04 Februari 2015

Ditekan Saudi dengan Harga Minyak, Rusia Tak Gentar Dukung Presiden Suriah

Harian The New York Times, Selasa (3/2), memberitakan Arab Saudi tengah memanfaatkan kondisi perekonomian Rusia yang terguncang akibat anjloknya harga minyak dunia. Arab Saudi, sebagaimana yang ditulis harian ini, berusaha menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan dukungannya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Tak gentar menghadapi tekanan tersebut, Putin telah berkali-kali menunjukan bahwa ia lebih baik bertahan di tengah kesulitan ekonomi dibanding mengubah kebijakannya karena tekanan dari luar. Sanksi yang diberikan oleh AS dan Eropa Barat tidak membuat Moskow menghentikan keterlibatan militernya di Ukraina, dan Putin pun tetap kukuh mendukung Assad, yang dianggap sebagai tembok kokoh di wilayah yang tengah digerogoti oleh para ekstremis Islam.

Sebagai salah satu pendukung tergigih Presiden Bashar al-Assad, Rusia telah menjual berbagai peralatan militer pada pemerintah Suriah selama bertahun-tahun. Peralatan militer ini digunakan Assad untuk mempersenjatai tentaranya dalam melawan kelompok pemberontak, termasuk gerakan ekstremis ISIS. Selain itu, Rusia juga memasok berbagai hal yang dibutuhkan Suriah dalam pertempuran tersebut, mulai dari suku cadang mesin, bahan bakar khusus, pelatihan bagi para penembak, hingga perawatan helikopter.

Kuasa Arab Saudi Atas Minyak Dunia

Arab Saudi, sebagai pemain utama dalam OPEC yang menguasai seperlima cadangan minyak dunia, memiliki pengaruh besar dalam mengontrol harga dan jumlah produksi minyak dunia. Penolakan Saudi untuk mendukung pemulihan harga minyak dunia menimbulkan banyak teori terkait agenda keluarga kerajaan Saudi, dan pemerintah Saudi telah memberi isyarat bahwa negaranya senang membiarkan harga minyak terus merosot tajam, untuk ‘menghukum’ negara penghasil minyak lain yang menggunakan teknik shale-fracking yang lebih mahal dan canggih.

Menurut keterangan pihak Saudi dan AS, Arab Saudi dan Rusia telah beberapa kali berdiskusi dalam beberapa bulan terakhir, namun semua diskusi tersebut belum menghasilkan terobosan yang signifikan. Tidak jelas bagaimana pemerintah Saudi menghubungkan minyak dengan isu di Suriah dalam diskusi tersebut, namun pemerintah Saudi menyatakan—dan mereka menyampaikan hal ini pada AS—bahwa mereka merasa memiliki pengaruh atas Putin karena mereka bisa saja mengurangi jumlah pasokan minyak, yang akan membuat harga minyak kembali merangkak naik.

Dalam pertemuan di Moskow November 2014 lalu antara Arab Saudi dan Rusia yang mempertemukan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Lavrov dengan tegas menolak gagasan bahwa harga minyak boleh digunakan untuk memengaruhi kebijakan politik internasional. Menurut Lavrov, kondisi pasar minyak harus didasari oleh keseimbangan permintaan dan penawaran, dan harga minyak tak boleh digunakan untuk mempengaruhi tujuan politik dan geopolitik tertentu.

Namun demikian, Pemerintah Saudi percaya bahwa mereka bisa mendapatkan keuntungan diplomatik dengan membiarkan harga minyak tetap rendah, termasuk kesempatan untuk menjatuhkan Assad. Arab Saudi sempat menyatakan bahwa harga minyak dunia saat ini hanya merefleksikan jumlah permintaan dan penawaran, dan mereka menegaskan bahwa Arab Saudi tak akan membiarkan isu geopolitik menyetir agenda ekonomi mereka. Jika karena tekanan ini membuat dukungan Rusia terhadap Assad melemah, ini menjadi pertanda bahwa kekacauan di pasar minyak memiliki dampak terhadap pengambilan langkah kebijakan global.

Saat ini Rusia sedang menghadapi krisis ekonomi dan isolasi diplomatik akibat sanksi internasional terkait konflik di Ukraina. Meski demikian, Putin tetap ingin dilihat sebagai pemain penting dalam isu di Timur Tengah. Minggu lalu, Rusia menyelenggarakan dialog antara pemerintah Assad dan perwakilan sebagian kelompok oposisi Suriah di Moskow. Meskipun beberapa analis menilai pembicaraan tersebut tak akan terlalu berarti—apalagi beberapa kelompok oposisi memboikot pertemuan itu—ini membuat beberapa ahli merasa skeptis Putin akan menerima tawaran yang untuk mencabut dukungan terhadap Assad.

Sejumlah negara Arab telah mencoba mendorong Saudi dan Rusia—dua kutub yang berlawanan dalam isu Suriah—untuk berdialog dan mencapai kesepakatan demi menghentikan perang sipil di Suriah yang kini telah berlangsung hampir empat tahun.
Namun, seperti yang disebutkan oleh salah seorang diplomat Arab, “Keputusan itu seluruhnya ada di tangan Putin.”

Moskow Menyangkal

Sebelumnya, Saudi telah beberapa kali menawarkan bantuan ekonomi terhadap Rusia dengan imbalan diizinkan terlibat dalam isu regional, termasuk Suriah. Namun demikian, tidak jelas apa dampak diskusi tersebut—jika benar mereka pernah berdiskusi.

Menanggapi pemberitaan mengenai adanya negosiasi antara Rusia dan Arab Saudi untuk mengurangi jumlah produksi minyak Saudi, dengan imbalan Moskow mencabut dukungan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad,  Ketua Komisi Hubungan Internasional di Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) Alexey Pushkov menyangkal isu tersebut, sebagaimana yang ia tulis di akun Twitter-nya, Rabu (4/2).
Sebenarnya, jatuhnya harga minyak juga berdampak terhadap perekonomian Arab Saudi. Namun jumlah cadangan minyak negara tersebut—ditambah akumulasi kekayaan yang mereka miliki, membuat Saudi bisa duduk lebih nyaman dibanding negara penghasil minyak lain. Kerajaan Saudi memiliki cadangan dana sekitar 733 miliar dolar AS yang diinvestasikan pada aset berisiko rendah di luar negeri, dan mereka bisa bertahan dalam kondisi defisit selama beberapa tahun, tanpa kesulitan berarti. Sementara, Rusia tidak memiliki kemewahan semacam itu, begitu pula produsen shale-fracking oil di Amerika Utara. Jika diibaratkan, ini seperti perbedaan antara seseorang yang memiliki tabungan satu juta dolar di rekeningnya dan seseorang yang hidup hanya dengan mengandalkan gaji bulanan.

Pada akhirnya, langkah Arab Saudi akan bergantung pada seberapa serius Moskow melihat dampak penurunan penghasilan minyak mereka. F. Gregory Gause III, seorang pengamat Timur Tengah di Texas A&M’s Bush School of Government and Public Service, menyatakan bahwa jika Rusia benar-benar menderita dan membutuhkan perubahan harga minyak dengan segera, Saudi siap membantu. Tentunya, dengan imbalan Rusia melakukan langkah yang mereka inginkan.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.