12 April 2015

Jika Ahok Kasar, Apa Sebutan bagi Warga Jakarta?

Hari ini saya kembali menemukan berita yang membuat saya semakin yakin bahwa masyarakat kita memang sudah benar-benar gila. Sebuah berita yang dipublikasikan Detik.com mengabarkan ratusan sopir Mikrolet 44 jurusan Kampung Melayu-Karet berdemonstrasi di depan Stasiun Tebet. Mereka berdemonstrasi dengan alasan, empat mobil M 44 dipecahkan kacanya oleh petugas pengamanan stasiun karena tak mau ditertibkan.

Tentunya, para petugas tidak secara tiba-tiba memecahkan kaca begitu saja. Berdasarkan keterangan saksi mata, kejadian berawal karena sejumlah mobil angkutan M 44 berhenti di dekat rel kereta api dan menghalangi palang penutup lintasan kereta Stasiun Tebet. Seorang petugas pengamanan stasiun telah mengingatkan berulang kali, tapi para sopir M 44 tersebut tetap mengabaikan peringatan petugas.

Akhirnya, ketika kaca mobil mereka dipecahkan, barulah mereka pergi. Namun, ternyata cerita ini tidak selesai sampai di situ. Atas nama solidaritas, para sopir M 44 pun berdemonstrasi di depan stasiun menuntut penggantian kerugian.

Saya yakin berita semacam itu menimbulkan pro-kontra. Ada yang pro dengan apa yang dilakukan petugas dengan alasan (mungkin) supaya para sopir tersebut jera. Namun, ada pula yang kontra dengan alasan tidak seharusnya petugas melakukan hal tersebut.

Sejenak kita tinggalkan dulu berita petugas melawan sopir-sopir M 44 tadi. Mungkin, Anda masih ingat dengan kasus yang belum lama ini terjadi, mengenai seorang pengendara motor yang secara jelas melawan arus, tapi justru bertingkah seolah-olah dia tidak salah dan "menantang" pengendara mobil yang berada di jalurnya.

Lalu, bagaimana dengan kasus cekcok antara sopir Transjakarta (beserta para penumpangnya) dan polisi yang membela pengendara roda dua yang masuk jalur busway pada Maret lalu? Si petugas polisi yang menilang sopir Transjakarta tersebut bahkan dikabarkan membentak sang sopir dan mengambil surat izin mengemudi (SIM) si sopir.

Saya yakin, ada ribuan kasus "tarik-urat" setiap harinya terjadi di jalanan ibu kota. Mungkin Anda juga pernah jadi saksi mata, atau bisa jadi Anda pernah jadi bagian dari "keributan" di jalanan. Jujur saja, saya beberapa kali sempat menjadi "pemicu" keributan di jalan raya. Mulai dari adu mulut dengan sopir Metromini yang ugal-ugalansementara ada banyak anak-anak dan orang tua di dalamnya, menendang pengendara motor yang melintas di trotoarya, sampai dia jatuh, hingga melempar botol minum kepada perokok yang tidak mau mematikan rokoknya di dalam angkutan umum meskipun sudah saya tegur berkali-kali.

Sekarang, coba kita pikirkan sejenak. Adakah kota Jakarta ini masih menjadi tempat tinggal yang penuh ramah-tamah bagi penduduknya? Hampir semua orang di kota ini gila. Semuanya egois, ingin menjadi pemenang. Saya pikir penduduk di Jakarta sudah hilang akal sehatnya. Semuanya harus diselesaikan dengan cara yang keras. Semua harus saling tarik-urat. Semua merasa paling benar.

Tiga contoh kasus di atas jelas merupakan kasus orang gila. Apa tidak gila namanya jika sudah salah, lantas minta ganti rugi? Apa tidak gila namanya jika jelas-jelas melanggar, tapi malah menantang yang benar? Apa tidak gila namanya jika polisi tidak lagi membela kebenaran?

Mari kita becermin. Saya pikir, rasa kemanusiaan kita yang tinggal di Jakarta telah mencapai titik paling rendah. Sadarkah kita bahwa kita yang tinggal di Jakarta tidak lagi seperti manusia? Casing-nya jelas masih manusia, tapi jiwanya? Setiap hari kita berhadapan dengan keegoisan satu sama lain.

Sekarang, pertanyaan saya, pemimpin seperti apakah yang diperlukan untuk "menjinakkan" Jakarta? Jangan-jangan, memang orang seperti Ahoklah yang harus "memegang" Jakarta karena bukan tidak mungkin, pemimpin kita adalah cermin dari masyarakat itu sendiri.

Siapa yang Lebih Kasar?

Pada November 2014 lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai Ahok. Saat itu timbul pro-kontra mengenai Ahok yang hendak dilantik sebagai gubernur menggantikan posisi Jokowi yang harus angkat koper ke istana. Saat itu, tidak sedikit orang yang tidak ingin Ahok menduduki posisi gubernur, dengan alasan: Ahok arogan dan kerap berbicara kasar.

Jujur saja, awalnya, pada saat Ahok terpilih sebagai wakil gubernur mendampingi Jokowi di Jakarta, saya cukup menikmati segala berita yang (seolah-olah) selalu mengangkat kehebatan dan keberanian sang duo dalam mereformasi birokrasi di Jakarta. Saya pikir kehadiran Ahok sangat dibutuhkan untuk memberikan semacam shock therapy bagi pejabat-pejabat DKI yang terlalu lama menikmati "indahnya" kehidupan di "sarangnya".

Namun, lama-kelamaan, saya pun merasa bahwa dalam beberapa hal, Ahok terlalu berlebihan. Saya akhirnya berpikir bahwa tegas tidak sama dengan kasar, dan begitu pula sebaliknya. Saya pikir, Ahok memang harus bisa membangun komunikasi politik yang baik. Kalau dikatakan Ahok itu orang Sumatera, dan orang Sumatera punya pribadi yang cenderung keras, saya kira ini tidak bisa dijadikan pembenaran. Pemimpin, dari mana pun asalanya, harus bisa menjadi contoh teladan, itu jelas. Kini saya sangat menyayangkan pribadi Ahok yang sepertinya tidak bisa "mengerem" emosi dan kata-katanya.

Saya suka Ahok sebagai pribadi yang bisa memimpin Jakarta, tapi saya juga tidak mau Jakarta dipimpin oleh orang yang tidah bisa berkomunikasi dengan baik dan merangkul semua pihak.

Begitulah perubahan sikap saya kepada Ahok, setidaknya sampai kasus "tarik-urat" lainnya dengan DPRD beberapa waktu lalu. Selama mengikuti perkembangan perseteruan antara Ahok melawan DPRD, di sana "keyakinan" saya kembali goyah. Saya pikir, kalau tidak ada orang "kasar" seperti Ahok yang menduduki posisi gubernur di Jakarta, apa jadinya kota ini? Bukankah orang-orang di DPRD sana memang terlanjur bebal? Bukankah sebetulnya kita sama-sama tahu bahwa orang-orang yang katanya wakil rakyat itu lebih senang mewakili kepentingan diri mereka sendiri?

Pada akhirnya, saya pikir orang-orang yang kontra terhadap sikap Ahok terlalu lebay. Orang kita sebenarnya terbiasa bicara dengan kata-kata kasardalam kehidupan sehari-hari, tapi tidak terbiasa mendapatkan pemimpin yang biasa "ceplas-ceplos" bicara (agak) kasar apa-adanya dan dipublikasikan di media.

Kita terbiasa mendengar pemimpin yang kira-kira "enak" saja didengar. Kita terbiasa dengan kata-kata yang standar yang keluar dari mulut para pemimpin kita. Jadi, jelas banyak yang kaget (dan "gerah") ketika ada yang seperti Ahok ini, dan merasa bahwa bahasanya Ahok ini kasar. Padahal hampir kita semua biasa berinteraksi dengan orang-orang yang bicara kasar sehari-hari. Ini Jakarta.

Hingga kini, saya setuju bahwa sebagai seorang pemimpin, Ahok memiliki gaya komunikasi yang buruk. Ini sesuatu yang sangat tidak pantas dicontoh. Namun, melihat kondisi ibu kota saat ini, saya tidak yakin jika pemimpin "kalem" adalah jawaban untuk Jakarta.

Jangan salahkan Ahok jika bicara kasaratau bahkan kotor. Sudah terlalu banyak orang gila di kota ini. Orang-orang yang berpikir bahwa kota ini milik nenek moyangnya, sehingga ia bisa sesuka hati melakukan apa sajatermasuk melanggar peraturan dan bermain dengan hukum. Memangnya Anda tidak merasa tertekan menghadapi kerasnya ibu kota dengan orang-orang gila setiap hari?

Memang, terkadang kita butuh orang-orang yang di luar "kewajaran" dalam memimpin masyarakat. Jangan lupa, pemimpin mencerminkan apa yang dia pimpin. Artinya, Ahok secara tidak langsung memang mencerminkan karakter masyarakat Jakarta: kasar. Ya, itu jika kita mau introspeksi.

Sekarang, coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sudahkah kita (selalu) bersikap lembut? Jika jawaban Anda, "Untuk apa? Di Jakarta enggak bisa lembut. Kalau lembut, kitalah yang diinjak-injak!" Artinya, memang Jakarta perlu Ahok untuk menata kota ini beserta orang-orangnya. Biarlah Ahok memimpin dengan caranya dan gayanya.

Tidak perlu kita membanding-bandingkan Ahok dengan Ridwan Kamil di Bandung, Tri Rismaharini di Surabaya, atau Ahmad Heryawan di Jawa Barat. Bukankah di balik pemimpin yang sukses ada rakyat yang kooperatif? Sudahkah kita menjadi warga Jakarta yang kooperatif? Jika belum, mungkin kota ini perlu penanganan yang sedikit berbeda, sedikit lebih keras. Anda boleh tidak setuju. Namun, jika Anda tidak sependapat, coba cermati kembali tulisan saya dari awal (iya, dari awal), dan tanyakan pada diri Anda sendiri: mana yang lebih kasar? Ahok atau orang Jakarta?

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.