15 Oktober 2014

RBTH Indonesia: Sebuah Perjalanan dan Pengalaman Luar Biasa

Beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat semangat menulis. Rasanya selalu ada ide yang ingin saya tuangkan ke dalam blog. Kali ini saya ingin berbagi mengenai apa saya lakukan dengan pekerjaan saya dan bagaimana saya akhirnya bisa terjun ke pekerjaan ini.

Setidaknya beberapa bulan sejak saya bergabung di RBTH Indonesia, banyak yang bertanya tentang bagaimana pertama kali saya bisa diterima di perusahaan media yang belum genap setahun usianya di Indonesia. Sebetulnya ini bermula dari perkenalan saya dengan seorang bule Rusia yang sedang belajar di UI pada pertengahan 2010.

Pertemuan Random di Stasiun UI

Saya punya kesenangan yang menurut saya pribadi agak aneh, tapi di satu sisi, saya merasa harus melakukan "kesenangan" ini kalau ingin berkembang. Ya, salah satu kesenangan saya adalah SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan bule-bule demi memperlancar bahasa Inggris. Bagi saya ini penting karena saya tidak pernah mengenyam pendidikan bahasa Inggris di lembaga pendidikan bahasa Inggris manapun. Saya tidak pernah ikut kursus karena ayah saya yang mengajarkan saya bahasa Inggris sejak saya kecil. Namun, sejak ayah saya meninggal pada tahun 2007, praktis saya tidak pernah belajar bahasa Inggris lagi, atau setidaknya tidak ada orang yang bisa diajak berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Ayah saya sebetulnya juga tidak pernah kursus bahasa Inggris. Saya pikir beliau sangat hebat karena belajar bahasa Inggris secara otodidak. Beliau selalu cerita dulu bahwa di kampungnya ia sering SKSD dengan bule-bule turis yang berwisata ke Sumatera Barat. Itu adalah salah satu cara ayah saya berlatih bahasa Inggris tanpa ada tutor sama sekali.

Terinspirasi dari situ, sejak kepergian ayah saya, saya merasa harus melakukan hal yang serupa kalau ingin maju. Karena jujur saja, kursus bahasa Inggris itu tidak murah dan setelah ayah saya meninggal, pastinya perekonomian keluarga juga berpengaruh sehingga kami harus benar-benar mengatur keuangan dengan sebaik mungkin. Saya pikir, karena saya (merasa) sudah cukup mendapatkan banyak pelajaran bahasa Inggris, jadi mungkin tidak terlalu perlu ikut kursus lagi.

Namun, biar bagaimanapun, saya tetap perlu berlatih berkomunikasi. Karena bahasa adalah masalah kebiasaan. Semakin biasa berbicara dengan bahasa asing maka pastinya akan semakin lancar. Jadi, saya butuh... bule. Sebetulnya, di Jakarta ada banyak bule, tapi kalau di UIsetidaknya selama masa saya kuliahbelum sebanyak sekarang.

Nah, jadi, bermula dari pertemuan saya dengan seorang bule Rusia yang sedang belajar di UI. Pertemuan ini sebetulnya sebuah kebetulan walau saya pikir sekarang pertemuan itu memang seperti sudah "digariskan" (ini menurut saya ya). Liza, namanya, saat itu sedang menunggu kereta ke Jakarta dari Stasiun UI. Saya juga saat itu mau pulang dan karena melihat bule yang sedang menunggu kereta ini, saya langsung duduk di sebelahnya dan menyapa. Reaksinya? Kaget. Pastinya ini hal yang wajar karena setelah saya lebih akrab dengan Liza, dia cerita bahwa di Rusia (atau ya... di Barat pada umumnya) memang tidak biasa untuk menyapa orang asing di tempat umum.

Intinya, saya berkenalan dengan Liza di Stasiun UI. Saat itu dia sedang belajar Bahasa Indonesia. Bagi saya, ini sangat menarik karena ada orang Rusia mau belajar bahasa Indonesia. Untuk apa? Liza juga tidak tahu, tapi dia memang belajar bahasa Indonesia di Rusia dan dia ke Indonesia untuk memperlancar bahasa Indonesianya. Sejak pertemuan (yang saya anggap) random itu, saya berteman baik dengan Liza, bahkan pada Lebaran 2010, saya mengajak dia ke rumah untuk mencicipi hidangan Lebaran ala orang Indonesia, dan dia suka!

Liza tinggal di Depok selama setahun. Dia kembali ke Moskow pada pertengahan 2011. Meskipun berteman baik, bukan berarti saya sering bertemu dengan dia di kampus karena saya juga punya banyak kegiatan di kampus, begitu juga dengan dia. Namun, Facebook sangat membantu berkomunikasi bahkan hingga dia kembali di Moskow, setidaknya beberapa kali saya mengobrol dengan Liza di situs jejaring sosial ini.

Bersyukur Punya LinkedIn

Pada awalnya, saya pikir LinkedIn adalah salah satu jejaring sosial yang paling membosankan. Ini bisa dimaklumi karena jejaring sosial yang satu ini memang digunakan untuk membangun jaringan profesional. Namun, karena saya suka mencoba berbagai macam media sosial, saya pikir tidak afdol kalau tidak punya LinkedIn. Dan ya, saya pun akhirnya membuat satu akun LinkedIn.

Saat itu saya masih bekerja di aora TV Satelit dan berencana untuk pindah, mencari pengalaman baru. Suatu hari saya melihat Liza memublikasikan lowongan guest-editor untuk RBTH Asia di grup LinkedIn FISIP UI.

Saat melihat lowongan itu, saya langsung mengirimkan email ke Liza dan menanyakan apakah saya bisa mendaftar. Saat itu Liza mengatakan bahwa mereka mencari orang yang sudah lebih berpengalaman. Saya secara fair harus mengatakan bahwa saya memang tidak ada pengalaman editing di dunia kerja. Pekerjaan saya di aora TV sangat jauh dari jurnalisme.

Saat itu saya masih sempat berkirim email beberapa kali dengan Liza dan membantunya memberikan rekomendasi mengenai orang-orang yang mungkin bisa mengisi posisi guest-editor yang dicari. Pada saat itulah saya baru tahu soal Russia Beyond the Headlines (RBTH). Liza menjelaskan bahwa RBTH akan meluncurkan produk terbarunya, yaitu RBTH dalam bahasa Indonesia dalam waktu dekat. Oleh karena itu, mereka kini sedang mencari guest-editor yang harus seorang penutur asli bahasa Indonesia. Liza sendiri menjabat sebagai editor untuk RBTH Indonesia.


Dari Freelancer Hingga Karyawan Tetap

Pada bulan Oktober 2013, saya pindah ke sebuah agensi digital. Lagi-lagi, ini bukan bidang jurnalisme. Padahal saya kuliah di jurusan jurnalisme. Namun, memang, kalau boleh jujur, saya tidak begitu ingin menjadi wartawan. Menjadi wartawan itu haruslah passion, panggilan hati. Saya pikir, saya tidak punya passion yang cukup besar untuk menjadi seorang wartawan. Namun, saya suka menulis dan pekerjaan editing termasuk hal yang menurut saya menyenangkan.

Elizaveta Moskvina
Sekitar dua minggu setelah bekerja di tempat baru, Liza kembali menghubungi saya. Kali ini, dia menawarkan sesuatu yang sebetulnya di luar dugaan saya. Liza mengatakan bahwa RBTH Indonesia butuh Social Media Manager, dan dia pikir saya bisa menjadi orang yang tepat. Saat itu juga saya merasa sangat bersemangat karena saya tahu ini sebuah peluang besar. Namun demikian, saya tetap harus mengirimkan surat lamaran dan mengikuti wawancara melalui Skype. Liza, saat itu, bukanlah atasan saya. Saya berada di bawah seorang Director of Social Media yang tinggal di London. Jadi, diterima atau tidaknya saya di RBTH Indonesia adalah atas keputusan Director of Social Media, bukan Liza. Liza saat itu hanya sebagai referensi atau pemberi rekomendasi bagi si Director of Social Media ini.

Saya ingat saat itu pukul 22.00, dan 30 menit sebelumnya saya baru sampai di rumah setelah pulang kantor. Saya merasa sangat bersemangat untuk mengikuti wawancara via Skype untuk pertama kalinya. Wawancara itu berlangsung sekitar satu jam. Hasilnya? Tiga hari kemudian, Ilaria, Director of Social Media RBTH mengirim email bahwa saya diterima sebagai Social Media Manager RBTH Indonesia. Ini jauh di luar dugaan saya. Namun, status saya saat itu adalah sebagai freelancer, tapi siapa peduli? Saya sangat suka dengan "jabatan" baru ini walau tentu saja, kata "manajer" di sinilah yang membuat pekerjaan ini terlihat cukup keren. Saya pun resmi bergabung menjadi bagian tim RBTH Indonesia. Saat itu ada Liza sebagai editor, satu orang web editor (yang saya lupa namanya), dan saya sebagai Social Media Manager.

Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, bahwa bule Rusia yang saya temui secara tidak sengaja dan tiba-tiba SKSD di Stasiun UI bisa menjadi rekan kerja saya, dan ini nyata. Tidak peduli jarak Jakarta dan Moskow yang begitu jauh, tapi kami ternyata bisa bekerja bersama, dan ini luar biasa!

Sejak saat itu, otomatis saya mempunyai dua pekerjaan. Satu pekerjaan tetap di agensi digital dan satu pekerjaan freelance di RBTH Indonesia. Sebetulnya, sama seperti pekerjaan lain pada umumnya, di RBTH Indonesia ini pun saya harus mengikut masa percobaan selama tiga bulan. Namun, di bulan kedua, saya mengajukan permohonan untuk menjadi karyawan tetap (setelah saya pikir-pikir sekarang, rasanya ini agak "kurang ajar", bahkan masa percobaan pun belum selesai). Saya menanyakan hal ini kepada Liza dan ternyata hal ini memungkinkan. Akhirnya di bulan ketiga, saya resmi menjadi karyawan tetap di RBTH sebagai web editor (yang pekerjaannya juga merangkap Social Media Manager).

Pengalaman Luar Biasa Bersama Orang-orang Rusia

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya bahwa saya bisa di posisi sekarang ini dan betapa saya sangat bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagaimana tidak? Saya merasa ini adalah pekerjaan yang luar bisa. Saya adalah bagian dari tim redaksi yang seluruhnya berkantor di Moskow, sementara saya tinggal ribuan mil jauhnya dari Moskow. Namun, RBTH Indonesia bisa berjalan, sistem ini berjalan dengan baik. Selain itu, kini saya punya waktu yang sangat fleksibel di mana kebanyakan orang mungkin mendambakan waktu kerja yang tidak terikat waktu, dan saya bisa mendapatkan itu. Ibu saya tidak perlu sendirian lagi di rumah karena saya selalu ada di rumah. Ekonomi keluarga saya pun sangat terbantu, adik saya bisa tetap kuliah, ini semua suatu anugerah yang tidak bisa saya gambarkan.

Tidak hanya itu, di RBTH, saya berkesempatan untuk menapakkan kaki di negeri beruang merah pada Juni lalu. Saya bisa ke Rusia untuk menghadiri rapat tahunan di Moskow dan bertemu dengan orang-orang luar biasa yang sebelumnya hanya saya lihat nama-namanya di laman tim RBTH dan di email-email masuk.

Siapa bilang orang Rusia tidak ramah? Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari tim yang luar biasa hebat ini. Seluruh orang di RBTH sangat baik dan sangat hebat, sekalipun saya tidak bisa berbahasa Rusia (saya sedang mempelajarinya saat ini). Lebih dari itu, sebagian besar dari mereka berusia di bawah 30 tahun bahkan tadinya saya pikir saya termasuk yang paling muda di sana, ternyata tidak, ada beberapa karyawan yang seumuran dengan saya, dan ini luar biasa!

Bahkan di saat ulang tahun saya di bulan Juli lalu, teman-teman redaksi di Moskow mengucapkan selamat ulang tahun dengan cara yang, bagi saya, sangat manis.

Mungkin bagi mereka itu adalah hal biasa, tapi menjadi bagian dari tim yang tidak berada di Moskow kadang kala bisa membuat saya merasa "jauh". Tapi ternyata tidak, mereka di sana sangat peduli dan betapa saya sangat bangga dan bersyukur bisa menjadi bagian dari tim hebat ini.

Ya, kira-kira begitu cerita panjang saya dengan RBTH. Mulai dari bagaimana saya bertemu Liza (yang kini otomatis adalah atasan saya) hingga bisa bekerja dan menjadi bagian dari tim RBTH di Moskow. Semoga bisa menginspirasi!



Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

3 komentar :

Hai Mas Fauzan.. Saya lulusan Sastra Rusia UI dan saat ini bekerja sebagai reporter di salah satu media online Indonesia sejak Mei 2012. Saya sempat mencari lowongan pekerjaan di RBTH tapi tidak menemukannya. Apa mungkin saat ini RBTH Indonesia sedang mencari reporter atau editor?

Terima kasih

Halo, maaf telat bales. Untuk saat ini belum ada lowongan di RBTH Indonesia, karena kami memang masih baru dan 'masih kecil' ya, dalam arti, belum seperti edisi lain yang emang punya edisi cetak.

Untuk reporter gitu juga belum ada, karena memang kalau RBTH itu 90% memang konten berita Rusia jadi penulisnya pun dari Moskow semua, kalau pun ada yang berkaitan dengan Indonesia--misalnya ada kegiatan Rusia-Indonesia di sini--itu biasanya saya yang 'terjun' ke lapangan.

Kalau untuk editor, semuanya berbasis di Moskow (kecuali saya, karena kalau web editor masih bisa ngga di Moskow, tapi kalau editor harus di sana), dan untuk editor RBTH Indonesia ini si Liza. Tapi mudah-mudahan--saya pastinya ngga bisa janji--siapa tau tahun 2015 ini kami bisa bikin edisi cetak, dan mungkin akan perlu tambahan orang, pastinya nanti akan diumumkan. Tapi untuk sekarang ini memang belum ada karena apalagi Rusia lagi kena krisis, dan itu lumayan parah.

mas fauzan, sekedar tanya ni, apakah rbth indonesia akan membuka lowongan untuk bagian ITnya ? Karena kebetulan saya seorang programmer dan juga menggemari sesuatu yang berbau rusia

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.