dalam hal ini, yang dirusak adalah citra muslimah berjilbab. Jilbab dihadapkan dengan rokok dan tato. Hanya dengan satu sampel. Itu kata kuncinya: SAMPEL! Sama saja dengan yang bilang “lebih baik enggak berjilbab, tapi menjaga kehormatan daripada berjilbab, tapi diam-diam bejat.”

Kombinasi 1: merokok, bertato, pekerja keras.

Kombinasi 2: berjilbab, tidak merokok, tidak bertato, tapi diduga korupsi.

Padahal masih banyak kombinasi yang lain. Apa koruptor yang merokok tidak ada? Apakah koruptor perempuan itu lebih banyak yang berjilbab atau tidak? Statistik tidak bisa cuma menggunakan satu sampel. Kalau bisa pakai 1 sampel, boleh dong saya bikin perbandingan begini? Ini contoh saja.

Isu lainnya yang hot adalah mengenai pejabat publik yang kata-katanya kasar. Muncul jargon: “lebih baik memaki, tapi tidak korupsi!” Inilah sekuler inlander. Akalnya rusak. Padahal majikan mereka di Barat enggak begitu mikirnya. Biarpun sekuler, enggak ada yang mengabaikan sopan santun. Pernah membayangkan Obama bilang “A**hole!” (maaf ini cuma contoh) enggak? Kalau ini terjadi, pasti rakyat AS akan ngamuk. Padahal warga AS banyak yang sudah biasa mengucapkan kata itu. tapi tetap saja tidak layak bagi pemimpin. Coba lihat kenyataan di lapangan. Orang Indonesia sudah tidak lagi terbiasa bicara santun. Di Twitter, ada kelompok-kelompok yang suka mencaci-maki, bahkan kalau sudah mentok debat ujung-ujungnya kirim gambar porno. Di sekolah-sekolah, generasi muda sudah menjadi korban bullying. Kekerasan fisik dan verbal di mana-mana. Oke, korupsi itu masalah besar, tapi kekerasan fisik dan verbal juga sudah menjadi masalah besar di Indonesia. Jadi, kalau ada yang bilang pejabat enggak apa-apa maki-maki asal enggak korupsi, itu artinya dia tidak peduli negeri ini rusak.

Orang-orang sekuler inlander ini berusaha begitu keras untuk jadi sekuler sehingga mereka melampaui batas sekularisme itu sendiri. Sekularisme sudah mentok, dan orang-orang sekuler menyadarinya, tapi kaum sekuler inlander tidak peduli, semuanya ditabrak! Sebelum saya tutup, saya ingin jelaskan lagi bahwa persoalan Bu Susi hanya studi kasus di kultwit ini. Memang nyatanya hukum di negeri ini belum melarang rokok. Namun, ada standar perilaku untuk pejabat publik, meski tak tertulis. Kalau kita menggunakan akal sehat, pasti menyadari aturan-aturan tak tertulis tersebut. Baik yang sekuler maupun yang tidak. Saya tidak mengatakan bahwa Bu Susi harus mundur karena alasan tersebut. Bongkar-pasang kabinet belum tentu hal yang bagus. Saya juga tidak mempertanyakan kecerdasan Bu Susi. Orang yang bisa mengelola maskapai enggak mungkin bodoh kan?

Saya hanya ingin katakan bahwa banyak orangtua yang berharap anak-anak mereka bisa memiliki panutan yang baik. Itu saja. Tapi kalau sudah sekuler inlander, ya tidak ada lagi akal sehat. Tidak bisa diajak bicara baik-baik lagi. Apa pun dilakukan meski dengan pemikiran setengah matang atau jangan-jangan tidak dipikirkan dulu?  Semoga kita terhindar dari kejahilan yang demikian.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.