13 November 2014

Ahok, FPI, dan Kita

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama
Beberapa hari belakangan ini isu penolakan pelantikan Basuki Tjahaja Purnama, atau yang akrab disapa Ahok, semakin lantang disuarakan oleh kelompok Front Pembela Islam (FPI). Sekarang, saya melihat masyarakat Jakarta semakin terbagi-bagi. Maksudnya, ada yang sangat membela Ahok, ada yang benci FPI, tapi di satu sisi tidak setuju dengan dilantiknya Ahok sebagai gubernur, dan memang yang murni mendukung gerakan FPI.

Pertama, marilah kita menimbang-nimbang dan melihat dari berbagai perspektif mengenai masalah ini. Bagi saya pribadi, yang bukan orang ber-KTP Jakarta, dulu saya termasuk orang yang sangat kagum dengan sosok Ahok. Dulu? Ya... dulu. Sebetulnya, sekarang saya juga masih kagum, tapi kekaguman itu agak berkurang.

Oke, saya jelaskan satu per satu. Kenapa dulu saya kagum dengan beliau? Karena beliau bersama Jokowi muncul sebagai angin segar di pemerintahan ibukota ini. Ibukota ini rasanya seperti punya harapan nyata. Cita-cita mempunyai "Jakarta Baru" memang bukanlah sekedar angan-angan. Saya percaya sebagian besar orang mengikuti betul segala perubahan dan gebrakan yang dilakukan oleh "duet maut" ini. Nyatanya, mereka berhasil. Orang-orang seakan tersihir akan kerja cepat kedua pemimpin kota ini, dan khususnya Ahok, orang-orang terkesan karena beliau tidak sekedar bicara, tapi bertidak, dan cepat. Semua ada hasilnya, dan kita bisa lihat itu.

Belum lagi, kita disuguhi dengan sikap Ahok yang "garang", yang tidak segan-segan menegur dan bahkan mencopot pegawai-pegawai yang tidak benar. Semua dituntut harus sempurna oleh Ahok. Bagi masyarakat ibukota yang (kadang) sudah terlalu jenuh dengan gaya birokrasi pemerintah selama ini, tentunya ini menjadi suatu hal yang menggembirakan. Tidak hanya itu, bagaimana Ahok menegur dan menunjukkan "taringnya" di berbagai kesempatan juga dapat dinikmati masyarakat melalui kanal YouTube Pemerintah DKI Jakarta. Otomatis, hal ini menjadi semacam hiburan baru bagi masyarakat. Jujur saja, saya termasuk salah satu penikmatnya.

Sekarang, Jokowi sudah pindah kantor, tidak lagi di Balai Kota. Otomatis, kita butuh gubernur baru. Orang bilang, gubernur Jakarta itu ibarat RI-3. Sebegitu pentingnya posisi gubernur Jakarta di negara ini. Kini, Ahok masih berstatus sebagai pelaksana tugas gubernur, tapi FPI dengan lantang menolak pelantikan Ahok sebagai gubernur.

Tegas Bukan Kasar dan Begitu Sebaliknya

Saya tidak suka FPI, dari dulu. Saya muslim, tapi saya tidak suka FPI. Saya merasa FPI kerap membuat citra Islam menjadi buruk. Namun demikian, saya pikir, tidak adil juga rasanya kalau kita terus-terusan "menghakimi" FPI ini. Jadi, coba kita lihat dari perspektif FPI, kenapa mereka sangat menolak pelantikan Ahok?

Menurut FPI, selain karena Ahok bukan seorang muslim, lebih dari itu, Ahok dinilai kerap berkata kasar dan arogan, dan jujur saja, saya pikir ini kita harus sepakati bersama. Maksud saya, poin bahwa Ahok kerap berkata kasar dan arogan. FPI menilai kata-kata Ahok terlalu tajam dan tidak pantas dilontarkan sebagai seorang pemimpin.

Saya coba berikan satu contoh kata-kata Ahok yang masih "lumayan" ya. Lumayan dalam arti, saya pernah baca yang lebih parah. Jadi, saya pernah membaca sebuah artikel di Liputan6.com mengenai komentar Ahok terkait siswa nakal. Lantas, Ahok mengatakan, "Sekolah negeri dipakai oleh pelajar yang sok-sokan. Tidak naik kelas atau pecat. Pertama dikasih kesempatan bolehlah. Kalau masih diulangi lagi, kamu sudah bukan anak, kamu calon bajingan. Sekolah kita terbatas. Banyak anak-anak miskin sekolah di sekolah swasta yang jelek dan murah."

Ya, ada kata "bajingan". Tidak perlu ditanya, itu memang kata yang sangat kasar. Pernyataan Ahok ini jelas menimbulkan pro dan kontra. Dulu, saat pertama kali saya membaca artikel ini saya menganggap bahwa orang-orang yang kontra terhadap pernyataan ini terlalu lebay. Orang kita sebenarnya terbiasa bicara dengan kata-kata kasar (dalam kehidupan sehari-hari), tapi enggak biasa mendapatkan pemimpin yang biasa "ceplas-ceplos" bicara (agak) kasar apa-adanya dan dipublikasikan di media. Kita terbiasa mendengar pemimpin yang ya... kira-kira "enak" saja didengar. Kita terbiasa dengan kata-kata yang standar yang keluar dari mulut para pemimpin kita. Jadi, mungkin banyak yang kaget ketika ada yang seperti Ahok ini, dan merasa ya... bahasanya Ahok ini kasar. Padahal hampir kita semua biasa berinteraksi dengan orang-orang yang bicara kasar sehari-hari. Ini Jakarta.

Namun sekarang, setelah saya mendengar begitu banyak "gaya bicara kasar" Ahok, saya merasa bahwa ini sudah terlalu berlebihan. Biar bagaimanapun Ahok adalah seorang pemimpin dan seorang pemimpin haruslah menjadi contoh teladan bagi rakyatnya, mulai dari tutur kata hingga perilakunya. Katakanlah Ahok adalah pribadi yang suka "ceplas-ceplos" apa adanya, tidak bertopeng seperti pejabat kebanyakan, tapi ia tetap harus bisa bersikap. Ahok harus bisa menempatkan dirinya dengan baik.

Kini, saya melihat Ahok bukan sebagai sosok yang tegas. Dulu, ya, beliau terlihat tegas dan kita suka. Sekarang, saya melihat ini terlalu berlebihan. Ahok harus bisa membangun komunikasi politik yang baik. Kalau dikatakan Ahok itu orang Sumatera, dan orang Sumatera punya pribadi yang cenderung keras, saya kira ini tidak bisa dijadikan pembenaran. Pemimpin, dari mana pun asalanya, harus bisa menjadi contoh teladan, itu jelas. Kini saya sangat menyayangkan pribadi Ahok yang sepertinya tidak bisa "mengerem" emosi dan kata-katanya.

Saya suka Ahok sebagai pribadi yang bisa memimpin Jakarta, tapi saya juga tidak mau Jakarta dipimpin oleh orang yang tidah bisa berkomunikasi dengan baik dan merangkul semua pihak. Saya tidak suka FPI, banyak orang yang tidak suka. Saya tahu, Ahok juga tidak suka. Tapi saya belajar satu hal selama berorganisasi di kampus dulu. Rakyat bisa dan boleh saja tidak suka dengan pemimpinnya, tapi sang pemimpin tidak boleh tidak menyukai rakyatnya karena mereka adalah tanggung jawab si pemimpin.

Dalam hal ini, saya harap Ahok bisa menurunkan egonya terhadap FPI. Saya tahu, Ahok juga sudah berusaha mengajak diskusi FPI, tapi FPI memang "batu". Namun, FPI itu tetap bagian dari masyarakat Jakarta, dan menjadi tugas Ahoklah untuk merangkul orang-orang ini. Jika saya di posisi Ahok, merangkul FPI akan menjadi suatu hal yang paling tidak menyenangkan sedunia, tapi saya harus lakukan itu karena mereka adalah bagian dari masyarakat Jakarta yang saya pimpin. Dan terlebih lagi, pemimpin bukanlah pemimpin tanpa rakyatnya.

Semua Pihak Harus (Belajar) Dewasa

Pro dan kontra itu wajar terjadi. Saya tidak mau mengaitkan Ahok dengan soal agama dan ras karena itu terlalu kekanak-kanakan. Kita harusnya lebih dewasa dalam menerima perbedaan. Kalau toh ada yang merasa bahwa kaum mayoritas harus menjadi pemimpin, tapi nyatanya selama ini pemimpin dari kaum mayoritas belum ada yang bisa membuat "gebrakan" seperti yang dilakukan Ahok dalam beberapa tahun kepemimpinannya bersama Jokowi dulu. Kita juga harus ingat bahwa yang memilih Ahok adalah masyarakat Jakarta. Dengan berduet bersama Jokowi, jika kaum mayoritas khawatir dengan kepemimpinan Ahok di masa mendatang, seharusnya mereka bisa membaca situasi bahwa ada kemungkinan Jokowi akan menjadi presiden dan itu artinya Ahok akan menjadi gubernur.

Sekarang semuanya telah terjadi, yang terbaik bisa kita lakukan adalah menjauhkan prasangka buruk seraya tetap berkontribusi dalam pembangunan Jakarta. Sementara bagi Ahok, saya berharap beliau bisa memperbaiki gaya komunikasinya. Bagaimanapun, Ahok harus ingat bahwa ini Indonesia. Ada nilai dan etika yang dianut oleh masyarakat dan ia harus mengerti itu.

Jadi, dalam hal ini, ketika ada orang-orang yang tidak suka dengan FPI yang berunjuk rasa menentang Ahok, sebetulnya kita juga tidak boleh terlalu "sinis" karena berunjuk rasa itu dibolehkan dalam Undang-undang kita, itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Kita tentunya kesal, saya juga. Namun, ketika kita coba lihat dari perspektif mereka, kenapa mereka tidak suka dengan Ahok, saya pikir ada poin-poin yang bisa dipahami dan ada benarnya, terutama soal gaya bicara Ahok. Gaya bicara ini otomatis membuat gaya kepemimpinan Ahok menjadi buruk. Ada perbedaan yang jelas antara bersikap tegas dan berbicara kasar.

Saya percaya Ahok bisa membuat Jakarta lebih baik, tapi saya juga berharap Jakarta dipimpin oleh pemimpin yang santun. Santun itu tidak melulu soal pencitraan. Santun itu adalah soal etika dan moral.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.