Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

27 Mei 2015

Berpikir Sederhana atau Menyederhanakan Masalah?

Di negeri ini, kita kerap meributkan banyak hal. Sebetulnya, di satu sisi, saya pikir "keributan" (atau sebut saja "perdebatan") yang kerap terjadi di tengah masyarakat menunjukkan bahwa memang orang Indonesia peduli dengan banyak hal. Tentunya hal ini pun tak berarti selalu positif. Kadang-kadang, ada banyak juga sisi negatifnya. Apalagi, semakin hari, saya semakin melihat (dan semakin yakin pula) bahwa masyarakat kita emang belum dewasa dalam menanggapi suatu isu. Ketidakdewasaan masyarakat pun semakin terlihat ketika isu yang berembus sudah "menyentuh" ranah kepercayaan atau agama. Alhasil, debat tak berujungkarena semua pihak merasa paling benar dan paling pahampun hampir selalu menjadi suatu keniscayaan.

Kemarin, lagi-lagi saya menemukan satu konten menarik yang dibagikan beberapa orang teman saya di Facebook. Jika Anda masih gemar ber-Facebook ria, bisa jadi Anda juga telah melihat konten serupa muncul di news feed Anda. Gambar berupa hasil screenshot dari situs forum komunitas maya terbesar di Indonesia, Kaskus, tersebut berisi komentar salah satu Kaskuser (sebutan bagi pengguna Kaskus) terkait umat Islam (yang saya asumsikan di sini adalah umat Islam di Indonesia pada umumnya) yang terkesan "manja". Menurut si Kaskuser ini, tidak seharusnya umat Islam di Indonesia bertengkar mengenai isu penjualan bir yang sempat menjadi perdebatan di ibu kota.

So true. Couldn't have said it better.
Posted by Julio Suryoputra on Saturday, May 23, 2015


Sebagai informasi, pada April lalu, kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk tidak melarang peredaran minuman beralkohol di pasaran sempat menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Menurut Ahok, tidak ada yang salah dari produksi dan penjualan bir serta minuman beralkohol. Ahok meyakini jika penjualan miras dilarang, akan lebih banyak kasus penyelundupan maupun penjualan secara ilegal.

Namun, yang paling menimbulkan perdebatan adalah ketika Ahok memberika pernyataan bahwa tidak ada yang salah dengan bir. Menurut Ahok, belum pernah ada kasus seseorang tewas karena minum bir. Pernyataan ini pun dianggap banyak pihak sebagai sesuatu yang meresahkan "kepercayaan" masyarakat. Mengutip dari Kompas.com, Ahok mengatakan, "Orang mati kan karena minum oplosan cap topi miring-lah, atau minum spiritus campur air kelapa. Saya kasih tahu, kalau kamu susah kencing, disuruh minum bir, loh."

Perkara Sederhana?

Sekarang, mari kita kembali ke komentar seorang Kaskuser yang disebarkan di Facebook. Bagi saya, ini sesuatu yang menarik dibahas karena di satu sisi ini menunjukkan bahwa di luar sana memang ada orang-orang yang "tidak mau pusing" dengan isu-isu semacam iniselain orang-orang yang cukup "keras" bersuara dan dengan lantang menolak ide yang dilontarkan Ahok. Sementara di sisi lain, kita juga harus berhati-hati dalam berpikir sederhana. Apakah benar kasusnya akan sesederhana yang dikomentari si Kaskuser? Benarkah bahwa seharusnya jika seseorang mengaku beragama Islam, otomatis segala hal yang (jelas) diharamkan oleh agama tidak perlu dilakukan tanpa perlu adanya peraturan dari pemerintah?

Saya tidak akan membahas ini dari segi agama karena selain saya tidak merasa sebagai orang yang kompeten untuk membahas masalah ini dari sisi agama. Perkara agama atau kepercayaan pada akhirnya akan kembali ke pribadi masing-masing. Saya pikir, tidak seharusnya orang-orang (bahkan yang seagama sekalipun) mengklaim bahwa apa yang dia lakukan atau katakan itu adalah sesuatu yang paling benar (menurut agama). Menurut saya, tidak ada kebenaran yang hakiki di dunia ini selain yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang itu pun tak semuanya bisa kita pahami dengan akal pikiran kita karena ada keterbatasan dalam mencerna makan "kebenaran" oleh Tuhan. Kebenaran di dunia ini bersifat subjektif, tergantung dari siapa yang mengatakan.

Sekilas saya membaca komentar di screenshot tersebut, saya pun tertawa karena saya anggap apa yang dikatakan si Kaskuser memang benar. Si Kaskuser mengatakan, seorang muslim bisa tidak memakan babi walaupun banyak restoran yang menyediakan daging babi. Lantas, apa bedanya dengan bir? Ketika di sebuah minimarket dipajang bir di sebelah kiri dan teh botol di sebelah kanan, otomatis seorang muslim yang baik akan membeli teh botol karena dia tahu bahwa bir haram. Contoh kasus lainnya, menurut si Kaskuser, di Jalan Hayam Wuruk ada masjid. Sementara, di sampingnya ada panti pijat "plus-plus". Karena pijat "plus-plus" haram, otomatis muslim yang benar (beriman) pergi ke masjid. Sesederhana itu.

Tentunya, sulit untuk tidak setuju pada pernyataan tersebut. Saya pun cukup setuju. Tentunya, kalau memang masyarakat negara ini mengaku (dan bangga) sebagai penduduk dengan pemeluk Islam terbesar di dunia, hal-hal "remeh" seperti bir atau prostitusi tidak perlu menjadi suatu hal yang diperdebatkan hingga terjadi tarik urat sana-sini. Saya mengatakan tidak perlu diperdebatkan karena jelas negara kita bukanlah negara Islam. Negara kita adalah negara demokrasi. Kita tidak menganut hukum Islam di Indonesia. Lain cerita jika hukum yang digunakan di Indonesia adalah hukum Islam, segala bentuk pelanggaran yang jelas-jelas bertentangan dengan agama harus ditindak secara tegas.

Dengan masyarakat yang "ribut-ribut" soal penjualan bir, di satu sisi, ini menunjukkan bahwa memang keimanan muslim di Indonesia masih perlu dipertanyakan. Padahal, jika semua orang Islam di negeri ini benar-benar taat pada agamanya, jangankan bir, prostitusi pun tidak akan laku. Lantas, mengapa pemerintah (terkesan) harus "memfasilitasi" masyarakat pemeluk agama mayoritas agar keimanan mereka tidak "goyah"? Tentunya, ini sesuatu yang lucu. Ibarat kata, yang mau masuk surga siapa, yang memfasilitasi siapa? Sudah jelas, masalah keimanan adalah masalah masing-masing individu. Jika keimanan seseorang kuat, tentu dia tidak akan terpengaruh terhadapa berbagai macam godaan di sekelilingnya.

Menyederhanakan Masalah?

Tadi kita bicara bagaimana seharusnya masalah semacam (wacana) penjualan bir disikapi. Dalam komentar yang diberikan oleh si Kaskuser (yang kemudian di-screenshot dan tersebar secara masif di Facebook) lebih kurang memberi perspektif alternatif bahwa memang seharusnya kita tidak perlu terlalu "tarik urat" dalam menyikapi hal-hal semacam ini. Cukuplah berpikir sederhana dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Namun, saya pikir tetap ada hal yang luput dari penyataan tersebut (yang sepertinya terlanjur "diamini" oleh banyak orang). Pendapat tadi baru bicara pada tataran hal praktis, tapi belum bicara soal dampak. Bukankah dari setiap kebijakan selalu menghasilkan dampak? Dampak itu bisa sesuatu yang positif atau negatif.

Pendapat yang disebarkan tadi memang di satu sisi menunjukkan bahwa tidak perlulah kita berpikir "ruwet", berpikirlah secara sederhana saja. Saya setuju bahwa terkadang masalah yang sederhana menjadi tak berujung ketika ditanggapi terlalu rumit. Namun, itu bukan berarti kita menyederhanakan masalah. Berpikir sederhana tentu berbeda dengan menyederhanakan masalah. Ketika kita menyederhanakan suatu masalah, biasanya kita cenderung tidak memikirkan dampak yang mungkin terjadi ketika kita memutuskan langkah yang diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam hal ini, sayabagaimanapun jugatidak setuju jika penjualan bir dibebaskan begitu saja di pasaran tanpa ada regulasi. Ide bahwa mayoritas penduduk ini adalah kaum muslim dan dengan demikian seharusnya sebagai muslim yang baik tidak mengonsumsi hal-hal yang diharamkan agama, tentu tidak bisa diimplementasikan begitu saja. Bagaimanapun juga kita bicara soal manusia. Kita tentu sepakat bahwa kita tidak bisa menyamaratakan tingkat keimanan seluruh pemeluk agama Islam di negeri ini. Logikanya, jika toh penduduk negeri ini benar-benar beriman, pastinya tidak ada lagi segala jenis kejahatan karena agama telah mengatur bagaimana seharusnya manusia berperilaku.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Saya menaruh perhatian yang cukup besar pada isu anak-anak dan remaja. Saya (masih) percaya bahwa negara ini masih memiliki harapan selama generasi mudanya memang masih bisa diharapkan. Sekarang, jika (dalam kasus ini) bir bisa diakses oleh siapa saja, tentunya akan sangat naif jika kita percaya bahwa anak-anak tidak mungkin bisa mendapatkan minuman tersebut. Tidakkah kita belajar dari bagaimana bebasnya penjualan rokok di negeri ini?

Saya pikir, ketika penjualan bir dibatasi itu adalah sebagian dari upaya preventif, seperti halnya melarang narkoba dan prostitusi, untuk melindungi anak-anak, generasi muda, dan tentunya masyarakat luas. Mari kita membuka mata dan coba untuk jujur pada diri sendiri, berapa banyak anak-anak usia sekolah yang sudah belajar bermabuk-mabukan? Mungkin masih segar dalam ingatan kita soal isu "Bikini Pool Party" yang sempat menjadi perbincangan hangat bulan lalu. Lagi-lagi, saya pikir, sangat naif rasanya jika kita yakin bahwa pesta tersebut (yang pesertanya ditujukan untuk pelajar SMA) tidak menyediakan minuman keras. Tentunya bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika penjualan bir (dan minuman keras lainnya) dibebaskan. Dengan regulasi yang jelas-jelas melarang penjualan secara bebas saja anak-anak muda masih bisa mendapatkan minuman ini, apalagi jika secara hukum hal tersebut diperbolehkan.

Jika ada yang berpikir bahwa penjualan bebas bukan berarti tanpa pengawasan, saya pun tak yakin sepenuhnya. Ayolah, kita tinggal di Indonesia. Jika Anda baru 1-2 tahun tinggal di Indonesia, mungkin wajar jika Anda berpikir lugu. Namun, saya yakin kita telah menghabiskan hampir seumur hidup kita hingga hari ini di negara ini dan kita tahu betul bagaimana penegakan hukum di Indonesia.

Akhir cerita, semua ini memang masalah yang kompleks yang tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja. Sebaiknya, kita memang harus memikirkan dampak yang mungkin terjadi dari setiap masalah yang timbul. Berpikir sederhana itu penting, tapi bukan berarti kita menyederhanakan masalah.

   Add Friend

25 Mei 2015

Ketika Terlalu Banyak Kebencian (dan Kebodohan) di Negeri Ini

Akhir-akhir ini, masalah pengungsi Rohingya menjadi salah satu topik yang sangat hangat menjadi bahan "diskusi" semua orang. Mulai dari yangsaya yakintidak tahu apa itu sebenarnya Rohingya (atau di mana sebenarnya Myanmar itu berada di dalam peta) dan apa yang sebenarnya menimpa komunitas masyarakat tersebut sampai yang benar-benar (terlihat) bak pakar kemanusiaan, kerap muncul menghiasi halaman media sosial kita.

Ada beberapa hal yang saya pikir bisa kita simpulkan dari kejadian ini. Pertama, masyarakat Indonesia memang gemar berkomentar. Apa pun latar belakang si pengomentar, apa pun isunya yang berembus, yang penting berkomentarini masalah kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, bla, bla, bla. Sementara itu, masalah "mempelajari" isu atau minimal, kepo sedikit saja soal permasalahan itu, menjadi sesuatu yang dinomorsekiankan.

Hal kedua yang (mungkin) bisa kita simpulkan adalah bahwa masyarakat kita sebetulnya memang sangat peduli pada isu-isu kemanusiaan. Namun, kepedulian itu kini (yang saya lihat) hanya sampai pada tingkat mengomentari saja. Mungkin, bagi sebagian orang hal tersebut dirasa lebih "masuk akal" daripada harus repot-repot terjun langsung untuk membantu (dalam hal ini adalah para pengungsi Rohingya di Aceh). Ini bisa terjadi karena (lagi-lagi, mungkin) sebagian besar orang menganggap bahwa semua itu seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ketika pemerintah terlihat kurang tanggap, masyarakat langsung menuduh pemerintah tidak peka, tidak peduli, dan segala hal lainnya yang padahal (kalau dipikir-pikir) jika memang masyarakat merasa bahwa ada masyarakat lain yang memerlukan bantuan, kenapa tidak langsung terjun saja? Atau minimal melakukan satu aksi nyata dan juga menggalang dukungan untuk membantu masyarakat Rohingya lewat media sosial.

Sembari menulis ini, saya sebenarnya juga berusaha mengingat-ingat apakah ada konten-konten yang "adem" mengenai bantuan yang diberikan masyarakat kita terhadap para pengungsi Rohingya di Aceh sana? Entah saya yang salah berteman di Facebook, tapi seingat saya, yang saya lihat selama setidaknya seminggu terakhir ini adalah: makian terhadap pemerintah, kehadiran Ibu Negara Turki ke Aceh, expose profil masyarakat Buddha "pembantai" masyarakat Rohingya, dan foto-foto keji lainnya yang banyak juga sebetulnya tak layak untuk dipublikasikan.

Ingin rasanya saya berteriak balik (kepada mereka yang membagikan konten-konten tidak jelas, penuh kebencian, dan yang tak jelas asal-usulnya itu) bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak membantu. Ribut-ribut di media sosial adalah (salah satu) hal paling kekanak-kanakan yang sepertinya kini menjadi salah satu tren sosial. Orang-orang bangga ketika sudah menyuarakan "aspirasinya" di media sosial. Orang-orang bangga ketika sudah ikut menyebarkan berita yang kadang keakuratannya pun dipertanyakan. Orang-orang bangga ketika sudah "berperan" dalam penyebaran artikel-artikel terkait isu yang beredar walaupun hanya sekedar membaca judulnya saja. Itulah cerminan masyarakat kita kini.

Ibu Negara Turki Datang, di Mana Ibu Negara Kita?

Belum lama ini, soal kedatangan Ibu Negara Turki ke Aceh menjadi perbincangan hangat. Berita itu tersebar dan tentu saja berdampak pada: mengagungkan Turki (padahal kalau isunya berupa isu sekulerisme, pasti orang-orang di sini juga akan "menghujat" Turki), dan di sisi lain "mempertanyakan" di mana pemerintah kita?

IBU NEGARA TURKEY DAH SAMPAI MYANMAR MENEMUI PARA PENGUNGSI. MANA IBU NEGARA KITA?
Posted by Abu Mufti on Thursday, May 21, 2015


Sekarang, inilah yang terjadi ketika negeri ini sudah terlalu dikuasai kebencian. Parahnya lagi, selain penuh kebencian, negeri ini sudah dilanda kebodohan akutsetelah menulis ini mungkin saya tidak bisa jadi presiden karena telah "menuduh" negeri ini bodoh.

Ayolah, mari sejenak kita tahan emosi. Mungkinkah pemerintah kita sebodoh itu? Saya bukan orang yang propemerintah, tapi saya berusaha untuk seobjektif mungkin melihat apakah isu ini benar atau tidak.

Sejak awal saya mengetahui berita ini, saya sudah malas mengomentarinya. Saya pikir, saya cukup update dalam hal mengikuti perkembangan berita di Tanah Air, baik dari media cetak, siar, ataupun online. Selama itu pula, saya tidak ada membaca, mendengar, atau menonton bahwa ada kunjungan pejabat Turki ke Indonesia.

Ternyata, foto istri Presiden Erdogan yang disebarkan di media sosial tersebut adalah foto lama saat kunjungannya ke Myanmar pada 2012 silam. Saat itu pun, Erdogan bahkan masih menjabat sebagai Perdana Menteri Turki, belum menjadi presiden. Silakan baca artikel dari Al Arabiya yang diterbitkan pada 13 Agustus 2012 lalu mengenai kunjungan Emine Erdogan ke Myanmar. Dengan begitu mungkin kita bisa lebih yakin bahwa kabar yang tersebar di media sosial itu seratus persen palsu.

Coba kita pikirkan secara cerdas. Apa mungkin seorang istri presiden dari Turki datang ke Indonesia tidak lewat Jakarta? Kedua, apa mungkin, kedatangan sang ibu negara ini bisa segitu "kecolongannya" oleh rekan-rekan media hingga tidak diliput di media-media nasional? Itu kan hal yang mustahil dan terlalu bodoh rasanya (jika sampai terjadi). Stop mengatakan di segala isu bahwa semua itu konspirasi Yahudi, Zionisme, pemerintah kita antek Yahudi, antek AS, antek apa pun itu. Itu bodoh. Stop berkomentar tidak cerdas dan menjatuhkan harkat dan martabat negeri sendiri.

Belajar dari Sejarah

Saya tahu, tidak semua orang suka sejarah. Namun, percayalah bahwa sejarah adalah salah satu guru yang sangat baik jika kita ingin negara ini maju.
 
Apa salah satu taktik penjajah untuk memecah belah bangsa ini? Mengapa negara kita begitu lama terbelenggu oleh penjajahan kolonial? Jawabannya mudah saja. Karena memang dari dulu, karakter maysarakat kita mudah diprovokasi. Karena itu, Belanda dulu menerapkan taktik politik "Devide et Impera" atau yang bisa disebut sebagai politik adu domba. Ternyata, dari dulu, kita memang "senang" dan mudah diadu domba. Kita mudah diprovokasi.

Tidakkah kita sadar bahwa dengan mudahnya kita diprovokasi maka otomatis kita akan lebih mudah terpecah-belah menjadi golongan-golongan yang lebih kecil? Jadi, jangan heran, apalagi menyalahkan pemerintah, atau bawa-bawa "bumbu" isu agama, kalau kenyataannya seperti ini yang terjadi. Pada akhirnya, yang menghancurkan dan memecah belah negeri ini adalah masyarakatnya sendiri, bukan pemerintah. Ya, kita tahu, korupsi itu musuh besar. Kita tahu, ada mafia migas, dan sebagainya. Kita tahu, ada praktik-praktik kejahatan kerah putih lainnya. Kita tahu itu semua berakibat buruk pada negara kita, tapi itu semua menjadi lebih buruk ketika masyarakat kita justru asik "berkomentar" dan mencaci maki, bukannya justru melakukan aksi nyata atau bahkan memberikan solusi.

Kita tidak mau dan malas belajar dari sejarah. Masyarakat kita sudah terkena penyakit "merasa paling benar" dan "paling tahu", ditambah lagi, penyakit "malas membaca". Semua itu sudah menyatu bak penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Tak peduli seberapa banyak orang yang banting tulang berjuang untuk membuat Indonesia yang lebih baik, tapi selama masyarakat tidak mau berubah, semua itu akan sia-sia.

Pada dasarnya, saya termasuk orang yang percaya bahwa tidak ada yang sia-sia selama kita melakukan segala sesuatu dengan tulus dan ikhlas. Namun, dalam hal ini, akan menjadi sia-sia segala perjuangan yang dilakukan untuk memperbaiki negeri ini selama karakter orang-orang Indonesia masih "kampungan". Maaf, saya harus mengatakan hal itu, tapi memang begitulah yang saya rasakan.

Adakah yang masih bisa kita banggakan sebagai orang Indonesia? Adakah tersisa (sedikit saja) kebanggan sebagai anak negeri?

Mari kita mulai cerdas dalam memilah-milih konten yang akan kita sebarkan di media sosial. Saya mungkin bisa paham ada semacam "dorongan" tersendiri untuk berperan aktif dalam menyebarkan isu-isu penting, tapi sekali lagi, sebaiknya kita luangkan sedikit waktu untuk memahami isu itu terlebih dahulu.

Tidak perlu kita banyak komentar. Untuk apa banyak komentar, tapi tak ada aksi? Komentar kita di media sosial toh tak meringankan beban para pengungsi. Tak perlu mencaci pemerintah. Apa kita yakin jika di posisi pemerintah, kita bisa lebih baik?

Sudah terlalu banyak kebencian di negeri ini. Janganlah kita tambah dengan kebodohan pula. Mau jadi apa negeri kita (yang katanya kita cintai ini) nanti?

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

13 Mei 2015

Bekerja dengan Orang Rusia: Pengalaman dan Pelajaran Baru

Tim Russia Beyond the Headlines di Moskow, Rusia.
Bicara soal pekerjaan, terkadang, tak dipungkiri bahwa rekan-rekan sekantor, karakter atasan, dan kultur di kantor menjadi salah satu faktor penentu lama-tidaknya kita bertahan di sana. Tentunya, itu di luar faktor lain, seperti peluang mengembangkan diri atau karir, misalnya.

Bagi saya pribadi, tak terasa hampir 1,5 tahun saya bekerja di Russia Beyond the Headlines (RBTH) bersama orang-orang Rusia. Bagi yang masing merasa asing dengan RBTH, pada dasarnya RBTH adalah sebuah sumber berita dan informasi multibahasa yang menyediakan berita, opini, komentar dan analisis tentang budaya, politik, bisnis, sains dan kehidupan masyarakat Rusia. Di sini, saya bekerja di edisi Indonesia, atau yang dikenal dengan RBTH Indonesia.



Tahun lalu, saya telah berbagi cerita tentang bagaimana saya bisa bergabung di perusahaan ini. Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang apa saja yang saya pelajari selama hampir 1,5 tahun bekerja dengan orang-orang Rusia. Tentunya, mungkin tidak semua orang berkesempatan bekerja bersama orang-orang Rusia (dalam skala yang cukup banyak) di kantornya, kecuali jika Anda mungkin bekerja di perusahaan Rusia, di Kedutaan Besar Rusia (atau kantor perwakilan resmi Pemerintah Rusia lainnya di dalam negeri), atau mungkin memang bekerja di Rusia. Namun, dalam kasus pekerjaan saya, saya tetap bekerja di dalam negeri, tapi memang berhubungan langsung dengan kantor di Moskow.

Bekerja dengan orang-orang Rusia sebagai satu-satunya "orang asing" di kantor adalah suatu pengalaman yang sangat menarik. Sebenarnya, pengalaman yang saya tulis ini adalah sesuatu yang saya pikir bersifat subjektif. Biar bagaimana pun saya baru bekerja di satu perusahaan Rusia. Namun, saya pikir, mungkin lebih kurang sifat orang-orang Rusia di dunia pekerjaan hampir sama antara di satu kantor dan kantor lainnya.

Berikut ini adalah 15 hal yang saya pelajari selama (hampir) 1,5 tahunsecara intensifbekerja (dan bergaul) dengan orang-orang Rusia.

1. Weekend artinya hari libur

Saya ingat saat saya juga masih kerja "kantoran" dulu, kadang ada saja hal-hal yang harus "dikerjakan" saat weekend atau akhir pekan. Mulai dari membalas email, "meladeni" pesan-pesan yang harus segera direspon, hingga datang ke kantor. Di Rusia, atau setidaknya di kantor saya di Moskow, hal semacam ini (ternyata) tidak berlaku. Weekend artinya hari libur. Tidak ada urusan kantor. Libur. Tidak ada berbalas pesan (email, SMS, dsb.). Libur. Weekend? Libur. Ada hal mendesak? Silakan tunggu hari Senin.

2. Cuti artinya libur panjang ke luar kota (atau ke luar negeri)

Saya memperhatikan setiap email dengan subjek "В отпуске" (v otpuske, liburan) yang dikirim seseorang untuk memberi tahu bahwa ia tidak akan di kantor selama beberapa hari ke depan, benar-benar berarti bahwa ia "tidak akan ada" di kantor (baik secara fisik maupun virtual) untuk waktu yang lamabiasanya lebih dari satu minggu, bukan sekedar 1-2 hari. Selama berlibur, dia tidak sekali pun mengecek emailnya (kecuali memang ada hal penting yang tidak sempat terselesaikan sebelum pergi berlibur). Apa pun yang terjadi selama ia tidak ada maka terjadilah, dan itu urusan setelah berlibur.

3. Pesta di dapur

Orang Rusia suka berpesta dan berbagi, terutama setiap ada yang sedang berulang tahun, atau baru kembali dari liburan, dan juga jika ada yang akan resign dari kantor. Semua hal ini cukup penting bagi mereka. Tidak ada yang tidak pernah membawa kue atau makanan ketika sedang berulang tahun (tentu saja kecuali saya karena saya di Indonesia), tidak ada yang tidak pernah membawa sesuatu setelah berlibur, dan tidak ada yang pernah meninggalkan kantor tanpa sedikit pesta di kantor. Semua itu dilakukan di dapur (atau pantry).

4. Tidak perlu berbasa-basi

Orang-orang Rusia tidak terlalu suka berbasa-basi, termasuk saat chatting. Ini sesuatu yang sangat berbeda jauh dengan orang Indonesia tentunya. Sewaktu masih bekerja di perusahaan dalam negeri, segala email dan chat dengan rekan kerja atau klien, tak jarang dimulai dengan pembukaan yang bersifat basa-basi. Emoticon juga tak jarang "menghiasi" isi pesan kita. Namun, bagi orang Rusia, itu kurang penting. Mereka cenderung "to the point". Tentunya ini bukan berarti mereka sama sekali tidak menggunakan emoticon atau tidak berbasa-basi sama sekali, hanya saja mereka kurang menganggap ini penting.

5. Setelah kenal secara personal, mereka sebenarnya sangat baik

Saya punya pengalaman yang cukup membuat saya "shock" dengan beberapa orang di kantor. Ini lagi-lagi melibatkan komunikasi via email dan chat di Skype. Pada awalnya, saya sering menulis panjang-lebar. Dimulai dari pembukaan, maksud dan tujuan, dan diakhiri dengan penutup. Apa yang saya dapatkan? Hanya beberapa kata yang intinya oke, setuju, apa yang kita minta sudah dilaksanakan, atau terima kasih. Ya, h-a-n-y-a itu. Namun, setelah bertemu langsung dengan orang-orang ini di Moskow, sebenarnya mereka sangat baik dan hangat, bahkan mereka senang bercerita dan senang mendengarkan kita bercerita.

6. Jika membuat janji, mereka pasti ingat

Tak peduli kapan kita membuat janji, mereka pasti ingat. Kadang, di Indonesia, kita harus selalu mengonfirmasi supaya orang yang kita ajak bertemu tidak lupa atau sekedar mengingatkan waktu dan tempat bertemu. Namun, tidak begitu dengan orang Rusia. Pengalaman saya, saya pernah membuat janji untuk bertemu sepuluh hari sebelum waktu yang disepakati. Hingga sehari sebelum pertemuan, saya tidak menghubungi dia, dan dia pun tak menghubungi saya untuk sekedar memastikan (seperti halnya yang sering kita lakukan kepada teman-teman kita ketika akan bertemu). Tiba hari yang dijadwalkan dan dia hadir di tempat dan waktu yang ditentukan tanpa perlu diingatkan. Tentunya hal ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tapi sangat sering.

7. Kadang inisiatif bisa jadi masalah

Berbeda dengan di Indonesia ketika orang-orang atau karyawan dituntut untuk punya sifat inisiatif, saya punya masalah dengan (kebiasaan) inisiatif ini dan sempat beberapa kali "ribut" dengan rekan kerja saya. Saya punya prinsip bahwa segala sesuatunya harus terencana. Salah seorang rekan kerja saya (orang Rusia) tahu ini dan dia suka. Namun, satu hal yang dia tidak suka adalah kalau saya terlalu inisiatif mencari tahu informasi yang sebetulnya memang bukan bagian dari pekerjaan saya. Intinya, saya cukup melakukan apa yang menjadi tugas saya, dan dia pun begitu. Jika ada masalah dengan tugas dia, dia yang tanggung risikonya. Apa pun alasan saya, mulai dari inisiatif hingga membantu agar cepat selesai, dia akan marah (dan merasa tersinggung). Ya, ini memang aneh, tapi beberapa orang memang agak konservatif.

8. Orang Rusia sangat mandiri

Ini satu hal yang juga saya perhatikan. Mereka sangat mandiri, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka tidak akan pernah meminta bantuan kecuali mereka benar-benar membutuhkannya. Tak peduli sebanyak apa pekerjaan mereka, selama itu pekerjaan yang memang harus mereka selesaikan, pasti akan diselesaikan (sendirian). Sekali pun mereka punya rekan kerja setim, kalau itu memang tanggung jawab mereka, mereka tidak akan meminta bantuan rekan kerjanya.

9. Serius bukan berarti tak ramah

Tidak ramah adalah salah satu stereotipe yang melekat pada hampir seluruh orang Rusia. Orang-orang kerap menganggap orang Rusia kurang ramah karena wajah mereka cenderung menunjukkan raut muka yang serius. Sebetulnya, saya bisa mengatakan bahwa ini memang semacam default setting, atau pengaturan bawaan wajah mereka. Namun, ini bukan berarti mereka tidak ramah. Bagi mereka yang sudah tinggal di Indonesia beberapa tahun, hal ini bisa berubah, biasanya mereka jadi lebih murah senyum.

10. Orang Rusia cenderung tidak sabar

Ini benar dan juga diakui oleh orang-orang Rusia sendiri. Orang Rusia memang cenderung tidak sabar. Mereka ingin segalanya dikerjakan dengan cepat. Ketika pertama kali tinggal di Indonesia (bukan sekedar berlibur) biasanya mereka cukup stress karena di sini segalanya dikerjakan dengan cukup santai dan semua orang sepertinya yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja. Di Rusia, semuanya tidak akan baik-baik saja kalau kita lambat.

11. Perlu skill khusus untuk mengerti lelucon Rusia

Apalah arti hidup tanpa humor? Orang-orang Rusia pun suka membuat lelucon. Di kantor sering kali ada kiriman meme Rusia di email, sesuatu yang (menurut mereka) lucu. Namun, memahami lelucon Rusiasekalipun kita mengerti bahasa merekamemang bukan perkara mudah. Orang-orang Rusia sendiri mengakui bahwa banyak dari lelucon mereka yang hanya dimengerti oleh orang Rusia sendiri. Mungkin, ini hampir sama dengan di Indonesia karena kebanyakan humor di sini juga bersifat lokal.

12. Tak perlu malu dengan kemampuan bahasa Inggris kita

Orang Rusia jauh lebih nyaman bicara dengan bahasa Rusia. Ada beberapa alasan, tapi saya pikir sebagian besar alasan itu cukup personal, tidak bisa digeneralisasikan. Jadi, ketika saya bicara dengan bahasa Inggris kepada teman-teman kantor saya, saya tidak perlu merasa "takut salah"entah itu soal tata bahasa atau soal pemilihan kosakatakarena sama seperti di Indonesia, orang Rusia pun tidak semuanya mahir berbahasa Inggris. Intinya, selama kedua belah pihak saling mengerti maka tujuan utama berkomunikasi telah tercapai.

13. Tidak bisa bahasa Rusia? Bye!

Saya sangat sering "terjebak" dalam situasi percakapan ketika saya hanya satu-satunya orang yang tidak bisa berbahasa Rusia. Seperti yang telah saya jelaskan di poin nomor 5, jika kita sudah kenal dengan mereka, mereka sangat baik dan ramah, termasuk membiarkan kita berada di tengah-tengah perbincangan mereka yang menggunakan... bahasa Rusia. Ini jelas selalu menjadi situasi yang awkward, apalagi mereka biasanya tidak hanya mengobrol 1-2 menit, bisa lebih dari itu! Ditambah lagi, saya tidak mungkin tiba-tiba "undur diri" dari tengah percakapan.

14. Membatalkan janji, cari masalah

Ini salah satu hal yang harus dihindari. Jangan membatalkan janji. Orang Rusia sangat menghargai janji. Mereka selalu berusaha menepati janji mereka dan mereka harap orang lain pun begitu. Saya tidak pernah membatalkan janji sebelumnya, hanya saja saya suatu hari saya sempat meminta untuk mengundur jadwal pertemuan dua jam sebelum pertemuan. Mungkin bagi kita hal ini biasa, apalagi jika kita memberi tahu dua jam sebelumnya, ini masih bisa ditoleransi, tapi tidak untuk mereka. Bagi mereka, jika sudah janji di waktu yang ditentukan maka kita harus komitmen dengan janji tersebut. Kalau pun harus mengundur waktu, dua jam tidak cukup untuk membuat konfirmasi, mereka berharap 3-6 jam sebelumnya.

15. Budaya apresiasi dan mendengarkan

Satu hal yang sangat saya suka dari pekerjaan ini adalah karena perusahaan sangat mengapresiasi seluruh karyawannya, atau setidaknya begitulah yang saya rasakan. Saya pikir ini sesuatu yang sangat penting. Selain itu, saya juga merasa sangat didengar, minimal oleh atasan langsung saya. Saya bisa bebas memberikan kritik dan saran hingga solusi yang menurut saya ideal atas suatu permasalahandan ide saya benar-benar dipertimbangkan. Di sini, saya pikir sejauh ini bekerja dengan orang-orang Rusia sangat menyenangkan. Saya pikir hal semacam ini belum tentu bisa didapatkan di dalam negeri karena pengalaman saya, terkadang yang senior justru menganggap rekan juniornya "sok tahu" ketika berusaha memberi ide, atau lebih buruk, ada yang memberi "cap" cari perhatian kepada atasan.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

12 Mei 2015

Perang Dunia II: Apakah Dunia Berutang pada Soviet?

Tahun ini kita setidaknya merayakan dua peristiwa bersejarah yang sangat penting, yaitu 70 tahun berakhirnya Perang Dunia II dan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Sementara gegap gempita teriakan "merdeka" mungkin baru akan terdengar di telinga kita dua sampai tiga bulan ke depan, bulan initepatnya hari Sabtu lalu, 9 Mei 2015dunia baru saja merayakan 70 tahun berakhirnya perang paling destruktif sepanjang sejarah peradaban manusia.

Namun, benarkah "seluruh" dunia merayakan perayaan ini? Tentunya tidak. Mungkin, bagi kita di Indonesia, Perang Dunia II adalah suatu perang yang terjadi jauh di luar sana dan kurang berdampak signifikan bagi kita. Anggapan ini bisa jadi muncul karena kita merasa bahwa Indonesia saat itu sama sekali tidak angkat senjata dan ikut berperang. Pada periode 1941-1945, Indonesia masih berjuang melawan penjajahan. Memang, pada 1942, Pemerintah Hindia Belanda "angkat kaki" dari Indonesia. Kepergian Belanda kemudian segera digantikan oleh Jepang yang saat itu mengaku "sahabat" bagi rakyat Indonesia. Seluruh kejadian ini, mulai dari perginya Belanda yang kemudian digantikan oleh Jepang, hingga akhirnya Indonesia mampu berdiri untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tak lepas dari Perang Dunia II yang terjadi "di luar" sana.

Jika kita sedikit mengingat pada masa-masa sekolah kita dulu, saat kita belajar sejarah di kelas atau di institusi-institusi bimbingan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian tulis masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), mungkin kita akan ingat beberapa kata kunci terkait Perang Dunia II, yaitu Hitler, Nazi, bom di Hiroshima dan Nagasaki, dan Pearl Harbor. Bagi saya pribadi, keempat hal itu masih saya ingat dengan cukup baik. Saya ingat cerita guru-guru saya mengenai kekejaman Hitler dan Nazi saat Perang Dunia II. Saya ingat bagaimana cerita mengenai Pearl Harbormungkin, banyak dari kita yang  sudah menonton film mengenai peristiwa ini pula. Saya juga ingat kisah mengenai kota Hiroshima dan Nagasaki yang dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Namun, ketika bicara soal kapan dan bagaimana sebenarnya akhir dari Perang Dunia II, saya lupa. Atau, apa sebenarnya yang menjadi titik berakhirnya Perang Dunia II? Jika kita pikir bahwa Perang Dunia II berakhir setelah Jepang dibom oleh AS maka kita salah. Perang Dunia II berakhir setelah Nazi menandatangani dokumen kapitulasi pada 8 Mei 1945yang resmi berlaku per tanggal 9 Mei. Kepada siapa? Inggris? Amerika Serikat? Bukan, Nazi menyerah kepada Uni Soviet.

Membuka Mata

Sejak saya "bersentuhan" dengan Rusia, mata (dan pikiran) saya menjadi semakin terbuka. Pekerjaan saya membuat saya mengenal Rusia lebih dalam. Saya belajar banyak mengenai negara ini dan saya merasa bahwa betapa sejarah (dalam banyak hal) telah berlaku tidak adil kepada Rusia. Sejarah dunia yang kita ketahui dan pelajari selama ini tidak sedikit merupakan hasil konstruksi yang bersifat politis. Dalam hal ini, Rusia, yang dulu bernama Uni Soviet, dianggap sebagai "musuh dunia" (atau Barat, tepatnya) karena dua hal: (1) negara yang besar dan kuat; dan (2) menganut paham komunisme. Padahal, fakta menyatakan bahwa dunia jelas berutang banyak pada Soviet, khususnya selama era Perang Dunia II.

Di Barat, atau khususnya Amerika Serikat, Perang Dunia II selalu dianggap sebagai peperangan yang "kami" menangkan. Perang Dunia II adalah peperangan heroik yang terjadi di sepanjang pesisir pantai Normandia. Perang Dunia II adalah soal peperangan di Iwo Jimamungkin beberapa dari kita juga sudah menonton filmnya. Perang Dunia II adalah peperangan untuk kembali merebut kota-kota di Prancis. Ini semua adalah kemenangan yang "dibentuk" oleh citra Jenderal Dwight D. Eisenhower, suatu kemenangan yang dibentuk oleh sikap dan kata-kata Perdana Menteri Winston Churchill. Perang Dunia II adalah kemenangan setelah menjatuhkan bom atom di Negeri Matahari Terbit.

Lantas, adakah peran Uni Soviet selama Perang Dunia II dijelaskan secara rinci dalam sejarah? Jangankan rinci, secara "cukup" pun saya pikir tak sampai. Padahal, meskipun kemenangan diraih berkat upaya banyak negara, Uni Sovietlah yang menaklukkan tentara Jerman. Uni Soviet berhasil melenyapkan lebih dari 74 persen tentara Jerman (Wehrmacht) dalam pertempuran, atau sekitar sepuluh juta tentara dari 13,4 juta tentara. Tentara Merah Uni Soviet mengalahkan dan menangkap 607 divisi musuh sepanjang 1941-1945, jauh lebih banyak dibanding 176 divisi yang dihancurkan oleh pasukan Inggris dan Amerika jika digabungkan. Selain itu, kerugian materi yang harus ditanggung Uni Soviet selama perang mencapai 2,5 triliun rubel (472 miliar dollar AS) dalam estimasi nilai mata uang sebelum terjadinya peperangan.


Lagu "Perang Kudus" (Rusia: Священная Война, Svyaschennaya Voina), salah satu lagu yang dikumandangkan selama peperangan antara Soviet melawan Nazi.

Selama masa Perang Dunia II, Nazi Jerman tidak hanya menggempur Uni Soviet, tapi sebagian besar dataran Eropa. Namun, Nazi baru "menemukan" lawan yang seimbang ketika berhadapan dengan Sang Beruang Uni Soviet. Faktanya, jika saat itu Uni Soviet tidak mati-matian dengan segala daya dan upaya mereka berjuang melawan invasi tentara fasis Nazi Jerman, mungkin sejarah akan berbeda.

Apa itu fasisme? Pada dasarnya, fasisme adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Secara sederhana, fasisme adalah antikomunisme, antidemokratis, antiliberal, antiparlemen, antikonservatif, antiborjuis, dan antiproletar.

Bagaimana jika dulu Uni Soviet tidak berhasil mengalahkan Nazi Jerman? Saya yakin dunia, khususnya Eropa, tidak akan seperti sekarang ini. Ketika Uni Soviet berhasil mengalahkan Nazi, Soviet tidak hanya membebaskan negaranya dari serangan penjajah fasis, tetapi juga membebaskan Eropa yang saat itu dikuasai fasisme Jerman. Namun, adakah peran dan pengorbanan besar Uni Soviet ditonjolkan dalam sejarah yang selama ini kita terima di lembaga-lembaga pendidikan formal?

Perang Patriotik Raya

Presiden pertama RI Soekarno pernah mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Rusia tumbuh menjadi bangsa yang besar karena tidak lupa dengan sejarah bangsa mereka. Namun, dari sekian banyak peristiwa bersejarah, Perang Patriotik Raya adalah peristiwa yang paling membekas di hampir seluruh benak masyarakat Rusia.

Apa itu Perang Patriotik Raya? Perang Patriotik Raya (Rusia: Великая Отечественная война, Velikaya Otechestvennaya voyna) adalah perang antara Uni Soviet dengan Nazi Jerman yang berlangsung sejak invasi Jerman ke Uni Soviet pada 22 Juni 1941 hingga Jerman menyatakan diri menyerah tanpa syarat pada 9 Mei 1945. Hingga kini, akhir Perang Patriotik Raya tetap menjadi hari yang penting untuk dirayakan bagi warga Rusia.


Highlight perayaan Hari Kemenangan di Moskow, Sabtu (9/5) oleh Russia Beyond the Headlines.

Warga Rusia dan "bekas" warga Soviet lain tetap mempertahankan sebutan "Perang Patriotik Raya" karena bagi mereka perang tersebut merupakan pertempuran untuk memerdekakan tanah air mereka. Di bawah rencana Nazi terhadap wilayah Soviet, lebih dari separuh populasi Rusia hendak ditumpas. Namun, Uni Soviet berhasil menggagalkan rencana tersebut. Rusia tentu patut bangga atas kemenangan yang mereka raih dan menolak menganggap Perang Patriotik Raya sebagai sekadar salah satu front dalam Perang Dunia II.

Selama Perang Patriotik Raya, hampir seluruh warga Soviet terlibat dalam perang dengan berbagai cara. Hampir seluruh laki-laki Soviet pergi ke garis depan peperangan. Tidak hanya itu, para perempuan dan anak-anak pun ikut andil dalam peperangan. Selain itu, ternyata peperangan ini bukan semata-mata peperangan manusia. Anjing-anjing Soviet pun ikut serta dalam peperangan. Lebih dari 19 juta orang menjadi sukarelawan untuk dikirim ke garis depan, dan 50 persen di antaranya adalah relawan perempuan. Dalam periode yang berbeda-beda selama masa perang, sebanyak 600 ribu hingga satu juta perempuan pun ikut bertempur di garis depan peperangan, dan 80 ribu di antaranya adalah perwira.

Sejak era Soviet, 9 Mei menjadi simbol persatuan bangsa Rusia. Warga Rusia hari ini tetap mempersepsikan kemenangan tersebut sebagai perang patriotik yang sangat besar dampaknya bagi semua orang, tanpa fokus pada pemimpin politik saat itu (Joseph Stalin).

Perayaan Hari Kemenangan dan Politisasi Sejarah

Sabtu (9/5) lalu, Rusia merayakan Hari Kemenangan dengan parade militer terbesar sepanjang sejarah. Hari Kemenangan di Rusia dirayakan dengan sangat besar, setara dengan perayaan hari kemerdekaan di negara-negara yang pernah merasakan penjajahan dan kemudian memperoleh kemerdekaan.

Parade Hari Kemenangan 9 Mei di Rusia tak hanya mencetak rekor baru dalam jumlah tentara dan peralatan militer yang terlibat, tapi juga menjadi ajang pameran mesin tempur terbaru yang akan tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya. Lebih dari 16 ribu tentara ikut serta dalam parade militer. Selain itu, lebih dari 140 helikopter dan pesawat memamerkan kecanggihannya di atas langit kota Moskow.


Dokumentasi parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah, Moskow, Sabtu (9/5).

Namun, perayaan Hari Kemenangan tidak sekedar soal unjuk gigi kekuatan militer. Lebih dari itu, perayaan Hari Kemenangan adalah cara masyarakat Rusia mengenang salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah bangsa mereka. Perayaan ini memiliki makna yang khusus. Tidak ada satu pun keluarga di Rusia yang melewati peperangan tersebut tanpa kehilangan sesuatu. Meskipun demikian, masih ada pejuang dan relawan yang masih hidup sampai hari ini. Para veteran di Rusia memiliki tempat yang istimewa. Rusia sangat menghormati para veteran perang. Di Moskow sendiri, terdapat 125 jalan yang namanya diambil dari nama kejadian dan para pahlawan Perang Patriotik Raya. Masyarakat Rusia selalu diajarkan bahwa kalau bukan karena para pejuang yang berjuang tanpa pamrih melawan musuh, Rusia tidak akan seperti sekarang ini.

Meskipun demikian, perayaan Hari Kemenangan tahun ini sarat dengan berbagai "drama" politik. Sejak merenggangnya hubungan Rusia dengan Barat pascabergabungnya Krimea dengan Rusia, Barat tercatat telah beberapa kali menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia. Pada perayaan Hari Kemenangan tahun ini, pemimpin-pemimpin dari Barat, termasuk Kanselir Jerman Angela Merkel, "memboikot" perayaan di Moskow dengan tidak menghadiri perayaan pada Sabtu lalu. Meskipun demikian banyak pakar yang percaya bahwa ketidakhadiran rekan-rekan dari Barat (Eropa) dikarenakan tekanan dari AS. Namun demikian, ketidakhadiran para pemimpin dari Barat, khususnya dari Jerman, dianggap sebagai sikap yang tidak menghargai para prajurit Soviet yang telah berkorban melawan fasisme dan tak menghormati keberanian yang ditunjukan para pahlawan dalam perang melawan Nazisme.

Hubungan Rusia dan Barat semakin menegang dalam beberapa bulan terakhir menuju perayaan Hari Kemenangan. Akhir Januari lalu, sempat tersiar kabar miring mengenai peran Tentara Merah Uni Soviet dalam Perang Dunia II. Saat itu, Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk menyatakan bahwa tentara Ukrainalah yang dulu membebaskan tahanan Auschwitz, dengan alasan bahwa pasukan tersebut adalah termasuk dalam Front Ukraina Pertama (istilah pada masa itu). Padahal, tentara ini sebenarnya bukanlah tentara Ukraina, melainkan tentara yang bergerak di wilayah Ukraina dan terdiri dari berbagai suku Uni Soviet, seperti orang Rusia, Tatar, Ukraina, Chechen, Uzbek, dan lain-lain.

Menanggap hal ini, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa semua kebohongan mengenai kontribusi Tentara Merah dalam kemenangan Perang Dunia II yang disebarkan oleh beberapa negara harus segera diluruskan. Putin juga mengatakan bahwa ada upaya untuk mendistorsi sejarah ini dilakukan dengan sengaja.

Apa Makna Kemenangan Soviet bagi Dunia?

Kini, kita tahu bahwa Perang Patriotik Raya tercatat sebagai perang terbesar dan paling berdarah dalam sejarah manusia. Dari pihak Soviet saat itu, tak kurang dari 27 juta warga Uni Soviet harus kehilangan nyawanya di medan perang.

Selain memberikan sumbangsih besar dalam pembebasan Eropa dari kekejaman tentara Nazi Jerman, kemenangan Uni Soviet dalam Perang Patriotik Raya pun akhirnya mendorong berbagai gerakan kemerdekaan di kawasan Asia Pasifik. Setelah Perang Dunia II berakhir, sejumlah negara yang dijajah memperoleh kemerdekaannya dan menjadi negara berdaulat.

Bagi Indonesia, Rusia, atau Uni Soviet kala itu, memang punya kesan tersendiri bagi negara ini. Soviet pernah menjadi sahabat dekat sekaligus dianggap sebagai negara yang masuk "daftar hitam" karena ideologi yang dianut negara tersebut. Memang, negara kita memiliki masa lalu yang kelam dengan komunisme. Bagi rakyat Rusia yang pernah mengalami era kepemimpinan komunis Uni Soviet, masa-masa tersebut pun memiliki kesan yang cukup rumit. Saya ingat, dalam suatu kesempatan Presiden Rusia Vladimir Putin pernah berkata bahwa, siapapun yang tidak merindukan Uni Soviet, tidak punya perasaan. Namun, siapapun yang ingin kembali pada masa (atau pada sistem pemerintahan) Uni Soviet, tidak punya otak.

Selama ini, entah sadar atau tidak, segala aspek kehidupan kita, bahkan sampai pada soal sejarah, cenderung memihak pada satu sisi, atau merefleksikan "kehebatan" satu pihak, yaitu Barat. Kemenangan Uni Soviet atas Nazi pada Perang Patriotik Raya adalah suatu fakta sejarah yang jelas terabaikan. Padahal, kemenangan tersebut jelas bukanlah sembarang kemenangan. Sama halnya dengan Perang Patriotik Raya bukanlah sembarang peperangan.

Lalu, seberapa besar porsi pendidikan atau penyampaian informasi ini disampaikan dalam teks buku-buku sejarah di Indonesia? Tidak banyak. Seingat saya, buku teks sejarah yang saya pelajari dulu lebih banyak menceritakan mengenai sejarah dunia dari perspektif Barat. Memang betul, ada pula sejarah mengenai Uni Soviet, tapi sangat sedikit dan itu pun mengenai kaitan ideologi komunisme Soviet dengan Partai Komunisme Indonesia (PKI) saat itu, serta mengenai peristiwa Glasnost dan Perestroika dan bubarnya Uni Soviet.

Lantas, sampai kapan kita tidak jujur pada sejarah? Jika kita "menghilangkan" peran nyata Soviet dalam sejarah, saya pikir, itu sama tidak baiknya dengan memperbesar peran Barat dalam sejarah. Sayangnya, itulah yang terjadi. Sebetulnya, tidak hanya di Indonesia, tapi saya yakin di banyak negara lainnya, Soviet (atau Rusia kini) juga mendapat "perlakuan" serupa dalam sejarah.

Sementara itu, selamat Hari Kemenangan! Поздравляю вас с 70-й годовщиной Победы в Великой Отечественной войне! Ура!


Lagu "Hari Kemenangan" (Rusia: День Победы, Den' Pobedy), salah satu lagu yang dinyanyikan setiap perayaan Hari Kemenangan di Rusia.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com dan RBTH Indonesia.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend