16 Februari 2015

Jadi, Kapan (Nikah)?

Pagi ini saya kembali mendapat kabar gembira, yaitu kabar rencana pernikahan seorang sahabat, yang akan dilangsungkan bulan Maret mendatang. Ah, satu lagi yang akan segera melepas masa lajangnya dan membangun keluarga. Begitu kira-kira yang saya pikirkan saat membaca undangan elektronik yang saya terima di ponsel.

Waktu memang berjalan sangat cepat. Ya, tak terasa, kini saya sedang berada di masa yang... well, bisa saya katakan, saya selalu mendapatkan (minimal) satu buah undangan pernikahan di setiap bulan. Kalaupun tidak ada undangan dalam satu bulan, minimal saya akan lihat ada foto pernikahan yang masuk di feed Facebook saya.

Memang, sebagian besar yang sudah lebih dulu menikah adalah teman-teman saya yang perempuantermasuk sahabat saya yang mengabarkan rencana pernikahannya pagi ini. Sementara yang pria, baru sedikit, tapi saya rasa akan mulai bertambah banyak dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Beberapa teman saya yang sudah menikah beberapa tahun lalu, kini sudah punya anak. Ya, jadi di feed Facebook saya, terkadang yang muncul bukan hanya foto-foto pernikahan, tetapi juga... foto anak-anak teman saya yang kira-kira berusia antara nol sampai dua tahun. Beberapa orang senior (kira-kira tiga tahun lebih tua dari saya), bahkan sudah memilik dua orang anak.

Semua "fenomena" ini tentunya membuat saya cukup berpikirmungkin saya memang terlalu banyak berpikir. Pertama, saya berpikir bahwa memang sekarang pernikahan di usia muda kembali menjadi tren. Beberapa teman saya yang telah menikah beberapa tahun lalu, mereka menikah di usia 21-23 tahun. Menurut saya, usia ini jelas masih sangat muda. Namun demikian, saya jelas sangat mengapresiasi keputusan teman-teman saya yang sangat berani ini untuk membina rumah tangga di usia muda. Jadi, ada perasaan antara "salut" dan "wow". Entahlah, tapi mungkin Anda paham maksud saya.

Kedua, semua undangan pernikahan ini jelas membuat saya berpikir: sudah berapa usia saya? Apakah di usia saya ini memang sudah "pantas" untuk membangun rumah tangga? Saya merasa agak takut untuk membayangkannya. Oke, saya berusaha seobjektif mungkin dalam hal ini. Kalaupun saat ini saya berada dalam posisi yang sedang memiliki pasangan (bahasa Inggris: in a relationship), saya bahkan sangat tidak yakin akan melangkah ke jenjang pernikahan dalam waktu satu sampai dua tahun ke depan.

Dulu, saya memang pernah berpikir, "Lucu kali ya, kalau udah bisa berkeluarga pas umur 25." Itu dulu. Sekarang, seiring berjalannya waktu, menurut sayabagi diri sayaitu gila. Kenapa gila? Ya... ketika saya menikah di usia 25 tahun (yang artinya tinggal beberapa bulan lagi sebelum saya akhirnya resmi menginjak usia seperempat abad) apa yang saya punya? Dalam arti, saya punya "modal" apa? Saya pikir "modal" cinta saja tidak akan cukup.

Well, tentunya setiap orang punya pendapat masing-masing. Saya paham bahwa di satu sisi, menikah itu berpahala, itu sesuatu yang bagus, menghindari zina, dan bla, bla, bla. Saya paham, dan toh saya tidak pernah kontra dengan teman-teman saya telah lebih dulu melangkah ke pelaminan. Saya justru ikut senang. Namun kemudian, yang menjadi masalah adalah ketika masyarakat seakan-akan terus memberikan tekanan untuk segera menikah dengan bertanya, "Jadi, kapan (nikah)?"

Beda Timur dan Barat

Sejujurnya, saya mulai lelah dengan tipe pertanyaan seperti ini, bahkan kalau saya memiliki pasangan pun, saya tidak merasa bahwa orang-orang seharusnya perlu menunjukkan "kepedulian" mereka dengan bertanya seperti itu. Atau, mungkin itu sekedar basa-basi, tapi seharusnya orang-orang bisa lebih "kreatif" daripada sekedar bertanya, "Jadi, kapan (nikah)?"

Memang, ini bukan sesuatu yang perlu "diambil hati". Santai saja. Namun demikian, ini memang mengindikasikan bahwa masyarakat kita kepo alias selalu ingin tahu. Bukan, itu bukan bentuk kepedulian. Peduli adalah ketika bertanya dengan penuh simpati, tapi kalau kepo adalah bentuk "kepedulian" yang diiringi dengan canda-tawa dan diulang berkali-kali setiap pertemuan.

Beberapa kali saya membicarakan masalah ini dengan teman-teman saya di luar negerisebut saja mereka yang tinggal di Eropa. Mereka justru berpikir sebaliknya, dalam arti, mereka selalu menekankan: menikahlah ketika kamu memang ingin, bukan karena kamu harus melakukannya.

Di sini, saya melihat memang ada perbedaan pola pikir antara masyarakat Barat dan Timur (khususnya Indonesia). Selama ini, kita mungkin punya stereotipe negatif mengenai masyarakat Barat yang, ya... mungkin kurang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang serius karena maraknya gaya hubungan tanpa ikatan pernikahan, tapi seolah-olah seperti menikah (ya, maksudnya seperti tinggal serumah dan tidur di satu kamar yang sama). Ini mungkin sesuatu yang tidak bisa dipungkiri karena ini sudah menjadi budaya di sana, tapi itu juga bukan berarti masyarakat di Barat tidak menghargai pernikahan. Justru, masyarakat Barat sangat rasional dalam memutuskan untuk menikah. Mereka benar-benar memikirkan pernikahan sebagai sesuatu yang sakral, dan oleh karena itu untuk memutuskannya tidak bisa terburu-buru di usia muda. Memang, ini bukan berarti semua masyarakat Barat berpikir seperti ini, tapi setidaknya, sebagian besar berpikir demikian.

Hal lainnya adalah, masyarakat Barat "tidak menekan" anggota masyarakatnya jika ada yang (sebenarnya) sudah memasuki usia yang wajar untuk menikah, tetapi belum menikah. Itu karena mereka memang menghargai privasi orang lain. Sebetulnya, urusan pernikahan adalah urusan yang masuk dalam ranah privat atau personal. Saya pikir, ini sesuatu yang sebetulnya kurang pantas untuk ditanyakan (apalagi berulang kali) pada seseorang. Karena itu, saya pribadi pun berusaha untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan kepo mengenai rencana pernikahan (pada siapapun) meskipun sebetulnya ini cukup sulit karena saya tinggal di tengah lingkungan yang menganggap ini sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Mulai Ubah Kebiasaan

Pada akhirnya, saya pikir kita harus mulai mengubah kebiasaan super kepo, seperti menanyakan rencana pernikahan seseorang. Mungkin ini terkesan sepele atau hal yang remeh, tapi menurut saya, karena hal semacam ini sudah cukup mengakar dalam pribadi masyakarat kita, ini pun menjadi cerminan pribadi orang Indonesia (secara umum) yang memang gemar mengetahui urusan orang laintidak heran infotainment sudah tayang sejak pukul 06.00 pagi.

Saya turut senang kepada teman-teman saya yang akan melangsungkan pernikahannya tahun ini. Saya percaya bahwa menikah memang salah satu keputusan terbesar dan paling penting dalam hidup manusia, dan karena itu, saya sangat salut pada teman-teman saya yang sudah siap untuk berumah tangga, bahkan yang sudah membina rumah tangga selama dua sampai tiga tahun ini.

Namun, mari kita sama-sama (mulai) menghargai privasi orang lain dengan tidak terlalu kepo menanyakan "kapan" setiap kali kita bertemu. Mungkin beberapa orang juga cukup lelah menghadapi pertanyaan "kapan" ini, dan kenapa kita tidak berusaha menghormati dan biarlah waktu yang pada akhirnya akan menjawab dan memberi kita kejutan.

Marilah saling menghargai, apapun keputusan seseorang tentang pernikahan. Bagi saya pribadi, saya merasa saat ini saya sedang dalam masa-masa yang masih senang menjalani hidup saya sendiri. Tentunya ini bukan berarti saya tidak mau menikah, tapi itu masih berada di urutan ke sekian dalam daftar yang pada akhirnya akan saya lakukan dalam hidup saya. Untuk sekarang ini, masih banyak hal (yang saya pikir cukup hebat) yang harus saya lakukan sebelum dan juga demi mempersiapkan masa depan kelak. Dan, bagi teman-teman yang mungkin merasa "insecure" dengan segala undangan pernikahan yang diterima, tidak perlu merasa begitu. Jalani saja, dan suatu saat akan tiba saatnya untuk memutuskan.

Untuk seorang sahabat yang selalu satu sekolah sejak kelas V SD hingga di kampus (untungnya tidak pernah sekelas selama di SMA dan tidak satu fakultas di universitas), semoga lancar segala urusan menuju hari pernikahansudah saya tandai "tanggal mainnya" di kalender. Semoga bahagia selalu dan kelak menjadi keluarga yang selalu dirahmati dan berada pada lindungan Allah SWT. Amin.

3 komentar :

Jadi kapan zan?
Hahahahahahahaha.
Good point of view jan. Toss jauh.
Gw yang mulanya senyum senyum, agak gerah, mulai panik, sampai ga peduli kalau ditanya kapan nikah. Menurut gw nikah itu bukan semacam balapan siapa yg duluan (duluan nikah, duluan punya anak, dll). Tapi gak dipungkiri lah ada sedikit perasaan insecure, apalagi kalau orang terdekat gw yang nikah. Ya gitulah ya gitu deh. Hahahha

Widh! Hahaha! Iyalah tos dulu kita! Iya, tadinya gue juga mikir gitu, tapi ya.... setelah dipikir-pikir ya... menurut gue sih, gue masih terlalu dini untuk mikirin itu widh, ya pastinya nanti akan mikir ke arah situ, tapi ngga sekarang. Sekarang fokus cari duit aja dulu, nabung yang banyak untuk masa depan yang lebih baik.

Nice post! Senang membacanya dan senang bisa memahami perasaan sendiri dari tulisan orang lain. Memang sepertinya kebiasaan kepo ini harus dikurangi, sometimes it is just a little bit troublesome to know that people have a 'necessity' to know what's going on in our life.

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.