07 Desember 2014

Ahok dan Provokasi di Media Sosial

Kemarin malam, saya dikejutkan dengan satu berita yang di-share seorang teman di linimasa Facebook dengan judul yang sangat provokatif. Seperti yang Anda lihat di atas, berita itu berjudul, "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at". Judul ini langsung mengundang perhatian saya karena saya pikir apa urusannya gubernur sampai harus atur materi khutbah Jumat? Saya perhatikan, berita itu dipublikasikan oleh Republika. Tanpa bermaksud memandang sebelah mata, tapi saya pikir kita sama-sama tahu "ideologi" yang dianut Republika dalam memublikasikan berita.

Namun demikian, tetap saya harus membaca konten berita tersebut sebelum terlanjur men-share-nya (seperti kebanyakan orang) di Facebook. Setelah saya buka tautan berita tersebut, saya terkejut karena ternyata judul di artikel yang terbuka bukanlah "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at", melainkan "Ahok Akan Sebar 'Intel' Awasi Pembangunan Masjid. Ada Apa?".

Loh, ada apa ini? Karena saya juga terlanjur terbawa emosi sesaat ketika membaca judul beritawalau sisi baiknya, saya tetap cek dulu dan membaca, sedangkan biasanya orang-orang kita terlalu malas membaca dan terlalu semangat berkomentarsaya pun beranggapan bahwa judul berita ini telah diedit oleh Republika, tapi sayangnya saat berita itu dipublikasikan, orang-orang sudah terlanjur menyebarkannya lebih dulu, sehingga judul yang otomatis muncul di Facebook adalah judul  "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at", bukan "Ahok Akan Sebar 'Intel' Awasi Pembangunan Masjid. Ada Apa?".

Menurut saya, judul-judul semacam ini jelas sangat berbahaya. Belum lagi, karakter orang Indonesia yang malas baca, tapi lantang bersuara (baca: cuma terpaku pada judul berita, share, lalu komentar, caci maki), membuat hal-hal semacam ini bisa semakin menebar kebencian. Sudahlah, memangnya tidak bosan ya? Begitu pikir saya.

Ini semua membuat saya semakin yakin bahwa media semakin lama semakin "tidak ada otaknya". Media kerap membuat judul berita yang "seenak jidatnya". Masalahnya, kalau berita dengan judul aslinya sudah dipublikasikan, dan kemudian di-share di Facebook, dan kemudian orang lain men-share dari orang pertama yang men-share, judulnya tidak akan berubah kecuali orang itu meng-copy ulang URL berita (yang mungkin sudah diedit ulang). Dalam hal ini, teman saya tadi memang men-share berita tersebut dari orang lain. Jadi, dia bukan pihak pertama yang men-share berita tersebut.

Judul Rekayasa

Namun, saya menyesal karena saya terlalu gegabah dalam membuat kesimpulan. Saya menyesal karena seharusnya saya bisa lebih jeli dalam membaca judul tersebut dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Saya membuat pengamatan singkat, tapi saya pikir pengamatan ini cukup membuat saya yakin bahwa sebenarnya berita yang disebarkan di Facebook tadi memang telah diubah judulnya oleh pihak yang pertama kali men-share berita tersebut.

Tahukah Anda bahwa kita bisa mengubah judul tautan yang akan kita sebar di Facebook? Selain judul, kita juga bisa mengubah subtitle sesuai keinginan kita. Perhatikan gambar di bawah ini.

Coba Anda copy dan paste sebuah URL di boks status Facebook Anda. Coba arahkan kursor ke judul berita yang muncul maka Facebook akan meng-highlight judul tersebut dengan warna kuning yang artinya, jika Anda klik judul tersebut, Anda bisa mengubah atau mengeditnya sesuai keinginan Anda. Hal ini juga berlaku pada subtitle atau teks yang ada di bawah judul. Silakan coba arahkan kursor ke subtitle maka subtitle juga akan di-highlight kuning oleh Facebook yang artinya Anda bisa mengubah isi teks tersebut.

Saya tahu hal ini sudah lama, dan mungkin sebagian dari Anda juga sudah tahu. Namun, karena memang terbawa emosi sesaat, saya tidak memperhatikan hal-hal semacam ini. Padahal, ini sangatlah penting. Dari sini, saya berasumsi bahwa berita tersebut diedit oleh pihak yang pertama kali menyebarkan berita tersebut.

Sekarang, kita kembali pada judul berita yang di-share, yaitu "Ahok : Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah Jum'at". Dari judul tersebut, saya minta Anda untuk memperhatikan empat poin berikut:
  1. Ahok :
  2. Untuk
  3. Dan
  4. Jum'at
Sekarang, apa yang salah dari keempat kata tersebut? Pertama, saya menyoroti penulisan kata “Untuk” dan “Dan” dalam judul. Dalam sebuah judul kedua kata tersebut harusnya tidak ditulis dengan huruf kapital karena “untuk” adalah kata depan dan “dan” adalah konjungsi. Wartawan (walaupun pasti ada yang salah), sebagian besar pasti tahu hal ini. Kalaupun mereka salah, saya pikir untuk apa ada pekerjaan editor? Kalau hal semacam ini sampai luput dari "mata" editor, saya rasa editornya pasti terlalu banyak tidur siang.

Hal berikutnya adalah kata "Jum'at". Kata Jumat di dalam artikel tersebut ditulis Jum’at. Sangat lazim bagi orang kita menulis Jum’at dengan menyisipkan tanda petik di antara “m” dan “a”, tapi wartawan pasti tahu yang betul adalah “Jumat”. Kalaupun ini luput dari si wartawan, si editor pasti akan mengoreksinya. Artinya, tidak mungkin penulis salah menulis judul. Sementara itu, kata Jumat beberapa kali ditulis di artikel tanpa tanda petik. Tidak mungkin ada perbedaan penulisan dalam satu artikel.

Kesalahan ketiga adalah terkait dengan tanda baca. Tanda titik dua (:) setelah nama seharusnya tidak diikuti spasi. Saya coba cari berita-berita lainnya di situs Republika, dan begitulah yang ditulis di judul-judul Republika lainnya, tanda titik dua tidak diikuti spasi setelah nama. Ini artinya berita yang di-share janggal karena "beda" sendiri. Orang awam kebanyakan kurang mengatahui cara penulisan tanda baca dalam bahasa Indonesia. Saya juga kerap menemukan orang-orang biasanya menyisipkan spasi antara suatu kata dengan tanda tanya (?) atau tanda seru (!), dan sebagainya. Padahal, seharusnya tidak ada jarak (spasi) antara kata dan tanda baca yang mengikutinya.

Namun, kembali pada topik, di judul di atas, ditulis: "Ahok: Saya Akan Sebar Intel Untuk Awasi Masjid Dan Mengatur Materi Khutbah". Jadi, di dalam judul ini, terlalu banyak kesalahan untuk media sebesar Republika.

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa artikel yang pertama kali disebar sudah terlebih dulu diubah. Namun, karena yang mengubahnya juga tidak begitu paham soal EYD (dan orang-orang juga tidak paham soal EYD) maka dia melewatkan empat poin ini. Seandainya si pihak pertama ini bisa membuat judul sesuai EYD, saya pikir pastinya saya akan percaya bahwa judul ini memang pernah dipublikasikan oleh Republika.

Oleh karena itu, saya mengimbau (ya, "mengimbau", bukan "menghimbau") kepada seluruh pembaca agar tidak mudah terprovokasi oleh (judul) berita yang tersebar di media-media sosial. Sebenarnya, judul berita saat ini memang kerap bersifat provokatif, tapi ada pihak-pihak yang berusaha meningkatkan tingkat atau level keprovokatifannya (saya tidak yakin kata ini tepat, tapi maksud saya begitu) sehingga membuat orang-orang semakin "gerah". Cermatlah dalam memilah-milih berita. Pastikan Anda selalu membaca dari awala (lead) hingga akhir artikel. Jangan terburu-buru men-share apalagi berkomentar "tidak pintar" hanya karena Anda menilai dari judul beritanya saja.

Media kini memang dibuat untuk berbisnis, bukan lagi untuk melayani kepentingan publik. Jadi, berhati-hatilah dalam membaca berita. Bagi saya pribadi, di Indonesia saat ini, tidak ada lagi media yang benar-benar bisa dipercaya karena kepentingan perusahaan kini lebih besar daripada kepentingan publik. Waspadalah!

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.