27 November 2014

Gemar Mencibir, Akankah Menjadi Karakter Masyarakat Indonesia?

Pagi ini, lagi-lagi, linimasa media sosial saya dipenuhi dengan status dan gambar yang sejak beberapa bulan terakhir tak pernah absen "menghias" dinding media sosial di tanah air. Ya, apalagi kalau bukan mengenai hal-hal yang menjelek-jelekan Jokowi (dan pemerintahnya) dan Prabowo (juga masih ada).

Kalau harus "buka-bukaan", saya dulu mendukung Prabowo dalam pemilihan presiden lalu. Tentunya saya punya alasan tersendiri mengapa saya mendukung beliau. Namun, ini bukan berarti saya "menikmati" hinaan demi hinaan (atau sebut saja, hal-hal nyinyir) yang dilontarkan terhadap Jokowi hingga saat ini.

Saya pikir, sudah cukuplah semua hal terkait persaingan masa pilpres lalu. Tahun ini benar-benar tahun yang sangat emosional dan melelahkan. Saya kerap bertanya-tanya, apakah orang-orang ini tidak bosan mencari-cari kesalahan orang lain? Mereka seakan sangat gencar mencari-cari celah kesalahan dan memublikasikannya di media-media sosial. Tidak hanya itu, beberapa media juga semakin tidak "waras". Ada media-media yang secara konsisten memberitakan hal-hal positif mengenai kinerja pemerintah, tapi ada juga yang secara konsisten memberitakan kesalahan-kesalahan pemerintah.

Terlalu Melelahkan

Demi Tuhan, semua ini sangat melelahkan. Sejujurnya, saya paling tidak suka dengan orang yang mengeluh, tapi seperti yang baru Anda baca: saya mengeluh. Ya, sebagian orang akan berkata bahwa semua ini adalah bagian dari "pengawasan" terhadap pemerintah yang baru, ini adalah bagian dari kebebasan berekspresi, dan sebagainya.

Ingin rasanya sesekali saya "menggaruk" muka orang yang menjadikan alasan-alasan tersebut sebagai pembenaran untuk menjelek-jelekan pemimpinnya sendiri. Kalau orang-orang ini mengatakan bahwa ini adalah sebagai kritik bagi pemerintah, saya pikir mereka harus bisa membedakan mana yang disebut kritik dan mana yang disebut menjelek-jelekan sebagai akibat (yang katanya) tidak bisa move on.

Bagi sebagian besar pendukung Prabowo, kekalahan Prabowo mungkin dirasa tidak adil. Namun, semua itu sudah melewati proses hukum yang panjang dan Mahkamah Konstitusi sudah "ketok palu" bahwa kemenangan Jokowi-JK sah. Bagi saya pribadi, saya memang merasa Prabowo lebih pantas dalam memimpin negara ini, tapi sudah cukup sampai situ. Setidaknya saya tidak sampai menulis di media-media sosial, seperti, "Bagi saya, Prabowo tetaplah presiden RI." Ya, ada banyak banget orang yang menulis hal-hal semacam ini. Hal-hal seperti ini hanya semakin menyulut api perpecahan.

Faktanya, masyarakat kita memang sudah semakin terpecah belah. Terpecah belah karena sifat ketidakdewasaan antara kedua kubu pendukung. Dalam hal ini, kedua kubu pendukung salah. Di atas, saya sudah memaparkan aksi ketidakdewasaan para pendukung Prabowo. Bagaimana dengan pendukung Jokowi? Sejujurnya menurut saya mereka juga tidak lebih baik. Pendukung Jokowi kerap "mendewakan" pemimpin idolanya ini. Saya juga sering melihat di media-media sosial bahwa apa yang dilakukan Jokowi dianggap sebagai suatu hal yang sangat tepat.

Contoh sederhana adalah terkait kenaikan BBM. Sebagian orang merasa ini sebagai "pengkhianatan" terhadap rakyat, tapi sebagian lainnya menganggap ini kebijakan tepat. Mungkinini hanya asumsi sayasebagian besar yang pro kebijakan kenaikan BBM adalah orang-orang yang mendukung program Jokowi. Padahal, tentunya di antara kalangan pendukung beliau pasti ada saja yang sebenarnya merasa berat dengan kenaikan ini, tapi apa boleh buat? Karena sudah mati-matian mendukung, jadi diikhlaskan saja, daripada nanti dianggap tidak konsisten atau menjilat ludah sendiri.

Masyarakat Harus Lebih Dewasa

Saya pikir, di sini, masyarakat kita harus lebih dewasa. Kalau kita bilang bahwa para anggota dewan di Senayan sana sering berperilaku kekanak-kanakan, tolong instrospeksi diri dulu. Mereka yang bekerja di Senayan itu mewakili kita semua, rakyat Indonesia, yang sifatnya jangan-jangan juga mewakili sifat rakyat Indonesia: kekanak-kanakan.

Sampai kapan kita harus terpecah hanya karena "jagoan" kita tidak menang? Sampai kapan kita harus terpecah hanya karena "jagoan" yang kita anggap luar biasa dan nyaris tiada cacat itu tidak boleh dikritik?

Setiap hari kita membaca dan mendengar di media-media berbagai kritikan yang dilontarkan kepada pemerintah. Baik dari para pakar maupun orang-orang biasa, ya... kita-kita inilah. Sekarang, coba kita pikirkan, apakah mengurus negara semudah membalikkan tangan? Apakah mengurus negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk yang luar biasa besar ini semudah hal-hal yang disarankan para pakar? Kenapa para pakar tidak ada yang jadi presiden? Kalau toh para pakar, atau mungkin kita, merasa punya solusi yang dianggap lebih tepat dalam menyelesaikan masalah demi masalah di Indonesia, kenapa tidak maju mencalonkan diri menjadi presiden? Sebagian mungkin akan bilang: bukan kapasitas saya untuk menjadi presiden. Lantas, hal apakah yang membuat kita memiliki kapasitas untuk terus-terusan mengkritik? Seratus hari saja belum berlalu setelah pelantikan, tapi rasanya semua kritikan ini dilontarkan seolah-olah pemerintah yang baru telah memimpin selama lebih dari tiga tahun.

Saya tentunya bukan orang antikritik apalagi antikebebasan berpendapat. Sama sekali tidak. Namun, saya harap masyarakat bisa lebih dewasa dalam berpendapat dan mengutarakan kritik atau ketidaksukaannya terhadap pemerintah. Dalam pemilu ada yang menang dan kalah. Kita lihat betul di media bagaimana Prabowo dan Jokowi sudah berdamai. Mengapa kita tidak bisa berdamai? Kalau kita memang benar-benar peduli dengan bangsa ini, coba tanyakan, hal bermanfaat apa (selain mengkritik pemerintahjika Anda pikir itu sebagian dari kontribusi untuk membangun bangsa) yang telah Anda lakukan untuk negeri ini?

Negeri ini sangat kritis, janganlah membuatnya lebih parah dengan komentar-komentar tidak cerdas yang hanya menambah perpecahan. Jokowi-JK sudah terpilih secara sah sebagai pemimpin negara ini. Yang memilih mereka juga rakyat Indonesia. Mereka ini mungkin teman kita, saudara kita, keluarga kita, atau orang-orang terdekat di sekitar kita. Kenapa kita harus bertengkar hanya karena beda preferensi soal siapa yang lebih pantas memimpin negeri ini?

Tidak Mudah

Menjadi pemimpin tentunya tidak mudah. Memang, terkadang saya berpikir bahwa enak jadi rakyat, rakyat bisa protes, sementara rakyat tidak pernah tahu bagaimana susahnya membuat suatu kebijakan yang sifatnya win-win solution. Rakyat memang mau yang enak-enak, tanpa peduli bagaimana supaya hidup enak ini terjadi sebenarnya ada orang-orang di pemerintahan sana yang mungkin bekerja tidak kenal waktu demi meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat negara ini.

Rekan-rekan sekalian, memang betul bahwa tingkat kepercayaan kita terhadap pemerintah sangat rendah. Rendahnya tingkat kepercayaan ini tentunya tidak lepas dari apa yang pemerintah-pemerintah terdahulu lakukan terhadap rakyat: memainkan kepercayaan rakyat. Namun, ini juga bukan berarti kita bisa selalu seenaknya mengkritik, seolah-olah tidak ada kepercayaan lagi bagi orang-orang tersebut untuk mengurus negara.

Saya pikir ini semua harus diakhiri. Saya khawatir aktivitas jelek-menjelekkan dan sekaligus "mendewakan" orang ini lama-kelamaan berubah menjadi karakter masyarakat kita. Jadi, jika Anda pendukung setia Prabowo, saya percaya beliau sangat menghargai Anda, tapi tentunya tidak akan suka jika pendukungnya terus-terusnya mencibir Jokowi. Begitu juga dengan para pendukung Jokowi. Percayalah Jokowi itu pasti akan berbuat salah. Pasti. Karena Jokowi itu juga manusia dan sebagai pemimpin, wajar saja ia mendapat kritikan ini-itu karenaseperti yang saya katakan tadimemang sudah menjadi semacam "tugas" harian rakyat untuk protes ini-itu pada pemerintah. Jika Anda berpikir Jokowi berbohong, mungkin Anda harus belajar atau (minimal) baca-baca buku politik.

Jadi, bagi kedua kubu pendukung, silakan berbagi pendapat, tapi tolong berikan "ruang gerak" bagi pemerintah untuk menjalankan program-programnya dengan baik. Silakan diawasi, silakan mengkritik, tapi akan lebih baik jika kritikan itu diiringi dengan aksi nyata yang memang pernah Anda lakukan untuk negeri ini. Atau minimal, berikanlah pula solusi konkret jika toh Anda merasa punya solusi yang lebih baik. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan"?

Marilah kita nyalakan lebih banyak lilin untuk Indonesia.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.