23 Februari 2015

PNS dan Idealisme Abdi Negara

"Nak, kamu kenapa enggak coba ikut PNS? Kan jadi PNS itu enak, Nak. Bagus pekerjaannya."
Kira-kira begitulah sepenggal kata-kata bijak yang kerap dinasihatkan oleh beberapa orang guru saya ketika saya bertemu mereka kembali, dan ya... sebetulnya juga sering ditanyakan oleh beberapa orang di dalam keluarga besar tiap kali kami berkumpul. Saya pikir, teman-teman saya yang bekerja di sektor swasta pasti juga kerap mendapatkan pertanyaan, atau mungkin lebih tepatnya sebagai nasihat, seperti di atas. Atau mungkin Anda juga pernah menerima petuah serupa dari orangtua Anda? Ya, Anda tidak sendiri.

Kali ini, saya tergugah untuk membahas satu topik yang sebetulnya sudah cukup lama berputar-putar di otak saya, yaitu soal pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Apalagi, kalau sudah ada yang bertanya seperti yang saya contohkan di atas, pasti saya langsung bertanya (dalam hati): kenapa harus jadi PNS?

Sebetulnya, saya pernah coba memperdebatkan hal ini, tentunya di tengah orang-orang yang telah mengabdi sebagai PNS selama puluhan tahun, dan rasa-rasanya memang topik ini adalah salah satu yang cukup sulit diperdebatkan.

Bicara soal pekerjaan di Indonesia, saya pikir, kita bisa membagi jenis pekerjaan mainstream di Indonesia ke dalam dua kategori, yaitu PNS dan non-PNS. Ini sangat mudah. Profesi apapun di luar PNS, disebut non-PNS, apapun itu pekerjaannya. Ini lebih kurang mirip dengan penyebutan istilah nonmuslim bagi penganut agama di luar Islamini akan saya bahas di lain kesempatan.

Kenapa Mau Jadi PNS?

Kenapa hingga kini PNS menjadi salah satu pekerjaan yang sangat "diperebutkan" orang-orang? Padahal, saya cukup yakin, ketika kecil dulu, tidak ada yang bercita-cita menjadi PNS. Kita semua biasanya memimpikan untuk menjadi dokter, arsitek, presiden, atau bahkan astronot. Saking diperebutkannya, tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pun sama "hebohnya" (dan juga sama mendebarkannya) dengan tes ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Banyak yang tidak lulus tes CPNS pun menjadi galau, sama halnya seperti siswa-siswi SMA yang tidak lulus tes PTN.

Saya pikir, ini memang soal mental sebagian besar masyarakat kita. Harus diakui, memang, menjadi PNS memiliki banyak keuntungan, apalagi kalau kita bicara soal "masa tua". Tentunya, hal ini wajar karena PNS memang pada hakikatnya adalah "abdi negara". Oleh karena itu, memang sudah sepatutnya negara memperhatikan kesejahteraan orang-orang yang telah mengabdi dan bekerja untuk negera.

Namun, hal ini (benefit di hari tua)saya pikirkemudian menjadi semacam motivasi utama bagi sebagian besar peserta CPNS dan juga menjadi salah satu poin utama alasan sebagian besar orangtua kita ingin anaknya menjadi PNS.

Saya akui, pekerjaan saya saat ini, meskipun sangat menyenangkan, sangat fleksibel, tapi di satu sisi sangatlah riskan. Ini juga sama halnya dengan mereka yang bekerja di sektor swasta lainnya. Tidak ada "jaminan" bahwa masa depan (hari tua) kita akan cerah, bebas dari pikiran-pikiran bagaimana cara "melanjutkan" hidup pascapensiun (misalnya).

Ya, begitulah memang salah satu "risiko" yang harus dihadapi orang-orang yang bekerja di sektor swasta. Namun, bagi beberapa orang yang menaruh fokus terhadap hidupnya di masa depan nanti, mereka biasanya akan berpikir keras untuk membuat hidup di masa depan mereka nanti cukup nyaman.

Karena faktor "kurang aman" di sektor swasta inilah, menurut saya, yang menjadi salah satu motivasi yang (sebetulnya) kurang baik bagi kebanyakan orang yang ingin (atau diharapkan) menjadi CPNS. Orang-orang mau jadi PNS karena faktor materi dan jaminan hari tua, bukan karena kecintaan atau keinginan untuk mengabdi pada negara.

Harus Ubah Sudut Pandang

Mungkin sebagian besar orang akan menganggap bahwa motivasi menjadi PNS karena kecintaan dan sebagai bentuk pengabdian terhadap negara adalah hal yang klise. Namun, menurut saya, memang begitulah seharusnya. Menjadi PNS haruslah dilandasi dengan perasaan cinta terhadap bangsa dan negara. Hal-hal di luar itu, seperti keuntungan materi, akan secara otomatis "mengikuti" setelah menjadi PNS. Masalahnya, saya cukup yakin bahwa sebagian besar motivasi orang-orang yang ingin menjadi PNS adalah karena ingin mendapatkan keuntungan material.

Tidak ada yang menyalahkan Anda jika Anda ingin kaya dan hidup sejahtera. Semua orang pasti ingin hidup mapan, layak, bahkan kalau bisa berlebih. Namun, saya pikir, untuk profesi PNS, motivasi ini seharusnya dinomorsekiankan, bukan jadi yang pertama.

Saya sama sekali tidak bermaksud untuk memandang sebelah mata profesi PNS. Tidak, pada dasarnya, selama pekerjaan itu baik dan dilakukan dengan baik, maka semuanya pun baik. Namun, seandainya masyarakat kita lebih memiliki idealisme dalam hidupnya, termasuk soal pekerjaan, saya pikir bangsa ini akan jadi lebih baik.

Sekarang, coba bayangkan, apa jadinya kalau semua PNS yang bekerja di seluruh Indonesia memang benar-benar orang-orang yang ingin mengabdikan dirinya untuk negara? Saya berani jamin, tidak ada lagi stereotipe negatif mengenai PNS, tidak akan ada lagi cemoohan-cemoohan publik mengenai PNS, tidak akan ada lagi asumsi-asumsi PNS gabut (gaji buta, alias tidak bekerja) atau cenderung tidak tepat waktu dan kurang disiplin. Bukankah memang stereotipe negatif semacam itu sudah melekat pada profesi PNS?

Saya yakin bahwa ada banyak PNS baik yang bekerja secara profesional di luar sana, tapi stereotipe yang terlajur melekat pada PNS ini terlalu sulit diubah selama motivasi untuk menjadi PNS tidak dilandasi untuk mengabdi pada negara.

Mungkin, jika Anda seumuran saya dan pernah (atau mungkin sedang) menghadapi "tekanan" orang-orang di sekitar, khususnya keluarga, untuk menjadi PNS, percayalah bahwa mereka sebetulnya cukup peduli dengan kelangsungan hidup Anda di masa depan. Mereka menginginkan yang terbaik buat Anda, dan itu bagus. Namun, saya harap, jika pada akhirnya Anda memutuskan untuk memilih profesi ini, setidaknya tumbuhkanlah rasa pengabdian terhadap negara sebagai motivasi yang paling besar untuk menjadi PNS.

Namun, jika Anda memang tidak suka dan merasa PNS bukanlah jalan hidup Anda, kenapa harus repot? Bukankah hidup itu memang penuh misteri dan tantangan? Yakinkanlah orang-orang terdekat Anda bahwa PNS bukan sesuatu yang "gue banget" bagi diri Anda, dan itu tidak masalah. Saya pun begitu. Saya tidak bisa membayangkan diri saya puluhan tahun menjalani pekerjaan yang sama. Saya suka melakukan hal-hal baru, mencoba hal-hal baru, sesuatu yang mungkin hanya bisa dilakukan sekali dalam seumur hidup. Jelas, semua pasti ada risiko. Namun, selama kita yakin, kenapa harus khawatir?

Idealisme PNS

Pada akhirnya, PNS adalah suatu profesi yang perlu tanggung jawab dan idealisme bagi seluruh pegawainya. Seluruh masyarakat Indonesia pasti berharap para abdi negara ini adalah orang-orang yang betul-betul mendedikasikan dirinya pada negara.

Bagi saya pribadi, saya paham betul segala keuntungan menjadi PNS, dan saya sudah mempertimbangkan itu semua. Namun, saya merasa bukan tipe orang yang siap seratus persen menjadi "abdi negara". Ada banyak cara bagi saya untuk menunjukkan loyalitas dan kecintaan saya terhadap negara. Saya takut, jika menjadi PNS, hati saya tidak benar-benar loyal mengabdi pada negara. Ini mungkin terkesan suatu hal yang remeh atau sepele, tapi bagi saya ini adalah suatu hal yang esensial. Jadi, saya pikir, saya lebih senang berkontribusi untuk negara di bidang profesi lain.

Saya percaya, PNS haruslah menjadi contoh bagaimana rasa nasionalisme diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sebetulnyabagi sayamenjadi PNS tidaklah mudah. Menjadi PNS itu bukan sekedar "yang enak-enaknya" saja, tapi lebih dari itu PNS harus menjadi contoh konkret bagi masyarakat Indonesia. Saya yakin, kalau saja seluruh PNS di negeri ini memiliki pandangan yang sama, dampaknya terhadap perkembangan negara ini sangatlah besar.

Jadilah PNS yang menjunjung harkat, derajat, dan martabat bangsa ini. Jadilah PNS yang bisa menjadi cermin kepribadian bangsa. Jadilah PNS yang menomorsatukan urusan negara. Bukankah memang begitu seharusnya PNS? Saya harap, suatu saat nanti negara kita memang memiliki abdi-abdi negara yang secara konkret bekerja karena dasar kecintaan terhadap negerinya.

Ya, saya tidak tahu kapan hal itu bisa terwujud. Entahlah, mungkin kalau suatu hari saya jadi presiden, pastinya soal PNS ini akan menjadi salah satu fokus saya untuk membenahi negara. Semoga saya tidak jadi presiden.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.