28 November 2014

Humor Pagi: Catatan Hasil Eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2015

Media sosial, selalu bisa membuat perasaan campur aduk di pagi hari. Sebetulnya, ini tergantung kita berteman dengan siapa atau mem-follow siapa di media sosial. Namun, pagi ini rasanya ada satu topik yang sangat disayangkan kalau dilewatkan untuk ditulis.

Pagi ini di Facebook, saya melihat satu status yang dibagikan oleh beberapa kawan "seperjuangan" di BEM FISIP dulu. Status ini berisi tentang hasil eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2015, Andi Aulia Rahman (FH/Ilmu Hukum 2011) dan Taufik Hidayat (FMIPA/Kimia 2011), di FISIP UI (26/11). Pertanyaan anak-anak FISIP memang suka "kejam". Beberapa pertanyaan memang kurang penting ditanya, tapi ada beberapa banyak pertanyaan yang ditanyakan dan dijawab dengan konyol.


Sebetulnya, saya sudah tidak terlalu tertarik dengan topik-topik organisasi kampus, apalagi soal BEM UI, tapi yang satu ini benar-benar layak dibaca. Berikut ini adalah hasil catatan Dian-Diku Aditya Ning Lestari yang dipublikasikan di Facebook.
  1. T: Ideologi politik?
  2. J: Pancasila (keduanya)
    Tanggapan saya: Oke.

  3. T: Politisi favorit?
  4. J: Jusuf Kalla (Andi), Habibie (Taufik)
    Tanggapan saya: Sebetulnya, keduanya harus menjawab lebih dari satu orang karena yang ditanya adalah politisi, bukan politikus. Bedanya? Baca selengkapnya di sini.

  5. T: Preferensi partai politik?
  6. J: Golkar dan PKS (Andi), PKS (Taufik)
    Tanggapan saya: Oke.

  7. T: KIH atau KMP?
  8. J: Prabowo atau KMP (keduanya)
    Tanggapan saya: Sejujurnya jawabannya: (1) tidak jelas, dan (2) tidak menjawab pertanyaan. Saya paling bete kalau ditanya pilihan dijawab dengan pilihan yang bahkan tidak ada dalam opsi pertanyaan.

  9. T: Mengapa KMP?
  10. J: Indonesia butuh ketegasan.
    Tanggapan saya: Serius, ini jawabannya? "Sedangkal" itu? Kalau ditanyakan soal Prabowo, mungkin masih bisa diterima jawabannya, tapi yang ditanya adalah KMP alias koalisinya.

  11. T: Ketegasan vs demokrasi?
  12. J: Tak harus berlawanan. Pendapat konstituen bisa diminta terlebih dahulu, lalu diakhiri dengan pengambilan keputusan yang tegas.
    Tanggapan saya: Menurut saya, ini yang bertanya juga aneh karena ketegasan itu adalah sifat atau karakter seseorang, sedangkan demokrasi adalah sistem pemerintahan. Jadi, kalau yang ditanya juga aware soal ini, mereka bisa saja membalikkan pertanyaan bahwa pertanyaan yang diajukan itu aneh.

  13. T: Peran perempuan dalam politik?
  14. J: Dibutuhkan karena pengalaman mereka yang berbeda dari pria, satunya karena mereka lebih mengedepankan perasaan.
    Tanggapan saya: Guys, come on! Ada jawaban yang lebih masuk akal daripada soal "mengedepankan perasaan".

  15. T: Pernikahan beda agama?
  16. J: Tidak setuju, tidak sesuai dengan Undang-undang. Selain itu, semua agama ingin pernikahan ummah sesuai agama masing-masing.
    Tanggapan saya: Netral.

  17. T: Pencabutan subsidi, setuju atau tidak setuju?
  18. J: Tidak setuju. Sebaiknya di masa depan saja, jangan sekarang, karena sekarang kejelasan belum diberikan perihal alokasinya.
    Catatan Dian-Diku: Faktanya sudah ada kejelasan.
    Tanggapan saya: Minimal untuk masalah ini, coba banyak bergaul dan berdiskusi dengan rekan-rekan dari FE. Sekalipun tidak setuju (misalnya), tapi setidaknya jadi punya dasar yang lebih kuat.

  19. T: Pembangunan Selat Sunda dan tol laut, setuju atau tidak?
  20. J: Setuju, karena 2/3 wilayah Indonesia adalah laut.
    Tanggapan saya: Pembangunan Selat Sunda? Maksudnya si penanya adalah jembatan Selat Sunda. See, kalau mereka aware dengan pertanyaan, sebetulnya bisa saja dijawab, seperti, "Maaf, Selat Sunda sudah terbentuk sejak ribuan tahun lalu," misalnya. Dan soal jawaban, jawaban kedua calon juga sangat tidak menjawab pertanyaan. Oke, 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan, lantas?

  21. T: Setuju atau tidak setuju, keputusan KMP untuk meng-impeach Jokowi?
  22. J: Tidak setuju jika tidak konstitusional.
    Catatan Dian-Diku: Faktanya impeachment itu sendirinya konstitusional.
    Tanggapan saya: Istilah impeachment berasal dari kata “to impeach”, yang berarti meminta pertanggungjawaban. Jika tuntutannya terbukti, maka hukumannya adalah “removal from office”, atau pemberhentian dari jabatan. Dengan kata lain, impeachment bukanlah pemberhentian, tetapi baru bersifat penuntutan atas dasar pelanggaran hukum yang dilakukan.

    Namun, seringkali kata ini kurang dipahami, sehingga seolah-olah impeachment identik dengan pemberhentian. Padahal proses permintaan pertanggungjawaban yang disebut impeachment itu tidak selalu berakhir dengan tindakan pemberhentian terhadap pejabat yang dimintai pertanggungjawaban. Contoh kasus adalah peristiwa yang dialami oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, yang di-impeach oleh House of Representatives, tetapi dalam persidangan Senat tidak dicapai jumlah suara yang diperlukan sehingga kasus Bill Clinton tidak berakhir dengan pemberhentian. Pesan moral: banyak baca.

  23. T: Setuju atau tidak setuju, ganja dilegalkan?
  24. J: Tidak setuju.
    Tanggapan saya: Oke.

  25. T: Setuju atau tidak setuju, hukum waris dalam Islam, bahwa perempuan mendapat 1/4 warisan, lelaki dua kalinya.
  26. J: Setuju, laki-laki itu tulang punggung keluarga, memiliki kewajiban yang lebih dari wanita untuk mengurus keluarga. Warisan laki-laki lebih agar lebih mampu menghidupi keluarganya.
    Tanggapan saya: Ini pertanyaan tidak penting yang dijawab dengan kurang baik. Tidak perlu ambil pusing soal ini, cukup jawab, "Itu perintah dalam agama, tidak perlu diperdebatkan, silakan pertanyaan selanjutnya."

  27. T: Setuju atau tidak setuju pernyataan Felix Siauw bahwa wanita yang pintar, mandiri, dan kuat itu "mengerikan?"
  28. J: Tidak setuju, perempuan yang seperti itu justru baik.
    Tanggapan saya: Saya tidak yakin mereka benar-benar paham dengan arti "mengerikan" di sini.

  29. T: Setuju atau tidak setuju, tes keperawanan bagi Korps Polisi Wanita?
  30. J: Kami tidak tahu tujuannya, jadi belum ada posisi, tapi setahu kami dalam rekrutmen TNI tes keperjakaan juga ada, walau saya tidak tahu caranya bagaimana.
    Tanggapan saya: Sebetulnya ini bukan pertanyaan benar-salah. Ini sekedar setuju atau tidak setuju. Kalau setuju kenapa dan kalau tidak setuju kenapa. Sesederhana ini. Dan pertanyaan seperti ini bisa dijawab dengan nalar.

  31. T: Tahu kepanjangan MP3EI?
  32. J: Tidak.
    Tanggapan saya: MP3EI adalah singkatan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jelas, tidak semua orang tahu, bahkan mahasiswa. Mungkin mahasiswa-mahasiswa di jurusan tertentu tahu, tapi kita tidak bisa mengharapkan semua orang tahu.

  33. T: Setuju dengan MP3EI?
  34. J: Belum mendalami, jadi belum ada posisi.
    Tanggapan saya: Ini yang bertanya juga rasanya mau saya "garuk" mukanya. Mereka jelas tidak tahu apa itu MP3EI dan masih ditanya pendapatnya mengenai itu. SIapa yang bodoh?

  35. T: Mengapa harus memilih Anda?
  36. J: Kami lurus dan kami tulus.
    Tanggapan saya: Jawaban standar dan tidak menjawab pertanyaan.

  37. T: Kenapa LGBT penyakit? (dipertanyakan oleh seorang gay terbuka)
  38. J: Maksud anda? Saya tidak update, saya tidak tahu DSM telah memperbaharui status LGBT menjadi lifestyle.
    Tanggapan saya: DSM adalah Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental. Dan saya bingung dengan jawaban mereka.

  39. T: Jika ayah Anda gay, bagaimana sikap Anda?
  40. J: Saya tetap menghormati.
    Tanggapan saya: Oke.

  41. T: Anda gay atau hetero?
  42. J: Hetero.
    Tanggapan saya: Oke.

  43. T: Teori siapa LGBT adalah lifestyle?
  44. J: Tidak tahu.
    Tanggapan saya: Satu hal, jujur itu penting, tapi dalam hal ini sebisa mungkin hindari jawaban "tidak tahu" karena ada banyak cara untuk menjawab secara implisit bahwa kita tidak tahu, tapi tidak secara terbuka mengatakan "saya tidak tahu".

  45. T: Mengapa Anda hetero?
  46. J: Karena demikianlah kodrat manusia menurut agama.
    Tanggapan saya: Ini sama dengan pertanyaan: kenapa Anda Islam? Dan dijawab: karena begitulah seharusnya. Jawaban mereka seharusnya bisa lebih baik dari sekedar soal "kodrat menurut agama".

  47. T: Menurut Anda keperawanan dan keperjakaan itu apa? (ditanyakan oleh seorang biseksual terbuka) 
  48. J: Sudah atau belumnya seseorang melakukan hubungan intim.
    Tanggapan saya: Oke.

  49. T: Kalo saya sudah oral, fingering, dan anal, itu artinya saya masih perawan atau perjaka tidak?
  50. J: Kami belum mendalami ilmu kedokteran, jadi kami belum bisa menjawab soal itu.
    Tanggapan saya: Sebetulnya tidak perlu mendalami ilmu kedokteran, mereka cuma perlu konsisten dengan pernyataan mereka pada pertanyaan sebelumnya. Jika mereka setuju bahwa keperawanan dan keperjakaan adalah soal sudah atau belumnya seseorang melakukan hubungan intim maka mereka cukup menjawab pertanyaan yang diajukan ini bahwa jika seseorang melakukan oral, fingering, dan anal, masih dianggap perawan atau perjaka jika mengacu pada konsep keperawanan dan keperjakaan menurut mereka tadi

  51. T: Pendapat tentang tes narkoba acak di dalam kampus:
  52. J: Sepakat, narkoba memang buruk.
    Tanggapan saya: Oke.

  53. T: Tes narkoba hanya untuk mahasiswa atau seharusnya seluruh civitas akademika, termasuk rektor dan dosen?
  54. J: Seluruh civitas akademika, termasuk rektor dan dosen
    Tanggapan saya: Arti idiomatis civitas akademika sebetulnya adalah kelompok/komunitas/warga akademik, dan itu termasuk dosen dan rektor.

  55. T: Bisa menjamin dosen juga dites?
  56. J: Akan kami sampaikan.
    Tanggapan saya: Oke.

  57. T: Cara meminimalisir penganut LBGT sesuai statement anda?
  58. J: Saya tidak ingat menyebutkan meminimalisir, saya hanya ingat menyebutkan penganut. Sikap kami utamanya terkait kepengurusan BEM: kami tidak mempermasalahkan latar belakang LGBT, selama kompeten.
    Tanggapan saya: Oke.

  59. T: Terkait mahasiswa difabel, posisi anda bagaimana?
  60. J: Fasilitas khusus akan diperjuangkan.
    Tanggapan saya: Oke.

  61. T: Anda setuju "pemerataan pendidikan"?
  62. J: Setuju.
    Tanggapan saya: Oke.

  63. T: Ekstensi dan Vokasi biayanya lebih tinggi dari Reguler. Bisa diperjuangkan agar turun?
  64. J: Akan kami advokasikan agar tidak naik, tapi memperjuangkan turun agak sulit. Karena kelas Anda memang kelas nonreguler. Menurut aturan, biaya Anda memang harus lebih mahal. Tapi kami juga belum mengerti aturannya. Harus kami dalami dulu.
    Tanggapan saya: Netral.

  65. T: Pernah baca buku sastra?
  66. J: Tidak
    Tanggapan saya: Oke.

  67. T: Mampu baca satu hari satu buku sastra?
  68. J: Tidak. Mungkin sebulan sebuku mampu.
    Tanggapan saya: Don't be  a "maybe". Bisa atau tidak, cukup itu saja.

  69. T: Buku yang pertama kali anda baca?
  70. J: Autobiografi SBY. Saya suka baca biografi orang sukses (Andi).
    Tanggapan saya: Sebetulnya, pertanyaan ini rancu dan tidak jelas. Buku jenis apa? Kalau saya di posisi si penjawab, saya tidak yakin bisa ingat buku apa yang pertama kali saya baca, mungkin buku belajar membaca. Namun, saya yakin bukan itu yang dimaksud si penanya. Sebaiknya ketika membuat pertanyaan, si penanya juga harus jelas dalam menyampaikan pertanyaan. Walaupun kita sama-sama berasumsi "sama-sama paham" (terlihat dari jawaban Andi). Jelas Andi tidak baca autobiografi SBY saat masih kecil dulu.

  71. T: Buku favorit?
  72. J: Buku tentang samurai jepang yang berjuang tanpa pedang (Taufik).
    Tanggapan saya: Oke. Mungkin maskudnya "The Swordless Samurai".

  73. T: FPI (Front Pembela Islam), JIL (Jaringan Islam Liberal), dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia, inisiator gerakan khilafah), jika Anda adalah negara dan harus membubarkan salah satu, yang mana?
  74. J: FPI, karena banyak melakukan pelanggaran peraturan, misalnya penggerebekan liar.
    Tanggapan saya: Oke.

  75. T: Tidak pernah baca sastra, tapi mengutip W.S. Rendra?
  76. J: Ya, kami memang mengutip walau tidak pernah membaca, kami hanya mencari pos-pos yang menginspirasi.
    Tanggapan saya: Ya, lagi-lagi, ini sama seperti, "tidak pernah nonton (Metro) TV, tapi mengutip Mario Teguh? Ini sah-sah saja. Tidak perlu dipersoalkan (dan dipertanyakan).

  77. T: Sang burung merak. Siapa itu?  (Jawaban: Julukan untuk W.S. Rendra)
  78. J: Tidak tahu
    Tanggapan saya: Adakah pertanyaan ini harus ditanyakan? Mungkin ini termasuk pengetahuan umum (pada masa lalu), tapi pendidikan kita bahkan kurang mengindahkan sejarah kesusastraan Indonesia. Lagipula jelas bahwa mereka hanya sekedar suka dengan W.S. Rendra, membaca karyanya saja belum pernah. Orang-orang yang suka sejarah pun belum tentu tahu julukan Jalak Harupat (misalnya) adalah julukan bagi siapa?

  79. T: Tahukah, apa itu liberalisme dan komunisme?
  80. J: Liberalisme, paham yang percaya individu memiliki "kesempatan akselerasi." Manfaat: individu dituntut untuk mengakselerasi diri (benar tapi tidak relevan). Sosialisme itu... eh, Komunisme... kami belum terlalu mendalami, jadi tidak tahu.
    Tanggapan saya: Dek, di kampus (selama jadi aktivis) ngapain aja?

  81. T: Sikap personal terhadap keberadaan UILDSC (UI Liberalism and Democracy Study Club) dan SEMAR UI (Serikat Mahasiswa Progresif UI)?
  82. J: Kami ajak sebagai partner dalam bergerak.
    Tanggapan saya: Oke.

  83. T: BEM UI punya Departemen Lingkungan Hidup, tapi dokumen tidak dicetak bolak-balik?
  84. J: Akan kami pastikan bolak-balik.
    Tanggapan saya: Oke.

  85. T: Seorang perempuan di Aceh diperkosa, namun tetap menerima hukuman cambuk. Menurut Anda?
  86. J: Kurang sepakat Indonesia bukan negara Islam, tapi negara Pancasila. Harus ikut hukum negara.
    Tanggapan saya: Indonesia memang bukan negara Islam, tapi Aceh punya status "daerah khusus" dan punya otonomi khusus. Artinya, Aceh memiliki kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Ini juga termasuk dalam penegakan syariat Islam dengan asas personalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpa membedakan kewarganegaraan, kedudukan, dan status dalam wilayah sesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh. Itu (penjelasan tadi) dasarnya. Sekarang, soal setuju-tidak setuju barulah bisa dibahas setelah diberikan pemahaman ini. Kalau saya pribadi jelas tidak setuju.

  87. T: Latar belakang Anda, apakah Tarbiyah?
  88. J: Jika maksudnya kami ikut mentoring dan liqo, ya, kami Tarbiyah.
    Tanggapan saya: Soal Tarbiyah  memang sudah menjadi topik umum yang dibahas setiap kali pagelaran politik kemahasiswaan di kampus (UI). Ada anggapan bahwa "kuasa tak terlihat" atau hegemoni politik kampus seringkali dipandang berada dalam genggaman sebuah golongan yang disebut Tarbiyah. Bagi yang awam, Tarbiyah adalah sebuah golongan yang berpegang teguh pada ajaran agama Islam, menempatkan politik atau perebutan kekuasaan (pengaruh/jabatan) sebagai salah satu jalur syiarnya, dan berdasarkan banyak bukti (tulisan, observasi, maupun wawancara), Tarbiyah dekat dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gerakan Tarbiyah baru bergerak secara terbuka (bila mau dikatakan benar-benar terbuka) pasca-Orde Baru dengan mengandalkan jalur kaderisasi hingga ke kampus-kampus di seluruh Indonesia. Di UI sendiri, Tarbiyah sudah eksis dalam politik dan gerakan mahasiswa kita paling tidak selama sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan karakter inilah, politik dan gerakan mahasiswa yang didominasi golongan Tarbiyah akan bertendensi pada arah politik dan gerakan yang sejalan dengan kepentingan syiar—dan dalam banyak kasus bertendensi pada kepentingan partai.

  89. T: Ideologi pribadi Anda?
  90. J: Pancasila.
    Tanggapan saya: Oke.

  91. T: Secara pribadi, sepakat demokrasi sistem kufur?
  92. J: Tidak. Demokrasi akan menjadi azas kami dalam pergerakan.
    Tanggapan saya: Yang dimaksud penanya dengan demokrasi sistem kufur adalah bentuk demokrasi yang telah dijajakan negara Barat (yang bagi sebagian golongan dengan lantang disebut sebagai kafir) ke negeri-negeri Islam. Dari sini sebetulnya kita bisa menebak dari golongan manakah si penanya.

  93. T: Secara pribadi, setuju kepemimpinan khilafah di Indonesia?
  94. J: Tidak, karena Indonesia plural.
    Tanggapan saya: Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah khilafah dan khalifah itu sama? Sederhananya, khilafah adalah pemerintahan, kepemimpinan. Khalifah adalah orangnya, yaitu pemimpin atau pemerintah.

  95. T: Berapa tahun sudah Tarbiyah memimpin UI?
  96. J: Sembilan tahun.
    Tanggapan saya: Ada yang bilang sembilan, ada yang bilang sepuluh. Karena saya bukan pemerhati Tarbiyah, saya kurang tahu tepatnya berapa lama. Ada artikel menarik soal Tarbiyah di sini.

  97. T: Sembilan tahun Tarbiyah memimpin BEM UI, apakah sudah memimpin dengan baik?
  98. J: Selalu ada evaluasi.
    Tanggapan saya: Netral.

  99. T: Anda sedang berjalan, pakaian Anda mendadak menghilang, dan Anda bugil. Anda akan lari ke mana?
  100. J: Toilet (Taufik), Toilet Mushola (Andi).
    Tanggapan saya: Ini bukan pertanyaan yang sifatnya benar atau salah, cuma sekedar ingin mengetahui nalar yang ditanya. Ini semacam pertanyaan filsofis ya, hehehe.

  101. T: Dengan 300 juta per tahun dana rektorat untuk BEM UI. Kenapa BEM UI tidak bubar, dana untuk mahasiswa yang tidak mampu?
  102. J: BEM masih berguna.
    Tanggapan saya: Saya sepakat BEM masih berguna, tapi bergunanya seperti apa, mereka tidak jelaskan.

  103. T: Demokrasi itu apa?
  104. J: Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
    Tanggapan saya: Tepatnya: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Pertama kali diucapkan oleh Presiden AS Abraham Lincoln.

  105. T: Indikator demokrasi?
  106. J: Perlindungan HAM, kebebasan pers, pergantian kepemimpinan secara berkala, partisipasi publik yang terbuka.
    Tanggapan saya: Oke.

  107. T: Sumber dana kampanye?
  108. J: Beberapa di antaranya dari beasiswa aktivis Taufik dan lawyer kenalan Andi.
    Tanggapan saya: Lawyer, seriously?

  109. T: Departemen agama, penting atau tidak?
  110. J: Penting, masih sesuai dengan Pancasila.
    Tanggapan saya: Mungkin si penanya lupa kalau sekarang namanya sudah jadi Kementerian Agama.

  111. T: Paham Pancasila?
  112. J: Tidak
    Tanggapan saya: WHAT-THE-HELL?

  113. T: Tapi itu ideologi politik dan pribadi Anda?
  114. J: Ya.
    Tanggapan saya: DUH!

  115. T: Sebagai Pancasilais, menurut Anda kenapa Indonesia harus NKRI, bukan welfare state atau negara federal?
  116. J: Kami tidak paham Pancasila dan tidak tahu.
    Tanggapan saya: WHAT-THE -F*CK!

  117. T: Sebagai Pancasilais, menurut Anda kenapa Indonesia yang plural harus disatukan dengan nilai-nilai nasionalisme dan apa fungsi nasionalisme itu sendiri bagi warga sipil?
  118. J: Kami tidak mendalami Pancasila sehingga tidak bisa menjawab.
    Tanggapan saya: Fixed, ini  super bodoh.

  119. T: Sebagai Pancasilais, menurut Anda benar jika negara hanya mengakui 6 agama? 
  120. J: Ya.
    Tanggapan saya: Tapi mereka tidak paham apa itu Pancasila, bagaimana bisa mengatakan benar atau salah?

  121. T: Tindakan Gus Dur mengakui konfusianisme sudah benar?
  122. J: Ya, sesuai konstitusi.
    Tanggapan saya: Maksudnya, Gus Dur membolehkan kembali pertunjukan budaya Tionghoa di hadapan publik. Gus Dur juga menjadikan Imlek sebagai hari libur resmi nasional sekaligus mengakui Khong Hu Cu (Konfusianisme) sebagai agama resmi negara.

  123. T: Anda akan mengakui agama minoritas, misalkan Anda jadi presiden?
  124. J: Ya, asal mereka tidak mengganggu orang lain dengan kekerasan.
    Tanggapan saya: Oke.

  125. T: Bagaimana dengan Ahmadiyah?
  126. J: Tidak ada kekerasan, tapi mereka mengganggu agama Islam dengan menyama-nyamakan diri. Selama tidak menyebut diri Islam, kami akan mengakui.
    Tanggapan saya: Netral.

  127. T: Setuju Soeharto jadi pahlawan?
  128. J: Belum.
    Tanggapan saya: Karena?

  129. T: Tahu apa itu Gestapu?
  130. J: Tidak.
    Tanggapan saya: Coba lebih banyak baca sejarah ya, Dek. Orang kita memang gemar gonta-ganti singkatan, termasuk Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau yang lebih dikenal sebagai G-30S/PKI.

  131. T: Pendapat Anda tentang pembantaian PKI di mana ormas Muslim terlibat?
  132. J: Tidak tahu dan kami belum yakin ormas mana yang terlibat.
    Tanggapan saya: Netral.

  133. T: Tarbiyah itu apa?
  134. J: Pendidikan Islam. Di kampus bentuknya mentoring dan liqo.
    Tanggapan saya: Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan. Tapi di kampus, Tarbiyah punya makna yang lebih dari sekedar "pendidikan".

  135. T: Ada agenda peningkatan kualitas dosen?
  136. J: Belum kepikiran. Tugas rektorat.
    Tanggapan saya: Jelas, ini bukan tugas BEM.

  137. T: Hubungan Tarbiyah, PKS dan Ihwanul Muslimin (IM)?
  138. J: Kami tidak tahu. Tapi jika tidak salah, PKS dan IM ada keterikatan.
    Tanggapan saya: Saya tidak yakin dengan jawaban mereka ini, tapi kalau mereka mengaku sebagai Tarbiyah, pastinya tahu betul soal ini.

  139. T: Bisa main kesenian Indonesia?
  140. J: Kecapi (Andi), angklung (Taufik)
    Tanggapan saya: Oke.

  141. T: Bisa bahasa inggris?
  142. J: Tidak sebagus itu.
    Tanggapan saya: Calon ketua (dan wakil ketua) BEM UI, seharusnya tidak begitu, tapi ini pendapat saya pribadi.

  143. T: Wildest sex fantasy?
  144. J: ML with Pevita Pearce (nama penjawab disensor), ML with Ayu Azhari (nama penjawab sensor)
    Tanggapan saya: Guys, seriously! Ini sesi eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI atau mau main "Truth or Dare"? Lagipula menurut saya harusnya mereka tidak perlu menjawab. Jadi, ini baik si penanya maupun yang menjawab sama-sama konyol.

  145. T: Anda buta sejarah, buta budaya, buta politik, buta abstraksi, apa yang sebenarnya Anda dalami?
  146. J: Organisasi (keduanya).
    Tanggapan saya: Berorganisasi, tapi tidak berilmu itu sama dengan mengendarai mobil, tapi tidak tahu arah atau jalan sama sekali. Bisa mengendarai, tapi enggak tahu mau kemana.

  147. T: Menurut Anda hakikat manusia dalam organisasi bagaimana, berdasarkan pengalaman kalian?
  148. J: Manusia butuh kerjasama.
    Tanggapan saya: You guys could have answered better than that.

  149. T: Berdasarkan pengalaman, bentuk organisasi apa yang menurut Anda cocok dengan kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia?
  150. J: Tidak tahu. Kami cuma tahu satu bentuk organisasi. Ya, yang kami ikuti. Organisasi kampus dan SMA.
    Tanggapan saya: Ya, tapi kan kalian belajar Dek. Serius, di kampus ngapain aja? (tangan semakin gatal ingin menggaruk).

  151. T: Anda paling mendalami berorganisasi. Dari pengalaman Anda, apa yang bisa direvisi dari teori-teori manajemen organisasi Barat dan Timur (Tiongkok)?
  152. J: Kami tidak bisa menjawab karena kami tidak tahu soal teori-teori manajemen organisasi tersebut.
    Tanggapan saya: Hopeless.

  153. T: Bagaimana kultur mempengaruhi Anda?
  154. J: Sipakainge (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling menghormati), sipakatau (saling menghargai). Sebagai orang Bugis, 3S ini mempengaruhi saya (Andi). Budaya Sunda mengajarkan saya kelembutan (Taufik).
    Tanggapan saya: Oke.

  155. T: Ada berapa gender yang diakui sistem sosial Bugis Kuno?
  156. J: Tiga, laki-laki, perempuan, waria.
    Catatan Dian-Diku: Salah. Jawaban yang benar lima: laki-laki, perempuan, laki-laki yang mirip perempuan, perempuan yang mirip laki-laki dan Bissu (tanpa gender).
    Tanggapan saya: Anak FISIP (jelas) belajar antropologi dan sosiologi.

  157. T: Di salah satu organisasi Islam kampus, Ketua Keputrian dihapuskan, bagaimana pendapat Anda akan hal ini dari sisi kesetaraan gender dan profesionalitas?
  158. J: Kami tidak melihat dari sisi-sisi tersebut, tapi mungkin saja tidak ada hubungannya. Mereka hanya tidak ingin ada dualisme kepemimpinan.
    Catatan Dian-Diku: Jika, memang tidak ada hubungannya dengan gender, kenapa harus yang putri yang dihapus?
    Tanggapan saya: Ya, setuju dengan  Dian-Diku.

  159. T: Buktikan pernyataan Anda tentang “perempuan lebih banyak pakai perasaan!”
  160. J: Kami tidak bermaksud mengatakan wanita tidak bisa berpikir, emosi itu poin plus wanita. Wanita memimpin dengan kelembutan, kata-kata mereka menyentuh nurani.
    Catatan Dian-Diku: Jadi, laki-laki tidak bisa lembut dan kata-katanya tidak menyentuh nurani?
    Tanggapan saya: Lain kali, coba pikirkan kata-kata yang hendak diucapkan dengan lebih hati-hati karena mungkin kata-kata itu bisa berbalik menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Tambahan keterangan dari yang merangkum semua jawaban kandidat:

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata rekan saya di BEM FISIP dulu, Intias Maresta:
Kalau yang ditulis sama Dian-Diku Aditya Ning Lestari ini benar adanya, saya cuma mau bilang: jadi Ketua dan Wakil Ketua BEM UI bukan artinya jadi seperti Tuhan yang sempurna dan tahu semua hal. Tapi please, menjadi mereka artinya Anda harus LEBIH DARI MAHASISWA UI RATA-RATA. Jangan "bunuh diri", Dek.

Akhir Cerita

Kicauan dari akun Twitter DPM UI pada 6 Desember 2014 terkait hasil Pemira:

Saya ucapkan selamat kepada Andi dan Taufik. Sejujurnya, terlepas dari isu yang beredar, saya senang ternyata kalian bisa mendapatkan 66,74% suara. Ini artinya, mahasiswa UI masih percaya dengan kalian (dan BEM UI), dan semoga kalian bisa mengemban tanggung jawab ini dengan sebaik mungkin. Pesan saya: banyak-banyaklah membaca.

11 komentar :

Saya dari FISIP, saya berterimakasih kepada Dian-Diku yang sudah merangkumkan percakapan dalam eksplorasi andi-taufik dan kepada anda dengan tanggapannya yg saya sangat sependapat. Sedikit menanggapi lagi, poin no.63 menurut saya tidak rasional dan inkonsisten dengan pernyataan mereka sebelumnya mengenai "selama tidak melakukan tindak kekerasan". Letak tidak rasionalnya jelas pada kalimat "mereka mengganggu Islam dengan menyama-nyamakan diri". Letak mengganggunya dimana? Memang merasa Islam versi dia yang paling benar? Versi PKS? Versi Tarbiyah? Dan saya setuju, jawaban mereka tentang ideologi pancasila klimaks sekali stupidnya :')

Ideologinya Pancasila *katanya* tapi ditanya soal Pancasila jawabnya ga tahu ga tahu dan tidak mendalami. Mending buka bukaan aja sih sob. Duh.. Good God mates HAHAHA :')

Gini kualitas calon KETUA BEM UI 2014?
Ga ngerti lagi gw mau komen apa.

Kite sebagai manusia mesti akuin manusia ya manusia. Kalo kate Novela "Manusia bukan Tuhan" itu benar.

Tapi ketika jadi seorang pemimpin sangat penting untuk memberikan langkah yang jelas kepada siapapun yang kita pimpin, jangan sampai banyak petunjuk yang kita berikan, ternyata saling kontradiksi, ini membahayakan.

Kalo masalah tarbiyah, tanya sama anak-anak rohis sma di Depok yang udeh lebih paham soal sisi gelap tarbiyah.

Kalo emang mau komentar, sadar juga aja situ bisa menggantikan beliau untuk maju tidak? Dasar orang-orang yg lebih hopeless gede mulut doang tidak bisa memberikan solusi.

Kalo emang diluar sana ada mahasiswa yang lebih baik dari mereka tapi tidak maju menjadi calon ketua bem ui apa itu bisa dikatakan kompeten dan lebih baik? Syukuri yang ada, kalo emang mau bem ui menjadi lebih baik ya anda sekalian yang berkomentar turun mengurus bos

Dear anonim, tidak perlu diambil hati. Saya pikir ini semua wajar, kalau ada (banyak) yang merasa kecewa dengan para calon pemimpin mahasiswa ini setelah melihat hasil eksplorasi ini. Itu wajar saja. Mungkin rekan-rekan ada yang merupakan pendukung sang calon, ini bagus, coba berikan masukan kepada para calon agar lebih baik lagi. Bagi (mahasiswa UI lainnya) yang berkomentar "pedas", ini wajar karena mereka pastinya ingin punya ketua dan wakil ketua BEM UI yang cerdas (walaupun saya akui, memang, banyak yang semakin tidak peduli dengan adanya BEM di kampus), tapi ini bukan berarti anak UI "merestui" punya ketua dan wakil ketua BEM UI yang tidak kompeten. Kalau saya, kebetulan sudah lulus, jadi tidak bisa maju jadi ketua BEM UI ya, hehehe.

Komentar teman sejurusan Andi Aulia. Saya sendiri tidak mengira bahwa jawabannya akan seperti ini ketika saya nanya ke dia karena ybs ini adalah salah satu orang paling "nyinyir" yang saya kenal. Saya salin apa adanya dari pesan FB "Kasian dia. memang dia close-minded dan mungkin kurang pengetahuannya. tapi dia baik kok. dan konsisten. dari SMA dia udah keliatan jiwa kepemimpinannya."

Hai Bastian. Ya, sejujurnya saya juga jadi kasian. Karena ini semua pasti membuat ybs semakin tertekan. Tapi pastinya, kalau soal "mungkin kurang pengetahuannya" ini pastinya sangat riskan ya. Karena kalau menurut saya sih, walau punya jiwa pemimpin, konsisten, dsb., tapi kalau kurang berwawasan, ini juga bahaya. Apalagi kalau close-minded (seperti yang kamu tulis di atas), ini sangat riskan untuk jadi pemimpin. Malah, menurut saya sih, kalau close-minded itu ngga bisa disebut juga sebagi "punya jiwa kepemimpinan". Jadi, ini memang harus hati-hati.

Anyway, saya udah ngga di UI lagi, jadi rekan-rekan sekalian yang masih di UI-lah yang menilai dan menentukan nasib pemimpin mahasiswa se-UI setahun ke depan. Mau dibawa kemana pergerakan mahasiswa UI setahun ke depan bersama BEM UI. :)

Izin share mas Fauzan, makin kebawah makin kocak...^^

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.