24 November 2014

Kenaikan BBM dan Golongan Menengah

Kenaikan BBM sepertinya menjadi salah satu topik andalan dalam beberapa minggu terakhir ini. Kenaikan BBM memang baru seminggu yang lalu, tapi topik ini sudah jadi trending topic dalam beberapa minggu sebelumnya. Sejujurnya, saya lelah berurusan dengan topik semacam ini. Memangnya Anda tidak lelah? Di mana-mana, semua orang membahas soal BBM. Mulai dari yang pura-pura pintar, sok pintar, hingga yang memang pintar beneran. Namun, saya pikir semua ini terlalu melelahkanmelihat berbagai komentar pro-kontra di media. Memang, segala kebijakan yang dibuat pemerintah pasti ada pro dan kontra, apalagi kalau kebijakan tersebut berpengaruh terhadap kesejahteraan rakyat, ya... seperti kenaikan BBM ini.

Nah, seperti yang saya katakan tadi, mungkin Anda juga lelah membahas (atau membaca) topik ini, saya pun begitu. Namun, izinkan saya di sini juga berbagi keluh kesah sekaligus pandangan saya terhadap topik ini.

Jika ada yang bertanya apakah saya setuju dengan kenaikan harga BBM? Saya jawab tidak setuju. Kalau Anda tidak sepakat dan tidak ingin "ambil pusing", Anda bisa berhenti sampai sini. Namun, kalau Anda ingin tahu lebih lanjut, izinkan saya sedikit bercerita.

Pertama, saya membahas ini dari sudut pandang orang yang tidak paham soal kenaikan BBM dari sisi ekonomi. Dalam beberapa minggu ini, saya berusaha mengerti mengapa kenaikan BBM dianggap perlu. Salah satu alasan yang menjadi faktor pamungkas adalah fakta bahwa selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran. Kasarnya, yang "minum" premium itu adalah orang-orang yang memiliki kendaraan, baik motor maupun mobil. Artinya, mereka yang mampu memiliki mobil dan motor adalah orang-orang yang mampu secara ekonomi.

Alasan ini juga menjadi salah satu dasar argumentasi rekan-rekan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM FEUI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (BEM FEB Unpad). Tentunya, saya percaya bahwa mereka pastinya tidak asal bicara. Saya masih percaya bahwa dalam hal ini, rekan-rekan mahasiswa yang belajar ilmu ekonomi tentu lebih paham dalam menanggapi kenaikan BBM daripada saya.

Bagi pemerintah, kenaikan BBM dianggap perlu karena selain subsidi BBM yang tidak tepat sasaran sangatlah tidak adil bagi rakyat kecil. Jadi, selama ini, yang menikmati subsidi justru adalah orang-orang mampu. Oleh karena itu, dengan mengurangi subsidi, pemerintah berniat untuk mengalokasikan anggaran yang sebelumnya digunakan untuk subsidi BBM ke pos-pos yang memang secara nyata bisa dirasakan oleh rakyat, yaitu untuk bidang pendidikan, infrastruktur, transportasi, dsb.

Golongan yang "Sedang-sedang" Saja

Setelah berusaha memahami itu semua, ada semacam pemikiran kecil yang mengganggu saya. Pemerintah punya niat baik untuk menyejahterakan rakyatnya dengan mengalihkan subsidi BBM untuk pembangunan yang (katakanlah) lebih merata dan bisa dirasakan manfaatnya. Namun demikian, siapakah yang benar-benar merasakan dampak kenaikan BBM ini? Dalam hal ini, menurut saya yang paling merasakan dampak kenaikan BBM adalah golongan menengah. Siapakah mereka? Ya, saya termasuk orang dalam golongan ini. Mungkin juga Anda, dan masih banyak orang lainnya.

Orang-orang golongan menengah ini adalah orang-orang yang bekerja seperti biasa. Tiap hari berhadapan dengan kemacetan, deadline, suasana kantor, pergi saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah tenggelam, dan begitu seterusnya. Tidak hanya itu, golongan ini juga bisa jadi tidak bekerja atau memang tidak punya pekerjaan tetap, katakanlah mereka freelancer, dan masih banyak lainnya.

Menurut saya, mereka ini adalah orang-orang yang paling merasakan dampak kenaikan BBM. Kenapa? Ya, karena mereka sangat merasakan naiknya biaya transportasi, naiknya harga kebutuhan pokok, mungkin yang sedang mencicil atau menabung membeli rumah, harga rumah dan tanah semakin melambung. Di saat yang bersamaan pula, tarif dasar listrik terus naik, harga gas juga naik. Semua naik. Yang tidak (atau belum) naik: gaji.

Golongan ini jelas bukan orang miskin, tapi juga bukan orang kaya. Golongan ini mungkin punya satu atau dua sepada motor di rumahnya. Golongan ini juga mungkin punya smartphone di saku celananya (tidak perlu naif mengatakan bahwa yang punya smartphone hanya orang kaya, sopir angkutan umum banyak yang sudah pakai smartphone). Golongan ini mungkin memakai AC di kamar tidurnya. Bukan, mereka bukan orang kaya yang serba berkelebihan, tapi jelas mereka masih bisa makan tiga kali dalam sehari dan itu artinya mereka tidak miskin.

Masalahnya adalah, orang-orang dari golongan menengah ini karena bukan golongan orang miskin tentunya tidak bisa menikmati "kemudahan-kemudahan" (atau sebut saja bantuan) dari pemerintah yang memang ditujukan oleh rakyat miskin. Mereka tetap harus berjuang untuk "survive" dengan biaya hidup yang semakin meroket.

Beberapa kali saya berbincang dengan teman-teman saya yang juga berasal dari jurusan ekonomi dan jawaban yang saya dapatkan lebih kurang sama: golongan menengah harus mengubah gaya hidup mereka. Bagi saya ini tidak sepenuhnya tepat karena saya pribadiyang menganggap diri saya sebagai bagian dari golongan menegah inisudah berusaha sehemat mungkin dalam menjalani kehidupan di ibukota.

Biaya Hidup Semakin Tinggi

Izinkan saya berbagi sedikit mengenai "dapur keuangan" saya. Saya hidup bertiga bersama ibu dan adik saya. Ayah saya meninggal tujuh tahun lalu. Saat ini saya menjadi tulang punggung keluarga karena baru sayalah yang bekerja. Saya bisa katakan bahwa penghasilan saya saat ini cukup walaupun tidak saya pungkiri bahwa dengan kondisi kenaikan BBM semuanya akan berubah.

Saya pernah baca di Kompas bahwa biaya hidup layak di Jakarta adalah Rp 7,5 juta per bulan. Saya pikir tadinya ini agak konyol alias lebay, tapi pernyataan ini dibuat berdasarkan survei BPS bahwa biaya hidup di Jakarta dengan empat anggota rumah tangga idealnya sekitar Rp 7,5 juta per bulan.

Sekarang, saya bekerja dan belum menikah, tapi saya sekarang jelas menghidupi keluarga saya. Percayalah, bahwa saya merasakan pengeluaran saya dalam sebulan hampir mencapai Rp 7 juta per bulan. Jadi, ternyata, saya merasa bahwa ketika saya membaca artikel Kompas itu dulu, sayalah yang konyol.

Tidak percaya? Ya, tapi faktanya memang begitu. Pengeluaran bulanan ini termasuk untuk biaya belanja (makan) sehari-hari, tagihan listrik, beli pulsa, transportasi, biaya untuk kuliah adik saya, beli gas, beli BBM juga (ya, saya punya kendaraan bermotor hasil peninggalan ayah saya), bayar tagihan internet (karena pekerjaan saya harus terhubung dengan internet, jadi ini wajib), bayar premi asuransi, dan terkadang dalam sebulan pasti ada hal-hal tidak terduga yang menyebabkan keluarnya uang, seperti perbaikan atap bocor mungkin, atau ada yang sakit dan harus beli obat, dsb.

Tentunya uang yang dikeluarkan dalam sebulan itu tidak lebih untuk membuat keluarga saya hidup layak. Apakah dengan mengeluarkan uang sebesar itu membuat saya masuk golongan "orang kaya"? Tidak, saya tetap harus berhemat agar tidak "kebablasan". Ini bukan berarti orang kaya tidak perlu berhemat. Orang kaya juga bukan berarti bisa hidup boros, tapi saya tidak termasuk golongan kaya karena saya masih harus merencanakan keuangan saya dengan baik dan selalu ada kemungkinan bahwa ada hal-hal "buruk" terjadi dengan keuangan saya. Oleh karena itu, saya menganggap bahwa diri saya sebetulnya tidaklah aman secara ekonomi. Katakanlah terjadi sesuatu dengan pekerjaan saya yang menyebabkan saya tidak bisa mendapatkan penghasilan, otomatis keluarga saya akan "tamat".

Jika menurut beberapa teman saya, seperti yang saya bahasa di atas, bahwa golongan menengah harus mengubah gaya hidupnya, sejujurnya saya sudah tidak tahu lagi pos pengeluaran mana lagi yang harus ditekan agar lebih hemat karena tanpa ditekan harga-harga sudah melambung tinggi.

Beberapa kali saya juga sempat melihat di media sosial ada yang membandingkan antara orang-orang yang tidak keberatan dengan merokok (yang menghabiskan belasan ribu dalam sehari), tetapi protes karena BBM naik Rp 2.000. Saya pikir ini pemikiran yang sesat. Serius. Saya tidak merokok, tapi jelas saya tidak setuju dengan perbandingan itu. Kenaikan BBM mungkin hanya Rp 2.000 saja, tapi bagaimana dengan kenaikan semua harga bahan pokok dan transportasi? Ya, berlipat-lipat ganda. Coba Anda tanya pada ibu atau istri atau "asisten" rumah tangga Anda, berapa harga cabai sekilo pascakenaikan BBM? Lantas, kenapa orang-orang harus membanding-bandingkan harga rokok dengan kenaikan BBM?

Berbaik Sangka

Sekarang, saya hanya bisa berharap bahwa keadaan akan lebih baik. Protes ini-itu, tidak akan membuat harga BBM turun apalagi membuat harga barang yang naik akibat kenaikan BBM jadi turun. Kita hanya bisa berbaik sangka. Semoga memang apa yang pemerintah lakukan memang sesuatu yang tepat. Kenaikan BBM ini bahkan belum berusia satu bulan.

Tentunya, dengan mengatakan hal semacam ini, bukan berarti saya pro pada kenaikan BBM, hanya saja, saya terlalu lelah untuk mendengarkan terlalu banyak hal buruk tentang pemerintah dan kita semua (semakin) terpecah belah. Tentunya mengurus negara ini memang tidak mudah. Ketika menjadi pemimpin terkadang kita harus mengeluarkan kebijakan yang tidak popular. Apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya bisa berbaik sangka dan lakukanlah pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya. Saya percaya hal-hal baik terjadi pada orang-orang baik. Artinya, kenaikan BBM ini mungkin berat bagi banyak orang, tapi kenaikan ini sudah terjadi. Daripada kita terus mengkritik pemerintah sampai lupa diri, sebaiknya kita coba benahi diri supaya kita "survive" hidup di sini.

Pada artikel berikutnya, saya akan berbagai wawasan mengenai alasan di balik naiknya BBM. Semoga bermanfaat.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.