Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

23 Februari 2015

PNS dan Idealisme Abdi Negara

"Nak, kamu kenapa enggak coba ikut PNS? Kan jadi PNS itu enak, Nak. Bagus pekerjaannya."
Kira-kira begitulah sepenggal kata-kata bijak yang kerap dinasihatkan oleh beberapa orang guru saya ketika saya bertemu mereka kembali, dan ya... sebetulnya juga sering ditanyakan oleh beberapa orang di dalam keluarga besar tiap kali kami berkumpul. Saya pikir, teman-teman saya yang bekerja di sektor swasta pasti juga kerap mendapatkan pertanyaan, atau mungkin lebih tepatnya sebagai nasihat, seperti di atas. Atau mungkin Anda juga pernah menerima petuah serupa dari orangtua Anda? Ya, Anda tidak sendiri.

Kali ini, saya tergugah untuk membahas satu topik yang sebetulnya sudah cukup lama berputar-putar di otak saya, yaitu soal pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Apalagi, kalau sudah ada yang bertanya seperti yang saya contohkan di atas, pasti saya langsung bertanya (dalam hati): kenapa harus jadi PNS?

Sebetulnya, saya pernah coba memperdebatkan hal ini, tentunya di tengah orang-orang yang telah mengabdi sebagai PNS selama puluhan tahun, dan rasa-rasanya memang topik ini adalah salah satu yang cukup sulit diperdebatkan.

Bicara soal pekerjaan di Indonesia, saya pikir, kita bisa membagi jenis pekerjaan mainstream di Indonesia ke dalam dua kategori, yaitu PNS dan non-PNS. Ini sangat mudah. Profesi apapun di luar PNS, disebut non-PNS, apapun itu pekerjaannya. Ini lebih kurang mirip dengan penyebutan istilah nonmuslim bagi penganut agama di luar Islamini akan saya bahas di lain kesempatan.

Kenapa Mau Jadi PNS?

Kenapa hingga kini PNS menjadi salah satu pekerjaan yang sangat "diperebutkan" orang-orang? Padahal, saya cukup yakin, ketika kecil dulu, tidak ada yang bercita-cita menjadi PNS. Kita semua biasanya memimpikan untuk menjadi dokter, arsitek, presiden, atau bahkan astronot. Saking diperebutkannya, tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pun sama "hebohnya" (dan juga sama mendebarkannya) dengan tes ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Banyak yang tidak lulus tes CPNS pun menjadi galau, sama halnya seperti siswa-siswi SMA yang tidak lulus tes PTN.

Saya pikir, ini memang soal mental sebagian besar masyarakat kita. Harus diakui, memang, menjadi PNS memiliki banyak keuntungan, apalagi kalau kita bicara soal "masa tua". Tentunya, hal ini wajar karena PNS memang pada hakikatnya adalah "abdi negara". Oleh karena itu, memang sudah sepatutnya negara memperhatikan kesejahteraan orang-orang yang telah mengabdi dan bekerja untuk negera.

Namun, hal ini (benefit di hari tua)saya pikirkemudian menjadi semacam motivasi utama bagi sebagian besar peserta CPNS dan juga menjadi salah satu poin utama alasan sebagian besar orangtua kita ingin anaknya menjadi PNS.

Saya akui, pekerjaan saya saat ini, meskipun sangat menyenangkan, sangat fleksibel, tapi di satu sisi sangatlah riskan. Ini juga sama halnya dengan mereka yang bekerja di sektor swasta lainnya. Tidak ada "jaminan" bahwa masa depan (hari tua) kita akan cerah, bebas dari pikiran-pikiran bagaimana cara "melanjutkan" hidup pascapensiun (misalnya).

Ya, begitulah memang salah satu "risiko" yang harus dihadapi orang-orang yang bekerja di sektor swasta. Namun, bagi beberapa orang yang menaruh fokus terhadap hidupnya di masa depan nanti, mereka biasanya akan berpikir keras untuk membuat hidup di masa depan mereka nanti cukup nyaman.

Karena faktor "kurang aman" di sektor swasta inilah, menurut saya, yang menjadi salah satu motivasi yang (sebetulnya) kurang baik bagi kebanyakan orang yang ingin (atau diharapkan) menjadi CPNS. Orang-orang mau jadi PNS karena faktor materi dan jaminan hari tua, bukan karena kecintaan atau keinginan untuk mengabdi pada negara.

Harus Ubah Sudut Pandang

Mungkin sebagian besar orang akan menganggap bahwa motivasi menjadi PNS karena kecintaan dan sebagai bentuk pengabdian terhadap negara adalah hal yang klise. Namun, menurut saya, memang begitulah seharusnya. Menjadi PNS haruslah dilandasi dengan perasaan cinta terhadap bangsa dan negara. Hal-hal di luar itu, seperti keuntungan materi, akan secara otomatis "mengikuti" setelah menjadi PNS. Masalahnya, saya cukup yakin bahwa sebagian besar motivasi orang-orang yang ingin menjadi PNS adalah karena ingin mendapatkan keuntungan material.

Tidak ada yang menyalahkan Anda jika Anda ingin kaya dan hidup sejahtera. Semua orang pasti ingin hidup mapan, layak, bahkan kalau bisa berlebih. Namun, saya pikir, untuk profesi PNS, motivasi ini seharusnya dinomorsekiankan, bukan jadi yang pertama.

Saya sama sekali tidak bermaksud untuk memandang sebelah mata profesi PNS. Tidak, pada dasarnya, selama pekerjaan itu baik dan dilakukan dengan baik, maka semuanya pun baik. Namun, seandainya masyarakat kita lebih memiliki idealisme dalam hidupnya, termasuk soal pekerjaan, saya pikir bangsa ini akan jadi lebih baik.

Sekarang, coba bayangkan, apa jadinya kalau semua PNS yang bekerja di seluruh Indonesia memang benar-benar orang-orang yang ingin mengabdikan dirinya untuk negara? Saya berani jamin, tidak ada lagi stereotipe negatif mengenai PNS, tidak akan ada lagi cemoohan-cemoohan publik mengenai PNS, tidak akan ada lagi asumsi-asumsi PNS gabut (gaji buta, alias tidak bekerja) atau cenderung tidak tepat waktu dan kurang disiplin. Bukankah memang stereotipe negatif semacam itu sudah melekat pada profesi PNS?

Saya yakin bahwa ada banyak PNS baik yang bekerja secara profesional di luar sana, tapi stereotipe yang terlajur melekat pada PNS ini terlalu sulit diubah selama motivasi untuk menjadi PNS tidak dilandasi untuk mengabdi pada negara.

Mungkin, jika Anda seumuran saya dan pernah (atau mungkin sedang) menghadapi "tekanan" orang-orang di sekitar, khususnya keluarga, untuk menjadi PNS, percayalah bahwa mereka sebetulnya cukup peduli dengan kelangsungan hidup Anda di masa depan. Mereka menginginkan yang terbaik buat Anda, dan itu bagus. Namun, saya harap, jika pada akhirnya Anda memutuskan untuk memilih profesi ini, setidaknya tumbuhkanlah rasa pengabdian terhadap negara sebagai motivasi yang paling besar untuk menjadi PNS.

Namun, jika Anda memang tidak suka dan merasa PNS bukanlah jalan hidup Anda, kenapa harus repot? Bukankah hidup itu memang penuh misteri dan tantangan? Yakinkanlah orang-orang terdekat Anda bahwa PNS bukan sesuatu yang "gue banget" bagi diri Anda, dan itu tidak masalah. Saya pun begitu. Saya tidak bisa membayangkan diri saya puluhan tahun menjalani pekerjaan yang sama. Saya suka melakukan hal-hal baru, mencoba hal-hal baru, sesuatu yang mungkin hanya bisa dilakukan sekali dalam seumur hidup. Jelas, semua pasti ada risiko. Namun, selama kita yakin, kenapa harus khawatir?

Idealisme PNS

Pada akhirnya, PNS adalah suatu profesi yang perlu tanggung jawab dan idealisme bagi seluruh pegawainya. Seluruh masyarakat Indonesia pasti berharap para abdi negara ini adalah orang-orang yang betul-betul mendedikasikan dirinya pada negara.

Bagi saya pribadi, saya paham betul segala keuntungan menjadi PNS, dan saya sudah mempertimbangkan itu semua. Namun, saya merasa bukan tipe orang yang siap seratus persen menjadi "abdi negara". Ada banyak cara bagi saya untuk menunjukkan loyalitas dan kecintaan saya terhadap negara. Saya takut, jika menjadi PNS, hati saya tidak benar-benar loyal mengabdi pada negara. Ini mungkin terkesan suatu hal yang remeh atau sepele, tapi bagi saya ini adalah suatu hal yang esensial. Jadi, saya pikir, saya lebih senang berkontribusi untuk negara di bidang profesi lain.

Saya percaya, PNS haruslah menjadi contoh bagaimana rasa nasionalisme diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sebetulnyabagi sayamenjadi PNS tidaklah mudah. Menjadi PNS itu bukan sekedar "yang enak-enaknya" saja, tapi lebih dari itu PNS harus menjadi contoh konkret bagi masyarakat Indonesia. Saya yakin, kalau saja seluruh PNS di negeri ini memiliki pandangan yang sama, dampaknya terhadap perkembangan negara ini sangatlah besar.

Jadilah PNS yang menjunjung harkat, derajat, dan martabat bangsa ini. Jadilah PNS yang bisa menjadi cermin kepribadian bangsa. Jadilah PNS yang menomorsatukan urusan negara. Bukankah memang begitu seharusnya PNS? Saya harap, suatu saat nanti negara kita memang memiliki abdi-abdi negara yang secara konkret bekerja karena dasar kecintaan terhadap negerinya.

Ya, saya tidak tahu kapan hal itu bisa terwujud. Entahlah, mungkin kalau suatu hari saya jadi presiden, pastinya soal PNS ini akan menjadi salah satu fokus saya untuk membenahi negara. Semoga saya tidak jadi presiden.

   Add Friend

16 Februari 2015

Jadi, Kapan (Nikah)?

Pagi ini saya kembali mendapat kabar gembira, yaitu kabar rencana pernikahan seorang sahabat, yang akan dilangsungkan bulan Maret mendatang. Ah, satu lagi yang akan segera melepas masa lajangnya dan membangun keluarga. Begitu kira-kira yang saya pikirkan saat membaca undangan elektronik yang saya terima di ponsel.

Waktu memang berjalan sangat cepat. Ya, tak terasa, kini saya sedang berada di masa yang... well, bisa saya katakan, saya selalu mendapatkan (minimal) satu buah undangan pernikahan di setiap bulan. Kalaupun tidak ada undangan dalam satu bulan, minimal saya akan lihat ada foto pernikahan yang masuk di feed Facebook saya.

Memang, sebagian besar yang sudah lebih dulu menikah adalah teman-teman saya yang perempuantermasuk sahabat saya yang mengabarkan rencana pernikahannya pagi ini. Sementara yang pria, baru sedikit, tapi saya rasa akan mulai bertambah banyak dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Beberapa teman saya yang sudah menikah beberapa tahun lalu, kini sudah punya anak. Ya, jadi di feed Facebook saya, terkadang yang muncul bukan hanya foto-foto pernikahan, tetapi juga... foto anak-anak teman saya yang kira-kira berusia antara nol sampai dua tahun. Beberapa orang senior (kira-kira tiga tahun lebih tua dari saya), bahkan sudah memilik dua orang anak.

Semua "fenomena" ini tentunya membuat saya cukup berpikirmungkin saya memang terlalu banyak berpikir. Pertama, saya berpikir bahwa memang sekarang pernikahan di usia muda kembali menjadi tren. Beberapa teman saya yang telah menikah beberapa tahun lalu, mereka menikah di usia 21-23 tahun. Menurut saya, usia ini jelas masih sangat muda. Namun demikian, saya jelas sangat mengapresiasi keputusan teman-teman saya yang sangat berani ini untuk membina rumah tangga di usia muda. Jadi, ada perasaan antara "salut" dan "wow". Entahlah, tapi mungkin Anda paham maksud saya.

Kedua, semua undangan pernikahan ini jelas membuat saya berpikir: sudah berapa usia saya? Apakah di usia saya ini memang sudah "pantas" untuk membangun rumah tangga? Saya merasa agak takut untuk membayangkannya. Oke, saya berusaha seobjektif mungkin dalam hal ini. Kalaupun saat ini saya berada dalam posisi yang sedang memiliki pasangan (bahasa Inggris: in a relationship), saya bahkan sangat tidak yakin akan melangkah ke jenjang pernikahan dalam waktu satu sampai dua tahun ke depan.

Dulu, saya memang pernah berpikir, "Lucu kali ya, kalau udah bisa berkeluarga pas umur 25." Itu dulu. Sekarang, seiring berjalannya waktu, menurut sayabagi diri sayaitu gila. Kenapa gila? Ya... ketika saya menikah di usia 25 tahun (yang artinya tinggal beberapa bulan lagi sebelum saya akhirnya resmi menginjak usia seperempat abad) apa yang saya punya? Dalam arti, saya punya "modal" apa? Saya pikir "modal" cinta saja tidak akan cukup.

Well, tentunya setiap orang punya pendapat masing-masing. Saya paham bahwa di satu sisi, menikah itu berpahala, itu sesuatu yang bagus, menghindari zina, dan bla, bla, bla. Saya paham, dan toh saya tidak pernah kontra dengan teman-teman saya telah lebih dulu melangkah ke pelaminan. Saya justru ikut senang. Namun kemudian, yang menjadi masalah adalah ketika masyarakat seakan-akan terus memberikan tekanan untuk segera menikah dengan bertanya, "Jadi, kapan (nikah)?"

Beda Timur dan Barat

Sejujurnya, saya mulai lelah dengan tipe pertanyaan seperti ini, bahkan kalau saya memiliki pasangan pun, saya tidak merasa bahwa orang-orang seharusnya perlu menunjukkan "kepedulian" mereka dengan bertanya seperti itu. Atau, mungkin itu sekedar basa-basi, tapi seharusnya orang-orang bisa lebih "kreatif" daripada sekedar bertanya, "Jadi, kapan (nikah)?"

Memang, ini bukan sesuatu yang perlu "diambil hati". Santai saja. Namun demikian, ini memang mengindikasikan bahwa masyarakat kita kepo alias selalu ingin tahu. Bukan, itu bukan bentuk kepedulian. Peduli adalah ketika bertanya dengan penuh simpati, tapi kalau kepo adalah bentuk "kepedulian" yang diiringi dengan canda-tawa dan diulang berkali-kali setiap pertemuan.

Beberapa kali saya membicarakan masalah ini dengan teman-teman saya di luar negerisebut saja mereka yang tinggal di Eropa. Mereka justru berpikir sebaliknya, dalam arti, mereka selalu menekankan: menikahlah ketika kamu memang ingin, bukan karena kamu harus melakukannya.

Di sini, saya melihat memang ada perbedaan pola pikir antara masyarakat Barat dan Timur (khususnya Indonesia). Selama ini, kita mungkin punya stereotipe negatif mengenai masyarakat Barat yang, ya... mungkin kurang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang serius karena maraknya gaya hubungan tanpa ikatan pernikahan, tapi seolah-olah seperti menikah (ya, maksudnya seperti tinggal serumah dan tidur di satu kamar yang sama). Ini mungkin sesuatu yang tidak bisa dipungkiri karena ini sudah menjadi budaya di sana, tapi itu juga bukan berarti masyarakat di Barat tidak menghargai pernikahan. Justru, masyarakat Barat sangat rasional dalam memutuskan untuk menikah. Mereka benar-benar memikirkan pernikahan sebagai sesuatu yang sakral, dan oleh karena itu untuk memutuskannya tidak bisa terburu-buru di usia muda. Memang, ini bukan berarti semua masyarakat Barat berpikir seperti ini, tapi setidaknya, sebagian besar berpikir demikian.

Hal lainnya adalah, masyarakat Barat "tidak menekan" anggota masyarakatnya jika ada yang (sebenarnya) sudah memasuki usia yang wajar untuk menikah, tetapi belum menikah. Itu karena mereka memang menghargai privasi orang lain. Sebetulnya, urusan pernikahan adalah urusan yang masuk dalam ranah privat atau personal. Saya pikir, ini sesuatu yang sebetulnya kurang pantas untuk ditanyakan (apalagi berulang kali) pada seseorang. Karena itu, saya pribadi pun berusaha untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan kepo mengenai rencana pernikahan (pada siapapun) meskipun sebetulnya ini cukup sulit karena saya tinggal di tengah lingkungan yang menganggap ini sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Mulai Ubah Kebiasaan

Pada akhirnya, saya pikir kita harus mulai mengubah kebiasaan super kepo, seperti menanyakan rencana pernikahan seseorang. Mungkin ini terkesan sepele atau hal yang remeh, tapi menurut saya, karena hal semacam ini sudah cukup mengakar dalam pribadi masyakarat kita, ini pun menjadi cerminan pribadi orang Indonesia (secara umum) yang memang gemar mengetahui urusan orang laintidak heran infotainment sudah tayang sejak pukul 06.00 pagi.

Saya turut senang kepada teman-teman saya yang akan melangsungkan pernikahannya tahun ini. Saya percaya bahwa menikah memang salah satu keputusan terbesar dan paling penting dalam hidup manusia, dan karena itu, saya sangat salut pada teman-teman saya yang sudah siap untuk berumah tangga, bahkan yang sudah membina rumah tangga selama dua sampai tiga tahun ini.

Namun, mari kita sama-sama (mulai) menghargai privasi orang lain dengan tidak terlalu kepo menanyakan "kapan" setiap kali kita bertemu. Mungkin beberapa orang juga cukup lelah menghadapi pertanyaan "kapan" ini, dan kenapa kita tidak berusaha menghormati dan biarlah waktu yang pada akhirnya akan menjawab dan memberi kita kejutan.

Marilah saling menghargai, apapun keputusan seseorang tentang pernikahan. Bagi saya pribadi, saya merasa saat ini saya sedang dalam masa-masa yang masih senang menjalani hidup saya sendiri. Tentunya ini bukan berarti saya tidak mau menikah, tapi itu masih berada di urutan ke sekian dalam daftar yang pada akhirnya akan saya lakukan dalam hidup saya. Untuk sekarang ini, masih banyak hal (yang saya pikir cukup hebat) yang harus saya lakukan sebelum dan juga demi mempersiapkan masa depan kelak. Dan, bagi teman-teman yang mungkin merasa "insecure" dengan segala undangan pernikahan yang diterima, tidak perlu merasa begitu. Jalani saja, dan suatu saat akan tiba saatnya untuk memutuskan.

Untuk seorang sahabat yang selalu satu sekolah sejak kelas V SD hingga di kampus (untungnya tidak pernah sekelas selama di SMA dan tidak satu fakultas di universitas), semoga lancar segala urusan menuju hari pernikahansudah saya tandai "tanggal mainnya" di kalender. Semoga bahagia selalu dan kelak menjadi keluarga yang selalu dirahmati dan berada pada lindungan Allah SWT. Amin.

04 Februari 2015

Ditekan Saudi dengan Harga Minyak, Rusia Tak Gentar Dukung Presiden Suriah

Harian The New York Times, Selasa (3/2), memberitakan Arab Saudi tengah memanfaatkan kondisi perekonomian Rusia yang terguncang akibat anjloknya harga minyak dunia. Arab Saudi, sebagaimana yang ditulis harian ini, berusaha menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan dukungannya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Tak gentar menghadapi tekanan tersebut, Putin telah berkali-kali menunjukan bahwa ia lebih baik bertahan di tengah kesulitan ekonomi dibanding mengubah kebijakannya karena tekanan dari luar. Sanksi yang diberikan oleh AS dan Eropa Barat tidak membuat Moskow menghentikan keterlibatan militernya di Ukraina, dan Putin pun tetap kukuh mendukung Assad, yang dianggap sebagai tembok kokoh di wilayah yang tengah digerogoti oleh para ekstremis Islam.

Sebagai salah satu pendukung tergigih Presiden Bashar al-Assad, Rusia telah menjual berbagai peralatan militer pada pemerintah Suriah selama bertahun-tahun. Peralatan militer ini digunakan Assad untuk mempersenjatai tentaranya dalam melawan kelompok pemberontak, termasuk gerakan ekstremis ISIS. Selain itu, Rusia juga memasok berbagai hal yang dibutuhkan Suriah dalam pertempuran tersebut, mulai dari suku cadang mesin, bahan bakar khusus, pelatihan bagi para penembak, hingga perawatan helikopter.

Kuasa Arab Saudi Atas Minyak Dunia

Arab Saudi, sebagai pemain utama dalam OPEC yang menguasai seperlima cadangan minyak dunia, memiliki pengaruh besar dalam mengontrol harga dan jumlah produksi minyak dunia. Penolakan Saudi untuk mendukung pemulihan harga minyak dunia menimbulkan banyak teori terkait agenda keluarga kerajaan Saudi, dan pemerintah Saudi telah memberi isyarat bahwa negaranya senang membiarkan harga minyak terus merosot tajam, untuk ‘menghukum’ negara penghasil minyak lain yang menggunakan teknik shale-fracking yang lebih mahal dan canggih.

Menurut keterangan pihak Saudi dan AS, Arab Saudi dan Rusia telah beberapa kali berdiskusi dalam beberapa bulan terakhir, namun semua diskusi tersebut belum menghasilkan terobosan yang signifikan. Tidak jelas bagaimana pemerintah Saudi menghubungkan minyak dengan isu di Suriah dalam diskusi tersebut, namun pemerintah Saudi menyatakan—dan mereka menyampaikan hal ini pada AS—bahwa mereka merasa memiliki pengaruh atas Putin karena mereka bisa saja mengurangi jumlah pasokan minyak, yang akan membuat harga minyak kembali merangkak naik.

Dalam pertemuan di Moskow November 2014 lalu antara Arab Saudi dan Rusia yang mempertemukan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Lavrov dengan tegas menolak gagasan bahwa harga minyak boleh digunakan untuk memengaruhi kebijakan politik internasional. Menurut Lavrov, kondisi pasar minyak harus didasari oleh keseimbangan permintaan dan penawaran, dan harga minyak tak boleh digunakan untuk mempengaruhi tujuan politik dan geopolitik tertentu.

Namun demikian, Pemerintah Saudi percaya bahwa mereka bisa mendapatkan keuntungan diplomatik dengan membiarkan harga minyak tetap rendah, termasuk kesempatan untuk menjatuhkan Assad. Arab Saudi sempat menyatakan bahwa harga minyak dunia saat ini hanya merefleksikan jumlah permintaan dan penawaran, dan mereka menegaskan bahwa Arab Saudi tak akan membiarkan isu geopolitik menyetir agenda ekonomi mereka. Jika karena tekanan ini membuat dukungan Rusia terhadap Assad melemah, ini menjadi pertanda bahwa kekacauan di pasar minyak memiliki dampak terhadap pengambilan langkah kebijakan global.

Saat ini Rusia sedang menghadapi krisis ekonomi dan isolasi diplomatik akibat sanksi internasional terkait konflik di Ukraina. Meski demikian, Putin tetap ingin dilihat sebagai pemain penting dalam isu di Timur Tengah. Minggu lalu, Rusia menyelenggarakan dialog antara pemerintah Assad dan perwakilan sebagian kelompok oposisi Suriah di Moskow. Meskipun beberapa analis menilai pembicaraan tersebut tak akan terlalu berarti—apalagi beberapa kelompok oposisi memboikot pertemuan itu—ini membuat beberapa ahli merasa skeptis Putin akan menerima tawaran yang untuk mencabut dukungan terhadap Assad.

Sejumlah negara Arab telah mencoba mendorong Saudi dan Rusia—dua kutub yang berlawanan dalam isu Suriah—untuk berdialog dan mencapai kesepakatan demi menghentikan perang sipil di Suriah yang kini telah berlangsung hampir empat tahun.
Namun, seperti yang disebutkan oleh salah seorang diplomat Arab, “Keputusan itu seluruhnya ada di tangan Putin.”

Moskow Menyangkal

Sebelumnya, Saudi telah beberapa kali menawarkan bantuan ekonomi terhadap Rusia dengan imbalan diizinkan terlibat dalam isu regional, termasuk Suriah. Namun demikian, tidak jelas apa dampak diskusi tersebut—jika benar mereka pernah berdiskusi.

Menanggapi pemberitaan mengenai adanya negosiasi antara Rusia dan Arab Saudi untuk mengurangi jumlah produksi minyak Saudi, dengan imbalan Moskow mencabut dukungan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad,  Ketua Komisi Hubungan Internasional di Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) Alexey Pushkov menyangkal isu tersebut, sebagaimana yang ia tulis di akun Twitter-nya, Rabu (4/2).
Sebenarnya, jatuhnya harga minyak juga berdampak terhadap perekonomian Arab Saudi. Namun jumlah cadangan minyak negara tersebut—ditambah akumulasi kekayaan yang mereka miliki, membuat Saudi bisa duduk lebih nyaman dibanding negara penghasil minyak lain. Kerajaan Saudi memiliki cadangan dana sekitar 733 miliar dolar AS yang diinvestasikan pada aset berisiko rendah di luar negeri, dan mereka bisa bertahan dalam kondisi defisit selama beberapa tahun, tanpa kesulitan berarti. Sementara, Rusia tidak memiliki kemewahan semacam itu, begitu pula produsen shale-fracking oil di Amerika Utara. Jika diibaratkan, ini seperti perbedaan antara seseorang yang memiliki tabungan satu juta dolar di rekeningnya dan seseorang yang hidup hanya dengan mengandalkan gaji bulanan.

Pada akhirnya, langkah Arab Saudi akan bergantung pada seberapa serius Moskow melihat dampak penurunan penghasilan minyak mereka. F. Gregory Gause III, seorang pengamat Timur Tengah di Texas A&M’s Bush School of Government and Public Service, menyatakan bahwa jika Rusia benar-benar menderita dan membutuhkan perubahan harga minyak dengan segera, Saudi siap membantu. Tentunya, dengan imbalan Rusia melakukan langkah yang mereka inginkan.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>