Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

16 April 2015

Alina Saraswati: Dangdut Rasa Rusia

Bagaimana jika orang Rusia menjadi penyanyi dangdut di Indonesia? Alina Saraswati jawabannya. Alina Saraswati, sekilas Anda mungkin mengira nama tersebut adalah nama perempuan Indonesia. Namun, Alina Saraswati adalah model sekaligus artis peran asal Rusia yang selama setahun terakhir ini tengah menekuni dunia tarik suara di Indonesia. Dara kelahiran Ufa, Rusia, 28 tahun lalu ini kini sedang menyiapkan diri untuk merilis lagu dangdut perdananya di Indonesia.

Hari Rabu kemarin, saya berkesempatan bertemu dengan Alina di sebuah kafe di salah satu gedung perkantoran di Jakarta, untuk mengetahui lebih banyak mengenai dirinya dan kecintaannya terhadap Indonesia.

Sebetulnya, saya baru mengetahui mengenai Alina hari Minggu lalu ketika membaca sebuah artikel di Kompas.com. Karena pekerjaan saya berkaitan dengan Rusia, dan Alina (ternyata) adalah seorang perempuan Rusia, saya pun bergegas mencari informasi mengenai dirinya. Menurut saya, kehadiran Alina, terutama di dunia musik dangdut adalah suatu fenomena unik yang tak boleh dilewatkan. Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana seseorang seperti Alina akhirnya memutuskan untuk terjun di dunia dangdut? Mengapa Alina memilih dangdut?

Sebagai informasi, single pertama Alina, "Pengen Kawin", akan secara resmi dirilis pada 22 April mendatang. Alina akan mengadakan konferensi pers di restoran Jepang miliknya di Jakarta.

Saya pun semakin penasaran, hingga akhirnya memutuskan untuk berbincang-bincang langsung dengan Alina. Berikut adalah hasil wawancara saya bersama Alina untuk RBTH Indonesia.

Fauzan: Bagaimana awal mula Anda ke Indonesia hingga akhirnya memutuskan untuk berkarir di sini?

Alina: Saya bekerja sebagai model sejak berusia 18 tahun. Saya pergi ke banyak tempat. Saya pergi ke Eropa, dan khususnya ke banyak negara di Asia. Suatu hari saya ke Indonesia sebagai model. Saya bekerja sebagai model di Jakarta selama tiga tahun. Saat itu saya adalah seorang model tenaga lepas atau freelance. Saya tidak tergabung dalam agensi mana pun. Saya hanya bekerja seorang diri. Saya melakukan segalanya sendiri, mulai dari bernegosiasi, memilih pekerjaan, hingga mengatur jadwal saya.

Namun, ketika kunjungan ke Jakarta saat itu (selama tiga bulan), saya mendapatkan begitu banyak pekerjaan. Saya pun berpikir bahwa ini memang tempat yang cocok bagi saya. Sebelumnya saya tidak pernah sesibuk ini. Di Jakarta saya bekerja setiap hari, selalu saja ada pekerjaan. Bagi saya, ini sangat mengejutkan. Akhirnya, saya pikir, mungkin di sinilah tempat saya. Setelah itu, saya kembali ke Rusia. Namun, saya langsung merindukan Jakarta dan saya ingin kembali ke sana. Jadi, selama tiga tahun saya selalu bolak-balik ke Jakarta.

Fauzan: Apa yang membuat Anda mencintai Indonesia?

Alina: Saya lihat, Indonesia adalah negara yang sangat positif. Orang-orang di sini selalu tersenyum, selalu berpikir positif. Kadang kita melihat orang-orang di jalanan, mereka membuat lelucon dan saling tertawa satu sama lain.

Saya juga punya banyak teman baik di Indonesia, khususnya di Jakarta. Mereka sangat, baik, jujur, dan saya belajar banyak dari mereka. Entahlah, saya hanya sangat mencintai Indonesia. Kadang saya  berpikir, mungkin di kehidupan sebelumnya, saya adalah orang Indonesia.

Video kiriman RBTH Indonesia (@rbth_indonesia) pada Apr 15, 2015 pada 4:25 PDT

Fauzan: Mengapa Anda memilih nama “Saraswati”?

Alina: Saya sangat menyukai Bali. Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu. Di agama Hindu ada Dewi Saraswati. Dewi Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Ia juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan. Saya pribadi menganggap diri saya sebagai seorang yang berjiwa seni. Saya suka musik dan melukis. Jadi, saya pikir Saraswati nama yang cocok.

Nama: Alina Saraswati (nama asli Alina Salimgareeva)
Tempat, tanggal lahir: Ufa, 26 Januari 1987
Pendidikan terakhir: Universitas Negeri Bashkir (jurusan periklanan)
Tinggi: 180 cm, berat: 58 kg
Fauzan: Bagaimana pertama kali Anda mengenal musik dangdut?

Alina: Dua tahun yang lalu saya punya teman Indonesia yang senang mendengarkan lagu dangdut. Suatu hari mereka bertanya, “Alina, kamu tahu lagu Indonesia?” Saya tidak tahu. Kemudian mereka meminta saya untuk mendengarkan lagu itu (lagu dangdut), dan rasanya saya langsung ingin bergoyang. Mereka terkejut ketika melihat saya menari. Saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tapi rasanya tubuh saya bergerak begitu saja. Sejak itulah saya mengenal dangdut. Lagu dangdut sangat mudah didengar dan sangat ringan.

Fauzan: Bagaimana pada akhirnya Anda memutuskan untuk menjadi penyanyi dangdut?

Alina: Karena saya suka dangdut, suatu hari manajer saya berkata, “Alina, kalau kamu suka dangdut, ayo jadi penyanyi dangdut!” Awalnya saya tidak yakin, tapi manajer saya meyakinkan saya. Saya pun akhirnya belajar teknik vokal. Hingga kini saya masih mengikuti kursus vokal seminggu sekali.

Fauzan: Berapa lama Anda mempersiapkan ini semua hingga akhirnya kini Anda bisa mengeluarkan sebuah lagu?

Alina: Sebetulnya, ini semua memakan waktu satu tahun, mulai dari belajar vokal hingga mempersiapkan segalanya. Saya juga sempat kembali ke Rusia karena nenek saya meninggal. Kadang ada kalanya kita berada di waktu yang kurang tepat. Namun ketika datang waktu yang tepat, segalanya terasa begitu cepat. Kini kami telah membuat rekaman, mengambil foto, dan juga mulai tampil di acara-acara televisi.

Fauzan: Apakah Anda pernah punya pengalaman di bidang tarik suara sebelumnya?

Alina: Tidak ada. Saya hanya punya satu kali pengalaman menyanyi, yaitu ketika saya masih kecil,  saya ambil sisir dan saya bernyanyi. Namun, sebetulnya, saya merasa memiliki darah seni sejak kecil. Saya suka ber-acting, menari, dan sebagainya.

Fauzan: Apa yang bisa Anda ceritakan mengenai lagu Anda yang akan segera dirilis?

Alina: Ini adalah lagu mengenai seorang perempuan yang sering bergonta-ganti pacar. Bukan karena dia seorang perempuan yang tidak baik, tapi dia mencari lelaki yang terbaik. Dia pikir dia cantik, baik hati, tapi kenapa dia tidak bisa mendapatkan lelaki yang baik? Sebetulnya, dia merasa tidak perlu mencari yang tampan, tapi cukup yang baik hatinya. Sementara, semua temannya sudah punya pacar, bahkan ada pula yang sudah bersuami. Ketika dia bertemu mereka, kadang dia melihat mereka bersuap-suapan. Dia pun merasa pusing, dan “pengen kawin”.



Sumber: Alina Saraswati/YouTube

Fauzan: Siapa penyanyi dangdut favorit Anda?

Alina: Saya punya beberapa penyanyi favorit, tapi saya lebih ingat dengan beberapa lagu favorit saya. Saya suka lagu "E Masbuloh" dan “Berondong Tua”.

Fauzan: Apakah Anda ada rencana untuk memperkenalkan musik dangdut ke Rusia?

Alina: Sekarang kami belum berpikir ke arah itu. Mungkin di masa depan, kami akan mencoba membawa dangut ke Rusia, siapa yang tahu? Kadang sesuatu terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Namun, masalahnya budaya Asia dan Eropa, atau Rusia, agak berbeda. Jadi, saya belum yakin. Mungkin nanti kami bisa membuat musik dangdut dengan aliran modern. Sebetulnya lagu dangdut saya cukup modern karena ada unsur musik rap di dalamnya.

Fauzan: Bagaimana Anda berkompetisi dengan penyanyi-penyanyi dangdut lainnya di Indonesia?

Alina: Bagi saya, Tuhan telah memberikan peluang atau rezeki kepada semua orang untuk menjadi orang yang kaya, sukses, dan sehat. Namun, terkadang orang-orang tidak memanfaatkan peluang yang diberikan dengan baik. Padahal, semua orang memiliki kelebihan masing-masing. Jadi, bagi saya, jika kita bekerja keras, kita baik hati, selalu membantu orang, tidak curang, jujur pada diri sendiri, keluarga, dan teman, kita akan mendapatkan segala kebaikan—tidak peduli berapa banyak kompetitor di luar sana—Tuhan akan memberikan rezeki-Nya pada kita.

Kita mungkin berkompetisi, tapi setiap orang sudah memiliki rezekinya masing-masing dan jalan untuk menggapainya. Jadi, kita tidak perlu marah. Kerjakan saja pekerjaan kita, dan jika kita mencintai apa yang kita kerjakan, kita pasti sukses.

Fauzan: Selain pernah menjadi model dan kini bernyanyi, Anda juga pernah membintangi film layar lebar?

Alina: Suatu hari saya mendapatkan pekerjaan dari salah satu manajer saya. Dia menawarkan saya untuk ikut dalam sebuah produksi film. Saya bilang bahwa saya tidak bisa bicara bahasa Indonesia. Namun, dia meyakinkan bahwa saya tidak perlu bisa bicara bahasa Indonesia, tapi setidaknya perlu mengetahui seni bela diri. Tentu saja tidak ada satu pun seni bela diri yang saya kuasai. Namun, dia tetap mendorong saya untuk mengikuti casting, dan ternyata mereka menyukai saya. Kemudian saya dilatih dasar-dasar seni bela diri selama tiga bulan. Ini adalah film pertama saya, Guardian (2014).



Cuplikan film Guardian (2014). Sumber: Stromotion Stroworld/YouTube

Ketika saya sudah cukup menguasai ilmu bela diri, saya bermain film bersama Willy Dozan dalam film Duel (2014). Kemudian, dua film terakhir saya adalah film horor, yaitu Kamar 207 (2014) dan Kastil Tua (2015).

Masih ada satu lagi film dengan genre drama yang saya perankan. Film itu adalah film Rusia. Film ini belum selesai. Karena itu, musim panas kali ini saya akan kembali ke Rusia untuk menyelesaikan film tersebut untuk kemudian diputar di Festival Film Cannes.

Fauzan: Apa saja tantangan yang Anda temui selama berkarir di Indonesia? Bagaimana Anda menghadapi tantangan-tantangan tersebut?

Alina: Masalah saya tetap pada bahasa. Kadang saya ingin bicara lebih banyak, tapi saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Namun, saya selalu belajar bahasa Indonesia setiap hari, mencari kata-kata baru, bicara dengan orang-orang, dan juga teman-teman Indonesia saya. Jadi itulah masalahnya. Saya sangat ingin bisa lancar berbicara bahasa Indonesia seratus persen.

Fauzan: Bagaimana awal mula Anda belajar bahasa Indonesia?

Alina: Pertama kali saya ke Jakarta, saya tidak mau tinggal di sini. Saya hanya bekerja di sini. Jadi, saya tidak begitu memedulikan bahasa. Saya hanya mempelajari sedikit kata. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di sini, dan saya pikir saya harus berbicara bahasa Indonesia. Kemudian saya belajar bahasa Indonesia dengan seorang guru yang datang ke rumah saya, tapi saya merasa tak ada hasilnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk bicara bahasa Indonesia dengan orang-orang Indonesia, bersama teman-teman, sopir taksi, atau pelayan di kafe. Tentu lebih baik jika saya mempraktikkan langsung berbicara dengan orang-orang Indonesia.

Fauzan: Bagaimana Anda menilai kemampuan bahasa Indonesia Anda saat ini?

Alina: Saya pikir kemampuan bahasa Indonesia saya saat ini sudah 70 persen. Kadang saya tidak begitu yakin dengan apa yang saya dengar, tapi ketika saya memperhatikaan orang berbicara dan saya mengenali beberapa kata, saya mencoba untuk menghubungkannya satu sama lain. Sama seperti bahasa Inggris. Dulu guru bahasa Inggris saya selalu mengatakan, jangan pernah malu berbicara dengan bahasa Inggris. Jika kamu mendengar secara cermat, dan menangkap beberapa kata, kemudian kamu bisa menghubungkannya maka kamu bisa bicara. Jadi, saya juga melakukan hal serupa dengan bahasa Indonesia.

Fauzan: Apakah tinggal di Indonesia mengubah diri Anda?

Alina: Tentu saja. Saya menjadi orang yang lebih kalem, lebih sabar. Ketika di Rusia, saya mau semuanya cepat dan to the point, tapi sekarang saya lebih tenang. Sebetulnya, saya senang dengan pribadi saya sekarang saya ini karena menjadi orang yang terlalu ambisius tidak bagus, khususnya di bidang saya ini. Tentunya saya masih memiliki ciri khas Rusia saya. Terkadang saya agak kasar, tapi selama di sini saya berusaha untuk lebih lembut.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

14 April 2015

Sepuluh Kiat agar Tampil Profesional dengan LinkedIn

LinkedIn adalah situs media sosial yang digunakan untuk jaringan profesional.
Tadi pagi, saya mendapatkan telepon via Skype dari Manila, Filipina. Sebelumnya, penelepon telah lebih dulu menghubungi saya melalui pesan di LinkedIn. Dia menghubungi saya dengan maksud untuk menawarkan posisi manajer di sebuah perusahan analisis dan perbandingan keuangan yang sedang berkembang di Asia. Singkat cerita, saya pun memberikan kontak Skype saya untuk mendiskusikan peluang tersebut, dan tadi pagi saya dijelaskan mengenai kandidat yang sedang mereka cari, mengapa memilih saya, dan apa yang mereka harapkan.

Namun, di sini saya tidak akan menceritakan apakah saya menerima ajakan tersebut. Tentunya itu tawaran yang menarik, tapi mungkin hal itu akan saya ceritakan di lain kesempatan setelah saya membuat keputusan.

Kali ini, saya ingin berbagi kiat mengenai memaksimalkan LinkedIn. Sejujurnya, saya tidak merasa sebagai seseorang yang memiliki profil LinkedIn yang sangat menarik, profesional, atau apapun itu istilahnya. Namun, kejadian hari ini bukan yang pertama kali saya alami, bahkan awal mulanya saya bekerja di Russia Beyond the Headlines (RBTH) Indonesia saat ini juga berkat LinkedInwalaupun kasusnya agak berbeda. Satu hal yang pasti, saya semakin yakin bahwa LinkedIn memang sangat berguna (dan dibutuhkan), khususnya jika Anda kini seorang pekerja profesional.

Ada banyak perekrut pekerjaan di luar sana yang setiap hari mencari orang-orang yang mereka anggap potensial untuk menjadi bagian dari perusahaan mereka. Semua pencarian itu kini semakin mudah seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, seperti LinkedIn. Jika Anda belum memiliki akun LinkedIn, mungkin ada baiknya untuk mempertimbangkan membuat satu akun profesional Anda di media sosial tersebutsetelah membaca tulisan saya kali ini tentunya.

1. Profil yang informatif adalah profil yang bagus

Pada dasarnya, LinkedIn adalah semacam resume digital. Anda bisa memasukkan informasi mengenai riwayat pendidikan Anda, pengalaman bekerja, keahlian, pekerjaan saat ini, dan tentunya foto. Ketika pertama kali Anda membuat profil LinkedIn, Anda juga bisa mengikuti kiat-kiat yang disediakan LinkedIn dalam Profile Completion Tips. Dengan demikian, Anda bisa mengetahui bagian-bagian apa saja yang harus Anda lengkapi agar profil Anda semakin profesional.

Jangan lupa pula untuk mencantumkan profile headline dan ringkasan (summary) pada profil Anda. Kedua hal ini sangat membantu untuk menciptakan "kesan pertama" terhadap diri Anda. Saya bisa mengatakan bahwa headline di sini berfungsi sebagai "identitas" profesional Anda.

Anda bisa membuat headline berupa posisi pekerjaan Anda saat ini (itulah yang saya buat di profil LinkedIn saya), atau sebetulnya yang lebih baik adalah semacam ringkasan mengenai siapa Anda atau bidang yang Anda tekuni. Sementara summary, bisa menjadi semacam pelengkap informasi dari keseluruhan profil Anda, bagi orang-orang yang mengunjungi profil Anda.

2. Foto dan nama

LinkedIn bukan Facebook. Di Facebook, Anda bisa mengunggah foto Anda dengan pose yang paling ekspresif sekalipun. Namun di LinkedIn, ada baiknya Anda memasang foto profil yang menunjukkan sedikit "keseriusan". Saya pikir, serius bukan berarti harus kaku. Foto yang Anda pasang sebagai foto profil di LinkedIn setidaknya harus mencerminkan profesi Anda. Setidaknya, itu menurut saya. Artinya, Anda tidak perlu selalu mengunggah foto ijazah, KTP, atau persediaan foto CV Anda (yang berlatar belakang warna merah atau biru) ke LinkedIn.

Jika Anda seorang jurnalis, misalnya, Anda bisa saja memasang foto profil yang mencerminkan profesi Anda. Atau mungkin Anda seorang dokter? Anda bisa pasang foto Anda dengan jas putih Anda. Pastikan pula foto tersebut adalah foto terbarubukan foto beberapa tahun lalu, misalnya. Namun, satu hal yang paling penting dari semua itu adalah: profil Anda harus memiliki foto.

Hal berikutnya adalah soal nama. Sekali lagi saya mengingatkan, LinkedIn bukanlah Facebook. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, Anda kurang peduli dengan cara menulis nama yang benar. Itu boleh-boleh saja. Namun, ketika Anda ingin "menjual" profil diri Anda di situs seperti LinkedIn, pastikan Anda menulis nama Anda dengan benar: huruf pertama di setiap kata harus ditulis dengan huruf kapital. Saya pikir ini sesuatu yang esensial. Jujur saja, saya tidak pernah menerima permintaan pertemanan di LinkedIn jika orang yang mengirimkan permintaan tersebut tidak memiliki foto atau bahkan tidak bisa menulis namanya dengan baik dan benar.

3. Jujur

Kebohongan tentunya bukan sesuatu yang bisa ditoleransi dalam dunia profesional. Jadi, pastikan segala informasi yang Anda masukkan ke dalam profil Anda, mulai dari riwayat pendidikan, pekerjaan, hingga keahlian yang Anda miliki, ditulis dengan jujur.

Memasukkan informasi yang tidak jujur hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Mungkin pada awalnya orang-orang akan terkesan dengan profil yang Anda sajikan. Namun, di era keterbukaan informasi saat ini, perusahaan pun sangat cermat memilah-milih kandidat. Segala informasi yang tidak jujur, tentunya dapat dengan mudah diketahui. Lagipula, memberikan informasi yang tidak jujur juga menandakan bahwa Anda tidak memperhatikan etika. Sementara, etika sangatlah penting dalam dunia bisnis atau profesional.

4. Personalisasi URL profil

Secara default, URL profil LinkedIn Anda akan terdiri atas kombinasi angka dan huruf tak beraturan. Namun demikian, Anda tetap bisa meng-customize URL profil Anda dengan mengklik Settings > Edit Public Profile > Customize Your Public Profile URL.

Jika Anda sedang berada di halaman profil, di bawah foto terdapat informasi URL profil Anda. Anda bisa mengklik URL tersebut dan LinkedIn akan membawa Anda ke halaman pengaturan profil publik. Tepatnya di sebelah kanan, Anda akan melihat Your public profile URL. Di sana, Anda bisa langsung mengubah URL profil sesuai dengan yang Anda inginkan. Namun, sebaiknya diganti dengan nama Anda sehingga lebih mudah diingat sekaligus lebih personal.

5. Koneksi dan jaringan

Memiliki banyak koneksi diangap penting di LinkedIn. Namun, Anda tidak perlu khawatir. LinkedIn dilengkapi dengan algoritma dan data mining yang memudahkan pengguna untuk menyebar jaringan.
Cara pertama untuk mencari koneksi adalah dengan mencari namanya. Anda bisa mencari orang yang ingin Anda tambahkan sebagai koneksi dari search box di halaman utama LinkedIn. Ketika sudah menemukan orang yang dicari, klik Connect untuk menambahkan orang tersebut ke dalam jaringan profesional Anda.

Setelah Anda memiliki beberapa koneksi, silakan berlanjut ke bagian People You May Know. Di sini, algoritma LinkedIn akan merekomendasikan orang-orang yang memiliki "kedekatan" dengan Anda. Hal itu tentu saja berdasarkan informasi profil yang telah Anda isi.

6. Minta koneksi Anda untuk merekomendasikan Anda

LinkedIn memungkinkan Anda untuk meminta rekomendasi atas kemampuan atau pekerjaan Anda pada koneksi yang Anda miliki. Dengan fitur ini, Anda tidak perlu lagi merasa canggung untuk meminta kepada koneksi Anda. Dengan rekomendasi, profil LinkedIn Anda akan semakin kredibel di mata pengunjung dan memberikan kesan yang baik dan profesional.

7. Tambahkan gambar, slideshow, atau video

"A picture is worth a thousand words."
Hal itu benar. Biarkan dunia tahu apa yang telah Anda kerjakan. Lagipula memang itulah gunanya situs ini. Dengan LinkedIn, Anda juga bisa memublikasikan hasil karya atau portofolio Anda.

Jadi, daripada sekedar membicarakan apa saja yang telah Anda capai atau lakukan dalam pekerjaan Anda, mengapa tidak menunjukkan contoh karya Anda? Atau mungkin Anda ingin berbagai ide dalam bentuk presentasi? Dengan demikian, profil Anda akan lebih dinamis. Anda bisa menambahkan gambar, video, atau presentasi di bagian summary atau di bagian experience.

8. Bagikan konten yang relevan dengan profesi atau keahlian Anda

Sejujurnya, saya pribadi belum menggunakan media sosial ini dengan maksimal. Saya tidak terlalu aktif di LinkedIn, tapi saya selalu memastikan jika ada konten yang ingin saya bagikan di LinkedIn adalah sesuatu yang berhubungan dengan profesi saya, atau hal-hal yang berkaitan dengan industri media. Sering kali saya melihat orang-orang membagikan hal-hal yang tidak penting di LinkedIn. Jangan lupa, LinkedIn bukanlah Facebook. Ketika Anda bergabung di LinkedIn, setidaknya Anda harus bisa memilah-milih konten apa saja yang hendak Anda bagikan. Anda perlu mempertimbangkan (dan juga memikirkan) apakah konten yang Anda bagikan di LinkedIn sangat informatif bagi koneksi Anda, atau apakah Anda sekedar "iseng" berbagi sesuatu? Sebaiknya konten yang Anda bagikan di LinkedIn punya motif yang lebih dari sekedar "iseng".

9. Buat diri Anda "lebih terlihat"

Anda bisa mengatur profil Anda agar bisa ditemukan di mesin pencari, seperti Google atau Bing. Jika Anda merasa ada terlalu banyak orang yang "menemukan" Anda, Anda bisa mengubah dan mengatur ulang pengaturan ini. Namun, jika Anda adalah seorang pencari pekerjaan, atau mungkin sedang ingin merekrut orang untuk bekerja di perusahaan Anda, mungkin Anda ingin membuat profil Anda "lebih terlihat".

Silakan buka halaman Edit Profile atau bisa Anda akses dengan mengklik informasi URL profil di bawah foto Anda. Tepatnya di sebelah kanan, di bawah pengaturan "Your public profile URL", Anda akan melihat pengaturan "Cutomize Your Public Profile". Silakan pilih pengaturan mana yang Anda rasa paling cocok dengan kebutuhan Anda.

10. Tunjukkan keahlian Anda

Bagian keahlian atau Skills adalah salah satu bagian yang paling dilihat oleh perekrut. Fitur ini memungkinkan para perekrut untuk mencari kandidat yang mereka cari berdasarkan keahlian yang dibutuhkan. Sebelumnya, LinkedIn pernah mempunyai fitur yang disebut Skill Search untuk menemukan orang-orang dengan keahlian berdasarkan kata kunci yang dimasukkan ke dalam pencarian. Namun, fitur tersebut kini digantikan dengan Endorsement. Kini, semakin banyak orang yang meng-endorse keahlian Anda di suatu atau beberapa bidang, keahlian tersebut akan berada di puncak daftar keahlian yang (orang-orang anggap) paling Anda kuasai.

Sementara itu, keahlian-keahlian yang tidak (atau belum) mendapatkan banyak endorsement juga akan tetap ditampilkan, tapi di bagian paling bawah daftar. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu memperbaharui daftar keahlian Anda dari waktu ke waktu.


Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

12 April 2015

Jika Ahok Kasar, Apa Sebutan bagi Warga Jakarta?

Hari ini saya kembali menemukan berita yang membuat saya semakin yakin bahwa masyarakat kita memang sudah benar-benar gila. Sebuah berita yang dipublikasikan Detik.com mengabarkan ratusan sopir Mikrolet 44 jurusan Kampung Melayu-Karet berdemonstrasi di depan Stasiun Tebet. Mereka berdemonstrasi dengan alasan, empat mobil M 44 dipecahkan kacanya oleh petugas pengamanan stasiun karena tak mau ditertibkan.

Tentunya, para petugas tidak secara tiba-tiba memecahkan kaca begitu saja. Berdasarkan keterangan saksi mata, kejadian berawal karena sejumlah mobil angkutan M 44 berhenti di dekat rel kereta api dan menghalangi palang penutup lintasan kereta Stasiun Tebet. Seorang petugas pengamanan stasiun telah mengingatkan berulang kali, tapi para sopir M 44 tersebut tetap mengabaikan peringatan petugas.

Akhirnya, ketika kaca mobil mereka dipecahkan, barulah mereka pergi. Namun, ternyata cerita ini tidak selesai sampai di situ. Atas nama solidaritas, para sopir M 44 pun berdemonstrasi di depan stasiun menuntut penggantian kerugian.

Saya yakin berita semacam itu menimbulkan pro-kontra. Ada yang pro dengan apa yang dilakukan petugas dengan alasan (mungkin) supaya para sopir tersebut jera. Namun, ada pula yang kontra dengan alasan tidak seharusnya petugas melakukan hal tersebut.

Sejenak kita tinggalkan dulu berita petugas melawan sopir-sopir M 44 tadi. Mungkin, Anda masih ingat dengan kasus yang belum lama ini terjadi, mengenai seorang pengendara motor yang secara jelas melawan arus, tapi justru bertingkah seolah-olah dia tidak salah dan "menantang" pengendara mobil yang berada di jalurnya.

Lalu, bagaimana dengan kasus cekcok antara sopir Transjakarta (beserta para penumpangnya) dan polisi yang membela pengendara roda dua yang masuk jalur busway pada Maret lalu? Si petugas polisi yang menilang sopir Transjakarta tersebut bahkan dikabarkan membentak sang sopir dan mengambil surat izin mengemudi (SIM) si sopir.

Saya yakin, ada ribuan kasus "tarik-urat" setiap harinya terjadi di jalanan ibu kota. Mungkin Anda juga pernah jadi saksi mata, atau bisa jadi Anda pernah jadi bagian dari "keributan" di jalanan. Jujur saja, saya beberapa kali sempat menjadi "pemicu" keributan di jalan raya. Mulai dari adu mulut dengan sopir Metromini yang ugal-ugalansementara ada banyak anak-anak dan orang tua di dalamnya, menendang pengendara motor yang melintas di trotoarya, sampai dia jatuh, hingga melempar botol minum kepada perokok yang tidak mau mematikan rokoknya di dalam angkutan umum meskipun sudah saya tegur berkali-kali.

Sekarang, coba kita pikirkan sejenak. Adakah kota Jakarta ini masih menjadi tempat tinggal yang penuh ramah-tamah bagi penduduknya? Hampir semua orang di kota ini gila. Semuanya egois, ingin menjadi pemenang. Saya pikir penduduk di Jakarta sudah hilang akal sehatnya. Semuanya harus diselesaikan dengan cara yang keras. Semua harus saling tarik-urat. Semua merasa paling benar.

Tiga contoh kasus di atas jelas merupakan kasus orang gila. Apa tidak gila namanya jika sudah salah, lantas minta ganti rugi? Apa tidak gila namanya jika jelas-jelas melanggar, tapi malah menantang yang benar? Apa tidak gila namanya jika polisi tidak lagi membela kebenaran?

Mari kita becermin. Saya pikir, rasa kemanusiaan kita yang tinggal di Jakarta telah mencapai titik paling rendah. Sadarkah kita bahwa kita yang tinggal di Jakarta tidak lagi seperti manusia? Casing-nya jelas masih manusia, tapi jiwanya? Setiap hari kita berhadapan dengan keegoisan satu sama lain.

Sekarang, pertanyaan saya, pemimpin seperti apakah yang diperlukan untuk "menjinakkan" Jakarta? Jangan-jangan, memang orang seperti Ahoklah yang harus "memegang" Jakarta karena bukan tidak mungkin, pemimpin kita adalah cermin dari masyarakat itu sendiri.

Siapa yang Lebih Kasar?

Pada November 2014 lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai Ahok. Saat itu timbul pro-kontra mengenai Ahok yang hendak dilantik sebagai gubernur menggantikan posisi Jokowi yang harus angkat koper ke istana. Saat itu, tidak sedikit orang yang tidak ingin Ahok menduduki posisi gubernur, dengan alasan: Ahok arogan dan kerap berbicara kasar.

Jujur saja, awalnya, pada saat Ahok terpilih sebagai wakil gubernur mendampingi Jokowi di Jakarta, saya cukup menikmati segala berita yang (seolah-olah) selalu mengangkat kehebatan dan keberanian sang duo dalam mereformasi birokrasi di Jakarta. Saya pikir kehadiran Ahok sangat dibutuhkan untuk memberikan semacam shock therapy bagi pejabat-pejabat DKI yang terlalu lama menikmati "indahnya" kehidupan di "sarangnya".

Namun, lama-kelamaan, saya pun merasa bahwa dalam beberapa hal, Ahok terlalu berlebihan. Saya akhirnya berpikir bahwa tegas tidak sama dengan kasar, dan begitu pula sebaliknya. Saya pikir, Ahok memang harus bisa membangun komunikasi politik yang baik. Kalau dikatakan Ahok itu orang Sumatera, dan orang Sumatera punya pribadi yang cenderung keras, saya kira ini tidak bisa dijadikan pembenaran. Pemimpin, dari mana pun asalanya, harus bisa menjadi contoh teladan, itu jelas. Kini saya sangat menyayangkan pribadi Ahok yang sepertinya tidak bisa "mengerem" emosi dan kata-katanya.

Saya suka Ahok sebagai pribadi yang bisa memimpin Jakarta, tapi saya juga tidak mau Jakarta dipimpin oleh orang yang tidah bisa berkomunikasi dengan baik dan merangkul semua pihak.

Begitulah perubahan sikap saya kepada Ahok, setidaknya sampai kasus "tarik-urat" lainnya dengan DPRD beberapa waktu lalu. Selama mengikuti perkembangan perseteruan antara Ahok melawan DPRD, di sana "keyakinan" saya kembali goyah. Saya pikir, kalau tidak ada orang "kasar" seperti Ahok yang menduduki posisi gubernur di Jakarta, apa jadinya kota ini? Bukankah orang-orang di DPRD sana memang terlanjur bebal? Bukankah sebetulnya kita sama-sama tahu bahwa orang-orang yang katanya wakil rakyat itu lebih senang mewakili kepentingan diri mereka sendiri?

Pada akhirnya, saya pikir orang-orang yang kontra terhadap sikap Ahok terlalu lebay. Orang kita sebenarnya terbiasa bicara dengan kata-kata kasardalam kehidupan sehari-hari, tapi tidak terbiasa mendapatkan pemimpin yang biasa "ceplas-ceplos" bicara (agak) kasar apa-adanya dan dipublikasikan di media.

Kita terbiasa mendengar pemimpin yang kira-kira "enak" saja didengar. Kita terbiasa dengan kata-kata yang standar yang keluar dari mulut para pemimpin kita. Jadi, jelas banyak yang kaget (dan "gerah") ketika ada yang seperti Ahok ini, dan merasa bahwa bahasanya Ahok ini kasar. Padahal hampir kita semua biasa berinteraksi dengan orang-orang yang bicara kasar sehari-hari. Ini Jakarta.

Hingga kini, saya setuju bahwa sebagai seorang pemimpin, Ahok memiliki gaya komunikasi yang buruk. Ini sesuatu yang sangat tidak pantas dicontoh. Namun, melihat kondisi ibu kota saat ini, saya tidak yakin jika pemimpin "kalem" adalah jawaban untuk Jakarta.

Jangan salahkan Ahok jika bicara kasaratau bahkan kotor. Sudah terlalu banyak orang gila di kota ini. Orang-orang yang berpikir bahwa kota ini milik nenek moyangnya, sehingga ia bisa sesuka hati melakukan apa sajatermasuk melanggar peraturan dan bermain dengan hukum. Memangnya Anda tidak merasa tertekan menghadapi kerasnya ibu kota dengan orang-orang gila setiap hari?

Memang, terkadang kita butuh orang-orang yang di luar "kewajaran" dalam memimpin masyarakat. Jangan lupa, pemimpin mencerminkan apa yang dia pimpin. Artinya, Ahok secara tidak langsung memang mencerminkan karakter masyarakat Jakarta: kasar. Ya, itu jika kita mau introspeksi.

Sekarang, coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sudahkah kita (selalu) bersikap lembut? Jika jawaban Anda, "Untuk apa? Di Jakarta enggak bisa lembut. Kalau lembut, kitalah yang diinjak-injak!" Artinya, memang Jakarta perlu Ahok untuk menata kota ini beserta orang-orangnya. Biarlah Ahok memimpin dengan caranya dan gayanya.

Tidak perlu kita membanding-bandingkan Ahok dengan Ridwan Kamil di Bandung, Tri Rismaharini di Surabaya, atau Ahmad Heryawan di Jawa Barat. Bukankah di balik pemimpin yang sukses ada rakyat yang kooperatif? Sudahkah kita menjadi warga Jakarta yang kooperatif? Jika belum, mungkin kota ini perlu penanganan yang sedikit berbeda, sedikit lebih keras. Anda boleh tidak setuju. Namun, jika Anda tidak sependapat, coba cermati kembali tulisan saya dari awal (iya, dari awal), dan tanyakan pada diri Anda sendiri: mana yang lebih kasar? Ahok atau orang Jakarta?

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

09 April 2015

Ketika Presiden Tidak Tahu: Fenomena Aneh, tapi Nyata

Klik gambar untuk membaca versi ePaper artikel di atas.
Belum lama masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan pernyataan presiden. Memang, dalam lima bulan terakhir, Presiden Joko Widodo kerap memberikan "kejutan" bagi rakyatnya. Mulai dari "kejutan" sikap presiden yang seakan "bingung sendiri" dengan apa yang harus dilakukan, "kejutan" ekonomi, hingga "kejutan" pernyataan di media.

Pada Selasa (7/4) lalu, sebuah media lokal berbahasa Inggris menerbitkan sebuah artikel dengan judul yang cukup "menampar". Artikel berjudul "Joko: I Don't Read What I Sign" tersebut sebelumnya sempat ramai diisukan berasal dari salah satu koran ternama "The Wall Street Journal".

Usut punya usut, isu ini semakin tersebar luas ketika Yusril Ihza Mahendra berkicau di Twitter, dan bahkan di-retweet ratusan kali hingga menjadi topik populer di media sosial tersebut. Sang mantan menteri sekretaris negara era Presiden SBY ini menyatakan, publik dunia semakin mengenal 'sosok' Jokowi. "Presiden Jokowi Makin Mendunia. Ini berita di Wall Street Journal, salah satu koran terkemuka di dunia," kicaunya.
Namun artikel tersebut sebenarnya bukanlah berasal dari potongan "The Wall Street Journal", tetapi dari koran "Jakarta Globe", edisi 7 April 2015, tepatnya di halaman enam. Silakan baca ePaper-nya di sini (kalau penasaran).

Yusril pun kemudian mengklarifikasi sumber artikel itu dalam kicauannya, namun "Presiden Jokowi Makin Mendunia" masih tetap populer dan dikicaukan lebih dari 2.000 kali, sebagaimana yang diberitakan BBC Indonesia pada Rabu (8/4).

Menyalahkan Menteri, Cermin Reaktif

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan kebijakan kenaikan tunjangan uang muka pembelian mobil pejabat negara sebesar Rp 94,24 juta menjadi Rp 210,89 juta dari sebelumnya hanya Rp 116,65 juta yang sebelumnya ditandatanganinya sendiri.

Presiden mengaku tidak mengetahui persis isi keputusan yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2015 itu. Jokowi mengatakan, hal-hal seperti itu seharusnya disaring terlebih dahulu oleh kementerian sebelum sampai ke mejanya.

Dalam artikel yang dipublikasikan Kompas.com, presiden mengatakan, "Coba saya lihat lagi. Tiap hari ada segini banyak yang harus saya tanda tangani. Enggak mungkin satu-satu saya cek kalau sudah satu lembar ada 5-10 orang yang paraf atau tanda tangan apakah harus saya cek satu-satu?"

Saya pun merasa gagal paham selepas membaca kutipan tersebut. Saya tahu bahwa pekerjaan presiden tidak mudah dan karena itu presiden memilik banyak pembantu untuk menjalankan tugasnya yang disebut sebagai menteri. Namun, itu bukan berarti presiden bisa "menyepelekan" segala perkara, termasuk soal tanda tangan yang bisa berujung pada keputusan yang sangat fatal.

Sekarang, saya jelas mempertanyakan kualitas kepemimpinan Pak Jokowi yang menyalahkan menterinya terkait "kesalahan" ini. Ya, setidaknya, dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey (yang sering menjadi salah satu referensi untuk masalah kepemimpinan), poin pertama dalam kebiasaan efektif yang disebutkan dalam buku tersebutyang tentunya sangat berguna bagi seorang pemimpinadalah bersikap proaktif.

Apa yang dimaksud dengan sikap proaktif? Kenapa seseorang harus proaktif? Ya, saat seseorang bersikap proaktif, dia akan memikirkan segala tindakan dan perbuatan yang ia lakukan beserta efek atau dampaknya. Orang yang proaktif adalah orang yang mengerti segala tindakannya dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara orang reaktif, di lain pihak, cenderung mengambil keputusan dengan emosi sesaat. Ini artinya, orang proaktif adalah orang yang lebih dulu berpikir sebelum bertindak.

Dalam hal ini, jelas Presiden Jokowi tidak bersikap proaktif, dan jelas itu sangat disayangkan. Bersikap proaktif berarti lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif berarti bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai daripada sekedar "patuh" pada suasana hati atau keadaan. Namun, satu hal penting adalah bahwa orang-orang proaktif tidak akan menyalahkan orang lain (karena itu adalah cerminan perilaku orang reaktif).

Lempar Sana-sini

Dalam artikel lainnya yang dipublikasikan Kompas.com, Jokowi membantah bahwa dirinya kecolongan dalam kebijakan yang mengundang kontroversi kali ini. Dia hanya menjelaskan bahwa setiap kebijakan yang melibatkan uang negara yang besar seharusnya dibahas dalam rapat terbatas atau rapat kabinet.

Di lain pihak, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, uang muka untuk pembelian mobil baru bagi pejabat negara bukan kali ini saja diberikan. Namun, pada tahun 2015, pemerintah memutuskan menambah jatah uang muka itu karena harga mobil meningkat akibat inflasi.

Sementara Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengaku, usulan ini pertama kali dimintakan oleh Ketua DPR Setya Novanto. Awalnya, DPR meminta Rp 250 juta, tetapi akhirnya setelah dikaji oleh Kementerian Keuangan menjadi Rp 210 juta.

Sekarang, siapa yang bisa dipercaya? Bagi saya pribadi, jelas presiden tetap harus bertanggung jawab dalam hal ini. Ini jelas membuktikan presiden telah bertindak tidak teliti dan bisa berakibat sangat fatal.

Sebagai perbandingan, Yusril Ihza Mahendra sempat berkicau melalui akun Twitter-nya mengenai bagaimana Presiden Soeharto dulu begitu teliti membaca segala naskah yang harus ia tanda tangani.
Menurut Yusril, tiap naskah yang akan ditandatangani Pak Harto, ada memorandum Mensesneg yang menerangkan secara ringkas latar belakang naskah tersebut. Jika ada hal yang tidak jelas bagi Pak Harto, orang pertama yang ditanya adalah Mensesneg Moerdiono atau Saadillah Mursyid. Kemudian, semua naskah yang telah ditandatangani akan dikembalikan ke Sekneg melalui ajudan, sementara yang belum ditandatangani akan disisipkan catatan atau disposisi yang perlu segera ditindaklanjuti Mensesneg.

Tidak Tahu: Kesalahan Fatal

Sekarang, bagaimana bisa presiden, pertama, begitu ceroboh (tidak tahu atas apa yang ia tanda tangani), dan kedua, secara gamblang (atau "polos") menyatakan hal seperti itu kepada media? Saya tidak tahu, dan jelas tidak ada yang tahu selain beliau dan Tuhan. Mungkin maksud hati bicara jujur apa adanya (atau "ngeles", kadang memang beda tipis), tapi mengingat posisi beliau sebagai orang nomor wahid di negara ini, tentunya hal-hal semacam ini harus lebih dipikirkan, sebelum terlanjur terucap.

Setelah membaca, saya pun bertanya-tanya, apakah presiden merasa "biasa-biasa" saja dengan pernyataan yang ia lontarkan? Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya merasa malu jika presiden negara ini bisa "seceroboh" itu. Ya, jelas, itu ceroboh. Ceroboh dalam memberikan pernyataan kepada pers, dan ceroboh dalam menjalankan pekerjaan.

Maaf Pak Jokowi, saya (jelas) kecewa. Saya memang tidak memilih Bapak (bagi yang bertanya-tanya), tapi jelas saya mendukung Bapak untuk membuat perubahan yang lebih baik, supaya negara ini bisa lebih baik.

Banyak yang bilang Bapak sebagai "A New Hope" bagi Indonesia. Ya, memang benar, terlalu dini untuk menilai kinerja Bapak walau memang begitulah "kerja" kami sebagai masyarakat, Pak: menilai. Mohon dimaklumi saja sikap masyarakat.

Namun, apa daya. Saya pikir masyarakat Indonesia berharap banyak kepada Bapak. Sebesar itu Pak harapan masyarakat ini. Jangan kecewakan rakyat Indonesia, Pak. Apalagi, mereka yang memilih dan begitu percaya kepada Bapak.

Saya tahu dan paham betul bahwa presiden hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Namun, menjadi presiden tentu bukan berarti punya "kualitas" yang sama dengan rakyat biasa. Karena kalau demikian, apalah bedanya sang presiden dengan rakyat yang ia pimpin? Menjadi presiden bukan berarti harus menjadi sempurna, tapi satu hal yang saya yakini adalah bahwa seorang pemimpin pantang menjawab: tidak tahu.

Sementara itu, saya pikir pesan moral yang bisa kita petik bersama dari kisah ini: jangan malas membaca (apalagi jika Anda seorang presiden).

Klik gambar untuk melihat cuplikan video.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend