08 Januari 2015

Penyerangan Charlie Hebdo, Haruskah Terjadi?

Read the article in English.

Kemarin, 7 Januari 2015, dunia kembali dikejutkan dengan aksi terorisme yang (lagi-lagi) melibatkan nama Islam. Setelah teror penyanderaan di Kafe Lindt, Sydney, Australia yang menggemparkan pada Desember lalu, kali ini giliran Prancis yang menjadi "sasaran" terorisme. Namun, berbeda dengan apa yang terjadi di Australia, aksi terorisme yang terjadi Prancis ini bukan terjadi tanpa sebab.

Kantor pusat majalah satir Charlie Hebdo di Paris, Prancis, diserang tiga orangyang diduga sebagai militan Islamisdengan penutup kepala yang membawa senapan serbu Kalashnikov dan pelontar roket pada pukul 11.30 siang waktu Paris. Akibat insiden ini, 12 orang tewas. Empat orang di antaranya adalah kartunis ternama majalah ini. Selain itu, salah seorang editor, Stephane Charbonnier, atau yang lebih dikenal dengan nama Charb, juga ikut terbunuh dalam aksi bersenjata ini.
Namun, bagi saya, satu hal yang paling menyedihkan adalah, para penembak ini menyerukan kalimat "Allahu Akbar" saat menyerang kantor majalah Charlie Hebdo.


Sumber: PlanetEarthAwakens01/YouTube
Kicauan di bawah ini tentu hanya satu dari sekian banyak reaksi masyarakat dunia terhadap apa yang terjadi di Paris kemarin.

Rekam Jejak Charlie Hebdo Menggambarkan Islam

Serangan ke Charlie Hebdo pada Rabu kemarin terjadi karena majalah tersebut beberapa kali menampilkan karikatur Nabi Muhammad dengan (sangat) menghina. Pada 2011, Charlie Hebdo memublikasikan edisi spesial dengan halaman utama bergambar karikatur Nabi Muhammad sebagai editor majalah "Charia Hebdo" dan berkata, "100 coups de fouet, si vous n'êtes pas morts de rire" (hukum cambuk 100 kali jika Anda tidak mati tertawa).


Edisi spesial yang dirilis pada November 2011 ini membuat kantor majalah tersebut dilempar bom. Selain itu, laman resmi majalah itu juga diretas dan para pekerja majalah diancam akan dibunuh.

Namun, seminggu kemudian, Charlie Hebdo kembali merilis gambar karikatur seorang kartunis majalah yang (terlihat) sangat bernafsu mencium seorang pria berjanggut di depan gedung yang rusak akibat aksi bom.


Judul yang dipilih saat itu adalah "L’amour plus fort que la haine"  (cinta lebih kuat daripada kebencian).

Pada 2012, Charlie Hebdo kembali mempublikasi beberapa karikatur menghina Nabi Muhammad. Dalam edisi itu pula, majalah ini menampilkan karikatur Nabi dalam keadaan telanjang.


Dalam sampul majalah edisi tersebut, digambarkan seorang Muslim yang duduk di atas kursi roda dan didorong oleh seorang Yahudi Ortodoks dengan judul Intouchables 2. Judul yang mengacu pada sebuah film Prancis pemenang penghargaan—terinspirasi dari kisah nyata Philippe Pozzo di Borgo dan pengasuhnya Abdel Sellou—bercerita tentang Kisah persahabatan antara Philippe, seorang tunadaksa kaya yang memiliki rumah mewah, dan asistennya Magalie. Kartun lainnya di halaman belakang majalah mingguan ini menunjukkan Nabi Muhammad tanpa busana dan telanjang dan berpose membelakangi sutradara film.

Bagaimanakah reaksi Pemerintah Prancis dengan edisi-edisi kontroversial yang diterbitkan Charlie Hebdo ini? Pemerintah Prancis sempat meminta agar redaksi tidak meneruskan publikasi tersebut. Namun, permintaan tersebut ditolak. Akibatnya, Prancis terpaksa menutup kantor kedutaan serta sekolah-sekolah di 20 negara akibat khawatir dengan keselamatan warganya di luar negeri.

Berikut ini adalah beberapa sampul majalah Charlie Hebdo yang kontroversial dan menyangkut Islam.



Apakah Charlie Hebdo Anti-Islam?

Pagi ini saya membaca di situs Republika Online terkait kejadian di Prancis ini. Republika Online memilih judul "Kantor Majalah Anti-Islam di Prancis Ditembaki dan Diroket" pada artikel yang dipublikasikan sehari sebelumnya.

Apakah Charlie Hebdo sebuah majalah anti-Islam? Saya pikir semua orang, khususnya media (dan termasuk di dalamnya para jurnalis) harus berhati-hati dalam membuat kesimpulan. Majalah Charlie Hebdo memang dikenal kerap menerbitkan kartun-kartun satir yang oleh umat Islam dianggap sebagai bentuk pelecehan atau serangan. Sejak awal majalah ini terbit pada tahun 1970 memang ditujukan untuk "meledek" selebritas, politisi, bahkan agama—bukan hanya Islam.

Pada tahun 2006, majalah yang namanya terinsipirasi dari tokoh kartun Amerika Charlie Brown ini menjadi target utama kelompok-kelompok Islam radikal setelah mencetak ulang 12 kartun Nabi Muhammad yang sempat diterbitkan harian Denmark, Jyllands-Posten.

Kita harus paham bahwa, pertama, Charlie Hebdo sebuah majalah satir, bukan majalah anti-Islam. Saya pikir ini satu fakta yang harus diluruskan terlebih dahulu. Apa itu satir? Satir adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satir biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Jadi, ketika Charlie Hebdo mengambil posisi sebagai majalah satir, itu berarti sudah menjadi "pekerjaan" mereka untuk berbuat seperti itu.

Mungkin beberapa orang berpikir bahwa semua media yang menjelek-jelekkan Islam apalagi menghina Nabi Muhammad adalah anti-Islam. Belum tentu. Charlie Hebdo juga kerap menghina Kristen. Saya menemukan beberapa sampul majalah Charlie Hebdo yang—seharusnya—jika umat Kristiani melihat sampul-sampul majalah ini dan berpikir layaknya orang Islam yang merasa apa yang dilakukan majalah ini adalah sebuah seruan anti-Islam, mereka akan berpikir bahwa apa yang dilakukan majalah ini juga sudah menyerukan anti-Kristen.




Saya Muslim, tapi menurut saya pribadi sampul-sampul majalah di atas sangatlah tidak pantas dipublikasikan. Namun, lagi-lagi, kita harus ingat Charlie Hebdo terbit di Prancis. Negara tersebut menganut paham kebebasan berekspresi bagi setiap individunya, dan hal tersebut dijamin oleh negara. Hal berikutnya, Prancis adalah negara sekuler.

Data tahun 2007 menyebutkan, sebanyak 58 persen penduduk Prancis beragama Kristen, 31 persen menyatakan tidak beragama, sedangkan Islam hanya berjumlah 4 persen. Jadi, bukankah bisa saja para kartunis majalah ini beragama Kristen? Karena agama Kristen menjadi mayoritas di Prancis, kemungkinan bahwa para kartunis yang menggambarkan karikatur melecehkan Kristen ini juga orang Kristen tentu bisa saja terjadi.

Lalu, apakah masyarakat Kristen melempar bom ke kantor majalah ini saat majalah ini melecehkan agama mereka sendiri? Apakah masyarakat Kristen menembaki orang-orang yang bekerja di majalah ini? Tidak.



Sebagai manusia yang berakal dan memiliki hati nurani, saya percaya masyarakat Kristen di sana yang membaca dan mengetahui satiran-satiran negatif mengenai Kristen juga merasa tersinggung. Namun, dalam sebuah kelas Komunikasi Global saat kuliah dulu, saya ingat, seorang dosen pernah bercerita bahwa yang membedakan antara (mayoritas) komunitas Islam di dunia dengan komunitas Kristen, adalah saat ada sebuah pelecehan dalam media terhadap agama mereka, masyarakat Kristen (yang mayoritas masyarakat Barat) akan berpikir bahwa, pertama, hal itu ofensif, tapi kedua, mereka percaya bahwa apa yang digambarkan atau dilecehkan orang lain tidaklah benar adanya. Mereka percaya bahwa itu adalah bagian dari kebebasan bereskpresi dan beberapa orang di luar sana memang punya "hobi" mencela, mengejek, dan senang menertawai agama. Namun, poinnya adalah, apa yang digambarkan oleh orang-orang yang mengejek Kristen, mereka percaya bahwa hal tersebut tidak benar dan untuk itu tidak perlu dipermasalahkan.

Lain halnya dengan masyarakat Islam. Komunitas Islam (yang mayoritas berada di Timur) memandang bahwa segala penghinaan agama adalah penghinaan dan... titik. Segala bentuk penghinaan dan penodaan agama adalah perbuatan nista dan harus dilawan, dan... titik.

Saya pikir komunitas Islam di seluruh dunia harus mulai bisa memilah-milih mana yang benar-benar dianggap sebagai penghinaan dan mana yang sekadar aktivitas "iseng" untuk memprovokasi. Selain itu, komunitas Islam harus bisa lebih cerdas dalam menyikapi segala bentuk hinaan dan kebencian. Saya tidak mengatakan bahwa saya "biasa" saja terhadap penghinaan terhadap Islam, tapi kita memang harus lebih hati-hati dan cerdas. Ada pihak-pihak tertentu di luar sana yang memang sangat ingin menjatuhkan citra Islam, dan sebetulnya itu perkara mudah karena masyarakat Islam sangat mudah terpancing amarah.

Kembali ke soal karikatur Nabi Muhammad. Di dunia ini, selain mereka yang hidup satu zaman dengan Nabi Muhammad, tidak ada seorang pun yang tahu rupa Nabi Muhammad. Bagi saya pribadi, bijaksanakah kita merasa marah, bahkan hingga berbuat anarkis, terhadap karikatur Nabi yang bahkan itu tidak menggambarkan wajah Nabi karena tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa rupa Nabi Muhammad? Entah tingkat keimanan saya yang masih rendah, tapi menurut saya menanggapi hal-hal semacam itu tidak perlu. Coba Anda perhatikan karikatur Nabi Muhammad yang dipublikasikan Charlie Hebdo di atas, saya pikir karikatur tersebut lebih mirip dengan Osama bin Laden.

Namun, lain soal jika yang terjadi adalah penistaan terhadap kita suci Al Quran atau aksi biadab Israel terhadap warga Muslim di Palestina. Kita memang harus "pasang badan" dan menunjukkan soliditas antarumat Islam bahwa apa yang dilakukan telah menghina agama.

Citra Islam di Dunia Hari Ini

Islamophobia di dunia semakin tumbuh. Jika Anda sempat mengikut berita, sebuah unjuk rasa besar-besaran menentang "Islamisasi Barat" berlangsung di Dresden, Jerman bagian timur, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 10.000 orang pada Desember 2014 lalu. Dresden mejadi tempat kelahiran gerakan yang disebut "Warga Eropa Patriotik terhadap Islamisasi Barat (Pegida)".

Kebencian terhadap Islam terus tumbuh, tak peduli bahwa Islam ini sebenarnya adalah agama yang rahmatan lil alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk sesama manusia.

Memang, di luar sana masih banyak, ratusan ribu, non-Muslim yang percaya bahwa Islamophobia adalah hal konyol. Warga Jerman yang mendukung Islam pun melakukan demonstrasi tandingan untuk menentang aksi demonstrasi anti-Islam di Jerman. Para demonstran di Berlin, Stuttgart, Cologne, dan Dresden mengatakan mereka berdemonstrasi menentang rasisme dan xenophobia, serta mendorong pesan toleransi.

Gerakan hashtag #illridewithyou pascaaksi teror penyanderaan di Kafe Lindt, Sydney, Australia bulan lalu juga menunjukkan bahwa masih ada banyak orang yang peduli dan percaya bahwa Islam tidaklah seburuk citranya di dunia saat ini.

Sebuah eksperimen sosial yang dilakukan di Australia dalam video di bawah ini menunjukkan betapa orang-orang sangat melindungi orang-orang Islam dari berbagai sentimen negatif yang (mungkin) berkembang di tengah masyarakat.



Bahkan setelah kejadian di Paris kemarin, seorang kolumnis The New York Times langsung menulis, jangan terburu-buru menyalahkan Islam.

Namun, sebesar apapun usaha masyarakat non-Muslim dunia untuk meyakinkan seluruh dunia bahwa Islam tidak seperti yang kerap dipikirkan secara negatif oleh masyarakat dunia saat ini, semua itu akan sia-sia jika umat Islam sendiri tidak memiliki kesadaran untuk bersatu menjaga perdamaian dan lebih bijak dalam bersikap. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan atau membunuh. Ada cara-cara yang jauh lebih baik untuk "melawan" segala bentuk penghinaan, dan karena itulah manusia dianugerahi akal pikiran supaya berpikir.

Apa yang terjadi di Paris kemarin sangatlah disayangkan. Saya pribadi sangat menyayangkan kejadian tersebut yang sebetulnya sangat bodoh dan berlandaskan emosi semata.

Di dunia ini memang banyak media "kacangan" dan jurnalis-jurnalis tidak kompeten yang sering kali membuat kita merasa jengkel dan marah. Namun, sebagai orang yang bekerja di dunia media, saya sangat menaruh perhatian pada keamanan jurnalis dan media itu sendiri. Sebenarnya Charlie Hebdo sendiri bukan majalah yang cukup besar. Tirasnya hanya sekitar 30.000 eksemplar tiap pekan dan kini mengharapkan donasi agar majalah ini bisa tetap terbit. Demikian yang saya baca di beberapa media hari ini mengenai Charlie Hebdo.

Pada akhirnya, saya harap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh pihak. Bagi media, khususnya, kebebasan berekspresi memang penting, tapi sebaiknya tidak menyentuh isu-isu yang sensitif, seperti agama, secara kontroversial. Sementara bagi masyarakat pun, khususnya komunitas Islam di seluruh dunia—saya tahu, yang baca ini pastinya hanya orang Indonesia—bisa lebih bijak dalam menyikapi berbagai bentuk kebencian terhadap Islam. Bukankah hater's gonna hate?

Sementara itu....




Updates


Jika mereka (yang melakukan penyerangan) berpikir bahwa serangan akan menghentikan media ini, mereka salah.

Serangan balasan terhadap masjid di Le Mans, Prancis (8/1). Tidak ada korban jiwa, tapi hal ini (sudah) terjadi.

Salah satu polisi yang tewas tertembak dalam serangan di kantor majalah Charlie Hebdo adalah Ahmed Merabet (42), seorang Muslim. Siapa yang sangka di antara polisi yang bertugas adalah seorang Muslim? Mereka (penyerang) tidak akan sampai berpikir kesana.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

28 komentar :

pada masa itu umat Islam akan seperti buih di pantai, banyak tapi tanpa kekuatan

Saya sangat suka dengan tulisan anda. Andai saja semua orang bisa berpikiran terbuka seperti anda, pasti dunia akan menjadi lebih damai.

Artikel yang baik, tapi saya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan terakhir Anda mengenai kebebasan berekspresi. Saya pikir itu akan menarik untuk pembaca Anda jika Anda bisa menulis artikel tentang asal-usul hukum2 ini. Misalnya perpecahan Kristen dalam Gereja Katolik dan Gereja protestant karena Martin Luther. Mengapa orang telah berjuang dan mati berjuang untuk undang-undang ini; melawan lawan tampaknya tak terkalahkan seperti raja dan gereja. Alasan mengapa christian tidak tersinggung dengan sindiran yang memiliki topik christian adalah bahwa tak seorang pun suru memberitahu mereka. Kekuatan gereja dalam masyarakat Barat telah menurun pesat dalam 200 tahun terakhir karena pemisahan gereja dan negara. Gerakan ini lahir terutama untuk menginformasikan orang-orang melawan penindasan agama. Jika Anda membuat agama tabu, ummah tidak akan bergerak maju. Maaf untuk bahasa saya tidak terlalu jelas, saya baru di indonesia.

Halo Oeyster, terima kasih atas komentar Anda dan terima kasih telah berbahasa Indonesia walaupun Anda baru di sini :)

Saya paham maksud Anda, dan terima kasih atas masukannya. Nanti akan coba saya tulis artikel lanjutan soal ini dan terutama soal kebebasan berekspresi.

Namun, memang kalau saya jelaskan itu semua di sini, akan terlalu panjang (artikel ini sebetulnya sudah sangat panjang), dan sebetulnya poin saya di sini adalah bahwa kebebasan berekspresi (apapun bentuknya) tidak boleh dibalas dengan pembunuhan. Ini semakin pelik karena kemudian ada unsur agama dalam tragedi ini, dan itu melibatkan Islam.

Saya suka sama tulisan saudara, saudara sepertinya org yang berpikiran terbuka. Tp melihat kejadian di charlie hebdo, saya mengambil kesimpulan bahwa tidak ada akibat tanpa adanya sebab. Kl tidak mau urusan kita dicampuri maka jangan coba coba untuk mencampuri urusan orang lain, seperti halnya negara negara barat yang selalu dijadikan sasaran terorisme, karena mereka selalu mencampuri urusan bangsa lain. Coba saja kalau saja charlie hebdo tidak mengeluarkan hal hal yang seperti biasa mereka buat, sepertinya kejadian ini tidak ada. Coba saja negara barat tidak mencampuri urusan urusan negara lain sepertinya kedamaian akan tercipta dibumi ini... Kalau tidak ingin terbakar maka janganlah bermain api... Salam damai

Terima kasih Mas Koko.

Saya percaya, membela Rasulullah adalah suatu keharusan, tapi tentunya tidak harus dengan membunuh. Saya pribadi tidak suka dengan apa yang dipublikasikan Charlie, tapi majalah itu memang: 1) majalah satir, kerjaannya memang begitu dari pertama kali terbit, 2) yang dihina pun bukan cuma Islam, melainkan Kristen dan Yahudi, dan 3) mereka terbit di bawah hukum Prancis yang melindungi kebebasan berekspresi setiap individunya.

#JeSuisCharlie karena saya percaya bahwa biar bagaimanapun mereka tidak layak dibunuh. Pernahkah Nabi menganjurkan membunuh orang yang menghinanya sedemikian rupa? Tentunya tidak.

Memang ada orang-orang di luar sana yang ingin menjatuhkan Islam, dan janganlah kita menjatuhkan Islam itu sendiri (secara tidak sadar) dengan mengedepankan emosi semata. Sekarang citra Islam semakin buruk. Beberapa orang mungkin berpikir, "Saya lebih mengharapkan ridho Allah SWT daripada ridho manusia--apalagi dari mereka yang non-Muslim." Saya tidak menyalahkan 100%, tapi ingat bahwa kita hidup berdampingan di dunia ini.

Efek dari kejadian ini sangat besar khususnya bagi komunitas Islam di Eropa. Kemarin sebuah masjid dilempar bom di Le Mans, Prancis. Semoga hal ini tidak berdampak lebih parah lagi.

Ada orang-orang jahat yang tidak punya kerjaan di luar sana yang memang senang mengolok Islam. Lantas, haruskah dibalas kekerasan jika toh (katanya) Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin dan ditujukan bagi mereka yang berpikir?

Saudara Fauzan.... ringkasan tulisan yang sangat baik.. Memang kalau kita membaca, mendengar dan melihat agama kita dihina, dicerca, maka emosi dan darah jadi naik....Tetapi kembali kalau kita sendiri mempelajari dan mengerti Agama kita (maksud saya Islam) maka tentunya tidak perlu pembunuhan tersebut terjadi. Kalau mereka yang kristen tidak melakukan pembunuhan anggap saja mereka melaksanakan keyakinan mereka akan cinta kasih kristus..."Apabila di tampar pipi kanan berikan lah pipi kirimu". Semoga Kita pun dapat melakukan hal yang sama yang selalu diajarkan oleh nabi kita... Apabila ada yang jahat terhadap diri kita maupun agama kita, sebaiknya kita doakan agar mereka sadar dan kembali ke jalan yang benar.... :). Karena saya setiap kali mengikuti kotbah jumatan maupun pengajian selalu di ajarkan untuk selalu mendoakan orangtua, saudara teman dan juga termasuk musuh musuh kita.

Bung Anonim, betul begitu. Memang sangat disayangkan ketika kelompok-kelompok ekstremis-fanatis (yang sebetulnya hanya sedikit ini) biasanya menjadi yang paling lantang baik suara maupun tindakannnya. Mereka (jelas) bukanlah representasi Islam, tapi mereka adalah bagian dari umat Islam. Jadi, ini memang pelik. Mungkin... akan begini terus sampai kiamat nanti... karena kalau udah jadi karakter, susah "mengobatinya".

saya sependapat dgn anda, semua org bisa mengejek, tp kl kita tahu itu tdk benar ya sudah tdk perlu ditanggapi ... imo, soal agama atau klub bola, fanatik itu tdk bagus, krn biasanya ia membuat manusia kehilangan akal sehat

Setuju banget...bnyk orang islam yg gampang terprovokasi termasuk muslim indonesia, mereka hanya memandang tampilan luar nya saja. Dan jg media2 d indonesia yg kurang memahami masalah yg sebenarnya sehingga mnciptakan berita2 yg bs memprovokasi umat islam. Muslim di indonesia gk semudah muslim yg hidup d negara orang, krn indonesia mayoritas muslim, keamanan bs mengancam muslim yg hidup d negara yg muslimnya minoritas.Semoga tulisan ini bs membuka hati mereka...

LAKUM DIINUKUM WALIYADIN, artinya "bagimu agamamu, bagiku agamaku" Islam sangat bertoleransi terhadap umat/agama lain... tp bukan untuk yg mehina agama ISLAM. ;)

orang beragama HARUS fanatik dan IDEALIS, karna agama bukan klub bola, yg bisa pindah semaunya. bwt @anonim.

Biar saya jelaskn pada anda kenapa umat kristen diam
Krna kristen tdak di ajarkan yg namanya blas dendam..
Tp d ajarkan kasih bahkan kasihi lah musuhmu..
Kristen di indonesia selalu dihina greja di larang di bangun kami diam..
Greja di bakar kmi diam..
Biar lah Tuhan yg balas..
Titik..

Sama hal nya dengan islam kristen trbelah karna oknum nya menyalahgunakan agama..
Alkitab hanya mngunakan bahasa yahudi jd hanya orang"greja yg mengerti jd marthin luther menerjemah kan nya dan bleh di trjemahkan smua bahasa agar umat bisa mngerti ajaran agama itu..

Shoza, percayalah bahwa Islam pun tidak mengajarkan balas dendam. Islam adalah agama yang cinta damai. Dan saya percaya bahwa semua agama pun pastinya mengajarkan perdamaian.

Namun, memang banyak orang-orang yang tidak benar-benar membaca dan memahami Al Quran dan sekedar menafsirkan dari "luarnya" saja.

Seperti yang saya katakan dalam komentar sebelumya, Islam adalah agama yang "rahmatan lil alamin", agama yang membawa kesejahteraan bagi seluruh umat di dunia. Tapi, sayangnya ini diinterpretasikan oleh sebagian kecil muslim dengan sempit sebagai "kaum yang seideologi". Yang di luar itu, "they can go to hell". Kelompok yang sedikit ini justru yang biasanya baik suara maupun tindakannnya lantang. Mereka bukanlah representasi Islam, tapi mereka adalah bagian dari umat Islam. Jadi memang rumit.

Ni crayon band km islam ajaran mana sesat ya..ni kita pada membicarakan tentang tidak menyelesaikan masalah tanpa kekerasan..eh lu..kenapa ngak km ke paris sono tembak bapak ibumu saja...karena bunuh manusia sama seperti bunuh ortu itu ajaran agamaku yg di ajarkan orang tuaku untuk saling mengasihi..agama tidak di wahyukan kalo bukan dari orang tua...coba km yatin di asuh orang yahudi...km ngak mungkin jadi Islam...km tu musti berpikir rasional..jgn cuma bela agama jadi orang bodoh..mendingan ortu lo yg dihina yg wajar lu marah

Anggaplah saya benar. Saya menilai ada sebagian orang yang jiwa dan pikirannya sudah terasuki oleh liberalisme. Charlie Hebdo memang majalah pengkritik. Memang agama lain, selebritas, politikus, dsb juga tidak lepas dari hinaannya. Tapi ketika mereka menghina agama lain, dan agama lain diam saja, apakah lantas kita juga harus diam ketika mereka menghina agama kita?

Masa bodoh dengan respon agama lain dalam menghadapi penghinaan. Kita punya aturan sendiri dalam beragama, jangan ikut-ikutan. Mengapa harus menjadikan umat lain untuk acuan dalam bertindak? Apakah pedoman agama kita kurang sempurna?

Otak liberal itu akan berkata seperti ini :
"Biarinlah charlie hebdo ngehina agama kita, toh bukan agama kita aja kok yang dihina. Agama lain dihina juga umatnya diem aja".

*anggaplah saya benar

Saya tidak yakin freedom of speech itu sama dengan kebebasan total. Tentunya, saya suka satir dan parodi, tapi jangan terlalu kotor...

Masalah kebebasan berekspresi itu memang rumit, dan saya berbikir bahwa konsep itu memang dapat berubah sesuai budaya-budaya seputar dunia.

Tapi saya juga berpikir bahwa menyadarkan bahwa kejadian penembakan Charlie Hebdo tidak terjadi di USA, tidak terjadi di Indonesia, tapi terjadi di Prancis.

Kebebasan berekspresi di Prancis adalah salah satu bagian terpenting dari konstitusi dan HAMnya, kebebasan tersebut sangat terkait dengan kebebasan beragama, yang juga merupakan suatu bagian dai konsitusi dan HAM di Prancis.

Yang harus diketahui adalah bahwa kalau memang pers dapat mempublikasikan apa saja, tidak berarti bahwa semua orang harus setuju. Kalau seorang atau suatu kelompok merasa tersinggung, mereka bisa melawan pers memalui debat ataupun secara hukum.

Majalah seperti Charlie Hebdo memang sering fitur isi yang membuat banyak orang tidak nyaman, tapi itu justru dalam rangka mengingat pada rakyat bahwa mereksa selalu bebas untuk tidak setuju dan katakan tidak -pada pers, pada pemerintah, dan pada semua calon teroris.

Also, jangan dipancing oleh argumen-argumen yang mengankut agama. Teroris adalah teroris, apapun labelnya.

@andreansyah dwiwibowo : jadi apakah anda mendukung orang2 yg membunuh org yg menghina agama anda?

Terimakasih mas fauzan ini tulisan yang menurut saya sangat bagus, tapi sayang banyak disini yang komentarnya tidak menggunakan otak mereka. Kepada Andreansyah Dwiwibowo : BUKAN menjadikan agama lain sebagai acuan, tetapi pikirkan kembali memangnya mau islam dicap sebagai agama yang kerap dengan kekerasan karena tindakan penembakan Charlie Hebdo dan maraknya pengeboman yang dilakukan oleh beberapa penganut islam di luar sana ? Mau sampai kapan ? Hal-hal yang dilakukan oleh para teroris tersebut telah merugikan banyak umat muslim yang masih memiliki akal sehat dan akhlak yang baik di luar sana. Anda tahu tidak apabila anda travelling ke beberapa negara di luar dengan menggunakan nama seperti Muhammad atau Ahmad atau nama2 yang berbau islam lainnya, Anda tidak diperkenankan pergi karena dicurigai sebagai anggota teroris ? Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi. Sangat merugikan bukan? Tolong dibuka lagi matanya ini bukan soal menjadikan agama lain sebagai acuan. Anda sangat close-minded. K

Satu lagi buat andreansyah : anda bilang masa bodo dengan agama lain ? yowes lah suka2mu tong. Dengan sikap seperti ini kan yang rugi ya agama islam. Agama yang diem2 aja ga ada masalah kan ? Yang jadi bermasalah yang namanya jelek kan agama kalian. Serah sih mau sampe kapan kaya gini. Sikap fanatik tuh harus dirubah tong.

Dendam tidak akan menyelesaikan semua permasalahkan... Malah akan menimbulkan dendam yang lain.... Rasullullah saw datang untuk semua umat...

Beragam macam jenis agama, tapi ber-Tuhan satu. Seharusnya hal inilah yang jadi pegangan supaya bisa hidup berdampingan dengan yang lainnya. Charlie Hebdo itu backgroundnya memang "Satyr."Atau lebih jelasnya "penyindur." Mereka menyindir bukan hannya tentang agama tetapi tentang politik, selebritis & lain2. Mereka hannya mengeluarkan ekspresinya semata dan tanpa ada tujuan untuk menyinggung yang lainnya. Semuanya itu kembali kepada diri kita sendiri bagaimana menyikapinya... Bijaksanalah..

mungkin contoh peristiwa penghinaan terhadap suatu kepala negara maka akan ditindak bahkan dihukum penjara, apalagi menghina orang yg lebih dihormati dan dicintai krn memberi petunjuk hidup jalan kebenaran, jadikan pelajaran meskipun kebebasan berekspresi tp hrs ada batasan terutama menyangkut hal agama dan keyakinan, masih banyak bahan sindiran/teguran kehidupan agar ada keseimbangan kehidupan

Terhadap kasus penyerangan tersebut, mari sama-sama melihatnya secara obyektif dan akal sehat. Jangan fokus pada penyerangnya tetapi fokuslah pada penyebab terjadinya penyerangan tersebut.
Ibarat kata pepatah.... tak akan ada asap jika tak ada api.
Terkadang, orang merasa terlalu bebas dalam mengekspresikan dirinya sehingga melanggar apa yang harusnya ia hormati dalam batasan-batasan kebebasannya tersebut.
Oleh sebab itu, untuk kasus-kasus tertentu, ada kalanya tindakan yang represif, tegas dan bersifat shock theraphy diperlukan untuk menjadi pembelajaran kedepannya.Hidup itu adalah keseimbangan, ada waktunya kita tegas dan ada waktunya kita berlaku lemah lembut.
Saya tidak berkata bahwa hukuman bunuh merupakan pembenaran untuk kasus tersebut. Tapi kita tidak dapat menghindari fakta bila firqah didalam Islam ini ada banyak sekali pada hari ini.
Diantara mereka ada yang berpaham dan bersikap ekstrim, ada yang pertengahan namun ada pula yang tidak keduanya. Jadi ketika sebuah perbuatan penghinaan yang ditujukan pada Islam, terlebih pada Rasulullah terus dilakukan secara berulang tanpa adanya upaya hukum yang tegas dari pemerintahannya maupun umat Islam lain maka kita tentu tidak dapat menghalangi jika ada yang bersikap tegas dan ekstrim sebagai upaya pemberhentian penghinaan itu sendiri.
Semua kita mengerti bahwa yang namanya gambar karikatur pasti berbeda dengan gambar yang menjadi subjet nya terlepas bahwa kita tidak mengenal wajah Rasulullah. Tapi dengan bentuk serta pesan yang tertera pada karikatur, itu ditujukan kepada siapa.
Sangat naïf rasanya bila ada orang yang menghina orang tua kita dengan karikatur, lalu orang lain bilang, “tidak perlu marah, kan gambar wajahnya tidak sama dengan wajah orang tuamu”.
Bila ada maling masuk kerumah, kemudian pemilik rumah bilang, “oh…tidak apa-apa, silahkan masuk, kapan-kapan datang lagi ya”, itu adalah hak si pemilik rumah yang memang dia setuju rumahnya dimasuki maling.
Bila maling tersebut masuk rumah kita, kemudian kita gebukin sampai mampus, lalu ada yang bilang “kenapa harus digebuki, itu maling masuk rumah sebelah, yang punya rumah malah senang”, ini kan komentar yang tidak rasionil.
Oleh sebab itu saya mengatakan bila tidak bijak hanya melihat dari sudut pandang akibat saja, lihatlah lebih jauh kenapa akibat itu timbul. Carilah akar permasalahannya ada dimana lalu selesaikan disitu.

Tidak ada korban jiwa jika saja Tidak ada penghinaan terhada Nabi Muhammad. SAW.

Binatang saja jika diusik pasti akan marah, apalagi manusia.
Jika keluarga saya dilecehkan saya yg masih manusia dan berakal normal pasti akan marah, apalagi Agama saya yg dilecehkan.
Jangan lemah terhadap setiap pelecehan, jika kita lemah dan tidak tegas maka akan muncul pelecehan berikutnya.

Kemulian Islam tidak akan berkurang dengan adanya ISLAMFOBIA dan ORANG2 EROPA YANG BENCI ISLAM. Masalah Hidayah urusan Allah biarlah Allah yg bekerja.

Kebebasan ber ekspresi sudah sangat jelas lebih banyak Mudharatynya daripada manfaatnya.

Hanya orang2 bodoh dan sombong jika sudah mengetahui suatu hal atau perbuatan akan mendatangkan bahaya tapi tetap dilakukan.

Korban majalah Charlie Hebdo hanya sekumpulan orang2 pintar yang sombong tapi tidak CERDAS.


Poskan Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.