Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

08 Januari 2015

Penyerangan Charlie Hebdo, Haruskah Terjadi?

Read the article in English.

Kemarin, 7 Januari 2015, dunia kembali dikejutkan dengan aksi terorisme yang (lagi-lagi) melibatkan nama Islam. Setelah teror penyanderaan di Kafe Lindt, Sydney, Australia yang menggemparkan pada Desember lalu, kali ini giliran Prancis yang menjadi "sasaran" terorisme. Namun, berbeda dengan apa yang terjadi di Australia, aksi terorisme yang terjadi Prancis ini bukan terjadi tanpa sebab.

Kantor pusat majalah satir Charlie Hebdo di Paris, Prancis, diserang tiga orangyang diduga sebagai militan Islamisdengan penutup kepala yang membawa senapan serbu Kalashnikov dan pelontar roket pada pukul 11.30 siang waktu Paris. Akibat insiden ini, 12 orang tewas. Empat orang di antaranya adalah kartunis ternama majalah ini. Selain itu, salah seorang editor, Stephane Charbonnier, atau yang lebih dikenal dengan nama Charb, juga ikut terbunuh dalam aksi bersenjata ini.
Namun, bagi saya, satu hal yang paling menyedihkan adalah, para penembak ini menyerukan kalimat "Allahu Akbar" saat menyerang kantor majalah Charlie Hebdo.


Sumber: PlanetEarthAwakens01/YouTube
Kicauan di bawah ini tentu hanya satu dari sekian banyak reaksi masyarakat dunia terhadap apa yang terjadi di Paris kemarin.

Rekam Jejak Charlie Hebdo Menggambarkan Islam

Serangan ke Charlie Hebdo pada Rabu kemarin terjadi karena majalah tersebut beberapa kali menampilkan karikatur Nabi Muhammad dengan (sangat) menghina. Pada 2011, Charlie Hebdo memublikasikan edisi spesial dengan halaman utama bergambar karikatur Nabi Muhammad sebagai editor majalah "Charia Hebdo" dan berkata, "100 coups de fouet, si vous n'êtes pas morts de rire" (hukum cambuk 100 kali jika Anda tidak mati tertawa).


Edisi spesial yang dirilis pada November 2011 ini membuat kantor majalah tersebut dilempar bom. Selain itu, laman resmi majalah itu juga diretas dan para pekerja majalah diancam akan dibunuh.

Namun, seminggu kemudian, Charlie Hebdo kembali merilis gambar karikatur seorang kartunis majalah yang (terlihat) sangat bernafsu mencium seorang pria berjanggut di depan gedung yang rusak akibat aksi bom.


Judul yang dipilih saat itu adalah "L’amour plus fort que la haine"  (cinta lebih kuat daripada kebencian).

Pada 2012, Charlie Hebdo kembali mempublikasi beberapa karikatur menghina Nabi Muhammad. Dalam edisi itu pula, majalah ini menampilkan karikatur Nabi dalam keadaan telanjang.


Dalam sampul majalah edisi tersebut, digambarkan seorang Muslim yang duduk di atas kursi roda dan didorong oleh seorang Yahudi Ortodoks dengan judul Intouchables 2. Judul yang mengacu pada sebuah film Prancis pemenang penghargaan—terinspirasi dari kisah nyata Philippe Pozzo di Borgo dan pengasuhnya Abdel Sellou—bercerita tentang Kisah persahabatan antara Philippe, seorang tunadaksa kaya yang memiliki rumah mewah, dan asistennya Magalie. Kartun lainnya di halaman belakang majalah mingguan ini menunjukkan Nabi Muhammad tanpa busana dan telanjang dan berpose membelakangi sutradara film.

Bagaimanakah reaksi Pemerintah Prancis dengan edisi-edisi kontroversial yang diterbitkan Charlie Hebdo ini? Pemerintah Prancis sempat meminta agar redaksi tidak meneruskan publikasi tersebut. Namun, permintaan tersebut ditolak. Akibatnya, Prancis terpaksa menutup kantor kedutaan serta sekolah-sekolah di 20 negara akibat khawatir dengan keselamatan warganya di luar negeri.

Berikut ini adalah beberapa sampul majalah Charlie Hebdo yang kontroversial dan menyangkut Islam.



Apakah Charlie Hebdo Anti-Islam?

Pagi ini saya membaca di situs Republika Online terkait kejadian di Prancis ini. Republika Online memilih judul "Kantor Majalah Anti-Islam di Prancis Ditembaki dan Diroket" pada artikel yang dipublikasikan sehari sebelumnya.

Apakah Charlie Hebdo sebuah majalah anti-Islam? Saya pikir semua orang, khususnya media (dan termasuk di dalamnya para jurnalis) harus berhati-hati dalam membuat kesimpulan. Majalah Charlie Hebdo memang dikenal kerap menerbitkan kartun-kartun satir yang oleh umat Islam dianggap sebagai bentuk pelecehan atau serangan. Sejak awal majalah ini terbit pada tahun 1970 memang ditujukan untuk "meledek" selebritas, politisi, bahkan agama—bukan hanya Islam.

Pada tahun 2006, majalah yang namanya terinsipirasi dari tokoh kartun Amerika Charlie Brown ini menjadi target utama kelompok-kelompok Islam radikal setelah mencetak ulang 12 kartun Nabi Muhammad yang sempat diterbitkan harian Denmark, Jyllands-Posten.

Kita harus paham bahwa, pertama, Charlie Hebdo sebuah majalah satir, bukan majalah anti-Islam. Saya pikir ini satu fakta yang harus diluruskan terlebih dahulu. Apa itu satir? Satir adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satir biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Jadi, ketika Charlie Hebdo mengambil posisi sebagai majalah satir, itu berarti sudah menjadi "pekerjaan" mereka untuk berbuat seperti itu.

Mungkin beberapa orang berpikir bahwa semua media yang menjelek-jelekkan Islam apalagi menghina Nabi Muhammad adalah anti-Islam. Belum tentu. Charlie Hebdo juga kerap menghina Kristen. Saya menemukan beberapa sampul majalah Charlie Hebdo yang—seharusnya—jika umat Kristiani melihat sampul-sampul majalah ini dan berpikir layaknya orang Islam yang merasa apa yang dilakukan majalah ini adalah sebuah seruan anti-Islam, mereka akan berpikir bahwa apa yang dilakukan majalah ini juga sudah menyerukan anti-Kristen.




Saya Muslim, tapi menurut saya pribadi sampul-sampul majalah di atas sangatlah tidak pantas dipublikasikan. Namun, lagi-lagi, kita harus ingat Charlie Hebdo terbit di Prancis. Negara tersebut menganut paham kebebasan berekspresi bagi setiap individunya, dan hal tersebut dijamin oleh negara. Hal berikutnya, Prancis adalah negara sekuler.

Data tahun 2007 menyebutkan, sebanyak 58 persen penduduk Prancis beragama Kristen, 31 persen menyatakan tidak beragama, sedangkan Islam hanya berjumlah 4 persen. Jadi, bukankah bisa saja para kartunis majalah ini beragama Kristen? Karena agama Kristen menjadi mayoritas di Prancis, kemungkinan bahwa para kartunis yang menggambarkan karikatur melecehkan Kristen ini juga orang Kristen tentu bisa saja terjadi.

Lalu, apakah masyarakat Kristen melempar bom ke kantor majalah ini saat majalah ini melecehkan agama mereka sendiri? Apakah masyarakat Kristen menembaki orang-orang yang bekerja di majalah ini? Tidak.



Sebagai manusia yang berakal dan memiliki hati nurani, saya percaya masyarakat Kristen di sana yang membaca dan mengetahui satiran-satiran negatif mengenai Kristen juga merasa tersinggung. Namun, dalam sebuah kelas Komunikasi Global saat kuliah dulu, saya ingat, seorang dosen pernah bercerita bahwa yang membedakan antara (mayoritas) komunitas Islam di dunia dengan komunitas Kristen, adalah saat ada sebuah pelecehan dalam media terhadap agama mereka, masyarakat Kristen (yang mayoritas masyarakat Barat) akan berpikir bahwa, pertama, hal itu ofensif, tapi kedua, mereka percaya bahwa apa yang digambarkan atau dilecehkan orang lain tidaklah benar adanya. Mereka percaya bahwa itu adalah bagian dari kebebasan bereskpresi dan beberapa orang di luar sana memang punya "hobi" mencela, mengejek, dan senang menertawai agama. Namun, poinnya adalah, apa yang digambarkan oleh orang-orang yang mengejek Kristen, mereka percaya bahwa hal tersebut tidak benar dan untuk itu tidak perlu dipermasalahkan.

Lain halnya dengan masyarakat Islam. Komunitas Islam (yang mayoritas berada di Timur) memandang bahwa segala penghinaan agama adalah penghinaan dan... titik. Segala bentuk penghinaan dan penodaan agama adalah perbuatan nista dan harus dilawan, dan... titik.

Saya pikir komunitas Islam di seluruh dunia harus mulai bisa memilah-milih mana yang benar-benar dianggap sebagai penghinaan dan mana yang sekadar aktivitas "iseng" untuk memprovokasi. Selain itu, komunitas Islam harus bisa lebih cerdas dalam menyikapi segala bentuk hinaan dan kebencian. Saya tidak mengatakan bahwa saya "biasa" saja terhadap penghinaan terhadap Islam, tapi kita memang harus lebih hati-hati dan cerdas. Ada pihak-pihak tertentu di luar sana yang memang sangat ingin menjatuhkan citra Islam, dan sebetulnya itu perkara mudah karena masyarakat Islam sangat mudah terpancing amarah.

Kembali ke soal karikatur Nabi Muhammad. Di dunia ini, selain mereka yang hidup satu zaman dengan Nabi Muhammad, tidak ada seorang pun yang tahu rupa Nabi Muhammad. Bagi saya pribadi, bijaksanakah kita merasa marah, bahkan hingga berbuat anarkis, terhadap karikatur Nabi yang bahkan itu tidak menggambarkan wajah Nabi karena tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa rupa Nabi Muhammad? Entah tingkat keimanan saya yang masih rendah, tapi menurut saya menanggapi hal-hal semacam itu tidak perlu. Coba Anda perhatikan karikatur Nabi Muhammad yang dipublikasikan Charlie Hebdo di atas, saya pikir karikatur tersebut lebih mirip dengan Osama bin Laden.

Namun, lain soal jika yang terjadi adalah penistaan terhadap kita suci Al Quran atau aksi biadab Israel terhadap warga Muslim di Palestina. Kita memang harus "pasang badan" dan menunjukkan soliditas antarumat Islam bahwa apa yang dilakukan telah menghina agama.

Citra Islam di Dunia Hari Ini

Islamophobia di dunia semakin tumbuh. Jika Anda sempat mengikut berita, sebuah unjuk rasa besar-besaran menentang "Islamisasi Barat" berlangsung di Dresden, Jerman bagian timur, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 10.000 orang pada Desember 2014 lalu. Dresden mejadi tempat kelahiran gerakan yang disebut "Warga Eropa Patriotik terhadap Islamisasi Barat (Pegida)".

Kebencian terhadap Islam terus tumbuh, tak peduli bahwa Islam ini sebenarnya adalah agama yang rahmatan lil alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk sesama manusia.

Memang, di luar sana masih banyak, ratusan ribu, non-Muslim yang percaya bahwa Islamophobia adalah hal konyol. Warga Jerman yang mendukung Islam pun melakukan demonstrasi tandingan untuk menentang aksi demonstrasi anti-Islam di Jerman. Para demonstran di Berlin, Stuttgart, Cologne, dan Dresden mengatakan mereka berdemonstrasi menentang rasisme dan xenophobia, serta mendorong pesan toleransi.

Gerakan hashtag #illridewithyou pascaaksi teror penyanderaan di Kafe Lindt, Sydney, Australia bulan lalu juga menunjukkan bahwa masih ada banyak orang yang peduli dan percaya bahwa Islam tidaklah seburuk citranya di dunia saat ini.

Sebuah eksperimen sosial yang dilakukan di Australia dalam video di bawah ini menunjukkan betapa orang-orang sangat melindungi orang-orang Islam dari berbagai sentimen negatif yang (mungkin) berkembang di tengah masyarakat.



Bahkan setelah kejadian di Paris kemarin, seorang kolumnis The New York Times langsung menulis, jangan terburu-buru menyalahkan Islam.

Namun, sebesar apapun usaha masyarakat non-Muslim dunia untuk meyakinkan seluruh dunia bahwa Islam tidak seperti yang kerap dipikirkan secara negatif oleh masyarakat dunia saat ini, semua itu akan sia-sia jika umat Islam sendiri tidak memiliki kesadaran untuk bersatu menjaga perdamaian dan lebih bijak dalam bersikap. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan atau membunuh. Ada cara-cara yang jauh lebih baik untuk "melawan" segala bentuk penghinaan, dan karena itulah manusia dianugerahi akal pikiran supaya berpikir.

Apa yang terjadi di Paris kemarin sangatlah disayangkan. Saya pribadi sangat menyayangkan kejadian tersebut yang sebetulnya sangat bodoh dan berlandaskan emosi semata.

Di dunia ini memang banyak media "kacangan" dan jurnalis-jurnalis tidak kompeten yang sering kali membuat kita merasa jengkel dan marah. Namun, sebagai orang yang bekerja di dunia media, saya sangat menaruh perhatian pada keamanan jurnalis dan media itu sendiri. Sebenarnya Charlie Hebdo sendiri bukan majalah yang cukup besar. Tirasnya hanya sekitar 30.000 eksemplar tiap pekan dan kini mengharapkan donasi agar majalah ini bisa tetap terbit. Demikian yang saya baca di beberapa media hari ini mengenai Charlie Hebdo.

Pada akhirnya, saya harap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh pihak. Bagi media, khususnya, kebebasan berekspresi memang penting, tapi sebaiknya tidak menyentuh isu-isu yang sensitif, seperti agama, secara kontroversial. Sementara bagi masyarakat pun, khususnya komunitas Islam di seluruh dunia—saya tahu, yang baca ini pastinya hanya orang Indonesia—bisa lebih bijak dalam menyikapi berbagai bentuk kebencian terhadap Islam. Bukankah hater's gonna hate?

Sementara itu....




Updates


Jika mereka (yang melakukan penyerangan) berpikir bahwa serangan akan menghentikan media ini, mereka salah.

Serangan balasan terhadap masjid di Le Mans, Prancis (8/1). Tidak ada korban jiwa, tapi hal ini (sudah) terjadi.

Salah satu polisi yang tewas tertembak dalam serangan di kantor majalah Charlie Hebdo adalah Ahmed Merabet (42), seorang Muslim. Siapa yang sangka di antara polisi yang bertugas adalah seorang Muslim? Mereka (penyerang) tidak akan sampai berpikir kesana.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.