Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

21 Desember 2014

Obrolan Seru Kamis Malam Bersama Munira Agile: Segala Hal Tentang (Artis) Ask.fm Hingga "Anak Masa Kini"

Setelah minggu lalu saya bertemu Hila Zachira dan ngobrol banyak dari A sampai Z soal media sosial, khususnya Ask.fm, dan dirinya pribadi, Kamis (18/12) lalu, saya berkesempatan bertemu salah satu orang yang juga tidak kalah tenar di jagat Ask.fm dalam negeri, Munira Agile. Munira atau yang akrab disapa Mira ternyata juga masih memiliki hubungan kerabat dengan Hila. Bagi kamu yang penggemar berat Ask.fm, mungkin nama Mira (atau "Kak Mira") tidak lagi asing buat kamu, atau bahkan jawaban-jawaban Mira juga sering muncul di feed Ask.fm kamu.

Perbicangan saya bersama Mira ternyata berlangsung lebih lama daripada saat sesi wawancara saya bersama Hila, yaitu lebih dari dua setengah jam. Semua hal yang berkaitan dengan media sosial, kehidupan Mira, dan pandangannya mengenai remaja saat ini kami bahas denganmenurut sayasangat seru dan sangat (menurut saya) insightful. Oleh karena itu, saya anggap ini juga sebagai "buka-bukaan" karena pastinya ada banyak hal yang saya dapatkandan kamu juga bisa dapatkandari wawancara yang pastinya hampir tidak mungkin kamu dapat sedetil ini bahkan jika bertanya di Ask.fm sekalipun. Jadi, hampir semua tentang Mira ada di sini.

Jadi, bagi kamu yang mungkin merupakan penggemarnya Mira, saya pikir, seluruh wawancara ini mengulas dan menjawab banyak hal mengenai pribadi Mira.

Foto kiriman Munira Agile (@miraagile) pada

Karena wawancara saya bersama Mira sangat panjang, saya membagi wawancara ini ke dalam beberapa topik utama. Kamu tinggal klik topik dari gambar-gambar di bawah ini untuk membaca lebih lanjut mengenai wawancara saya bersama Mira . Kamu bisa mulai dari topik mengenai awal mula Mira "terjun" ke dunia media sosial atau kamu juga bisa bebas memilih topik mana yang ingin kamu baca terlebih dahulu.

Pilih Topik





Dalam sebulan ke depan, saya akan melakukan banyak wawancara bersama orang-orang yang sudah saya "kepoin" sebelumnya mengenai pandangan mereka terkait media sosial, Ask.fm, remaja, gaya hidup, hingga hal-hal yang pastinya seru untuk diketahui secara langsung dari mereka. Jadi, silakan menunggu, siapa tahu "artis favorit" kamu di Ask.fm saya ulas di sini. Anyway, kalau kamu punya ide tentang siapa yang harus saya wawancara, silakan tuliskan di boks komentar di bawah.


Terima kasih banyak saya ucapkan pada Mira untuk sesi ngobrol-ngobrol yang sangat menyenangkan! Semoga bisa bertemu kembali di lain kesempatan.

13 Desember 2014

Dua Jam Seru Bersama Hila Zachira: Dari Media Sosial Hingga Gaya Hidup Remaja

Bulan Oktober lalu saya untuk pertama kalinya menulis mengenai fenomena Ask.fm yang sedang booming di kalangan remaja Indonesia saat ini. Ternyata, dengan situs media sosial ini, seseorang dapat menjadi terkenal, atau menjadi seperti selebritas, tanpa harus terlebih dulu masuk layar kaca.

Memang, kini kita mengenal selebritas dunia maya. Selebritas dunia maya ini mulai eksis saat "gerakan" unjuk kreativitas di Twitter dan YouTube menjadi sangat popular. Ketika akhirnya Instagram muncul dan juga bisa "dikonsumsi" oleh pengguna Android sejak awal tahun 2012 lalu, kita pun mengenal banyak "selebritas Instagram". Ini adalah orang-orang yang, let's say, memublikasikan foto-foto "badai" di akunnya. Mulai dari foto-foto diri nan bombastis hingga foto-foto traveling nan elok yang (pastinya) membuat para orang-orang ini mempunya basis fans tersendiri.

Kini, tren penggunaan dan exposure media sosial sedang berkembang sangat masif di Ask.fm, khususnya di kalangan remaja lokal. Saya melihat bahwa melalui media sosial ini, seseorang juga bisa mendapatkan "status" artis atau selebritas dengan modal yang jauh lebih sederhana dibandingkan media-media sosial sebelumnya, yakni dengan menjawab pertanyaan. Walaupun memang, jawaban yang dimaksud tentu bukan sembarang jawaban. Jawaban ini harus memenuhi unsur entertain atau menghibur.

Saya memang termasuk "pendatang" baru di dunia per-Ask.fm-an, tapi dalam usia yang termasuk muda di media sosial yang satu ini, saya memperhatikan banyak fenomena menarik dari para pengguna Ask.fm. Berbagai pengamatan saya ini mengundang rasa kepo yang sangat besar hingga saya memutuskan untuk bertemu dan bertanya langsung dengan para "aktivis" Ask.fm mengenai peran mereka sebagai "artis Ask.fm". Saya senang ternyata rasa keingintahuan saya ini pun disambut positif oleh beberapa orang "artis Ask.fm" yang berhasil saya hubungi.

Dalam sebulan ke depan, saya akan melakukan banyak wawancara bersama orang-orang yang sudah saya "kepoin" sebelumnya mengenai pandangan mereka terkait media sosial, Ask.fm, remaja, gaya hidup, hingga hal-hal yang pastinya seru untuk diketahui secara langsung dari mereka. Jadi, silakan menunggu, siapa tahu "artis favorit" kamu di Ask.fm saya ulas di sini. Anyway, kalau kamu punya ide tentang siapa yang harus saya wawancara, silakan tuliskan di boks komentar di bawah.

Dua Jam "Buka-bukaan" Bersama Hila Zachira

Kamis (11/12) kemarin, saya berkesempatan bertemu sekaligus ngobrol panjang lebar dengan seorang perempuan yang bisa saya katakan cukup terkenal di Ask.fm. Namanya adalah Hila Zachira. Bagi kamu yang penggemar berat Ask.fm, mungkin nama Hila tidak lagi asing buat kamu, atau bahkan jawaban-jawaban Hila juga sering muncul di feed Ask.fm. Memang, bagi Hila sendiri, dia tidak menganggap dirinya "seterkenal" itu di media sosial yang tampaknya cukup wajib dimiliki oleh remaja Indonesia saat ini. Namun, saya sempat melakukan "riset" kecil-kecilan dan saya pun memutuskan untuk memasukkan Hila ke dalam daftar nama orang-orang popular di Ask.fm.

Perbicangan saya bersama Hila berlangsung selama hampir dua jam. Semua hal yang berkaitan dengan media sosial, kehidupan Hila, dan pandangannya mengenai remaja saat ini kami bahas denganmenurut sayasangat seru. Oleh karena itu, saya anggap ini sebagai "buka-bukaan" karena pastinya ada banyak hal yang saya dapatkandan kamu juga bisa dapatkandari wawancara yang pastinya hampir tidak mungkin kamu dapat sedetil ini bahkan jika bertanya di Ask.fm sekalipun.

Foto kiriman @hilazach_ pada


Bagi kamu yang mungkin merupakan penggemarnya Hila, saya pikir, seluruh wawancara ini mengulas dan menjawab banyak hal mengenai pribadi Hila.

Wawancara saya bersama Hila cukup panjang. Oleh karena itu saya membagi wawancara ini ke dalam beberapa topik utama. Kamu tinggal klik topik dari gambar-gambar di bawah ini untuk membaca lebih lanjut mengenai wawancara saya bersama Hila . Kamu bisa mulai dari topik mengenai media sosial atau kamu juga bisa bebas memilih topik mana yang ingin kamu baca terlebih dahulu.

Pilih Topik





Anyway, terima kasih banyak saya ucapkan pada Hila untuk sesi ngobrol-ngobrol yang sangat menyenangkan. Semoga bisa bertemu kembali di lain kesempatan. 




07 Desember 2014

Ahok dan Provokasi di Media Sosial

Kemarin malam, saya dikejutkan dengan satu berita yang di-share seorang teman di linimasa Facebook dengan judul yang sangat provokatif. Seperti yang Anda lihat di atas, berita itu berjudul, "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at". Judul ini langsung mengundang perhatian saya karena saya pikir apa urusannya gubernur sampai harus atur materi khutbah Jumat? Saya perhatikan, berita itu dipublikasikan oleh Republika. Tanpa bermaksud memandang sebelah mata, tapi saya pikir kita sama-sama tahu "ideologi" yang dianut Republika dalam memublikasikan berita.

Namun demikian, tetap saya harus membaca konten berita tersebut sebelum terlanjur men-share-nya (seperti kebanyakan orang) di Facebook. Setelah saya buka tautan berita tersebut, saya terkejut karena ternyata judul di artikel yang terbuka bukanlah "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at", melainkan "Ahok Akan Sebar 'Intel' Awasi Pembangunan Masjid. Ada Apa?".

Loh, ada apa ini? Karena saya juga terlanjur terbawa emosi sesaat ketika membaca judul beritawalau sisi baiknya, saya tetap cek dulu dan membaca, sedangkan biasanya orang-orang kita terlalu malas membaca dan terlalu semangat berkomentarsaya pun beranggapan bahwa judul berita ini telah diedit oleh Republika, tapi sayangnya saat berita itu dipublikasikan, orang-orang sudah terlanjur menyebarkannya lebih dulu, sehingga judul yang otomatis muncul di Facebook adalah judul  "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at", bukan "Ahok Akan Sebar 'Intel' Awasi Pembangunan Masjid. Ada Apa?".

Menurut saya, judul-judul semacam ini jelas sangat berbahaya. Belum lagi, karakter orang Indonesia yang malas baca, tapi lantang bersuara (baca: cuma terpaku pada judul berita, share, lalu komentar, caci maki), membuat hal-hal semacam ini bisa semakin menebar kebencian. Sudahlah, memangnya tidak bosan ya? Begitu pikir saya.

Ini semua membuat saya semakin yakin bahwa media semakin lama semakin "tidak ada otaknya". Media kerap membuat judul berita yang "seenak jidatnya". Masalahnya, kalau berita dengan judul aslinya sudah dipublikasikan, dan kemudian di-share di Facebook, dan kemudian orang lain men-share dari orang pertama yang men-share, judulnya tidak akan berubah kecuali orang itu meng-copy ulang URL berita (yang mungkin sudah diedit ulang). Dalam hal ini, teman saya tadi memang men-share berita tersebut dari orang lain. Jadi, dia bukan pihak pertama yang men-share berita tersebut.

Judul Rekayasa

Namun, saya menyesal karena saya terlalu gegabah dalam membuat kesimpulan. Saya menyesal karena seharusnya saya bisa lebih jeli dalam membaca judul tersebut dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Saya membuat pengamatan singkat, tapi saya pikir pengamatan ini cukup membuat saya yakin bahwa sebenarnya berita yang disebarkan di Facebook tadi memang telah diubah judulnya oleh pihak yang pertama kali men-share berita tersebut.

Tahukah Anda bahwa kita bisa mengubah judul tautan yang akan kita sebar di Facebook? Selain judul, kita juga bisa mengubah subtitle sesuai keinginan kita. Perhatikan gambar di bawah ini.

Coba Anda copy dan paste sebuah URL di boks status Facebook Anda. Coba arahkan kursor ke judul berita yang muncul maka Facebook akan meng-highlight judul tersebut dengan warna kuning yang artinya, jika Anda klik judul tersebut, Anda bisa mengubah atau mengeditnya sesuai keinginan Anda. Hal ini juga berlaku pada subtitle atau teks yang ada di bawah judul. Silakan coba arahkan kursor ke subtitle maka subtitle juga akan di-highlight kuning oleh Facebook yang artinya Anda bisa mengubah isi teks tersebut.

Saya tahu hal ini sudah lama, dan mungkin sebagian dari Anda juga sudah tahu. Namun, karena memang terbawa emosi sesaat, saya tidak memperhatikan hal-hal semacam ini. Padahal, ini sangatlah penting. Dari sini, saya berasumsi bahwa berita tersebut diedit oleh pihak yang pertama kali menyebarkan berita tersebut.

Sekarang, kita kembali pada judul berita yang di-share, yaitu "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at". Dari judul tersebut, saya minta Anda untuk memperhatikan empat poin berikut:
  1. Ahok :
  2. Untuk
  3. Dan
  4. Jum'at
Sekarang, apa yang salah dari keempat kata tersebut? Pertama, saya menyoroti penulisan kata “Untuk” dan “Dan” dalam judul. Dalam sebuah judul kedua kata tersebut harusnya tidak ditulis dengan huruf kapital karena “untuk” adalah kata depan dan “dan” adalah konjungsi. Wartawan (walaupun pasti ada yang salah), sebagian besar pasti tahu hal ini. Kalaupun mereka salah, saya pikir untuk apa ada pekerjaan editor? Kalau hal semacam ini sampai luput dari "mata" editor, saya rasa editornya pasti terlalu banyak tidur siang.

Hal berikutnya adalah kata "Jum'at". Kata Jumat di dalam artikel tersebut ditulis Jum’at. Sangat lazim bagi orang kita menulis Jum’at dengan menyisipkan tanda petik di antara “m” dan “a”, tapi wartawan pasti tahu yang betul adalah “Jumat”. Kalaupun ini luput dari si wartawan, si editor pasti akan mengoreksinya. Artinya, tidak mungkin penulis salah menulis judul. Sementara itu, kata Jumat beberapa kali ditulis di artikel tanpa tanda petik. Tidak mungkin ada perbedaan penulisan dalam satu artikel.

Kesalahan ketiga adalah terkait dengan tanda baca. Tanda titik dua (:) setelah nama seharusnya tidak diikuti spasi. Saya coba cari berita-berita lainnya di situs Republika, dan begitulah yang ditulis di judul-judul Republika lainnya, tanda titik dua tidak diikuti spasi setelah nama. Ini artinya berita yang di-share janggal karena "beda" sendiri. Orang awam kebanyakan kurang mengatahui cara penulisan tanda baca dalam bahasa Indonesia. Saya juga kerap menemukan orang-orang biasanya menyisipkan spasi antara suatu kata dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!), dan sebagainya. Padahal, seharusnya tidak ada jarak (spasi) antara kata dan tanda baca yang mengikutinya.

Namun, kembali pada topik, di judul di atas, ditulis: "Ahok: Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah". Jadi, di dalam judul ini, terlalu banyak kesalahan untuk media sebesar Republika.

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa artikel yang pertama kali disebar sudah terlebih dulu diubah. Namun, karena yang mengubahnya juga tidak begitu paham soal EYD (dan orang-orang juga tidak paham soal EYD) maka dia melewatkan empat poin ini. Seandainya si pihak pertama ini bisa membuat judul sesuai EYD, saya pikir pastinya saya akan percaya bahwa judul ini memang pernah dipublikasikan oleh Republika.

Oleh karena itu, saya mengimbau (ya, "mengimbau", bukan "menghimbau") kepada seluruh pembaca agar tidak mudah terprovokasi oleh (judul) berita yang tersebar di media-media sosial. Sebenarnya, judul berita saat ini memang kerap bersifat provokatif, tapi ada pihak-pihak yang berusaha meningkatkan tingkat atau level keprovokatifannya (saya tidak yakin kata ini tepat, tapi maksud saya begitu) sehingga membuat orang-orang semakin "gerah". Cermatlah dalam memilah-milih berita. Pastikan Anda selalu membaca dari awala (lead) hingga akhir artikel. Jangan terburu-buru men-share apalagi berkomentar "tidak pintar" hanya karena Anda menilai dari judul beritanya saja.

Media kini memang dibuat untuk berbisnis, bukan lagi untuk melayani kepentingan publik. Jadi, berhati-hatilah dalam membaca berita. Bagi saya pribadi, di Indonesia saat ini, tidak ada lagi media yang benar-benar bisa dipercaya karena kepentingan perusahaan kini lebih besar daripada kepentingan publik. Waspadalah!

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend